Crescent Hall, si Balai Bulan Sabit

Image

Terletak cukup jauh, tidak kurang 3 mil dari kampus Brookes di Gipsy Lane, Crescent Hall tempat tinggal mahasiswa ini satu diantara sekian akomodasi milik kampus yang paling ‘murah’. Jangan tertipu dulu dengan sebutan murah, karena lebih dari setengah nilai beasiswa harus direlakan setiap bulan untuk membayar sewanya. Namun jika dibandingkan dengan akomodasi kampus lainnya, maka sewanya relative lebih murah. Ukuran kamarnya mungil, terutama buat orang yang memiliki phobia terhadap ruang sempit seperti saya yang terbiasa hidup di ruang terbuka bebas. Cukup kecil dengan lebar hanya 2.3 meter dan panjang 3.8 meter tetapi tidak terasa sesak. Sebuah dipan yang hanya cukup untuk menampung satu orang dilengkapi meja nakas kecil tempat satu lampu baca. Selain meja belajar, dengan bilah-bilah papan sebagai rak di atasnya, dan lemari pakaian dua pintu, kamar juga dilengkapi satu washtafel untuk menggosok gigi dan mencukur jenggot dan kumis. Washtafel ini salah satu fasilitas favourit saya, terutama saat pagi hari terlambat bangun dan tidak sempat mandi.

Dua karton besar berukuran A0 di masing masing dinding sebelah kiri dan kanan kamar. Satunya saya manfaatkan untuk menempelkan kertas kosong dimana saya suka mencorat coret ide baik sketsa ataupun tulisan agar tidak mudah terlupakan. Satu karton lagi saya tempeli foto keluargaa: Bulan anak pertama dan Bumi anak kedua pada saat sedang merayakan upacara 3 bulanan bersebelahan dengan foto bapak saya almarhum.

Image

Di lantai dasar, flat L2C, saya tinggal dengan lima orang penghuni lain. Tiga orang asli inggris berasal dari London, satu orang Austria dan satu lagi dari Amerika Serikat. Saya satu-satunya anak PhD dan berasal dari Asia. Berenam kami berbagi menggunakan dapur dan ruang makan serta masing masing 2 kamar mandi dan 2 WC. Pada masa masa awal, anak anak tersebut sering protes terhadap aroma dapur setiap kali saya selesai memasak. Masakan Asia, kata mereka, memiliki aroma yang lebih menyengat. Tentu saja jika dibandingkan dengan masakan mereka yang hanya berupa roti dan daging asap disertai beberapa irisan tomat dan daun kubis mentah. Tetapi lama kelamaan mereka mulai menyukai aroma masakan Asia dan malah setelah beberapa minggu, berbalik memuji masakan saya.

Saat pertama kali datang, saya langsung menyukai kebersihan sekaligus kadang mengumpat dengan sopan tempat ini dengan segala keunikannya. Halaman yang bersih, lingkungan yang tertata, bangunannya yang, meskipun tidak terlalu mewah, sangat terawat. Manajer beserta staffnya yang ramah dan siap membantu 24/7. Tetapi seperangkat peraturan, yang ditujukan untuk memastikan semua penghuni aman dan nyaman, kadangkala membuat jengkel. Tengah malam saat tidur nyenyak alarm kebakaran berbunyi membangunkan segenap penghuni dan  mensyaratkan kami semua untuk berkumpul di halaman parkir padahal tidak ada kejadian apa-apa. Untuk menguji kesiagaan kami terhadap bencana, kata si manajer hall yang ramah. Pernah juga dalam semalam alarm berbunyi sebanyak dua kali, jam 11 malam dan jam 4 dini hari. Di lain waktu alaram berbunyi dua kali dalam dua hari yang berbeda. Bahh!!!

Dua pohon besar di halaman depan meranggas kala musim dingin namun bunga yang memenuhi setiap cabangnya menjadikannya objek yang indah di musim semi. Saat musim panas, seperti saat ini, hijaunya daun daun memberi naungan yang menyejukkan. Gemerisik daunnya terdengar jelas dari dapur saat angin berhembus agak kuat. Beberapa ekor burung tekukur menghuni cabang cabangnya meskipun tidak sampai membuat sarang, hanya sebagai persinggahan saat mencari makan saja. Kadang-kadang beberapa burung lainnya sibuk mengorek-ngorek rerumputan di bawah tajuknya mencari serangga atau cacing yang tersesat dan bernasib sial menjadi santapanya. Di hari minggu musim panas yang cerah, segerombolan anak anak menggelar tikar sambil memegang buku, duduk duduk di bawah pohon. Ada juga yang berjemur di bawah hangatnya sinar matahari. Dua pohon ini setiap pagi dilewati oleh puluhan penghuni hall saat hendak berangkat ke kampus. Demikian pula sore hari saat kembali dari menjalani hari-hari.

Image

Di bagian halaman luar masih ada lapangan kecil untuk bermain futsal yang, sehari harinya, lebih banyak dipakai oleh anak-anak muda dari lingkungan sekitar. Hampir tidak pernah saya lihat ada anak anak penghuni hall yang memanfaatkannya. Menyeberang satu jalan kecil di depan lapangan futsal adalah halte yang setiap pagi penuh sesak anak anak mahasiswa menunggu bis yang akan mengangkut menuju kampus. Halte ini berada tepat di depan toko alat alat listrik dan otomotif. Kadangkala pemilik toko tersenyum kecut saat bagian depan tokonya tertutupi puluhan mahasiswa yang menunggu bis, membatasi pandangan ke arah jendela displaynya. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, hanya sekali di pagi hari saja. Begitu bus-bus meninggalkan halte tersebut, maka pandangan ke arah toko tersebut kembali tidak terhalang.

***

Langit di luar sana sudah gelap. Jaket yang tergantung di jendela menghalangi pandangan ke arah semak belukar kecil di bawah jendela di mana burung-burung biasanya mebangunkan saya dengan siulan riuhnya setiap pagi. Malam semakin larut saat suara Daniel Sahuleka mengalun dari speaker laptop. Sebotol Beck’s Vier sudah lama habis dan botolnya berpindah ke dalam tong sampah persis di bawah meja belajar. Keringat di kening mengucur sementara beberapa buku menunggu untuk dirapikan. Pakaian telah masuk ke dalam satu koper besar dan satu koper kabin yang tadi pagi saya pinjam dari seorang kawan di kampus. Meja belajar yang tadinya ramai dengan tumpukan buku dan jurnal, tidak beraturan, kini lengang seperti juga lembar-lembar papan rak buku di atasnya. Kertas putih penuh coretan belum sempat saya lepas. Biarlah besok pagi saya cabut bersamaan dengan melepas semua foto keluarga.

Image

Berdiri di tengah ruangan, saya mengingat semua kenangan di ruangan kecil ini. Tidak terasa 34 minggu sudah berlalu. Artinya sudah 328 hari hidup saya habiskan di ruangan ini dan besok harus pindah ke rumah lain.  Besok saat matahari terbit si Balai Bulan Sabit, Crescent Hall, akan berada di balik punggung saat saya melangkah ke halte bus. Crescent hall akan menjadi selembar puzzle kecil dari puluhan atau mungkin ribuan lembar puzzle lain penyusun cerita hidup.