London : Co-Dwelling with Nature (2)

Image

Kota London mengingatkan saya pada novel dan film Oliver Twist yang secara cerdas mengalirkan cerita menggiring pembaca tanpa sadar terbawa pada dikotomi setting, kota dan desa. Charles Dickens, si pengarang, menggambarkan London sebagai tipikal kota yang lusuh, jorok, padat dipenuhi rumah-rumah kumuh. Gang-gang sempit yang becek dan dipenuhi oleh tunawisma. Berbanding terbalik dengan penggambarannya tentang kawasan perdesaan. Setelah mengalami masa-masa buruk di London, Oliver Twist pindah ke desa dimana dia menemukan kehidupan yang lebih  baik. Tempat dimana dia bebas bergaul dengan lingkungan alam. Desa digambarkan sebagai lingkungan yang bersih, segar, bahkan orang-orangnya hidup secara damai, tidak seperti di kota yang antar individu saling bersaing. Di alam pedesaan, di antara pohon-pohon, sungai dan semak belukar, Oliver memulihkan kesehatan mentalnya dan seolah menemukan jati dirinya kembali.

Dikotomi Kota dan Desa

Sebagaimana digambarkan di dalam novel, kota-kota pada masa revolusi industry seringkali dicitrakan sebagai kota kumuh, penuh polusi, macet, bising dan tempat berkumpulnya banyak buruh buruh miskin serta individu-individu yang saling bersaing. Mengejar nilai-nilai ekonomi, menumpuk kekayaan, melupakan nilai nilai kemanusiaan dengan memanfaatkan setiap peluang. Buruknya citra kota tidak hanya ditampilkan melalui perilaku manusianya tetapi juga kualitas fisik lingkungannya.

Dalam beberapa dekade, secara perlahan kota-kota di barat mulai meninggalkan kehidupan industry. Pabrik-pabrik telah bergeser ke selatan, kota-kota di negara berkembang. Kota di Eropa kini sebagian besar beralih dari kawasan industri dan manufaktur menjadi kota jasa. Kota tempat bertemunya berbagai komoditas yang sudah jadi, bukan lagi pusat industry, untuk kemudian disistribusikan kembali ke seluruh dunia. Pergeseran kawasan industry secara perlahan merubah penampilan fisik kota, meski kepadatan penduduk tidak berkurang, tetapi imagenya jauh berubah.

Image

Meninggalkan tepian Sungai Thames menuju Hyde Park, ruang terbuka hijau yang luas, saya melangkahkan kaki menyusuri jalanan teduh dengan pepohonan yang sedang bertunas. Pucuk pucuk pohon mulai menggeliat setelah bersembunyi sepanjang musim dingin. Sinar matahari bersinar cukup terik namun tidak menyengat di awal musim semi. Udara malah masih terasa cukup dingin menusuk. Saya mencoba gerak-gerakkan tangan ke atas sambil memutar pinggang yang terasa kaku. Rupanya gerakan itu mengusik puluhan burung yang sedang mencari makan di jalanan. Berbarengan mereka mengepakkan sayap dan beterbangan samrag tak tentu arah, “Werrr…brrr..wrrrrr…..”.

Makhluk-makhluk hidup memiliki hak yang sama untuk mendiami permukaan bumi. Kota-kota dirancang oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Konon saat manusia mulai meninggalkan kehidupan nomaden dan menetap di satu tempat, saat itulah dimulainya momen baru, manusia menciptakan garis yang men-differentiate dirinya dengan makhluk lain dengan cara menciptakan lingkungannya sendiri. Lingkungan alami dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan keinginan manusia sehingga tercipta lingkungan baru, artificial.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pola pembangunan permukiman pada awalnya meniru sifat sifat alam, mempertimbangkan kondisi permukaan lahan, temperature udara alami serta menggunakan material yang bisa diperoleh dari tempat sekitar. Semakin lama pola pembangunan berubah, teknologi memungkinan permukaan tanah untuk dimodifikasi, iklim di dalam gedung bisa diatur, material didatangkan dari berbagai belahan dunia yang lain serta teknologi mampu membuat bentuk baru, yang tidak mungkin pada masa lalu. Ada akibat lain. Lingkungan baru ini, yang dirancang oleh manusia, menjadi hanya cocok untuk manusia, meng-exclude peluang makhluk lain untuk menghuni wilayah yang sama dengan manusia. Manusia memisahkan diri dengan makhluk lain.

Kota dengan Karakter Desa

Beruntunglah kesadaran untuk kembali menjadi bagian dari alam, beberapa tahun  belakangan ini, mulai banyak dikampanyekan. Bahasa kerennya’ “co-dwelling with nature”, alias menghuni kota bersama sama dengan makhluk lain. Manusia kembali ke kodratnya, menjadi bagian dari alam.

Image

Sampai di Hyde Park, suara burung terdengar ramai di cabang-cabang pepohonan di atas kepala. Di rerumputan taman juga tak kurang burung yang mengais-ngais tanah mencari cacing di tanah. Bebek-bebek dan angsa liar di danau dan sungai kecil di Hyde Park mondar mandir dengan tujuan yang sama,mencari makan. Saya masih ingat pada waktu kecil dilarang membunuh burung pipit dan emprit oleh kakek. Bahkan membunuh ularpun, jika kami tak sengaja berjumpa saat ke sawah, juga dilarang. Kakek hanya mengatakan bahwa mereka adalah teman teman yang harus diajak hidup berdampingan. Belakangan saya memahami, ternyata burung pipit membantu pembuahan saat hinggap mengisap madu dari bunga pohon mangga, rambutan serta buah lain yang ditanam di belakang rumah. Burung-emprit memakan ulat ulat sekaligus menjaga pucuk pucuk daun tetap dapat tumbuh dengan baik sementara ular memangsa tikus-tikus di sawah yang menganggu tanaman padi. Dalam lingkaran yang lebih besar, semua makhluk membantu terjadinya keseimbangan ekologi.

Image

Di Kota besar seperti London, makhluk-makhluk hidup liar masih mudah dijumpai di masa yang serba modern ini. Tanpa bermaksud untuk terlalu banyak menyanjung, rasanya hewan-hewan liar tersebut merasa nyaman hidup di tengah-tengah aktivitas manusia. Demikian pula manusia yang datang berbagai belahan penjuru bumi nampaknya juga merasa nyaman hidup berdampingan dengan hewan-hewan liar. Semua dimungkinkan karena ruang-ruang terbuka luas, pohon-pohon besar, serta sungai-sungai besar dan kecil yang terjaga dengan baik kualitas dan kuantitasnya. London mengembalikan kualitas ruang terbuka alaminya, hidup di ruang yang sama dengan semua makhluk lain di muka bumi.

Image

Seperti cerita Oliver Twist, bukan di gedung-gedung berbalut kaca, dengan suhu yang dapat diatur, serta dilengkapi berbagai perangkat serba otomatis, tetapi di tepi sungai dan di bawah pohon bersama burung dan bebek liar, manusia menemukan akarnya ekologisnya. Tempat dimana manusia kembali menjadi bagian dari alam, bukan memisahkan diri darinya.

 

London sebagai Titik Perjumpaan (1)

Image

Kesempatan pemilu di luar negeri saya sempatkan untuk mengunjungi beberapa sudut kota London sambil bertemu teman sebangku saat SMA yang kebetulan sedang berkunjung ke kota ini, menonton pertandingan bola antara Chelsea vs Stoke City. Stamford Bridge, markas klub berjuluk London Biru, menjadi panggung pertemuan kami.

Beberapa saat sebelum pertandingan dimulai, kami ngobrol ngalor ngidul, tentang masa lalu. Tentang hobby mendaki gunung bersama, saat-saat latihan beladiri kempo, saat-saat naik sepeda ke sekolah, di SMA 3 Denpasar, hingga kegiatan dan keluarga masing-masing hari ini. Sang kawan, hidup dengan karir yang sukses, sudah mengelilingi lebih dari tigaperempat permukaan bumi. Jangankan kota kota di Asia Tenggara, dia telah menginjakkan kaki di nyaris seluruh kota kota besar di negara-negara Eropa, dan juga kota-kota di Asia Timur.  Kami takjub pada momen pertemuan saat itu, setelah sekitar 20 tahun berpisah. Di masa sekolah SMA dulu, kami bukanlah anak anak dengan prestasi menonjol. Passion masing-masing telah merancang pertemuan hari itu. Dari sekian puluh kota yang telah dikunjungi, dengan enteng dia berkata “London adalah kota favorit diantara kota-kota yang pernah aku kunjungi”. Lanjutnya, “Rugi rasanya kita tidur malam hari, lebih baik menyusuri tepian Sungai Thames, menikmati segala rupa manusia yang berlalu-lalang, tenggelam diantara kesibukan kota”. Saya mengamini apa yang dia katakan, karena sejauh ini bukan hanya si kawan, tapi banyak yang menyebutkan hal yang sama. London, dari kota kumuh di masa awal revolusi industry, dengan kemacetan dan kebisingan lalu lintasnya, got yang mampet, penyakit menular dan tingginya angka kriminal di lorong lorong gelap jalanan, hari ini telah melesat menjadi ibu kota dunia. Apa yang membuat London menjadi kota favorit banyak orang?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

A Place: Arsitektur dan Ruang Kota London Tidak Tercipta dalam Semalam

Ingatan saya melayang saat pertama kali menginjakkan kaki di London menyusuri tepian sungai Thames. Dibelah oleh Sungai yang legendaris, Kota London dijejali berbagai bangunan beragam usia dan penampilan.  Arsitektur ‘berumur’ bersanding dengan bangunan-bangunan baru ultra modern menciptakan lansekap dengan detail yang tidak membosankan. Pada ketinggian sekitar limabelas meter ke bawah, deretan bangunan dengan arsitektur Gothic, klasik Yunani, Romanesque, Victoria tersaji dalam kondisi yang terawat menjadi latar depan bagi bangunan-bangunan tinggi menjulang berbalut kaca karya superstar arsitek: Nicholas Grimshaw, James Stirling, Richard Rodgers, hingga Norman Foster.

London atau secara umum Britania Raya memang luput dari sorotan perhatian saat arsitektur modern mengalami booming di awal abad 20, dimulai dari Ecole des Beaux Arts di Perancis, berlanjut ke Bauhauss di Weimar Jerman yang kemudian melanjutkan tradisinya ke Amerika melalui hijrahnya tokoh tokoh pentingnya: Walter Gropius, Mies van der Rohe, dkk, hingga hiruk pikuk De Stijl di Rotterdam. Namun ada satu tokoh penting dalam percaturan modern yang menghabiskan banyak waktunya mengembangkan karya dan teori- teorinya di London, C.Leslie Martin.

Lansekap kota dengan sejarah yang panjang terbaca dari kekayaan arsitektur yng dimiliki kota tersebut. Lapisan-lapisan sejarah dengan mudah bisa dicecap indera penglihatan dari setiap jengkal jejak bangunan di masa lalu, karya karya arsitektur yang mewakili setiap jaman. Berangkat dari bangunan traditional vernacular dengan material batu alam tanpa banyak olahan, berlanjut ke jaman klasik hingga barock yang penuh ornament dan perlambang rumit masa lalu menjadi akar budaya bentuk. Kini bangunan-bangunan baja, kaca beton bermunculan diantara bangunan-bangunan tua berpadu kompak. Dari bangunan bangunan yang modern bahkan mungkin masa depan kota tersebutpun rasanya tidak sulit untuk diramalkan. Kota adalah sejarah dan kenangan kolektif warganya serta para pengunjung kota tersebut. Kota London tidak dibangun dalam satu dekade yang singkat namun sudah dirintis seja ratusan tahun dan hingga kini denyut nadi kehidupannya masih terasa sangat kencang menyongsong masa depan.

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Berada di lingkungan yang sama sekali baru mungkin membuat orang merasa dis-orientasi, tidak demikian jika orang berada pada lingkungan yang terasa akrab.  Bentuk fisik kota yang baik membuat penghuni serta pengunjung merasa memiliki ‘friendly association’ dengan tampilan visual serta ruang ruang yang terbentuk diantara bangunan gedung-gedung.  Keragaman arsitektur yang kaya, membuat penghuni dan pengunjung kota mengakrabi setiap wujud ragawi Kota London.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kaum berumur, para senior citizen, menikmati sajian masa lalu kota, masa ketika mereka masih menjadi aktor utama di ruang ruang kota, demikian juga para turis. Sebagian besar turis mengagumi bangunan-bangunan tua, dengan detail rumit, berbahan batu-batu alam kelas satu yang dikerjakan oleh tangan-tangan terampil para pekerja bangunan di masa lampau. Bangunan-bangunan yang dibangun mulai dari jaman pre-industrial hingga jaman klasik yang berdiri kokoh. Bangunan-bangunan kuno tidak lantas menghalangi niat generasi yang lebih baru untuk mengalami keakraban yang serupa. Bangunan baru berarsitektur modern juga bertebaran. Bahkan di dalam bangunan-bangunan kuno pun terdapat fungsi-fungsi baru yang sangat modern. Para generasi muda menemukan tempat berekspresi yang sesuai dengan jamannya. London menjadi rumah besar yang ruang-ruangnya dapat dinikmati orang dari beragam usia dari berbagai generasi.

Image

Kota London memiliki keuntungan sebagai kota yang relatif tidak terkena imbas perang dunia. Bandingkan misalnya dengan Rotterdam yang luluh lantak pada masa Perang Dunia Kedua. Keuntungan ini membuat bangunan-bangunan tua masih berfungsi dengan baik, selain tentu saja memang bangunan tersebut dikerjakan dengan kualitas yang sangat tinggi. Bangunan-bangunan lama dan baru merepresentasikan tradisi fine architecture. Ketenarannya sebagai salah satu kota desain diperkaya dengan sekolah-sekolah desain ternama, Architecture Association serta Bartlett School of Architecture. Tradisi arsitektur kelas atas ini menjaga setiap bangunan, tanpa perduli tema dan jaman yang diwakilinya, tampil penuh percaya diri serupa kepercayan diri penghuni kotanya.

Bateaux-London-1-1200x900

Fine Grain Economy: PKL hingga Fine Dining

Choice, atau terjemahan bebasnya pilihan, konon adalah kunci kebahagiaan seseorang. Orang yang memiliki pilihan terbatas, dipercaya, tingkat kebahagiaannya lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang memiliki pilihan lebih beragam. Ibarat meja makan malam, London adalah meja besar dengan pilihan jenis makanan tak terbatas. Setiap orang bebas memilih apa yang hendak dinikmati sesuai dengan kemampuan perut menampungnya. Kekuatan ekonomi London sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi global merupakan daya tarik terbesar dalam mengundang investasi. Sekalipun belakangan dilanda persoalan krisis property, kota ini menyediakan kesempatan luas bagi ekonomi dari berbagai skala. Duduk di kedai kopi dekat London Eye sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong apple pie menyaksikan ramainya lalu lalang. Pedagang kaki lima, pengusaha restaurant kelas menengah hingga restaurant mahal, dengan harga satu porsi hidangan setara dengan dua bulan gaji dosen di Indonesia, tersedia di sepanjang Sungai Thames yang mengalir tenang. Tetapi bukan reastaurant kelas atas yang membuat kehidupan di London demikian hidup tetapi para penjual makanan keliling, kedai kopi kecil, kios kios penjual koran, pedagang bunga segar di sudut tikungan jalan,  serta pub-pub yang dijejali golongan pekerja yang membuat aktivitas demikian hidup.

Image

Demikian pula pilihan untuk rekreasi. Tempat wisata gratisan hingga yang berbayar dengan harga tinggi tersedia. Asalkan memiliki waktu yang cukup, maka semua hasrat untuk memperoleh hiburan bisa dipenuhi. Ruang-ruang Kota London adalah tempat aktivitas manusia dari seluruh penjuru dunia dari berbagai latar belakang dan dari berbagai kemampuan ekonomi.

Menikmati hiburan murah dari pengamen jalanan, dengan musikalitas mengagumkan bersuara bak penyanyi panggung professional, hingga sajian music pop-rock masa kini atau melihat pantomime, theater jalanan, hingga karya-karya Shakespeare di gedung-gedung berkelas, tergantung pilihan dan kekuatan kantong. Demikian pula halnya dengan wisata belanja. Rasanya hanya Paris, New York serta Tokyo yang mampu menyaingi kemeriahan wisata belanja London.

Image

Kantong sedang bokek? Jangan khawatir,museum-museum menyajikan atraksi  yang menarik tanpa dipungut biaya. Demikian pula halnya perpustakaan kota. Sebagai gudangnya ilmu, baik British Museum atau British Library siap melayani, waktu 24 jam sehari rasanya tidak akan cukup untuk menikmati setiap koleksinya. Jika bosan berada di dalam gedung, singgahlah sejenak di Trafalgar Square atau duduk duduk di sekitar danau di Hyde Park menyaksikan binatang liar: bebek-bebek, angsa atau tupai berkeliaran bebas bersama ratusan merpati,, mengamati tingkah polah manusia dan turis dengan latar belakang air mancur dihiasi patung-patung klasik serta hijaunya pepohonan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Waktu tidak terasa berlalu dengan cepat tanpa kita sadari. Saat tersadar kadang masih banyak sudut lainnya yang belum disusuri. Tidak heran jika banyak yang mengidolakan London sebagai kota favorit, seperti kata si kawan SMA, “Rasanya tidak ingin memejamkan mata saat berada di London saking banyaknya aktivitas yang dapat dilakukan sepanjang hari”.

Keberhasilan Kota London terletak pada kemampuannya untuk berkembang dinamis di masa kini dan mungkin juga di masa mendatang, dengan tetap menjaga tradisi masa lalu yang terrepresentasikan dalam penataan ruang-ruang kota dengan aroma tradisional kuat. Yang tua tidak menjadi kuno dan yang baru tidak menjadi asing.  Jalinan cerita panjang kehidupan kota yang tidak terputus, mengakomodir kebutuhan manusia beragam usia, latar belakang, dan kekuatan ekonomi. London adalah titik perjumpaan masa lalu dan masa depan di kekiniannya.

Refleksi: Rancangan Kota dan Secangkir Kopi

Image

Kedai kopi tradisional di salah satu sudut Kota London

Aroma kopi yang barusan saya seduh semerbak memenuhi kamar kecil menemani buku-buku dan jurnal yang harus dibaca. Hmmm….sembari menunggu cairan pekat ini agak dingin, iseng-iseng meramu beberapa fakta kopi. Kopi dahulu identik sebagai minuman orang-orang yang sudah berumur di pagi hari sebelum memulai aktivitas. Almarhum bapak dan kakek saya selalu memulai harinya dengan minum kopi sebelum melanjutkan aktivitas di sawah. Kebiasaan ini berpengaruh juga pada pola masak ibu dan nenek di dapur. Hal pertama yang dilakukan bukanlah menanak nasi tetapi menjerang air agar bisa menyiapkan kopi, karena, sarapan bukanlah kewajiban sebelum melakukan aktivitas. Warung-warung di pasar, di bale banjar, ataupun sekedar meja kecil tanpa atap di bawah pohon beringin pusat desa adalah lokasi kopi disajikan bersama hidangan lain yang tak kalah nikmat, kue kue tradisional buatan tangan. Wangi aroma kopi diseduh air panas mengundang pembeli para petani, peternak, atau pedagang di pasar yang tidak sempat dibuatkan kopi oleh istrinya. Sebagai petani penampilannya sederhana, sesederhana hidangan kopi dan pisang goreng yang menemani setiap tegukan. Kopi adalah kebutuhan, selain membuat mata terjaga, juga menunda lapar.

Kopi sekarang, juga disajikan dalam bentuk sachet-scahet kecil. Pas untuk satu cangkir dengan takaran yang sudah diatur dari pabrik. Ada kopi yang sudah mengandung gula dan susu atau ada pula yang memang hanya kopi tok tanpa gula atau bahan lainnya. Kopi-kopi sachet ini perlahan menggantikan kopi bubuk tradisional karena urusan kepraktisan. Berbagai merk kopi sachet bisa dijumpai dengan mudah di warung-warung pinggir jalan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bali pada suatu masa, pernah menjadi salah satu pengekspor kopi yang disegani di Nusantara pada tahun 1859-an bersamaan dengan masa kejayaan pertanian dan peternakan. Pasar utama kopi Bali adalah SIngapura dan penghasil utama kopi adalah kawasan pegunungan yang memiliki kemiringan lahan yang secara teknis sulit untuk ditanami padi. Kawasan di pegunungan Kintamani ke barat hingga Buleleng pada masa itu diselimuti oleh tanaman kopi subur yang rindang. Tanaman kopi merupakan alternative pertanian di kawasan berbukit bukit sekaligus menyelamatkan lereng dari longsor, menjaga resapan air sekaligus memberi kesejahteraan. Jumlah ekspor bali ke Singapura pada masa itu didominasi oleh produk pertanian dan peternakan. Ekspor kopi menempati posisi nilai terbesar kedua setelah beras diikuti berturut turut kacang-kacangan, babi dan kuda. Benar, Bali dahulu sempat mengekspor berbagai bahan makanan serta ternak-ternak ke berbagai daerah utamanya SIngapura sekalipun tidak memiliki bahan tambang. Tidak saja Bali, wilayah Sumatera dan Timor juga merupakan penghasil kopi. Hingga saat ini Indonesia termasuk ke dalam lima besar Negara eksportir kopi ke seluruh dunia dengan produsen utama ada di Sumatera bagian utara termasuk Aceh. Daerah tujuan utama kopi Indonesia adalah Amerika Serikat dan Eropa. Kopi-kopi tersebut berupa biji biji kopi atau bubuk kopi yang masih bisa diolah lagi menjadi berbagai produk.

Image

Kedai kopi modern tidak hanya mengedepankan rasa kopi namun juga desain interior dan arsitektur

Jika dahulu kopi diekspor, beberapa tahun belakangan, banyak gerai-gerai kopi modern bermerk international menjamur menyerbu di pusat-pusat keramaian. Mall mall, kawasan pariwisata. Tempat ber AC ditmbah cilokan listrik dan wifi gratis menjadi pelengkap kedai dengan cita rasa arsitektur dan interior modern. Warung kopi bukan lagi gubug reot, bangku kayu panjang, meja dengan alas plastic tebal kumal dan menyempil diantara sela-sela bangunan yang lebih besar. Di dalam satu kedai ada banyak pilihan kopi, Espresso, Mochachino, Americano, Cappuccino dan juga sajian lain, kue kue modern menggantikan pisang goreng, atau kue serabi. Menyesap kopi ditemani orange atau apel pie sambil ngerumpi….hmmmmm nikmatnya. Kedai-kedai kopi modern selain menawarkan nikmatnya roma kopi juga menyediakan hal lain di luar urusan rasa dan kafein. Gaya hidup. Jika dulu minum kopi identik dengan orang-orang berumur, nenek atau kakek bahkan sering diasosiasikan dengan masyarakat menengah ke bawah, kini kopi telah bersalin rupa. Menghuni mall-mall, dikonsumsi anak muda bersenjatakan laptop serta gadget keluaran terbaru duduk di sofa-sofa empuk. Tentu saja tidak lagi kumal seperti kakek-kakek atau orang tua kita jaman dulu yang hanya sarungan. Rasa kopi sebetulnya sama, tetapi dengan kreativitas, campuran susu atau coklat sebagai penyempurna rasa dan aroma lebih beragam menyesuaikan lidah anak muda. Bahan dasarnya sama saja, kopi. Tapi jangan bandingkan harganya dengan kopi di warung warung tradisional. Satu cangkir kopi di kedai modern harganya setara dengan lebih kurang 20 – 40 cangkir kopi di warung tradisional!! Kedai-kedai waralaba kopi ini berasal dari Amerika Serikat: Starbucks, dan juga dari Inggris: Costa Coffee dan juga Singapore: Kopitiam. Anehnya ketiga negara tersebut bukanlah produsen kopi. Jikapun di negaranya memproduksi kopi, maka tidak sebesar negara negara seperti Brasil, Indonesia, Venezuala atau Negara penghasil kopi lainnya. Lalu kenapa mereka bisa menguasai setiap pojokan mall dengan kopinya? Darimana asal bahan dasarnya? Saya menduga bahan-bahan kopi mentah yang diprodusksi oleh negara-negara penghasil kopi diolah ditambahkan nilai baru lalu dijual kembali ke negara produsen dengan harga lebih mahal. Bahan-bahan tambahannya bukan hanya, coklat, vanilla, bubuk mocha atau tambahan kue-kue modern: apple pie, potongan kecil pizza atau sandwich. Bahan-bahan tersebut umumnya sama namun ada ‘bahan’ lain yang lebih penting dan sulit untuk ditakar yaitu: gengsi, gaya hidup baru, image modernitas serta mempengaruhi emosi yang menimbulkan semacam rasa bangga. ‘Bahan’ yang tidak dikandung oleh kopi tradisional.  Kopi sekarang menemukan identitas baru. Identitas anak muda modern.

Image

The Forum, ruang pertemuan informal dengan kedai kopi modern di kampus Oxford Brookes University

Ada satu kesamaan antara warung kopi traditional dan kedai modern. Sejak jaman dahulu warung-warung kopi mengundang aktivitas orang di sekitar ruang-ruang kota. Lokasi di mana orang dari berbagai latar belakang bertemu dalam suasana yang akrab bersosialisai. Kehadiran kedai kopi menambah tempat bertemunya warga kota menjadikannya sebagai salah satu elemen penting dalam perencanaan ruang kota. Kualitas kehidupan sebuah kota, salah satunya dapat ditakar dari aktivitas yang terjadi pada ruang publiknya. warung kopi adalah salah satu yang mengundang orang untuk melakukan aktivitas di luar-ruang kota, menciptakan ikatan sosial antar warga, menimbulkan rasa akrab serta nyaman sekaligus menjadikannya sebagai meeting point warga kota, dimana ide ide segar sering muncul secara tidak sengaja.  Selama ini, terutama sebelum munculnya kedai kopi modern, kehadiran warung kopi sering diabaikan. Hanya menempati ruang ruang sisa diantara fungsi fungsi kota. Hanya setelah kehadiran kedai modern, dimana foto-foto kopi sering diupload terlebih dahulu sebelum diminum, maka kopi mendapat tempatnya yang baru. Kopi bukan lagi hanya pengusir kantuk dan pengganti sarapan, bisnis kopi modern juga dipengaruhi oleh hal hal diluar fungsi pokok kopi, termasuk bisnis interior, arsitektur dan yang lebih besar lagi tata ruang kota.

Saat melirik jam, wah sudah pukul 03.00 dini hari….sial gara-gara kopi jadi hilang semua rasa kantuk.

…selamat ngopi…