Sebuah Harapan untuk MUSDA IAI Daerah Bali

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERATanggal 15 November 2014 akan diselenggarakan MUSDA IAI Daerah Bali. Pada event yang sama juga akan dilaksanakan pemilihan ketua IAI Bali ke depan. Banyak harapan tidak terungkap yang saya rasakan dari kegelisahan banyak rekan-rekan arsitek muda dan senior di Bali. Kegelisahan yang bermuara pada kemana akan kita bawa arah organisasi ini di tengah berbagai badai ancaman dan tantangan yang selama ini, sadar atau tidak, tengah menggerogoti segenap rasa percaya diri kita selaku arsitek yang hidup dan bekerja di Bali. Kegelisahan yang, barangkali, lahir dari rasa tidak percaya diri kita menghadapi realita kompetisi yang kian ketat dan minimnya harapan yang bisa dipenuhi oleh organisasi selaku payung harapan pemberi rasa nyaman dan aman berprofesi. Saya mencoba merangkai sejarah ringkas organisasi IAI di Bali dari sudut pandang pribadi. Besar kemungkinan tulisan ini akan bias, semoga ada yang mampu mengurangi dengan informasi tambahan, mengingat saya menjadi pengurus bidang organisasi IAI Daerah Bali pada tahun 2005-2008.

Ikatan Arsitek Indonesia terbentuk pada 17 September 1959. Mengutip dari mukadimah pendirian organisasi ini, terdapat tiga semangat atau cita cita yang ingin dikedepankan. Pertama, organisasi ini adalah langkah menuju penyehatan dunia arsitektur di Indonesia. Guna mencapai tujuan tersebut maka hal kedua yang diperlukan adalah pendaftaran seluruh arsitek yang berprofesi di Indonesia sebagai syarat pemberian jaminan penyehatan tersebut. Akhirnya, organisasi ini diharapkan akan menjadi perlambang bagi pengertian dan pengabdian pada kebenaran, kejujuran dan cita cita arsitektonis luhur bangsa Indonesia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di Bali, Ikatan Arsitek Indonesia terbentuk pada 2 Februari 1986 dengan ketua terpilih Ir. I Nengah Sadri. Bapak Sadri adalah salah satu dosen senior pada Jurusan Arsitektur Universitas Udayana. Upaya awal yang dilakukan adalah melakukan registrasi arsitek Bali. Dengan merangkum segenap praktisi yang ada di Bali, diharapkan cita cita luhur ‘Menuju Dunia Arsitektur yang sehat’ sebagaimana judul mukadimah pembentukan IAI akan dapat dicapai. Upaya yang sama dilanjutkan oleh Prof Ir. Putu Rumawan Salain yang terpilih untuk menggantikan ketua sebelumnya pada tahun 1999. Prof Putu Rumawan yang terpilih menjadi ketua selama dua periode hingga 2002 bahkan sempat merintis keanggotaan IAI Bali dari kalangan mahasiswa. Sebuah upaya yang tidak terdengar lagi gaungnya setelah masa kepemimpiman beliau. Pada periode awal, mulai tahun 1986 hingga 2002, anggota IAI Bali  didominasi oleh dosen dan alumni arsitektur Universitas Udayana. Aura kampus hingga masa tahun 2002 masih terasa cukup kuat. Pada 31 Agustus 2002, bertempat di Studio Popo Danes, Jalan Hayam Wuruk 159, terpilih ketua baru Ir. Made Widnyana Sudibya. Mencoba melepaskan organisasi dari bayangan kampus menuju organisasi yang lebih independen, IAI Bali memulai menata ulang organisasi dengan mengangkat karyawan profesional untuk membantu operasional dan administrasi rutin. Upaya ini menunjukkan hasil dengan semakin meningkatnya jumlah anggota IAI dan mulai dilihat oleh berbagai kalangan sebagai organisasi yang kuat dan mandiri. Ir. Made Widnyana, yang karib disapa Pak Wid, menjabat selama dua periode hingga tahun 2008. Ada beberapa upaya yang dilakukan pada masa kepengurusan ini. Diantaranya adalah merintis upaya pendidikan berjenjang bagi lulusan baru menuju arsitek professional. Program ini antara lain dalam bentuk penataran strata 1 hingga 4 dengan materi pengetahuan praktis yang disusun berjenjang serta penataran kode etik. Upaya ini bermuara pada satu titik yaitu dianugerahinya seseorang sebagai arsitek professional dengan memenuhi berbagai persyaratan melalui program sertifikasi. Upaya yang juga fenomenal adalah mengenalkan profesi arsitek melalui pameran di Pesta Kesenian Bali. Sebetulnya sebelum masa Pak Wid, di Pesta Kesenian Bali terdapat juga pameran arsitektur yang digelar oleh Jurusan Arsitektur Universitas Udayana, namun sempat terhenti sebelum dilanjutkan oleh IAI daerah Bali. Ramainya kegiatan pada masa kepemimpinan Pak Wid tidak hanya berimbas pada meningkatnya jumlah anggota tetapi juga meningkatkan awareness pada keberadaan organisasi IAI Bali. Hal ini terbukti dari tingginya animo, tidak saja kalangan arsitek, para pelaku industri di bidang rancang bangun baik produsen maupun supplier material bangunan yang berperanserta dalam setiap kegiatan organisasi. Hingga sejauh ini, organisasi IAI Daerah Bali ‘cukup berhasil’ menghimpun massa sekaligus menjaring mitra kerja dan menjadi salah satu arus utama pusaran pengembangan arsitektur professional di Bali.

Tantangan berat justru dihadapi oleh ketua yang menggantikan Pak Wid, yaitu Ir. Ketut Rana Wiarcha yang terpilih dalam Musda di Sanur tanggal 26 September 2008. Bukan lagi terpusat pada keanggotaan serta penguatan institusi, tantangan justru datang dari dunia luar. Serbuan arsitek asing, terkatung-katungnya Undang-Undang Arsitek, tantangan dari organisasi lain yang ‘by law’ juga dilegalkan untuk melaksanakan sertifikasi. Berbagai tantangan tersebut menimbulkan dinamika yang luar biasa di kalangan anggota IAI, arsitek non anggota maupun calon anggota. Inti dari dinamika tersebut adalah mempertanyakan peranan organisasi dalam berbagai pusaran arus yang saling beradu kekuatan. Sempat muncul harapan bahwa Undang-Undang Arsitek akan memberi kejelasan kedudukan organisasi dalam segala ketidakpastian tersebut. Sayangnya di dalam rancangan undang undang arsitek tersebut tidak jelas secara eksplisit disebutkan tentang IAI selaku leading sector dalam pengembangan dunia arsitektur di Indonesia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tantangan besar IAI daerah Bali ke depan adalah mewujudkan cita-cita ketiga, mengabdi pada kebenaran, kejujuran dan cita cita arsitektonis luhur bangsa Indonesia. Cita cita ini menghadapi tantangan yang luar biasa dahsyatnya mengingat Bali menjadi incaran investor. Ratusan bangunan, berbagai type, menjamur di berbagai pelosok, pusat kota hingga daerah daerah suburb. Serbuan berbagai gaya atau langgam bangunan baru yang diiringi menurunnya pengetahuan terhadap arsitektur vernacular Bali. Terbukanya masyarakat ASEAN melalui Asean Economic Community yang membuka peluang bagi arsitek dari seluruh negara anggota Asean untuk berpraktek di Bali. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah tugas organisasi sebagai jembatan yang menyambungkan antara pendidikan arsitektur dengan dunia kerja. Oh ya, yang juga perlu diingat adalah ketidakjelasan aturan main bagi arsitek yang berpraktek di Bali. Aturan main menjadi penting untuk menciptakan kompetisi yang sehat. Tanpa aturan main, maka kompetisi akan berlangsung brutal, saling kanibal yang pada ujungnya menyengsarakan arsitek itu sendiri.

Kini setidaknya terdapat lima kelompok besar arsitek di Bali, dengan karakteristiknya yang berbeda tajam. Golongan pertama adalah arsitek   yang berada di bawah bendera INKINDO. Kelompok ini berperan dalam banyak proyek-proyek pemerintah, bekerjda dengan kontrak yang sudah baku dan secara badan usaha sudah cukup matang. Golongan yang kedua adalah arsitek  yang berkecimpung dalam proyek-proyek swasta, hotel, resort, villa dan akomodasi serta fasilitas wisata lainnya. Kelompok ini ditempa oleh persaingan internasional sehingga kemampuannya di dalam mengelola proyek berskala internasional sudah  teruji. Kedua golongan ini sudah memiliki market yang jelas meskipun berkompetisi dalam arena yang berbeda. Kelompok ketiga adalah arsitek asing, yang mengerjakan proyek proyek hospitality milik investor asing tetapi lokasi kantor serta lokasi proyeknya ada di Bali. Tidak jelas benar apakah mereka memiliki ijin kerja di Bali ataukah tidak, tercatat sebagai anggota IAI atau tidak, tetapi yang jelas cukup banyak arsitek muda Indonesia yang bekerja di kantor-kantor milik arsitek asing tersebut. Saya bukannya anti terhadap arsitek asing, tetapi keberadaan praktek semacam ini menyimpang dari cita cita kedua terbentuknya Ikatan arsitek Indonesia. Kelompok yang keempat adalah arsitek-arsitek oportunis yang berperan selaku perancang-pembangun-pengembang. Banyak di antara arsitek dari kelompok ini yang sukses secara finansial. Proyek-proyeknya sangat beragam, mulai rumah tinggal, perumahan, villa skala  kecil, hingga ruko. Umumnya kelompok ini berpraktek secara mandiri atau berkelompok dengan rekan sejawat. Dan kelompok yang terakhir adalah para mahasiswa yang baru tamat. Dengan pengetahuan yang diperoleh dari kampus, golongan ini sangat rentan terhadap ganasnya dunia praktisi. Mereka ini perlu disiapkan untuk menghadapi dunia profesi yang tidak selamanya ramah.

IAI daerah Bali saat ini menjadi tumpuan harapan menciptakan lingkungan persaingan dan kompetisi yang sehat. Kompetisi yang sehat hanya bisa dicapai dengan merangkul segenap kelompok arsitek tanpa terkecuali dan mengajak mereka bermain dengan aturan main yang jelas, fair sekaligus memberi perlindungan serta advokasi bagi segenap peserta kompetisi. Dengan merangkul semua elemen, bersinergi serta berkolaborasi dengan mitra kerja, maka kompetisi yang sehat akan tercipta guna melahirkan karya-karya yang bertanggung jawab terhadap pengguna dan lingkungan serta mewujudkan cita cita menjadikan arsitek dan arsitektur Bali sebagai tuan rumah di tempatnya bertumbuh.

Semoga Musda yang akan datang mampu mewujudkan cita cita yang tidak mudah ini dan ketua yang terpilih mampu merangkul serta mendapat dukungan yang luas.