Belajar Kearifan dari Sahaja Kesiman

Siang itu, awan mendung menggantung di atas kepala mencegah sinar matahari menerobos. Namun cuaca panas tetap tak terhindarkan. Tukang-tukang tradisional terlihat tekun membelah bata-bata kuno berukuran besar, merapikannya, untuk dipasang kembali sebagai dinding pura. Debu-debu yang dihasilkan oleh kegiatan re-konstruksi Pura Sentaka mengepul memenuhi udara. Saya berkunjung ke salah satu pusat peradaban pra-kolonial Denpasar di Kawasan Kesiman. Ditemani Bayu Pramana, akademisi-fotografer-pecinta situs kuno, kami ngobrol ringan seputar pura yang sedang digarap oleh puluhan tukang tersebut.

 

 

Pura Sentaka, menurut penuturan Bayu, dibangun oleh leluhurnya. Minimnya catatan membuatnya kesulitan mengingat kapan tepatnya pura tersebut dibangun. Konon saat buyutnya masih muda, pura tersebut sudah berdiri. Jika menilik informasi tersebut, kemungkinan pura sudah dibangun lebih dari 3 generasi atau lebih dari 100 tahun. Konstruksi pura menggunakan bata merah, kemungkinan bata Gerenceng yang sempat berjaya menjadi pemasok material bangunan ke seluruh pelosok Bali selatan. Ukuran bata, jika dibandingkan dengan bata yang kita kenal belakangan, cukup besar. Tetapi ukuran bata tidak hanya satu, ada beberapa ukuran yang berbeda-beda. ‘Bata yang paling lebar kemungkinan untuk hiasan yang menonjol, sementara yang lebih kecil untuk badan bangunan’, Bayu mengira-ngira. Pemugaran pura diupayakan dengan pendekatan konservasi. Akan tetapi pendekatan kekinian tetap dipakai. Gambar-gambar pelinggih dibuat dengan cara mengukur pelinggih lama lalu dipindahkan ke dalam computer. Bata-bata yang masih kuat dimanfaatkan kembali. Semua ukiran dan hiasan dibuka dan disusun ulang untuk dipasang kembali. Proses ini jauh lebih rumit daripada mengganti baru. Sebagai pewaris, keluarga Bayu yang menyungsung pura ini tidak mau berkompromi terhadap nilai yang tersimpan. Ada kekhawatiran bahwa nilai akan hilang jika diganti baru. Bukankah ada banyak cara selain cara yang rumit ini? ‘Kami meyakini inilah cara yang tepat’, ujarnya mantap. Saat ini riuh rendah terjadi pemugaran pura di berbagai wilayah. Pura yang secara fisik dianggap ‘tidak representatif’ dipugar. Bangunannya diganti dengan yang lebih baru, kayu-kayu tradisionalnya, cempaka atau nangka, ditukar dengan kayu baru, bangkirai, jati dkk. Bataran dan hiasannya diganti dengan yang lebih tahan lama dan ‘modern’. Hasilnya? Pura Nampak lebih megah, bangunannya lebih besar, ukirannya lebih rumit serta bahannya lebih tahan lama. Namun banyak yang menilai proses semacam ini menghilangkan value utama dari pura. Value yang dibangun dan dipupuk bergenerasi-generasi hilang lenyap dalam balutan bangunan megah.

DSC_1143
Ragam hias lama dibuka, disusun ulang dan akan dipasang kembali pada struktur baru

Hujan gerimis tipis turun membasahi dedaunan saat kami berpindah ke Mrajan Puri Kesiman yang dikelilingi kolam. Tetesan air hujan yang jatuh menciptakan lingkaran-lingkaran ritmis di permukaan air yang tenang. Seekor ikan tiba-tiba berkelebat di balik daun-daun teratai hijau. Saat tengah tekun mengagumi dan mengabadikan keindahan karya arsitektur mrajan, Penglingsir Puri (Raja) Kesiman, Turah Kusuma Wardana, tiba-tiba muncul dari balik gapura bata berukir indah. Beliau menyapa ramah dan menyilakan kami berteduh, berlindung dari gerimis siang itu. Memiliki pandangan serupa, Turah, demikian beliau biasa dipanggil, menyatakan hal yang sama dengan Bayu tentang bagaimana beliau merawat warisan berupa puri dan segenap isinya. ‘Saya hanya meneruskan apa yang sudah disuratkan oleh leluhur. Mereka memiliki pengetahuan maha luas yang nyaris mustahil saya lampaui’ ujarnya mantap. Kami melanjutkan berkeliling area mrajan serupa taman tersebut setelah hujan reda. Konon jaman dahulu Kerajaan Kesiman mengelola lahan persawahan yang sangat luas dan subur. Air sungai dikelola dengan baik dan didistribusikan melalui subak-subak di hilir. Sebelum mengalir ke sawah, sebagian air masuk ke halaman mrajan puri dan dijadikan kolam yang mengelilingi bangunan-bangunan suci. Pemimpin Kesiman bisa mengetahui keadaan air di hilir dengan cara melihat air yang ada di mrajan. Jika kolam di mrajan surut, maka bisa dipastikan sawah-sawah di hilir kekurangan air. Cara kontrol sederhana namun efektif. Selang interval beberapa bulan, di mrajan diadakan upacara memohon kesuburan dan kesejahteraan. Mendoakan air selalu tersedia dalam jumlah yang cukup agar kolam di mrajan dan juga di sawah tidak kekurangan. Kesederhanaan berfikir semacam ini mungkin sudah kehilangan tempatnya di jaman serba modern ini, terutama setelah sawah berganti. ‘Segala upacara yang sudah berlangsung ratusan tahun disini tetap kami selenggarakan seperti apa yang sudah berlangung. Saya tidak berani melebihkan apalagi mengurangi,’ ujar Turah setelah kami berkeliling. Bukan hanya upacaranya saja yang terjaga, tetapi juga arsitektur bangunan puri. Tidak Nampak aura kemewahan yang dicirikan oleh bangunan berkelir prada keemasan seperti sebagian besar puri di Bali kini. Banyak puri-puri yang menjaga keagungannya dengan cara membangun ulang dengan bentuk yang lebih megah, warna yang lebih mencolok dan ragam hias yang lebih grande. Tidak demikian dengan Puri Kesiman. Setidaknya itulah yang saya saksikan siang itu. Sepertinya ada upaya untuk tetap teguh menjaga tradisi sarat makna.

 

DSC_1173
Hujan gerimis turun di Mrajan Puri Kesiman
DSC_1168
Gerbang bata mengantarkan kami ke dalam Mrajan
DSC_1170
Meru bertumpang sebelas di Mrajan Puri Kesiman

Luputnya Kesiman dari perhatian, menyebabkan derap pembangunan fisik di Kawasan ini lebih banyak dilakukan oleh komunitas, bukan investor apalagi politisi yang membawa bansos. Investor lebih tertarik dengan kawasan pariwisata, sementara politisi mencari perhatian di kawasan-kawasan yang mendapat sorot media. Hal ini justru menjadikan Kesiman sebagai kawasan pusaka karena tidak banyak warisan budaya arsitekturnya yang dipugar atas nama pembangunan ekonomi atau atas nama jargon politis ‘perbaikan demi masa depan gemilang.’ Sahaja Kesiman yang terawat membuatnya, justru, tampil berkarakter. Khas Bebadungan, lugas, apa adanya tanpa topeng.

Advertisements

Rurung dalam Memori

46766837_2248670425144230_1205851332943020032_n
Rurung di Sanur di tahun 1970an. Photo: Made Wijaya

Kata ‘rurung’ sudah cukup lama menganggu fikiran saya, terutama semenjak jalanan tanah di kampung-kampung mulai diaspal sementara yang di kota dilapisi paving blok. Ada memori yang terhapus saat melihat jalanan yang dahulu berdebu saat kering dan sedikit becek saat hujan berubah mulus dan halus. Bukan, ini bukan soal kualitasnya, tetapi soal ingatan masa kecil.

Saat berusia SD, rurung menjadi halaman bermain anak-anak kampung. Kami terbiasa berkumpul setiap sore, saat terik matahari sudah jauh berkurang, di depan rumah masing-masing saling menunggu. Begitu sebagian besar anak berkumpul, maka berbagai permainan tradisional hingga olah raga ringan bisa dilakukan. Mulai permainan mecepetan, main dipyak (dengkleng;engklek), hingga kasti bahkan sepak bola bisa dimainkan. Suara sorak sorai akan mengundang anak-anak lain untuk datang. Permainan-permainan tersebut tak ubahnya olah raga yang membuat tubuh segar. Selain olah raga, permainan tradisional juga dipercaya mengasah kreativitas serta kepekaan sosial anak-anak terhadap sesama, meningkatkan sportivitas dan kejujuran.

446508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Gambar oleh I Mundik memperlihatkan berbagai aktivitas yang berlangsung di rurung.

Tidak hanya anak-anak, ruang terbuka di depan rumah juga disesaki orang tua kami bahkan kakek nenek. Tidak jarang, sebagian orang dewasa masih melanjutkan pekerjaannya, meraut atau memahat patung di rurung. Para petani yang sudah selesai bekerja di sawah memanfaatkan waktu istirahat sorenya dengan duduk-duduk sembari membawa ayam jago membicarakan hal-ihwal sawahdan segala persoalannya. Generasi yang lebih tua lagi memanfaatkan rurung sebagai ruang interaksi mengobrol sembari menunggu matahari tenggelam. Di ujung rurung jamak dijumpai penggak, semacam warung kecil tanpa atap. Di penggak bisa dibeli jajanan tradisional hingga bubur pengisi perut di sore hari.

46508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Penggak. Gambar: Miguel Covarrubias

Banyak kisah dan cerita yang terurai, tak jarang masalah-masalah di banjar atau desa bisa diselesaikan, dalam interaksi di rurung. Rurung ibarat ruang keluarga semua warga, tempat berinteraksi dan bersosialisasi, tak ada sekat, semua setara.

Kian sore, jumlah anak yang bermain biasanya kian ramai hingga tiba saatnya matahari tenggelam. Sesaat sebelum matahari tenggelam, mendekati jam 6, arena permainan berpindah ke sungai. Badan yang penuh keringat dan berdebu dibilas di aliran sungai yang mengalir membelah kampung. Permainan dilanjutkan dengan berloncatan dari tepian sungai.

DSC_8087
Berlangsung di Rurung, Perang Pandan di Tenganan Pegeringsingan

Di tempat lain, misalnya di daerah Karangasem, rurung juga memiliki fungsi ritual. Di Desa Tenganan Pegeringsingan nyaris sebagian besar, jika tidak semua, aktivitas ritual berlangsung di rurung. Aktivitas ini termasuk ritual perang pandan yang tersohor itu. Di wilayah lain, rurung menjadi arena untuk megibung masal, sebuah ritual makan bersama dalam suatu rangkaian upacara di desa.

Demikianlah, rurung memiliki berbagai fungsi, mulai dari fungsi sosial, budaya, ekonomi, ritual hingga fungsi pendukung kreativitas anak-anak. Banyaknya memori kolektif yang terjalin dari interaksi yang terjadi di rurung menebalkan rasa persaudaraan, meningkatkan kontrol sosial serta menunjang rasa memiliki. Modal sosial tersebut menjadi dasar kekuatan masyarakat desa.

 

456508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Angkul-angkul pembentuk rurung. Photo: Made Wijaya

Untuk mendukung fungsinya, sebuah rurung memiliki berbagai fasilitas meskipun bukanlah sesuatu yang mutakhir. Sekurang-kurangnya di setiap pintu masuk pekarangan terdapat ‘lenéng’. Ini adalah ‘sofa’ informal, tempat duduk yang nyaman bagi siapa saja. Selain ‘lenéng’ batu-batu besar juga bisa menjadi tempat duduk yang kasual.

46771481_296222640996331_9147884688092692480_n
Leneng dan batu sebagai tempat duduk kasual di rurung. Photo: Made Wijaya

Meja dan bangku kecil dibawa oleh pedagang ‘penggak’. Bukan meja atau kursi yang besar tetapi cukuplah untuk meletakkan dagangan sederhana dan tempat duduk sejenak sembari menikmati jajanan.

Di tepian rurung terdapat jelinjingan dan telajakan. Jelinjingan adalah semacam got tetapi bentuknya sedikit tidak teratur. Sementara itu telajakan berfungsi penghijauan, tempat ayam-ayam jago diletakkan di dalam kurungannya. Semak-semak berbunga, pucuk rejuna, soga, mawar, kembang kertas juga mengisi telajakan memenuhi kebutuhan bunga untuk membuat canang. Demikian juga pohon jepun, cempaka, atau pohon buah-buahan lokal.

46668708_353604375404182_1688587996107898880_n
Di telajakan, diskusi berlangsung santai. Photo Made Wijaya

 

Secara arsitektur, ruang rurung dibentuk oleh tembok menerus di kiri dan kanannya. Tembok ini diinterupsi oleh angkul-angkul pintu masuk ke pekarangan rumah penduduk. Dari arah rurung, deretan angkul-angkul ini merupakan sajian arsitektural yang menarik. Meskipun bentuknya mirip, penyelesaian konstruksi dan bahan yang dipergunakan bisa berbeda-beda antara angkul-angkul yang satu dengan yang lain. Angkul-angkul menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat. Anjing pun merasa aman dan nyaman duduk di pintu masuk pekarangan ini.

Fungsi rurung kini telah berubah. Semenjak beberapa tahun belakangan ini sebagian besar rurung telah mengalami pembaharuan secara fisik. Permukaannya yang dahulu becek di kala hujan serta berdebu di kala panas berganti aspal mulus. Tepiannya diturap rapi dan dilengkapi got permanen menggantikan jelinjingan. Tuntutan akan jalan mobil yang lebih lebar seringkali mengorbankan telajakan sehingga ruang hijau menerus yang dahulu nyaman untuk tempat menjemur ayam aduan tidak ada lagi.

Dengan bergantinya permukaan rurung maka beralih pula fungsinya. Kini fungsi utama rurung adalah sebagai jalur transportasi. Raungan kendaraan roda dua dan roda empat menggantikan sorak-sorai anak-anak bermain kasti. Suara klakson dan raut muka tanpa senyum di balik kemudi menggantikan suara kelakar dan wajah penuh tawa yang dulu bisa dijumpai saban hari. Tidak ada lagi anak-anak bermain dan orang-orang kampung bercengkerama sehingga hilang pula peluang ekonomi. Akibatnya, penggak-penggak kehilangan pembeli karena aktivitas di rurung sudah berganti. Dari penggak, tempat nongkrong berpindah ke coffee shop. Kini, ada kerinduan pada aktivitas rurung dengan berbagai aktivitasnya, bukan hanya sebagai jalur transportasi.

46675030_369854530436813_4582681326888419328_n
Warung, tempat istirahat nyaman di sore hari sambil membicarakan gosip lokal. Photo: Made Wijaya

Tentu saja jalur transportasi sangat dibutuhkan di jaman yang serba cepat ini. Aktivitas warga tidak lagi tunggal, hanya bertani, tetapi sudah beragam. Tempat kerja pun tidak lagi di sawah tetapi di kantor-kantor, hotel-hotel dan restaurant, serta tempat-tempat lain. Semua kini butuh kendaraan bermotor entah mobil atau sepeda motor. Akan tetapi, perkembangan ini mestinya tidak menghilangkan kualitas sosial rurung. Saya percaya, jika ada kemauan, kita masih bisa mendapatkan kualitas yang dahulu dimiliki rurung dengan tetap mendapatkan kualitas transportasi yang memadai.

(bersambung ke bagian 2)

 

Ihwal Ikut Cledu pada Arsitektur Bali

moojen032
Bangunan terbuka di pojok sebuah puri di Bali menggunakan atap alang-alang tetapi dilengkapi dengan bubungan genteng. (Foto: Moojen, P.A.J. Kunst op Bali, Adi Poestaka 1926)

Bagi yang sering berkecimpung pada kegiatan studi maupun kegiatan ber-arsitektur di Bali, istilah ikut cledu pastilah bukan sesuatu yang asing. Istilah ini merujuk pada hiasan pada bagian atap bangunan. Letaknya ada pada ujung jurai atap limasan berbentuk ukiran serupa sulur yang menyerupai sebilah daun. Hiasan ini lumrah ditemui di hampir semua bangunan Bali kini sehingga sering dianggap sebagai bagian dari elemen kunci dalam arsitektur Bali.

‘Kenapa setiap mengajukan IMB selalu ditanya soal ikut cledu?’ ketus seorang kawan pada suatu siang di kantornya yang sejuk oleh rerimbunan pohon mangga. ‘Kantor ini tidak memakai ikut cledu, tetapi setiap klien kami merasa nyaman dan menganggap ini adalah bangunan Bali’ ujarnya melanjutkan. ‘Apakah arsitektur Bali mesti diidentikkan dengan ikut cledu?’ pungkasnya.

Saya hanya manggut-manggut sembari berfikir memutar otak mendengar keluh kesah si kawan yang dalam setahun punya klien lebih banyak daripada angka umurnya. ‘Ikut cledu ditempelkan di bagian ujung atap genteng dengan semen, atau setidaknya tanah liat. Artinya ikut cledu butuh tempat yang kuat dan perekat yang mumpuni untuk bisa ditempelkan di bagian atap yang miring’, saya berhipotesa. ‘Sementara bangunan tradisional kita banyak yang beratap jerami, ijuk bahkan klangsah’, saya melanjutkan dugaan. Sementara waktu saya merasa punya jawaban. ‘Jadi kalau kita tengok ke belakang, ikut cledu itu bukan cerminan pokok dari arsitektur tradisional Bali’.

Sejujurnya pertanyaan si kawan itu membuat saya berfikir cukup lama. Sampai di rumah saya buka-buka lagi literature dan buku-buku lama tulisan para peneliti Belanda tentang arsitektur Bali di awal abad 20.

Salah satu buku yang memuat banyak sekali visual arsitektur tradisional Bali adalah Kunst op Bali yang ditulis oleh P.A.J. Moojen. Si penulis adalah salah satu arsitek profesional pionir di kawasan Hindia Belanda dan pada awal abad ke 20 melakukan perjalanan ke Bali. Bukunya memuat ratusan foto-foto bangunan tradisional Bali yang dijumpainya pada masa itu.

Dari foto yang ada di buku, sepertinya hipotesa saya menemukan pembuktiannya. Tidak semua bangunan menggunakan ikut cledu, bahkan sebagian besar bangunan tidak menempatkan ikut cledu sebagai hiasan di ujung atapnya. Namun demikian, ikut cledu banyak dijumpai pada bangunan-bangunan yang memiliki atap kecil yang berfungsi sebagai bangunan peribadatan. Ikut cledu, misalnya, ditempatkan pada atap pelinggih-pelinggih di pura yang ada di Buleleng. Pelinggih-pelinggih tersebut berukuran relatif kecil dengan konstruksi bata atau paras bahan hingga ke atapnya. Dengan atap yang terbuat dari bata atau paras, maka, cukup mudah untuk menempelkan hiasan ukiran sulur di bagian ujung atapnya.

moojen100
Dua pelinggih terbuat dari bata atau paras, satunya memakai ikut cledu sementara yang di kiri menggunakan ornamen yang berbeda. (Foto: Moojen, P.A.J. Kunst op Bali, Adi Poestaka 1926)

Selain pada bangunan pelinggih, hiasan sulur di ujung atap juga bisa dijumpai pada bangunan candi bentar dan kori agung/gelung kori. Serupa dengan pelinggih, bangunan ini juga dikontruksi dari bata atau batu paras. Cara menempelkannyapun serupa dengan konstruksi di bangunan pelinggih yang lebih kecil. ikut cledu ditempatkan pada bagian ujung atap dan direkatkan dengan tanah liat. Penggunaan tanah liat tentu saja lumrah karena ketiadaan semen pada masa itu.

moojen137
Kori Agung di Belayu (Foto: Moojen, P.A.J. Kunst op Bali, Adi Poestaka 1926)

Akan tetapi, ikut cledu hadir tidak di setiap kori agung. Banyak juga kori agung yang tidak menggunakan hiasan ini pada bagian atapnya. penggunaan ikut cledu sangat dipengaruhi oleh gaya bangunan yang diterapkan oleh sang undagi, si pembangun. Misalnya saja pada gelung kori Pura Luhur Uluwatu. Gelung kori pura ini tidak menyertakan ikut cledu sebagai bagian dari ornamennya.

bali106a
Gelung Kori Pura Luhur Uluwatu (atas), tanpa ikut cledu (Goris, R. Bali: Atlas Kebudayaan, 1957)

Pada bangunan-bangunan besar, yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan bangunan publik, ikut cledu nampaknya tidak lumrah. Sekali lagi, sepertinya hipotesa bahwa tidak mungkin menempelkan hiasan yang terbuat dari batu paras atau bata pada alang-alang, yang meruapak atap paling dominan pada bangunan besar, menemukan pembenaranya. Foto-foto Moojen yang diambil di seantero Bali menunjukkan bahwa nyaris tidak ada bangunan rumah tinggal menggunakan ikut cledu pada atapnya. Tidak hanya pada bangunan yang beratap alang-alang, ikut cledu juga absen pada bangunan dengan atap sirap bamboo, seperti bangunan yang lumrah dijumpai pada bangunan di Kabupaten Bangli dan kawasan dataran tinggi lainnya yang banyak memproduksi bambu.

 

moojen018
Bangunan-bangunan rumah tinggal beratap alang-alang dan sirap bambu tanpa ikut cledu (Moojen, P.A.J., Kunst op Bali, Adi Poestaka, 1926)
moojen058
Bangunan-bangunan publik dengan atap alang-alang tidak menggunakan ikut cledu (Moojen, P.A.J., Kunst op Bali, Adi Poestaka, 1926)

Ikut cledu muncul dalam sebuah foto bale bengong sebuah puri di Bali selatan beratap alang-alang. Akan tetapi ikut cledu tersebut disematkan pada bubungan atap yang terbuat dari genteng tanah liat. Hal ini menunjukkan bahwa faktor teknis menyebabkan ikut cledu dipakai pada bangunan tersebut.

Ikut cledu kembali bisa dijumpai pada bangunan yang dipakai untuk orang meninggal. misalnya pada bade, wadah yang beratap, serta bangunan untuk menaungi lembu di setra. Bahannya terbuat dari kertas atau, mungkin, upih (pangkal pelepah daun palem kering). Sekali lagi faktor teknis kemudahan menempelkan material ini di ujung bubungan atap limasan barangkali menjadi alasan utamanya.

bali144a
Ikut Cledu pada Bade (Goris, R. Bali: Atlas Kebudayaan, 1957)

Jadi? menurut saya, ikut cledu bukanlah elemen pokok yang menjadikan sebuah bangunan bisa disebut sudah menerapkan arsitektur Bali atau belum. Peran ikut cledu berbeda dengan dinding, ata, lantai dan elemen struktur dengan prinsip-prinsip konstruksinya yang membentuk ruang-ruang tradisional. Setara dengan kekarangan (karang gajah, curing, bentulu, mata, dll), pepalihan, pepatran dan ornamen lainnya, menurut hemat saya, ikut cledu boleh tidak hadir dalam bangunan Bali. Ikut cledu hadir di banyak bangunan tetapi ia bukan elemen inti, it is not the essence of Balinese Traditional Architecture, tetapi karena letaknya cukup tinggi, di bagian atap, iya terlihat menonjol.

Ledakan Kreativitas Kota dalam Mural

DSC_9934Menunggu lampu menyala hijau, setiap orang yang berhenti di lampu pengatur lalu lintas di dekat Art Centre pasti teralih perhatiannya pada lukisan di dinding sebelah barat. Pada lukisan, tergambar sejarah ringkas, hasil intepretasi si pelukis, tentang alih fungsi lahan di Bali. Ada tiga seri lukisan dinding, atau yang kerap disebut mural, pada tembok yang menjadi latarnya.  Pada lukisan paling selatan, tergambar petani tengah membajak sawah sementara pada lukisan di tengah terlihat dua orang yang membicarakan sebidang tanah sawah yang dijual. Pada lukisan paling kanan tergambar keadaan Pulau Bali yang penuh bangunan beton dengan dua orang pemancing yang mendapat hasil sebuah sepatu.

Gambar semacam yang terdapat di dinding sebagaimana saya ceritakan di atas tentu bukan sebuah lukisan yang jamak dijumpai di ruang-ruang pamer seni. Gambar-gambar tersebut tidak punya tempat di ruang-ruang ber-AC yang dingin, untuk dinikmati segelintir kalangan berduit. Sebaliknya, ia dinikmati oleh khalayak ramai, siapa saja yang melintas di jalan. Seringkali diremehkan. Tetapi justru disinilah letak kekuatannya. Kekuatan utama yang tidak terletak pada nilai jualnya, tetapi pada kemampuannya untuk dinikmati oleh banyak orang tanpa preferensi tertentu. Kekuatan inilah yang, sepertinya, dimanfaatkan oleh si pelukis untuk menyampaikan kegundahannya sekaligus pesan moral yang hendak disampaikannya kepada khalayak luas. Khalayak yang lebih sering berada di ruang luar, di tempat-tempat dimana AC adalah barang mewah. Tetapi jangan salah, gambar-gambar yang dibuat oleh, sebut saja, seniman jalanan tersebut memiliki nilai artistik yang juga tinggi. Perhatikan saja teknik penggambaranya, pewarnaannya, hingga kemampuannya merangkum sebuah tema cerita. Niscaya kita akan sadari ada manusia jenius dan kreatif di baliknya. Kreativitas ini tentu disertai dengan keberanian serta kekuatan tanpa pamrih. Sulit membayangkan lukisan-lukisan semacam itu dibuat oleh para penakut, atau orang yang hanya mau mengambil keuntungan finansial semata. Tanpa kreatifitas, tembok di dekat lampu pengatur lalu lintas tersebut mungkin tidak akan menarik perhatian. Tanpa kreatifitas, pesan yang hendak disampaikan mungkin tidak akan terdengar, atau terdengar tetapi dengan efek yang berbeda. Kreatifitas membuat penyampaian pesan menjadi lebih elok. Tanpa kreativitas, seni menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati sedikit kalangan.

Denpasar, kini telah menjadi metropolitan. Sebagai kota metropolis, penduduknya sangat heterogen. Heterogenitas ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah terbentuknya kota. Berakar dari permukiman-permukiman tradisional, Kota Denpasar berkembang pesat saat di awal abad ke-20 saat Pemerintah Kolonial Belanda membuka Pulau Bali untuk investasi internasional. Bersama investasi, masuk pula kelompok-kelompok masyarakat baru dari berbagai etnis mendiami wilayah pulau yang terbilang tidak besar ini. Berkat peran barunya sebagai pusat pemerintahan kolonial, Denpasar menjadi tujuan tinggal kelompok-kelompok multi etnis yang awalnya datang dengan motif ekonomi. Mula-mula, kelompok-kelompok yang berlainan etnis ini tinggal di kawasan yang berbeda-beda. Kelompok pegawai berkebangsaan Eropa tinggal di kawasan sekitar pusat pemerintahan seputaran Catus Patha, sementara kawasan perdagangan di sekitar pasar dikuasai oleh kelompok etnis China dan Arab. Kelompok etnis Jawa menempati bantaran sungai, sementara penduduk lokal terorganisir dalam banjar-banjar yang sudah ada jauh sebelum hadirnya pemerintah kolonial. Keuntungan ekonomi yang dimiliki oleh Denpasar ternyata masih sangat menjanjikan. Selain itu, peran kota sebagai ibu kota Provinsi Bali membuatnya menjadi pusat pemerintahan, pusat pendidikan, pusat perdagangan hingga pusat pengembangan seni daerah. Akibatnya, sepanjang waktu, aliran pendatang terus mengalir. Hal ini berimbas pada, sebagaimana disampaikan oleh mural di atas, sawah-sawah mengecil bahkan menghilang digantikan oleh bangunan-bangunan berbagai fungsi.

Kini, masyarakat Kota Denpasar tinggal dan tumbuh di lokasi dan dengan kondisi yang berbeda-beda. Sebagian masyarakat hidup di tempat-tempat yang baik dan layak, sebagian lagi hidup di kawasan yang tergolong mewah, menikmati fasilitas yang sangat baik. Namun tidak sedikit juga yang hidup di kantong-kantong dengan layanan infrastruktur yang sangat terbatas. Namun demikian, semua memiliki hak hidup dan tinggal yang sama.

DSC_9923

Kebudayaan yang dibawa oleh kelompok yang berbeda-beda ini tentu sangat beragam. Hal ini menyebabkan mulai terjadinya polarisasi dan juga akulturasi budaya termasuk di bidang kesenian. Kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat diperkaya lagi oleh kesenian-kesenian dari kelompok multi-etnis baru. Sempat muncul kekhawatiran akan memudarnya kesenian local, terutama akibat gerusan globalisasi. Menanggapi hal ini, Pemerintah Daerah, di tahun 1970-an akhir, membangun pusat seni atau yang jamak disebut sebagai Art Centre di Kota Denpasar. Pada fasilitas ini, pertunjukan seni dipentaskan, lukisan dan patung dipamerkan dan masyarakat bisa menikmatinya.

Kesenian terus tumbuh dan berkembang. Masyarakat dengan latar heterogen menemukan dan menciptakan sendiri seninya, seni yang seringkali dituduh tidak memiliki latar belakang budaya. Sesungguhnya seni-seni kontemporer adalah produk budaya penduduk kontemporer. Seperti juga seni tradisional, ia menggambarkan kekaguman, kegelisahan, bahkan ketidakadilan yang terjadi dalam pergaulan masyarakat kontemporer dengan caranya sendiri. Cara yang berbeda dengan kesenian-kesenian tradisional. Perbedaan cara ini seringkali menyebabkan seni-seni kontemporer dituduh sebagai cabang kesenian yang remeh, tidak bermutu. Tentu anggapan ini tidak benar sama sekali. Justru banyak dari seniman-seniman justru menemukan ‘panggung’nya pada kesenian alternative ini.

 

Kini seni mural hadir di banyak lokasi di Kota Denpasar yang penduduknya tidak lagi homogen. Seperti juga mural yang diceritakan di awal tulisan, banyak pesan moral yang dikandungnya. Di dekat pasar Badung yang sedang direnovasi, muncul mural yang cukup menarik. Sebuah pesan antikorupsi menjadi latar belakang aktivitas ekonomi masyarakat. Pesan yang menyelipkan kebanggaan untuk bekerja jujur, kerja masyarakat kebanyakan yang jauh dari hiruk-pikuk politik. Pesan yang mengena, sekali lagi, disampaikan lewat media yang sesuai.

DSC_9914

Seni mural tidak memerlukan prasyarat istimewa. Dia hanya membutuhkan sebidang dinding yang siap menjadi medianya. Demikian juga untuk menikmati seni ini juga tidak butuh tiket, pakaian khusus, ataupun perlu registrasi. Seni ini bisa dinikmati di ruang-ruang public, oleh siapa saja. Tidak peduli bersandal jepit, baju sehari-hari, tanpa perlu mendaftar. Ia hadir mengisi kekosongan, memenuhi ceruk sekaligus hak setiap orang untuk menikmati seni. Seni dan kesenian memang harus dinikmati, dinikmati oleh siapa saja. Kesenian juga representasi masyarakat. Masyarakat heterogen mewujudkan sendiri seninya. Di masa mendatang akan hadir lagi seni-seni yang lain, seni yang mewakili dan menjadi representasi masyarakat pendukungnya. Ibu Suriawati, pemilik CushCush Gallery, yang menginisiasi gerakan Denpasar Art+Design, dalam satu kesempatan mengungkapkan cita-citanya untuk menghidupkan kesenian-kesenian yang terpendam. Upaya yang sekaligus menunjukkan upaya untuk mengangkat derajat seni serta menjadikannya sebagai sesuatu yang ‘sehari-hari’, bisa dinikmati oleh siapa saja. Karena seni bersifat universal.

Kue Pariwisata dan Kegelisahan Desa-desa Kuno di Bali

Faktor ekonomi mendorong nyaris semua aktivitas manusia dewasa ini. Hal ini juga tercermin dalam setiap program pembangunan yang disusun oleh pemerintah. Menyadari besarnya potensi pariwisata, pemerintahan Presiden Joko Widodo meluncurkan program yang disebut sebagai ’10 Bali Baru’. Program kepariwisataan ini berangkat dari fakta bahwa dengan hanya satu Bali saja Indonesia sudah mendatangkan 11.5 Juta wisatawan di tahun 2016. Jumlah kunjungan ini telah menyumbang Rp. 172 Trilliun PDB Indonesia dan menyediakan pekerjaan bagi 12 juta orang. Bayangkan jika ada sepuluh ‘Bali baru’. Keuntungan ekonominya pastilah akan lebih berlipat ganda lagi. Betapa besar kue pariwisata yang bisa dibagi. Tentunya sangat banyak yang ingin mendapatkan bagian dari kue tersebut.

Demikianlah, pariwisata kini menjadi salah satu andalan dalam upaya meningkatkkan perekonomian nasional. Tetapi bagaimana dampaknya bagi masyarakat di akar rumput?

Hari Selasa 7 Agustus 2018, bersama empat orang rekan peneliti, saya berkunjung ke sebuah desa kuno di belahan Bali bagian utara. Desa Tigawasa, demikian namanya. Desa ini tergabung dalam sebuah jaringan desa-desa kuno yang disebut SCTPB terdiri atas Sidatapa-Cempaga-Tigawasa-Pedawa-Banyusri. Desa-desa ini sempat memiliki citra yang kurang baik karena seringnya diberitakan terjadi konflik kekerasan di tahun 1980-1990an. Namun secara arsitektural dan kondisi geografis sangat menarik karena menawarkan keunikan yang tidak bias dijumpai di wilayah Bali lainnya. Lokasinya di lereng perbukitan yang tandus menuntut penyelesaian arsitektural yang khas. Bahan bangunan bambu, dulu, menjadi pilihan material konstruksi tradisional yang tahan gempa. Selain itu, desa-desa kuno umumnya memiliki tradisi khas yang tumbuh dan berkembang secara turun-temurun.

Begitu sampai di daerah Munduk, sepanjang kiri dan kanan jalan yang kami lewati dipenuhi oleh spanduk-spanduk tawaran singgah. Bunyinya, meskipun tidak sama, nyaris seragam: ‘Pondok Wisata Selfie’.

Memasuki jalan sempit berliku dan menurun, mobil memasuki kawasan desa kuno Pedawa di lereng utara Pulau Bali. Jalanan sempit tersebut membuat Agung, yang duduk di belakang kemudi, harus ekstra waspada terutama jika ada kendaraan melintas dari arah berlawanan. Lima belas menit memasuki jalan turunan terjal berliku, di sebelah kanan jalan terlihat beberapa gugus bangunan yang terbuat dari bambu. Tampak sebuah menara dengan tanda ‘jantung’ memuncakinya. ‘Tempat selfie lagi!’ seru Agung. Ya benar, di tengah perdesaan dengan infrastruktur yang tidak begitu mudah dijangkau terdapat fasilitas yang juga sama serupa dengan yang kami lewati sebelumnya di jalanan yang lebih besar. Papan informasi di depannya memberi petunjuk bahwa fasilitas tersebut dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng. Bukan hanya itu, selepas dua puluh menit perjalanan, sebuah papan petunjuk kembali hadir. Tulisannya, ‘Pondok Hobbit’. Jelaslah di lokasi yang ditunjukkan oleh papan tersebut tersedia rumah-rumah kecil ala permukiman di film the Hobbit karya sutradara Peter Jackson yang sempat booming di tahun 2012. Tak bisa disangkal lagi, semua fasilitas tersebut dibangun untuk mengundang pengunjung, para wisatawan yang haus dengan citra diri, selfie.

‘Kami sedang mengupayakan agar desa-desa yang termasuk dalam kelompok SCTPB dikunjungi oleh wisatawan’ ujar seorang pentolan LSM yang kami temui di Kantor Desa Tigawasa. Ujaran ini menyambung penyampaian Kepala Desa yang sekaligus juga merangkap Bendesa Adat bahwa pariwisata kini sedang digiatkan untuk membangun ekonomi desa yang, hingga saat ini, masih bergantung pada cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama.

Untuk mendukung program pariwisata desa, maka banyak aktivitas dilakukan. Pembangunan pondok-pondok selfie, barangkali, menjadi primadona. Di tebing-tebing, di tepian hutan hingga di daerah dengan air terjun, kini dibangun pondok-pondok untuk wisatawan mengambil gambar yang bisa diunggah di media sosial.

Fenomena selfie ini mulai merebak tiga tahun belakangan ini. Kemunculan media sosial yang memungkinkan setiap orang untuk memiliki media sendiri untuk menampilkan citra diri menjadi pendorong utamanya. Seiring booming-nya media sosial, yang menimbulkan dominasi citra visual dalam kehidupan keseharian kita, maka daerah-daerah yang menawarkan lokasi selfie turut menjamur. Program acara jalan-jalan yang ditayangkan televisi swasta nasional turut mendorong orang untuk berburu tempat-tempat yang dipandang eksotis. Tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini turut mendorong kegiatan kepariwisataan, terutama di kalangan generasi muda. Ada harapan besar, terutama di tataran lokal, akan keuntungan ekonomi yang dibawa oleh aktivitas ini.

Tidak hanya di kawasan Munduk hingga ke Tigawasa, wisata selfie sejatinya berkembang di seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga ke pelosok Papua. Polanya nyaris serupa: menawarkan tempat ngopi dan berfoto di ketinggian dengan pamandangan hutan, danau atau sawah. Bentuk anjungannya berupa pelataran kayu yang ditempatkan pada pohon yang cukup kuat. Belakangan, muncul pula anjungan berupa ayunan.

Berwisata, pada hakekatnya adalah mencari pengalaman baru. Bermanfaat untuk diri sendiri dalam upaya mencari kesejatian diri. Kini, berwisata juga berarti menunjukkan pengalaman baru kepada orang lain. Menunjukkan keunggulan diri kepada orang lain dalam bentuk unggahan di media sosial. Motif yang kedua inilah yang kini, di jaman citra visual, lebih mengemuka dan kelihatan ‘lebih menguntungkan’ secara ekonomis dalam jangka pendek.

Pengalaman baru berwisata bisa didapatkan dari tempat-tempat baru, baik secara alam maupun budaya, yang sama sekali berbeda dari alam dan budaya tempat tinggal si wisatawan. Dalam konteks ini, Bali sempat selalu menjadi unggulan berkat alam dan budaya yang unik. Di dalam Pulau Bali sendiri masih terdapat banyak keunikan-keunikan yang menyebabkannya menjadi kolase beragam budaya dan alam yang spesifik.

Sayangnya keragaman dan keunikan tersebut, sejak merebaknya citra visual imajiner media social dan wisata pamer, gagal dijadikan sebagai dasar membangun ekonomi. Alih-alih melakukan penggalian keunikan lokal, peniruan-peniruan justru merebak. Peniruan ini awalnya memang seolah-olah memberi keunikan tetapi saat semua daerah mengembangkan jenis wisata yang sama, maka pudarlah nilai keunikan tersebut. Kepudaran ini sejatinya tidak akan menjadi masalah jika ia tidak mempengaruhi keunikan otentik yang tumbuh dan berkembang di lokasi tradisional. Sayangnya kini banyak lokasi-lokasi tradisional yang memiliki keunikan mengakar kuat pada tradisi malah sibuk mengejar ‘keunikan’ sesaat dalam bentuk wisata selfie.

Desa-desa tradisional, tanpa intervensi massif demi mengejar citra visual medsos, telah memiliki keunikan yang lahir dari interaksi keseharian manusia dengan alamnya, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan penciptanya serta bagaimana interaksi tersebut diwujudkan dalam bentuk arsitektur, produk kerajinan, pertanian, maupun budaya tak benda yang diwariskan. Kemampuan kita meng-kapitalisasi warisan tak ternilai ini semestinya dikedepankan sebagai ujung tombak pembangunan pariwisata. Keinginan memperoleh keuntungan jangka pendek dengan cara melakukan peniruan bias berujung pada menghilangnya potensi yang dikandung oleh keunikan yang telah mengakar. Desa-desa tradisional kini lebih suka meniru disbanding menggali sendiri potensinya.

Jika dengan satu Bali saja sudah banyak desa-desa yang berubah, maka dengan 10 Bali bisa dibayangkan akan berapa banyak keunikan yang tergerus jika pembangunan pariwisata tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai tentang keunikan budaya lokal.

Desa-desa tradisional di Bali yang menjadi ujung tombak penyedia keunikan kini bertransformasi mengembangkan jenis pariwisata yang serupa. Secara pribadi, saya khawatir perkembangan pariwisata yang berlangsung saat ini akan menjauh dari cita-cita luhur membangun jati-diri bangsa. Gurihnya kue pariwisata nampaknya membuat desa-desa kuno, bahkan yang memiliki ‘akar’ budaya paling kuat sekalipun, gelisah.

Semalam Saya Berjumpa Ibu

 

Cahaya matahari yang tidak terlalu terik menimpa dedaunan dan bunga-bunga berwarna warni di taman. Sinarnya memberi terang yang lembut sekaligus menciptakan bayangan bunga-bunga liar di atas rerumputan yang hijau. Embun bening masih tersisa di pucuk-pucuk daun. Pagi masih muda, siangpun masih jauh. Saya mengayunkan kaki diantara semak berbunga dan pepohonan rindang, sesekali arahkan lensa kamera memotret close-up beberapa bunga yang baru mekar. Suara burung merdu serasa ada di atas kepala. Sebuah sungai kecil membelah taman yang indah itu. Jembatan kayu tua tampak berkarisma menyatukan dua sisi taman yang berbeda. Di bawah jembatan, beberapa ekor bebek dan angsa berenang-renang riang. Saya menyeberang ke sisi taman yang satunya, disambut sebuah bangku taman yang menawarkan jenak kepada kaki yang mulai lelah. Tiba-tiba, ‘Berkelilinglah, taman ini luas dan indah, Mang bisa ambil banyak foto bunga’ suara ibu terdengar lirih. Tanpa saya sadari beliau sudah ada di sebelah, duduk tenang di bangku yang sama dan tersenyum. ‘Ibu…’ ujar saya. Beliau mengangguk tersenyum ringan. Beliau menyarankan untuk naik perahu kecil yang ada di atas sungai. Saya ikuti anjurannya, mengarahkan kaki lagi, mengambil beberapa foto. Di satu sudut taman, sebuah pintu tampak setengah terbuka. Saya masuk. Ooh.., ternyata pintu keluar. Di luar pintu, lingkungan terlihat berbeda. Jalan lebih kotor. Mungkin jarang disapu. Kembali ke taman, saya menjumpai perahu yang dibilang ibu. Saya naik sambil menyeimbangkan badan. Beberapa saat kemudian perahu sudah berjalan tanpa suara. Beberapa ekor bebek dan angsa mengikuti dalam hening. Indah sekali taman ini, tenang namun penuh warna.

‘Bapak siapa?’ Tegas bertanya, seorang lelaki kekar. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek. Badannya berkeringat dan penuh tato. Sinar matahari tepat di balik punggungnya sehingga wajahnya samar keliatan. Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja dia sudah ada di perahu yang sama dengan saya. Ahh mungkin saya terlalu asyik mengambil foto sehingga tanpa sadar ada yang naik ke perahu. ‘Bapak tidak boleh ada di sini, dan harus keluar sekarang juga’, perintahnya jelas. Saya gelagapan. Bergegas membereskan kamera dan tas yang tergeletak di dasar perahu. Mengambil dayung, saya mengarahkan perahu ke tepian lalu meloncat ke daratan sejenak setelah perahu berlabuh. Tanpa menunggu lebih lama saya memacu langkah, taman sudah berada jauh di belakang. Ooh..tapi, tapi ibu tertinggal. Ibu masih di bangku taman. Saya lupa mengajaknya pulang. Saya panggil-panggil namanya, “Ibu…Bu…Ibu….’, hening…, tidak ada sahutan…

Terbangun, mata saya basah oleh air mata.

PS. Ibu saya meninggal pada Bulan Desember 2016, saat saya sedang suntuk-suntuknya belajar di negeri orang jauh dari beliau.