Memory dan Identitas Tempat

Image

Banyak diantara kita yang sudah mengunjungi banyak tempat: tempat kelahiran, tempat menempuh pendidikan, tempat bekerja hingga tempat tempat yang kita kunjungi untuk kepentingan lain, berwisata atau mengunjungi kerabat misalnya. Diantara tempat-tempat yang pernah disinggahi, ada tempat yang tetap melekat kita ingat di dalam memori kepala kita, namun tidak jarang ada juga tempat-tempat yang terlupakan begitu saja sesaat setelah kita melangkahkan kaki meninggalkannya.

Apa yang membuat ada tempat yang melekat di kepala dan ada pula tempat yang dengan mudah kita lupakan?

Image

Tempat-tempat, seperti juga makhluk hidup, adalah sebuah entitas yang selalu berkembang. Tempat-tempat tidak statis, beku, diam di suatu jaman seperti museum. Tempat selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diwadahinya: penduduk beserta segenap aktivitasnya. Dalam perjalanannya atau pertumbuhannya, tempat-tempat tersebut berkembang sesuai dengan kebutuhan penghuninya, bagaimana dia dibentuk , di kreasi dan dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan penghuninya dipengaruhi oleh aspek socio-cultural dan ekonomi penduduknya. Di dalam proses pembentukan dan modifikasi, terdapat elemen-elemen atau unsur-unsur yang tetap bertahan selama bertahun-tahun, bahkan semenjak tempat tersebut pertama kali diciptakan, namun ada juga elemen-elemen atau unsur-unsur yang berubah dengan dengan cepat mengikuti kebutuhan penghuni serta mengikuti jamannya. Proses pertumbuhan ini dalam waktu tertentu akan membentuk identitas kota. Identitas kota bukan hanya pada bentuknya, yang teraga semata, namun sebuah satu-kesatuan yang utuh antara elemen yang teraga dan elemen yang tidak teraga.

Image

Saat membayangkan Kopenhagen, yang terbayang di kepala adalah udaranya yang segar, lingkungannya yang bersih serta ruang-ruang terbuka yang mendominasi lansekap kotanya. Saat mebayangkan Surabaya, maka kita terbayang banyak hal, makanannya yang memanjakan lidah, aroma wangi dupa dari konco, kesibukan orang-orangnya yang berlalu lalng di jalan, cuacanya yang panas, atau jalan-jalannya yang macet. Saat membayangkan Paris, segera siluet menara Eiffel memenuhi imajinasi sebagaimana juga menara Big Ben yang identik saat kita membayangkan kota London. Demikianlah, image sebuah kota bukan hanya tampilan fisiknya tetapi sebuah kesatuan produk: aktivitas penghuninya, kualitas ruang dan udaranya, orang-orangnya serta produknya dalam berbagai bentuk, termasuk makanannya. Semua elemen ini  bersama-sama berpilin dalam kesatuan yang tidak terpisahkan. Image-image yang teraga dan yang tidak teraga  meninggalkan kesan di dalam kepala kita. Tergantung bagaimana image-image membentuk kesan, memory kita akan mengingat dalam kurun waktu tertentu, sehingga ada tempat yang kita ingat sangat lama ada pula yang kita ingat hanya sekilas saja.

Durasi, seberapa lama atau seberapa sering, kita mengunjungi tempat tersebut juga berpengaruh terhadap image kita terhadap suatu tempat. Di dalam durasi kunjungan atau durasi tinggal di suatu tempat, kita memiliki memori, kenangan, atau hal hal yang kita ingat tentang tempat tersebut. Image kita tentang Jakarta saat pertama kali berkunjung akan berbeda setelah kita tinggal dalam periode tertentu. Durasi memepengaruhi seberapa banyak kenangan yang mampu kita rekam dan semua kenangan ini bisa dipanggil kembali saat kita mebayangkan tempat tersebut.  Image seorang wisatawan yang berkunjung sesaat akan berbeda dengan kesan yang dimiliki oleh penduduk desa Tanah Lot yang tinggal disana semenjak lahir, misalnya.

Apa yang dirasa, diingat atau dikesankan oleh memory, salah satunya, direkam melalui panca indra kita. Kita melihat tempat-tempat tersebut melalui pengamatan, lalu memori kita merekam bentuk bentuk yang teraga. Di tempat-tempat tertentu, mungkin, kita mendengar suara-suara yang indah atau yang menganggu pendengaran dan diingat oleh memory kita seperti juga aroma yang tercium dari pasar atau taman bunga yang wangi semua direkam. Halus atau kasarnya permukaan bangunan, furniture, atau permukaan jalan setapak diingat oleh otak kita. Bahkan rasa makanan di tempat-tempat tertentu yang dirasakan oleh indra pengecap kita, lidah, juga direkam oleh memori kita. Saat diminta untuk menceritakan tempat-tempat yang baru kita kunjungi atau diminta menceritakan tempat kelahiran kita, maka semua rekaman yang diproses dari pengalaman panca indra inilah yang akan memberi warna kepada cerita kita.

Image

Kualitas kota yang direkam oleh panca indra kita tidak terbentuk begitu saja. Bentuk-bentuk fisik kota yang dibangun oleh penduduknya memiliki sejarah yang panjang. Banyak bentuk-bentuk tersebut yang telah berubah namun tidak sedikit pula yang masih bertahan semenjak dibangun ratusan tahun yang lalu. Semakin panjang umur artefak tersebut, semakin banyak memori yang tersimpan. Ratusan atau mungkin ribuan orang telah menjadi saksi artefak tersebut, memberi kenangan kepada setiap mata yang melihatnya sehingga membentuk makna bagi banyak orang dari banyak generasi. Menara Big Ben di London telah dibangun nyaris 200 tahun sedangkan Radcliff Camera di Oxford mungkin sudah lebih tua lagi sekitar 250 tahun. Selama kurun waktu berdirinya, bangunan bangunan memberi memori kepada sangat banyak orang yang kemudian meneruskannya dalam bentuk cerita, foto, atau video kepada orang lainnya. Setiap membahas London, maka cerita Big ben menjadi salah satu tema pokoknya. Bangunan-bangunan yang telah memberi memori kepada banyak orang menjadi identitas sebuah tempat. Hal yang sama juga berlaku untuk elemen-elemen tempat yang lain yang dirasakan oleh indra kita. Seperti kelapa, semakin tua maka semakin banyak makna yang dikandung karena semakin banyak memori yang bisa disimpan dan oleh lebih banyak individu.

Image

 

Dari Cranfield Membayangkan Kampung Halaman

Image

Dari balik jendela bis, suasana perumahan rural dalam perjalanan menuju Cranfield

Saya bersiap di depan pintu keluar saat bis mulai mengurangi kecepatannya sebelum benar benar berhenti dalam areal kampus Cranfield University. Aroma humus yang lembut dan segarnya udara pedesaan memenuhi rongga paru-paru begitu pintu bis terbuka di depan halte Main Gate Cranfield University.  Sisa-sisa kantuk tersapu tak berbekas oleh hembusan sejuk angin yang berhembus menggoyang pohon-pohon besar menanungi jalan jalan sepi kampus pagi hari itu.

Baru pertama kali mengunjungi Cranfield sebuah desa yang terletak cukup dekat dengan London tetapi tidak begitu ramai, setidaknya hingga pagi itu saat saya menginjakkan kaki di atas permukaan jalanannya yang diperkeras paving block. Sebelum berkunjung, kening saya sedikit berkerut saat mendengar nama Cranfield yang masih asing di telinga. Seorang kawan menggeleng ragu saat saya tanya apakah dia pernah berkunjung ke Cranfield. Dia bahkan juga belum pernah mendengar nama kota itu. Dari cerita seorang teman yang sebelumnya sudah pernah ke sana, saya mendapat gambaran, Cranfield sebagai sebuah desa kecil yang sepi terletak sekitar 1.5 jam naik bis dari Oxford. Undangan untuk mengikuti workshop dari CRISCOM (Cranfield Indonesian Scholar Community) bagi pelajar 1st year menggiring saya untuk mencari tiket bis akhir pekan ke tempat yang katanya sangat sepi oleh seorang kawan lain yang adiknya kuliah di Cranfield.

Image

Halaman kampus tenang dan sejuk, Cranfield University

Kesan pertama, kawasan ini benar-benar sepi, dan tenang. Sepanjang perjalananpun yang lebih banyak mendominsai pemandangan di balik jendela bis adalah lansekap alam pedesaan dengan sawah dan ladang tempat sapi dan domba merumput di bawah birunya langit. Hamparan sawah dan ladang diselang seling rumah-rumah penduduk yang jumlahnya tidak begitu padat membawa khayalan tentang desa desa tradisional dalam cerita detektif anak-anak Lima Sekawan-nya (the Famous Five) Enid Blyton. Dalam cerita novel-novel petualangannya, Enid Blyton mengambil setting perkampungan dimana empat anak sekolah remaja dan seekor anjingnya yang setia sedang berlibur, setelah menempuh ujian sekolah. Jalan-jalan tanah, bukit hijau dengan gubuk beratap alang-alang adalah lokasi lima anak anak bersama seekor anjing mereka menemukan misteri yang menantang untuk dipecahkan. Saat membaca novel-novelnya waktu SD dahulu saya membayangkan mereka berlarian diantara rindangnya pohon, di jalanan tanah yang lembab dan empuk akibat humus yang tebal atau bersepeda menaiki bukit atau berkemah di tepian danau yang tenang sambil memancing. Diantara sawah-sawah yang menghijau, gubuk-gubuk atau lumbung beratap alang-alang, bermain dengan orang-orangan sawah pengusir gagak. Tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari susunan batu alam dengan penghangat perapian tradisional sambil menikmati hidangan makan malam khas pedesaan dengan aroma roti yang sedang dipanggang ditemani minuman jahe hangat di atas meja makan . Semua khayalan masa kecil tersebut saat ini membentang memenuhi horizon di depan mata.

Image

Menuju ruang workshop bersama PakDubes dan peserta lainnya

Suasana Cranfield sangat kontras dengan kawasan Milton Keynes yang kami lewati sekitar 25 menit sebelumnya. Milton Keynes, berstatus town bukan city, adalah sebuah kota baru yang dibangun sekitar tahun 60-an saat London mulai dilanda urbanisasi akut. Sebuah kota baru direncanakan dengan teori kota taman, garden city, untuk menyediakan perumahan bagi para pekerja yang bekerja di London. Perencanaan kota diperuntukkan bagi berbagai kalangan, menengah hingga atas. Pusat kotanya dirancang untuk melayani kebutuhan kota akan perumahan, hiburan, pusat belanja serta titik temu berbagai moda transportasi. Di sekeliling kota dibiarkan berupa hutan dalam bentuk taman rekreasi yang luas, dilengkapi danau sebagai antisipasi banjir. Taman-taman yang luas ini menyambung dengan pohon-pohon yang menaungi ruas-ruas jalan kota membentuk ruang terbuka hijau menerus mendominasi lansekap perkotaan hingga ke permukiman penduduk. Meskipun tidak bisa dibilang besar, namun kota ini jauh lebih ramai daripada Cranfield.

Image

Suasana pagi hari di desa dari balik jendela kamar seorang kawan dimana saya menginap

Desa Cranfield konon dihuni tidak lebih dari 5000 orang penduduk. Angka yang cukup kecil mengingat lokasinya yang dekat dengan kota-kota besar di UK, London, Oxford, Cambridge serta tetangganya Milton Keynes. Tidak banyak fasilitas yang bisa dijumpai di pusat permukimannya: beberapa restaurant kecil, toko kebutuhan sehari-hari, praktik dokter, kantor pos serta toko buku yang berlokasi di dalam kampus. Jangan membayangkan mall, pusat belanja, bioskop atau sejenisnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lahan pertanian dan ladang gembala peternakan memenuhi horizon

Meskipun memiliki karakter desa, yang sering diasosiasikan ketinggalan jaman atau ndeso dalam bahasa Tukul Arwana, kehadiran Cranfield University membawa aroma kamajuan kontemporer. Terdapat sebuah bandara yang dahulu dipergunakan sebagai arena latihan militer oleh angkatan udara kerajaan Inggris. Saat ini Bandar udara ini menjadi homebase sekolah penerbangan. Salah satu runwaynya telah ditutup dan Nissan, bekerjasama dengan Cranfield University, sedang membangun technology park sebagai pusat penelitian dan pengembangan produksi mobilnya. Technology Park ini selain akan dihuni oleh Nissan juga diperuntukkan bagi industry technology yang ingin mengembangkan produknya bersama Cranfield University. Sebuah inkubator bisnis tengah dibangun guna mendukung pelaku bisnis baru bidang teknologi untuk memulai usahanya. Seluruh fasilitas Tehcnology Park dibangun di atas bekas lahan bandara dan berdekatan dengan kampus tanpa mengorbankan lahan pertanian menjaga athmosphere desa yang tenang.

Image

Makan malam bersama Pak Dubes

Workshop hari pertama adalah pemaparan materi dari dosen Cranfield University tentang membangun budaya riset. Beberapa dosen dan peneliti adalah warga Negara Indonesia, kalau tidak salah ada 5 orang selain mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan disana. Selain berseminar dengan sesama pelajar Indonesia, Pak Dubes beserta Atase Pendidikan RI di UK juga berkenan hadir serta mentraktir makan malam rijstafel (ternyata artinya rice on the table) ala Indonesia.  Dibungkus dengan suasana yang akrab ditambah sejuknya suasana pedesaan membuat hari berlalu tanpa terasa. Sore itu, alunan lagu-lagu perjuangan serta lagu-lagu lama Koes Plus yang dinyanyikan oleh dosen dan mahasiswa Cranfield University membawa kenangan ke kampung halaman ribuan kilometer dari UK.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Antara Oxford dan Ubud: Dua Kota satu Nafas

Tautan seorang teman di laman facebooknya tentang Oxford yang dilabeli sebagai salah satu Kota terbaik di Inggris mengingatkan saya pada tulisan Hermawan Kertajaya tentang Ubud. Sekalipun terbentang jarak yang sangat jauh, sekitar 18 – 30 jam dengan pesawat terbang, saya menemukan nafas yang sama dari kedua kota ini, bagaimana tradisi membentuk image kawasan yang membuatnya dikenal penjuru dunia. Ubud daerah kelahiran dan Oxford tempat hidup sementara saya.

ID_GPU2013MTH08UTSOB_C

Sampul buku ‘Ubud: The Spirit of Bali’ karya Hermawan Kertajaya

 

Arsitektur Kota: buah karya tangan tangan terampil

Image Oxford sebagai kota pendidikan melekat kuat di kepala sehingga setiap kali membayangkannya maka yang muncul di kepala adalah bangunan kampus-kampus berarsitektur gothic hingga barock berbahan batu alam menjulang membentuk garis langit, skyline, yang unik. Tidak hanya melalui gedung-gedungnya, keindahan kota dapat dinikmati saat kita berjalan-jalan di jalan-jalan kecil serta gang-gang sempit berbahan batu alam, cobble stone, yang sudah dibuat ada disana selama ratusan tahun yang lampau. Tidak banyak yang berubah dari suasana yang tercipta sejak berabad lampau sehingga identitasnya melekat kuat. Musisi jalanan siap menghibur, saat kita melintas, dengan alunan musiknya yang khas. Ribuan atau mungkin jutaan orang telah melintas menyusuri jalan-jalan dan setiap jengkal ruang kota, tradisi tetap hangat menyapa dengan nafas yang sama. Jalinan sejarah, kisah panjang pengalaman penghuni maupun pengunjungnya, berpilin tidak terpisahkan dengan wujud fisik kota mencipta imaji kota. Imaji sama yang dimiliki banyak generasi sebelumnya dan tidak lekang oleh waktu.

Image

Selain kampus-kampus, Oxford juga terkenal karena perpustakaan yang memiliki koleksi buku tak terhitung. Sebagai kota denan kampus-kampus tertua di Negara berbahasa Inggris, perpustakaan adalah tulang punggungnya. Konon, kalau diletakkan berjejer, rak-rak buku di perpustakaan memiliki panjang total hingga mendekati angka 200 kilometer! Selain di perpustkaan, buku-buku juga dapat kita jumpai di toko toko buku tua yang bertebaran di sekitar kota. Salah satu toko buku paling tua adalah The Blackwell Bookshop. Ruang buku utamanya, Norrington Room, sering dijadikan jujukan pencinta buku dari seluruh dunia. Sekali menjejakkan kaki di di ruanganya, aroma buku-buku dari berbagai genre tercium di hidung. Panjang total rak yang dijejali buku-buku tersebut sekitar 5 kilometer. Cukuplah membuat kaki pegal mengelilinginya, atau bisa dijadikan alternative olahraga terutama di musim dingin yang menggigil. Satu hal lagi, yang saya sukai, kedai kopi di took buku ini terletak di ruangan yang sama. Aroma kopi yang tersaji di meja bercampur dengan aroma buku memberi efek relaksasi yang nyaman.

 

Place for Museum Lovers

Berjumpa dengan dinosaurus? Binatang langka dari seluruh dunia? Atau melihat penemuan penemuan bidang seni dan science dari berbagai jaman? Kota oxford memiliki museum yang lumayan lengkap. Museum of Natural History memiliki koleksi dari jaman dinosaurus hingga kehidupan alam di dunia saat ini, sementara Museum of the History of Science menyimpan koleksi puluhan atau bahkan mungkin ratusan perkakas berbau tehnology, jam kuno, teleskop dari berbagai jaman, kalender mekanik dari berbagai belahan, alat-alat kedokteran, fisika dan hal-hal lain yang berkaitan dengan teknologi. Ashmolean Museum adalah tempat dimana kita dapat menyaksikan sejarah kebudayaan dari berbagai jaman dan dari berbagai belahan dunia. Koleksinya terbentang mulai Afrika, Asia, Eropa hingga oceania dalam bidang arkeologi, arsitektur, kesusasteraan, ethnografi dan seni berbagai bentuk.  Pecinta seni modern bisa menikmati karya-karya seniman di Museum Modern Art. Yang lebih menyenangkan adlah untuk menikmati semua museum tersebut tidak dipungut biaya. Museum-museum seolah menghentikan waktu, sehingga masa lampau dapat dinikmati di masa kini.

Image

Dipenuhi oleh ribuan pelajar sejak beratus tahun lampau, tidak sulit mencari pub atau café-café tempat nongkrong di seputaran kota. The Missing Bean, The Grand Cafe and The Vaults dan masih banyak lagi café –café yang menyajikan kopi, the, sarapan ringan atau makan siang dan makan malam yang berat. Penduduk yang heterogen bisa disaksikan dari beragamnya jenis kuliner yang bisa dijumpai. Hidangan makan malam tradisional ala Inggris bisa dinikmati di restaurant local ternama, Turl Street Kitchen. Konon tidak hanya jenis makannnya yang tradisional tetapi seuruh bahannya juga dihasilkan dari lahan-lahan pertanian yang masih mendominasi lansekap pinggiran kota Oxford. Daerah Cowley, tempat bermukimnya imigran dari berbagai negara, menyediakan makanan yang lebih beranekaragam. Hidangan dari Timur Tengah, Jepang, China dan wilayah lain di Asia dan eropa Timur bisa dijumpai. Sayangnya belum ada restaurant yang menyediakan makanan khas Indonesia.

Image

Ada satu Pub yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa, Tavern Turf, terletak di gang sempit tersembunyi di balik dinding-dinding batu alam tinggi. Bentuknya sangat tradisional, hanya bangunan kecil dengan halaman yang dijejali kursi dan meja dinaungi paying-payung kanvas tebal. Mungkin salah satu yang paling ramai di kota sehingga setiap kali kesana saya tidak pernah mendapati kursi yang kosong. Alhasil niat untuk mencicipi hidanganya tidak kunjung sampai. Konon beberapa tokoh terkenal pernah mampir disini. Menurut rumor, Bill Clinton, mantan presiden Amerika Serikat, sering menghisap marijuana pada saat muda di pub ini. Kemudian masih ada pub terkenal lainnya tempat J.R.R. Tolkien, pengarang trilogy The Lord of The Ring, sering bertemu dan mencari inspirasi bersama teman-temannya setiap selasa pagi, The Hawk and Child.

Segenap memory aktivitas serta kenangan bersama dengan wujud fisik kota menjadikan Oxford sebagai kota kecil yang hidup, aktif dan menarik tidak hanya pelajar namun juga turis setiap tahunnya.

Ubud

Lalu jika disuruh memilih kota mana yang lebih baik, saya tetap akan menjawab Ubud. Oxford adalah tempat ideal untuk belajar, melepas penat selepas mengerjakan assignment di café atau pub atau sekedar duduk duduk di pinggir sungai sambil bertegur sapa dengan sesame pelajar atau  penduduk lokal. Tetapi Ubud meninggalkan kenangan yang tak terlupa. Berlarian di pematang sawah sambil sesekali menangkap belut di petak-petak sawah berlumpur, memanjat pohon mangga atau papaya lalu membuat rujak di bawah teduhnya rumpun bambu adalah kenangan yang tidak gampang hilang dari kepala.

Image

Ngaben di Puri Peliatan, Ubud. Foto: Widnyana Sudibya

Ubud hari ini memang telah banyak berubah namun, seperti juga Oxford, tradisi masih terjaga baik. Keramah-tamahan penduduk yang tidak sungkan berbaur dengan orang asing adalah cerminan tradisi local yang fasih bergaul dengan tata kehidupan baru. Di Ubud bukan hal aneh menyaksikan festival-festival traditional yang sudah berlangsung ribuan tahun dan masih dipraktekkan hingga kini di ruang-ruang kotanya. Pada hari-hari tertentu, misalnya saat bulan purnama, ruang ruang budaya bale banjar, wantilan, mementaskan tari-tarian tradisional yang dipelajari oleh warga dari nenek moyang secara turun temurun sejak beratus tahun yang lalu. Nada-nada pentatonic dari bilah bilah logam yang ditabuh berirama mengiringi gerak para penari di atas panggung yang tidak terlampau besar. Para penari dan penabuhnya di siang hari adalah orang-orang yang bekerja di kantor-kantor pemerintah, di sekolah atau para petani di sawah dan ladang.

Image

Tari Legong Kuntul, foto: Widnyana Sudibya

Kehidupan sudah jauh berkembang, wujud kota perlahan telah berubah namun nafas tradisi tetap terjaga. Bangunan-bangunan tradisional masih mendominasi lansekap kota, berbahan local dan dikerjakan tangan-tangan terampil tukang-tukang ukir tradisional. Banyak gedung baru yang dibangun dan mengkonversi lahan sawah dan ladang. Bangunan-bangunan baru tersebut dibangun tetap dengan tradisi yang sama dengan bangunan yang telah ada sebelumnya. Atap alang-alang, warna merah bata dindingnya serta dilengkapi taman-taman luas dengan kolam tempat tumbuhnya tanaman lotus. Pota kotanya masih tetap sama. Aktivitas utama penduduk terpusat di sudut persilangan jalan utama dimana pasar traditional berbaur dengan pasar seni. Di pagi hari penduduknya datang dari berbagai pelosok membeli kebutuhan sehari-hari sementara siang hari pasar berubah menjadi semacam gallery seni jalanan.

Image

Puri Saraswati ubud. foto: http://www.fotowisata.com 

Seperti juga di Oxford, kawasan Ubud juga dijejali banyak museum. Museum Ratna Wartha adalah yang tertua. Berturut-turut selanjutnya dibangun banyak museum lainnya, Museum Neka, Museum Rudana, Gallery Seniwati, Agung Rai Museum of Art serta yang cukup fenomenal Blanco Renaissance Museum. Museum di Ubud rata-rata dikelola oleh individu-individu yang memiliki kepedulian dengan perkembangan seni dan budaya local. Selain koleksi tetapnya, museum-museum tersebut juga memiliki hari-hari tertentu dimana pegelaran seni budaya local dipentaskan.

Makanan traditional di Ubud sering menjadi referensi pelancong local hingga mancanegara. Hidangan tradisional semacam, ayam atau bebek betutu, bebek goring renyah, nasi ayam kedewatan serta babi guling Bu Oka terkenal hingga ke mancanegara. Warung Bebek Tepi Sawah, Bebek Bengil, Nasi Ayam Kedewatan, Warung Makan Teges dan lain-lain menjadi lokasi makan siang favourite warga dan juga wisatawan. Makanan semacam inilah yang membuat saya selalu menjadikan Ubud sebagai tempat favourit. Duduk di bale-bale terbuka tradisional di pinggir sawah sambil menikmati hidangan bebek goreng, ditemani sambal pedas dan segelas minuman tradisional, daluman, menjadi pengingat untuk selalu pulang saat berada jauh dari rumah.

Ekstasi kota, konon, adalah value yang mampu memuaskan segenap indra kita. Indra penglihatan dengan tampilan fisiknya yang menawan, indra penciuman dengan aroma udara yang menyegarkan, permukaan jalan serta dindingnya, suara-suara indah dari gamelan atau musisi jalanan, serta makanan yang memanjakan lidah. Kota kehilangan daya tariknya saat dia tidak mampu memberi kepuasan bagi indra kita.