Di Simpang Jalan, Identitas Arsitektur dan Perkotaan di Bali

DSC_2754

Bale Kambang di lokasi yang dipercaya sebagai pusat kerajaan Gelgel yang menguasai Bali dengan gaya bangunan “Bali barock” kaya ornamen dan warna. 

Globalisasi nampaknya telah menjadi gelombang mahadahsyat yang berupaya untuk menghapus segala jejak kekhasan yang dimiliki suatu kawasan, baik fisik maupun non-fisik, menjadi sesuau yang seragam, seirama dimana mana di seluruh dunia. Dahsyatnya gelombang globalisasi ini diramalkan akan membuat segala gerak gerik pembangunan terutama di bidang perekonomian akan menunjukkan wajah yang identik di seluruh dunia dan kemudian akan menular ke sendi sendi kehidupan lainnya termasuk arsitektur dan wajah kota-kota di seluruh dunia akan identik. Alvin Toffler sendiri sempat berujar bahwa dunia adalah rata (the world is flat) segala sesuatunya akan seragam dan tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari upaya ‘penyeragaman’. Namun pendapat ini mendapat rival dari Manuel Castells, yang menyebutkan dunia tidak pernah akan rata. Setiap aksi selalu akan mendapat reaksi. Aksi gerakan globalisasi, betapapun dahsyatnya, selalu akan mendapat perlawanan dari kelompok kelompok yang masih menginginkan untuk mempertahankan identitas yang dimilikinya alih alih bergabung dengan pergaulan dunia yang bisa jadi masih asing bagi mereka. Dalam bukunya, The Power of Identity, Castells (2007) menyebutkan tiga hal yang menjadi semacam gerakan perlawanan identitas terhadap gelombang penyeragaman yang terjadi. Gerakan pertama adalah legitimate identity dimana kelompok besar berusaha melegitimasi identitasnya menjadi lebih kuat. Gerakan kedua adalah resistance identity dimana kelompok yang terstigma oleh identitas yang lebih besar berusaha mempertahankan identitas yang dimilikinya dengan membentuk pertahanan untuk mencegah terjadinya penjajahan identitas. Gerakan yang terakhir adalah project identity dimana sekelompok orang mencoba membangun identitasnya dengan material yag mereka miliki, memori, kesamaan asal, kesamaan suku, dll.

Bagaimana dengan arsitektur dan kawasan perkotaan? Apakah wajah arsitektur dan perkotaan di seluruh dunia akan semakin seragam? Perdebatan soal identitas telah terjadi sejak dimulainya era revolusi industri. Pada masa revolusi industri terjadi evolusi besar-besaran di bidang material, manufaktur dan transportasi. Materi materi baru yang sebelumnya tidak dikenal; kaca, baja, beton, diciptakan sebagai bahan dengan keunggulan yang spesifik. Proses pembuatannyapun tidak memerlukan waktu yang lama dan dapat dikerjakan secara massal memenuhi permintaan yang besar. Revolusi di bidang transportasi dengan kapal-kapal dan kereta bermesin uap memungkinkan pengiriman material menjadi lebih mudah ke seluruh dunia. Jauh sebelum masa revolusi industri, arsitektur dibuat oleh masyarakat dengan material yang tersedia secara lokal. Para pekerjanya berasal dari masyarakat setempat dengan pengetahuan teknik konstruksi diperoleh secara turun temurun dengan sedikit inovasi. Karakter lokal terwujud tanpa disengaja, tetapi merupakan keniscayaan dari perpaduan material setempat, keahlian setempat dikerjakan dengan peralatan yang ada dan berkembang di kawasan tersebut. Pada masyarakat dengan kebudayaan yang cukup tinggi, simbol simbol yang dipercaya oleh masyarakat setempat turut mempengaruhi wujud arsitekturnya (Oliver, P., 2006).

photo-1

 

German Pavilion untuk Barcelona Expo, salah satu karya Mies van Der Rohe yang sangat fenomenal pada masanya dengan material baja-beton-kaca yang terhitung sebagai material baru pada masa itu.

Setelah masa revolusi industri, dengan ketiadaan batasan masalah geografis, material bisa diperoleh darimana saja tidak harus dari lokasi sekitar, para pekerjapun bisa dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain sehingga nilai nilai arsitektur lokal mulai memudar terutama setelah perang dunia kedua. Perang dunia yang menyebabkan banyak kota hancur dan harus dibangun sesegera mungkin guna menyediakan tempat tiggal bagi jutaan masyarakat dunia. Bahan bahan bangunan baru, kaca, baja, beton sangat efektif dalam upaya ini. Masa ini dikenal sebagai jaman keemasan gaya arsitektur international style. Tidak jelas benar darimana asal mulanya namun patut diduga hijrahnya kelompok Bauhauss pimpinan Walter Gropius bersama-sama Ludwig Mies van Der Rohe dari Jerman ke Amerika sebagai awal mulanya. Bangunan bangunan baja dan kaca ala Mies serta beton ala Gropius segera menjadi trend kala itu. Gelombang modernisasi inilah yang menyebar ke seluruh dunia. Dimana mana dapat dijumpai gedung berbentuk kotak murni berbahan baja dan kaca ala Mies. Trend ini lalu menjalar pula ke pendidikan arsitektur yang mulai diformalkan menggantikan proses membangun sebelumnya yang terjadi melalui proses alih tangan turun temurun (handed down through generations) yang terjadi sebelum masa revolusi industri. Pola belajar Bauhauss menjadi norma baru dalam pengajaran arsitektur di hampir seluruh sekolah arsitektur seluruh dunia dengan slogannya “Form Follows Functions”. Bukannya tanpa perlawanan, gerakan ini melaju sangat massif terutama di kota kota barat dan secara perlahan menuju ke kawasan Asia. Perlawanan diantaranya muncul melalui gerakan postmodern yang berkembang di Amerika dan sebagian Eropa (barat) ataupun critical regionalism di Jerman. Para penentang International style ini timbul dan tenggelam dalam melakukan perlawanan namun nampaknya arus gelombang international style ini masih sangat perkasa dengan sokongan ekonomi di baliknya dan berlangsung hingga saat ini. Lihat saja perlombaan pencakar langit yang saat ini terjadi di seluruh dunia. Meskipun bentuknya semakin kreatif, tidak melulu kotak kotak massif, namun nafasnya tetap saja seragam.

Bagaimana dengan di Bali? Hampir saja dilanda gerakan internasionalisasi bangunan, ketika Bali Beach dibangun tahun 1963, nampaknya antisipasi yang dilakukan cukup berhasil pada awalnya. Kini setelah bangunan tradisional bukan lagi keniscayaan namun hanya merupakan salah satu pilihan dari sekian banyak pilihan,nampaknya perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang tradisi berarsitektur lokal terutama bagi generasi baru arsitek yang akan menentukan masa depan Bali. Banyak kekhawatiran muncul bahwa sekarang arsitektur Bali ada di ambang kehancuran. Yang patut diingat, Bali tidak sendiri. Banyak kawasan lain di seluruh dunia mengalami posisi seperti yang dialami oleh Bali.

Dalam pengantar utuk edisi tahun 2012 jurnal Architectural Design, Paul Brislin menyebutkan:

The loss of sense of historicity and evolutionary identity is clearly becoming major concern in numerous countries developing at the accelerated rate of today’s aggressive investment strategies, expedient methods of construction and universal architectural fashions. (Paul Brislin Architectural Record 2012)

 Proses homogenisasi sebagaimana disebutkan diatas terjadi di seluruh dunia, dan manusia mencari cari identitas yang mereka miliki dari masa lalu dan tradisi. Barangkali banyak yang bertanya untuk apa kita mencari identitas? Kenapa tidak bergabung saja dengan kemajuan yang telah dan sedang berlangsung? Castells (2007) menyebutkan bahwa identitas adalah sumber nilai-nilai diri manusia. Manusia yang tidak memiliki identitas akan kebingungan menentukan arah masa depan karena dia kebingungan pula menentukan tata nilai dirinya. Demikian juga halnya dalam arsitektur, ketika dia kehilangan identitasnya. Arsitektur dan tempat yang tidak memiliki identitas kehilangan sejarahnya, kehilangan akar budayanya, kehilangan nilai nilai tempat yang menyebabkan orang yang tinggal di dalamnya juga kehilangan nilai nilai hidupnya. Identitas suatu tempat (selanjutnya akan disebut sebagai place identity untuk memudahkan dan mengurangi kerancuan istilah) bersumber dari sejarah dan tradisi yang kita warisi dari puluhan generasi sebelum kita. Apakah kita hanya menerima dalam posisi pasif? Kita yang mewarisi place identity harus me re-kreasi warisan tersebut, meng-aktual-isasikan nilai nilai yang kita warisi dan menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Itu pula yang dilakukan oleh generasi sebelumnya,menyesuaikan apa yang mereka warisi dengan jaman di mana mereka hidup. Meskipun mengalami berbagai re-kreasi dan re-aktual-isasi, keber-akar-an (rootedness) identity tersebut masih terjaga. Banyak yang pesimistis dengan mengatakan bahwa pencarian place identity hanyalah sebagai nostalgia, konservatif, serta menghambat kemajuan. Hal tersebut terjadi karena place identity hanya dilihat sebagai proses copy-paste bentukan fisik dari apa yang sudah dilakukan oleh generasi sebelum kita tanpa re-kreasi dan tanpa re-aktual-isasi.

IMG_0459

Meru, salah satu pencapaian teknologi terbaik konstruksi kayu di Bali di masa lalu.

Wang-Shu, pemenang Pritzker Prize tahun 2012 mengakui bahwa di awal-awal masanya berkiprah sebagai arsitek professional sempat terjebak pada pradigma post-modern yang bersumber dari tata nilai barat karena pada masa dia memulai prakteknya aliran tersebutlah yang sedang trend di seluruh dunia. Setelah puluhan tahun menjalani praktek, perlahan dia merasakan ada nilai yang hilang dari karya karya yang dia hasilkan karena semua tampil serupa seragam dengan karya karya di tempat lain. Menyaksikan pula negaranya diserbu oleh arsitek arsitek asing dengan gaya bangunan yang serupa, semakin membuatnya membulatkan tekad untuk beralih ke desain yang lebih kontekstual. Desain yang memiliki keber-akar-an dengan tempat dimana bangunan tersebut akan berdiri. Karya karyanya setelah periode itu menunjukkan nilai-nilai tinggi arsitektur China tanpa meniru sedikitpun bentuk atau ragam hias dari China. Yang dibawa oleh Wang Shu dalam setiap karyanya yang mutakhir adalah nilai nilai luhur (high value) arsitektur traditional China. Keberakaran (rootedness) karyanya sangat jelas terasa meskipun secara fungsi dan program ruang sangat modern.

Kehilangan place identity dipercaya menurunkan kualitas suatu lingkungan yang pada gilirannya akan menurunkan kualitas hidup penduduk yang tinggal di dalamnya. Tanpa identitas, kita menjadi terasing dan merasa tidak memiliki keterikatan dengan lingkungan sekitar kita. Identitas Bali yang sangat kuat di masa lampau telah menghipnotis banyak orang. Banyak anthropolog, seniman, dan peneliti yang mengungkapkan betapa vibrasi Pulau Bali demikian kuat dibandingkan kawasan sekitarnya. Relph, (1976) menyebutkan place identity dapat dikenali dari tiga hal pokok: tampilan fisik dan wujud suatu kawasan, aktivitas dan fungsi fungsi ruang yang dapat diamati serta yang terakhir adalah makna dan symbol yang tersirat dari sebuah kawasan. Pada masa lalu tampilan, fungsi fungsi baik skral maupun profane dan symbol symbol yang tercermin di dalamnya sangat kuat dimiliki oleh Bali. Kuatnya ikatan antara ketiga komponen ini menyebabkan vibrasi place identity menyatu dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Bali kala itu. Dari ketiga elemen pembentuk place identity di atas, dua yang pertama, tampilan fisik serta aktivitas cukup mudah dikenali karena bisa dirasakan dengan panca indra manusia. Elemen yang ketiga yaitu makna dan symbol lebih sulit untuk dikenali karena bersumber dari hal hal yang bersifat intangible, sejarah, tradisi, memori kolektif serta persepsi manusia. Tradisi yang berlangsung dari generasi ke generasi telah memelihara dan menjaga kebijakan eksistential yang terakumulasi dari generasi ke generasi mewujud menjadi makna dan simbol. Kebijakan eksistensial yang menurun dari generasi ke generasi inilah yang selanjutnya menjadi sumber nilai dalam pengembangan wacana identitas.

Akumulasi kebijakan dari generasi sebelumnya telah diwariskan ke generasi yang hidup di masa sekarang, kita. Tugas generasi sekarang adalah melakukan re-kreasi dan re-aktualisasi dari nilai nilai kebijaksanaan tersebut agar sesuai dengan nilai nilai kekinian. Ketidakmampuan untuk melakukan re-kreasi dan re-aktualisasi akan berakhir pada peniruan membabi buta terhadap apa yang telah dikembangkan oleh generasi sebelumnya. Sebaliknya meninggalkan tradisi yang sudah terwarisi dan menggantikannya dengan yang baru akan membawa pada keterasingan (alienated) karena kita terlepas dari keberakaran (rootedness) dengan masa lalu. Rumah tua, tempat kita tinggal yang kita warisi dari orang tua dan juga diwarisi oleh orang tua kita dari generasi sebelumnya, terasa nyaman tidak hanya karena tampilan fisiknya namun juga karena ada nilai nilai yang tertanam di dalamnya. Ada memori bersama, ada persepsi yang sama, ada sejarah keluarga yang terpatri dan berjalan dari generasi ke generasi. Nilai nilai tersebut tidak bisa dirasakan di dalam rumah baru yang dibangun dengan cita rasa modern.

Tata kehidupan akan selalu berubah sebagaimana telah terjadi dan berlangsung selama berabad-abad. Dunia selalu bergerak dan seterusnya akan begitu. Dalam dunia yang selalu bergerak ini manusia selalu berusaha mencari tempat berlindung. Tempat di mana dia merasa sebagai “rumahnya” tempat dimana dia merasa memiliki keterikatan emosional. Tempat tempat semacam itu semakin sulit untuk ditemui akibat proses homogenisasi yang membuat banyak yang percaya bahwa proses ini membuat perbedaan antara satu tempat dengan tempat lain menjadi semakin kabur. Masa lalu dan tradisi pelan pelan semakin memudar dan cita rasa kehidupan menjadi semakin hambar. Ikatan emosional antara manusia dengan tempat yang ditinggalinya semakin menipis yang pada gilirannya membuat kualitas hidupnya menurun. Leluhur orang Bali sangat menghargai tanah dan bumi yang dipijak yang mereka warisi dari generasi sebelumnya. Bagi orang bali tanah ini harus diwariskan ke generasi selanjutnya, karena orang Bali percaya lahan adalah milik Tuhan. Ikatan antara orang Bali dengan lahannya sebanding dengan ikatannya dengan tuhannya.

Bali belongs to the Gods. The inhabitants are no more than transitory tenants of the lands who cultivate it and are nourished from its yield during the short span of the body’s residence on earth. People die, but the earth remains – the property of Gods. (Jane Belo, 1953).

Hubungan orang Bali dengan tanah tempatnya tinggal diwujudkan dalam berbagai bentuk. Tidak ada gunung, bukit, lembah, sungai yang angker, pohon yang besar dan bahkan kuburan yang tidak disertai oleh pura. Orang Bali sangat menghormati tempat dimana mereka tinggal. Penghormatan terhadap tempat ini mempererat hubungannya dengan tempat dimana mereka tinggal. Penghormatan terhadap tempat selain mewujud pada pendirian pura tempat melangsungnya upacara juga dilakukan dalam pembangunan. Sebelum memulai pembangunan selalu diawali dengan upacara-upacara tententu, mohon ijin membuka lahan, mohon ijin untuk menggali tanah dan sterusnya hingga mengupacarai bangunan yang telah dibangun ibaratnya bangunan tersebut memiliki jiwa (value). Bentuk bentuk bangunan penuh symbol dan makna mulai dari besaran lahan yang boleh dibangun, penempatan fungsi fungsi (zonasi), tata ukuran anthopometri, pilihan bahan hingga hari dimulainya pengerjaan. Setiap proses melibatkan sang calon empunya rumah. Dari proses awal pembangunan ini pelibatan calon empunya rumah telah menanamkan identitas dan rasa memiliki terhadap bangunan yang akan ditempatinya.

Saat ini penduduk Bali sudah semakin heterogen tidak hanya dari sisi pekerjaan namun juga dari berbagai latar belakang suku, agama dan asal. Banyak migrant yang berasal dari luar Bali yang kini menguasai lahan lahan, membangun tempat tinggal, merubah sawah tegalan menjadi kawasan permukiman dan seterusnya. Pandangan bahwa bumi adalah milik Tuhan dan harus wariskan ke generasi berikutnya telah berubah. Tanah tanah telah dijual. Pembangunan tidak lagi melalui permohonan ijin membuka lahan. Tradisi yang menjadi sumber tata nilai kehidupan tidak lagi menjadi pedoman karena proses pembangunan, mulai dari pembelian lahan, hingga pembangunan sama seperti di tempat tempat lain di belahan dunia lain. Pada posisi seperti ini, banyak yang menyebutkan Bali telah kehilangan place identity nya atau dalam bahasa kerennya telah kehilangan taksu. Taksu yang diwarisi dari ratusan generasi sebelumnya gagal di re-aktualisasi dan di re-kreasi namun telah tergantikan secara drastis dengan tata cara baru yang lebih modern. Ketidak berhasilan ini bisa dirunut dari tidak terjadinya proses alih tangan (handed down) dengan baik pengetahuan tradisional. Buku buku atau literature tentang arsitektur Bali sangat terbatas dan sebagian besar hasil penelitian tidak terpublikasi.

Kini arsitek luar Bali bisa dengan mudah membangun di Bali dengan gayanya masing-masing, dengan pilihan mode, material, teknologi dan warnanya. Arsitek lokalpun lebih mudah untuk mempelajari bangunan bangunan modern karena sumber bacaan dan literature yang berlimpah. Perhatikan karya karya arsitek asing sebelumnya,Peter Muller dengan Oberoi dan Amandarinya, atau I. B.Tugur dengan bangunan klasik kompleks Arda Chandra, Gedung DPRD Bali dan lain-lain yang dalam pembangunannya melibatkan undagi-undagi terlatih serta melalui prosesi tradisional pembangunan lalu bandingkan dengan bangunan-bangunan baru yang dikerjakan oleh tukang-tukang dari luar pulau dengan keahlian yang berbeda. Bangunan yang dibangun pada masa sebelum 1980an masih memiliki akar tradisi (rootedness) yang kuat dibandingkan dengan bangunan bangunan baru yang dibangun setelah tahun 1990an. Pemahaman terhadap tata cara konstruksi, tata olah material, tata estetika dan tektonika serta kemampuan menterjemahkan symbol symbol serta makna yang tersirat yang telah diwarisi dari generasi ke generasilah yang membuat perbedaan antara bangunan pada kedua masa yang berbeda di atas.

Pada akhirnya identitas suatu kawasan, sebagaimana diungkap Juhani Palaasma, sangat tergantung dari kemampuan generasi masa kini membaca dan menterjemahkan tradisi sebagai akar dari nilai nilai yang dianut oleh masyarakat suatu kawasan dan mengaktualisasikannya secara aktif. Place identity merupakan sumber tata nilai bagi sekelompok masyarakat yang Mendiami suatu kawasan sebagaimana diungkapkan oleh Georgia Butina Watson dan Ian Bentley:

Place identity is the sets of meanings associated with any particular landscape which any particular person or group of people have draws on in the construction of their own personal or social identities (G. Butina Watson and I. Bentley, 2006).

Apapun konsep yang telah didiskusikan, pemahaman tentang place identity tetap dikembalikan kepada masyarakat yang mendiami tempat tersebut, apakah identitas tersebut akan dipertahankan, diteruskan, atau diganti sama sekali dengan yang baru. Pembangunan identitas, pada masa kini, adalah pilihan bukan keniscayaan seperti di masa lampau.

2 thoughts on “Di Simpang Jalan, Identitas Arsitektur dan Perkotaan di Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s