Kampus – kampus di Kota Oxford

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kota Oxford disesaki oleh puluhan Colleges dan Schools yang hingga saat ini saya tidak hapal namanya satu satu. Bangunannya sangat menarik, berasal dari masa jaya arsitektur Gothic dengan menara tinggi bepuncak runcing hingga sistem struktur yang meniru batang batang pohon. Berjalan jalan di sepanjang gang gang sempit maupun jalan raya yang lebar, mata selalu dimanjakan oleh kemegahan arsitektur bangunan sekolah sekolah tersebut.

Image

banyak diantara sekolah sekolah ini yang menjadi obyek wisata dan mengundang ratusan turis yang penasaran dengan isi di dalam gedung gedung yang menjulang tinggi tersebut.

datanglah di hari Sabtu atau Minggu, saat tidak ada pelajaran, maka akan diijinkan masuk secara gratis untuk beberapa colleges. Waktu buka antara jam 1 siang sampai sekitar jam 5 sore. Cukup singkat. Harus pintar pintar mengatur waktu berkunjung sehingga lebih banyak yang bisa dikunjungi.

Image

Sekolah atau colleges umumnya ditata dengan courtyard yang luas di dalamnya. Ruang ruang kelas berada di sekitar courtyard luas tadi. Courtyard ditanami rumput yang sangat terawat, hijau dan sangat subur. Ada juga yang dilengkapi lapangan luas di bagian belakang,bahkan ada pula yang memiliki hutan kecil.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Hutan kecil ini memiliki banyak pepohonan besar yang rindang sehingga menjadi tempat belajar yang nyaman di bawahnya naungan kanopinya. di musim gugur, Dedaunan berwarna warni sebelum jatuh ke tanah untuk kemudian di musim semi berganti dengan daun baru yang muda.

Image

Selain colleges yang berarsitektur gothic, ada pula kampus kampus baru dengan arsitektur modern dengan penataan ruang yang efisien. Namun secara keseluruhan, idenya masih senada dengan halaman atau courtyard luas di dalamnya. Oxford Brookes salah satu yang menikamti fasilitas gedung modern dengan menerapkan bahasa atau langgam arsitektur terkini.

ImageK

Alarm

Image

Urusan keselamatan dan keamanan sangat krusial bagi orang Inggris. Entah apakah kejahatan begitu parahnya di negeri ini ataukah bencana demikian sering terjadi? Nampaknya bukan, karena berita mengenai bencana, kecelakaan, ataupun tindakan kriminal tidaklah begitu ramai di koran-koran maupun berita di internet. Bandingkan dengan di kota Denpasar misalnya, berita mengenai hal-hal buruk disini tidak ada apa apanya. Harian terkenal di Indonesia malah punya satu halaman khusus yang memberitakan hal hal yang berkaitan dengan tindak kejahatan, bencana. Yang lebih menyeramkan, setiap hari selalu saja ada kejadian yang diberitakan.

Saat Pak Jokowi baru menjabat sebagai gubernur di Jakarta, kebakaran terjadi di banyak tempat dan memakan banyak korban jiwa. Terbaru, Pak Ahok, wakil gubernur Jakarta dengan gayanya yang ceplas ceplos menyarankan agar PLN tidak memberi sambungan listrik kepada rumah rumah yang tidak memiliki IMB. Saya jadi bertanya berarti selama ini PLN memberi layanan kepada semua rumah tanpa melihat latar belakangnya apakah rumah tersebut layak menerima sambungan ataukah tidak? Atau barangkali PLN memang menginginkan agar semua masyarakat dapat menikmati listrik? Entah yang mana yang benar. Yang jelas dua duanya bertujuan baik. Lhah kalau kejadian malah jadi kebakaran kayak gini, trus siapa yang mesti disalahkan? Bingung…..

Oya balik lagi ke cerita semula (malah ngelantur) soal keselamatan. Crescent Hall, kos kosan saya selama di Oxford sejauh ini nampaknya cukup aman dan sepertinya mempertimbangkan segala aspek keamanan dan keselamatan. Hall dirancang memiliki kemanan tingkat tinggi dari segala kemungkinan bencana maupun tindakan criminal malah menurut saya fasilitas ini agak lebay alias berlebihan. Di dapur terdapat kompor, microwave dan oven yang semuanya bertenaga listrik. Selama memasak, kita tidak akan pernah melihat nyala api yang membuat pantat panci di dapur emak kita di dapur jadi item. Panasnya berasal dari elemen besi bulet atau batang-batang besi melingkar lingkar kalau di dalam oven. Nah peralatan tadi sepertinya ngga akan mungkin menyebabkan kebakaran. Dalam kondisi demikian ternyata perlengkapan keselamatan yang disediakan amat sangat lengkap. Di dapur kita bias liat ada fire blanket (selimut api ) buat menutup nyala api kali terjadi kebakaran, kemudian ada tabung pemadam kebakaran kecil. Tabung pemadam ini juga terdapat di koridor. Kemudian prosedur pemakaian dan tata cara penyelamatan diri disediakan di dinding dengan sangat lengkap. Nah itu alat pemadam apinya. Adalagi detector asap yang bisa mendeteksi jika terjadi asap di luar kewajaran. Detector ini akan menyala otomatis dan tersambung ke sistem alarm guna memberi peringatan jika terjadi kebakaran. Sebelum menghuni salah satu kamar kita sudah diberitahu segala macam prosedur dan manual. Sayangnya pada saat datang saya sudah sangat kelelahan sehingga tidak sempat menengok ke prosedur yang tersedia tersebut barang sekejap.

Prosedur kemanan tak kalah hebohnya meskipun tidak disediakan pentungan atau kentongan jika terjadi maling. Prosedur keamanan lebih pada aturan membuka pintu dan jendela dan menyimpan barang barang berharga kita. Namun perlengkapannya ternyata cukup menyiksa. Di luar jendela kira kira berjarak 15 cm dari jendela, khusus di lantai dasar, dipasangi terali. Tidak ada yang aneh awalnya hingga saya merasa perlu udara segar. Saya buka itu jendela, “tak” kena bagian terali. Oalahhhh ternyata jendela hanya bisa dibuka tidak lebih dari seperlima bukaan. Sangat sempit. Cukup sempit untuk membuat seekor kucing mengurungkan niatnya masuk. Ck..ck..ck.. maunya aman malah membuat orang tersiksa. Kemudian aturan tentang membuka pintu yang betul betul membuat paranoid saya kumat. Begini bunyinya, “Sebelum membuka pintu pastikan keadaan sekitar anda aman, jika ada orang yang anda curigai segeralah masuk dan jangan beri kesempatan orang tersebut menyerobot masuk, kecuali dia punya kunci sendiri”. Adawwwww……serammmmm… hahahaha padahal kok ya sepertinya konyol sekali.

Kadangkala segala prosedur itu tampak konyol sekaligus, bagi kita yang tidak terbiasa, sedikit mengurangi kenyamanan. Bayangkan kita harus tau prosedur penyelamatan dan tidak boleh mengabaikannya. Setiap pelanggaran terhadap prosedur keselamatan akan didenda 100GBP untuk pelanggaran pertama, 200 GBP untuk pelanggaran kedua, dan diusir dari hall untuk pelangaran ketiga. Nah lo. Prosedur keamanan juga demikian. Jika di atas jam 10 masih ada jendela yang terbuka dan semua penghuni telah tidur atau tidak ada penghuni di dalam unit, maka semua penghuni dikenai denda. Jumlah denda dan sanksinya sama seperti pada prosedur keselamatan. Kadang saya mikir…..kota segini amannya kok ya dibikin rumit….lha beberapa kota di Indonesia yang relative lebih ‘serem’ kok ya malah santai…

Pagi itu, rasanya hari Jumat tapi kalau salah ya.berarti bukan hari Jumat pokoknya bukan hari Sabtulah, penghuni hall rasanya masih menikmati sisa sisa mimpinya. Biasanya bagian akhir dari mimpi, sebagaimana film, adalah saat saat menuju puncak cerita……saat saat akan diakhiri dengan indah. Tiba tiba, “kuinggggg….ngngngng…ngngngng..ngngng..ngngngng…..nguing nguing nguing…” alarm berbunyi dengan amat sangat nyaringnya. Tokek di dinding yang sudah kepayahan karena tidak mendapat nyamuk setelah semalaman berburupun terkaget kaget. Aku bangun dengan panik, kaget dan kaki tersandung selimut tebal. Jatuh bergulingan di lantai. Pintu yang tidak terkuncipun rasanya sangat sulit untuk dibuka akibat kepanikan yang sudah menjalar ke dalam pembuluh menjalar ke di saraf tulang belakang meluncur deras menuju otak hingga otak memerintahkan semua organ tubuh agar bergerak dengan kecepatan maksimal. Begitu pintu terbuka aku menerjang gelapnya koridor bertubrukan dengan seorang teman di koridor entah siapa berebutan menuju pintu keluar. Sempat juga memaki dalam hati, kenapa tidak membaca buku manual keselamatan secara lengkap. Lebih menyiksa lagi, karena standar keamanan yang tinggi, dari koridor menuju halaman harus melawati tiga pintu dengan standar kemanan yang tinggi. Aku biarkan si kawan tadi keluar lebih dulu, karena biasanya dalam keadaan panic aku seringkali berbuat konyol. Dia menerobos pintu pertama, dan langsung berhadapan dengan pintu kedua, aku mengikuti di belakangnya dengan nafas tersengal sengal. Selanjutnya tinggal satu pintu lagi, kami dengan cepat berbelok menuju pintu terakhir sebelum halaman, dan begitu pintu terbuka langsung meloncat ke halaman berumput. Dinginnya embun bagai es yang menempel di rumput sudah tidak dipedulikan lagi. Kami berlarian tak tentu arah hingga tempat parkir. Terengah engah kami berhasil tiba di tempat parkir, dan hampir semua kawan telah berkumpul di sana. Beberapa petugas berseragam hijau muda menyala nyala menenangkan kami semua sebelum akhirnya manager hall memberi pengumuman, “silence please, silence please…., listen…..kami sudah menghitung jumlah kalian semua, dan cocok dengan daftar yang ada di receptionist, hari ini kalian semua aman”. Kami yang barusan mencoba menarik nafas sambil bertanya-tanya, kamar siapa yang terbakar? Dimana apinya muncul? Dan berbagai pertanyaan lain. Si manager tinggi ceking meneruskan, “sekarang silakan kembali ke kamar masing masing, karena alarm tadi adalah simulasi untuk menguji kesiagaan kalian semua”. Sial!!

Crescent Hall

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Badan masih terasa remuk redam saat taksi kami merayap diantara bus-bus bertingkat berwarna merah dan biru menggerayangi jalan jalan sempit pusat kota Oxford. Crescent Hall, tujuan kami, entah kapan akan sampai dengan kecepatan taksi yang sungguh lebih lambat dari laju kerbau yang abis membajak sehektar sawah dan lupa dikasi minum oleh pemiliknya, bertolak belakang dengan kecepatan argo yang seolah melampaui kecepatan lengkingan suara Mariah Carey, aaaaaiiaaaa…. tiba tiba sudah menunjuk angka 10 Pounds dan masih melaju cepat beradu dengan nafasku yang ngos-ngosan. Dari headset di telinga lagu Shoot To Thrill berdentam cepat dari grup cadas AC/DC sekedar untuk menjaga agar mata tetap terbuka. Matahari sudah jauh kesandung dan hampir tenggelam saat akhirnya kami tiba di Crescent Hall. Lingkungannya asri dikelilingi perumahan deret berdinding bata merah. Wuzzz bbbbrrrrr….. dinginnya angin musim gugur menyapa mengusap kepala yang sedari tadi diguyur AC pesawat Etihad. Setelah membayar taksi dan mengucapakan terimakasih, aku menyeret koper raksasa yang hanya berisi tidak sampai setengahnya saja menuju front office hall. Bah berat juga benda ini diseret dalam keadaan letih. Gimana ngga berat, lhah menyeret kaki aja rasanya sudah malas, ini malah ditambah menyeret benda besar yang sudah terlihat robek di bagian atasnya. Receptionist di hall sekadar berbasa basi menanyakan kabar, ‘Hi, how are you doing? How was the flight?’ etc etc…dengan logat campuran British dan Afrika. Berhubung mata sudah lima watt jadi aku jawab saja sekenanya, ‘Am doing good, the flight was fine..’ blah blah blah. Akhirnya kunci yang semula ada di tangannya sudah berpindah ke dalam genggamanku.

Gedung asrama Crescent Hall terdiri atas beberapa bangunan yang saling terkoneksi dengan cukup kompak. Jarak antar gedung tidak lebih dari 3 meter dengan masing masing terdiri atas tiga lantai. Sebuah halaman tengah serupa courtyard, atau natah di Bali, dengan pohon maple rindang di tengah-tengahnya menjadi pusat orientasi lima bangunan. Daunnya melambai lambai mengucap selamat datang tapi aku cueki sajalah, besok barangkali akan kusapa kalau tenaga sudah kembali. Bangunan gedung dibungkus bata seperti bangunan lain di sekitarnya. Masing-masing lantai dihuni enam orang dilengkapi satu dapur dan ruang makan bersama, dua toilet dan dua shower.

Kamarku terletak paling ujung dari arah pintu masuk berhadapan dengan kamar Michael orang asli dari Inggris bagian utara. Tiga orang lainnya adalah Steven berasal dari London, orangnya tidak banyak bicara namun sangat cekatan dalam memasak, Gabriel laki laki bertubuh tinggi besar dari Amerika yang sangat peduli pada penampilan dan satu orang dari Austria yang saat tulisan ini dibuat aku lupa namanya. Satu kamar lainnya masih kosong. Sebagai satu satunya orang Asia aku merasa terasing di tengah tengah mereka namun untungnya keempatnya sangat ramah dan tidak pernah sungkan untuk saling meledek satu sama lain. Mereka masih muda dan sepertinya akulah yang paling tua diantara mereka.

Ukuran kamar tidak bisa dikatakan besar karena hanya memiliki lebar 2.3 meter dengan panjang 4.2 meter. Namun dengan penataan yang optimal, kamar ini terlihat jauh lebih nyaman dibandingkan kamarku di Bali yang ukurannya sedikit lebih besar, 3 x 4 meter. Begitu pintu kamar dibuka, aroma lembab karpet berlomba menyerbu masuk ke rongga hidung tanpa sempat diflter dengan tangan. Setiap kamar dilengkapi dengan satu single bed, satu meja belajar yang dilengkapi dengan rak buku terbuka di atasnya, dua buah meja kecil dengan tiga laci di bawahnya, satu lemari yang cukup besar dengan dua pintu. Dan yang membuatku cukup bahagia adalah sebuah wastafel mungil dengan cermin tanpa bingkai tempat mencukur kumis dan jenggot, berhubung sudah hampir seminggu rambut rambat halus yang tumbuh tanpa ijin itu menjajah sebagian wajah. Lantai kamar dilapisi karpet berwarna broken green (hijau pecah?) yang hangat sementara dinding berwarna peach (kuning samru?). Sebuah heater (penghangat ruang) ditempel di bagian bawah dinding di sebelah kanan tempat tidur. Jendela mungil menghadap semak-semak liar di belakang kamarku berada tepat di atas heater tersebut. Cukup nyaman untuk ditinggali selama kurang lebih tiga tahun sampai aku menyelesaikan PhD program.

Sesaat setelah si receptionist yang bergaya rapper pergi aku segera membuka jaket dan membiarkan tubuhku terjerembab di atas tempat tidur yang tidak seberapa luas. “Gedebug” seperti pohon raksasa yang bagian akarnya dimakan rayap tubuhku yang yang sudah miring bagai di iklan minuman isotonik kini teronggok tak berdaya di atas kasur tanpa selimut. Dalam hitungan detik aku sudah melayang di alam mimpi. Kata orang kesuksesan berawal dari mimpi dan mimpi hanya bisa terjadi kalau kita tidur. Jadi aku putuskan untuk mengawali kesuksesan dengan tidur nyen…..Zzzz….zzzzz…..zzzzzzzz.

Tengah malam sekitar pukul 02.00 dini hari aku terbangun, dinginnya malam membuat badan menggigil dan segera tersadar bahwa tidak tersedia selimut, bantal ataupun guling, hanya kasur. Hmmm rasa capek telah membuat tubuhku abai pada rasa dingin. Aku mengutuki diri sendiri kenapa tidak menyiapkan segala keperluan tidur sebelum berangkat. Sungguh bodoh mengabaikan segala petunjuk yang rasanya sudah pernah aku baca beberapa minggu lalu bahwa mereka tidak menyediakan bantal selimut apalagi guling di dalam kamar. Ah..aku jadi teringat istriku di rumah yang selalu menyiapkan segala kebutuhanku….seandainya ada dia disini pastilah segalanya sudah siap, tempat tidur dengan sprei yang bersih, bantal dengan sarung yang wangi serta selimut yang terlipat rapi. Di tengah dinginnya malam aku bersyukur punya istri yang demikian telaten soal urusan rumah tangga, sehingga aku merasa aman meninggalkan dua anakku bersamanya di rumah. Anak-anak pastilah nyaman bersama emaknya.

Ah, hidup. Ajaib memang. Baru kemarin aku bersama istri dan anak-anakku, berkasur wangi dengan bantal guling kebanggaan, sekarang sudah mojok aku di belahan bumi sebelah sini, terbangun tengah malam, kedinginan, tak berselimut, tanpa bantal dan terancam tengeng.

Melirik koper jumbo yang belum sempat terbongkar, lalu melemparkan pandang pada wastafel mungil bakal tempat cukur, sembari meraba jenggot yang mulai semi, aku agak-agak berkontemplasi, Crescent Hall? Really? Apa-apaan sistem penamaan di sini. Balai pemuda dan olah raga bolehlah. Balai Desa. Balai Kota. Balai Kambang. Balai Sarbini. Tapi Balai Bulan Sabit? Bah! Aku bisa merasakan otot mukaku menarik ujung bibir untuk tersenyum. Oh…. Crescent Hall, Balai Bulan Sabit, tempatku bersarang tiga tahun ke depan ini, bisik pikirku pada hati, barangkali kau memang serupa bulan sabit dalam siklus hidupku. Melengkung imut di langit malam. Setipis semangka. Menunggu bumi berevolusi, untuk nanti menghadirkan purnama. Purnama hidupku. Hidup kami. Hidup anak-anakku beserta ibunya.