Indonesia: Zamrud Khatulistiwa

Pagi belum menunjukkan rupa sinar yang sempurna. Kakek  terlihat duduk-duduk di kelumpu (lumbung padi) bersama rekan-rekannya sesama petani di kampung kami sambil memegang gelas kopinya masing masing. Mereka nampaknya membicarakan rencana menanam padi di sawah milik keluarga yang telah kami warisi dari beberapa generasi. Kata kakek sawah itu bukan milik kami, kami hanya mewarisi hak menggunakan dan mengolahnya, sawah-sawah itu milik Ida Betara dan pada saatnya nanti harus dikembalikan kepada yang punya. Sawah-sawah itu menghidupi kami sekeluarga dengan hasilnya setiap musim panen. Matahari belum terlihat di ufuk timur, namun bias sinarnya di langit sudah cukup membuat atap-atap rumah, yang terbuat dari alang alang, nampak jelas diantara remang kabut yang bercampur dengan asap dari dapur dapur rumah penduduk, yang telah disibukkan oleh aktivitas memasak dan menjerang air. Kakek dan rekan-rekannya, yang sebagian besar adalah juga kerabat, sudah berangkat ke sawah, menyusuri jalan jalan setapak yang belum sepenuhnya benderang. Mereka tentu sudah hapal dengan setiap jengkal setapak yang dilewati setiap hari dari rumah menuju sawah. Bahkan dalam keadaan gelap sekalipun. Sawah sawah di kampung terbagi-bagi dalam beberapa kelompok. masing masing kelompok menanam tanaman yang berbeda-beda sesuai dengan giliran yang telah disepakati. Ya, kata kakek, air yang mengaliri sawah-sawah kami disediakan oleh Tuhan dalam jumlah yang terbatas. Konon hal ini supaya semua orang, para petani khususnya, bisa lebih bijak menggunakan air. Air tersebut bersumber dari Danau Batur di kaki Gunung Batur yang sangat tinggi. Mengalir melalui mata air yang muncul dari dalam tanah di Tampaksiring meliuk liuk seperti ular di lembah lembah Sungai Petanu dan Pekerisan. Air yang terbatas itu dibagi-bagi bergiliran. Jika sedang mendapat giliran menanam padi, maka air dialirkan ke petak petak sawah, sementara petak yang tidak mendapat aliran air mendapat giliran menanam palawija. Demikian air dibagi bagi adil dan merata kepada semua petani sehingga sawah sawah bisa menghasilkan panen yang juga adil dan merata.

Image

Aku bersiap berangkat ke sekolah dengan wajah masih menyisakan kantuk yang belum sepenuhnya sirna. Jarak sekolah hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah. Setiap pagi kami, anak anak kampung, berjalan kaki berkelompok-kelompok ke sekolah. Saling memanggil agar tidak ada yang tertinggal. Sekolah, selain tempat belajar, adalah juga tempat bermain, mengenal alam serta tempat bertemu dengan anak anak dari kampung lain. Pak Gung Aji, guru tertua di sekolah, adalah yang paling pintar bercerita. Cerita beliau selalu membuat kami melongo tidak berkedip saking indahnya rangkaian kata kata yang tersampai dari bibirnya yang hampir keriput. Entah berapa umurnya saat itu, yang jelas rambutnya sudah sepenuhnya putih. Sepatu hitamnya selalu mengkilat bersih. Pakaiannya sederhana seperti juga guru-guru yang lain. Beliau adalah orang pertama yang hadir di sekolah setiap pagi. Menyapu halaman, mengepel lantai kantor serta membersihkan kaca kaca jendela sekolah beliau lakukan jauh sebelum matahari terbit. Setelah semua pekerjaannya selesai barulah pulang untuk mandi dan berganti pakaian dan kembali lagi dengan sepeda onthel hitamnya yang terawat. Kami, anak anak sekolah membantu beliau melakukan semua pekerjaan tersebut dan melanjutkan jika pada waktunya beliau pulang pekerjaan tersebut belum selesai. Kami sangat mencintai sekolah ini seperti juga orang-orang lainnya di kampung.

Angin siang itu bertiup semilir dari arah jendela kelas yang masih tampak mengkilat dengan cat berwarna hijau muda. Warnanya masih tetap terawat sejak jaman Belanda. Sekolah kami dibangun tahun 1944. Dindingnya berwarna putih dengan lantai semen. Bangku bangku kayu jati yang kokoh, papan tulis besar berwarna hitam serta satu lemari besar di pojok ruangan adalah barang yang akrab dimata para siswa. Pak Gung Aji tengah bercerita tentang gunung berapi yang ada di Indonesia.

“Terdapat tidak kurang dari 400 gunung berapi aktif di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke”, beliau memulai kisahnya. Konon gunung-gunung berapi itu sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk memberi kesuburan bagi tanah Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil. Gunung-gunung berapi tidak pernah meletus bersamaan. Semburannya yang dahsyat, berasal dari magma di dalam perut bumi, memuntahkan lava pijar yang panas, hujan abu, pasir dan batu batuan besar dan kecil. Masyarakat di sekitar gunung sudah diberi tanda-tanda oleh alam tentang kejadian ini sehingga, sekalipun banyak yang meninggal, sebagian besar tetap masih bisa menyelamatkan diri. Sekian waktu setelah gunung meletus, masyarakat kembali ke rumahnya masing-masing. “Letusan gunung berapi, selain menumbulkan penderitaan, juga membawa nikmat yang tak terhingga bagi manusia”, demikian Pak Gung Aji melanjutkan. Tanah-tanah menjadi subur karena lapisan abu vulkanik yang gembur, pasir-pasir dan batu batu untuk pembangunan serta tidak jarang pula logam-logam mulia yang terlontar dari dalam perut bumi. Gunung-gunung api bukanlah musuh bagi peradaban bangsa Indonesia. Gunung-gunung berapi adalah berkah dari Tuhan untuk bumi Indonesia. “Lihatlah sawah-sawah yang menghijau di tepian desa kita, bangunan-bangunan yang kita tempati, semua bisa terlaksana karena berkah yang diberikan oleh gunung berapi”. Memanglah tanaman hijau menghampar sejauh mata memandang dari tepian desa. Pohon-pohon buah yang batangnya senang kami panjati untuk mengambil buahnya, sawah-sawah kakek dan penduduk desa lainnya, ladang dan kebun memberi penghidupan bagi seluruh desa.

IMG_5446

“ Negara kita, Indonesia adalah yang terkaya di dunia” tangannya bergerak menunjuk peta yang terpasang di papan tulis hitam, “masing-masing pulau memiliki hasil yang berbeda beda, tidak semuanya sama”.

Kami anak kampung tentu tidak paham apa yang dihasilkan oleh masing-masing pulau, tapi dari beliau kami mengetahui bahwa timah dihasilkan di Buton, tembaga dan emas ditambang dari perut bumi Irian Jaya, minyak dihasilkan dari lepas pantai Natuna. Sementara pulau-pulau besar, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, menghasilkan kayu-kayu dengan kualitas terbaik di dunia. Kayu-kayu terbaik itu antara lain dipakai untuk membangun sekolah kami, meja-meja dan bangku serta lemari yang ada di kelas. Nenek moyang bangsa Indonesia, yang terkenal sebagai pelaut ulung, membuat kapal-kapal layar besar dari kayu-kayu yang dihasilkan oleh hutan-hutan terbaik milik Bangsa Indonesia. Perahu-perahu tersebut melayari seluruh negeri yang terdiri dari beribu-ribu pulau dengan adat kebudayaannya yang berbeda-beda, bahkan hingga jauh ke madagaskar di Afika.

“Adat budaya bangsa Indonesia sungguh kaya, seperti juga alamnya yang sangat subur dan kaya, penduduknya saling menghormati dan ramah bertegur sapa”. Kata beliau, Pemerintah Kolonial Belanda sangat gusar dengan keramah tamahan antar penduduk sehingga pada jaman penjajahan harus diadu domba. Namun setelah penjajahan, dengan dasar Negara Pancasila, semua berhasil dikembalikan oleh bangsa yang besar ini. Penduduknya bersatu padu, giat bekerja untuk kemakmuran bangsa. Sekalipun memeluk agama yang berbeda-beda namun semua bisa hidup berdampingan dengan damai. Tanah yang subur menghijau, kaya hasil tambang dan hasil hutan, belum lagi lautan yang memberi hidup jutaan nelayan di pesisir-pesisirnya yang menakjubkan. “Negeri ini dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa, permata yang sangat indah, kaya raya dan terletak tepat di garis khatulistiwa”, ujarnya dengan mata berbinar. “Dengan segala kekayaan yang kita miliki, tidak boleh sombong dan serakah, tanah diolah dengan cara yang bijak, ikan-ikan yang masih kecil dibiarkan hidup supaya tidak punah, demikian juga hasil tambang tidak boleh digali secara serampangan. Kekayaan alam kita harus dijaga agar bisa memberi manfaat tidak untuk generasi hari ini saja tetapi untuk generasi-generasi selanjutnya, generasi yang akan terus menjaga zamrud di khatulistiwa ini”.

Image

Apa yang diceritakan Pak Gung Aji membuat setiap orang di kampung kami, yang tidak pernah melihat keindahan dan kekayaan seluruh wilayahnya, sangat bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Pak Gung Aji telah mengajar ribuan anak di kampung kami. Bahkan bapakku dulu juga diajar oleh beliau saat masih di Sekolah Rakyat.

Siang itu, sepulang sekolah, aku dan teman-teman menyusuri jalan kampung, di bawah rumpun bambu yang sejuk berceloteh ramai.  Seekor induk ayam meloncat dan mengembangkan sayapnya sementara paruhnya mengeluarkan suara riuh rendah, karena terkejut dengan kehadiran kami melintas di dekat mereka, membuat ayam ayam lain yang sedang asyik mengorek-orek tanah lembab di bawah pohon teep ikut ikutan bersuara riuh rendah.  panasnya matahari siang itu tersaring oleh rimbunnya dedaunan menaungi jalan serupa atap menutup bagian atas rumah menciptaa ruang nyaman.

Perut sudah keroncongan saat sampai di rumah. Tanpa membuka sepatu dan mengganti baju aku langsung saja menghambur ke dapur. Bapak dan ibu nampaknya belum pulang bekerja, sementara nenek baru saja pergi menyusul kakekku ke sawah sambil membawakan makan siangnya. Aku membuka wadah nasi. Warnanya yang putih, membuat nasi tersebut nampak kontras dengan warna perabotan dapur yang sebagian besar hitam oleh jelaga. Nasi putih bersih yang dihasilkan dari sawah kakek. Sawah yang ditanami, padinya diperlakukan dengan hormat, disiangi dari tanaman yang mengganggu. Pada saat-saat awal ditanam harus ditunggui siang dan malam untuk memastikan pasokan airnya tidak terganggu. Setelah enam bulan akan muncul bulir bulir keemasan. Itulah saatnya panen, saat seluruh kampung bersuka ria melihat hasil jerih payah yang terbayar oleh kemilau warna padi. Padi padi yang sudah dipanen disunggi dan dipanggul dibawa pulang, disimpan di dalam kelumpu (lumbung padi) di rumah. Padi-padi sewaktu-waktu dikeluarkan untuk dijemur di halaman agar kering dan tidak mudah busuk. Ayam ayam kami biasanya sudah menunggu saat-saat seperti ini. Setiap kali padi dikeluarkan maka harus diawasi karena ayam-ayam sudah mengintai untuk sesekali waktu mencuri-curi kesempatan mematuk padi-padi kalau kami lengah. Padi yang telah dijemur, oleh nenek ditumbuk dijadikan beras. Nah beras itulah yang sekarang telah masak dan terhampar di hadapanku.

1000212_10200799192918601_1898246637_n

Selain nasi, ibu nampaknya juga membuat lauk dan sayur. Sayur kangkung dari sawah kelompok lain yang tidak mendapat giliran menanam padi sudah berupa pelecing di atas meja. Ikan asin dengan sambal tomat telah pula dimasak. Ikan-ikan ini pastilah berasal dari para nelayan yang setiap pagi pulang dari melaut setelah semalaman menjala ikan di tengah laut lepas. Pastilah dia sangat senang dengan hasil tangkapan ikannya yang besar-besar ini. Ah benar kata Pak Gung Aji, Indonesia sungguh negara yang kaya. Zamrud hijau yang dilintasi oleh garis khatulistiwa.

Banjir Kota Kita

Awal tahun 2014 ini media-media online Indonesia dipenuhi oleh berita banjir yang menggenangi ibu kota dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Banjir seolah telah menjadi kejadian rutin tahunan dan selalu berulang setiap musim hujan menghampiri. Bukannya salah musim yang datang setiap tahun, namun perkembangan kota pun nampaknya turut menjadi pelaku utama terjadinya banjir tahunan ini.

Beberapa tahun yang lalu saya sempat menulis artikel soal banjir di salah satu media lokal di Bali. Dalam tulisan tersebut saya coba mengulas betapa banjir telah menguras energi yang tak terhingga  tanpa terasa. Besarnya kerugian yang ditimbulkan nyaris tidak terhitung. Biaya kerusakan infrastruktur, rumah-rumah yang hancur, ruang ruang usaha yang tergenang, hingga kerugian non materi seperti waktu yang terbuang, emosi yang meledak, kekecewaan yang memuncak, kerugian psikologis yang ditimbulkan oleh banjir, bahkan yang paling membuat miris tentu korban jiwa. Kehilangan anggota keluarga atau kerabat akibat banjir tentu tak dapat dinilai dengan besarnya rupiah.

Banjir memang datang tanpa pengumuman tanpa peringatan. Namun jika banjir sudah datang dengan rentang waktu yang reguler, berulang, tentu dapat diantisipasi, dengan catatan kita memang siap. Kejadian banjir ini ibarat fenomena katak rebus. Tidak terjadi begitu saja dalam volume besar, namun terjadi perlahan lahan dari volume kecil semakin lama, tanpa kita sadari, semakin membesar hingga suatu saat kita sudah tidak mampu lagi menanggulangi saking besarnya volume air yang datang. Pada saat kita tersadar akan bahayanya, kenyataan sudah serba terlambat!!! Penanggulangan sudah membutuhkan penanganan yang serius, biaya yang dibutuhkan sudah sedemikian besar dan persoalan sudah semakin rumit dan kompleks. Kita ada dalam posisi dilematis, jika dibiarkan maka di tahun mendatang keadaan akan semakin memburuk, jika dilakukan penanggulangan skala kecil hingga menengah maka persoalan dasarnya tidak tertangani dengan tuntas.

Image

sawah sawah semakin terdesak bangunan perumahan yang menyerbu hingga ke pelosok-pelosok (Foto: Kadek Raharja)

Lalu apa sebetulnya yang menyebabkan banjir? Kenapa sepertinya persoalan ini menghadang kota kota kita tiada henti dan malah semakin sering dan lokasinya semakin luas dengan volume air yang semakin besar. Penyebab banjir, sebagaimana sudah banyak diulas, dapat dibagi menjadi dua yaitu alamiah dan factor perilaku manusia. Kedua factor ini seringkali saling berkaitan, terutama pada kasus kasus yang menimpa kota-kota kita. Secara alami hujan yang terjadi dalam waktu relative lama akan membawa air dalam volume besar kepada permukaan bumi. Jika permukaan cukup porous, banyak memiliki pori pori dimana air akan masuk ke dalam tanah, maka air akan terserap ke dalam tanah dibantu oleh akar tumbuh tumbuhan dan selanjutnya akan muncul menjadi mata air di beberapa tempat pada wilayah yang lebih rendah. Air yang tidak terserap ke dalam tanah akan mengalir ke parit parit untuk selanjutnya bergabung dengan sungai yang lebih besar dan mengalir menuju ke laut. Proses tersebut terjadi secara alami, dan jika volume air yang mengalir di permukaan melebihi ambang atas normal yang mampu ditampung oleh sungai, maka akan terjadi banjir. Kejadian yang berlangsung alami ini merupakan siklus perputaran air dan sudah terjadi selama ribuan tahun demikian. Permasalahan muncul ketika terjadi peran serta manusia yang menyebabkan siklus air menjadi tidak normal. Ketidaknormalan terjadi pada proses penyerapan air ke dalam tanah, proses aliran air permukaan ke sungai, atau proses aliran air dari sungai menuju ke laut serta berkurangnya daya tampung sungai, waduk, atau muara. Gangguan terhadap proses inilah yang menjadi permasalahan pokok timbulnya banjir. Dan yang lebih celaka adalah, sekalipun sudah dipahami bahwa hal ini menjadi penyebab, namun penanganannya belum juga maksimal dan dianggap tidak penting.

Kota sebagai mesin pertumbuhan kawasan, terutama di kota kota Asia, terkenal sangat rakus terhadap lahan terbuka. Alih fungsi lahan, atas nama pemenuhan kebutuhan perumahan, terjadi sangat massif. Jika ditelusuri lebih dalam, ternyata alih fungsi ini tidak sepenuhnya dipakai sebagi pemenuhan kebutuhan primer perumahan, tetapi justru dijadikan instrumen investasi. Lahan sawah beralih menjadi rumah-rumah petak, atau rumah bergaya cluster (belakangan menjadi trend), atau apartment berbalut hotel murah (budget hotel) namun ternyata tidak benar benar dihuni. Bangunan bangunan tersebut lebih banyak kosong, namun di pasar property sangat laris karena nilai investasinya meningkat dengan cepat. Strategi pembangunan berorientasi horizontal turut pula menjadikan alih fungsi semakin pesat. Akibatnya lahan-lahan di pinggiran kotapun kini sudah banyak beralih fungsi tidak hanya menjadi perumahan namun juga jalan, yang permukaannya juga diperkeras, toko-toko kecil, dan warung-warung makan.

Pembangunan semacam ini sudah jelas tak terbantahkan mengurangi luas permukaan yang semestinya menyerapkan air hujan ke dalam tanah. Akibatnya air hujan yang semestinya masuk ke dalam tanah, sekarang mengalir di permukaan. Selain menghambat penyerapan, pembangunan yang mengakibatkan tertutupnya permukaan, juga mematikan mata air-mata air di daerah yang lebih rendah. Matinya mata air ini karena tidak ada lagi air yang mengalir di dalam tanah yang menjadi sumber airnya. Akibatnya sumur-sumur sumber air sebagian besar warga pun harus digali semakin dalam masuk ke dalam tanah. Air-air tanah dalam diangkat ke permukaan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari warga mengakibatkan terjadinya rongga di bawah permukaan yang lalu mengundang air laut masuk ke dalam sumur sumur tersebut.

Image

Deretan ruko ruko baru, tidak menyisakan halaman untuk meresapkan air (foto: Agus Wahyu Antara)

Karena air tidak terserap oleh tanah, maka secara alami akan mengalir ke parit parit untuk dialirkan ke laut melalui sungai yang lebih besar. Volume air yang besar tentunya membutuhkan dimensi parit yang semakin besar pula. Namun pada kenyataannya, akibat harga lahan yang tinggi, semakin sedikit kesadaran untuk merelakan sebagian kecil lahan di depan rumah untuk dijadikan parit. Ukuran parit yang tidak sepadan dengan volume air yang harus dialirkan menyebabkan terjadinya genangan. Parit tidak mampu lagi menampung semua air permukaan yang dialirkan ke dalamnya. Ukuran yang kecil diperburuk lagi oleh sampah sampah yang menyumbat terutama terjadi pada saluran saluran tertutup di bawah trotoar, di depan pintu masuk pekarangan serta saluran tertutup lainnya. Dalam salah satu episodenya, wayang Cenk Blonk menyindir bahwa jaman sekarang bukan air di jalan yang masuk ke dalam got tetapi air dari dalam got lah yang mengalir ke permukaan jalan.

“Gumi sube mebading. Yen I pidan, yeh di jalane ane mecelep ke got e, jani, yeh ane di got e pesu ke jalan e”

Sungai sungai pun mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan got. Setelah tepi tepinya diperkeras, untuk mengamankan tanah milik agar luasnya tidak berkurang, kedalamannyapun berkurang akibat sedimentasi. Sedimentasi bersumber dari benyak hal, namun yang lumrah terjadi di kota kota adalah sedimentasi akibat sampah. Kebiasaan dan cara pandang, bahwa sungai adalah halaman belakang, membuat aliran sungai menjadi tempat pembuangan sampah umum. Bukan pemandangan yang aneh akalu kita menjumpai orang meyapu halaman atau jalan lalu mengarahkan semua sampah sampah, dedaunan, plastic, kertas, botol bekas dan sebagainya ke arah sungai. Halaman dan permukaan jalan menjadi bersih, namun tidak demikian dengan sungai-sungai yang sekarang justru menjadi tempat sampah. Membersihkan sungai dari sampah bukanlah perkara mudah. Banyak hambatan, terutama jika dilakukan dengan cara manual, karena volume sampah yang sedemikian besar dan terakumulasi selama sekian tahun. Alat alat berat diperlukan dan biayanya tentu tidaklah sedikit. Ketika telah diputuskan untuk menggunakan alat berat, jalan untuk memasukkan alat berat tersebut tidak tersedia. Tepian sungai telah dipenuhi oleh permukiman warga baik yang legal ataupun yang illegal. Maka dapat dipastikan bahwa kesulitan semakin bertambah dan semakin kompleks.

Image

Tak terelakkan, banjir di kawasan perumahan baru.

Besarnya biaya penanggulangan, serta penanganan banjir tidak perlu diragukan lagi akan membebani APBD, padahal semestinya uang yang tersedia di APBD bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain. Lalu seperti apa langkah yang sebaiknya diambil? Diperlukan kesadaran bersama untuk mengatasi banjir ini secara sinergis, masyarakat pemerintah serta pelaku usaha, selanjutnya adalah diperlukan pemeliharaan rutin terhadap saluran saluran air serta menenamkan kebiasaan untuk tidak mengganggu jalannya saluran dalam bentuk apapun serta yang paling penting untuk semua adalah memahami siklus alami air. Memahami siklus air, bahwa volume hujan mungkin tidak berubah dari tahun ke tahun dalam jumlah yang relative sama, namun siklus bahwa air harus diresapkan ke dalam tanah akan efektif mengurangi volume air yang ada di permukaan. Karena luas permukaan penyerapan air sudah berkurang, maka diperlukan kesadaran semua pemilik rumah, atau bangunan atau lapangan yang menghalangi peresapan air, agar menyediakan media untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah. Barangkali terdengar klise kalau saya katakan bahwa setiap rumah wajib menyediakan peresapan dalam berbagai bentuk, entah biopori yang kini sudah banyak dijual, atau dalam bentuk lain, menyisakan sekurangnya 40% lahannya untuk tidak diperkeras tetapi ditanami tumbuhan yang mampu menyerapkan air ke dalam tanah. Jika mampu menambahkan bak penampung air hujan, tentu akan lebih membantu lagi. Air hujan dari cucuran atap ditampung ke dalam bak air, bisa diletakkan di dalam tanah, sehingga air tidak langsung mengalir ke permukaan tanah. Air di bak bisa dipergunakan pada musim kemarau untuk menyiram tanaman atau kebutuhan lain. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam skala rumah tangga. Pemahaman terhadap siklus air ini menjadi teramat penting, karena selain mampu mengurangi air di permukaan yang akan meminimalisir potensi banjir, juga akan membantu air mengisi ruang ruang di bawah permukaan tanah dan tidak akan mematikan mata air-mata air di wilayah yang lebih rendah. Di sepanjang tepi Tukad Badung, dan tentu tukad-tukad yang lain, konon dahulu banyak terdapat sumber mata air jernih, dan dilestarikan dengan membangun Pura Beji, namun kini sudah hampir punah. Jika air hujan telah masuk ke dalam tanah selanjutnya mengalir dalam bentuk mata air, maka ruang ruang di dalam tanah tidak akan diintrusi oleh air laut.

Sayangnya pemahaman siklus air ini semakin memudar, semoga ilmu yang kita pelajari sewaktu di sekolah dasar tentang siklus air masih diajarkan di sekolah sekolah yang lebih sibuk mempersiapkan muridnya menghadapi UN jaman sekarang ini.

Sekali lagi: Vernacular Buildings

Image

Saya sengaja menggunakan istilah ‘building’, bukan ‘architectur’ di belakang kata vernacular karena beberapa alasan. Architecture sering diasosiasikan sebagai karya seorang arsitek sebagai master builder sesuai dengan pengertian katanya archi artinya bangunan dan techne, artinya ahli atau master teknologi. Dari pengertian ini, maka arsitektur adalah karya yang dihasilkan oleh seorang ahli bangunan atau master builder, sementara vernacular buildings tidak dihasilkan atau dibangun oleh master builder melainkan oleh masyarakat penghuninya. Secara literal, vernacular dalam bahasa latin disebut sebagai ‘vernaculus, yang artinya adalah native atau penduduk setempat, berasal dari daerah setempat sementara dalam istilah dalam bahasa Italia, vernacular berasal dari kata ‘verna‘ yang artinya adalah tenaga kerja setempat (Oliver 2007). Dari pengertian tersebut terlihat bahwa unsur ‘tempat’ yang spesifik di dalam suatu wilayah memiliki peran besar dalam kata vernacular.  Bangunan apa saja yang digolongkan sebagai vernacular buildings? Paul Oliver (2003) menyebut bangunan yang digolongkan dalam vernacular buildings sebagai berikut:

…it includes many types of building which have not been professionally designed. Broadly, it may be defined…as comprising dwellings and all other buildings of the people.

Selanjutnya Paul Oliver juga menyebutkan bahwa bangunan yang dirancang oleh arsitek professional atau kontraktor untuk kepentingan popular tidak dapat dikategorikan sebagai bangunan vernacular. Perdebatan tentang bangunan yang dibangun tidak oleh master builder atau seorang ahli bangunan, apakah digolongkan sebagai karya arsitektur atau bukan sempat menajam pada awal abad kedua puluh. Tajamnya friksi ini mengantarkan Bernard Rudofsky untuk menyebut karya karya bangunan yang diproduksi oleh masyarakat setempat sebagai Architecture Without Architects. Di dalam catalog pameran dengan judul yang sama, Rudofsky memperlihatkan keindahan, fungsionalitas dan kekayaan budaya yang tersaji pada karya karya bangunan masyarakat di seluruh dunia. Pameran yang diselenggarakan di Museum of Modern Art di New York  pada tahun 1964 ini ramai menjadi issu yang gaungnya terasa hingga hari ini. Amos Rapoport dalam bukunya yang fenomenal ‘House Form and Culture’ juga nampaknya memisahkan antara karya bangunan masyarakat setempat dengan bangunan yang dihasilkan oleh seorang master builder. Bangunan yang dihasilkan oleh masyarakat setempat dari usaha untuk menciptakan tempat berlindung dan selanjutnya terus berkembang menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakatnya disebut sebagai Folk Tradition atau tradisi lokal masyarakat setempat. Di lain pihak, bangunan yang dihasilkan oleh seorang arsitek, dengan kemampuan desain yang diperoleh dari pendidikan formal arsitektur, digolongkan oleh Rapoport, sebagai Grand Design Tradition. Buku-buku atau penelitian tentang arsitektur karya masyarakat setempat, folk tradition, sangat jarang dijumpai sehingga terjadi gap yang lebar antara perkembangan ilmu folk tradition dengan grand design tradition. Lambat laun budaya membangun yang disebut sebagi folk tradition ini berangsur semakin luput dari perhatian hingga menemui gairahnya kembali setelah pameran yang dikuratori oleh Bernard Rudofsky tadi.

Image

Sisa sisa kejayaan folk tradition yang terabaikan terwujud reruntuhan.

sumber: http//:static panoramic.com/photos/large/27306977

Karya karya arsitek, yang dikelompokkan dalam grand design, tidak pernah bisa mencapai taraf vernacular. Karya karya arsitek ini hanya terinspirasi oleh karya karya vernacular. Karya karya arsitek yang memperoleh referensi dari bangunan vernacular ini lalu melahirkan aliran baru yang disebut sebagai Critical Regionalism (issue Critical regionalism akan saya bahas di dalam post tersendiri) yang merupakan tanggapan terhadap internationalisasi gaya bangunan setelah revolusi industry dan tumbuhnya filsafat positivism (lihat Frampton, K., 1983, Schulz, C. N. 1980). Vernacular bukanlah soal tampilan bangunan, karena vernacular ini bukan trend. Nilai nilai vernacular justru terkandung tidak pada apa yang nampak tetapi hubungan yang terjalin antara penghuni dengan bangunan, bangunan dengan lingkungan dan site, serta antara bangunan dengan bangunan lain membentuk sebuah permukiman. Bangunan vernacular dibangun dengan cara local untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap perlindungan dari kondisi alam. Umumnya bangunan dibangun dengan teknik konstruksi yang dikembangkan setempat oleh masyarakat, dan telah teruji selama bertahun tahun, membuatnya beradaptasi dengan sangat baik dengan lingkungan sekitarnya yang mana adaptasi ini sering dilupakan oleh bangunan bangunan yang digolongkan sebagai karya arsitektur modern. Bangunan vernacular merupakan reaksi alami manusia dan masyarakatnya dalam menanggapi salah satu kebutuhan mendasarnya (lihat Paul Oliver : Build to Meet Needs).

Image

Permukiman vernacular di kawasan Afrika menyatu dengan lingkungan sekitar baik warna, desain maupun materialnya

sumber: http//:sirismm.si.edu/eepa/eep1/eepa_16204

Upaya yang dilakukan oleh masyarakat dalam mendirikan bangunan adalah mendekatkan diri dengan lingkungan sekitarnya. Bahan bahan bangunan diperoleh dari tempat di sekitar bangunan atau permukiman akan didirikan sehingga tampilan bangunan menyatu dengan lingkungannya secara harmonis. Typology bangunan semacam ini selalu dapat diidentifikasikan sebagai bangunan yang mencirikan suatu wilayah (region specific). Selain material, warna, gaya bangunan, bahasa ruang, serta hasil akhor pengerjaan juga memberikan wujud sebagaimana disebutkan oleh Rudofsky, artistik, orisinal, dan memenuhi kebutuhan fungsional masyarakat penghuninya. Keseragaman (bukan kesamaan) dan nilai nilai bersama antara satu bangunan dengan bangunan lain di sekitarnya menciptakan cita rasa permukiman yang akrab dalam skala manusia. Bandingkan dengan bangunan karya arsitektur modern yang umumnya memiliki kualitas, individualistis, singular serta, bukannya berupaya tampil harmonis, kontras dengan bangunan di sekitarnya. Hal hal semacam inilah yang membedakan bangunan vernacular dengan bangunan yang dirancang dengan sengaja oleh tenaga professional.

The idea of vernacular has nothing to do with stylistics. It rather points to the universal ethos of constructing shelter under the scarcity of materials and operative constructional tehniques’.

Demikian diungkapkan oleh Demetri Porphyrios tentang argumennya soal bangunan vernacular, dan bahwa bangunan vernacular memiliki makna yang esensial sebagai:

…straightforward construction, to the rudimentary building of shelter, an activity thet exhibits reason, efficiency, economu, durability and pleasure.

Bangunan bangunan vernacular, karena dibangun sesuai kebutuhan serta lokasi, merupakan contoh ideal bangunan hemat energy. Melalui tradisi yang dijalankan secara turun temurun serta upaya trial and error yang panjang, bangunan dibuat dengan pertimbangan iklim yang matang. Perwujudan iklim mikro yang nyaman juga terjadi dari penggunaan material lokal serta keselarasan bentuk, bukaan, konstruksi dan teknologi yang dipakai dengan alam sekitarnya. Struktur bangunan menggunaan teknologi setempat (native technologi) yang seringkali mampu memecahkan masalah rumit secara baik sehingga bangunan seperti didesain secara effektif untuk menanggulangi persoalan struktur seperti, gempa, banjir, atau serangan binatang buas. Teknik teknik konstruksi juga mempertimbangkan kesediaan material local sehingga sambungan tidak menggunakan paku, ikatan untuk menahan gaya tarik, atau kemiringan atap untuk menanggulangi curah hujan telah teruji selama bertahun tahun.   Dari penggunaan material serta teknologi lokal yang ramah lingkungan, terwujud bangunan yang rendah biaya pemeliharaan serta hemat energi, yang saat ini menjadi tujuan dari hampir setiap pembangunan gedung baru modern yang dibangun. Bangunan vernacular merupakan contoh yang sempurna, bagaimana sebuah lingkungan dibangun selaras dengan lingkungan sekitarnya, menyelesaikan persoalan-persoalan kebutuhan ruang, pemilihan bahan, teknik konstruksi serta mampu bertahan selama bertahun tahun. Jauh sebelum dikenalnya istilah arsitek atau arsitektur, bangunan bangunan ini sudah berdiri sehingga diebut pula architecture before architect.

Belakangan banyak arsitek yang tertarik untuk mendalami bangunan bangunan vernacular yang ada di kawasannya masing masing. Studi studi tentang bangunan setempat ini banyak dilakukan. Invetarisasi bangunan vernacular dilakukan dengan cara menggambar ulang, mengukur denah, tampak tampak serta potongan, serta menyalinnya kembali ke dalam bentuk yang lebih baik di dalam buku buku tentang bangunan setempat. Dari kegiatan inventarisasi ini seringkali tertinggal penyelidikan tentang bagaimana masyarakat hidup di dalam bangunan bangunan tersebut, bagaimana proses membangunnya, yang hampir dapat dipastikan tidak menggunakan gambar rencana, bagaimana mereka berinteraksi dengan sesamanya di dalam bangunan tersebut.  Kritik-kritik terhadap tata cara penyelidikan bangunan vernacular ini ditanggapi dengan baik oleh arsitek-arsitek Asia yang diantaranya diwakili oleh Hasan Fathy di Mesir, atau Charles Correa di India.

If we look at all the major concerns of humanists and environmentalists today; balanced ecosystem, recycling of products, people’s participation, appropriate lifestyles, indigenous technology, etc we find the people of Asia already have it all.  

Ungkapan Charles Correa di atas menjadi panduannya dalam mengembangkan proyek-proyek perumahan yang dibangunnya bersama sama masyarakat dengan melibatkan penuh para calon penghuninya tidak saja dalam diskusi namun juga turut serta dalam proses pembangunannya. Correa mengedukasi masyarakat tentang pengetahuan arsitektur local sehingga mereka mampu membangun sendiri permukimannya secara bergotong royong.

Kawasan Asia Pasifik, dimana Indonesia menjadi titik sentral, merupakan wilayah yang sangat kaya dengan bangunan bangunan vernacular. Study tentang arsitektur di kawasan ini secara cukup terperinci disajikan oleh Roxana Waterson dalam buku Living house: An Antropology of Architecture in South East Asia. Di dalam buku yang diterbitkan tahun 1997 tersebut, Waterson melakukan study mulai dari kawasan Asia Tenggara hingga ke kepulauan Polynesia. Sekalipun menemukan variasi bentuk yang sangat kaya, dipengaruhi oleh kehidupan local serta budaya setempat, banyak pula ditemukan kesamaan prinsip yang mendasari bangunan serta tata permukiman pada kawasan ini. Di salam salah satu bagian bukunya, Waterson mencoba mencari garis pemisah antara tata cara membangun modern yang dibawa oleh kolonialis ke kawasan ini. Pemisahan ini mirip seperti yang dilakukan oleh Amos Rapoport dengan menggolongkan bangunan berdasarkan tata cara pembangunannya, oleh masyarakat, atau oleh perancang professional.

Image

Permukiman penduduk di Desa Sukawana, Kabupaten Bangli

Study study yang lebih mendetail, mengingat besarnya skala study yang dilakukan oleh Waterson sehingga banyak detail yang masih belum mendapat perhatian, perlu dilaksanakan lebih lanjut terutama mengingat kekayaan arsitektur local belum sepenuhnya digarap. Di pulau kecil seperti di Bali saja, bangunan vernacular yang bisa dijumpai sangatlah beragam. Keberagaman ini sangat dipengaruhi oleh iklim: pegunungan, dataran, pantai, ketersediaan material local yang di masing masing kawasan yang sangat berbeda, keberagaman penguasaan teknologi, serta hal hal lain yang menyebabkan bangunan vernacular di Bali sangat kaya. Barangkali sudah banyak dilakukan mengingat perguruan tinggi arsitektur sudah ada sejak akhir tahun 1960-an di Universitas Udayana, namun hasil hasil penelitian sulit untuk diakses atau barangkali tidak pernah terpublikasi secara luas.

Bacaan

Correa, C. (1987) The New Landscape, Singapore: Mimar.

Kenneth Frampton, “Towards a Critical Regionalism: Six Points for an Architecture of Resistance”, in The Anti-Aesthetic. Essays on Postmodern Culture (1983) edited by Hal Foster, Seattle: Bay Press,

Oliver, P. (2003) Dwelling, New York: Phaidon

Oliver, P. (2006) Build to Meet Needs: Cultural Issues in Vernacular Architecture, Oxford: Architectural Press

Rapoport, A. (1969) House Form and Culture, Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall

Rudofsky, B. (1964) Architecture without Architects: A Short Introduction to Non-Pedigreed Architecture, New York: Museum of Modern Art.

Schulz, C. N. (1980) Genius Loci, Towards a Phenomenology of Architecture New York: Rizzoli

Waterson, R. (1997) Living House: An Anthropology of Architecture in South East Asia, Singapore: Oxford University Press.

Ritus Air: Mensejahterakan Umat Manusia

(Semua foto di dalam post ini hasil karya Made Widnyana Sudibya)

Dalam kepercayaan masyarakat Bali, air memegang peranan yang sangat penting. Konon dahulu sebelum disebut sebagai ‘Hindu’ agama yang dianut oleh penduduk bali disebut sebagai agama ‘Tirta’, agama yang meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini memperoleh kehidupanya dari air. Pulau Bali memperoleh segala kehidupannya, yang bergantung pada pertanian, dari air.

Image

Secara topografi, Bali terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian pegunungan yang berada di tengah tengah pulau dan membagi wilayah dataran menjadi dua. Dataran di bagian selatan memiliki luas yang relative lebih besar dibandingkan dengan dataran di wilayah utara. Selain pegunungan dan dataran, bali masih memiliki wilayah pesisir pantai dihuni oleh kelompok masyarakat nelayan. Tiga kawasan ini memberi penghidupan bagi masyarakat dengan segenap sumber daya alamnya masing masing. Di wilayah pegunungan, masyarakat mengolah lahan pertanian kering, karena topografinya yang miring mengakibatkan air dengan segera mengalir ke bawah,  dengan menanami lahannya dengan tumbuhan keras; kopi, cengkeh, jeruk dan tanaman lain. Tanaman keras ini berumur panjang dan memiliki siklus panen tanpa harus menebang pohonnya. Cukuplah buahnya dipetik dan pohonnya dibiarkan tumbuh subur, memegang tanah, mencegah longsor sekaligus akar akarnya menyimpan air hujan. Air hujan yang melimpah di kawasan pegunungan tinggi ini selanjutnya mengalir melalui mata air-mata air alami menuju kawasan yang lebih rendah. Banyak pula mata air ini mengalirkan airnya ke danau yang juga berada di kawasan pegunungan. Terdapat empat danau besar yang menjadi semacam penampungan air bagi pulau kecil ini. Danau tersebut antara lain Danau Batur di Kabupaten Bangli, Danau Beratan di Kabupaten Tabanan, serta dua danau yang lebih kecil, Danau Buyan dan Danau Tamblingan, di Kabupaten Buleleng. Ibarat sumber penghidupan, masyarakat Bali sangat menghormati sumber sumber air, baik itu mata air kecil maupun danau-danau, yang terdapat di wilayah pegunungan. Pada keempat danau tersebut terdapat pura tempat menghaturkan terimakasih terhadap semesta alam atas air yang dianugerahkan. Selain di pura-pura, yang terdapat di keempat danau, masyarakat juga melindungi mata air kecil yang terdapat di daerah pegunungan dengan cara men-sakral-kannya. Membatasi orang yang boleh mendekati mata air, melindungi kawasan sekitarnya dari kemungkinan kerusakan akibat ulah manusia sekaligus mensyukuri air yang bersumber di tempat tersebut. Menimbang besarnya peranan sumber sumber mata air ini maka harus dijaga agar memberi manfaat yang sebesar besarnya.

Image

Manfaat keberadaan mata air dan danau, sekalipun hanya berada di beberapa tempat, tidak lantas ekslusif menjadi milik masyarakat setempat saja. Seluruh masyarakat Bali menikmati air yang bersumber dari beberapa tempat tadi sehingga tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya menjadi tanggung jawab seluruh penduduk Bali. Pura pura yang berada pada mata air atau danau-danau tersebut selanjutnya merupakan Pura Kahyangan Jagat yang artinya kurang lebih tempat suci bagi seluruh umat, tanpa memandang asal, keturunan, ataupun gelar. Semua masyarakat Bali penjadi penyungsung[i] pura pura tersebut. Untuk melindungi segenap mata air dan danau-danau tersebut dibuatkan jarak kesakralan kawasan dalam bentuk radius kesakralan. Radius untuk masing masing sumber mata air berbeda beda tergantung dari besar dan kecilnya mata air atau danau. Semakin besar ukuran mata air atau danau tersebut, maka semakin luas pula ukuran radius kesucian atau kesakralannya. Selain untuk menjaga dari tangan tangan jahil, radius ini juga untuk melindungi wilayah sumber tangkapan air hujan yang menjadi sumber air bagi mata air tersebut yang mengalir mengairi sawah sawah penduduk di seluruh Bali

Image

Air danau dan mata air mengalir melalui sungai sungai yang terdapat di Bali. Sungai sugai ini mengalir berliku menuju ke laut, dimana air sungai menyatu dengan samudera. Dalam perjalanan menuju samudera, air melintasi dan sekaligus menyuburkan ribuan hektar sawah dan ladang penduduk. Dianugerahi oleh lahan yang subur ditambah air yang mengalir sepanjang tahun, petani tidak pernah mengalami musim kering dalam setahun. Air sungai-sungai ini, karena volumenya yang terbatas, harus dibagi bagi diantara petani. Pembagian air dilakukan, mulai dari sumber mata air tersebut mengalir, secara adil. Petani membentuk kelompok-kelompok yang disebut subak. Masing masing subak terdiri atas beberapa petani dengan satu orang anggota yang dipilih secara demokratis sebagai koordinator. Kelompok kelompok subak inilah yang memastikan pengaturan air berjalan secara adil bagi seluruh sawah milik anggotanya. Pada hulu dari masing masing subak ini didirikan pula pura yang disebut pura subak disungsung oleh anggotanya. Selain untuk mengucap syukur atas air yang diperoleh, pura ini juga difungsikan untuk memuja Dewi kesuburan, mengucap terimakasih kepada semesta alam atas lahan dan hasil pertanian yang dilimpahkan. Di dalam kelompok subak ini, mempertimbangkan jumlah air yang terbatas, diatur pula pola tanam antara tanaman kering dan tanaman basah. Jika mendapat giliran tanaman basah, maka air akan dialirkan ke sawah milik petani tersebut, namun jika mendapat giliran tanaman kering, maka air tidak dialirkan ke lahan tersebut namun ke lahan petani lain yang mendapat giliran tanaman basah. Pola pertanian semacam ini telah belangsung selama ratusan bahkan mungkin ribuan tahun di Bali. Selain efektif dalam mengatur pembagian air, pola ini juga memutus rantai hama di satu lahan pertanian. Lahan-lahan pertanian terhampar luas dengan tanaman padi atau palawija dengan air yang diatur pengelolaannya member kemakmuran bagi seantero Bali. Sawah sawah, karena pertimbangan toporafi yang berbukit, tersusun susun menciptakan lansekap cultural dilengkapi dengan bangunan pura di beberapa tempat serta balai-balai peristirahatan. Air, setelah mengairi sawah dan menyuburkan lahan mengalir menuju lautan lepas.

263858_1796719794222_893818_n

Di lautan lepas air menyatu dengan samudera sekaligus melakukan proses pemurnian/penyucian. Di Bali selain dipercaya sebagai tempat peleburan, laut juga dipercaya sebagai tempat penyucian kembali. Tempat dilakukan pemurnian terhadap apa yang telah dialami oleh suatu, benda baik hidup maupun mati, untuk dikembalikan kepada nilai dasarnya. Karena itu banyak upacara penyucian dilakukan di laut, termasuk abu jenazah bagi orang yang sudah meninggal juga dilarung ke tengah laut dalam upacara nganyut sekah.

Siklus air, dari awal mula muncul hingga menyatu lagi ke laut dan kembali menjadi hujan untuk selanjutnya berproses berputar ini disyukuri oleh masyarakat bali yang sangat mengandalkan pertanian sebagai mata pencahariannya. Tanpa adanya air, maka sawah sawah akan kekeringan, lading tidak akan menghasilkan serta secara otomatis masyarakat akan menjadi melarat. Untuk menghormati anugerah luar biasa berupa air ini masyarakat Bali melaksanakan upacara Bumi Sudha. Upacara ini dilangsungkan dengan cara mempertemukan air dari tiga sumber yang berbeda yaitu, dari mata air di pegunungan, air yang bersumber dari danau dan air yang berasal dari laut. Air dari ketiga sumber ini disatukan dalam bentuk upacara melambangkan satu kesatuan siklus yang memberi kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Siklus air yang tidak terputus berlangsung dan telah mensejahterakan dunia.

1513274_10201176147782237_2043689413_n


[i] Penyungsung berarasal dari kata sungsung, meletakkan beban di atas kepala, panyungsung berarti penduduk yang meletakkan tanggung jawab terhadap pura tersebut di atas kepalanya.

Bacaan

Byfield, G., and Darling, D. (1998) Bali Sketchbook, Singapore: Archipelago Press

Vickers, A. (1990) Bali: A Paradise Created, Second Edition, Singapore: Tuttle Publishing

Waterson, R. (1997) Living House: An Anthropology of Architecture in South East Asia, Singapore: Oxford University Press.

Wawancara tidak terstruktur

Ir. Made Widnyana Sudibya antara tanggal 29 Desember 2013 – 1 Januari 2014.

Hiper-Realitas Kota-kota Kita

Sekitar awal tahun 2002 lalu, saat baru tamat dari pendidikan sarjana arsitektur, saya sempat menggagas satu kelompok diskusi tentang arsitektur dan perkotaan. Salah satu topic yang saya gulirkan waktu itu adalah tentang hiper-realitas. Jujur saya sendiri belum begitu memahami soal istilah ini, yang saya comot dari salah satu studi tentang pos-modernism. Rasanya istilah itu terdengar keren dan cukup gaul di telinga kala itu.

Setelah melewati sekian tahun, ternyata istilah ini mengusik lagi terutama setelah semakin terbukanya media media arsitektur menawarkan berbagai pendekatan dalam perancangan. Sayangnya sebagian besar pendekatan perancangan terjadi melalui media cetak atau melalui internet sehingga apa yang tersembunyi di balik image yang terpampang tidak pernah benar benar dipahami oleh yang melihat image tersebut. Saya sendiri seringkali berdecak kagum melihat sedemikian maju dan canggih dunia digital dalam mentransfer image ke seluruh dunia, saat ini nyaris tidak terdapat perbedaan yang mencolok dalam hal kemampuan tata olah 3 dimensi antara animator Indonesia dengan di barat. Ilmu 3D dengan computer rendering telah sedemikian lumrah di kalangan mahasiswa mengalahkan teori merancang yang menjadi inti dari sebuah kegiatan yang disebut ‘merancang’. Kegiatan melahirkan sebuah konsep yang orisinil mungkin tidak lagi mendapat porsi yang semestinya, karena kemampuan 3D telah mengambil porsi lebih besar. Merancang saat ini identik dengan meniru secara 3D. apalagi gambar gambar di dalam media banyak yang bisa ditiru, jadi buat apa merumuskan konsep yang orisinil. Buang-buang waktu. Apa yang terlihat di media dikagumi lalu ditiru, seringkali, abai pada latar belakang kenapa bentuk atau image itu terlahir atau tanpa mendalami kenyataan yang sebenarnya dari image yang dilihat. Istilah inilah yang sering disebut sebagai hiper-realitas.

Teori strukturalisme mencoba untuk melihat kenyataan yang terjadi tidak hanya di permukaan tetapi juga apa yang terjadi di balik kenyataan yang kita lihat tersebut. Di balik gambar gambar atau image, yang sekarang menjadi demikian familiar dengan adanya teknologi informasi, terjadi apa yang disebut sebagai realitas social. Teori strukturalis selanjutnya disempurnakan di dalam kelompok baru yang disebut sebagai pos-strukturalis. Kelompok ini memandang bahwa realita sosial yang terjadi di balik image yang terpampang tidak sederhana. Realitas tersebut tersusun atas hubungan yang rumit, pertentangan, perbedaan, perdebatan serta ketidakstabilan. Segala perbedaan dan silang pendapat yang menjadi realitas sosial mewujud dalam pernyataan yang menyebutkan bahwa kita sedang berada dalam dunia pos-modern. Setelah sebelumnya di masa yang disebut sebagai era modern dipercaya ada satu kebenaran mutlak, sekarang di era pos-modern kebenaran bukan lagi sesuatu yang mutlak tetapi memiliki nilai subjektivitas. Para penganut pos-modernism tidak percaya pada kesamaan nilai yang diusung oleh aliran modern, bahwa selalu ada penjelasan umum atas suatu fenomena. Di dalam pandangan pos-modern tidak ada kenyataan yang identik, setiap orang memiliki pandangan dan kebenaran yang diyakininya masing masing. Masa ini penuh pergolakan pencarian jati diri di dunia arsitektur dengan mulai dipertanyakannya ‘kebenaran’ teori arsitektur modern. Mulai dicari-cari bentuk-bentuk baru yang mewakili masing masing kelompok masyarakat dari berbagai latar belakang yang berbeda. Banyak pendukung pos-modern lalu berfokus pada budaya kapitalis kontemporer khususnya di bidang media, komoditas, identitas dan makna.

Image

Pusat Kota Oxford, bersahabat minim kendaraan dan tanpa gedung tinggi. Bayangan kita tentang sebuah pusat kota biasanya adalah sibuk, penuh bangunan tinggi serta ramai kendaraan lalu lalang.

Di dalam iklim kapitalis terjadi persaingan untuk memenangkan image masyarakat. Karena image masyarakat yang mulai terbuka, masing masing orang memiliki penilaian yang berbeda terhadap sesuatu. Media menjadi alat yang sangat efektif untuk memenangkan image seseorang terhadap suatu produk. Dengan menampilkan iklan secara terus menerus, maka terbentuk suatu image di kepala masyarakat terhadap suatu produk atau terhadap suatu kejadian.

Studi tentang bahasa dan media menjelma menjadi komoditas menjadi sangat seksi pada masa pos-modern. Media dipelajari bukan dari makna dari kejadian yang terjadi atau ideologi bagaimana sebuah media yang baik, tetapi dari sisi porsi intensitas suatu berita, pengaruh dan keinginan yang ditumbuhkan di mata penikmatnya, dan bagaimana hal ini berhubungan dengan jati diri, pengalaman bersama (collective experience) dan penguasaan konsumen. Fenomena inilah yang melahirkan apa yang disebut sebagi hiper realitas dimana image di media (signifier) dan kejadian yang sesungguhnya (signified) terpisah mengakibatkan terjadinya budaya berita yang bertubi tubi tetapi seringkali tidak sesuai dengan referensinya (culture of endless signs without referents). Berita-berita yang terpampang (akibat ditampilkan berulang-ulang dengan daya pikatnya) menjadi lebih nyata dibandingkan dengan kenyataan yang ingin digambarkan oleh berita tersebut. Konon kasus perang teluk menjadi salah satu bukti fenomenal dimana perang yang terpampang di media jauh lebih dahsyat daripada perang yang sesungguhnya di Irak, semua terjadi akibat siaran yang berulang ulang, secara terus menerus 24 jam sehari 7 hari seminggu pada channel berita CNN (Seale, C., 2004). Kehandalan media membentuk opini di kepala pemirsanya membentuk hiper-realitas, image (signifier) yang melampaui kenyataan, di kepala kita, tanpa kita pernah melihat atau mengalami kejadian yang sebenarnya (signified).

The world is flat demikian pernyataan Alvin Toffler dalam buku best seller nya awal millennium ini. Barangkali pernyataan inipun didorong oleh kuatnya media membentuk opini masyarakat di seluruh dunia tentang kehidupan di belahan dunia lain. Kita melihat seperti apa orang hidup di luar negeri sekalipun kita belum pernah ke sana, misalnya. Kita membentuk opini melalui apa yang kita saksikan di media. Dunia barat lebih maju daripada dunia timur. Apa yang terlihat di media membuktikan hal itu. Kota kota besar dengan gedung tinggi, lalu lintas yang dipenuhi kendaraan, orang orang berdasi dan bekerja di ruang ruang yang nyaman. Film film Hollywood membantu memperkuat image yang terjadi, menggambarkan barat lebih maju dan otomatis lebih baik, daripada timur. Setiap saat kita dibombardir dengan image-image tersebut sehingga pelan pelan dari image yang terbentuk tumbuh kepercayaan dan keinginan untuk meniru apa yang terjadi di barat. Peniruan image ini jamak terjadi sejak dahulu, namun nampaknya menjadi gelombang raksasa belakangan ini.  Masalahnya yang ditiru adalah image-nya, tanpa melihat sejarah, latar belakang serta persoalan. Sepanjang yang saya amati sejauh ini tidak banyak kota kota di barat sesuai seperti apa yang digambarkan di televisi atau media. Banyak, mungkin sebagian besar kota di barat, terutama di Eropa, masih sangat tradisional, jalan diperkeras batu alam, bangunan tua terawat, atap genteng, serta gang gang sempit namun bersahabat. Tentu saja image semacam ini kurang keren di mata kita yang terlanjur dibanjiri image kota modern ala Hollywood.

Image

Amsterdam, kota yang sangat ramah terhadap pengendara sepeda dan pengguna transportasi publik disamping bus bus air yang memenuhi canal canalnya. 

Dalam rilisnya di tahun 2013, Council on Tall Buildings and Human Habitat (www.ctbuh.org) menyebutkan terdapat 13 negara yang mendominasi pembangunan gedung gedung tinggi ultra modern di seluruh dunia tahun 2012. Dari rilis tersebut terpampang data yang mengejutkan, dari 13 negara tersebut hanya dua negara yang berasal dari barat yaitu USA dan Canada sementara sisanya 11 negara berada di Asia termasuk Indonesia. Tidak satu Negara Eropapun masuk ke dalam rilis tersebut. Data ini, saya membacanya, menggambarkan dua hal. Pertama image yang tersaji dari media telah berhasil membentuk pandangan bahwa kota modern barat lebih baik sehingga banyak negara Asia yang berlomba lomba “meniru” padahal yang ditiru tidaklah seheboh yang tersaji. Kedua, kota kota di Asia sebetulnya jauh lebih maju daripada kota kota di Amerika ataupun di Eropa dari sisi pengembangan teknologi bangunan tinggi. Seorang kawan dari Beijing mengeluhkan banyaknya bangunan tinggi yang dibangun mengalahkan program untuk meningkatkan kualitas permukiman traditional yang semakin kumuh di China. Menurutnya ada yang salah dalam pandangan pemerintahnya dalam memandang kemajuan di bidang arsitektur dan tata ruang perkotaan. Pemerintahnya, menurutnya, terlalu terpukau dengan image kota kota di barat, sementara di barat sendiri alih alih membangun gedung super tinggi, pemerintahnya lebih mencurahkan perhatian pada layanan publik seperti penyediaan air bersih, drainase, pengelolaan limbah, keamanan lingkungan serta yang paling penting dan selalu menempati prioritas teratas adalah transportasi massal. Kualitas hidup mendapat porsi penting dalam pembangunan perkotaan di barat, sementara kebaruan dan image kemajuan yang tergambar di media seringkali menciptakan halusinasi kota di Asia.

Image

Ruang kota yang humanis, penari jalanan di Kota Paris, jauh dari hiruk pikuk kendaraan pribadi.

Hiper-Realitas?  Saya pikir inilah yang sedang terjadi dengan kemajuan media. Media memilih image mana yang akan ditayangkan berulang ulang sehingga membentuk gambaran yang melampaui keadaan sebenarnya. Lihat saja majalah-majalah trend dan gaya hidup, media media online yang akhirnya membentuk trend. Well, kita hidup di jaman media, jaman hiper-realitas.