Meramal Wajah Perkotaan Bali di Tahun 2014

moojen024

Sekilas sejarah masa depan kota

Kegiatan tutup tahun atau jelang tahun biasanya diramaikan dengan ramal meramal tentang apa yang akan terjadi di tahun berikutnya. Tidak hanya masalah nasib atau peruntungan, namun dunia ramal meramal telah pula merambah ke dunia lain, fashion, teknologi, politik, desain, interior hingga arsitektur. Bagaimana dengan desain perkotaan? Adakah yang meramalkan akan seperti apa kota kota kita di masa yang akan datang?

Kaum utopis di tahun tahun awal abad ke 20 dikenal dengan ide ide masa depannya tentang kota. Umberto Boccioni misalnya menggambarkan bahwa kota kota di masa yang akan datang dipenuhi dengan gedung berlantai banyak dengan teknologi pesawat terbang dan kendaraan supercepat sejalan pula dengan ide Antonio Sant’Elia dengan Futurist City atau La Citta Nuova-nya yang juga menggambarkan kota dengan deretan tower rower dan lingkungan urban yang termekanisasi. Kedua ide ini nampaknya sangat dipengaruhi oleh awal mula perkembangan industri pada masa itu yang didominasi oleh banyaknya penemuan baru, mesin mesin uap, pesawat terbang, kendaraan hingga penemuan material bangunan baru. Berikutnya ide ide Le Corbisuer nampaknya lebih mencerminkan kekhawatiran soal dampak teknologi terhadap rusaknya lingkungan alami. Dalam visinya terhadap Kota Paris masa depan, Plan Voisin of 1925, Le Corbusier menyarankan agar kota kota dikembangkan ke arah vertical guna menyisakan lahan lahan terbuka untuk pembangunan taman yang hijau. Le Corbu nampaknya khawatir dengan masa depan kota yang membesar kearah pinggir secara tidak terkendali serta memadatknya kawasan city center melahap lahan lahan hijau pada abad ke 19. Dalam konsepnya yang dikenal dengan Ville Radieuse (radiant city), dia mengusulkan agar kepadatan ditingkatkan di pusat kota dengan membangun lebih banyak gedung tinggi guna mengurangi gerak lalu lintas. Hal ini ditujukan untuk mengurangi kemacetan serta penggunaan kendaraan yang pada akhirnya akan mengurangi polusi udara secara signifikan.  Ide ide awal perkotaan tersebut merupakan konsep konsep yang ditawarkan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh kota kota di Eropa pada masa awal revolusi industry. Bagaimana dengan kota kota di Indonesia atau Bali secara lebih spesifik?

Perkembangan perkotaan di Bali

Ihwal kota atau kawasan perkotaan merupakan istilah baru bagi Pulau kecil yang sudah padat sejak awal abad ke 16. Tidak jelas benar awal mula dihuninya pulau Bali, namun banyak yang percaya penduduk Bali berasal dari kawasan utara Vietnam Dongson yag bermigrasi melintasi Sumatera, Jawa hingga ke Bali. Banyak pula yang percaya penduduk Bali juga berasal dari India dan ada yang meyakini datang dari arah utara pulau, Kalimantan. Jika demikian halnya maka dapat disimpulkan penduduk Bali merupakan campuran dari berbagai latar belakang. Satu hal yang pasti dan tercatat di banyak buku serta babad, penduduk Bali, terutama yang hadir belakangan sekitar 1343 setelah Mahapatih Gajah Mada membawa Bali di bawah pengaruh Majapahit. Willard A. Hanna bahkan meyakini bahwa terjadi migrasi besar-besaran dari Jawa Timur ke Bali saat runtuhnya kerajaan Majapahit tahun 1515. Hadirnya penduduk dari berbagai latar belakang tersebut mnghuni Bali, tidak lantas membuat permukiman menjadi berkarakter perkotaan. Umumnya permukiman berukuran kecil, tersebar di berbagai wilayah, dataran hingga pegunungan. Hanya setelah kerajaan Gelgel pecah menjadi delapan kerajaan kecillah kemudian mulai terbentuk apa yang dipercaya sebagai cikal bakal ‘perkotaan’ di Bali. Hadirnya pemerintah colonial Belanda akhir abad ke 19 dan awal abad 20 tidak serta merta merubah karakter permukiman di Bali. Tidak seperti kota lain yang dikuasai oleh pemerintah colonial pada masa itu, Semarang, Malang, Surabaya, Batavia, ataupun Makassar yang direncanakan dengan cukup detail oleh Belanda, Bali masih tetap dipertahankan dengan karakter agrarisnya. Sistem pemerintahan traditional dengan organisasi pertanian, subak, tidak diutak-atik namun dipertahankan sebagi salah satu keunggulan untuk dikembangkan sebagai industri pariwisata.

Menuju perkotaan  Bali modern

Pengembangan insdustri pariwisata inilah yang berlanjut hingga hari ini dengan segala dimensinya, namun dengan nilai yang sudah berubah. Jika Belanda mempertahankan budaya Bali dengan segala keunikannya untuk dijadikan sebagai daerah tujuan wisata, maka kini keindahan alam dan budaya lebih banyak dieksploitasi. Kembali ke pertanyaan awal, seperti apa nasib perkotaan di Bali di tahun 2014 atau setelahnya? Apa yang mempengaruhi wajah perkotaan di masa depan? Saya coba memilahnya mejadi dua kelompok yaitu kelompok objek atau kota itu sendiri dan kelompok subjek atau para pelaku yang berperan dalam membentuk kota.

Dari kelompok objek atau fisik kota, secara morphology dan typology telah terjadi perubahan sejak masa kemerdekaan. Bentuk bentuk bangunan misalnya, yang dahulu berukuran relative kecil karena keterbatasan teknologi serta bahan, kini sudah berubah menjadi bangunan yang berukuran relative besar. Hal sebaliknya terjadi pada lahan. Jika dahulu lahan lahan untuk rumah masih berukuran relative luas, maka kini lahan lahan sudah semakin menyempit. Perubahan lahan ini berpengaruh pada strategi penyediaan perumahan bagi masyarakat perkotaan. Dari segi fungsi juga telah terjadi pemekaran typology dari yang terbatas pada hunian, bangunan komunal dan bangunan suci, kini sudah banyak fungsi fungsi baru yang menjejali setiap jengkal lahan perkotaan. Kita sudah menyaksikan berbagai typology baru tumbuh mulai dari hotel besar, kamar sewa (kost-kost-an), disusul hotel melati, restaurant, artshop yang semuanya merupakan imbas pesatnya pembangunan wisata. Typology berikutnya lebih berkembang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan wisatawan tapi juga masyarakat lokal. Typology yang cukup fenomenal adalah ruko dan pusat perbelanjaan.  Typology selanjutnya yang muncul adalah restaurant cepat saji, mall-mall yang lebih mewah, perkantoran swasta, hingga perumahan petak yang sering diplesetkan menjadi perumahan BTN. Typology yang muncul belakangan lebih banyak untuk memenuhi pasar konsumsi penduduk local Bali yang mulai berdatangan ke kota-kota besar terutama Denpasar dan sekitarnya. Gaya hidup serba cepat melahirkan restaurant cepat saji serta gaya hidup konsumtif merangsang tumbuhnya pusat pusat perbelanjaan. Semenjak semakin dikenalnya Bali baik wisatawan mancanegara maupun domestic, pembangunan pariwisata kembali meningkat dengan berdirinya ratusan villa-villa di sepanjang pesisir dan di dekat jurang jurang di Bali diikuti hotel hotel murah (budget hotel) di kawasan pusat kota.Image

Bagaimana dengan subjek atau pelaku yang berkecimpung di dalam urusan perkotaan; termasuk penduduknya, wisatawan yang datang, pemerintah, serta yang belakangan mulai datang menyerbu, investor? Perubahan tentu saja juga terjadi ada kelompok ini terutama kehadiran para investor. Beberapa ratus hektar lahan telah beralih kepemilikan ke tangan investor dari luar Bali. Pembangunan perumahan untuk golongan menengah ke atas akan tidak terelakkan. Bagaimanapun juga Bali masih memiliki daya tarik yang besar sebagai lokasi investasi menguntungkan. Perumahan ini besar kemungkinan akan dipasarkan di Jakarta, Surabaya atau bahkan di luar negeri, Singapura, Sydney, Melbourne. Implikasinya adalah kepemilikannya akan berada di tangan orang luar Bali. Kekhawatiran dari kondisi ini adalah perumahan tersebut akan lebih banyak kosong karena hanya dijadikan sebagai instrument investasi yang jika harga naik maka rumah akan dijual lagi. Tahun 2014 juga akan semakin ramai spekulan property dengan berbagai permainan, mulai dari memanipulasi jalur hijau hingga memecah lahan menjadi ukuran kecil kecil sehingga harganya lebih terjangkau yang berimbas pada semakin banyaknya orang yang datang ke wilayah perkotaan. Dua kelompok pemain ini, investor besar dan spekulan, akan banyak memainkan perannya di tahun 2014. Ada sekelompok pemain lain yaitu arsitek muda baik tamatan institusi lokal maupun institusi luar Bali yang mengadu peruntungan di Bali. Generasi baru ini membawa gelombang baru dalam bentuk desain yang lebih berani namun kompromistis terhadap kebutuhan pasar dan trend.

Ramalan Kota Bali 2014

Perubahan peta telah terjadi baik di bagian objek maupun di bagian subjek. Selanjutnya seperti apa wajah perkotaan setelah berevolusi semenjak awal abad 20 hingga hari ini? Berikut saya coba menguraikan beberapa kemungkinan yang akan terjadi.

Typology baru?

Rasanya tidak akan ada lagi typology baru di tahun 2014 karena nyaris semua typology bangunan telah ada, namun demikian typology typology bangunan komersial akan lebih meramaikan wajah perkotaan, sementara di bagian pinggiran, suburb, typology rumah petak yang berukuran kecil akan bertambah signifikan. Pertumbuhan rumah petak ini akan membangkitkan ekonomi di kawasan ini dan memunculkan ruko ruko dengan ukuran yang juga tidak terlalu besar dan ditempati oleh bisnis yang melayani warga baru seperti laundry, outlet pulsa, warung makan, dll. Ada kemungkinan munculnya apartemen berketinggian rendah (low rise apartement) tapi mengingat susahnya mendapat ijin, maka namanya bisa saja bukan apartment tapi istilah lain dengan fungsi yang kurang lebih sama.

Bentuk dan gaya bangunan baru?

Tidak akan ada pura baru yang dibangun karena tidak ada desa adat baru yang terbentuk. Sekalipun jumlah penduduk semakin besar namun jumlah umat hindu cenderung kecil pertumbuhannya. Meskipun ada penambahan dari sisi urbanisasi, umumnya para pendatang ini sudah menjadi krama desa adat di kampungnya masing masing. Ketiadaan desa adat baru ini menyebabkan tidak akan ada pura baru yang dibangun. Ada kemungkinan dilaksanakan renovasi pura. Renovasi ini bisa jadi akan lebih mengedepankan arsitektur asli setempat setelah masyarakat jenuh dengan model pura dengan menggunakan batu hitam karangasem. Ada kerinduan dan kenangan yang ingin dikembalikan dari penggunaan bahan alami setempat. Trend di bangunan suci ini kontras dengan di bagian perumahan serta bangunan komersil baru.

Gaya gaya bangunan semakin dinamis tidak lagi berpatokan pada aturan aturan baku yang sudah dianggap out of date semacam kepala-badan-kaki. Ornament ornament yang bersifat tempelan, ukiran berukuran besar berbahan batu alam akan lebih dominan disbanding strip strip kayu yang sempat mendominasi. Upaya supaya terlihat ‘Bali’ ini sekaligus juga untuk memenuhi syarat IMB terutama setelah dikeluarkannya Perwali tentang ornament bangunan di Denpasar. Hal hal semacam ini akan dominan terjadi untuk bangunan komersil di pinggir jalan utama serta perumahan baru di kawasan suburb.

Bagaimana dengan bangunan rumah rumah tradisional Bali berpola natah? Tidak akan ada lagi bangunan semacam ini dibangun. Pola natah sendiri akan menyesuaikan dengan pertambahan penduduk alami yang terjadi di dalam keluarga penghuninya. Strateginya adalah dengan menyisipkan bangunan baru diantara bangunan yang sudah ada, menambah jumlah lantai, atau membuat emperan sebagai solusi menambah jumlah kamar. Petak bangunannya sendiri tidak akan bertambah. Fenomena ini akan menimbulkan gaya bangunan eklektik di permukiman tradisional. Bangunan lama, bale daja dan bale dangin serta merajan yang umumnya dipertahankan dalam gaya tradisional, bersanding dengan bangunan gaya baru pada lahan bale dauh, dapur serta bangunan sisipan.

Toko dan pasar tradisional?

Pasar pasar tradisional banyak yang berevolusi menjadi lebih modern, bersih tidak becek berkat paving dan pencahayaan yang lebih baik. Kesuksesan revitalisasi pasar agung di Peguyangan besar kemungkinan akan ditularkan ke pasar pasar tradisional lainnya sehingga mampu bersaing dengan toko berjaringan yang merambah hingga ke pelosok pelosok desa. Toko toko berjaringan akan semakin banyak jumlahnya dan persebarannya semakin merata seiring semakin melebarnya kawasan perkotaan. Jam buka yang panjang, harga yang bersaing, kesan lebih modern serta layanan yang nyaman menjadi tantangan utama bagi warung-warung tradisional.

Pemain baru?

Investor memainkan peranan sangat besar dalam menentukan arah perkotaan di masa yang akan datang. Dengan kekuatan uang yang dimiliki, mereka bisa masuk mempengaruhi kebijakan pemerintah baik di bidang infrastruktur maupun perijinan. Permainan perijinan saat ini sudah melibatkan semua sendi pemerintahan, eksekutif dan legislatif. Berlarut larutnya pengesahan RTRW menyiratkan lemahnya komunikasi dan koordinasi antar lembaga pemerintah. Kelemahan ini menyisakan celah yang dimanfaatkan investor maupun spekulan tanah untuk mengambil untung sebesar besarnya. Spekulan akan merambah hingga ke pelosok karena lahan di perkotaan sudah semakin langka dan harganya semakin tinggi.

Kebijakan pembangunan vertical masih akan jalan di tempat sehingga pembangunan horizontal masih akan mendominasi tahun 2014.

Wajah kota yang baru?

Tidak akan terjadi perubahan wajah kota drastis tetapi pembangunan horizontal akan semakin parah membuat lahan terbuka hijau berkurang sangat drastis. Bangunan perumahan tradisional terjepit di tengah tengah pembangunan baru sehingga wajahnya tertutupi dan tidak lagi bisa dilihat dari arah jalan utama. Pola perkembangan kawasan bergerak dinamis ke segala arah.

23616429

Night Photography

Saya sebetulnya bukan penggemar foto malam hari, tetapi semenjak melihat jepretan di majalah Landscape Photography saya menjadi penasaran dengan kegiatan jepret jepret malam hari. Langit yang masih menyisakan warna biru di kala cerah, lampu lampu yang mulai dinyalakan serta lalu lalang kendaraan menjadi pilihan yang menurut saya cukup bagus terutama kalau kita tinggal di wilayah perkotaan.

Berikut beberapa eksperimen dari jepretan malam hari saya.

ImageDua bis datang dari arah berlawanan, satu dari arah depan dan satu dari arah belakang, tertangkap dengan kecepatan rana rendah meninggalkan jejak lampu memanjang.

ImageSerupa dengan cara di atas, kali ini saya memindahkan objek bangunan di latar belakang dengan menempatkannya di spertiga bagian kiri gambar dan menjadikannya sebagai focal point. Sekalipun tidak benar benar mengarah ke arah bangunan tersebut, lukisan cahaya lampu bis mengarahkan pandangan kesana.

ImageDengan konstruksinya yag solid, kamera mirrorless yang beredar di pasaran saat ini sangat handal dipakai untuk memotret outdoor bahkan di kala hujan tanpa khawatir air akan masuk ke dalam body kamera.

ImageSelepas hujan juga merupakan saat favorit saya, pantulan cahaya lampu di jalan yang basar memberi efek yang berbeda dibandingkan saat jalanan tidak basah. Sisa awan di langit juga bisa menjadi objek yang menarik.

ImageSiluet gedung dan ranting ranting yang sudah meranggas kontras dengan langit yang masih berwarna kebiruan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perlengkapan standar yang biasa saya bawa biasanya lensa standar, tripod, dan shutter release (tapi yg ini lebih sering tertinggal di rumah).

Settingan favourit saya:

ISO : 200

Aperture : f/11 – f/16

Speed : 5s – 20s

Di Simpang Jalan, Identitas Arsitektur dan Perkotaan di Bali

DSC_2754

Bale Kambang di lokasi yang dipercaya sebagai pusat kerajaan Gelgel yang menguasai Bali dengan gaya bangunan “Bali barock” kaya ornamen dan warna. 

Globalisasi nampaknya telah menjadi gelombang mahadahsyat yang berupaya untuk menghapus segala jejak kekhasan yang dimiliki suatu kawasan, baik fisik maupun non-fisik, menjadi sesuau yang seragam, seirama dimana mana di seluruh dunia. Dahsyatnya gelombang globalisasi ini diramalkan akan membuat segala gerak gerik pembangunan terutama di bidang perekonomian akan menunjukkan wajah yang identik di seluruh dunia dan kemudian akan menular ke sendi sendi kehidupan lainnya termasuk arsitektur dan wajah kota-kota di seluruh dunia akan identik. Alvin Toffler sendiri sempat berujar bahwa dunia adalah rata (the world is flat) segala sesuatunya akan seragam dan tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari upaya ‘penyeragaman’. Namun pendapat ini mendapat rival dari Manuel Castells, yang menyebutkan dunia tidak pernah akan rata. Setiap aksi selalu akan mendapat reaksi. Aksi gerakan globalisasi, betapapun dahsyatnya, selalu akan mendapat perlawanan dari kelompok kelompok yang masih menginginkan untuk mempertahankan identitas yang dimilikinya alih alih bergabung dengan pergaulan dunia yang bisa jadi masih asing bagi mereka. Dalam bukunya, The Power of Identity, Castells (2007) menyebutkan tiga hal yang menjadi semacam gerakan perlawanan identitas terhadap gelombang penyeragaman yang terjadi. Gerakan pertama adalah legitimate identity dimana kelompok besar berusaha melegitimasi identitasnya menjadi lebih kuat. Gerakan kedua adalah resistance identity dimana kelompok yang terstigma oleh identitas yang lebih besar berusaha mempertahankan identitas yang dimilikinya dengan membentuk pertahanan untuk mencegah terjadinya penjajahan identitas. Gerakan yang terakhir adalah project identity dimana sekelompok orang mencoba membangun identitasnya dengan material yag mereka miliki, memori, kesamaan asal, kesamaan suku, dll.

Bagaimana dengan arsitektur dan kawasan perkotaan? Apakah wajah arsitektur dan perkotaan di seluruh dunia akan semakin seragam? Perdebatan soal identitas telah terjadi sejak dimulainya era revolusi industri. Pada masa revolusi industri terjadi evolusi besar-besaran di bidang material, manufaktur dan transportasi. Materi materi baru yang sebelumnya tidak dikenal; kaca, baja, beton, diciptakan sebagai bahan dengan keunggulan yang spesifik. Proses pembuatannyapun tidak memerlukan waktu yang lama dan dapat dikerjakan secara massal memenuhi permintaan yang besar. Revolusi di bidang transportasi dengan kapal-kapal dan kereta bermesin uap memungkinkan pengiriman material menjadi lebih mudah ke seluruh dunia. Jauh sebelum masa revolusi industri, arsitektur dibuat oleh masyarakat dengan material yang tersedia secara lokal. Para pekerjanya berasal dari masyarakat setempat dengan pengetahuan teknik konstruksi diperoleh secara turun temurun dengan sedikit inovasi. Karakter lokal terwujud tanpa disengaja, tetapi merupakan keniscayaan dari perpaduan material setempat, keahlian setempat dikerjakan dengan peralatan yang ada dan berkembang di kawasan tersebut. Pada masyarakat dengan kebudayaan yang cukup tinggi, simbol simbol yang dipercaya oleh masyarakat setempat turut mempengaruhi wujud arsitekturnya (Oliver, P., 2006).

photo-1

 

German Pavilion untuk Barcelona Expo, salah satu karya Mies van Der Rohe yang sangat fenomenal pada masanya dengan material baja-beton-kaca yang terhitung sebagai material baru pada masa itu.

Setelah masa revolusi industri, dengan ketiadaan batasan masalah geografis, material bisa diperoleh darimana saja tidak harus dari lokasi sekitar, para pekerjapun bisa dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain sehingga nilai nilai arsitektur lokal mulai memudar terutama setelah perang dunia kedua. Perang dunia yang menyebabkan banyak kota hancur dan harus dibangun sesegera mungkin guna menyediakan tempat tiggal bagi jutaan masyarakat dunia. Bahan bahan bangunan baru, kaca, baja, beton sangat efektif dalam upaya ini. Masa ini dikenal sebagai jaman keemasan gaya arsitektur international style. Tidak jelas benar darimana asal mulanya namun patut diduga hijrahnya kelompok Bauhauss pimpinan Walter Gropius bersama-sama Ludwig Mies van Der Rohe dari Jerman ke Amerika sebagai awal mulanya. Bangunan bangunan baja dan kaca ala Mies serta beton ala Gropius segera menjadi trend kala itu. Gelombang modernisasi inilah yang menyebar ke seluruh dunia. Dimana mana dapat dijumpai gedung berbentuk kotak murni berbahan baja dan kaca ala Mies. Trend ini lalu menjalar pula ke pendidikan arsitektur yang mulai diformalkan menggantikan proses membangun sebelumnya yang terjadi melalui proses alih tangan turun temurun (handed down through generations) yang terjadi sebelum masa revolusi industri. Pola belajar Bauhauss menjadi norma baru dalam pengajaran arsitektur di hampir seluruh sekolah arsitektur seluruh dunia dengan slogannya “Form Follows Functions”. Bukannya tanpa perlawanan, gerakan ini melaju sangat massif terutama di kota kota barat dan secara perlahan menuju ke kawasan Asia. Perlawanan diantaranya muncul melalui gerakan postmodern yang berkembang di Amerika dan sebagian Eropa (barat) ataupun critical regionalism di Jerman. Para penentang International style ini timbul dan tenggelam dalam melakukan perlawanan namun nampaknya arus gelombang international style ini masih sangat perkasa dengan sokongan ekonomi di baliknya dan berlangsung hingga saat ini. Lihat saja perlombaan pencakar langit yang saat ini terjadi di seluruh dunia. Meskipun bentuknya semakin kreatif, tidak melulu kotak kotak massif, namun nafasnya tetap saja seragam.

Bagaimana dengan di Bali? Hampir saja dilanda gerakan internasionalisasi bangunan, ketika Bali Beach dibangun tahun 1963, nampaknya antisipasi yang dilakukan cukup berhasil pada awalnya. Kini setelah bangunan tradisional bukan lagi keniscayaan namun hanya merupakan salah satu pilihan dari sekian banyak pilihan,nampaknya perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang tradisi berarsitektur lokal terutama bagi generasi baru arsitek yang akan menentukan masa depan Bali. Banyak kekhawatiran muncul bahwa sekarang arsitektur Bali ada di ambang kehancuran. Yang patut diingat, Bali tidak sendiri. Banyak kawasan lain di seluruh dunia mengalami posisi seperti yang dialami oleh Bali.

Dalam pengantar utuk edisi tahun 2012 jurnal Architectural Design, Paul Brislin menyebutkan:

The loss of sense of historicity and evolutionary identity is clearly becoming major concern in numerous countries developing at the accelerated rate of today’s aggressive investment strategies, expedient methods of construction and universal architectural fashions. (Paul Brislin Architectural Record 2012)

 Proses homogenisasi sebagaimana disebutkan diatas terjadi di seluruh dunia, dan manusia mencari cari identitas yang mereka miliki dari masa lalu dan tradisi. Barangkali banyak yang bertanya untuk apa kita mencari identitas? Kenapa tidak bergabung saja dengan kemajuan yang telah dan sedang berlangsung? Castells (2007) menyebutkan bahwa identitas adalah sumber nilai-nilai diri manusia. Manusia yang tidak memiliki identitas akan kebingungan menentukan arah masa depan karena dia kebingungan pula menentukan tata nilai dirinya. Demikian juga halnya dalam arsitektur, ketika dia kehilangan identitasnya. Arsitektur dan tempat yang tidak memiliki identitas kehilangan sejarahnya, kehilangan akar budayanya, kehilangan nilai nilai tempat yang menyebabkan orang yang tinggal di dalamnya juga kehilangan nilai nilai hidupnya. Identitas suatu tempat (selanjutnya akan disebut sebagai place identity untuk memudahkan dan mengurangi kerancuan istilah) bersumber dari sejarah dan tradisi yang kita warisi dari puluhan generasi sebelum kita. Apakah kita hanya menerima dalam posisi pasif? Kita yang mewarisi place identity harus me re-kreasi warisan tersebut, meng-aktual-isasikan nilai nilai yang kita warisi dan menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Itu pula yang dilakukan oleh generasi sebelumnya,menyesuaikan apa yang mereka warisi dengan jaman di mana mereka hidup. Meskipun mengalami berbagai re-kreasi dan re-aktual-isasi, keber-akar-an (rootedness) identity tersebut masih terjaga. Banyak yang pesimistis dengan mengatakan bahwa pencarian place identity hanyalah sebagai nostalgia, konservatif, serta menghambat kemajuan. Hal tersebut terjadi karena place identity hanya dilihat sebagai proses copy-paste bentukan fisik dari apa yang sudah dilakukan oleh generasi sebelum kita tanpa re-kreasi dan tanpa re-aktual-isasi.

IMG_0459

Meru, salah satu pencapaian teknologi terbaik konstruksi kayu di Bali di masa lalu.

Wang-Shu, pemenang Pritzker Prize tahun 2012 mengakui bahwa di awal-awal masanya berkiprah sebagai arsitek professional sempat terjebak pada pradigma post-modern yang bersumber dari tata nilai barat karena pada masa dia memulai prakteknya aliran tersebutlah yang sedang trend di seluruh dunia. Setelah puluhan tahun menjalani praktek, perlahan dia merasakan ada nilai yang hilang dari karya karya yang dia hasilkan karena semua tampil serupa seragam dengan karya karya di tempat lain. Menyaksikan pula negaranya diserbu oleh arsitek arsitek asing dengan gaya bangunan yang serupa, semakin membuatnya membulatkan tekad untuk beralih ke desain yang lebih kontekstual. Desain yang memiliki keber-akar-an dengan tempat dimana bangunan tersebut akan berdiri. Karya karyanya setelah periode itu menunjukkan nilai-nilai tinggi arsitektur China tanpa meniru sedikitpun bentuk atau ragam hias dari China. Yang dibawa oleh Wang Shu dalam setiap karyanya yang mutakhir adalah nilai nilai luhur (high value) arsitektur traditional China. Keberakaran (rootedness) karyanya sangat jelas terasa meskipun secara fungsi dan program ruang sangat modern.

Kehilangan place identity dipercaya menurunkan kualitas suatu lingkungan yang pada gilirannya akan menurunkan kualitas hidup penduduk yang tinggal di dalamnya. Tanpa identitas, kita menjadi terasing dan merasa tidak memiliki keterikatan dengan lingkungan sekitar kita. Identitas Bali yang sangat kuat di masa lampau telah menghipnotis banyak orang. Banyak anthropolog, seniman, dan peneliti yang mengungkapkan betapa vibrasi Pulau Bali demikian kuat dibandingkan kawasan sekitarnya. Relph, (1976) menyebutkan place identity dapat dikenali dari tiga hal pokok: tampilan fisik dan wujud suatu kawasan, aktivitas dan fungsi fungsi ruang yang dapat diamati serta yang terakhir adalah makna dan symbol yang tersirat dari sebuah kawasan. Pada masa lalu tampilan, fungsi fungsi baik skral maupun profane dan symbol symbol yang tercermin di dalamnya sangat kuat dimiliki oleh Bali. Kuatnya ikatan antara ketiga komponen ini menyebabkan vibrasi place identity menyatu dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Bali kala itu. Dari ketiga elemen pembentuk place identity di atas, dua yang pertama, tampilan fisik serta aktivitas cukup mudah dikenali karena bisa dirasakan dengan panca indra manusia. Elemen yang ketiga yaitu makna dan symbol lebih sulit untuk dikenali karena bersumber dari hal hal yang bersifat intangible, sejarah, tradisi, memori kolektif serta persepsi manusia. Tradisi yang berlangsung dari generasi ke generasi telah memelihara dan menjaga kebijakan eksistential yang terakumulasi dari generasi ke generasi mewujud menjadi makna dan simbol. Kebijakan eksistensial yang menurun dari generasi ke generasi inilah yang selanjutnya menjadi sumber nilai dalam pengembangan wacana identitas.

Akumulasi kebijakan dari generasi sebelumnya telah diwariskan ke generasi yang hidup di masa sekarang, kita. Tugas generasi sekarang adalah melakukan re-kreasi dan re-aktualisasi dari nilai nilai kebijaksanaan tersebut agar sesuai dengan nilai nilai kekinian. Ketidakmampuan untuk melakukan re-kreasi dan re-aktualisasi akan berakhir pada peniruan membabi buta terhadap apa yang telah dikembangkan oleh generasi sebelumnya. Sebaliknya meninggalkan tradisi yang sudah terwarisi dan menggantikannya dengan yang baru akan membawa pada keterasingan (alienated) karena kita terlepas dari keberakaran (rootedness) dengan masa lalu. Rumah tua, tempat kita tinggal yang kita warisi dari orang tua dan juga diwarisi oleh orang tua kita dari generasi sebelumnya, terasa nyaman tidak hanya karena tampilan fisiknya namun juga karena ada nilai nilai yang tertanam di dalamnya. Ada memori bersama, ada persepsi yang sama, ada sejarah keluarga yang terpatri dan berjalan dari generasi ke generasi. Nilai nilai tersebut tidak bisa dirasakan di dalam rumah baru yang dibangun dengan cita rasa modern.

Tata kehidupan akan selalu berubah sebagaimana telah terjadi dan berlangsung selama berabad-abad. Dunia selalu bergerak dan seterusnya akan begitu. Dalam dunia yang selalu bergerak ini manusia selalu berusaha mencari tempat berlindung. Tempat di mana dia merasa sebagai “rumahnya” tempat dimana dia merasa memiliki keterikatan emosional. Tempat tempat semacam itu semakin sulit untuk ditemui akibat proses homogenisasi yang membuat banyak yang percaya bahwa proses ini membuat perbedaan antara satu tempat dengan tempat lain menjadi semakin kabur. Masa lalu dan tradisi pelan pelan semakin memudar dan cita rasa kehidupan menjadi semakin hambar. Ikatan emosional antara manusia dengan tempat yang ditinggalinya semakin menipis yang pada gilirannya membuat kualitas hidupnya menurun. Leluhur orang Bali sangat menghargai tanah dan bumi yang dipijak yang mereka warisi dari generasi sebelumnya. Bagi orang bali tanah ini harus diwariskan ke generasi selanjutnya, karena orang Bali percaya lahan adalah milik Tuhan. Ikatan antara orang Bali dengan lahannya sebanding dengan ikatannya dengan tuhannya.

Bali belongs to the Gods. The inhabitants are no more than transitory tenants of the lands who cultivate it and are nourished from its yield during the short span of the body’s residence on earth. People die, but the earth remains – the property of Gods. (Jane Belo, 1953).

Hubungan orang Bali dengan tanah tempatnya tinggal diwujudkan dalam berbagai bentuk. Tidak ada gunung, bukit, lembah, sungai yang angker, pohon yang besar dan bahkan kuburan yang tidak disertai oleh pura. Orang Bali sangat menghormati tempat dimana mereka tinggal. Penghormatan terhadap tempat ini mempererat hubungannya dengan tempat dimana mereka tinggal. Penghormatan terhadap tempat selain mewujud pada pendirian pura tempat melangsungnya upacara juga dilakukan dalam pembangunan. Sebelum memulai pembangunan selalu diawali dengan upacara-upacara tententu, mohon ijin membuka lahan, mohon ijin untuk menggali tanah dan sterusnya hingga mengupacarai bangunan yang telah dibangun ibaratnya bangunan tersebut memiliki jiwa (value). Bentuk bentuk bangunan penuh symbol dan makna mulai dari besaran lahan yang boleh dibangun, penempatan fungsi fungsi (zonasi), tata ukuran anthopometri, pilihan bahan hingga hari dimulainya pengerjaan. Setiap proses melibatkan sang calon empunya rumah. Dari proses awal pembangunan ini pelibatan calon empunya rumah telah menanamkan identitas dan rasa memiliki terhadap bangunan yang akan ditempatinya.

Saat ini penduduk Bali sudah semakin heterogen tidak hanya dari sisi pekerjaan namun juga dari berbagai latar belakang suku, agama dan asal. Banyak migrant yang berasal dari luar Bali yang kini menguasai lahan lahan, membangun tempat tinggal, merubah sawah tegalan menjadi kawasan permukiman dan seterusnya. Pandangan bahwa bumi adalah milik Tuhan dan harus wariskan ke generasi berikutnya telah berubah. Tanah tanah telah dijual. Pembangunan tidak lagi melalui permohonan ijin membuka lahan. Tradisi yang menjadi sumber tata nilai kehidupan tidak lagi menjadi pedoman karena proses pembangunan, mulai dari pembelian lahan, hingga pembangunan sama seperti di tempat tempat lain di belahan dunia lain. Pada posisi seperti ini, banyak yang menyebutkan Bali telah kehilangan place identity nya atau dalam bahasa kerennya telah kehilangan taksu. Taksu yang diwarisi dari ratusan generasi sebelumnya gagal di re-aktualisasi dan di re-kreasi namun telah tergantikan secara drastis dengan tata cara baru yang lebih modern. Ketidak berhasilan ini bisa dirunut dari tidak terjadinya proses alih tangan (handed down) dengan baik pengetahuan tradisional. Buku buku atau literature tentang arsitektur Bali sangat terbatas dan sebagian besar hasil penelitian tidak terpublikasi.

Kini arsitek luar Bali bisa dengan mudah membangun di Bali dengan gayanya masing-masing, dengan pilihan mode, material, teknologi dan warnanya. Arsitek lokalpun lebih mudah untuk mempelajari bangunan bangunan modern karena sumber bacaan dan literature yang berlimpah. Perhatikan karya karya arsitek asing sebelumnya,Peter Muller dengan Oberoi dan Amandarinya, atau I. B.Tugur dengan bangunan klasik kompleks Arda Chandra, Gedung DPRD Bali dan lain-lain yang dalam pembangunannya melibatkan undagi-undagi terlatih serta melalui prosesi tradisional pembangunan lalu bandingkan dengan bangunan-bangunan baru yang dikerjakan oleh tukang-tukang dari luar pulau dengan keahlian yang berbeda. Bangunan yang dibangun pada masa sebelum 1980an masih memiliki akar tradisi (rootedness) yang kuat dibandingkan dengan bangunan bangunan baru yang dibangun setelah tahun 1990an. Pemahaman terhadap tata cara konstruksi, tata olah material, tata estetika dan tektonika serta kemampuan menterjemahkan symbol symbol serta makna yang tersirat yang telah diwarisi dari generasi ke generasilah yang membuat perbedaan antara bangunan pada kedua masa yang berbeda di atas.

Pada akhirnya identitas suatu kawasan, sebagaimana diungkap Juhani Palaasma, sangat tergantung dari kemampuan generasi masa kini membaca dan menterjemahkan tradisi sebagai akar dari nilai nilai yang dianut oleh masyarakat suatu kawasan dan mengaktualisasikannya secara aktif. Place identity merupakan sumber tata nilai bagi sekelompok masyarakat yang Mendiami suatu kawasan sebagaimana diungkapkan oleh Georgia Butina Watson dan Ian Bentley:

Place identity is the sets of meanings associated with any particular landscape which any particular person or group of people have draws on in the construction of their own personal or social identities (G. Butina Watson and I. Bentley, 2006).

Apapun konsep yang telah didiskusikan, pemahaman tentang place identity tetap dikembalikan kepada masyarakat yang mendiami tempat tersebut, apakah identitas tersebut akan dipertahankan, diteruskan, atau diganti sama sekali dengan yang baru. Pembangunan identitas, pada masa kini, adalah pilihan bukan keniscayaan seperti di masa lampau.

Pertanian di Kota Denpasar, Masih Relevankah?

AMBIGUITAS PERTANIAN DI KOTA DENPASAR

Lahan pertanian Semakin Berkurang Vs Pertanian Memberi Porsi Ruang Terbuka Yang Signifikan

Luas kawasan pertanian di Kawasan Perkotaan Denpasar dari tahun ke tahun terus mengalami penyusutan seiring dengan meningkatnya kebutuhan perluasan permukiman beserta fasilitas penunjangnya.

Kawasan Perkotaan Denpasar telah mengalami perubahan alih fungsi ruang yang cukup deras sehingga budaya agraris telah memudar dan bergeser menjadi budaya kota metropolis dengan industry jasa yang lebih menonjol.

Kebijakan dan strategi yang telah dituangkan dalam RTRWK Denpasar mengarah pada perwujudan kota kreatif berjatidiri budaya Bali serta pelestarian lingkungan hidup, sehingga tetap menempatkan lahan pertanian sebagai kegiatan yang perlu perlindungan.

Alih fungsi lahan yang berakibat pada berkurangnya luas sawah terjadi di hampir semua kecamatan di Denpasar dengan laju yang cukup pesat. Masing masing kecamatan memiliki kecepatan pengurangan luas lahan yang berbeda antara dua periode yang berbeda. Kegiatan pertanian lahan basah (persawahan) di Kota Denpasar, dikelola Subak yang jumlahnya 41 buah (Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Denpasar, 2006). Dari hasil survey Tim FP-Unwar (2012) kondisi exsisting jumlah subak yang ada di Kota Denpasar sebanyak 39 subak. Kedua subak yang hampir tidak berfungsi lagi yaitu : Subak Serogsogan dan Subak Praupan Barat. Selama rentang waktu 7 tahun (1998-2005) terjadi laju pengurangan lahan sawah sebesar 67,43 Ha per tahun. Laju pengurangan pada rentang waktu tersebut terbanyak terjadi berturut-turut di Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar Barat, Denpasar Utara dan Denpasar Timur. Sedangkan selama rentang waktu 7 tahun (2005-2012) terjadi laju pengurangan lahan sawah sebesar 27,71 Ha per tahun. Laju pengurangan pada rentang waktu tersebut terbanyak terjadi berturut-turut di Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar Barat, Denpasar Timur dan Denpasar Utara (Tabel 3.).  Hal ini dapat dipahami karena banyaknya terjadi pembukaan lahan baru berupa Land Consolidation (LC) di Kawasan Panjer, Renon, dan Kawasan sekitar Jalan Gatot Subroto dan Jalan Kargo di Desa Ubung Kaja, yang mana kawasan tersebut dulu masuk dalam wilayah Kecamatan Denpasar Barat dan saat ini secara administrasi menjadi wilayah Kecamatan Denpasar Utara. Dalam kurun waktu 1998 – 2012 terjadi pengurangan lahan sebesar 666 Hektar atau sekitar 20,6%.

Proporsi sawah di Denpasar didominasi oleh kawasan Denpasar Selatan sebesar 34,38% dari keseluruhan sawah yang masih aktif di Kota Denpasar. Denpasar Barat, yang berbatasan dengan Kabupaten Badung, memiliki proporsi sawah paling sempit sebesar 9,71%. Denpasar utara dan Denpasar Timur proporsi sawahnya hamper sama yaitu 28,48 % dan 27,43%.

Sekalipun luas sawah semakin berkurang dari tahun ke tahun, namun perannya dalam memberi sumbangan bagi ketersediaan ruang terbuka hijau Kota Denpasar sangat signifikan. Dalam Recana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar tahun 2010 – 2030 termuat komposisi ruang terbuka hijau yang terbagi dalam tiga golongan besar. Ruang terbuka hijau kota berada pada tiga kawasan yang berbeda yaitu, ruang terbuka pada kawasan lindung, pada kawasan budidaya dan ruang terbuka pada kawasan terbangun di kawasan budidaya. Pertanian sendiri berada pada golongan ruang terbuka di kawasan budidaya. Ruang terbuka hijau di kawasan budidaya memberi sumbangan 13,28% dari total 36,84% luas ruang terbuka yang ada di Kota Denpasar. Pertanian menyumbang sebesar 11,61%. Kota Denpasar saat ini memiliki proporsi ruang terbangun dan ruang terbuka yang cukup dari minimal 30% ruang terbuka dan 70% terbangun. Namun jika luas lahan pertanian dikurangi dari luas total ruang terbuka, maka denpasar hanya memiliki sekitar 25% ruang terbuka sehingga peran lahan pertanian sangatlah signifikan.

Dengan harga lahan yang semakin tinggi, muncul kebutuhan untuk lebih mengoptimalkan nilai lahan sehingga ancaman terhadap pertanian semakin nyata. Hasil pertanian yang relative sangat minim mendorong para petani untuk mengalihfungsikan kegiatan pertaian menjadi kegiatan yang lebih banyak menghasilkan uang.

Petani Semakin Menua Vs Teknik Pertanian Semakin Termekanisasi

Data yang dihasilkan terhadap usia petani menunjukkan di Kota Denpasar usia termuda petani adalah 46 tahun (survey tahun 2012). Dari hasil survey ini menunjukkan hamper tidak terjadi regenerasi tenaga kerja di bidang pertanian. Tantangannya adalah sepuluh tahun yang akan datang usia termuda petani adalah 56 tahun, umur yang relative tua untuk bekerja secara fisik. Sementara petani yang saat survey berusia 50 – 70 tahun, sepuluh tahun yang akan datang akan memasuki usia pensiun dari pekerjaan petani akibat keterbatasan fisik dan tenaga.

pertanian-denpasar-1024x768

Untuk mampu mengolah lahan pertanian serta mengolah hasil pertanian secara lebih produktif, perlu diterapkan teknologi pengolahan lahan serta teknologi pengolahan hasil tani yang lebih modern. Modenisasi di bidang pertanian membutuhkan pelatihan pelatihan guna mendorong penguasaan teknologi oleh petani. Dibutuhkan tingkat pendidikan yang relative tinggi untuk dapat menguasai teknologi pertanian terbaru sehingga meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani.

Dengan usia petani yang semakin lanjut serta tingkat pendidikan yang relative tidak tinggi, penguasaan teknologi baru mendapat tantangan yang cukup berat. Mesin mesin terbaru dengan spesifikasi yang canggih membutuhkan pelatihan untuk penguasaan serta ketrampilan baru agar bias digunakan oleh petani. Petani yang sudah berusia lanjut dan telah terbiasa dengan metode bertani tradisional tentunya akan cukup kesulitan untuk mempelajari ketrampilan penguasaan teknpologi baru bidang pertanian.

Produk Pertanian Berorientasi Ekspor Vs Pasar Lokal Dibanjiri Produk Impor

Untuk menuningkatakan hasil bagi petani di Kota Denpasar, telah ditempuh berbagai kebijakan diantaranya menanam tanaman berusia pendek dengan nilai ekonomis tinggi. Tanaman tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi umumnya disediakan untuk pasar luar negeri. Produk produk pertanian yang cukup banyak diminati untuk pasar ekspor antara lain anggrek serta buah buahan hortikultura, semangka melon dan buah lainnya. Tidak kurang dari 4 juta tangkai anggrek mampu dihasilakn oleh petani di Kota Denpasar selama kurun waktu 2011 seperti tercatat di dinas Pertanian Kota Denpasar. Kebijakan ini terbukti mampu meningkatkan penghasilan petani sehingga semakin banyak dikembangkan.

Kebutuhan terhadap produk pertanian masyarakat Kota Denpasar sangat tinggi. Produk produk yang dibutuhkan mulai dari produk konsumsi, produk untuk membuat sesajen, hingga produk untuk kebutuhan hiasan (terutama untuk hotel dan acara acara seminar). Kebutuhan terhadap produk pertanian yang tersedia di Kota Denpasar berasal dari daerah sekitar hingga daerah luar pulau. Kebutuhan janur dalam jumlah yang relative besar umumnya didatangkan dari Kabupaten Jembrana dan tidak sedikit yang didatangkan dari Banyuwangi serta Sulawesi. Bunga bungaan untuk melengkapi janur sebagai bahan sesajen datang dari kawasan Petang, Plaga hingga Pancasari sementara bunga potong untuk kebutuhan hiasan datang dari luar pulau, Malang hingga Bandung. Tidak jauh berbeda kondisinya dengan buah buahan yang tersedia di pasar yang sebagain besar berasal dari luar daerah bahkan dari luar negeri.

PERTANIAN PERKOTAAN, SEPERTI APA?

Konsep pembangunan pertanian di Kota Denpasar adalah pengembangan pertanian perkotaan berkelanjutan. Konsep pertanian perkotaan belum begitu familiar di kalangan perencana kota di Bali sehingga  pemahamananya masih sering dianaktirikan. Pembangunan pertanian perkotaan harus terintegrasi dengan pembangunan tata ruang karena menyangkut ketersediaan lahan yang terbatas, tuntutan hasil dan manfaat yang tinggi serta inovasi agar mampu memenuhi kebutuhan pasar local sehingga diperlukan kebijakan untuk mendorong penerapannya.

Strategi pertanian perkotaan berkelanjutan (PPB) pada dasarnya bertujuan untuk : (1) meningkatkan persediaan dan ketahanan pangan, (2) salah satu produk untuk memanfaatkan ruang terbuka hijau kota (RTHK) serta limbah perkotaan, (3) salah satu sumber pendapatan, (4) mengurangi pengangguran, (5) menambah estetika kota, (6) keseimbangan ekosistem perkotaan, (7) melestarikan budaya pertanian, (8) meningkatkan nutrisi kaum miskin, (9) meningkatkan kesehatan masyarakat, (10) meningkatkan solidaritas masyarakat, (11) mengurangi konflik sosial.

Pertanian perkotaan dpat dikembangkan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan, ketersediaan lahan serta tenaga kerja. Jenis jenis pertanian perkotaan yang dapat dikembangkan antara lain:

Kebun Pribadi di Lahan Perumahan (Private Garden)

Kebun penyedia bahan makanan dan obat obatan yang dimiliki secara pribadi terletak di depan atau di halaman belakang, atap rumah, halaman tengah balkon atau dip agar rumah. Produk akhirnya berupa bahan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga tersebut.

Kebun Milik Komunitas (Community Garden)

Lahan yang dikelola untuk memproduksi bahan kebutuhan rumah tangga dalam skala kecil hingga menengah terletak pada lahan umum atau lahan yang dimikili oleh sebuah kelompok masyarakat serta dikeolola oleh kelompok masyarakata tersebut. Hasilnya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat tersebut atau kelebihannya dijual. Lahan pertanian skala kecil ini dpat pula dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan kebun skala kecil.

Kebun Institusi (Institutional Garden)

Kebun yang menghasilkan bahan makanan berskala kecil hingga besar terletak pada permukiman atau perkantoran, sekolah, rumah sakit dan lain lain. Dikelola oleh suatu organisasi atau perusahaan. Proses pengelolaan diarahkan terutama untuk kepentingan pendidikan, rekreasi  antara lain untuk pendidikan gizi, kesadaran lingkungan serta pendidikan keorganisasian. Hasil dari perkebunan semacam ini biasanya dipergunakan untuk sumbangan atau bias juga dijual tergantung kesepakatan organisasi.

Kebun Demonstarsi (Demonstration garden)

Kebun yang ditujukan untuk kepentingan demOnstrasi serta pendidikan dikembangkan oleh pemerintah atau swasta namun tetap dapat dikelola untuk menghasilkan produk yang dapat memenuhi konsumsi masyarakat. Produk akhirnya umumnya disumbangkan.

Taman yang mengasilkan (Edible landscape)

Ruang ruang luar atau ruang terbuka yang selama ini diisi dengan tanaman hias dapat diganti dengan tanaman pertanian yang menghasilkan sehingga lebih produktif. Pengelolaannya perlu diatur guna menghindari konflik dalam pemanfaatan hasilnya.

 

MASA DEPAN PERTANIAN KOTA DENPASAR

untuk mempertahankan masa depan pertanian di Kota Denpasar di tengah maraknya alih fungsi, hiruk pikuk mekanisasi pertanian serta derasnya impor produk pertanian yang membanjiri pasar local, perlu ditempuh strategi yang tepat.

Penetrasi Pertanian Ke Kawasan Permukiman

Pengembangan lahan permukiman yang selama ini ditengarai menjadi penyebab derasnya alih fungsi hamper mustahil untuk dihentikan. Satu satunya cara, setelah permukiman menyerbu pertanian, adalah dengan “menyerang balik” balim kawasan permukiman oleh pertanian. Artinya, pertanian harus dikembangkan pada lahan lahan permukiman sehingga tidak harus menggantungkan diri pada lahan pertanian. Strateginya adalah dengan menerapkan prinsip prinsip pertanian perkotaan (urban agriculture) dengan segala konsekuensinya termasuk merubah kurikulum di sekolah sekolah.

Pengembangan pengetahuan tentang pertanian berbasis kurikulum dapat dikembangkan mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Pengetahuan tentang pertanian diajarkan di sekolah sekolah, praktiknya dilakukan di dalam kebun yang dimiliki sekolah dan juga dapat diterapkan pada rumah masing masing siswa. Karena luas lahan di rumah tinggal relative terbatas maka konsep kebun vertical atau kebun atap (roof garden). Memanfaatkan ruang ruang yang selama ini kurang produktif menjadi lebih produktif, menyediakan udara segar bagi penghuni hingga pemenuhan kebutuhan ruamh tangga dapat menjadi keuntungan yang diperoleh. Untuk dapat mengelola kebun semacam ini tidak dibutuhkan keahlian khusus sebagai petani atau waktu yang panjang. Kegiatan dapat dilaksanakan secara paruh waktu dengan pengetahuan yang secukupnya.

Di kompleks bangunan sekolah dengan lahan yang relative luas dapat dikembangkan kebun demonstrasi atau kebun institusi. Pelaksanaanya pertanian pada lahan sekolah dapat dilakukan dengan lebih terorganisir dan dapat pula menunjang kurikulum pelajaran terutama pelajaran biologi. Selain di sekolah dan institusi baik pemerintah maupun swasta, pertanian dapat pula dikembangkan pada lahan lahan kososng di sekitar bale banjar, pura, serta ruang terbuka public dengan pengelolaan yang lebih terorganisir. Selain menyediakan hasil akhir berupa produk pertanian, kegiatan ini juga mampu menyerap tenaga kerja serta menyuplai udara segar bagi lingkungan.

Memenuhi Pasar Lokal

Jika mengukur pasar untuk produk pertanian, seatinya Denpsar memiliki jumlah yang sangat besar karena kedudukanya sebagai ibu kota Provinsi. Konsep pengembangan pertanian perkotaan sebaiknya diarahkan untuk memenuhi pasar local sehingga akan memutus mata rantai pemasaran yang pada akhirnya akan menguntungkan baik petani selaku produsen maupun masyarakat selaku konsumen.

Untuk mendatangkan bahan konsumsi maupun bahan untuk material banten dari luar kota tentu dibutuhkan jalur transportasi yang panjang serta lebih banyak ihak yang berperan.jalur yang panjang serta semakin banyaka pihak yang berperan menimbulkan ekonomi biaya tinggi sehingga harga produk menjadi tinggi. Dengan memperpendek mata rantai, maka harga produk akan semakin murah tanpa harus menurunkan harga di tingkat petani. Penghematan yang dilakukan tidak hanya dari sisi financial tetapi juga dari sumber daya yaitu mengurangi mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang merusak lingkungan. Konsep pemenuhan pasar local ini sebetulnya sudah dirumuskan dalam pengembangan ketahanan pangan namun dalam implementasinya perlu banyak penyembpurnaan utamanya riset pasar untuk memahami kebutuhan riil masyarakat. Keuntungan lain dengan mengembangkan pertanian yang memenuhi pasar local adalah berkurangnya lalu lintas kendaraan antar wilayah sehingga mengurangi kemacetan.

Integrasi Kegiatan Pertanian dengan Kegiatan Perkotaan Denpasar

Kegiatan pertanian selama ini dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dengan kegiatan perkotaan sehingga keberadaannya dalam konteks kota seriang diabaikan. Di pihak lain kegiatan perkotaan selain rumah tinggal dan ruang tempat bekerja membutuhkan pula ruang ruang rekreasi dalam bentuk ruang terbuka, jalan serta taman taman sebagai paru paru kota. Masyarakat perkotaan dengan aktivitas non pertanian lebih memilih untuk menghabiskan waktu luangnya di pusat pusat perbelanjaan atau pantai sehingga pertanian semakin ditinggalkan. Menjadikan lahan pertanian sebagai kawasan untuk melakukan aktivitas yang terintegrasi akan membalik pandangan yang selama ini menganggap pertanian sebagai halaman belakang suatu kota menjadi halaman depan kota.

Pertanian yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau berperan dalam mengurangi suhu kota serta menyuplai udara segar dengan proses alami mengubah CO2 menjadi O2 dalam proses fotosintesa. Pemanfaatan pupuk kompos serta pupuk kandang alami dalam pengelolaan tanaman akan menanggulangi persoalan sampah yang semakin tahun semakin meningkat.

Pendidikan bidang pertanian mampu membuka peluang kerja baru tidak hanya sebagai produsen namun juga dalam bidang pengoahan hasil serta sebagai penyalur sehingga berpeluang berkembang menjadi ekonomi kerakyatan yang kreatif. Semua keuntungan serta manfaat pertanian perkotaan hanya akan bias dinikmati jika dikelola dengan baik dari segala segi, teknis, manajemen, marketing hingga perencanaan keberlanjutnya.

Daftar Pustaka

BPS Kota Denpasar, 2012, Denpasar dalam Angka 2011

Mougeot Luc, 2006, Growing Better Cities, Urban Agriculture for Sustainable Development

Peter Neal (ed), 2003, Urban Villages and the Making of Communities, Spon Press, London.

Philip Kivel (ed), 1993, Land and the City : Patterns and Processes of Urban Change, Taylor and Francis,London.

Partnership for Sustainable Communities, 2011, Urban Farm Business Plan Handbook, September 2011

S.J. Dima, A.A. Ogunmokun and T. Nantanga, 2002,The status of urban and peri-urban agriculture, Windhoek and Oshakati, Report prepared for Integrated Support to Sustainable Development and Food Security Programme (IP) in Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO)

Wayan Windia, 2010,  Sustainability Of Subak Irrigation System in Bali (Experience of Bali Island) Seminar on the History of Irrigation in Eastern Asia, organized by ICID.IID, in Yogyakarta on October 13, 2010

Pariwisata, Arsitektur Bali, dan Pembangunan Perkotaan

Akhir akhir ini, akibat halusinasi mengerjakan thesis, saya jadi sering bertanya-tanya pada diri sendiri siapa yang akan menyelamatkan arsitektur Bali di tengah berbagai tekanan yang dihadapinya?. Meningkatnya kebutuhan lahan, serbuan image bangunan modern yang membuat bangunan Bali terlihat kuno, setidaknya di mata sebagian orang Bali, sulit dan mahalnya harga bangunan bali, hingga semakin langkanya tukang tukang yang menguasai teknik konstruksi tradisional. Di lain pihak, mahasiswa-mahasiswa, calon arsitek masa depan Bali juga dibanjiri oleh buku buku yang menggambarkan image betapa kemjuan teknologi membuat arsitektur menjadi semakin elitis. Terdengar pesimistis, ditambah berita di media yang terus terusan mengabarkan mulai kacaunya tatanan tata ruang, peraturan yang tidak konsisten sehingga setiap saat bisa ditinjau, hingga produk hukum tata bangunan yang konon bisa dibeli. Tetapi ada optimisme setelah membaca tulisan Michel Picard, yang sejatinya mengulas tentang pariwisata di Bali. Ya, optimisme itu bisa dibangun dengan mengurai permasalahan yang sering dituduh sebagai penyebab rusaknya Bali, pariwisata.

Sebelum membahas Picard, ada baiknya kita tarik kajian tentang Bali agak jauh ke belakang ke masa tahun 1930 an tepatnya 1937. Miguel Covarrubias, seniman dan antropolog Meksiko yang melakukan penelitian mendalam tentang Bali, pernah melontarkan ramalannya tentang masa depan Bali. Pada chapter terakhir bukunya yang fenomenal, yang bahkan menjadi salah satu acuan terpenting untuk membahas Bali hingga kini “Island of Bali”, dia menyebutkan cepat atau lambat segala keunikan budaya Bali akan habis digerus oleh jaman. Standarisasi kehidupan modern, saat itu di dunia barat sedang gencar gencarnya modernisasi yang dipicu oleh revolusi insdustri, akan mengikis setiap jejak masa lalu yang ditekuni dan dilaksanakan sepenuh hati oleh masyarakat Bali (Covarrubias, 1937). Pada masa itu, Bali mulai dipromosikan sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama pemerintah kolonial Belanda. Entah akibat hal itu atau bukan, pemerintah kolonial berusaha melindungi Bali dan segenap keunikanya, termasuk tata pemerintahan adat dan subak, tidak tersentuh oleh pemerintahan baru kolonial Belanda. Alih alih menyatukan sistem pemerintahan tradisional atau membubarkannya sekalian, sebagaimana lumrah dilakukan oleh pemerintah kolonial di banyak tempat, Belanda tetap membiarkan sistem kehidupan traditional berjalan seperti apa adanya, sementara untuk urusannya sendiri Belanda membentuk pemerintahan yang kemudian disebut Dinas (berasal dari kata ‘dienst’ bahasa Belanda yang kurang lebih berarti ‘layanan’ lihat Henk Schulte Nordholt, 1996). Terjadi dualisme pemerintahan yang berlangsung hingga sekarang, yang satu disebut sebagai pemerintahan adat sedangkan yang satunya disebut pemerintahan dinas. Nampaknya pemerintah kolonial saat itu sadar betul bahwa keunikan Bali memiliki nilai yang sangat tinggi dan akan menjadi salah satu urat nadi perekonomian pulau Bali. Jika sistem tersebut diubah, maka besar kemungkinan budaya Bali yang berlangsung dalam tatanan kehidupan berlatar agraris serta kebudayaan yang dijalankan secara adat akan terpengaruh.

37931_124075357649783_8174335_n261426_462326327158016_510001333_n

Brosur-brosur awal pariwisata Bali

Masyarakat Bali diminta untuk tetap menjadi orang Bali, berpakaian Bali, belajar tarian Bali, berbahasa Bali dan hal hal lain terkait dengan identitas kebaliannya. Namun turis yang diharapkan tidak juga kunjung datang dalam jumlah besar hanya beberapa, lewat pelabuhan di Singaraja. Arsitektur pada masa tersebut adalah bangunan asli masyarakat kecuali beberapa bangunan perkantoran Belanda yang dibangun dengan teknologi baru. Rumah rumah penduduk, meskipun memiliki variasi, tampil seragam berbahan lokal, dengan teknik konstruksi lokal serta dikerjakan oleh para tukang serta undagi lokal. Bangunan Bali Hotel yang dibangun di pusat kota Denpasar, barangkali merupakan satu satunya bangunan dengan arsitektur yang asing di Kota Denpasar dengan atap genteng dan dinding bata yang diplester diantara bangunan berdinding tanah dan beratap alang alang.sistem struktur tiang menyangga atap sehingga dinding hanya merupakan pembatas bukan memikul beban atap.

Setelah berkutat untuk memperoleh kemerdekaan penuh antara tahun 1945 – 1950, akhirnya Bali bersatu menjadi bagian dari Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Sukarno. Ber-ibu-kan orang Bali,boleh dibilang Sukarno sangat mencintai tanah kelahiran ibunya. Selain membangun istana di Tampak Siring, tempat beliau biasa menjamu tetamu kenegaraan dengan makanan dan kesenian Bali, Sukarno juga aktif mempromisikan setiap jengkal keunikan Bali dengan mengajak tetamu tersebut berkuliling melihat keindahan Bali. Pandit J. Nehru, perdana menteri Indoa pertama, adalah diantara tamu istimewa yang juga sangat menggemari Bali hingga memberi julukan “Bali, Morning of the World” yang sangat terkenal. Tahun 1963, pemerintah membangun hotel raksana pertama, sebagai bagian dari program kepariwisataan, di kawasan Sanur dengan menggunakan uang pampasan perang Jepang. Bali Beach Hotel, berdiri dengan kokoh, sangat besar untuk ukuran saat itu, berbahan asing: kaca dan beton, dalam desain bergaya Miami style (campuran antara International style dengan warna warna art deco yang berkembang di Miami saat itu). Segera bangunan ini mendapat tentangan yang cukup sinis dari masyarakat dan banyak wisatawan yang saat itu sudah mulai berdatangan di Bali. Bangunan ini menjadi tonggak hadirnya tata cara berarsitektur baru di Bali, tanpa tata laku kaidah tradisional, tanpa menggunakan sistem konstruksi tradisional, tanpa tukang ataupun undagi Bali. Diantara para kritikus tersebut adalah Donald Friend, seorang seniman asal Australia yang memilih menetap di Sanur, beserta temannya orang Indonesia Wija Waworuntu. Mereka akhirnya berkongsi untuk mengembangkan hotel lain dengan desain tradisional Bali. Mengundang Peter Muller, seorang arsitek terkenal asal Australia,mereka membuat sebuah proposal hotel dengan mengaplikasikan arsitektur Bali mulai dari lay out, typology bangunan hingga pengerjaan. Proposal tersebut dikenal dengan ‘Matahari Hotel’ namun sayangnya gagal mendapat dukungan dana dari investor akibat situasi perekonomian di Australia yang tidak kondusif. Peter Muller akhirnya menemukan klien baru dan mengembangkan hotel dengan pendekatan yang serupa di kawasan Seminyak, Oberoi. Di lain pihak, Donald Friend dan Wija Wawuruntu menyusun proposal yang lebih kecil disbanding Matahari Project. Kali ini mereka mengundang Geoffrey Bawa, arsitek Sri Lanka untuk berkolaborasi. Sebelum memulai pengerjaan desain, Friend dan Waoruntu mengajak Geoffrey Bawa berjalan jalan keiling Bali untuk melihat arsitektur setempat. Bawa tertarik dengan bangunan bale kambang di Klungkung. Disepakati untuk mengembngkan sebuah proyek yang lebih kecil di kawasan Sanur. Proyek baru ini dinamai Tandjung Sari salah satu bangunannya mengadopsi desain bale kambang. Demi melancarkan pelaksanaannya,Bawa menyertakan arsitek local dan beberapa undagi untuk mnegerjakannya. Perpaduan antara kebutuhan ruang modern dengan bahan serta teknologi local terwijud dalam desain. Pengerjaannya sepenuhnya melibatkan tukang dan pekerja local. Di lain pihak, proyek Oberoi Seminyak yang dikembangkan oleh Peter Muller juga mulai terbangun. Investasi yang dikeluarkan untuk mengembngkan Oberoi membuat Peter Muller antusias karena nilainya jauh lebih murah, dengan bahan bangunan dan teknologi local, dibandingkan yang dia perkirakan sebelumnya. Rupanya desain awal ‘Matahari Project’ menjadi batu loncatan bagi arsitektur Bali untuk mulai mendapat tempat di dalam khasanah desain perhotelan. Pemerintah Indonesia, melihat potensi Bali, mulai menyusun rencana pengembangan wisata secara massif di kawasan Nusa Dua. Strategi yang ditempuh masih sejalan dengan idealism untuk mengembangkan kawasan wisata yang berakar pada pengembangan arsitektur local. Rencan raksasa ini dikerjakan oleh konsultan dan tim ahli dari Perancis, SCETO pada tahun 1971, dengan bantuan pinjaman dari World Bank.

Tahun 1970-an merupakan tahun yang sangat sibuk di Bali selatan dengan pengembangan pariwisata. Selain proyek Oberoi dan Tandjung Sari, di Sanur, di bekas lahan yang semula hendak dibangun sebagai lokasi Matahari Project, dibangun sebuah hotel oleh pemilik lahan yang baru setelah dijual oleh Donald Friend dan Wija Waworuntu. Kerry Hill arsitek lapangan untuk proyek ini disarankan oleh Donald Friend untuk membangun fasilitas publiknya, lobby, restaurant, dan lounge, dalam wujud arsitektur tradisional Bali.  Proyek ini mendapat insentif pajak dari pemerintah sehingga pembangunannya dapat terselesaikan dengan baik guna menunjang strategi pengembangan kepariwisataan Bali. Sejauh ini arsitektur raksasa Bali Beach seolah dikeroyok oleh desain desain hotel baru dengan dalam wujud desain yang lebih membumi. Donald Friend, wija Waworuntu, Peter Muller, Kerry Hill mewariskan ilmu yang tidak ternilai tentang bagaimana menterjemahkan wujud arsitektur local ke dalam fungsi fungsi modern keada generasi local arsitek Bali masa itu. Diantara generasi arsitek local tersebut terdapat satu nama yang memiliki posisi penting, Robi Sularto, yang selanjutnya meneruskan ide ide dari arsitek asing tersebut. Robi Sularto banyak meneruskan pelajaran penting yang dipetik kepada generasi yang lebih muda sehingga pola alih ilmu (handed down)  terjadi cukup mulus antar generasi. Undagi local pu mendapat tempat yang cukup baik, karena keahliannya sangat dibutuhkan untuk mengeksekusi desain menjadi wujud bangunan. Optimisme bahwa arsitektur Bali akan mampu dipertahankan membuncah ditambah dukungan pemerintah dengan menetapkan perda no 2, 3, dan 4 tahun 1974 yang mengatur tata cara pembangunan, ketinggian bangunan serta pembangunan di lingkungan khusus. Sampai tahun 1980-an, arsitektur Bali vs arsitektur modern berakhir dengan 1 : 0 untuk arsitektur Bali.

7261_87_z8758078393_b75e531aee_n

Oberoi Seminyak, Peter Muller Architects

Setelah tahun 1980 an semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke Bali. Kamar kamar hotel penuh dan wisatawan yang datang tidak hanya yang berkantong tebal dan menginap di hotel hotel besar. Banyak yang memilih akomodasi yang lebih murah. Rumah rumah penduduk yang berdekatan dengan objek wisata adalah sasarannya. Homestay menjamur dan pemilik rumah menangguk untung yang tidak sedikit. Selain akomodasi, industry pariwisata juga memerlukan tenaga kerja, sehingga berbondong bondonglah pemuda pemudi bekerja di bidang pariwisata dengan penghasilan yang tidak sedikit. Kawasan dengan objek pariwisata semakin ramai, selain hotel hotel besar dan homestay, kini membanjir juga rumah kos bagi para pekerja. Periode ini menjadi titik tumbuhnya tipology bangunan kost kost an dan homestay yang intinya secara fungsi sama yaitu kamar sewa berharga terjangkau.

Bisnis pariwisata nampaknya semakin tidak terbendung, awalnya diperuntukkan bagi wisatawan berkantong, selanjutnya semakin banyak wisatawan tidak hanya yang berkantong tebal, tetapi juga bermodal pas-pas an yang datang. Kaum pemuda dan penduduk usia produktif berbondong bondong hijrah ke perkotaan terutama yang memiliki objek wisata. Kota semakin sesak, kebutuhan tempat usaha dan tempat tinggal semkain tinggi. Tahun 1990an mulai secara malu malu muncul bangunan ruko. Gabungan tempat tinggal di lantai bawah serta tempat tinggal di lantai atas. Ternyata tipology bangunan baru ini segera mendapat sambutan yang sangat antusias. Kerusuhan Jakarta tahun 1998 dipercaya menjadi faktor pendorong semakin menjamurnya bangunan ini akibat banyak pengusaha Jakarta yang emindahkan usahanya ke Bali. Pulau yang awalnya dijuluki sebagai pulau seribu pura berganti menjadi pulau seribu ruko.  Pembangunan ruko ruko yang sangat massif membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit. Ribuan tenaga kerja berdatangan dari luar pulau karena tidak diperlukan keahlian khusus bangunan tradisional bali untuk membangun ruko. Para pekerja ini ternyata tidak kembali lagi ke daerah asalnya setelah bangunan yang dibangunnya selesai. Sebaliknya semakin banyak bangunan ruko yang dibangun dan semakin banyak pula tenaga kerja yang datang. Perlahan lahan peran tukang tukang local mulai tergantikan. Seleksi alam dimana yang lebih murah mendapat lebih banyak pekerjaan, terjadi. Ribuan pekerja ini tentu membutuhkan tempat tinggal, akomodasi serta tempat makan yangsesuai dengan kantong mereka. Selain berdiri banyak perumahan baru, warung warung pinggir jalan bermunculan di banyak tempat.

Pariwisata telah berhasil meningkatkan perekonomian Bali secara signifikan, menyediakan lapangan kerja, membuka peluang usaha serta meningkatkan APBD. Namun pariwisata juga dinilai banyak kalangan mulai mengerogoti kualitas hidup manusia Bali. Di awal 1970-an,arsitektur Bali begitu disanjung dan dijadikan sebagai acuan utama ketika membangun hotel. Di luar Bali Beach, sebuah keterlanjuran, nyaris seluruh hotel menerapkan prinsip prinsip arsitektur Bali. Kota kota di Bali bagian selatan kini berkarakter campuran. Rumah rumah traditional dari era sebelum 1960-an, bangunan hotel dari era tahun 1970-an, kost kostan serta homestay dari tahun 1980-an, ruko ruko serta rumah rumah petak dan lapak pedagang kaki lima dari tahun 1990-an bercampur baur. Pariwisata tidak berhenti menunjukkan kekuatannya guna meningkatkan ekonomi penduduk. Seiring makin meningkatnya perekonomian, maka tingkat konsumsi masyarakat juga meningkat. Pergaulan international dengan warga seluruh dunia membuka pandangan masyarakat, terutama generasi mudanya, dengan segala hal yang berbau barat. Tidak hanya cara berpakaian namun juga gaya belanja dan makanan. Tahun 2000-an mulai bermunculan restaurant restaurant waralaba menyusul kehadiran mall mall dan pusat pusat perbelanjaan modern yang sudah hard sebelumnya. Arsitekturnya tentu saja disesuaikan dengan brandingnya masing masing. MCDonald, KFC, Pizza Hut, dengan pusat Belanja seperti Matahari, Tiara Dewata, Robinson dan seterusnya menjadi tempat aktivitas baru. Bangunannnya besar, berlantai lebih dari satu, menempati kawasan strategis, biasanya di perempatan jalan yang ramai, dengan arsitektur eklektik kalau tidak bisa dibilang banci, dibilang Bali bukan, modern juga tidak. Keberadaan tempat tempat baru ini semakin tidak terkendali memenuhi kawasan mengurung rumah rumah traditional. Dari arah jalan jalan utama tidak lagi nampak angkul angkul yag berderet, atap atap rumah dari alang alang atau genteng berlumut berpadu dengan atap ijuk bangunan pura.

Jalan jalan utama kini menyajikan pandangan ruko, restaurant waralaba, mall, serta tempat usaha lainnya. Arsitektur Bali kehilangan kepercayaan dirinya sehingga dipandang perlu untuk dipertegas lagi kehadirannya. Untuk mendapat Ijin Mendirikan Bangunan baru, maka desain bangunan haruslah memiliki wajah arsitektur Bali. Kota Denpasar memelopori dengan mengeluarkan Peraturan wali Kota tentang wajah arsitektur Bali. Beberapa tahun belakangan, dipicu oleh semakin murahnya harga tiket penerbangan domestic, Bali mulai dibanjiri wisatawan domestic. Kehadiran wisatawan ini tentu menjadi gula gula baru bagi pegiat usaha property. Peluang ini ditangkap dengan membangun hotel burbudget murah, serta kondotel (entah makhluk apa pula ini). Yang menarik dari fasilitas baru ini adalah desainnya.bangunannya umumnya berbentuk dasar kotak sederhana tetapi dihias sedemikian rupa dengan dua tujuan: menarik perhatian calon pemakai serta memenuhi persyaratan arsitektur local. Warna warni cerah mencolok mata, pola pola hias besar besar menyerupai ukiran tradisional berpadu dengan murda dan ikut celedu yang menumpang di atap dak beton!!

P_KutaBeach_exterior  122

Setelah tahun 2010-an typology bangunan hotel dengan biaya sewa murah, dikenal pula dengan sebutan budget hotel, mulai bermunculan di banyak kawasan di Bali.

Dimana ya, prinsip prinsip konstruksi Bali? Di mana ya tukang tukang yang di tahun 1970-an sangat dihormati, bahkan oleh arsitek asing?

Ah, secercah harapan diungkapkan oleh Michel Picard sebagaimana diungkapkan di awal tulisan ini. Picard menyebutkan pariwisata Bali sangat bergantung pada keajegan budayanya. Sejak awal kemunculannya pariwisata Bali menjual keunikan budayanya dan hal itulah yang tertanam di banyak brosur brosur hingga buku buku travelling tentang Bali. Ekonomi Bali akan jatuh jika bisnis pariwisatanya ambruk, sementara pariwisata akan ambruk jika kebudayaan Bali tidak lagi mampu dipertahankan. Nah jika tidak mau Bali bangkrut, maka orang Bali harus menjaga bisnis kepariwisataan dengan cara menjaga budaya Bali tetap ajeg termasuk arsitekturnya!!

Mari bersama kita renungkan…

Kemana Transportasi Masal Kita?

Sudah sekitar 15 berdiri di bawah tiang halte sementara bis yang ditunggu belum juga menampakkan tanda tanda akan datang. Limabelas menit bukanlah waktu yang terlalu lama, tetapi pada saat cuaca di bawah lima derajat celcius ternyata membuat badan menggigil juga. Umpatan – umpatan kecil dalam hati berebutan hendak keluar, tapi bibir yang gemetar kedinginan menahannya di dalam kerongkongan. Aku kembali merogoh saku celana, mencari hape untuk melihat jam, ahh..belum beranjak juga angka masih menunjukkan 16.55 PM. Langit musim dingin sudah gelap karena matahari hanya singgah sebentar tidak lebih dari 8 jam setiap harinya.

“What time is it?” seseorang berambut pirang di sebelahku bertanya saat aku memasukkan kembali hape ke dalam saku.

“Well, if you are waiting for the bus, it will come in a few more minutes according to the schedule”, sahutku. Yah disini, di kota kecil Oxford, hanya ada bis sebagai sarana angkutan masal, tidak seperti di wilayah eropa daratan; Belanda, Jerman atau kota lain yang memiliki lebih banyak pilihan, tram, metro serta bis. Memang ada taksi tapi itu bukanlah angkutan masal, hanya angkutan pribadi yang harganya tak terjangkau oleh kantong mahasiswa.

“Pfiuhh the buses, they’re always late”, keluh si pirang. “Late?”, sahutku dengan nada tanya dan mata yang membesar, karena menurutku keterlambatanya masih masuk akal. Lalu dia mulai nyeroscos tentang transportasi di Tokyo dimana dia selama beberapa tahun terakhir tinggal. Aku setengah tidak percaya ternyata salah satu orang tuanya adalah orang Jepang.

Di Jepang kendaraan umum selalu tepat waktu. Penduduk kota sangat mentaati jadwal bis, kereta ataupun sarana transportasi lainnya. Kendaraan kendaraan tersebut mengangkut ribuan manusia setiap harinya secara teratur dengan jadwal dan kondisi kendaraan yang nyaman. Memiliki kendaraan pribadi di Jepang adalah kemewahan dan tidak semua orang mampu membelinya, menurut si kawan pirang ini. Hidup manusia di Jepang, yang menurut dia sangat disiplin, tercermin dari jadwal transportasi publik yang sangat jarang telat.

“Bandingkan dengan disini”, katanya, “kita dipaksa menunggu bermenit menit sampai ada bis yang mengangkut kita, “pantas saja negara ini semakin sulit bersaing dengan Jepang”, semakin lancar keluhan keluar dari mulutnya.

Aku membandingkan ceritanya dengan bercerita soal Kota Rotterdam tempat aku sempat mengeyam pendidikan selama setahun. Menceritakan betapa sepeda menjadi sarana transportasi kebanggaan mahasiswa dan dosen. Parkir parkir di kampus didominasi oleh sepeda. Setiap pagi dan sore ratusan atau bahkan mungkin ribuan penduduk bersepeda merayapi jalan jalan kota yang lebar, teduh, dimana jalur sepeda dipisahkan dari jalur kendaraan. Tram dan bis juga banyak tersedia namun sebagian besar mahasiswa mengendarai sepeda. Bukan hanya mahasiswa, tetapi penduduknya sendiri juga sangat gemar bersepeda, di musim dingin sekalipun ketika suhu di bawah 5 derajat hingga beberapa derajat di bawah nol.  Negara Belanda memang sangat berambisi mengembangkan transportasi sepedanya. Beberapa waktu lalu aku sempat membaca rencana persimpangan sepeda yang secara desain sangat radikal, melayang di atas jalur mobil.

988760_391769777620071_1053951568_n

Tidak mau kalah dan menyerah pada mobil, roundabout khusus pesepeda di Belanda dibangun di atas jalan bebas hambatan. Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=391769777620071&set=a.233831203413930.57383.224720560991661&type=1&theater

Sepeda mendapat tempat yang sangat terhormat dalam konstelasi sarana transportasi di Belanda. Perencanaan kota kotanya juga menempatkan sepeda dan berjalan kaki sebagai sarana transportasi utama warganya disamping angkutan massal, bukan mobil atau motor. Nyaris seluruh kota dirancang ramah terhadap pesepeda dengan menyediakan parkir sepeda, sandaran sepeda, jalur yang terpisah dari kendaraan serta rambu rambu lalu lintas serta petunjuk khusus khusus bagi pesepeda. Sekalipun sarana transportasi public yang dimiliki menurut seorang teman kuliah sudah sangat berlebihan, dengan adanya bus, tram, metro, dan kereta api,  sepeda tetap mendapat porsi yang sangat penting dalam perencanaan kawasan. Kota kota yang memiliki jalur jalur sepeda yang baik terbukti mampu mengundang penduduknya untuk menggunakan sarana transportasi ini. Jumlah pesepeda di kota kota Belanda meningkat setiap tahunnya. Transportasi yang nyaman, lancar dan tidak macet hanya sebagian kecil keuntungan yang diperoleh, keuntungan lainnya justru yang sangat didamba selama ini yaitu tingkat polusi yang rendah, penduduk yang lebih aktif sehingga mereka lebih bugar, dan ikatan social menjadi lebih erat karena interaksi antar penduduk juga meningkat.

Cycling-in-Amsterdam

Bersepeda, selain nyaman dan menyehatkan, juga meningkatkan ikatan sosial antar penduduk

Saya jadi teringat pengalaman beberapa tahun yang lalu di Bali. Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang mengendarai mobil bersama istri yang saat itu tengah hamil. Hari sudah petang dan matahari sudah tenggelam. Saya dan istri baru pulang dari kampus sehabis mengajar mahasiswa kelas sore. Sambil ngobrol, dari kejauhan saya melihat seorang nenek beserta cucunya yang masih kecil, sekitar umur 4 atau 5 tahunan. Si nenek melambai lambaikan tangannya mencoba menghentikan kendaraan namun tidak berhasil. Akhirnya mendekati kedua orang itu saya pelankan laju mobil dan berhenti beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

Tyang numpang siki, Pak, sareng cucun tiange[i]”, ucapnya memelas dengan wajah pucat. Sandalnya berbeda warna antara yang kiri dan yang kanan. Pakaiannya lusuh seperti juga baju cucunya yang warnanya sudah pudar. Saya membukakan pintu, mempersilahkan kedua calon penumpang saya masuk ke dalam kendaraan. Saya bertanya mereka dari mana dan arah tujuannya mau kemana, serta sudah berapa lama berdiri disana. Si nenek dan cucunya baru saja mengunjungi rumah saudaranya dan bermaksud kembali pulang. Sudah cukup lama katanya berdiri dan tidak satupun kendaraan mau berhenti untuk mereka tumpangi. Baik keluarga mereka maupun keluarga saudaranya tidak memiliki kendaraan dan sangat bergantung pada kendaraan umum. Apa lacur, kendaraan umum sudah hampir punah dari kota kota di Bali. Transportasi publik sudah tidak mendapat perhatian lagi. Kebijakan transportasi nampaknya perlu direvolusi untuk tidak pasrah pada keadaan, dirombak untuk membuat orang berpaling menggunakannya lagi tidak seperti sekarang yang hidup segan mati tak mau. Sewaktu saya masih di sekolah dasar dulu, kendaraan umum masih sangat gampang dicari, namun kini mereka lenyap entah kemana. Sopir sopir sudah tidak mampu lagi mengoperasikannya akibat sepinya penumpang sementara harga onderdil dan BBM semakin meningkat. Serbuan sepeda motor memperparah keadaan. Ribuan sepeda motor terjual setiap harinya dan membanjiri jalan jalan hingga ke setiap inchinya.  Survey menunjukkan jumlah sepeda motor di kota Denpasar sudah hampir sama dengan jumlah penduduk kota tersebut bahkan sudah hampir malampauinya. Belum ditambah jumlah mobil yang barangkali setara dengan jumlah kepala keluarga, karena nyaris setiap keluarga saat ini memiliki mobil untuk memudahkan transportasi. Sepeda motor dan mobil memaksa sopir sopir kendaraan umum beralih profesi kalau mereka tidak mau bangkrut karena penghasilannya sangat tergantung dari jumlah penumpang yang mereka angkut setiap harinya. Saat para sopir sudah angkat tangan, tertinggallah orang orang seperti nenek dan cucunya yang sekarang duduk di jok belakang mobil saya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa agar mobilitasnya tetap terlayani. Memiliki kendaraan sendiri seolah menjadi satu satunya pilihan dan pilihan itupun sangat sulit mengingat usia dan pekerjaan yang tidak berpihak. Mereka tidak sendiri, masih terdapat ribuan orang seperti mereka yang tidak memiliki kendaraan sehingga mobilitasnya sangat terbatas, membuat mereka semakin terpinggirkan. Terkucilkan diantara padatnya lalu lintas perkotaan.

Saya mengutuki tidak berjalannya sistem transportasi di Bali, salah satu daerah kaya di Indonesia yang kehidupanya melaju cepat bersama laju industri pariwisata. Laju yang meninggalkan orang orang yang tidak mampu bergerak seirama di belakang. Laju pendapatan daerah yang bertolak belakang dengan layanan publiknya yang justru semakin lambat dan cenderung mengalah kepada mekanisme pasar.

Si nenek meminta saya menepikan kendaraan karena sudah sampai di depan gang menuju rumahnya.

Niki, Pak[ii],   ujarnya menjulurkan dua lembar uang bergambar Kapitan Pattimura bergulung. Saya tidak mampu berkata kata, mata saya nanar. Saya menggeleng menolak secara halus pemberiannya.  “Tyang sampun numpang neked deriki, anggon numbas bensin[iii], ujarnya. Sembari kembali menolak uluran uangnya, saya membuka pintu dan membantu si nenek dan cucunya turun dari mobil. Si nenek berulangkali mengucapkan terimaksih sementara si gadis kecil tersenyum lebar ke arah saya memamerkan gigi depannya yang ompong. Transportasi publik benar benar parah, jangankan memberi transportasi public gratis, orang seperti si nenek ini yang masih mau membayar saja masih belum mendapat prioritas.

“How about Bali, your famous island, I bet the transportation must be perfect”, si pirang membuyarkan lamunan saya. Sayamengangguk pelan, tersenyum kecut sembari memberi tanda kepadanya kalau bis sudah datang.

Oxford, 27.12.2013


[i] “Saya mohon tumpangan,Pak, bersama cucu saya.”

[ii] “Ini pak”

[iii] “Saya sudah menumpang sampai disini, (ini) ongkos untuk beli bensin”

Bapak

Bah….mata ini tidak juga mau terpejam. Tengah malam sudah lewat dua jam yang lalu dan rasa kantuk itu tidak juga menghampiri. Ujung jemari terasa dingin gara gara selimut yang bergeser. Sambil merapatkan selimut yang baru kemaren aku beli di Primark, toko serba ada dekat Magdalen Street pusat kota Oxford tempatku sementara tinggal. Harahhh mata ini bukannya menyipit karena kantuk malahan semakin terasa benderang. Barangkali kafein kopi sore tadi mulai bereaksi mempengaruhi otak dan memerintahkannya tetap terjaga. Dalam keterjagaannya si otak ini mengambara kemana mana ke manapun dia mau…

Di luar sana awan berarak beriringan. Cahaya matahari kadang menerobos jika awan yang berlalu tidak terlalu tebal, namun awan tebal lebih sering menutupi cahayanya menyisakan langit kemerahan di ufuk barat. Aku duduk termenung di kursi penumpang menyaksikan prosesi tenggelamnya matahari sore itu sambil menunggu keberangkatan pesawat dari Surabaya menuju Bali. Lamunanku melayang jauh ke belakang semacam flashback di film film drama. Imaji yang tidak begitu jelas menghampiri,kadang berwarna kadang hitam putih namun berangsur mulai jelas, di kepala…

Pagi saat mentari belum menampakkan sinarnya, ibu sudah sibuk di dapur. Menyiapkan segala keperluan hari itu saat udara masih dingin dan pagi masih berselimut kabut tipis. Aku terjaga dari tidur sedikit agak pagi. Bapak biasanya sudah bangun dan menyapu di halaman rumah, membersihkan daun jeruk di sanggah serta daun srikaya di natah depan bale dangin. Rengekanku rupanya mengusik aktivitasnya. Setiap pagi setelah menyapu halaman bapak selalu mengajakku jalan jalan di sekitar perkampungan rumah kami. Rumah rumah di kampong tersusun berderet dalam petak petak berukuran hamper sama. Ujung jalan di bagian hulu adalah sebuah pura kecil dengan pohon pule raksasa yang tidak seorangpun tahu kapan dibangun. Sementara di bagian hilir kampong terdapat sungai yang memisahkan perkampungan kami dengan jalan besar yang menghubungkan Kota Ubud dengan Gianyar dan Denpasar. Rumah rumah tersusun di kiri dan kanan jalan tanah. Jalan tanah di depan rumah pagi itu masih cukup gelap namun warna tanah kecoklatan sudah nampak. Bapak meletakkanku di atas bahunya, mesunggi kata orang di kampong, berjalan menyusuri jalan yang setiap sore biasanya rame celoteh anak kecil bermain. Pagi itu masih cukup sepi, sambil berjalan, bapak mendendangkan lagu lagu tradisional. Pupuh dandang gula, ginanti, ginada dan entah apa lagi aku tidak begitu ingat. Mataku masih terkantuk kantuk kadang terpejam sesaat. Tembang bapak diiringi suara kokok ayam jantan menjadi teman setiaku setiap baru bangun pagi. Nyanyian, lebih tepat disebut gumaman itu akan berakhir jika ibu sudah memanggil, tanda kopi sudah diseduh. Harum aroma kopi mengakhiri ritual jalan jalan pagi ditemani tembang ku bersama bapak. Setiap pagi ibu selalu membuat air hangat dulu sebelum memasak, setelah air panas dan kopi terseduh untuk bapak dan kakek, barulah ibu mulai memasak. Sewaktu kecil aku dilarang minum kopi, katanya kopi tidak baik buat anak kecil. Sambil menunggu kopi dingin, vespa berwarna abu tua bapak dikeluarkan dari emperan bale daja ke halaman. Diperlukan waktu sekitar sepuluh menit untuk memanaskan motor itu untuk nanti dipakai oleh bapak. Sembari memanaskan, tangannya yang kokoh mengelap seluruh permukaan motor sambil sesekali menghampiri kopi di bataran bale dangin, di dekatku duduk, untuk diseruput. Jam tujuh pagi bapak berangkat ke kantor, punggungnya yang bungkuk di atas motor perlahan lahan hilang di turunan ujung jalan dari pandanganku. Bapak bekerja di dinas pendidikan kecamatan sebagai pegawai administrasi. Setiap hari berangkat jam tujuh pagi dan biasanya pulang jam dua sore. Sebelum bekerja di kantor dinas pendidikan, bapak bekerja serabutan, tukang jarit celana kolor, menulis serabutan di Koran serta majalah hingga menjadi tukang foto keliling pernah dilakoninya. Disamping pekerjaan tersebut, bapak juga masih bertani ke sawah sesekali membantu kakek yang sudah mulai renta.  Saat itu hari kerja tidak seperti sekarang yang lima hari tetapi enam hari sampai sabtu. Hari jumat adalah hari yang selalu aku tunggu, karena selain pulang lebih cepat, bapak selalu membelikaknku majalah anak anak ananda, barang langka di kampong pada saat itu. Majalah yang selalu menarik perhatian kami, anak anak kampong untuk berkerumun mengitarinya sambil aku membuka lembar demi lembar halamannya. Mata bulat teman teman sebayaku, kadek, balik, komang tidak berkedip melihat gambar gambar di halaman majalah. Sekalipun aku belum bisa membaca, bapak tetap rutin membelikanku majalah. Selain majalah sesekali dia juga membawakan kami buku dongeng anak anak berbahasa Bali, satua Bali.  Bapak sangat menyayangi kami, aku dan kakakku. Malam sebelum tidur dongeng dongeng dicakan sambil kami berebutan rebah di dada atau lengan bapak. Dua hingga tiga dongeng dibacakan secara berulang ulang tiap malam tapi tidak pernah kami bosan. Kami tertawa kalau bapak menceritakan hal lucu atau menirukan mimic monyet, dan bergelung takut kalau dia menirukan suara macan atau menunjukkan wajah galak raksasa dalam dongeng. Kadang kami terlelap jauh sebelum dongeng berakhir.

Tak terasa pesawat yang aku tumpangi telah sampai di Bandara Ngurah Rai. Langkahku tergesa melewati orang orang yang menjemput kerabatnya. Langit sudah gelap dan lampu lampu bandara menyilaukan mata. Aku menutupi sebagian wajah sambil menuju pintu keluar dan mencari taksi. Tubuhku terasa ringan, seorang sopir taksi menyebut angka yang aku lupa persisnya tapi aku iyakan saja. Tubuhku mati rasa. Tak sadar lagi taksi meluncur melewati jalanan padat kota Denpasar menuju Ubud. Jarak terasa sangat jauh. Waktu seolah membeku. Tiba di depan rumah, halaman sudah ramai oleh tetangga dan kerabat. Mereka menggunakan pakaian adat ringan. Berkain sarung dan memakai destar di kepala. Suasana terasa asing. Bale dauh sudah sesak seperti juga halnya teras bale delod. Gelas gelas kosong bekas kopi tampak di depan duduknya orang orang. Wajah wajah murung irit bicara membuat atmosfer terasa sesak. Aku mencari ibu. Diantara kerumunan di sekitar natah beranjak ke dapur. Tiba tiba wajahnya muncul diantara kakak dan saudara misanku. Matanya sembab, dan begitu melihatku tangisnya pecah. Air mataku mengalir serupa sungai, badan terasa berat. Aku menunduk menumpukan kedua telapak tanganku di atas lutut. Suara ibu bergetar, sambil tangannya mengusap punggungku, “Bapak sudah pergi…”