Sopan dan Jujur

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ada satu hal yang menggelitik saya tentang kejujuran orang orang di Oxford. Sebuah nilai yang semakin memudar di tanah kelahiran sendiri di Bali. Harus saya akui bahwa saya cukup kaget dengan kejujuran orang orang disini yang berbanding terbalik dengan banyaknya manual untuk menjaga keamanan sebagaimana banyak tertempel di papan papan pengumuman yang dibuat oleh polisi. Pengumuman tersebut mengingatkan agar kita selalu berhari hati dengan barang bawaan, handpone, ipod, ipad, computer tablet atau barang berharga lainnya. Tentu pengumuman tersebut dibuat untuk kebaikan kita semua juga.

Pengalaman pertama tentang nilai kejujuran saya dapatkan ketika suatu sore, sepulang dari kampus, dalam keadaan yang cukup lelah dan saya akan membuka pintu hall yang menuju ke unit di mana saya tinggal. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan beberapa lembar kertas yang menmpel di pintu kaca. Sembari merogoh saku celana mencari cari kunci, yang rasanya saya selipkan disana tadi pagi, mata saya persis berhadapan dengan salah satu kertas yang tertempel.

“Lost but Found”

“If you think that you left your cell phone, an iphone, we’ve found it. Just go to the receptionist and bring any necessary proof of your ownership”.

Wahh. Saya terus terang tidak terbiasa melihat pengumuman semacam itu. Ada orang yang menemukan sebuah handphone, salah satu merk yang paling ngetop pula, dan dengan sukarela dia menyerahkan ke reception hall. Tidak cukup sampai disitu, si penemu masih sempat menempelkan secarik kertas dan memberi pengumuman. Pengumuman tadi cukup membuat mata saya membesar, mendelik dan memaksa otak saya untuk tidak mempercayainya atau paling tidak memaksa otak agar membacanya ulang. Tapi tulisan itu masih berbunyi sama. Ah, syukurlah si pemilik, yang saya perkirakan salah satu kawan mahasiswa, akhirnya bisa berhubungan lagi dengan kawan, keluarga, kolega dengan handphone yang sama dan tidak perlu lagi member tahu mereka bahwa dia harus ganti nomer gara gara handphone hilang.

Well, handphone cukup mahal, bisa saja kita berkilah, ahh, mungkin yang nemu ngga enak dapet barang yang mahal jadi dia kembaliin barang itu.

Apakah ada yang pernah meninggalkan flashdisk di ruang computer yang dipakai beramai ramai dan di dalamnya berisi file file penting? Rasanya sangat menjengkelkan. Dibanding handphone merek apel tergigit, harga sebuah flashdisk tidak ada apa apanya. Tetapi jika di dalamnya ada beberapa data penting tentu tidak bisa diukur dengan uang. Di studio urban design, di kampus, terdapat puluhan computer dan semuanya dapat dipakai untuk mengerjakan tugas, menggambar, berkirim surel dan sebagainya. Tidak kurang dari 25 orang setiap harinya menggunakan komputer-komputer tersebut. Di tengah semakin banyaknya tugas menjelang libur akhir semester, seringkali kita kurang memperhatikan hal hal kecil, semisal mencolok flashdisk untuk menyalin data ke computer dan berlalu begitu semua data telah tersalin. Sampai di rumah terlupa bahwa flashdisk yang kita pakai tertinggal. Barangnya kecil, harganya tidak seberapa mahal, tapi isinya, alamakk….semua file tugas, file CV, form-form bimbingan ada disana. Tidak terbayang paniknya. Disini hati cukup tenang kalau kita mengalami kejadian serupa. It is likely, bahwa jika ada yang menemukan, maka flashdisk akan dikembalikan, mahasiswa disini cukup memahami pentingnya ‘isi’ di dalam flashdisk yang tidak ternilai. Seperti pemberitahuan di laman group Facebook siang itu.

Hi Everyone, i just found this memory stick left in a computer in the Urban Design Studio. I’ve placed it on the small circular table in the research supervision area of UDS.

Image

if the owner of this memory stick wants i can look after it for them until their back. my email is 12027487.

Setelah memposting benda yang ditemukan, si penemu masih menawarkan diri untuk menjaga sampai yang punya mengambilnya. Seandainya itu barang saya, saya akan amat sangat berterimakasih mengingat sudah puluhan kali kehilangan barang serupa. Tanpa bermaksud menyalahkan siapa-siapa, barang saya hilang karena kecerobohan sendiri, tertinggal entah dimana. Namun seandainya si penemu sebaik orang yang menemukan barang di atas, tentulah akan dikembalikan.

Saya sebenarnya tidak ingin menulis cerita ini seandainya kejadian berikutnya, masih soal kebaikan, ini tidak menimpa saya. Sore itu seperti biasa sepulang dari kampus, saya berpapasan dengan Lloyda, salah satu petugas hall (warden). Saya ceritakan mahalnya mencuci pakaian di laundry di luar hall dan saya sampaikan pula mesinnya kecil sehingga hanya menampung sedikit pakaian. Dia terkaget kaget karena di hall sendiri terdapat sebuah ruang khusus untuk melaundry. Hanya saya malas karena banyaknya mahasiswa yang mencuci sehingga harus antre. Sembari menanyakan berapa harga laundry di luar dan berapa kali saya sudah me-laundry pakaian di luar, dia menyarankan saya melakukan laundry di Jumat sore. Biasanya Jumat sore semua orang akan pulang terlambat karena berakhir pekan, jadi ruang laundry biasanya sepi, atau sabtu pagi saat orang orang biasanya bangun terlambat. Saya mangut-manggut sambil menjelaskan bahwa harga laundry di luar hampir dua kali lipat dari harga laundry di hall. Di hall sekali laundry dan mengeringkan cucian harganya sekitar 5 GBP sementara di luar harganya 9.5GBP. Lloyd berkali kali meminta maaf karena kejadian tersebut. Dia menyarankan agar saya selalu berkoordinasi jika mengalami kesulitan apapun.

Keesokan harinya sepulang dari berbelanja kebutuhan seminggu, saat membuka pintu kamar, tanpa sengaja saya menginjak sebuah amplop tanpa nama pengirim. Cukup berat dan sepertinya berisi uang logam. Saya membukanya dan menemukan empat buah token didalamnya. Secarik kertas berwarna biru bertulisan tangan menyertai keempat token tadi.

“dear Maha,

Here are four washing tokens to compensate your washing outside of halls. I am very sorry you were not aware of laundry facilities here at Crescent. Use one token per washing.

Lloyda (warden)”.

Saya sungguh terharu, tidak dengan uang, dia mengganti semua pengeluaran laundry saya dengan empat buah token. Nilainya empat kali laundry alias dua kali dari yang saya korbankan untuk mencuci pakaian di luar.

Saya sering berdiskusi dengan kawan kawan di PPI dan membandingkan orang Inggris dengan orang dari belahan dunia lain. Kami sempat berkesimpulan bahwa mereka cuek, cenderung arogan, sangat menjaga pride dan attitude. Saat membaca tulisan tersebut serta mengingat kembali semua kejadian sebelumnya, pandangan saya berubah sepenuhnya. Orang disini sangat baik, jujur, dan tulus. Tidak cukup sampai disana, sorenya salah satu warden yang lain mendatangi saya saat sedang memasak. Kembali dia menyatakaan permintaan maafnya soal pengeluaran laundry saya, lalu dia menjelaskan ulang semua fasilitas yang bisa saya pakai, dan semua layanan yang saya butuhkan. Sebelum pergi dia masih bertanya apakah ada kesulitan lain yang saya alami, dia atau kawan yang lain siap 24 jam. Sebelum pergi dia meninggalkan nomer hp yang bisa dihubungi kapanpun 24/7.

Jelang Perpisahan

Cerita ini seharusnya ditempatkan di awal blog, namun karena berbagai pertimbangan, terutama kesiapan mental untuk mengeditnya kembali, terpaksa diupload belakangan. Mudah-mudahan tidak mengurangi keutuhan blog ini sebagai sebuah cerita.

1390674_738114742881932_1999490809_n

Sandal mungil berwarna pink yang aku belikan tadi sore terlepas dari kakinya sementara kepalanya telah terkulai lemas di bahuku. Malam itu Bulan tidak mau lepas dari gendonganku, setiap kali ditaruh di atas tempat tidur tangannya segera menjulur minta digendong lagi sekalipun matanya sudah terpejam. Sambil menyanyikan lagu Putri Cening Ayu[i] kesukaanya aku gendong berkeliling kamar rumah sakit berharap dia segera terlelap. Anak kedua kami, Bumi, yang baru lahir sehari sebelumnya telah lama terlelap di samping ibunya yang masih terbaring lemah setelah menjalani operasi caesar. Matanya terpejam sementara mulutnya seolah tersenyum ke arahku. Ibuku terkulai lemas di sofa, kelelahan, seharian menemani istriku merawat anak anak kami. Empat orang yang telah berkorban sangat besar mendukung keinginanku melanjutkan sekolah di negeri yang belum pernah aku kunjungi. Sebelum terlelap aku masih sempat mengajak Bulan jalan jalan di seputaran kota denpasar, berdua saja. Sempat memilih milih sepatu sendiri, minta dibelikan bangku kecil serta menguyah permen kembalian uang kecil di toko sepatu. Sepanjang perjalanan beberapa kali dia minta dipeluk sementara aku menyetir, tentu saja aku tidak bisa memenuhi keinginannya. Bibir mungilnya beberapa kali mendarat di pipiku untuk menggantikan pelukan yang tidak bisa aku berikan sambil mengemudi.

***

Saat memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang S3, tidak pernah terbayang di kepala bahwa perpisahan itu akan sesulit ini. Setahun lebih aku mencoba menyiapkan diri, kursus bahasa inggris intensif, melakukan pra penelitian untuk menyiapkan topik penelitian, menulis proposal yang seringkali berakhir pada penolakan serta menyiapkan puluhan lembar dokumen yang kadangkala tidak aku mengerti untuk apa. Perjuangan untuk mendapat beasiswa tidak kalah melelahkannya. Pembekalan, mengurus dokumen perjalanan, dokumen pendaftaran di perguruan tinggi yang hendak dituju hingga mengurus tempat tinggal di Oxford semua tiada artinya dibanding sulitnya  memikirkan akan berpisah dari empat orang yang saat ini ada di ruang 105 Wing Amerta Rumah Sakit Sanglah ini.

Jauh sebelumnya aku telah menyiapkan segenap kebutuhan keluargaku terutama kesiapan financial. Begitu selesai kursus bahasa inggris di satu lembaga pendidikan bahasa yang cukup bonafid di Surabaya dan mendapat calon supervisor, aku memulai perburuan beasiswa yang tidak sesulit yang aku bayangkan. Sambil berjuang mendapatkan beasiswa, aku mempersiapkan pula kebutuhan financial. Bekerja siang malam aku jalani dengan senang hati meskipun kadangkala diiringi protes istriku. Mertuapun kadang turut pula mengingatkan agar cukup istirahat namun tumpukan pekerjaan tiada habisnya tiap hari.

***

Sore itu Bulan tidak mau lepas dariku. Setelah seharian lelah bermain bersamaku dia sempat terleap sejenak setelah menangis ingin bermain lagi sementara waktunya tidur siang telah lama lewat. Sebelum terlelap dia minta dipeluk dan dibuatkan sebotol susu hangat. Belum habis susu di dalam botol dia telah terlelap di pelukanku. Kutinggalkan sebentar untuk menggendong Bumi dan mencoba bercengkrama dengannya meskipun sudah jelas dia tidak mengerti gumamanku. Memandangi wajahnya yang tenang dengan bibir mungil dan mata lebar berwibawanya membuatku bersyukur karena tuhan telah memberi kami anak yang sungguh luar biasa. Anak ini lahir di tanggal dan hari yang banyak dihindari orang, Jumat Kliwon tanggal 13 bulan 9 tahun 2013. Pilihan ini telah cukup lama kami diskusikan dan tiada jalan lain bahwa tanggal ini adalah yag paling baik dipandang dari segala sudut kepentingan yang menghimpit kala itu. Upacara Ngaben bapak mertua baru dua hari berlalu sebelum kelahirannya sementara tanggal keberangkatakanku tiga hari setelah kelahirannya. Kasihan sebetulnya dia tidak sempat merasakan dekapanku lebih lama seperti Bulan kakaknya. Lamunanku pecah saat tiba tiba Bulan bangun dari lelapnya dan minta mandi. Bahkan untuk urusan remeh temeh seperti mandi dan ganti pakaianpun dia minta supaya aku yang membantunya seolah tahu bakal ditinggal dalam waktu yang cukup lama.

Pipiku hangat oleh air mata saat Bulan dan Bumi akhirnya terlelap dan tidak minta digendong lagi. Entah mengapa rasa haru itu menyeruak berubah sembilu menyayat perasaanku memecah segala ketabahan yang aku bangun beberapa hari belakangan ini. Tangis itu tidak dapat lagi aku tahan namun berusaha aku sembunyikan saat istriku terbangun minta dipapah ke toilet. Berjalan ke arah teras setelah memapah istriku, sungai hangat itu mengalir pelan di pipiku. Bintang bintang di langit bersinar malas diantara awan tipis yang mengambang tak bergerak di langit. Empat orang yang setia menemani hidupku telah kembali terbuai dalam lelap. Lamat lamat aku menggumam, “putri cening ayu…..ngijeng cening jumah….tityang luas malu….[ii]


[i] Tembang rare atau lagu anak anak yang sangat terkenal di Bali tentang orang tua yang meninggalkan anaknya sejenak untuk mencari makan

[ii] Sebagian lirik lagu Putri Cening Ayu yang telah saya modifikasi sendiri, artinya kurang lebih, “anakku putri yang ayu, tinggallah di rumah, saya pergi sebentar…..”