Indonesia: “Tidak ada Masalah Disini”

Saya bersyukur akhirnya memutuskan untuk ikut dalam 3rd Annual Southeast Asian Studies Symposium yang diselenggarakan oleh Project Southeast Asia, di Keble College, University of Oxford. Harga tiket untuk mahasiswa pada awalnya menguatkan keyakinan untuk mengurungkan niat mendaftar. Ditambah lagi dana di rekening yang sudah sangat mepet sementara dompet hanya berisi uang logam recehan. Untunglah rasa penasaran untuk bertemu rekan peminat studi Asia Tenggara dari seluruh dunia mengalahkan segenap logika matematika untuk berhemat di akhir bulan.

Image

Foto Keble College

Seperti namanya, simposium ini sudah memasuki tahun yang ketiga, dan panitia mengklaim bahwa ini adalah symposium Asia Tenggara terbesar di dunia. Salah satu kawasan dengan sumber daya alam paling kaya di dunia: tambang, kehutanan, logam mulia, kesuburan tanah, kekayaan budaya, tetapi masih kesulitan untuk bersaing dengan India atau China. Ada banyak tantangan yang harus dibereskan jika kawasan ini ingin bersinergi dan bersaing. Tony Pua, anggota parlemen Malaysia yang juga alumni Oxford University, menyebutkan kurangnya pemahaman kondisi antar negara menjadi salah satu pokok persoalan. Sinergi dan kerjasama antar bidang: pendidikan, ekonomi, transportasi, juga terbilang minim mengingat masing-masing wilayah masih berkutat pada permasalahan dalam negerinya masing-masing. Selanjutnya 42 panel yang tersebar dalam 50 sesi membahas berbagai persoalan, ekonomi, pendidikan, budaya, kesehatan, batas wilayah, hingga isu-isu politik secara parallel dan lebih mendalam. Isu pemilu yang akan dihadapi Indonesia menjadi salah satu topik yang menarik. Banyak yang menyebutkan keberhasilan pelaksanaan pemilu 2014 ini, bisa menjadi titik balik untuk meningkatkan peran kawasan. Banyak pelajaran yang bisa disimak. Selain isu-isu penting kerjasama antar wilayah di forum resmi, obrolan santai di sela-sela pelaksaan simposium juga menjadi salah satu yang saya nikmati.

Ngobrol tentang Indonesia, dengan orang dari seluruh dunia yang memiliki minat terhadap masalah-masalah Indonesia, menjadi bumbu menarik yang saya sukai. Berikut saya mencoba merangkum obrolan tentang Indonesia dengan orang-orang yang tertarik dengan Indonesia dari seluruh dunia dan dari berbagai latar belakang. Beberapa bagian saya  sederhanakan dan dibuat lebih ‘halus’ karena bahasa verbal kadang sangat cair dan ‘ceplas-ceplos’.

Ahh…you are from Indonesia!” kata-kata yang umumnya terucap saat membuka percakapan. Rata rata peserta simposium sudah mengunjungi Indonesia lebih dari sekali dan memiliki kesan yang berbeda beda. “How lucky you are, being born in Bali”, kata Juliette supervisor seorang kawan yang sedang menekuni perkembangan bisnis batik. Di lain waktu, “I have been there. When I was a little girl my parents used to take us to Bali, but now I prefer New Zealand instead. Bali is no longer the island that my family and I used to visit”. Ya, memang segalanya sudah berubah, tidak hanya Bali, tetapi setiap inchi permukaan bumi ini berubah setiap saat. Ada yang berubah menjadi semakin baik, ada juga yang berubah tidak tentu arah. penilaian baik dan buruknya perubahanpun bersifat subjektif. Simposium kali ini pun membicarakan perubahan yang sedang terjadi.

Saya merasa terkesan, saat dua orang peminat masalah-masalah Indonesia dari negara di kawasan skandinavia, Islandia dan Norwegia, menceritakan pengalamannya yang detail tentang Indonesia. “I have visited most of your country. I’ve traveled to Papua, Celebes, Kalimantan, Sumatera, Siberut, Batam, and of course Bali”.   Wah sejujurnya saya sendiri belum pernah mengunjungi tempat-tempat eksotis yang disebutkan. Saya pernah berkeliling di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan sebagian besar kota-kota di Jawa, tetapi Papua? Celebes? Mentawai? Belum pernah sama sekali. “Indonesia is one of my favorite among other countries in the region”. Si Norwegia nyerocos saat pisau saya sedang bergerak menyayat bebek asap yang terhidang di depan meja. “In Yogyakarta I can live with only 1 Pound a day”. Ya memang benar, di Yogyakarta, kota pelajar banyak makanan yang harganya masih terjangkau. Bahkan orang asing pun menikmati murahnya harga-harga di Yogyakarta. “Eating dinner, while chatting with the street vendors can only be enjoyed in Indonesia’ I have to thank the informalities for providing great foods, not only for me, but for the entire populations.”

Image

Angkringan, foto: kaskus.co.id

I like durian but I hate pete and telor asin”, katanya terbahak saat semua makanan di piring sudah tandas sambil menyesap wine. Lalu kami membahas banyak jenis makanan dari berbagai negara, mulai Eropa, Amerika hingga Asia. Lagi-lagi dia memuji makanan Indonesia yang selain murah juga kaya cita rasa. Gampang ditemui dimana mana, adalah cerita lain makanan Indonesia, menjadi bisnis bagi masyarakat ekonomi bawah, menunjang ketahanan ekonomi keluarga, secara tidak langsung menopang perekonomian nasional. Sepanjang tidak mengganggu pengguna jalan, kehadirannya justru membuat ruang-ruang kota menjadi lebih hidup, mengundang lebih banyak orang untuk beraktivitas dan bersosialisasi di jalan. Kata Jane Jacobs, seorang urban sociologist asal amerika, bukan banyaknya mall atau pusat perbelanjaan modern yang menjadi ukuran sukses sebuah kota, tapi aktivitas di jalan, ruang terbuka, stasiun, dimana orang bertemu, bersosialisasi, berbagi khabar atau minum kopi di warung warung kecillah yang menjadi ukuran. Distribusi aktivitas sepanjang waktu selama 24 jam, menjadi ukuran berikutnya. Mall-mall memiliki waktu operasi terbatas, sementara pedagang nasi jinggo, angkringan, kopi joss mengisi ruang-ruang kota malam hari, menawarkan keakraban dan kehangatan dengan variasi makanan tradisional dari berbagai range harga. Restaurant besar dan warung makanan waralaba mungkin menawarkan gengsi dan kemewahan ala barat, tapi sulit mendapatkan kehangatan dan keakraban yang ditawarkan oleh suasana emperan di warung nasi jinggo di jalan Diponegoro atau kopi joss di angkringan Malioboro.

Image

I have been to Malaysia, Singapore, Thailand, and Myanmar. However, each time my boat reaches Batam or any other part in Sumatera, I feel like ‘Yes, I’m coming home’, Indonesia is my home”, kata si Islandia melanjutkan, saya tertawa sambil coba menyanggah, “You didn’t say that because I am an Indonesian, right? “No, no, no, absolutely not, I love Indonesian people, I love the whole country although I have been cheated by ojek driver many times, and still, Indonesia has a feeling like home”.  Perasaan akrab yang muncul terhadap suatu kawasan tentunya tidak dibangun dengan mudah, ada keakraban yang terjalin karena kita hidup bertahun-tahun di tempat yang sama, atau keakraban bisa terjalin begitu saja dari hasil pengamatan terhadap orisinalitas tempat dengan para penghuninya. Dalam menjelajahi kawasan, penting memiliki transportasi yang handal, dan tukang ojek adalah salah satunya. Tukang-tukang ojek di banyak wilayah Indonesia memang menjadi tulang punggung transportasi saat transportai masal belum melayani rute tertentu. Dengan ciri khas sepeda motor dan helm berwarna kuning, setiap tukang ojek melayani pelanggan ke berbagai wilayah dengan tariff beragam. Tukang ojek membantu kota-kota mengurangi jumlah kendaraan pribadi, membantu pergerakan masyarakat dari satu tempat ke tempat lain dengan segala keterbatasannya, menjadi harapan masyarakat yang tidak mampu membeli kendaraan. Dulu, di Denpasar banyak tersebar pos-pos ojek, tetapi sekarang sudah hampir punah.

“Malaysia always bored me easily, too mechanistic, and Singapore, an artificial island country, a big Disneyland, the trees, the water, the foods are all artificial”, dia kembali tergelak sambil mendekatkan kembali gelas wine kecil ke mulutnya. Suku-suku yang beranekaragam dengan keunikannya, dukun-dukun di kepulauan Mentawai yang membuatnya tercengang dengan tattoo di seluruh tubuh, ikan-ikan indah di kedalaman laut Sulawesi, serta tingkah polah masyarakat baik di wilayah-wilayah terpencil maupun di kota-kota besar membuat dia merasa seperti di rumah sendiri ketika berada di Indonesia.

But, Indonesia facing big challenges, politically, we are not stable.  We are still on the way to find the best democracy method to stabilize this big country”, saya coba memancing pendapatnya tentang situasi politik terkini. “SBY has been widely criticized in Indonesia, but, I think, things might go worse if other candidates won the election five years ago. Well, at least SBY is not an evil man.” Saya hanya manggut manggut, “Politically, Indonesia is not an easy country. It is one of the most difficult country in the world“.

Kurang sebulan lagi pemilu akan diselenggarakan. Titik untuk menentukan arah kebijakan pembangunan ke depan.”As Jokowi now leads the survey, he will bring Indonesia playing essential role in Southeast Asia”, loh tapi ini baru pemilu legislative dan si rambut pirang nampaknya lupa bahwa ada kandidat lain selain Jokowi. “I know, Prabowo will be a tough competitor, he spends a lot of money for more than a year for TV commercials, I think, with the declaration of Jokowi, Prabowo will only waste his brother’ money”, katanya yakin.

Negaramu besar dan kaya, penting dipimpin oleh orang yang jujur dan terbuka, dan yang terpenting orang itu haruslah orang baik. Not only Indonesia, but the entire region will enjoy the benefit from your country”.

Lamat lamat suara gamelan yang dimainkan oleh bapak-bapak dan ibu ibu sepuh dari Oxford Gamelan Society, sore sebelum makan malam tadi, terngiang di telinga. Merdunya suara sinden pria mengiringi gemulai penari yang hidungnya tampak terlalu mancung, berpadu dengan suara gerimis dan gemerisik angin menyapa pepohonan di luar. Suhu dingin.

Si Norwegia melanjutkan, “I have one favorite Indonesian phrase, no matter how difficult life is, orang Indonesia selalu bilang “tidak ada masalah disini”, kami tergelak berbarengan.

Menyaksikan Bergantinya Musim

Image

Bagi para pendatang dari wilayah dengan dua musim, perubahan musim yang terjadi di negara empat musim menjadi daya tarik tersendiri. Negara-negara di kawasan Asia tenggara memiliki iklim tropis dengan suhu udara yang relative lebih panas dibandingkan dengan negara-negara Eropa yang memiliki iklim sub-tropis hingga dingin. Di Negara-negara dengan iklim tropis, perubahan musim tidak dapat disaksikan secara kasat mata, hanya dibedakan atas musim yang memiliki banyak hujan serta iklim saat hujan enggan datang menyebabkan kemarau. Suhu di ikim tropis juga tidak berfluktuasi begitu tinggi, rata-rata hangat sepanjang tahun. Saya malah sering bergurau jika ada yang bertanya soal suhu udara rata-rata di Indonesia dengan mengatakan bahwa kita hanya punya dua macam yaitu, hot and very hot temperature.

Manusia memang aneh. Kadang menginginkan apa yang tidak dimiliki dan tidak mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Saat saya menjelaskan bahwa keadaan temperature di negara-negara tropis seperti Indonesia selalu hangat sepanjang tahun, seorang kawan dari kawasan timur Eropa mengatakan “Ahhh we love your country”. Sementara satu orang lainnya,orang asli Inggris berkata, “Heyy, what are you doing here? Go home enjoy the weather”. Saya hanya tertawa mendengar candaan tersebut karena pada saat yang bersamaan teringat penyesalan seorang kawan yang gagal melihat salju di musim dingin kali ini. Berasal dari India yang memiliki iklim mirip dengan Indonesia, dia sangat ingin mengalami musim dingin ekstrem dengan salju yang tebal. Apa lacur, kali ini salju enggan mampir sehingga gagallah misi si kawan tadi. Begitulah, yang hidup di daerah dingin ingin menikmati kehangatan matahari sepanjang tahun, sementara yang datang dari iklim hangat ingin menikmati musim dingin dengan salju yang tebal.

Image

Lupakan sejenak hangatnya iklim di negara tropis atau salju yang enggan mampir pada musim dingin kali ini. Pergantian musim di negeri empat musim ini sedang terjadi dan pantang untuk dilewatkan. Secara alami musim berganti sesuai dengan siklus alami semesta, dan segenap isi alam menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Saat musim dingin, matahari berada jauh di selatan, sinarnya tidak begitu kuat. Angin dari laut utara berhembus lebih kencang. Udara menjadi lebih dingin. Jarang suhu berada pada angka dua digit, malah kadang berada dibawah nol derajat celcius. Pohon-pohon, nyaris seluruh jenis, memilih untuk beristirahat, meranggas menyisakan batang-batang tanpa daun. Di permukaan tanah, semak-semak berumbi juga demikian. Berlindung di balik lembabnya tanah, tidak menyisakan daun, hanya umbi diantara akar-akar pohon. Banyak binatang yang juga turut berhibernasi, membatasi gerak agar energy tidak terbuang percuma. Matahari terbit lebih lambat sementara terbenam lebih awal mempengaruhi mood juga. Bangun pagi adalah siksaan, jam 8 kadang masih gelap sehingga menarik kembali selimut yang melorot menjadi hal biasa sebelum kemudian terburu buru membuangnya kembali saat menyadari jam alarm di hape sudah lelah menjerit jerit hingga kehabisan daya. Berangkat saat matahari belum terbit serta pulang dari kampus, matahari sudah jauh terbenam dan bintang sudah muncul di langit. Musim dingin memang saat yang ideal untuk merindukan iklim tropis.

Image

Beruntunglah, di dalam gedung, dibatasi dinding di keempat sisi serta lantai berlapis karpet tebal di bawah kaki dan plafond di atas kepala, iklim sudah dimodifikasi. Pemanas ruangan menjaga suhu tetap nyaman sesuai kehendak. Aktivitas pun tetap bisa dilangsungkan secara normal tanpa banyak gangguan seperti di luar ruangan. Ditemani segelas besar cappuccino dan beberapa biscuit gandum dengan butiran butiran coklat di sekujur permukaannya sambil menatap layar computer, suhu di luar tidak banyak berpengaruh.

Tunggu dulu. Berdiam di dalam gedung, terpenjara oleh dinding, dan jadwal, bukanlah pilihan yang bijak. Keluar ruangan, berjalan-jalan menyaksikan berubahnya iklim, menikmati dinginnya udara, hembusan angin, menjadi saksi daun-daun yang berubah warna sebelum berguguran, menikmati gerimis yang dibawa awan adalah sajian kemewahan alam. Kemewahan yang hanya bisa dinikmati kalau kita keluar dari kungkungan dinding, tumpukan artikel jurnal serta kewajiban menulis literature review yang melelahkan. Apalagi di saat musim sedang berganti, dari musim dingin ke musim semi di bulan Maret ini. Baiklah, Kevin Lynch, Paul Oliver, Edward Relph, Manuel Castells dan kawan-kawan, kita istirahat sejenak dari diskusi teori urban design.

Kota Oxford, sekalipun relative kecil dibandingkan kota-kota lain di Britania raya, memiliki ruang terbuka alam yang sangat luas. Lapangan-lapangan terbuka dengan rumput yang menghijau. Hutan-hutan serta semak belukar (disini disebut meadows) serta daerah bantaran sungai Thames yang dibiarkan alami menjadi panggung raksasa pertunjukan pergantian iklim. Diselingi aliran sungai berliku yang dihuni puluhan bahkan mungkin ratusan bebek dan angsa liar. Kerbau liar, burung-burung besar dan kecil, serta kelebat tupai meloncat di atas tanah lalu berlari terbirit birit ke atas batang batang pohon begitu melihat orang melintas adalah para aktor.

Image

Setting sedang berubah. Langit musim dingin yang biasanya kelabu sekarang berangsur semakin cerah. Biru. Matahari muncul lebih awal dari peraduan serta bersinar lebih lama. Angin dingin, sesekali masih berhembus, sudah semakin jarang. Langit benderang lebih lama dan suhu sudah jauh lebih hangat, bersahabat. Saat-saat pepohonan mulai menggeliat, memunculkan pucuk-pucuk daun. Warnanya yang hijau muda berpendar ditimpa sinar matahari mengabarkan kesiapan bangun dari tidur panjang.

Image

Bunga-bunga, meski belum sempurna benar mekar, mengundang kumbang serta kupu-kupu. Di banyak tempat, pohon-pohon sakura semarak berbunga, putih serta pink, tanpa daun, hanya bunga di sekujur batang yang sebelumnya meranggas. Di bawah tajuk pohon besar, tanaman lily bermunculan. Daunnya yang hijau segar serta bunganya kuning, merah, ungu bermekaran. Tidak ketinggalan rerumputan penutup tanah juga memunculkan bunga warna-warni. Semua menyambut berubahnya suhu dari semula dingin menjadi lebih hangat. Bebek-bebek dan angsa-angsa bergerak lebih lincah. Burung-burung juga jadi lebih ribut mencari makan daripada sebelumnya. Taman-taman luas terawat dengan hutan-hutan kecil serta aliran sungai yang tenang menjadi setting yang sempurna. Panggung musim sedang berganti.

Image

Bersyukur di Masa Susah

Image

Sekolah di luar negeri mungkin merupakan sebuah capaian dari upaya tak kenal lelah ditambah passion tiada henti. Bisa menjadi kebanggaan serta yang paling penting menguak segala rasa penasaran tentang kehidupan di belahan bumi yang lain. Lika liku sekolah di luar negeri juga kadang indah namun tidak jarang penuh duka yang harus dilewati.

Sebagai penerima beasiswa, nasib tidak selalu berjalan sesuai rel, kadang meleset, di lain waktu, malah melenceng dari landasannya. Perjalanan dimulai dari mengintip beasiswa yang pas, memenuhi segenap persyaratan persiapan keberangkatan serta hal-hal teknis lain. Namun jangan juga lupa mempersiapkan mental karena di negeri orang dengan bahasa dan budaya yang berbeda, hidup tidak selalu semulus khayalan.

Tapi mari lupakan dulu segala duka yang mungkin terjadi. Di UK internet luar biasa kenceng, jadi, menikmati youtube tidak lagi perlu khawatir dengan gerakan streaming ala robot. Menonton siaran langsung live streaming sangatlah lancar. Video klip dari artis favourit, siaran langsung sepakbola atau tennis,  bisa dinikmati dengan mulus. Selain kenceng, internet juga gratis karena sudah termasuk dalam biaya tuition fee kampus, jadi memanglah sungguh sangat nyaman.

Transportasi massal gratis selaku mahasiswa. Bis datang setiap limabelas menit meskipun kadang terlambat namun tidak lebih 5 menitlah. Tempat duduknya nyaman, interiornya bersih, sopirnya ramah serta kecepatannya tidak lebih dari 20 KM/jam, tidak akan membuat mabok. Tidak ada penumpang merokok, teriak-teriak atau pengamen dengan music ala kadarnya yang menolak dikasi uang recehan. Di kampus pun lumayan nyaman. Ruangan studio luas terang benderang dengan alat tulis yang bisa diambil semau gue: pensil, pulpen kertas, penggaris, map, dll, semua gratis sepanjang untuk kepentingan studi.

Tapi, sebentar dulu. Hidup memang tidak selalu di atas, selalu ada masa masa merasakan bagian terbawah dari lingkaran roda pedati. Kadang ketika kita pas berada pada posisi roda di bawah, saat bersamaan si pedati melewati lumpur. Wah, seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Sebagai penerima beasiswa dari pemerintah, harus bersiap menerima konsekuensi keterlambatan pengiriman. Tentulah tidak ada unsur kesengajaan, tetapi jalur birokrasi yang harus dilewati sampai pencairan beasiswa penuh liku. Pertama-tama ada persyaratan agar mengirimkan laporan perkembangan study yang ditandatangan pembimbing. Tidak ada masalah dengan hal ini, tetapi menjadi rumit ketika diminta saat semester belum berakhir. Jadilah harus memasang tampang memelas kepada pembimbing agar sudi menandatangani laporan di tengah-tengah semester. Meskipun beliau tidak keberatan, tetap saja tatapan aneh menyelidiknya membuat kita tersipu malu. Setelah itu semua persyaratan diupload di web beasiswa.

Bulan-bulan di awal tahun 2014 ini adalah masa-masa suram. Saat partai-partai politik dan simpatisannya hiruk pikuk mempersiapkan pesta demokrasi, para karyasiswa harap harap cemas menanti kiriman biaya hidup bulanan. Sudah lebih sebulan dari jadwal semestinya tapi belum juga cair. Awal semester sebelumnya pihak pengelola, DIKTI, sudah menyampaikan tentang kemungkinan keterlambatan ini, jadi sebetulnya rata-rata karyasiswa sudah bersiap diri dengan skenario terburuk.

Saya sendiri, yang sudah kali kedua menjadi karyasiswa DIKTI, sudah sangat siap lahir bathin. Kalau dulu ada kawan penerima beasiswa dari lembaga lain yang bisa dipinjami sementara, kali ini trik berhematlah yang harus ditempuh. beli bahan makanan paling murah!!

Saat uang di dompet sudah menipis, keberuntungan bisa muncul di depan mata. Sore itu saya bermaksud jalan-jalan, blusukan kata orang, ke tengah-tengah pasar tradisional. Pasar terletak di tengah-tengah kota di belakang deretan toko-toko cukup tersembunyi. Banyak barang yang dijual, umumnya hasil pertanian serta peternakan penduduk setempat. Ada juga barang-barang hasil karya tangan: sepatu handmade, baju rajutan, syal, sampai cenderamata. Tidak ada rencana untuk berbelanja, jadi cukuplah tiga keping logam kuning keemasan menemani di saku. Uang senilai 3 Pounds inipun sekedar jaga-jaga kalau tiba-tiba ketemu warung kopi yang enak, sekalian bisa mampir. Aroma masakan traditional mampir di hidung dari restaurant yang terletak berdekatan dengan pintu masuk pasar. Gurihnya aroma daging yang sedang dibakar, entah sapi atau domba, menguar udara. Perut jadi lapar. Masuk ke dalam pasar, aneka rupa hasil pertanian terpajang rapi di rak rak pedagang sayur-mayur dan buah-buahan bersanding dengan bunga-bunga segar dari kebun-kebun bunga di sekitar kota. Tepat di sebelahnya beberapa potong paha sapi gemuk tergantung di jendela toko daging. Di bawahnya daging ayam yang sudah bersih terpajang di dalam bungkus styrofoam. Bersih dan sama sekali tidak beraroma amis. Dinginnya udara serta prosesnya yang higienis mungkin berperan membuat baunya tidak sampai mengganggu beberapa orang yang sedang asyik makan sandwiches di sebelah saya. Iseng-iseng melirik harganya. BUSYETT!!!, ternyata lebih mahal dibanding di toko serba ada, tempat biasa membeli kebutuhan sehari-hari. Saat ditanya, ternyata semua daging yang dijual disana adalah daging organic hasil peternakan penduduk setempat. Harganya lebih mahal karena diproses mulai dari makanan hingga penyembelihan dan dijual secara organic tanpa melibatkan mesin.

Ahh…untunglah siang itu tidak berniat berbelanja, sekedar berkeliling pasar sambil memotret kehidupan asli penduduk setempat. Lagipula beasiswa masih enggan mampir di rekening. Tidak hanya daging, ternyata barang-barang lain juga memiliki harga di atas rata-rata toko. Saya perkirakan karena semuanya handmade. Sepatu dibuat langsung disitu dengan cara mengukur kaki pemesan, demikian juga baju baju serta syal rajutan semua sama, lebih mahal.

Puas berkeliling pasar, saya memutuskan untuk pulang. Melewati lagi beberapa pedagang termasuk pedagang daging tadi. Di atas meja di dekat pintu terdapat beberapa bungkusan dengan tanda harga 1 Pounds. Iseng-iseng saya dekati. Wah isinya daging beratnya kira kira seperempat kilo. Lhah kok lumayan murah, jauh dari harga yang tadi saya lihat. Setelah diteliti, isinya ternyata tulang-tulang yang tidak laku. Termasuk tulang iga. Saya ambil dua bungkus lalu membayar di kasir. Wah lumayan ternyata dapat setengah kilo tulang kambing dengan harga 2 pounds. Kalau daging kambingnya sendiri per kilo harganya sekitar 10-15 pounds. Saat-saat duit menipis, tentulah hal-hal semacam ini patut disyukuri.

Sampai dirumah, tulang belulang dikeluarkan dan isinya lumayan. Tulang iga dan beberapa potong tulang dengkul. Masih banyak dagingnya. Dua potong iga dimasukkan ke panggangan, sementara dengkul dan tulang lain dimasukkan panci dan direbus. Hasilnya? dua potong iga dan semangkuk besar sup pedas, ditemani sepiring nasi panas di dinginnya sore berkabut, sungguh nikmat tak terkira dengan harga yang terjangkau.

bagi yang senasib, Selamat mencoba…

Masa Kanak-Kanak dan Rancangan Kota Masa Depan

Image

Apa hubungannya antara rancangan kota masa depan dengan masa anak-anak kita? Kota-kota selalu dipakai oleh beragam manusia dari berbagai latar belakang yang berbeda, ras, etnik, gender, agama dan tentu saja umur yang berbeda-beda. Ruang-ruang kota dipergunakan mulai dari anak kecil hingga orang-orang tua. Diantara range umur, maka yang memiliki posisi paling lemah, the most vulnerable, adalah anak anak dan orang tua, karena keterbatasan fisik relative yang mereka miliki. Pada ruang-ruang terbuka kota, jalan, taman kota, trotoar atau ruang ruang yang lebih aktif serperti pasar, lapangan olahraga, kita jarang menjumpai anak-anak kecil serta orang tua berumur berlalu-lalang. Satu dugaan saya adalah tempat-tempat tersebut tidak ramah terhadap pengguna dengan usia semuda anak –anak atau setua orang tua kakek nenek kita.

Image

Rancangan adalah sebuah proyeksi yang dibuat untuk melihat wujud sebuah kota di masa yang akan datang. Rancangan dibuat dengan perhitungan-perhitungan dari data data yang diperoleh lalu disusun secara sistematis menjadi sebuah program kebutuhan yang diterjemahkan menjadi sebuah panduan pemabngunan sebagai tanggapan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Prinsip-prinsip pertanggungjawaban secara ilmiah membedakan antara rancangan dan ramalan. Lalu seperti apa rancangan kota yang ramah terhadap anak-anak di masa depan? Bagaimana memprediksi kehidupan anak anak di masa yang akan datang? Apa saja yang perlu diperhatikan?  Merancang kota yang bersahabat dengan anak berarti kita harus mengakomodasi segenap kebutuhannya dalam upaya membantunya menemukan potensi dirinya yang paling optimal.

Sebuah rancangan ibarat rencana untuk melangkah ke masa depan. Sebelum kita menentukan tujuan, maka penting untuk mengetahui darimana kita berasal. Pertimbangan soal ‘darimana kita berasal’ ini penting untuk memastikan bahwa langkah kita memang menuju arah yang benar serta agar kita tidak justru melangkah mundur. Dengan demikian untuk merancang kota masa depan yang ramah terhadap anak, ada kalanya pengalaman masa kecil kita dijadikan sebagai acuan.

Apa yang paling berkesan saat kita berusia anak anak 3-12 tahun? Mungkin bermain bebas di sekitaran rumah adalah salah satunya. Seperti yang sering tayang di televisi pada acara petualangan anak-anak. Mengapa hal tersebut terkenang begitu lama? Konon masa kanak kanak adalah masa kita mencoba berbagai hal, mencari jawab berbagai pertanyaan yang muncul di kepala, serta mengeksplorasi kemampuan fisik dan jasmani tubuh: memanjat, berlari, merangkak,berenang, melompat adalah sebagian dari kegiatan kita mengeksplorasi ruang di sekitar kita.

Pada waktu kecil hal yang paling sering saya lakukan pada ruang-ruang terbuka adalah bermain. Bermain tidak memandang tempat serta lokasi sepanjang kita menemukan areal terbuka yang aman. Saya masih ingat waktu kecil sangat suka bermain bola di jalanan karena pada masa itu kendaraan bermotor masih terbatas. Jalan-jalan aman dari lalu-lalang mobil atau motor menjadikannya masuk akal dijadikan ‘lapangan bola’ dadakan. Bermain kasti atau bermain tengklek adalah permainan lain yang juga biasa mengambil tempat di jalanan. Lelah bermain, warung-warung kecil di pinggir jalan, menyajikan hidangan sederhana: bubur, jajanan basah tradisional, rujak serta kerupuk, di atas meja tanpa atap menjanjikan istirahat yang menyenangkan. Menikmati jajanan sore sambil duduk-duduk di atas batu pinggir jalan menjadi kegiatan yang menarik. Sore hari, setelah lelah bermain, maka arena berpindah ke sungai-sungai di tepian desa menjadikannya sebagai arena bermain sekaligus tempat mandi. Tidak hanya anak-anak, sungai juga menjadi tempat bertemunya, nyaris, seluruh penduduk kampung pada sore hari. Balapan renang, bermain rakit dari ban dalam bekas truk atau bermain ciprat menjadi pemandangan biasa. Kadang juga berlomba menciptakan efek pelangi dengan cara menyemburkan air dengan tangan ke udara sehingga cipratannya beradu dengan sinar matahari sore. Pantulan sinar matahari yang beradu dengan butir-butir kecil air membiaskan cahaya serupa pelangi di udara.  Semua hal tersebut bisa terjadi karena kenyamanan serta rasa aman yang disediakan oleh ruang-ruang terbuka pada masa itu setara dengan yang ditawarkan oleh kenyamanan di dalam rumah. Ruang-ruang terbuka adalah ‘rumah’ bagi anak anak, tempat mengeksplorasi kemampuan fisik serta merangsang daya imajinasi sekaligus mengajarkan kehidupan sosial dengan teman sebayanya.

Kenangan masa anak-anak bisa dijadikan sebagai refleksi dalam merancang sebuah kota. Beberapa prinsip dapat diambil tanpa harus mengorbankan kepentingan atau pengguna lain dalam ruang kota, orang dewasa. Berikut ini saya mencoba menyusun beberapa kriteria yang bisa dipertimbangkan dalam merancang kota yang ramah terhadap anak. Kriteria ini tidak harus dipenuhi dengan cara menyediakan ruang-ruang baru yang menghabiskan dana banyak, tetapi memanfaatkan ruang-ruang yang sudah tersedia dengan memberi nilai tambah serta sentuhan baru.

10 Kriteria Merancang Ruang Kota Ramah Anak

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

01. Ruang-ruang kota yang aman menjadi kriteria utama dalam merencanakan ruang-ruang yang diperuntukkan bagi anak-anak beraktivitas. Saat bermain bersama kawan-kawannya seringkali anak-anak abai terhadap keselamatan dirinya, sehingga lingkunganlah yang harus direncakan agar tidak ada hal-hal yang membahayakan keselamatan dirinya namun tetap memberi keleluasaan bagi anak-anak tersebut untuk tetap mampu bereksplorasi.

I

Image

02. Jalan yang berfungsi ganda. Memanfaatkan jalanan sebagai tempat bermain terjadi di seluruh dunia. Di Brasil banyak pemain bola terkenal lahir dari permainan sepakbola jalanan. Namun untuk dapat menggunakan jalanan sebagi tempat bermain ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain: perkerasan permukaan, pengguna jalan lain, serta bangunan di sekitarnya. Memanfaatkan jalan sebagai arena bermain dapat meningkatkan value jalan itu sendiri tidak ekslusif menjadi milik kendaraan atau ekslusif hanya untuk kepentingan transportasi saja.

I

Image

03. Jalur-jalur sepeda yang aman dapat melengkapi perabot jalan, karena bersepeda juga menjadi kegiatan yang menarik bagi anak-anak. Orang dewasa umumnya mengendarai sepeda untuk kebutuhan transportasi berbeda dengan anak-anak yang menganggap bersepeda adalah bagian dari kegiatan bermain mereka. Jalur-jalur bersepeda dibuat menarik, mengundang rasa penasaran, atau dibuat dengan sedikit tanjakan dan turunan sehingga menantang kemampuan anak-anak untuk menjajal kemampuan fisiknya.

I

Image

04. Rute menarik sepanjang jalan dari sekolah ke rumah bisa menjadikan anak-anak lebih kreatif dalam mempelajari lingkungannya. Menyediakan jalan-jalan alternative dari rumah ke sekolah dengan berjalan kaki atau bersepeda tanpa ditemani orang tua memberi kebebasan anak untuk memilih jalur serta mengambil keputusan jalan mana yang akan diambil. Jalan dari rumah ke sekolah dapat dilengkapi dengan bangku-bangku taman tempat beristirahat sehingga sepanjang jalan, selain melewati jalur, mereka juga dapat berinteraksi dengan temannya, berdiskusi di bangku taman atau beristirahat sejenak sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya.

I

Image

05. Warna-warni yang menarik selalu berhasil menarik minat anak-anak. Warna warni yang menarik diaplikasikan tidak hanya pada pakaian yang mereka kenakan tetapi juga pada elemen-elemen lingkungan seperti bangku-bangku taman, tiang-tiang lampu sepanjang jalur yang dilalui anak, anak, dinding-dinding atau pagar pengaman serta bisa juga ditrapkan pada permukaan jalan.

I

Image

06. Air mancur menjadi elemen menarik jika didessain dengan baik, dapat melibatkan anak anak secara ktif tidak hanya menjadi hiasan saja. Air mancur selama ini ‘hanya’ difungsikan untuk elemen estetika padahal sesungguhnya anak-anak bisa diundang untuk beraktivitas dengan bermain-main menggunakan air tersebut. Sungai-sungai kecil juga bisa dimanfaatkan tentu dengan tetap mempertimbangkan factor keselamatan dan keamanan anak-anak.

I

Image

07. Dengan daya imajinasinya, anak anak bisa melakukan hal-hal yang tidak kita duga sehingga kriteria berikutnya, multifungsionalitas, penting untuk dipertimbangkan. Penggunaan ruang untuk berbagai kepentingan, serta memberi kebebasan pada anak-anak untuk mengembangkan imajinasinya di ruang terbuka bisa menjadi pilihan. Dengan membiarkan anak-anak mengembnagkan imajinasinya diharapkan akan menumbuhkan kreativitas, tidak saja bagi si anak tetapi juga bagi pengguna ruang kota yang lain.

I

Image

08. Saya seringkali terkenang terhadap beberapa tempat di masa kecil dimana saya sering melakukan aktivitas, misalnya bermain rakit serta menangkap ikan di sungai. Memory membuat kita memiliki ikatan bathin yang kuat terhadap sebuah tempat. Demikian juga saat merancang ruang terbuka untuk anak. Beberapa tempat bisa didesain untuk memberi kebebasan pada anak melakukan aktivitas yang disuka dan menjadikan ruang tempat aktivitas tersebut sebagai tempat yang mudah diingat.

I

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

09. Warung-warung jajanan sehat pinggir jalan bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi anak-anak. Makan serta minum di pinggir jalan sambil bersosialisasi dengan teman-temannya selain menciptakan keakraban juga bisa memebri pengalaman berbeda, misalnya berbagi makanan, dibandingkan dengan makan di rumah.

I

Cycling-in-Amsterdam

10. Terakhir adalah membatasi aktivitas kendaraan di jalan. Hal yang cukup sulit tetapi masih ada harapan untuk mengembangkan transportasi massal yang lebih aman, nyaman serta tepat waktu dengan jumlah armada yang memadai. Dengan mengurangi jumlah kendaraan di jalanan, maka fungsi jalan akan bisa berkembang lebih luas lagi, sebagai tempat aktivitas bermain anak anak.

I

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mendesain ruang-ruang kota merupakan salah satu aktivitas rumit yang melibatkan banyak sekali pengguna. Sebagaimana diungkap di awal tulisan, pengguna anak-anak dan orang yang sudah berumur dia atas 60 tahun adalah yang paling vulnerable diantara pengguna ruang kota yang lain. Dengan memperhatikan kelompok yang memiliki kebutuhan khusus tersebut, ruang-ruang kota diharapkan mampu mengundang lebih banyak aktivitas pada ruang-ruangnya yang pada akhirnya akan meningkatkan vitalitas penggunaan serta diversitas pengguna. Semakin baik vitalitas sebuah kota dan semakin diverse penggunanya, maka kualitas hidup kota tersebut akan semakin meningkat. Kota wajib dirancang untuk pengguna dari segala golongan umur, karena kota adalah milik bersama.

jika di ruang-ruang umum anak-anak tidak mendapat ruang yang memadai, maka aktivitasnya akan terbatas pada rumah dan , mungkin, mall. Puluhan mall akan menggantikan tempat-tempat bermain anak. Mall mungkin menyediakan ruang tetapi tidak akan mampu menggantikan pengalaman bermain di luar ruang secara bebas dan gratis.

Tergesa di Senja Birmingham

Image

Sorak sorai penonton Indonesia mengiringi permainan para pemain bulutangkis Indonesia menghadapi lawan-lawannya dalam perhelatan All England di Birmingham. Sempat salah duduk di kursi paling atas, saya bersama Pak Agung pindah ke tempat duduk di bawah dan justru menjadi lebih dekat dengan arena pertandingan. Pukulan-pukulan smesh bergantian dari Tontowi Ahmad dan Liliana Natsir meluncur deras ke daerah lawan. Kemenangan diraih dengan cepat oleh pasangan ganda campuran Indonesia ini atas pasangan Korea, hanya dalam tempo 31 menit. Pertandingan semifinal lainnya di cabang ganda putra mempertemukan sesama pasangan ganda putra Indonesia, Markis Kido/Fernaldi yang dikalahkan oleh pasangan peringkat 1 dunia Ahsan/Hendra. Selain kedua pertandingan tadi, tidak ada lagi pemain Indonesia yang bertanding. NIA,tempat berlangsungnya pertandingan All England terletak agak di pinggir namun masih pada kawasan pusat Kota Birmingham, kota terbesar kedua di Britania setelah London, di tepi kanal kecil.

Selepas menonton pertandingan hanya tersisa waktu kurang lebih satu jam untuk menyusuri pusat kota yang dialiri sungai kecil dengan aliran air tenang. Sempitnya waktu tidak memberi pilihan leluasa untuk mengunjungi banyak tempat, beruntunglah di kawasan pusat kota ini terhimpun segala jenis aktivitas yang bisa diamati sembari menyusuri setiap jengkal permukaan jalan setapak nyaman berbahan batu alam hingga bata-bata merah cetak. Aman dari lalu lalang kendaraan karena jalur kendaraan didesain untuk tidak melewati kawasan ini.

Image

Ada banyak fakta serta sejarah yang menjadikan kota ini menarik untuk disimak. Lansekap perkampungan serta desa desa di sekitarnya konon mengilhami J.R.R. Tolkien menciptakan setting cerita trilogy terkenal The Lord of the Rings meskipun akhirnya, untuk kepentingan pembuatan film, New Zealand yang dipergunakan lebih banyak sebagai setting. Selain itu, disinilah salah satu tempat bermulanya revolusi industry yang merubah wajah dunia. James Watt menciptakan mesin uap untuk pertama kalinya disini. Kelompok-kelompok ilmuwan pada masa itu juga banyak menciptakan terobosan-terobosan bidang manufaktur dan teknologi aplikatif, antara lain bohlam lampu dengan bentuknya seperti yang kita pakai saat ini.

Tidak kurang dari 33.5 juta pengunjung datang setiap tahunnya dan, konon, angka ini masih terus bertambah dalam beberapa masa belakangan. Mungkin salah satu sebab lainnya adalah letaknya yang strategis di jantung Britania Raya memudahkan akses sekaligus menjadi titik hubung beberapa kota besar dan kecil. Ada banyak cara menikmati keindahan kota ini, salah satu yang digemari pengunjung adalah menumpang perahu menyusuri canal-canal menyaksikan wajah kota tidak dari arah jalan raya. Ongkosnya? Sekitar 7 GBP bagi orang dewasa untuk satu jam perjalanan. Melihat kehidupan kota dan perkembangannya dari arah kanal pasti memberi sensasi yang berbeda terutama bagi sebagian besar orang yang terbiasa menyaksikan wajah kota dari arah jalan raya.

Image

Pusat kegiatan utama, baik warga lokal maupun wisatawan terpusat di Victoria Park, jantung vitalitas kehidupan kota ini. Victoria Park adalah sebuah plaza terbuka di depan balai kota dilengkapi dengan undak-undakan lebar berbentuk kurva. Di sekitar plaza ini terdapat berbagai gedung beragam fungsi dengan arsitektur yang unik. Birmingham Museum and Art Gallery adalah salah satu museum terbesar berarsitektur bergaya Late Victorian yang spektakular. Museum ini merupakan rumah bagi koleksi terbesar sebelum masa seniman terkenal, Raphael. Berdekatan dengan museum, tepatnya di seberangnya, bangunan Town Hall berdiri megah dalam balutan arsitektur klasik dengan deretan tiang-tiang bergaya Doric kokoh menunjang atap limas raksasa. Berbahan marmer putih monumental. Selain kedua bangunan yang sangat mencolok tadi, plaza juga diperkaya dengan karya seni berbagi bentuk dalam ukuran. Patung-patung dengan kolam air mancur, bangku-bangku kayu dengan rangka besi berukir hingga taman-taman bunga aneka warna menambah semarak suasana. Oh ya, sempatkan juga untuk singgah ke salah satu perpustakaan dengan koleksi terlengkap di Eropa, Birmingham City Library. Sayang terbatasnya waktu membuat niat untuk sekedar melongok ke dalam menjadi sirna. Selain di atas tanah, perpustakaan ini juga memiliki ruang-ruang di bawah tanah sebanyak beberapa lantai. Bagian atasnya berupa pelataran terbuka. Sama sekali tidak terasa kalau di bawahnya adalah perpustakaan dengan ribuan koleksinya.

Image

Bagi kaum muda, terutama pecinta wisata belanja, Bull Ring, pusat perbelanjaan raksasa akan memuaskan hasrat dengan berbagai produk fashion kelas atas hingga toko toko atau lapak-lapak kecil yang menjual pakaian bekas. Selain pakaian, salah satu produk unggulan yang juga bisa dijumpai disini adalah perhiasan: emas, perak, maupun bahan bahan lainnya. Konon dari total perhiasan yang beredar di seluruh Inggris, 40% berasal dari pengrajin yang tinggal di tepian Kota Birmingham. Pusat perbelanjaan, yang nampaknya masih cukup baru, berdesain modern lengkap dengan ruang-ruang terbuka berhadapan langsung dengan sebuah gereja tua bergaya gothic dengan menara runcing menjulang tinggi. Persis di seberang gereja, sebuah pasar tradisional menjual berbagai produk pertanian penduduk local senantiasa ramai dikunjungi baik warga local maupun wisatawan. Pasar adalah salah satu tempat dimana kita bisa melihat kehidupan penduduk lokal, produk yang dihasilkan, serta makanan tradisional daerah tersebut. Saat berkunjung kesana, pasar sudah tutup hanya menyisakan beberapa pedagang yang sedang membereskan lapak dan sisa barang dagangannya yang tidak habis terjual hari itu.

Image

Puas berjalan-jalan dan melongok segala koleksi seni hingga tinggalan sejarah di museum, café-café di sepanjang kanal siap menjamu dengan sajian hidangan dari berbagai negara. Persentuhan Birmingham dengan berbagai kultur pada masa revolusi industry turut mendorong terjadinya akulturasi budaya dalam berbagai hal termasuk kulinernya. Berbagai jenis makanan bisa dijumpai, beberapa diantara yang cukup terkenal adalah bir putih yang disebut ale, balti serta yang telah mendunia adalah berbagai olahan coklat. Cadbury, salah satu merk coklat terkenal di dunia, ternyata berasal dari sini. Bagi yang berkantong cekak seperti kami, cukuplah minum segelas kopi panas dari toko eceran di stasiun untuk menghangatkan tenggorokan pada sore menjelang malam hari itu.

Image

Matahari mulai tergelincir menuju peraduannya meninggalkan sisa-sisa kehangatannya pada jalan-jalan setapak berwarna merah bata. Sinarnya memantul dari kaca-kaca gedung yang licin berkilat-kilat berwarna kuning keemasan. Riak-riak kecil air sungai yang mengalir tenang memantulkan bayang-bayang bangunan di tepiannya serta jembatan yang bersilangan di atasnya. Sambil mempercepat langkah, kami coba menikmati suguhan kehangatan suasana dan lalu lalang ramai pejalan kaki. Perjumpaan dengan seorang kawan sesama warga Negara Indonesia, yang baru sama-sama usai menonton All England,  menjadi bonus keakraban sore itu. Anak-anak kecil berlarian di tepi sungai, sementara orang tuanya asyik bercengkrama dengan koleganya di bangku-bangku kayu café sambil sesekali melepaskan tawa akrab. Bebek-bebek dan angsa-angsa berenang-renang mencari makan sambil sesekali bersuara lantang memekakkan telinga, mengharap ada yang melempar remah-remah roti ke arah mereka, menambah ramai. Tergesa-gesa karena jam sudah semakin mendekati saat keberangkatan bis, tidak banyak yang bisa dinikmati lagi.

Langit sudah menua saat seulas senyum bulan sabit menghiasi langit mengiringi laju bis yang saya tumpangi kembali ke Oxford malam itu.

Image

Menjelang Musim Semi : Reading

Image

Matahari bersinar cerah menerangi kota di pagi hari, ditemani nyanyian burung serta aktivitas berbagai hewan di taman kota Reading. Batang-batang pohon tanpa daun membiarkan sinar matahari menjangkau semak dan rerumputan di bawahnya sementara genangan air bekas hujan memantulkan cahaya matahari di bawah naungan bayang bayang pokok pohon. Seorang bapak nampak asyik bercengkrama dengan dua anaknya yang bergerak lincah di seputar kolam air mancur, yang tidak sedang mengalirkan air, menikmati hangatnya matahari. Tawa sang anak sambil berlarian serta wajah ceria si bapak cukup menggambarkan suasana hati mereka yang senada dengan keceriaan pagi itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Reading sebuah kota kecil tetangga Oxford berjarak sekitar 20 menit dengan menumpang kereta api. Cukup dekat dan tidak begitu mahal jika ingin sejenak melepas penat mencari suasana baru diantara jejalan tugas dan tumpukan buku serta jurnal yang harus dibaca, diringkas ataupun disitasi. Akhir pekan tepat setelah proposal penelitian saya diuji dan dinyatakan layak untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi kota ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dengan perasaan nyaman, maka saatnya menyusuri jalan-jalan setapak kota yang didominasi warna merah bata ini. Sebentar merah bata? Nah ada yang menarik perhatian dari tampilan kota ini secara umum. Bangunan-bangunannya sebagian besar dibuat dari batu bata cetak, berbahan tanah liat dengan perekat semen traditional. Lalu alihkan pandangan ke bawah, ke jalan-jalan yang dipijak oleh kaki, juga terbuat dari bahan yang sama. Dominasi material bata ini mengundang pertanyaan, mengapa sedemian umumnya penggunaan bata di kota ini. Konon, Reading adalah salah satu kota dengan kualitas tanah liat terbaik di Inggris. Material ini kemudian diolah sebagai bahan bangunan dengan cara dicetak dan dibakar dalam berbagai bentuk dan ukuran sebagai bahan bangunan alternative pengganti batu alam di masa lalu. Industry bata merah ini kemudian berkembang menjadi salah satu andalan kota ini dalam menunjang perekonomiannya.

Image

Ada banyak sudut menarik dari Kota ini untuk dinikmati, tetapi sebagaimana biasa, saya memulainya dari Museum Kota. Oh ya, kota kota di Eropa umumnya memiliki museum tentang sejarah berdirinya kota tersebut dan hal-hal menarik sepanjang sejarah berjalannya kota tersebut. Museum of Reading terletak persis di sebelah bangunan balaikotanya di pusat kota dan dalam jangkauan jalan kaki dari stasiun, pusat perekonomian serta taman kota yang luas. Berjalan kaki dari taman kota Reading sejauh lebih kurang 2 menit, sampailah di museum sejarah kota ini. Selain industry bata, kota ini juga terkenal sebagai penghasil biscuit. Berbagai bentuk kemasan biscuit, kaleng, karton, serta bungkus dari berbagai jaman terpajang di museum. Grafisnya sangat unik dan artistic. Selain biscuit, tentu saja di museum ini dapat dilihat hasil kriya tanah liat sebagai salah satu produk unggulan wilayah ini. Patung-patung tanah liat, potteries hingga keramik lantai dipajang dari berbagai jaman dan gaya artistic.

Puas menikmati museum, perjalanan berlanjut melihat-lihat sudut kota lainnya. Kawasan tepi sungai menjadi sasaran berikutnya. Ternyata di tepi sungai juga ada museum. The Riverside Museum di kawasan yang disebut Blake Lock. Museum ini menempati bekas rumah turbin pembangkit listrik kota ini di masa lalu. Turbin-turbin tersebut masih bekerja hingga saat ini meskipun listrik sudah tidak lagi bersumber dari sana. Bangunan bekas pembangkit ini kemudian bertransformasi menjadi sebuah museum sebagai bagian dari sejarah pembangunan Kota Reading. Pada saat kami ke sana museum ini sedang tutup karena dalam tahap pemeliharaan turbin. Demikian pula dengan café yang terdapat tepat didepan museum ini juga tutup mengurungkan niat untuk makan siang sambil menikmati angsa-angsa liar yang menjadi penghuni kawasan tepi sungai.

Image

Matahari sudah cukup tinggi saat kami memutuskan untuk makan siang di tempat lain. Rombongan saat itu cukup besar, teman-teman PPI Oxford, para pengurus PPI UK serta tuan rumah kawan-kawan PPI Reading. Jumlah rombongan ini lalu berpencar di City Centre untuk makan siang sesuai selera masing masing. Pusat bisnis dan perdagangan kota Reading berada di tepi sungai kecil. Kedua sisi sungai dijejali oleh berbagai macam took dari berbagai brand ternama dan restaurant dengan hidangan dari berbagai negara. Cukup bingung juga memilih-milih makanan. Saya bertiga dengan kawan dari Birmingham akhirnya memutuskan hanya makan di McDonalds karena hampir semua tempat makan siang itu penuh sesak. Kami membeli burger dan selanjutnya makan di tepi sungai menikmati hangatnya matahari. Air sungai rupanya sedang meluap cukup tinggi hingga merendam halaman dan tempat duduk duduk di tepi seberang tempat kami makan. Jalan masuk ke area tersebut ditutup dengan pagar besi agar tidak ada orang yang membahayakan dirinya menjangkau tempat tersebut. Dua jembatan yang menghubungan kedua tepi sungai ramai dengan lalu lalang orang. Selain berfungsi sebagai penghubung kedua tepi sungai, kedua jembatan ini juga berisi beberapa bangku kayu menyediakan tempat duduk-duduk sambil menikmati aliran sungai dari atas jembatan. Siang itu Nampak beberapa pasang anak muda, orang tua beserta anak atau cucunya duduk-duduk sambil bercengkrama. Semua menikmati hangatnya mentari siang itu yang menjadi barang langka di musim dingin ini.

Image

Ada satu tujuan yang membuat penasaran, University of Reading, yang konon memiliki salah satu Fakultas Pertanian terbaik di Eropa. Segera setelah makan siang perjalanan dilanjutkan ke University of Reading. Teman-teman PPI Reading nampaknya paham benar dengan rasa penasaran saya, sehingga sebelum mengunjungi Fakultas Pertanian, kami diajak dulu ke sebuah museum yang juga terletak di areal kampus. Nama museumnya ‘The Museum of Rural Life’ dengan bangunan, yang lagi-lagi terbuat dari bata merah, dan lebih mirip gudang. Tapi jangan salah, ternyata di dalamnya tertata dengan sangat baik layaknya sebuah museum, ada area penerima lengkap dengan meja resepsionis, rak-rak souvenir dan penjaga yang sangat ramah. Yang lebih mengesankan adalah koleksi di dalamnya berupa kehidupan pertanian pada jaman dahulu, perlatan serta perlengkapan yang dipakai serta perkembangan teknologinya. Mirip museum Subak di Bali dalam versi eropa. Pertanian di Eropa jaman dulu seperti juga di belahan dunia lainnya masih menggunakan alat-alat yang tradisional namun bertransformasi drastic pada masa revolusi industry. Penuam alat-alat baru mengubah metode pertanian menjadi lebih termekanisasi dengan peralatan yang lebih modern. Pelaralatan pertanian beserta metode serta tata cara pengolahan makanan menjadi produk akhir disajikan dalam berbagai memorabilia yang tersimpan di museum ini. Beberapa anak kecil terlihat penasaran melihat gerobak-gerobak kayu besar alat angkut hasil pertanian seperti juga saya yang cukup takjub melihat berbagai koleksi di museum ini.

Image

Hal menarik lainnya adalah mengunjungi kawasan pertanian dan petenakan yang dimiliki oleh institusi ini. Hari sudah terlalu sore sehingga sebagain besar fasilitas sudah tutup. Untuk mengganti rasa kecewa kami menikmanti taman luas di areal kampus ini. Pohon-pohon yang sedang meranggas, bebek-bebek yang berenang di sungai-sungai kecil serta kolam-kolam kampus yang memantulkan bias kemerahan langit sore sungguh memikat.

Image

Menikmati Sekeping Masa Lalu: Liverpool

Image

Apa yang terbayang kalau kita mendengar kata Liverpool? Ya setiap orang akan membayangkan sepak bola dan musik. Memang tidak salah, kota Liverpool memiliki dua klub sepakbola ternama, Liverpool FC dan Everton. Demikian pula dengan musik, kota ini  identik dengan grup musik legendaris the Beatles. Namun ada hal lain yang menawan hati, sejarah masa lalu yang masih bisa dinikmati hingga kini.

Liverpool terbentuk sebagai sebuah wilayah kecil dengan pelabuhan nelayan tradisional sekitar tahun 1207. Tahun 1880 seiring dengan makin pesatnya urbanisasi dan padatnya penduduk, status dari desa nelayan berubah menjadi sebuah kota. Pada era abad ke 18, Liverpool merupakan pelabuhan penting yang menghubungkan kerajaan Inggris Raya dengan wilayah-wilayah luar, India Barat, Irlandia dan sebagian besar wilayah Eropa daratan. Pelabuhannya juga berkaitan langsung dengan maraknya perdagangan budak yang terjadi secara massif di perairan Atlantic kala itu. Karena hubungannya yang sangat luas dengan dunia luar, Liverpool, pada jamannya, relatif lebih maju dibandingkan kota-kota lain. Kapal-kapal ferry, jalur-jalur kereta api serta gedung-gedung berukuran besar menunjukkan pesatnya perkembangan ekonomi pada masa tersebut. Gedung-gedung dengan arsitektur yang indah, ruang-ruang terbuka kota yang luas dan nyaman masih dapat disaksikan hingga kini dengan kondisi yang sangat terawat. Boleh dibilang bangunan-bangunan tersebut menjadi ikon pariwisata Kota Liverpool. Keberhasilan Kota Liverpool merawat warisan budayanya memperoleh ganjaran sebagai World Heritage Site dari  UNESCO tahun 2004.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berbekal informasi dasar tersebut, rasanya kaki tidak sabar untuk menapaki jalan-jalan di kota tersebut. Ada dua lokasi yang umumnya selalu menjadi pusat perhatian para turis yang berkunjung sesuai dengan label yang melekat pada kota ini. Tujuan yang pertama adalah stadion kebanggaan kesebelasan Liverpool F.C., Anfield, dan yang kedua adalah kawasan waterfront yang menjadi markas grup musik the Beatles sekaligus merupakan kawasan kota lama dengan arsitektur bangunan yang indah serta tempat dimana museum-museum kota ini berada.

Anfield terletak cukup jauh dari kawasan pusat kota. Kita bisa naik bis atau taxi untuk menuju lokasi ini, namun karena ini adalah kunjungan pertama, saya memilih berjalan kaki. Berjalan kaki menjadi pilihan dengan pertimbangan bahwa sepanjang jalan saya masih bisa menikmati pemandangan kota ini. Membutuhkan waktu kira-kira 45 menit berjalan kaki dari pusat kota menuju stadion. Angin kencang dan dinginnya temperatur membuat perjalanan sedikit menyiksa di bulan Februari. Stadion Anfield berdiri di tengah-tengah kompleks permukiman penduduk yang relatif padat. Rasanya kalau tidak ada transportasi publik yang memadai, pastilah kawasan ini akan macet total pada saat pertandingan berlangsung. Bayangkan saja jika semua penonton menggunakan mobil atau kendaraan pribadi datang dalam waktu yang bersamaan. Untunglah transportasi massal bekerja dengan baik sehingga kemacetan tidak terjadi yang tentu jika terjadi akan sangat mempengaruhi kenyamanan orang-orang yang tinggal disekitar stadion. Bangunannya berdiri cukup dekat dengan jalan raya. Dua dinding bata merah tinggi menyambut setiap pengunjung dengan tulisan “The Kop” dilengkapi dengan logo klub berukuran raksasa berwarna merah menyala.

Image

Niat untuk tour keliling stadion langsung sirna begitu melihat harga yang harus dibayarkan: adult 16.50 GBP, Children/student 10.50 GBP, family (2+2) 45.00GBP, wah!. Sebagai pelepas dahaga, untunglah masih ada museum Liverpool FC dan toko merchandise yang bisa dijelajahi secara gratis asal cukup kuat melawan hawa nafsu untuk tidak beli barang. Di dalam museum terpampang sejarah klub dari mulai berdiri, prestasi yang pernah diraih, deretan pemain bintang serta pelatih yang pernah bergabung di klub serta beberapa video yang menayangkan kepiawaian para pemain mengolah si kulit bundar. Puas mengelilingi museum, toko merchandise merupakan sasaran berikutnya. Berbagai jenis merchandise, kaos, jersey, gantungan kunci hingga mug dan poster bisa dibeli di toko ini. Setelah melihat-lihat semua barang yang dijual saya keluar dengan tangan hampa, harganya ngga terjangkau, mahallll.

Image

Sebagaimana diceritakan di awal, kota Liverpool tumbuh dari sebuah pelabuhan kecil yang berkembang semakin besar ditunjang oleh kemajuan teknologi era revolusi industry. Jejak-jejak kejayaan bahari kota ini tergambar secara kasat mata jika mengunjungi kawasan waterfont kota ini. Albert Dock, salah satu wilayah yang cukup tenar di kalangan turis menjadi salah satu diantara beberapa dock yang ada di kota ini. Bekas bangunan galangan kapal telah dialihfungsikan agar sesuai dengan kebutuhan kekinian. Di dalam istilah konservasi dikenal dengan sebutan adaptive re-use. Karena berukuran lumayan besar, maka cukup banyak fungsi baru yang bisa ditampung oleh bangunan lama sisa kejayaan masa pelabuhan. Pada bagian yang terluar kita bisa menjumpai Merseyside Maritime Museum. Seperti namanya,museum ini menggambarkan sejarah panjang kejayaan maritime Kota Liverpool dari mulai masa yang sangat awal hingga perkembangan terkini. Memorabilia yang bisa kita nikmati sangat beragam tidak hanya di dalam museum namun juga di luar hingga ke wilayah perairannya. Kapal-kapal kayu bertiang tinggi (tallship) dipajang di luar lengkap dengan jangkar raksasa serta tali temali untuk menambatkannya di dermaga. Bersebelahan dengan kapal tadi, bekas rumah pompa yang dahulu berfungsi untuk menaik atau menurunkan level air di dock difungsikan sebagai sebuah bar yang cantik, The Pump House. Sungguh berada di kawasan ini membawa kita seolah menyaksikan masa lalu kota ini. Jalan-jalan masih menggunakan batu-batu lama berkilat-kilat basah oleh gerimis air hujan, dinding-dinding bata merah, jangkar serta tambatan kapal kapal kayu bahkan rantai-rantai raksasa berwarna hitam member memori yang kuat. Kalau kita datang pada sore atau menjelang malam, warna-warni lampu terpantul dari permukaan air bisa dinikmati sembari menenggak segelas bir di meja-meja kayu outdoor The Pump House.

Image

Masih di kawasan Albert Dock, gallery seni modern ternama TATE juga bisa dijumpai bersebelahan dengan museum maritime. Koleksi koleksi seni, lukisan, kriya, hingga patung kontemporer jaman modern memuaskan mata penikmat seni yang berkunjung. Jangan lupa untuk singgah di salah satu ikon kota ini The Beatles Museum yang juga bersebelahan dengan galeri TATE. O ya, Cavern Pub, tempat asal muasal terbentuknya grup musik legendaris ini juga terletak persis di sebelah museum the Beatles berdampingan dengan restaurant serta pub lainnya. Dompet yang kosong serta uang di saku yang hanya tinggal sehelai kertas dan beberapa uang logam membuat mata enggan untuk melirik ke daftar menu yang tertulis di selembar papan di dekat pintu masuk. Beberapa tamu dengan pakaian yang berkelas serta penampilan yang jauh dari jeans belel yang membungkus kaki saya nampak di dalam bersama para koleganya menikmati sore menjelang malam itu diiringi alunan lagu-lagu the Beatles.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kaki masih cukup kuat untuk melangkah menyusuri jalan jalan batu jaman pelabuhan diantara gedung-gedung tua bekas gudang atau kantor pelabuhan serta bangunan-bangunan baru yang dibangun belakangan. Sebuah kincir elektrik raksana menjadi tujuan berikutnya. The Wheel of Liverpool, begitulah tulisan yang terpampang di plakat logam dekat roda besi raksasa tersebut. Untuk menikmati kawasan Albert Dock dari ketinggian, kita harus merogoh kocek sebesar 6 – 10 Euro.

Angin berhembus kencang menggoyang pohon-pohon yang sedang meranggas. Air di dalam kolam-kolam dock juga bergerak riak memantulkan cahaya lampu-lampu kota malam menampilkan warna-warni dinamis. Saat saya mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan Albert Dock, seorang petugas keamanan berdendang riang, ‘love…love me do,……you know I love you,…..I’ll always be true, so please…..love me do….

Perjalanan ke Liverpool

Perlahan-lahan laju bis semakin cepat seiring jalan yang kami lalui semakin sepi melintasi  jalan-jalan pedesaan menggantikan jalan-jalan ramai di pusat Kota Oxford. Hari ini Kamis 13 Februari 2014, saya memutuskan untuk berangkat ke Liverpool menumpang bis dibandingkan kereta. Nampaknya pilihan ini tidaklah salah, karena selain harga yang lebih murah, sudah diduga bahwa sepanjang jalan akan bersua pemandangan lain, jalan-jalan pedesaan abad pertengahan serta kawasan sub-urban dengan padang gembala serta persawahan yang menghijau. Sekira tiga puluh menit, pemandangan yang tadinya didominasi oleh bangunan bangunan dari era Gothic hingga jaman Victoria yang mendominasi wajah  kota Oxford kini berganti sudah. Sejauh mata memandang hamparan padang rumput menutupi permukaan bukit-bukit serta lembah memanjakan mata. Pohon-pohon yang sedang tidak berdaun, setelah habis berguguran selama musim dingin, menjadi selingan sepanjang perjalanan. Nun jauh di perbukitan puluhan, atau mungkin ratusan, hewan ternak; domba-domba, sapi-sapi juga kuda asyik merumput dengan tenang tidak terusik dinginnya udara yang menusuk.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berdinding batu alam serta ditutupi atap ilalang, rumah petani di desa-desa sepanjang perjalanan

Beberapa kali bersua desa-desa kecil hunian para petani. Rumah rumah traditional mendominasi lansekap pedesaan tersebut diselingi beberapa kedai kopi kecil dengan bangku-bangku kayu yang meluber hingga ke halaman. Wah, mirip dengan desa-desa di Bali jaman dulu dengan warung-warung kecil di bawah pohon beringin. Bangunan rumah-rumah nampak kokoh dengan dinding-dinding batu alam berwarna abu tua kecoklatan, rangka kayu hitam serta jendela jendela buram. sementara atap masih ada yang tertutupi oleh alang-alang namun sebagian sudah berganti dengan genteng tanah liat diselimuti lumut pada beberapa bagian. Pagar pendek pembatas halaman juga terbuat dari batu yang sama, disusun rapi bertumpuk membentuk tekstur alami sekaligus memamerkan kemampuan pertukangan para pekerjanya dahulu. Suasana damai dan tenang. Tidak banyak lalu-lalang manusia apalagi kendaraan, nampaknya karena hari masih pagi dan udara juga cukup membuat gigi beradu satu sama lain. Pada musim semi pasti sangat indah saat pohon-pohon yang kini meranggas menunjukkan bunga berwarna warni, matahari yang hangat serta udara pedesaan yang segar minim polusi. Tanpa perlu disangsikan lagi, pertanian serta peternakan merupakan mata pencaharian para penghuni desa-desa tersebut. Ladang di kaki bukit serta sepanjang lembah cukup membuktikan semua. Tanaman kentang, wortel serta tomat berselang-seling diantara ilalang tempat merumputnya hewan ternak. Pola-pola yang terbentuk dari tanaman yang berbeda jenis bak karpet dengan dominasi gradasi warna hijau.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perbukitan ditutupi lahan-lahan pertanian hijau sepanjang mata memandang

Negeri Inggris pada musim dingin kali ini dilanda musibah banjir di beberapa kawasannya. Sepanjang perjalanan, saat melewati sungai dan lembah, genangan air masih cukup banyak merendam kaki-kaki bukit membuat bebek-bebek serta angsa-angsa liar memiliki area bermain yang lebih luas. Kepak sayap angsa berwarna putih serta bebek-bebek yang meluncur di atas air membuat riak riak yang berwarna keperakan ditimpa sinar matahari pagi menyilaukan mata. Sekalipun banjir, nampaknya air-air tersebut tidak sampai meluber atau menghambat jalan bis yang kami tumpangi sehingga perjalanan serasa aman-aman saja hingga kami tiba di kota kecil Stratford. Saya teringat cerita seorang kawan yang tinggal di London, betapa banjir telah menyiksa dirinya. Perjalanan dari London ke Oxford yang biasanya hanya ditempuh sekitar 1,5 jam menjadi lebih lama sekitar 2 hingga 3 jam.

Untuk ukuran sebuah kota, Stratford tidak bisa dibilang besar. Kalau di Indonesia mungkin hanya sebuah desa atau mungkin juga semacam kampung. Melewati sebuah sungai kecil yang membelah kota, bis yang kami tumpangi berhenti sejenak di sebuah halaman serupa halaman parkir kantor yang ternyata adalah terminal. Tidak nampak aktivitas yang mencolok di terminal ini, hanya ada tidak lebih dari lima bis serta beberapa orang duduk duduk di bangku kayu. Permukaan lantainya ditutup paving, bersih dan rapi. Sebuah kedai kopi serta makanan ringan nampak di dekat orang yang sedang duduk-duduk di atas bangku kayu tadi. Sementara deretan perahu kayu berwarna-warni nampak parkir dengan di atas sungai yang tenang. Sungguh kota ini sangat sepi, serupa kota mati, ataukah barangkali para penduduknya sedang tekun bekerja di dalam bangunan-bangunan berdinding bata merah beratap genteng.

Image

Warna-warni perahu bersanding bangunan berdinding bata di Kota Stratford.

Saya minta ijin untuk turun sejenak kepada sopir, gelengan kepala dan tatapan dingin di wajahnya cukup membuat saya untuk balik beringsut ke tempat duduk. Sayang sekali, padahal saya ingin melihat-lihat sebentar kehidupan kota kecil ini menikmati udara sejuk di luar bis sambil mengambil beberapa gambar. Belakangan saya semakin menyayangkan keputusan tidak singgah di kota ini setelah tahu ternyata disinilah filsuf ternama William Shakespeare lahir. Kami hanya berhenti tidak lebih dari 5 menit untuk menurunkan beberapa penumpang sebelum melanjutkan ke kota berikutnya. Sungguh kota kecil ini, sekalipun nampak sepi, menawan hati saya dengan kebersahajaan bangunan bangunan tradisional, sungai dan perahu-perahu kayu yang tertambat serta jalan-jalannya yang sepi diselingi kedai-kedai kopi dengan bangku-bangku kayu yang seolah mengundang untuk disinggahi. Roda bis kembali melaju merayapi jalan jalan diantara perbukitan hijau, sawah serta hutan-hutan kecil. Kawasan perbukitan membuat jalan bis naik turun terkadang berbelok tajam sebelum berputar di bundaran bundaran guna menghindari persimpangan dengan kendaraan lain. Kepala menjadi sedikit pening dan ada rasa sedikit mabuk. Namun sekali lagi hijaunya perbukitan serta indahnya sinar matahari pagi menjelang siang itu membaut rasa mual di perut sirna sebelum kami sampai di kota berikutnya, Birmingham.

Menjelang tengah hari, bis memasuki kota Birmingham. Berbeda dengan Stratford yang bersahaja, kota ini jauh lebih megah. Bangunan-bangunan tinggi, mall besar serta jalan jalan ramai sungguh bertolak belakang dengan pemandangan kota sebelumnya. Di Kota ini kami beristirahat cukup lama, lebih kurang satu jam. Setelah menyantap bekal nasi serta lauk ayam goring sisa makan malam kemaren, saya beranjak untuk berjalan jalan sejenak. Kota Birmingham, yang kata orang merupakan salah satu kota terbesar di Inggris selain London, sebelumnya sempat saya kunjungi sejenak. Kali ini saya ingin melihat bagian lain kota ini dalam waktu yang terbatas. Dari bangunan-bangunan yang berjejer terlihat bagaimana kota ini berkembang dari kota tradisional menjadi kota industry dan jasa. Bangunan gereja serta apartemen tua berjajar dengan bangunan-bangunan termutakhir dengan bahan metal. Dari segi ukuran bangunannya juga dapat diduga bahwa bangunan-bangunan baru tersebut, dengan tampilan yang sangat berbeda dengan bangunan berbahan batu alam tetangganya, dibangun dengan ambisi yang juga setara dengan luas lantai yang dinaunginya. Beberapa bangunan kampus juga mengiasi kota ini selain bangunan perkantoran dan bisnis. Jam di layar hape sudah memberi tanda untuk segera kembali ke terminal. Beberapa menit lagi bis akan melanjutkan perjalanan menuju kota Liverpool, kota kelahiran grup musik legendaris the Beatles.

ImageBangunan mall raksasa bersanding dengan bangunan gereja tua di pusat Kota Birmingham. Sejarah sebuah kota tergambar secara eksplisit dari bangunan yang berdiri pada lansekapnya.