Arsitektur Bali Awal Abad 20: Persentuhan dengan Barat

catuspatha annotated

 

Situasi sekitar Puri Denpasar sebelum Puputan Badung 1906. Direkontrusksi dari berbagai sumber.

Setelah takluknya Kerajaan Klungkung di tangan Belanda tanggal 28 April 1908 secara de facto Bali sepenuhnya jatuh ke tangan pemerintah colonial Belanda. Bali menjdi salah satu daerah yang relative paling singkat dikuasai oleh penjajah karena salah satu yang paling akhir ditaklukan di banding daerah lain di Indonesia.  Penguasaan atas Bali dimulai saat pasukan colonial berhasil menguasai Jagaraga di Bali utara tanggal 19 April 1849. Dalam waktu yang relative singkat tersebut, pemerintah colonial Belanda tetap memiliki kontribusi yang signifikan dalam hal pembangunan fisik serta pemikiran bidang kebudayaan dan pariwisata yang berlangsung hingga kini, termasuk arsitektur.

Setelah menguasai pulau Bali sepenuhnya, pemerintah colonial mulai melakukan berbagai penataan baik secara politik maupun secara fisik di bidang infrastruktur. Bali sebagai pulau yang tidak memiliki kekayaan alam maupun pertanian yang menonjol dikembangkan sebagai daerah wisata. Sekalipun tidak memiliki produk unggulan, Bali nampaknya dipandang cukup strategis oleh pemerintah colonial sehingga pembangunan infrastruktur tetap mendapat perhatian terutama pelabuhan.

Pelabuhan Jagaraga merupakan pintu masuk utama ke Bali dari Batavia dan Surabaya. Lewat pelabuhan ini kapal-kapal bisa berlabuh dan mengantarkan wisatawan dari luar negeri untuk berkunjung. Perjalanan wisata ini dikelola oleh Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM). Perusahaan perkapalan ini dimiliki kerajaan Belanda dan bertugas menjadi jembatan penghubung berbagai komoditi di seluruh wilayah Hindia Belanda pada masa itu. Khusus untuk Bali, kapal PKM juga dipergunakan sebagai angkutan wisatawan. Untuk mendukung fungsi-fungsi baru pelabuhan, banyak dibangun fasilitas-fasilitas baru di sekitar pelabuhan Buleleng. Bangunan-bangunan baru ini menggunakan arsitektur colonial Belanda pada masa itu. Bangunan-bangunan inilah yang menjadi persentuhan arsitektur modern dengan tanah Bali.

Sebelum masa awal abad 20 ini arsitektur Bali, oleh beberapa pelancong, digambarkan sebagai bangunan temporer, becek di kala hujan serta ber-atap seadanya. Seorang tenaga kesehatan Belanda bahkan menyebutkan bangunan Bali pada masa itu sebagai bangunan yang tidak berkualitas, memiliki sanitasi yang buruk serta berbahaya bagi kesehatan (Julius Jacobs in Vickers, 1994). Ada pula yang menyebutkan  bangunan Bali tidak menarik, tetapi setelah menyelami kehidupannya lebih jauh barulah terlihat atau terasa nyamannya bangunan tersebut. Banyak yang akhirnya, setelah tinggal dalam waktu yang lebih lama, merasakan bahwa arsitektur Bali adalah jawaban masyarakat atas tantangan alam dan cara pandang penduduknya terhadap alam Bali itu sendiri (Louis Couperus in Vickers, 1994).

moojen005

 

Foto sebuah gerbang terbuat dari citakan tanah liat beratap alang-alang di Desa JulahSumber: P.A.J. Moojen. 1926. Kunst op Bali: inleidende studie tot de bouwkunst

Bangunan Bali berwujud arsitektur tradisional dan pengetahuannya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, sebelum diperkenalkannya bangunan baru oleh pemerintah colonial Belanda. Yi Fu Tuan menyebutkan terminology ‘tradisional’ berhubungan erat dengan keterbatasan. Makna kata ‘keterbatasan’ ini sendiri masih dapat diperdebatkan karena sangat relative, untuk itu saya memberi tanda kutip. ‘Keterbatasan’ yang dihadapi oleh penduduk Bali pada masa itu antara lain adalah material, pengetahuan, teknik dan ketrampilan konstruksi serta keterbatasan lainnya. Keterbatasan ini justru menciptakan kreativitas karena setelah diolah mampu memberikan tempat bernaung yang nyaman bagi masyarakat Bali. Rumah-rumah masyarakat pada waktu itu nyaris semuanya seragam dan yang membedakan hanya besar dan luasnya pekarangan.

Berbeda dengan rumah tinggal, bangunan-bangunan suci memiliki bentuk, bahan, dan teknik pengerjaan yang jauh lebih baik. Pura-pura dibangun dengan gapura yang megah, berukir dengan bahan yang lebih baik daripada bangunan rumah tinggal. Demikian pula halnya dengan puri-puri tempat tinggal raja serta giya-griya para pendeta. Semua dikerjakan dengan tingkat ketelitian yang tinggi, detail dan ukiran yang indah penuh perlambang dan mitos yang bercampur mencipta bentuk yang unik.

moojen142

 

Bangunan Pura dengan bale kukul dan kori berukir di Sukawati. Sumber: P.A.J. Moojen. 1926. Kunst op Bali: inleidende studie tot de bouwkunst

Secara politik Bali dan Lombok berada di bawah satu keresidenan namun dibagi lagi menjadi tiga wilayah yang disebut Afdeeling. Satu afdeeling berada di Lombok sementara dua lainnya berada di Bali dengan kantor pusat di Singaraja untuk Afdeeling Bali Utara dan di Denpasar untuk Afdeeling Bali Selatan. Sekalipun diperintah dengan tata kelola pemerintahan colonial, Belanda tetap melibatkan raja sebagai pemimpin wilayah, namun raja-raja ini tetap bertanggung jawab pada afdeeling wilayahnya masing-masing. Raja-raja terutama bertanggung jawab untuk urusan adat dan agama dalam kesatuan organisasi Raad van Kertha. Guna lebih mengoptimalkan fungsi serta memperoleh lebih banyak kesejahteraan, pemerintah Kolonial Belanda, selain mengembangkan infrastruktur untuk mendukung perdagangan dan pelabuhan, juga membangun fasilitas perkantoran untuk mendukung jalannya pemerintahannya. Selain di sekitar pelabuhan Buleleng, di Denpasar dibangun pula beberapa bangunan baru.

10580039_1550801561814380_7156141046757727190_n

 

Alun-Alun Kota Denpasar setelah tahun 1950-an. Sumber laman Facebook Bali old photos

Di pusat Kota Denpasar, Pemerintah Kolonial Belanda melakukan penataan besar-besaran. Kawasan Puri Denpasar yang telah hancur diratakan dengan tanah. Bangunan-bangunan baru bergaya colonial dibangun pada beberapa bagian. Areal yang relative luas ini dibagi menjadi tiga bagian besar. Pada ujung timur laut dibangun perumahan untuk pejabat Belanda, sementara di tengah menghadap ke selatan dibangun Kantor asisten Resident untuk wilayah Bali Selatan. Di Bagian barat dibangun wing timur Bali Hotel sebagai sambungan dari bangunan Utama Lobby dan wing barat Bali Hotel di Bagian barat. Lokasi wing barat ini sebelumnya merupakan pekarangan Jero Kawan milik Gusti Ketut Ngurah yang telah diratakan. Bersebelahan dengan wing barat, bangunan kantor KPM dibangun untuk mendukung fungsinya sebagai agen perjalanan wisata di Bali. Kawasan lain yang ditata adalah sepanjang jalur dari arah perempatan menuju tukad Badung. Pasar tradisional dipindahkan ke tepian tukad Badung sementara itu kios-kios pedagang China dijejer sepanjang jalan dari arah perempatan menuju pasar tersebut. Kawasan ini tumbuh dan berkembang sebagai pusat perekonomian kota didukung pula dengan terkonsentrasinya pedagang kain berdarah arab menempati lahan yang kini menjadi jalan Sulawesi.

 

1930 bali hotel

Bangunan Bali Hotel sekitar tahun 1930-an Sumber laman Facebook Bali old photos

Kawasan sekitar perempatan agung kota masih terus ditata lebih lanjut.  Di bekas lokasi pasar, pada pojok barat daya perempatan, dibangun bangunan Raad van Kertha bangunan untuk pengadilan urusan adat dan keagamaan. Sementara di selatan bangunan ini Belanda juga membangun garnisun atau tangsi militer berdekatan dengan kantor dinas BOW yang bertanggung jawab untuk urusan infrastruktur, pengairan dan bangunan sipil. Sementara itu di wilayah bekas Jero Kelodan, Jero Anom dan Jero Jambe dibiarkan kosong menjadi alun-alun (lihat sketsa).

Bangunan-bangunan yang dibangun oleh pemerintah Kolonial dikerjakan oleh tenaga-tenaga dari kantor Departement van Burgerlijke Openbare Werken (BOW). Pelibatan tenaga ahli local kemungkinan besar sangat minim dan terbatas pada buruh dan tukang. Bentuk bangunannyapun tidak mengambil referensi dari bangunan local tradisional. Sedikit berbeda adalah karakter bangunan pertokoan milik pedagang china. Selain menggunakan bahan modern pada beberapa bagian masih menggunakan ornament khas china. Sampai disana, nyaris seluruh bidang telah dikuasai, politik, ekonomi, social, serta fisik.

Selain membangun ekonomi dan politik, Belanda rupanya juga mencoba melakukan pembangunan di bidang budaya. Salah satu politik kebudayaan kolonial (Belanda) dalam membentuk image Bali adalah Baliseering, dimana yang menjadi landasan utama dalam politik kebudayaan ini adalah penemuan dan penggalian keaslian dan otentisitas budaya Bali (Picard, 1997). Di dalam politik ini Belanda berusaha melindungi kebudayaan Bali dari pengaruh budaya luar termasuk budaya Islam, Kristen serta modernisasi. Banyak yang menduga bahwa Belanda menerapkan politik ini dengan tujuan selain menjadikannya komoditas wisata, juga untuk melindungi kepentingan pemerintahannya dengan membatasi pergaulan pemuda Bali dengan koleganya di kawasan lain Indonesia, terutama di Jawa. Pemuda-pemuda diberitahu dan dididik untuk memahami, mempelajari serta menerapkan budayanya sendiri melalui penggalian-penggalian yang dilakukan pada masa itu. Salah satu wujud fisik dari Baliseering adalah dibangunnya Museum Bali.

Museum Bali dirintis semenjak 1910 dan akhirnya secara resmi dibuka untuk umum tanggal 8 December 1932. Adalah W.F.J. Kroon yang pada saat itu menjabat Assistant Resident for South Bali yang melakukan inisiatif setelah berdiskusi dengan Th. A. Resink , seorang arkeolog dan antropolog, tentang ide pelestarian budaya. Saat tiba pada keputusan untuk mewujudkan ide tersebut dalam bentuk fisik, maka perdebatan muncul apakah akan menggunakan arsitektur modern (pada masa itu) ataukah arsitektur local. Selain kekhawatiran bahwa banyak benda pusaka yang hilang, sepertinya Th. A. Resink juga khawatir bahwa suatu saat bangunan tradisional Bali pun akan punah jika pemerintah colonial tetap membangun dengan bentuk-bentuk yang modern. Saat itu tidak banyak arsitek Belanda yang memahami tata bangun arsitektur Bali.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Seorang arsitek antropolog asal German yang sedang melakukan riset di Bali diajak berdiskusi dan akhirnya diputuskan untuk mengembangkan bangunan museum dalam bentuk tradisional. Keterbatasan pengetahuan diatasi dengan cara bekerjasama dengan arsitek atau undagi local. Ide ini didukung sepenuhnya oleh raja-raja yang berkuasa di Bali pada masa itu dan juga ilmuwan dan seniman. Pengerjaan Museum Bali akhirnya melibatkan dua orang undagi local yaitu I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel. Keputusan ini menjadi monumen penghargaan atas kemenangan arsitektur lokal atas arsitektur barat, sekalipun dibalut dalam nuansa politik Baliseering yang kental.

Rancangan museum yang dibuat merupakan gabungan antara desain pura dan puri. Halamannya terbagi atas lima bagian besar: jaba sisi, jaba tengah dan tiga halaman jeroan. Pada jaba sisi terdapat bangunan bale kulkul berbahan batu padas sedangkan di jaba tengah terdapat bangunan tinggi serupa bale peninjoan di puri. Di bagian jeroan terdapat bangunan besar yang menjadi bangunan utama tempat menyimpan koleksi museum.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berdiri cukup megah di sisi timur alun alun, masyarakat setempat menyebutnya sebagai ‘Pura Kantor’, sebagai gambaran bangunan kantor yang bentuknya menyerupai pura. Bangunan museum ini barangkali menjadi satu-satunya bangunan ber-arsitektur tradisional yang dibangun oleh pemerintah di pusat Kota Denpasar colonial pasca keruntuhan Puri Denpasar. Bisa jadi kompleks ini juga menjadi satu-satunya bangunan yang dibangun dengan sepenuhnya menggunakan arsitektur local setempat di seantero Nusantara masa itu. Bandingkan misalnya dengan bangunan dan tata kota besar seperti Batavia, Bandung, Semarang, atau Surabaya dan Malang. Di kota-kota tersebut, pemerintah colonial membangun arsitektur dan perkotaan tanpa referensi arsitektur local.

Sebelumnya, beberapa renovasi besar sempat dilakukan pasca gempa tahun 1917 untuk melakukan renovasi bangunan-bangunan tradisional di Bali. Nampaknya pemerintah tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk mengembangkan lebih jauh strateginya di bidang arsitektur dalam bingkai Baliseering. Setelah bangunan museum Bali tidak banyak lagi bangunan baru yang dibangun dalam kerangka berfikir yang sama. Kekalahan sekutu atas Jepang memaksa Belanda untuk menyingkir dari tanah dewata dan menyerahkan pemerintahan ke tangan Jepang.

Saat ini, warisan bangunan dengan arsitektur colonial masih bisa dijumpai di sekitar pelabuhan Buleleng, serta beberapa di sekitar Bali Hotel di Kota Denpasar. Sementara Museum Bali menjadi monument upaya pemerintah colonial melestarikan arsitektur tradisional Bali. Politik Baliseering yang hendak menjaga  serta melindungi budaya Bali dengan cara mendikte masyarakat Bali untuk menjaga ke-Bali annya, termasuk di bidang arsitektur, terputus dengan datangnya bala tentara Jepang. Untuk wilayah Bali pemerintah colonial bahkan sepertinya belum sempat memiliki masterplan tentang pengembangan kota dan arsitektur.

 

Bacaan

Bappeda Kota Denpasar. 2011. Pusaka Budaya Kota denpasar. Pemerintah Kota Denpasar.

Bappeda Kota Denpasar. 2009. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar 2010 – 2030. Pemerintah Kota Denpasar.

P.A.J. Moojen. 1926. Kunst op Bali: inleidende studie tot de bouwkunst

Picard, M. 1997. Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture. Archipelago Press: Singapore

Vickers, A. 1994. Travelling to Bali: four Hundred Years. Oxford University Press: Oxford.

Algemene gegevens van logeeradressen op Bali

 

Muller, Bawa dan Hill dalam Transformasi Arsitektur Bali

05

Amandari Hotel oleh Peter Muller

Bali awal tahun 1960an sibuk berbenah dan menata kehidupan dalam berbagai bidang. Di bidang pemerintahan terjadi transformasi dari pemerintahan kerajaan, ke pemerintahan federal dengan terbentuknya NIT lalu menjadi pemerintahan provinsi Bali yang tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masa-masa awal ini menjadi salah satu penanda kehidupan baru yang lebih modern menemukan momentumnya. Pemerintahan baru menetapkan Denpasar sebagai ibu kota dan memindahkan segenap kegiatan administrasi dari Singaraja yang sebelumnya menjadi ibu kota di masa negara federal Negara Indonesia Timur. Perubahan bentuk, system serta tata pemerintahan membawa pula implikasi lain, di mana masa ini menjadi milestone transformasi arsitektur dan tata ruang di Bali. Tata ruang dan arsitektur yang sebelumnya berjalan dalam koridor tradisional, berjalan dan bertumbuh dalam iklim yang tidak ‘terusik’ kini harus memenuhi tuntutan baru perubahan jaman. Saya mencoba mengurai apa saja yang terjadi pada masa awal kemerdekaan ini dengan cara men-cerewet-i beberapa data dan informasi yang tercecer menjadi satu jalinan cerita utuh.

Beberapa pertanyaan yang terngiang di kepala saat hendak membahas masa-masa ini  mengusik rasa penasaran. Pertanyaan-pertanyaan berikut mungkin menjadi pemicu bagaimana arsitektur Bali bertransformasi dari bangunan tradisional menjadi bentuknya yang kita saksikan hari ini. Apa yang terjadi di Bali pada masa awal ini? apa implikasinya terhadap tata ruang dan arsitektur di Bali? Bagaimana Arsitektur Bali bertransformasi? Siapa pemicu transformasi ini dan apa perannya?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, beberapa literature dan laporan yang bersifat kualitatif saya kumpulkan. Saya mengutip informasi dari buku-buku, tentang perkembangan arsitektur Bali, yang sebagian besar berupa coffee table book. Cukup sulit menemukan buku-buku arsitektur Bali yang mengungkap sejarah perkembangan arsitektur di luar format tersebut. Sementara itu beberapa laporan penelitian tentang perubahan bentuk pemerintahan, sejarah kota serta laporan RencanaTata Ruang Wilayah menjadi pelengkap dari sisi non-arsitektural. Pertama-tama informasi yang diperoleh dari berbagai sumber ini disusun sesuai dengan urutan waktu dan periodisasinya. Dari periodisasi dilihat kejadian sosial, ekonomi atau politik serta dikaitkan dengan tema-tema di bidang arsitektur dan tata ruang.

Setelah secara resmi menjadi provinsi yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950, seiring bubarnya Negara Indonesia Timur (NIT), pemerintah mulai melakukan beberapa penataan. Paruman Agung yang sebelumnya menjadi representasi rakyat dalam tata kelola pemerintahan NIT dibubarkan dan digantikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bali. Sebelumnya, pada masa kolonial 1906 – 1945, Denpasar sudah bertransformasi dari kota kerajaan agraris menjadi kota jasa dengan diperbaiki dan dibangunnya berbagai infrastruktur. Pelabuhan Benoa diperbesar, jalan-jalan diperlebar serta diperkeras serta sistem distribusi hasil-hasil pertanian disempurnakan dengan melibatkan pula pedagang etnis China dan Arab. Perubahan ini menjadikan Denpasar semakin sibuk serta ramai. Pemerintahan pasca kolonial yang baru lahir, melakukan studi kelayakan untuk menjadikan Denpasar sebagai kota administrative tanggal 28 Februari 1957. Kota Denpasar secara resmi ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Bali pada tanggal 23 Juni 1960.

Mengadopsi strategi yang dikembangkan pemerintah kolonial sebelumnya , dalam bentuk preservasi budaya lokal yang disebut Baliseering, pemerintahan provinsi yang baru cukup percaya diri untuk mengembangkan serta menjual potensi pariwisata Bali ke seluruh dunia. Setelah dimulai sejak awal tahun 1920-an, pariwisata Bali sempat mengalami kebangkrutan pada masa perang dunia kedua serta pergantian pemerintahan.  Adalah kecintaan Presiden Sukarno pada Bali lah yang selanjutnya menjadi salah satu trigger pengembangan pariwisata pada masa itu.

Awal tahun 1960-an, setelah mati suri selama beberapa tahun, Presiden Sukarno rajin mengundang dan mengajak tamu-tamu negara untuk berkunjung ke Indonesia. Salah satu wilayah yang dibangga-banggakan pada masa itu adalah Bali. Banyak tamu negara pada masa itu yang diajak berkeliling Bali oleh presiden RI pertama tersebut. Nehru misalnya sempat menjuluki Bali sebagai ‘Morning of the world’. Kunjungan-kunjungan para kepala negara ini kemudian menjadi jembatan baru perkenalan alam dan budaya Bali ke seluruh dunia.

76399289

Bali Beach Hotel. Sumber: http://static.panoramio.com/photos/large/76399289.jpg

Pertengahan hingga akhir tahun 1960-an menjadi era penting dalam pengembangan pariwisata di Bali dengan tiga kejadian besar yang menjadi batu loncatan perubahan lansekap budaya Bali. Tahun 1963 sebuah hotel besar berlantai 10 dibangun dari dana pampasan perang Jepang di Sanur, Bali Beach Hotel. Tidak berhenti sampai disitu, perluasan Bandara Ngurah Rai guna menampung lebih banyak pesawat dari penerbangan internasional dilakukan mulai tahun 1969 di saat yang nyaris bersamaan dengan dimulainya study besar-besaran bidang kepariwisataan yang dilakukan oleh SCETO. Ketiga kegiatan ini merupakan inisiasi dari pemerintah pusat dan dibiayai pula dari pusat. Di dalam studynya yang dipublikasikan tahun 1971, SCETO (Societe Centrale pour l’equipment Touristique Ouetre-Mer) merekomendasikan beberapa hal penting dengan tujuan untuk menghindari Bali dari kerusakan sosial, alam dan budaya yang mungkin timbul akibat pengembangan pariwisata. Salah satunya adalah merumuskan rencana pengembangan umum (masterplan) pariwisata yang berfokus pada upaya menjaga keunggulan budaya dan alam serta lebih memilih strategy pengembangan quality tourism atau pariwisata terbatas namun berkualitas. Masih dari laporan tersebut, SCETO merekomendasikan tiga kawasan yang bisa dikembangkan sebagai lokasi untuk mass tourism yaitu Nusa Dua di bagian selatan, Sanur untuk pengembangan bagian tengah dan timur serta Lovina untuk pengembangan di bagian utara. Di luar ketiga wilayah ini dianjurkan agar dikembangkan wisata terbatas serta hotel boutique skala kecil untuk menjaga nilai-nilai budaya serta keasrian lingkungan lokal.   

Sanur pada saat itu sudah menjadi tempat favorit beberapa artis Eropa antara lain Miguel Covarrubias, Adrien Le Mayeur dan Walter Spies. Spies bahkan sempat membina beberapa seniman lokal dan membantu berdirinya the Sanur School of Painters. Keberadaan beberapa orang asing ini telah membuka pekerjaan bagi penduduk setempat menyewakan rumah tinggal sementara bagi orang asing. Adalah Wija Waworuntu salah satunya yang memiliki usaha sejenis dan merasa sangat terganggu dengan berdirinya Bali Beach Hotel. Sebuah bangunan berbentuk kotak sepuluh lantai dengan gaya seperti bangunan post-modern di Miami. Kemarahan yang dirasakan Wija bersambut karena salah satu artis yang saat itu tinggal di Sanur Donald Friend juga kecewa dengan bangunan tersebut. Sebuah rencana lalu dirintis dengan maksud membuat fasilitas akomodasi wisata mewah namun mengedepankan arsitektur lokal. Hotel mereka diberi nama Tandjung Sari, dengan fokus pada bangunan lobby yang diadopsi dari bangunan bale banjar, memanfaatkan bahan local, batu karang, kayu dan alang-alang. Lobby ini juga dipakai sebagai restaurant serta panggung pertunjukan. Arsitektur Bali menemukan fungsinya yang baru, tidak melulu sebagai tempat tinggal, kini sebagai hotel!!

Peter Muller adalah arsitek asing pertama yang mengembangkan sepenuhnya konsep arsitektur Bali untuk fungsi baru: hotel. Muller datang ke bali setelah Friend dan Wija bersepakat membangun fasilitas yang lebih komprehensif dibandingkan boutique hotel Tandjung Sari. Bersama-sama mereka mengembangkan proposal Matahari Hotel di bagian selatan Sanur.

Muller secara intensif melakukan study tentang arsitektur Bali serta mengembangkan beberapa proposal desain. Hasilnya adalah sebuah masterplan hotel dengan bentuk yang mengadopsi sebuah desa tradisional Bali. Tidak hanya secara umum namun juga bangunan-bangunannya: pasar tradisional, bale kulkul, bale pertemuan serta bangunan permukiman tradisional diadopsi oleh Muller. Proposal Matahari Hotel segera menjadi sangat popular dengan keunikannya setelah dicetak untuk mencari investor. Belum pernah sebelumnya arsitektur Bali distudy dan dikembangkan dengan sedemikian teliti untuk selanjutnya disusun sebuah strategi pembangunannya.

04

07

Proposal Matahari Hotel 1970 oleh Peter Muller

Sekalipun gagal diwujudkan akibat tidak adanya dukungan finansial, namun proposal ini membuka cakrawala baru tentang pengembangan arsitektur tradisional Bali. Proposal ini lalu diingat orang dan sering menjadi acuan saat hendak mengembangkan fasilitas sejenis di Bali.

Tidak hanya bagi orang umum, bahkan Muller pun seolah menemukan cakrawala baru dalam berarsitektur. Setelah kegagalan Matahari Hotel, Muller banyak berinteraksi dengan pendeta dan undagi lokal. Tidak menghasilkan kajian ilmiah, namun Muller menerapkan prinsip-prinsip arsitektur lokal dalam proyek-proyeknya selanjutnya: the Oberoi di seminyak, serta Amandari di Ubud. Karya-karyanya selanjutnya di Bali memiliki nafas lokal yang kuat, konsep, detail, material, para pekerja bahkan melibatkan juga pendeta pendeta Bali dalam setiap tahapan prosesnya. Sangat identik dengan proses membangun yang dipraktekkan bertahun-tahun sebelumnya oleh para leluhur serta para undagi Bali.

09

Salah satu pavilion Amandari oleh Peter Muller di Ubud

Setelah kegagalan Matahari Hotel, Friend dan Wija tidak lagi melanjutkan kerjasama dengan Peter Muller. Site hotel tersebut dijual, namun keinginan untuk mengembangkan akomodasi wisata tetap membara dan merekapun berharap kesuksesan Tandjung Sari akan berlanjut. Menghubungi Geoffrey Bawa, mereka lalu mengembangkan proposal yang baru. Bawa pada saat itu sudah sangat mapan sebagai arsitek di kawasan Asia Timur. Karya-karya Bawa dikenal membumi, mengedepankan material serta ilmu ketukangan tradisional. Ketenaran inilah yang membuat Friend merasa Bawa lah arsitek yang tepat untuk diajak bekerjasama.

Bawa datang ke Bali Juni 1973 memenuhi undangan Donald Friend untuk membahas rencana pengembangan sebuah boutique hotel baru. Suatu hari mereka berangkat ke Klungkung, melihat bangunan bale kambang di pusat kotanya. Sepanjang perjalanan banyak berhenti, Bawa membuat sketsa-sketsa dan melakukan banyak diskusi membahas arsitektur tradisional Bali. Sketsa-sketsa tersebut lalu dijadikan sebagai dasar untuk mengembangkan rencana pembangunan hotel mereka yang baru.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Batujimbar pavilion hasil sketsa Bawa.  Sumber: Robson, D. (2007). Beyond Bawa, a Modern Masterworks of Monsoon Asia, with photographs by Richard Powers. Thames and Hudson Ltd. London.

Konsep yang dibuat oleh Bawa terdiri atas beberapa compound serupa natah dalam arsitektur Bali terbagi ke dalam beberapa plot. Masing-masing plot hendak dikembangkan menjadi sebuah kompleks guest house mandiri. Bawa menerapkan konsep serta bentuk arsitektur tradisional Bali dengan mengadopsi beberapa bentuk bangunan tradisional. Salah satunya yang kemudian menjadi terkenal adalah bangunan yang menyerupai bale kambang, rumah dan museum Donald Friend.

Kembali ke proposal Matahari Hotel yang gagal diwujudkan, korporasi dari Hongkong mengambil alih lahan dan mengembangkan sebuah hotel baru. Kerry Hill, arsitek asal Perth, ditunjuk sebagai project architect-nya. Sekalipun pada awalnya dikembangkan dalam bentuk yang sangat modern, namun dalam perjalanan, Friend tetap berupaya mengusulkan agar bangunan dikembangkan dalam arsitektur tradisional Bali. Kerry Hill akhirnya mengembangkan bangunan restaurant dan ruang public ke dalam bentuk balai wantilan raksasa yang akhirnya menjadi ikon hotel ini di kemudian hari. Hotel ini akhirnya dioperasikan oleh group Hyatt dan secara resmi menjadi Bali Hyatt Hotel.

Demikianlah, tiga orang arsitek asing, Peter Muller, Geoffrey Bawa dan Kerry Hill, membantu arsitektur Bali berstransformasi dari bangunan yang sebelumnya dipandang sebagai arsitektur temporer oleh banyak pengunjung dan turis menjadi sebuah gaya baru sebagai bangunan akomodasi wisata. Gaya ini kemudian disebut sebagai ‘Bali Style’ dan sempat sangat populer.

Secara methodology nyaris tidak ada hal baru yang diperkenalkan oleh ketiganya namun secara kualitas, arsitektur Bali seolah dibawa serta menjadi lambang perlawanan terhadap arsitektur Modern bahkan Post-modern yang kala itu sedang menemukan momentum yang luar biasa di belahan dunia barat , pasca perang dunia kedua, serta diwakili oleh bangunan Bali Beach Hotel di Bali.

Transmisi pengetahuan arsitektur lokal menjadi senjata ketiga arsitek dalam meneruskan tradisi lokal dan mewujudkan karya mereka berdiri sejajar dengan karya arsitektur termutakhir pada masanya dengan tetap menjejak pada nilai lokal yang kental.

Baik arsitektur Bali maupun ketiga arsitek sama sama mendapat keuntungan atas kondisi di masa awal ini. Jika sebelumnya tidak banyak distudi, bahkan Bali Beach Hotel pun tidak mencerminkan arsitektur Bali, maka kehadiran ketiga arsitek ini seolah menjadi katalisator serta pendorong arsitek selanjutnya untuk mengembangkan arsitektur Bali. Hampir saja ikut tertelan oleh konsumerisme arsitektur modern pada masa yang sedang tidak stabil di akhir 1960-an hingga awal 1970-an, Bali seolah terselamatkan dengan contoh-contoh bangunan skala besar yang dikembangkan oleh ketiga orang arsitek ini. Mereka menjawab ketidakpercayaan masyarakat umum saat itu yang meragukan kemampuan arsitektur Bali untuk memenuhi fungsi lain, selain peruntukannya sebagai naungan tempat tinggal dan bangunan suci pada masa sebelumnya. Masih banyak peluang serta strategi yang bisa dilanjutkan jika studi serta pengembangan terhadap arsitektur Bali dilakukan secara konsisten. Di lain pihak, ketiga arsitek memperoleh ladang pengembangan keilmuan yang selama ini luput dari perhatian mereka, memberi warna baru pada karya-karya mereka selanjutnya.

Bahan Bacaan 

Picard, M. (1996) Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture. Singapore: Archipelago Press

Robson, D. (2007). Beyond Bawa, a Modern Masterworks of Monsoon Asia, with photographs by Richard Powers. Thames and Hudson Ltd. London.

Vellinga, Marcel, Oliver, Paul and Bridge, Alexander, 2008, Atlas of Vernacular Architecture of the World, Routledge

Waterson, Roxana, 1997, Living House: An Anthropology of Architecture in South-East Asia, Singapore: Tuttle Publishing

Disclaimer: kecuali disebutkan berbeda, foto dan gambar diperoleh dari laman web Peter Muller Architect

Etika Sosial Tata Ruang Tradisional Bali

karang mata

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang pekarangan yang sudah diposting di blog ini. Di dalam tulisan sebelumnya telah dibahas bagaimana cara pemilihan, ukuran, serta tata cara menempatkan pintu masuk ke dalam pekarangan. Bahasan juga dilengkapi dengan pilihan baik dan buruk terhadap semua unsur berdasarkan tinjauan dua lontar, Dharmaning Hasta Kosala dan Hasta Bhumi. Dalam tulisan kali ini akan dibahas bagaimana kumpulan pekarangan, secara bersama-sama, membentuk sebuah blok beserta dengan unsur fisik lainnya, hubungan antar plot serta penataannya. Pembahasan dilakukan sesuai dengan unit analisis dalam urban morphologi yaitu, plot (posisi serta hirarkinya), jalan, bukaan ke pekarangan serta akhirnya terciptanya sebuah block.

Sebuah block merupakan kumpulan beberapa plots yang dibingkai oleh batas berupa jalan atau berupa batas alam: sungai, hutan, lembah, bukit. Plot-plot tidak diletakkan begitu saja di atas sebidang lahan yang kosong dan dibiarkan secara organic membentuk sebuah blok. Penataan dilakukan untuk menciptakan lingkungan permukiman yang nyaman secara etika serta fungsional secara logika. Tata cara pengaturan penyusunan plot menghasilkan sebuah pola permukiman yang sesuai dengan kebutuhan serta pandangan hidup masyarakatnya.

00gunung laut

 

Tulisan ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang muncul saat membahas permukiman tradisional di Bali. Pertanyaan tersebut antara lain: apa yang dijadikan sebagai landasan etika dalam penataan blok di Bali? Bagaimana landasan tersebut dipakai dalam penataan blok di Bali? Bagaimana perwujudan penataannya? Serta apa yang bisa dipetik dari pola yang berlangsung secara turun temurun tersebut?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, maka saya melakukan analisa terhadap isi tiga buah lontar yang sudah diterjemahlan. Lontar yang dipakai dalam pembahasan ini adalah Lontar Hasta Bhumi no 243 terjemahan K. Ginarsa, Lontar Hasta Kosali no L.04.T serta Hasta Kosali no L.05.T keduanya terjemahan N. Gelebet.

Secara umum, norma-norma yang termuat di dalam lontar tidak mengatur secara kaku, tetapi memberi ruang kebebasan berekspresi melalui pilihan-pilihan sifat yang dikehendaki. Misalnya, jika memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat, dapat memilih lahan dengan ukuran gajah, dengan posisi di hulu serta memilih perletakan pintu masuk yang sesuai. Tidak dijelaskan tentang sanksi fisik ataupun social atas pelanggaran, akan tetapi kesalahan atau pelanggaran terhadap norma diyakini akan membawa pengaruh buruk bagi penghuni rumah.

Tata nilai menjadi salah satu pertimbangan penting di dalam struktur ruang masyarakat tradisional. Kepercayaan bahwa roh leluhur ada di puncak-puncak gunung yang tinggi menciptakan sumbu geografis imaginer. Sumbu geografis ini memandang tempat yang memiliki posisi lebih tinggi memiliki nilai ritual di atas tempat yang lebih rendah. Tempat-tempat yang lebih tinggi ini disebut sebagai hulu. Sementara arah yang berlawanan dengan arah gunung memiliki tata nilai lebih rendah disebut teben.

Golongan social di masyarakat timbul akibat kemunculan kelas-kelas social yang dipicu oleh beberapa hal. Pemicunya antara lain kekuasaan, kekayaan, kehormatan atau bisa juga karena keahlian sekelompok masyarakat (Tara Wiguna, Soekanto, 1982). Di dalam masyarakat Bali tidak diketahui secara pasti kapan golongan atau kelas social muncul. Berdasarkan telaah Tara Wiguna ( 2009:50), golongan social diduga muncul pada masa pemerintahan raja Anak Wungsu.

Golongan social di Bali dapat dibedakan atas 4 kelompok besar didasarkan atas campuran antara kekayaan, kekuasaan serta keahlian sekelompok masyarakat. Golongan social dalam masyarakat Bali tersebut adalah: Golongan Brahmana, Ksatrya, Wesya dan Sudra.  Masing-masing golongan memiliki kemampuan serta tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda di masyarakat. Golongan Brahmana adalah mereka yang memiliki kemampuan olah pikir, olah bathin serta berkarya dengan kemampuan otak. Tugas golongan ini antara lain adalah melaksanakan penggalian ilmu-ilmu, menjadi pembina dalam pelaksanaan upacara serta mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk kebaikan masyarakat. Pada masa Bali Kuno golongan ini disebut Saivasogata atau sogata maheswara. Golongan Ksatrya adalah mereka yang memiliki bakat kepemimpinan, berjiwa patriot serta pemegang pemerintahan. Golongan wesya memiliki bakat serta tanggung jawab untuk menjamin kemakmuran. Golongan sudra adalah mereka yang dianugerahi kekuatan fisik, kesetiaan serta menjadi pelaksana utama setiap kegiatan yang diselenggrakan oleh ketiga golongan di atasnya (Tara Wiguna  2009).

Keberadaan golongan-golongan social ini di masyarakat juga berpengaruh terhadap penataan ruang fisik permukiman. Di dalam beberapa teks lontar diungkapkan mengenai tata cara penempatan rumah serta pekarangan milik keempat golongan ini.

Di dalam lontar Hasta Bhumi dengan nomer lontar terjemahan 243 misalnya, disebutkan bahwa rumah untuk golongan sudra tidak boleh berada di hulu dari rumah ketiga golongan lainnya. Hal yang sama juga termuat di dalam lontar Hasta Kosali L.04.T terjemahan N. Gelebet. Kedua lontar ini hanya membahas secara umum tentang tata cara perletakan lahan perumahan untuk masing-masing golongan. Tata cara perletakan yang lebih detail termuat di dalam lontar Hasta Kosali L.05.T yang, selain menjelaskan posisi karang perumahan antar golongan, menjelaskan juga posisi relative karang perumahan terhadap fasilitas lain: pura atau parhyangan, bale banjar serta jalan dan sungai.

Di dalam lontar L.05.T dijelaskan penataan letak perumahan dianjurkan, lokasi-lokasi yang mesti dihindari serta berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat pelanggaran. Sebagaimana dua lontar lainnya, disebutkan pula tentang hirarki penempatan dimana golongan sudra tidak boleh berada di hulu golongan lainnya.

Rumah-rumah orang dengan kasta utama tidak boleh di daerah teben dari rumah orang berkasta sudra. Jangan dilanggar peraturan ini, bila dilanggar hilang kebahagiaannya, sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.

Selain membagi golongan berdasarkan warna, di dalam terjemahan lontar ini juga menyebutkan tentang urut-urutan pengukuran halaman rumah di dalam suatu permukiman berdasarkan profesi.

Ukuran yang timbul paling dulu adalah ukuran halaman untuk perumahan-perumahan: rumah bupati, manca (camat), perbekel, brahmana, resi, petani dan orang-orang umum, juga pedagang terasi, pekerja kapur, pekerja tani, itu semua mempunyai ukuran masing-masing.

Jika dicermati, maka pembagian tidak hanya didasarkan atas warna atau golongan social sebagaimana dibahas di atas tetapi juga mencerminkan tentang profesi-profesi yang tengah ditekuni di masyarakat.

Masyarakat Bali menempatkan para wiku dan pendeta, sebagai orang yang disucikan, pada posisi yang istimewa. Umumnya rumah untuk golongan ini, yang sering disebut Grya, berada di hulu sementara rumah untuk golongan lainnya berada lebih di teben.

Rumah pendeta, Brahmana, wiku tidak boleh di luani oleh orang-orang tidak berkasta. Akibatnya rasa kepanasan seperti terbakar api, dalam rumah sakit-sakitan, cepat meninggal.

Pekarangan yang penataannya berselang seling antara rumah golongan A dan golongan B juga disebutkan sebaiknya dihindari. Keadaan ini disebut sebagai pekarangan anjing belang (kuluk poleng). Kondisi ini untuk menggambarkan rumah yang secara berderet terdiri atas rumah Brahmana-rumah sudra – rumah Brahmana – rumah sudra dan seterusnya.

00pusat desa

 

Pekarangan rumah, selain tidak dianjurkan berada di hulu golongan social yang lebih tinggi, secara umum juga sebaiknya tidak dibangun di hulu fasilitas umum. Yang digolongkan sebagai fasilitas umum antara lain pura atau parhyangan lainnya, bale banjar atau fasilitas umum lainnya. Pelangaran terhadap ketentuan ini mengakibatkan lokasi yang ditempati menjadi lahan panas. Akan tetapi rumah boleh berada di hulu fasilitas umum dengan catatan dibatasi oleh jalan atau gang, sehingga tidak berbatasan langsung. Namun harus hati hati menempatkan rumah terhadap jalan, karena di salah satu bagian disebutkan bahwa rumah di hulu jalan yang angker juga berbahaya. Salah satu jalan yang termasuk kategori jalan yang angker adalah jalan menuju ke kuburan. Selain dilarang berada di jalan yang angker, masih ada lagi panduan lain yang berkaitan dengan jalan.

Beberapa posisi yang dianjurkan untuk tidak dipakai sebagai pekarangan perumahan terkait dengan jalan antara lain adalah: pekarangan yang berada di ujung jalan atau ditombak jalan, pekarangan yang diapit dua jalan besar, pekarangan yang tiga sisinya menghadap jalan serta yang dilingkupi oleh jalan. Semua jenis pekarangan ini berbahaya. Hal yang sama juga  berlaku untuk sungai sehingga pekarangan yang berada di ujung sungai, diapit sungai atau dilingkupi sungai harus dihindari.

Jika diperhatikan dari ulasan terhadap beberapa teks di dalam lontar, maka bisa dilihat adanya landasan moral dalam pembangunan atau penataan pekarangan rumah bagi masyarakat Bali. Masyarakat menjunjung tinggi orang yang memiliki kedudukan di atasnya dan lebih daripada itu, dengan menempatkan bangunan umum serta tempat suci di hulu, masyarakat juga menghargai kepentingan umum. Sikap ini berpengaruh pada lay-out permukiman serta desa-desa di Bali. Namun yang perlu dicatat adalah di dalam pelaksanaan atau kenyataannya di lapangan tidaklah sesederhana yang tertulis di dalam lontar. Terdapat beberapa penyesuaian serta variasi. Penyesuaian yang dilakukan tentu saja tidak bertentangan dengan apa yang termuat di dalam lontar.

Di masa kekinian, etika penataan ruang perlu re-aktualisasi menyesuaikan dengan keadaan yang berlaku di masyarakat. Keadaan serta struktur sosial masyarakat sudah berubah, namun ada kerangka atau benang merah yang bisa ditelusuri. Cukup krusial untuk dijadikan perhatian adalah penempatan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. Ruang-ruang untuk kepentingan bersama dan yang membawa manfaat bagi kepentingan orang banyak diberikan prioritas dalam rencana pembangunan sehingga ruang-ruang yang memberi manfaat paling besarlah yang dikedepankan.

Dapat disimak pula bahwa pengharagaan terhadap lingkungan dengan menempatkan tempat suci di tempat yang paling tinggi untuk melindungi kelestarian hutan. Hutan dan gunung adalah penjaga air tanah dengan cara menyerap sebagian besar air hujan yang turun serta menimpannya di dalam tanah. Arah gunung yang memiliki hutan dilestarikan serta dibuat menjadi areal yang sakral. dalam kekinian, perlindungan terhadap sumber daya alam bisa di re aktualisasikan dalam bentuk yang sesuai.

Keamanan dan kenyamanan akan meningkatkan hidup manusia. Tidak menempati lahan yang mengancam keamanan serta kenyamanan, sebagaimana diungkap dalam pembahasan di atas, penting untuk dipertimbangkan. Menghindari banjir, menghindari kecelakaan adalah hal yang perlu dipertimbangkan sebagaimana dahulu tidak dianjurkan membangun di daerah yang berbahaya sehubungan dengan keberadaan sungai dan jalan.

Denpasar: Sub-urbanization atau a city of dispersal?

Pilihan kata yang saya pakai sengaja agak provokatif, bukan untuk gaya-gayaan, tetapi untuk meningatkan tentang pola perkembangan kota yang ‘menelan’ wilayah suburb-nya sendiri. Istilah suburbanization banyak dipakai di kota-kota di amerika sementara dispersed city semakin lumrah dipakai untuk menggambarkan kota-kota di Asia yang megalami pertumbuhan penduduk yang pesat namun tidak diimbangi dengan peraturan tata ruang, pembangunan infrastruktur, serta tata kelola lahan yang efektif. Pertumbuhan fisik kota dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dan investor selaku katalisatornya. Pertumbuhan fisik suatu kota memiliki pola-pola tertentu, dimana pertumbuhannya berpengaruh pada transformasi bentuk dan skala luas perubahan yang terjadi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 Dokar dan bemo, transportasi publik semakin ditinggalkan karena kota berkembang tanpa pola yang jelas meningkatkan ketergantungan pada trasnportasi pribadi.

Semua peta tahun 1960 sampai tahun 2010 diperoleh dari Kantor Bappeda Kota Denpasar. Sementara peta Denpasar 1908 diperoleh dari buku pemetaan Gegevens oleh pemerintah kolonial Belanda. Untuk mengetahui perubahan bentuk, skala luasan dan arah pertumbuhan Kota Denpasar, secara horizontal, saya mencoba menggambar ulang peta-peta tersebut, menyamakan skalanya, lalu menumpuk (overlay) antara peta yang satu dengan peta yang lain. Dari proses ini, diperoleh arah, bentuk, skala serta pola pertumbuhan kota Denpasar dalam rentang waktu tertentu. Jika bisa dilengkapi dengan kajian social ekonomi serta budaya, maka hasil overlay peta ini bisa dijadikan sebagai bagian dari proses analisis untuk memahami perkembangan kota Denpasar dari sudut pandang urban morphology. Dari kumpulan kota-desa tradisional agraris menjelma metropolis adalah gambaran yang saya peroleh tentang pertumbuhan Denpasar.

Setidaknya hingga tahun 1960-an, Denpasar masih berkarakter sangat rural. Kecuali di wilayah sekitar Puri Pemecutan-Puri Denpasar-Puri Kesiman, permukiman penduduk dalam bentuk desa desa tradisional dikelilingi sawah yang luas masih mendominasi lansekap wilayah. Di kawasan Sanur, di kanan dalam peta, terlihat Desa Sanur dan Intaran menyambung sedangkan permukiman nelayan Sindu tampak masih berupa kawasan kecil dikelilingi tegalan. Dilihat dari luasan wilayah berwarna hitam, Pasar Badung dan kawasan sekitar tiga puri utama nampaknya masih menjadi magnet paling kuat serta lokasi dimana permukiman penduduk terkonsentrasi.

Dalam gambar kedua, terlihat beberapa wilayah mengalami pertumbuhan namun sepertinya tidak ada pusat permukiman baru. Tiga kawasan di Sanur menyambung, namun ukuran desanya tidak membesar. Di pusat kota bagian selatan, nampak ukuran permukiman membesar dan kemungkinan juga memadat. Sementara itu persawahan masih mendominasi lansekap di bagian utara dan barat kota Denpasar. Pada kedua kawasan ini, permukiman relatif stabil dari sisi ukuran luas dan proporsinya terhadap luas sawah. Kondisi pada gambar kedua menunjukkan bahwa ada kemungkinan terjadi urbanisasi skala kecil di pusat kota, terutama di jalan besar dimana toko toko mulai bermunculan di sepanjang tepiannya. Kemunculan toko-toko ini berimplikasi pada bergesernya bentuk atau komposisi bangunan pada permukiman yang terletak di pinggir jalan utama.

Microsoft PowerPoint - italks.pptx

Pertumbuhan signifikan terjadi setelah tahun tujuh puluhan hingga awal tahun delapan puluhan. Pemicu utama perubahan ini, jika dilihat dari peta, adalah tumbuhnya kawasan Sanur menjadi daerah wisata. Pembangunan Bali Beach hotel memancing beberapa investor lokal untuk turut mengembangkan fasilitas wisata. Pada kedua peta tahun 1970an dan 1980an, terlihat bagian kanan bawah bertumbuh cukup pesat. Yang cukup menarik adalah dikembangkannya pusat pemerintahan provinsi Bali di Renon. Pengembangan ini menjadi pusat pertumbuhan baru di kawasan tengah, Renon, yang awalnya berupa lahan pertanian yang cukup luas. Kawasan pusat kota terus berkembang dan membesar serta mulai menelan permukiman-permukiman kecil di sekitarnya. Permukiman tersebut, yang awalnya independen dengan sistem ekonominya sendiri, kini bergabung dalam sebuah sistem perekonomian yang lebih besar. Pasar Badung, dari pusat ekonomi lokal, berkembang menjadi pelayan bagi seluruh kawasan pusat kota. Perubahan signifikan juga nampak di sekitar tukad Badung. Jika sebelumnya, pada peta 70-an, bagian hilir tampak masih lengang, maka pada peta selanjutnya, nampak tukad badung mulai diserbu oleh permukiman. Pertumbuhan perumahan besar juga terjadi di tepi barat pusat kota, tepatnya di kawasan Monang-Maning. Lahan pertanian yang cukup luas dikonversi menjadi permukiman baru sebagai antisipasi pertambahan penduduk yang kian membesar.

Setelah tahun 1990an, Sanur benar benar telah menjadi kawasan pertumbuhan signifikan. Pada peta tahun 1993 terlihat cukup jelas perkembangan kawasan ini sebagai magnet baru. Dibangunnya jalan By Pass dari bandara hingga ke Tohpati sepertinya turut memberi kontribusi yang signifikan bagi perkembangan kawasan ini. Hotel-hotel besar dan berbintang yang dibangun menarik puluhan pekerja bidang pariwisata memadati Sanur. Selain Sanur, Sesetan juga berkembang pesat. Dari sebuah desa berbentuk linear, di tahun 1990-an menjadi lebih ‘bulky’ bergerak ke arah timur mendekati kawasan persawahan di sekitar Renon dan ke arah utara ,mendekati Sanglah. Dari semua pertumbuhan, patut dicatat adalah berkembangnya kawasan Monang Maning. Selain menjadi kawasan permukiman bagi masyarakat yang bekerja di Kota Denpasar, nampaknya pertumbuhan pariwisata Kuta turut memberi kontribusi. Bagian barat Denpasar, di sebelah kanan pada peta, nampaknya akan benar-benar kehilangan persawahannya jika tidak dilakukan intervensi kebijakan.

***

Wilayah-wilayah terbangun kita selalu dalam keadaan berproses: setiap saat mereorganisir dirinya , mendristibusikan penduduk dan kepadatan dan juga bangunan sejalan pergerakan aktivitas. Kota-kota membesar, tumbuh dan semakin melebar. Pada saat yang bersamaan pusat-pusat kota lama kehilangan daya tarik, ditinggalkan menciptakan ruang-ruang dan warisan kejayaan masa lalu. Fenomena semacam ini terjadi nyaris di seluruh dunia terutama di wilayah-wialayah yang mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi dan tidak diimbangi dengan pemerataan antar wilayah. Mulai dikenal di Amerika dengan sebutan sprawl dalam konteks Eropa seringpula disebut diffused city atau citta diffusa di Italy.

3028661-poster-p-suburb-azUrban sprawl a.ka. suburbanization di kota-kota di Amerika

Fungsi-fungsi perkotaan tidak lagi terpusat pada satu titik tetapi menyebar di beberapa lokasi dengan pola yang acak. Fungsi-fungsi yang acak ini menjadi daya tarik baru sehingga turut berkembang mencipta sentra sentra baru. City of dispersal adalah istilah yang dipakai oleh Rafi Segal, Els Verbakel (January 2008) sebagai payung untuk membahas fenomena secmacam ini. Ciri utama dari fenomena ini adalah: hunian dengan tingkat kepadatan rendah, penduduk yang heterogen, bentuknya sangat berbeda secara radical dengan ide-ide kota tradisional dalam hal penataan ruang, serta pola-pola pertumbuhannya yang sulit diprediksi.

32405094_04-1

Konsep utopian broadcre city oleh Frank Lloyd Wright

Jauh sebelum fenomena ini terjadi, di Amerika Frank Lloyd Wright tahun 1920an telah meramalkan masa depan kota-kota di Amerika yang mulai dibanjiri oleh urbane. Sebagai antithesis terhadap banyaknya sbangunan tinggi yang dibangun saat itu, Frank Lloyd Wright mencetuskan ide tentang kota yang menyebar dalam satu kawasan relative luas dengan kepadatan rendah. Transportasi menjadi elemen penting dalam rancangan kota yang disebut sebagai Broadacre city. Pandangan ini menjadi kenyataan setelah booming ekonomi serta tuntutan penyediaan rumah dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kini wilyah wilayah suburban dibanjiri oleh typology perumahan yang dibangun secara massal yang lalu melahirkan istilah suburbanisation. Kondisi dimana masyarakat lebih memilih untuk tinggal di wilayah pinggir kota dan mengandalkan mobil atau transportasi umum untuk bekerja di wilayah pusat-pusat kota.

Permasalahan umum yang akan menjadi bom waktu, jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik, adalah infrastruktur, banjir, ruang terbuka serta yang terpenting transportasi. Jalan-jalan harus terus dibangun untuk memenuhi kebutuhan perumahan di pinggir kota, demikian pula pipa-pipa saluran air bersih, air kotor serta air hujan. Berkurangnya daerah resapan karena sebagian besar permukaan tertutup bangunan meningkatkan potensi terjadinya banjir, apalagi jika tidak diantisipasi dengan penyediaan saluran air hujan yang baik. Ruang-ruang terbuka semakin minim serta jalur transportasi semakin rumit. Jalan-jalan baru terus dibangun dan bertambah panjang bukan untuk mengatasi kemacetan tetapi untuk menyediakan akses bagi rumah-rumah yang bertumbuhan di pinggiran kota.

Fenomena yang, mungkin masih akan terus berjalan jika tidak dilakukan intervensi kebijakan.

 

Kota sebagai HUB Berbagai Kepentingan, Dimana Peran Arsitek?

Tulisan ini dipicu dari gambar yang muncul di laman facebook IMMdesignlab. Pada laman tersebut termuat sebuah image tentang peran kota sebagai hub namun tanpa penjelasan lebih lanjut. Ditambah informasi lain dan mengaitkannya dengan peran arsitek, saya coba mereka-reka makna dari gambar tersebut.

“Architecture used to be about the creation of community, and making the best effort at symbolizing that community. Since the triumph of the market economy in the late 1970s, architecture no longer expresses public values but instead the values of the private sector.” Rem Kolhaas

hub

 

Kota sebagai HUB, digambar ulang dengan penyesuaian dari IMMdesignlab

Apa yang terjadi hari ini, sebagaimana ungkapan Kolhaas di atas nampaknya masih akan membayangi masa depan kota-kota kita. Kota-kota di negara Asia saat ini mengalami shock luar biasa akibat booming ekonomi pasar. Arus besar modal di bidang property menyasar wilayah-wilayah yang, hingga setidaknya tahun 1970-an, belum dilirik sebagai lokasi property menjanjikan. Bergeraknya modal besar ini ibarat kue yang siap digarap oleh arsitek arsitek yang tergolong sebagai star architects untuk mematenkan karyanya di lokasi lokasi baru tersebut.

Karya-karya arsitektur termutakhir saat ini tersebar luas di China, Dubai, Korea, Singapore, sebagian Eropa Timur dan Jakarta. Dalam waktu tidak terlalu lama lagi karya-karya tersebut bukan tidak mungkin akan mampir hingga ke Bali.

desktop-wallpapers-appealing-dubai-buildings-wallpaper-wallpaper

Dubai, ‘arena pertarungan’ ide antar investor dan arsitek

Saat arus besar modal memasuki sebuah wilayah beserta dengan kehadiran arsitek yang menyertainya, maka masyarakat dan kota harus bersiap menyesuaikan diri. Hal ini akan berjalan bukan tanpa konflik mengingat kota-kota di kawasan Asia umumnya tumbuh dan berkembang dari kota tradisional. Salah satu ciri kota tradisional adalah sifat komunal dan sejarah terbentuknya yang sejalan dengan sejarah terbentuknya sebuah masyarakat.

Kota-kota tradisional dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat penghuninya dan ide-ide biasanya muncul secara komunal. Jika ada ide yang muncul secara individu, maka ide tersebut akan menjalani serangkaian test dan diskusi dalam forum yang lebih luas sebelum dapat diterima sebagai sebuah nilai baru di masyarakat. Akan tetapi, kini cara kerja tradisional tersebut telah mendapat saingan serius. Ancaman ini muncul karena, di dalam ekonomi pasar, ide muncul dari perusahaan atau investor. Setiap perusahaan bersaing untuk memunculkan ide-ide baru dan membutuhkan arena untuk menguji ide tersebut.

baku-1600

Foto Kota Baku, ibu kota Azerbaijan, menjadi contoh menarik antara ide yang berkembang secara komunal pada permukiman lama di bagian depan serta ide ‘luar’ yang berkembang belakangan di latar belakang.

Wilayah-wilayah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi di kawasan Asia menjadi arena untuk pertarungan ide baik dari pengusaha ataupun investor dan juga arsitek! Arsitek menjadi profesi yang sangat signifikan dalam penyaluran ide-ide investasi dan mewujudkannya menjadi wujud bangunan atau fasilitas yang mewarnai lansekap kota. Ide-ide ini berhadapan langsung dengan tata kerja ide-ide tradisional. Pertemuan antar ide ini memerlukan semacam hub yang akan menjembatani agar keduanya dapat bersatu dalam sinkronisasi yang harmonis. Jika ide-ide ini tidak disinkronisasi maka potensi konflik yang muncul akan menjadikan kota-kota sebagai arena pertarungan yang sengit tanpa ujung. Debat tidak berkesudahan apakah investasinya yang harus ditolak ataukah ide ide tradisional yang harus ditinggalkan.

pasila-tulevaisuudessa-slider

Proyek pusat komunitas baru di Pasila Tripla Helsinki karya Rem Kolhaas menggabungkan terminal kereta, pertokoan dan apartment banyak dikomentari sebagai tidak menghargai konteks

Kota-kota masa depan, sebagai ‘arena pertarungan’, wajib memiliki kemampuan sebagai hub, penghubung yang menyambungkan sekaligus men synchronize ribuan input dari banyak saluran: harapan masyarakat, keinginan investor, ide arsitek dan perencana kota, serta identitas yang ingin dibangun oleh kota itu sendiri. Kota- kota yang sukses, Rotterdam, Liverpool, Copenhagen, Melbourne, umumnya juga merupakan hub yang baik dari banyak ide dan keinginan yang akhirnya mewujud menjadi bentukan fisik kota tanpa harus membuang banyak energy dalam perdebatan yang menguras energy. Kota-kota tersebut mampu merepresentasikan kemajemukan masyarakat, kemajemukan wujud serta kemajemukan cerita dan sejarah yang melatarbelakangi wujud-wujud yang kasat mata.

Sebagai daerah yang terbentuk serta sengaja dibentuk oleh image pariwisata, Bali mau tidak mau akan menjadi sasaran dan arena terbuka dalam perang investasi modal dan ide. Puluhan, atau mungkin sudah lebih dari ribuan investor datang dengan berbagai macam ide yang siap dan bahkan sudah diwujudkan dan memberi kontribusi pada lansekap kota. Pengelola kota-kota di Bali tidak lagi bisa bekerja seperti dahulu. Kini saat ide datang dari segala penjuru, kota dituntut untuk melaju lebih kencang, melihat ke banyak sisi serta bersiap dengan strategi baru.

Desain Reklamasi Teluk Benoa Sudah Dibuat Tahun 2007_198892

Impresi artist menggambarkan ide investor untuk mengembangkan Telok Benoa

Di saat dunia berkembang cepat, sangat cepat, kota-kota memerlukan pemimpin yang kuat secara manajerial serta mampu melihat ke depan. Dalam hal wujud fisik kota, arsitek dan perancang kota semestinya menjadi tulang punggung pemerintah kota guna menjadikan kota sebagai hub. Tidak hanya  bekerja mewujudkan ide-ide investasi mewakili investor, tetapi arsitek masa depan wajib memiliki pandangan tentang wujud kota secara keseluruhan, memahami keadaan sosial budaya masyarakat setempat, tidak hanya berfokus pada proyeknya sendiri atau berfokus menjadi pelayan investasi. Sokongan arsitek dan perancang kota dalam mewujudkan kota sebagai ‘HUB’ akan memberi warna lain  bagi perkembangan kota-kota kita di masa depan. Dengan turut berperan aktif serta membuka kacamata lebih lebar, arsitek akan menjadi penyokong utama dalam menjadikan kota sebagai HUB.

Semoga akhirnya apa yang dikhawatirkan Rem Kolhaas sebagaimana saya kutip di awal tulisan ini, bahwa arsitek dan arsitektur hanya mewakili value private sector dan mengingkari value masyarakat, tidak jadi kenyataan.

 

Kota Bali Masa Depan

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Waktu terus berjalan menuju ke masa depan, demikian pula hidup dan juga kota! Kota-kota tidak diam di suatu waktu tetapi terus bergerak. Selain sekumpulan artefak fisik, kota adalah kumpulan ide-ide manusia baik yang diam atapun hanya sekedar berkunjung. Ide-ide berkembang menjadi bentuk fisik dan sebaliknya bentuk fisik juga mempengaruhi terbentuknya ide. Bentuk fisik dan ide-ide berpilin dan berkelindan membentuk karakter dan imaji yang menjadi identitas kota tersebut. Karena terus berkembang, maka bentuk dan ide tentang kota tidak stagnan, terus berubah menyesuaikan diri di dalam ruang dan waktu.

Di tahun 2014, kita menyaksikan banyak peristiwa di kota-kota di Bali baik dalam bentuk ide maupun dalam wujud fisik. Ide untuk membangun kawasan super mewah dengan cara mengurug laut, wujud fisik pemecahan kemacetan dalam bentuk jalan layang dan tol di atas laut menjaring banyak opini, disamping kian melebarnya bentuk fisik kota yang didomplengi oleh maraknya spekulasi lahan.

Apa yang akan terjadi dengan kota-kota di Bali di tahun ini? Tahun 2015? Saya coba mengulas beberapa sisi menurut sudut pandang  pribadi. Tulisan ini akan dimulai dengan sejarah singkat permukiman di Bali sebelum meloncat ke konteks kekinian serta akan ditutup dengan hipotesa tentang masa yang akan datang.

Kota Bali masa lalu

Di dalam bukunya tentang hak tanah di Bali, Tara Wiguna (2009) menulis pada jaman dahulu terdapat dua jenis permukiman di Bali yaitu karang desa serta karang kedatuan. Dari namanya patut diduga bahwa karang kedatuan merupakan pusat pemerintahan raja sedangkan karang desa adalah pusat permukiman penduduk yang berada di luar pusat pemerintahan.

ubud new west gate 1920

Secara fisik, pada karang kedatuan terdapat puri selaku pusatnya. Sebagai pusat kekuasaan, puri menjadi pusat pemerintahan, pusat pengembangan budaya, hingga pusat kegiatan spiritual. Dibandingkan dengan karang desa, karakter karang kedatuan bersifat lebih urban, memiliki pasar yang lebih besar lapangan tempat berbagai aktivitas, jalan-jalan yang lebih ramai, rumah-rumah berukuran lebih rapat di dalam kapling yang lebih kecil.

Karang desa di lain pihak, memiliki karakter yang lebih rural. Kehidupan pertanian, suasana yang guyub serta pasar yang lebih kecil. Balai desa atau balai Banjar menjadi pusat aktivitas di desa selain lahan-lahan pertanian. Rumah-rumah, meskipun lebih sederhana, namun memiliki pekarangan yang relative lebih lebar jika dibandingkan dengan karang di wilayah kedatuan.  Beberapa peneliti menyebutkan wilayah territorial desa dalam beberapa istilah lain: banua/wanua, thani, serta yang menjadi lebih popular belakangan pakraman. Ihwal istilah pakraman juga terdapat beberapa pendapat. Semadi Astra (1982: 264-265) menyebut istilah ini berasal dari kata karaman yang artinya sekumpulan manusia. Tara Wiguna (2009: 49) menyebut ‘krama’ sebagai pemuka-pemuka desa. Di lain pihak, Lansing (1983) berdasar hasil wawancara menyebutkan bahwa ‘kerama’ berasal dari kata ‘rama’ yang berarti orang yang dituakan. Pakeraman, Lansing melanjutkan, merupkan sebuah istilah untuk menyebut sekolompok masyarakat yang berada di bawah pimpinan satu orang yang dituakan.

atlas kebudayaan-20

Wilayah-wilayah seperti Pemecutan, Satria, Kesiman dan sekitarnya di kota Denpasar dapat disebut sebagai karang kedatuan. Termasuk juga di dalam karang kedatuan Penatih Puri, Peguyangan serta Tegeh Kuri.

Sementara kawasan lain Renon, Sanur, Peninjoan, dst adalah karang desa seperti juga halnya Geladag, Monang-Maning, Panjer.

Sekalipun sedikit berbeda, baik karang desa maupun karang kedatuan dibangun dengan prinsip yang serupa. Hulu-teben, arah terbit dan terbenamnya matahari serta tata nilai pembagian tiga yang lazim dipakai hingga kini: nistamadyautama, sebagai semacam guiding principles dalam perwujudan fisik, baik dalam skala besar: desa, maupun skala kecil: rumah dan bangunan tunggal. Ide yang mendasari adalah kesadaran manusia sebagai bagian dari dan keinginan untuk menyatu dengan semesta. Pandangan ini mewujud ke dalam bentuk permukiman tradisional yang secara fisik menyatu dengan tempat dan secara ide sejalan dengan cita-cita penduduknya.

Perkembangan kota kota di Bali

Kota bukanlah artefak yang mati diam di suatu waktu tanpa perubahan. Ibarat makhluk hidup, kota bekembang dari bentuknya yang paling awal. Satu hal yang perlu diingat, kota tidak berkembang secara mandiri namun ada keterlibatan manusia selaku aktor. Para aktor termasuk penduduk, pemerintah kota, hingga para pelancong berkontribusi pada perkembangan sebuah kota. Perkembangan sebuah kota bisa dipicu dari dalam atau dari luar. Perkembangan kota dari dalam diakibatkan oleh berkembanganya kebutuhan, pengetahuan, ketrampilan serta jumlah penduduknya. Perkembangan ini diwujudkan dengan cara melakukan pembangunan terhadap kota. Perkembangan yang didorong dari luar diakibatkan oleh diadopsinya budaya baru, teknologi serta pengetahuan baru yang di-internalize, dianggap sebagai bagian baru dari budaya kota,  oleh penduduk atau masyarakat yang mendiamai kota kota tersebut. Perkembangan yang diakibatkan oleh faktor-faktor internal umumnya berjalan lebih lambat dibandingkan perkembangan yang diakibatkan oleh faktor eksternal.

10606198_1567274530167083_5122539205321518440_n

Hingga awal abad keduapuluh, kota-kota di Bali berkembang relatif lambat (ada juga yang menyebut stabil). Hal ini karena perkembangan kota tidak terpengaruh oleh faktor yang berada di luar kota itu sendiri. Perkembangan hanya diakibatkan oleh dinamika jumlah penduduk serta perkembangan pengetahuan dan teknologi setempat yang berlangsung stabil tanpa intervensi dari luar.

Kedatangan Belanda yang mengambil alih kekuasaan menjadi lompatan awal perkembangan kota yang dipicu oleh factor eksternal. Mulai dikenal mobil, serta bangunan dengan fungsi  baru: kantor, hotel, sekolah, dimana bangunan-bangunan ini tidak dikenal pada masa sebelum kedatangan Belanda. Pemerintah kolonial juga mengenalkan banyak hal dan ide-ide baru.

System pemerintahan kerajaan yang berjalan puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya dengan puri sebagai pusat kekuasaan, digantikan dengan system pemerintahan yang lebih modern. Kantor, bukan lagi puri, menjadi pusat aktivitas baru berjalannya pemerintahan. Sekolah-sekolah diperkenalkan untuk menghasilkan tenaga-tenaga terdidik yang akan bekerja di kantor-kantor pemerintahan yang dibawa oleh pemerintah baru.

Banyak gedung baru dibangun dengan cara yang baru, berbeda dengan cara sebelumnya. Bahan dan material  baru diperkenalkan demikian pula fungsi dan bentuk bangunan baru.

Dikenalkannya Bali sebagai destinasi wisata memberi wawasan baru bagi mata pencaharian yang selama ini didominasi oleh pertanian. Kantor-kantor serta sekolah memberi mata pencaharian baru yang tidak lagi melulu hasil sawah dan ladang. Sementara pertanian tidak berkembang dengan pesat, bahkan cenderung stagnan jika tidak mengalami kemunduran, justru mata pencaharian non-pertanian yang selanjutnya memberi kontribusi terhadap perkembangan kota-kota secara ekonomi. Perkembangan kota menjadi jauh lebih pesat dengan dikenalkannya beberapa hal baru dan bersumber tidak dari dalam kota tersebut.

Pariwisata dan Kota

Pariwisata kini telah menjadi primadona mata pencaharian. Sejak awal diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1920-30an, kini bisnis pariwisata telah menggurita dan sangat potensial akan menggantikan mata pencaharian utama, pertanian, di masa yang akan datang.

Ibarat istilah, ada gula ada semut, sektor pariwisata tidak saja mengundang wisatawan serta menyediakan lapangan kerja baru, tetapi juga mengundang investor. Puluhan usaha jasa bidang pariwisata tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan ini mendesak ruang-ruang pertanian, menyedot tenaga kerja sector lain ke arah sektor pariwisata menjadikannya sebagai tumpuan harapan baru.

Bisnis bidang pariwisata dan hospitality nampaknya masih akan mendominasi sektor industry jasa beberapa tahun ke depan. Dengan masih kokohnya sektor ini sebagai penyedot sumber daya alam dan manusia, dapat dipastikan kehadirannya akan mewarnai sebagian besar lansekap perkotaan. Bangunan-bangunan skala besar yang dibangun, didominasi oleh fasilitas untuk wisatawan. Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bisnis ini. Bahkan, mungkin, sumber daya alam akan diekspolitasi untuk memenuhi tuntutan sektor ini.

Lalau seperti apa kira-kira sector ini akan mempengaruhi desain dan perwujudan kota Bali masa depan?

Saya coba merumuskan beberapa hal yang sudah, sedang dan mungkin masih akan menjadi trend beberapa tahun ke depan, sebagai berikut:

1. Property sebagai safe deposit box

Dalam beberapa tahun belakangan, entah kapan dimulainya, property menjadi ladang baru untuk menanam modal di seluruh dunia. Kota-kota seperti di Dubai, Singapore, Beijing, menjadi sasaran investasi raksasa. Belakangan London ikut-ikutan diserbu oleh derasnya investasi bidang property. The Guardian bahkan melaporkan bahwa penduduk asli London terusir dari tempat kelahirannya akibat dibangunnya berbagai bangunan baru dengan pemilik dari Arab, Russia, China bahkan Malaysia. Property ini menjadi cara untuk menyimpan kekayaan baru, bukan lagi deposito, karena keuntungan yang diperoleh jauh berlipat di atas bunga bank. Dipilihnya London juga karena aturan yang mengijinkan kepemilikan property oleh orang asing serta ketersediaan infrastruktur dalam bentuk bandara yang menjadi penghubung ke seluruh dunia.

Bali, di lain pihak, mendapat julukan yang beragam dan umumnya berkonotasi positif. Konotasi positif ini didominasi oleh dunia kepariwisataan. Julukan yang beragam ini, serupa dengan di London, menarik investor untuk menanamkan modalnya dalam bentuk investasi. Investasi property di Bali kini sudah menjadi arena permainan perusahaan nasional dan global. Dan pemiliknya bisa jadi bukanlah orang Bali, tetapi orang dengan uang berlebih dan bingung membelanjakannya. Jadilah lahan-lahan terbangun namun hanya dihuni oleh beberapa gelintir orang bahkan kadang hanya dipakai sebagai rumah liburan.

2. Pembajakan fungsi ruang publik

Saat kuliah di arsitektur seringkali kita bersinggungan dengan istilah ruang public dan ruang privat namun tanpa menyelami maknanya. Dalam perkembangan ruang-ruang perkotaan di Bali, tanpa sadar, ruang-ruang public menjadi bisnis yang menggiurkan dan menjadikannya sebagai ruang privat. Fasilitas yang sebenarnya disebut public: taman taman bertema (theme park), ruang bermain dengan dfasilitas seluncuran air, kedai-kedai kopi franchise menjadi ‘ruang public’ yang keren. Ruang ruang terbuka yang merupakan ruang public sesungguhnya kehilangan daya tarik, kehilangan penggemar akhirnya dikonversi menjadi lahan bisnis.

3. Spekulasi lahan oleh spekulan

Harga semakin melambung namun permintaan tidak pernah sepi membuat spekulasi lahan masih akan berlangsung. Spekulasi terutama masih akan sangat kencang terjadi di wilayah-wilayah pinggiran. Para petani yang mulai menua pada akhirnya akan menyerah pada keadaan: ketidakmampuan bekerja karena umur, ketidakmampuan mengendalikan harga hasil pertanian, ketidakmampuan menjangkau harga pupuk dsb. Kondisi ini akan dengan baik dimanfaatkan oleh spekulan lahan.

Kondisi ini diperburuk oleh lemahnya sektor perijinan yang mengijinkan siapa saja untuk menjadi pengembang, bahkan tanpa menyediakan fasum dan fasos bagi property yang dikembangkannya. Asalkan punya cukup modal, seseorang bisa dengan mudah membuka lahan, membangun jalan dan infrastruktur tanpa memiliki keterkaitan dengan infratsruktur eksisting, lalu membangun perumahan.

4. Trend baru di Bali Utara

Satu trend yang saya perkirakan juga akan menjadi primadona adalah berkembangnya wilayah Bali utara. Bali selatan sudah terlampau sesak dan harga lahan sudah melambung, maka tidak ad acara lain, Bali utara segera akan menjadi sasaran. Ditambah wacana akan dibangunnya lapangan terbang, lengkaplah daya Tarik Bali utara sebagai ajang pertarungan baru.

5. Investor mengambil alih kendali, bukan perencana atau pemerintah

Apa yang mengemuka dari semua hal yang saya kemukakan di atas adalah tidak terimplementasikannya rencana kota secara efektif. Rencana tinggal rencana dan lalu bisa direvisi jika ada desakan atau dorongan investor. Ya, investor menjadi kekuatan baru yang akan menjadi penentu bentuk kota, bukan perencana kota. Hasil kajian perencana tidak berarti apa-apa saat pertimbangan untung rugi finansial masuk ranah politik.

6. Kota berkembang secara organic

Kota-kota akan berkembang secara organis, tidak lagi berdasarkan guiding principles sebagaimana yang diyakini para leluhur atau hasil kajian para perencana. Kota akan berkembang menurut keinginan pasar dan dalam hal ini, investor akan menjadi aktor penting, pemain utama dalam realisasi wujud kota di masa yang akan datang. Saat investor memegang kendali, maka masyarakat akan menjadi penonton atau hanya menjadi pangsa pasar yang akan meramaikan ruang ruang publik komersial, theme park, kedai kopi luar negeri, mall-mall. Di lain pihak layanan publik, transportasi publik yang nyaman, air bersih, ruang terbuka dengan udara segar, dan hal lain yang sekiranya tidak menguntungkan secara finansial akan terpinggirkan.

disclaimer: beberapa foto lama di dalam postingan ini saya peroleh dari laman Facebook Bali Old Photos

Megalung di Gumin Anak: Merayakan Galungan di Negeri Orang

10888556_10203432932650313_4680107934848272223_n

Saya coba melawan keinginan untuk kembali menarik selimut di dinginnya udara pagi itu demi mengejar bis untuk berangkat ke London. Pagi menjelang siang itu, sinar matahari tidak begitu jelas akibat kabut tipis memenuhi udara membuat jarak pandang terbatas. Rasa kantuk masih terasa di mata saat menunggu kendaraan besar bertingkat dari Oxford ke London, sementara suhu yang kurang bersahabat ditambah angin semilir memaksa tangan untuk keluar dari saku guna memperbaiki posisi syal di leher menjadi lebih rapat.

***
Hari ini sebetulnya bertepatan dengan Hari Raya Kuningan di Bali. Besok Minggu 28 Desember, beberapa teman dengan keyakinan yang sama  Hindu-Bali berencana merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan dengan berkumpul untuk melaksanakan persembahyangan di salah satu rumah warga Hindu-Bali di London. Pak Agung, demikian kami memanggil nama beliau, menyediakan rumah dan dapurnya untuk diobrak-abrik sebagai persiapan pelaksanaan perayaan Galungan.
Galungan dan Kuningan sendiri sejatinya sudah lewat beberapa hari sebelumnya, namun karena ketiadaan libur, maka perayaan kami sepakati hari Minggu 28 Desember. Hari yang sekiranya sebagian besar dari kami, masyarakat Hindu-Bali di Inggris libur dan berkesempatan untuk berkumpul bersama, tujuannya untuk bersembahyang bersama dan  semoga tidak mengurangi makna hari raya itu sendiri.
Mengenai makna hari raya Galungan sejujurnya saya tidak begitu paham secara mendalam. Banyaknya ulasan serta kajian yang dimuat di berbagai situs bisa dijadikan rujukan mengenai pemaknaan hari raya. Yang terngiang sepanjang ingatan sejak saya kecil di kampung halaman, ada beberapa feature yang tidak pernah absen dalam perayaan.

Feature-feature itu antara lain sarana bebantenan yang terdiri dari hasil bumi: umbi-umbian (palabungkah), buah-buahan (palagantung), daun-daunan, padi; semua ditata dalam bentuk yang indah menyesuaikan dengan keterampilan masyarakat setempat. Kemudian ada juga yang berupa hasil ternak: olahan berbagai macam hidangan dari daging, unggas yang juga diolah sesuai dengan selera dan cita rasa masyarakat setempat. Baik bebantenan maupun hidangan dipersembahkan kepada Sang Hyang Tunggal serta para leluhur sebelum dihidangkan kepada keluarga dan juga tetangga.

***
Lewat salah satu kajian yang saya jumpai di internet dilanjutkan dengan obrolan ringan dengan seorang kawan yang berkecimpung di bidang lingkungan, konon Hari Raya Galungan bisa dimaknai sebagai hari bumi. Hari di mana masyarakat tradisional di Bali, yang dominan adalah petani, mengucap syukur atas segala hasil yang diperoleh dari mengolah tanah. Hal ini, jika dikaitkan dengan salah satu ungkapan masyarakat Bali pegunungan, cukup beralasan. Ungkapan tersebut berbunyi:
“Wong desa angertanin gumin Ida Betara”
Artinya kurang lebih bahwa masyarakat desa menghuni tanah-tanah yang dimiliki oleh para dewata. Masyarakat desa mengolah, menjadikannya produktif, menghasilkan bagi kesejahteraan umat manusia. Untuk itu, masyarakat mengucap syukur karena suatu saat, ketika roh sudah meninggalkan jiwa, semua tanah-tanah akan dikembalikan kepada pemiliknya yang sejati, Sang Hyang Tunggal.

10680036_10203432929090224_7166064077399287813_o

***

Minggu 28 Desember 2014, sudah lewat tengah hari saat semua kesibukan di dapur mulai reda. Ayam betutu, ayam panggang, gado-gado, telor balado, sambel matah dan beberapa hidangan lain sudah tertata di atas meja makan. Saya menata buah buah, yang jarang ditemui di Bali, di atas sebuah nampan kecil. Beberapa tangkai bunga krisan menggantikan canang-canang yang biasanya menghiasi banten di Bali.
10430450_10203432947930695_8512689368537412626_n
Dimulai dengan menguncarkan Puja Trisandhya, persembahyangan hari itu kami lanjutkan dengan panca sembah. Sekalipun salju belum turun di Inggris bagian selatan, udara di luar masih belum beranjak. Masih dingin menggigil. Percikan tirtha, nunas dari Pura di Belgia, menutup persembahyangan di ruang keluarga rumah Pak Agung. Hidangan ala Bali minus lawar, sate dan urutan, menjadi penutup sempurna sekaligus menemani obrolan tentang berbagai hal sore hari itu.
Selamat Hari Bumi, Hari Raya Galungan dan Kuningan
London, 28 Desember 2014