Kerdil di Lintasan Waktu Bath

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bath konon merupakan tempat pelesir para petinggi Romawi di abad pertengahan kala wilayah Inggris bagian selatan masih berada di bawah imperium ibukota Italia tersebut. Seolah menyindir perkembangan kota kota di Asia masa kini yang penuh hiruk pikuk teknologi serta ingkar terhadap masa lalu, Bath dengan kebersahajaan jalan setapak diperkeras batu alam dan bangunan kuno yang terawat baik menawarkan nostalgia ke masa lalu sekaligus masa depan yang benderang sebagai sebuah kota ramah pejalan kaki dan hijau. Kota yang dilingkupi Sungai Avon ini membuat saya merasa sangat kecil di ruang sejarah maha besar dalam lintasan waktu ribuan tahun.

***

Pantulan wajah dengan rambut acak-acakan, yang tidak sengaja terpantul di jendela kedai kopi Nero pagi itu menunjukkan muka kusut yang belum sepenuhnya tersadar dari tidur. Entah kenapa, beberapa hari belakangan, rasa kantuk saja tidak cukup untuk mengantarkan alam mimpi datang lebih cepat. Paling cepat jam 1 dini hari barulah mata siap terpejam membuat sulit untuk bangun pagi dengan keadaan segar. Seperti juga pagi itu saat kaki mesti bergegas di keremangan kabut pagi mengejar bis dan kereta api untuk berangkat ke Bath, kota kuno di barat daya Inggris.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ditemani matahari yang baru terbit disaput kabut tebal dan cericit burung yang mulai ramai, saya menggigil menunggu bis yang akan mengantar ke station kereta. Dua lapis baju, vest serta jaket tebal lumayan membuat tubuh bertahan dari hembusan namun tetap saja udara dingin menyelusup. Sampai di Bath pun mata masih terasa berat setelah lebih kurang satu setengah jam di dalam kereta.

Sebelum jalan-jalan ke suatu tempat baru, biasanya saya mereka-reka rute dengan cara mengutak-atik google maps sehari sebelumnya. Cara ini biasanya memberi gambaran tentang keunggulan serta daya tarik sebuah kota berdasarkan ulasan dari orang yang sudah berkunjung sebelumnya. Tetapi hari itu dengan sedikit kesengajaan, saya tidak melakukan hal itu. Bukan apa-apa, kadangkala membuka internet apalagi melakukan penelitian ringan soal tempat yang akan dikunjungi membuat kita terjebak hanya mengunjungi tempat-tempat yang direkomendasikan oleh banyak orang. Membebaskan diri, meskipun beresiko tersesat atau malah tidak menemukan apa-apa, membebaskan kaki untuk menentukan langkahnya sendiri.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di awali segelas  grande cappuccino, perjalanan hari itu di mulai dari stasiun. Sialnya, belum apa-apa sebuah toko buku, yang dari luar terlihat hangat mengundang, dengan tulisan besar-besar di jendela kacanya, ‘HALFPRICE BOOKS’ sudah menyita waktu beberapa menit serta membuat beberapa lembar pundsterling berpindah tangan berganti dua eksemplar buku. Toko buku memang godaan terbesar dalam hidup.Di saat winter kala cuaca dingin seperti pagi itu, toko buku menawarkan kehangatan, sementara saat summer yang panas menyengat, dia menawarkan kesejukan, membuat undangan untuk mendorong pintunya selalu sulit ditolak.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kota Bath berukuran relative kecil dan berada di daerah yang berbukit. Dilihat dari peta kota yang terpampang di papan peta, yang tersebar di berbagai sudut kota, nampaknya kota ini memang dirancang berbentuk kompak. Nyaris semua fasilitas penting, serta tentu saja bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi objek wisata utama, bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Meskipun jalanan naik turun, karena memang lokasinya berbukit-bukit, kaki tidak terasa lelah karena mata tidak henti melihat karya manusia ribuan tahun di sepanjang rute. Bangunan, undag-undagan batu dengan pagar pengaman indah, patung serta tugu batu, obelisk, semua penanda sejarah tidak henti mengundang rasa penasaran untuk dijelajahi.

Selain bidang pendidikan, dengan University of Bath, industry pariwisata nampaknya menjadi penunjang ekonomi utama kota ini. Hampir di setiap sudut jalan, bisa dijumpai turis-turis bertebaran riang sibuk mengabadikan keindahan kota dengan kamera serta telepon genggamnya masing masing. Industry wisata kota dimotori oleh pelestarian bangunan kuno, ditunjang dengan pemandangan alam, sungai, bukit-bukit hijau tumbuh subur mengundang pengunjung untuk datang, menghidupkan kafe-kafe serta kedai makanan minuman yang bertebaran di sudut-sudut kota.  Toko-toko cinderamata pun tidak ketinggalan meraup rejeki dari kue pariwisata kota ini. Jamaknya kota-kota wisata, ruang-ruang pamer benda seni serta museum menyajikan perkembangan kota, bebagai produk benda seni serta kehidupan masa lalu melalui karya karya yang dipajang dan semuanya free admission alias gratis.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Siang itu, langit sangat cerah namun  suhu masih cukup dingin, ruang-ruang kota ramai pengunjung. Di ruang-ruang terbuka publik, plaza-plaza luas yang bebas kendaraan, pengunjung berjubel memenuhi bangku-bangku kayu dan bangku-bangku besi yang disediakan untuk mereka. Mungkin karena akhir pekan dan bertepatan dengan hari valentine, pasangan-pasangan bergandengan tangan, sesekali berhenti di depan toko cindera mata atau tertawa ringan bercengkerama. Lagu-lagu romantis tak henti mengalun dari mulut musisi jalanan diiringi alat musik merdu menambah semarak suasana. Tak ketinggalan pedagang buah, sayur mayur serta makanan berbaur di bawah pohon yang tengah meranggas. Sebuah kedai makan kecil di tengah pasar menjadi pilihan saya mengganjal perut. Menunya sederhana, setangkup roti dengan sosis dan dua lembar daging iris, ditemani segelas teh panas.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA  OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jalinan sejarah Kota ini terasa begitu kuat saat kita menapaki jalan-jalan berbatu dengan bangunan-bangunan berusia ratusan atau mungkin juga ribuan tahun di kiri dan kanannya. Saya mengagumi jalan jalannya yang bersih dengan batu yang berkilat-kilat. Pastilah dulu, ratusan tahun lampau, batu batu tersebut juga menjadi pijakan bala tentara romawi atau kereta kereta kuda yang membawa bahan makanan serta bahan kebutuhan hidup lainnya. Jalan yang sama juga dilintasi pelancong dari berbagai belahan dunia tak kenal batas. Seandainya bisa bercerita, barangkali batu itu akan sangat antusias menceritakan pengalamannya dilintasi oleh orang-orang tersohor pada masa yang berbeda beda. Batu, bukan aspal atau beton, memiliki keunggulan karena mampu memperkeras jalan dengan tetap menyisakan pori tempat air hujan merembes ke dalam tanah. Batu-batu dengan kualitas baik, meskipun keras, dengan ukurannya yang relative kecil mampu memberi kelenturan sehingga tidak mudah rusak saat dilalui. Sepertinya Bath memang dirancang dengan sangat matang pada masa lalu. Kota ini jelas dirancang untuk pejalan kaki serta penunggang kuda. Saat ini bahkan setelah kuda tidak lagi popular, kota ini masih menyisakan kejayaan ruang-ruang untuk pejalan kaki, memaksa kendaraan untuk menyingkir ke jalan-jalan yang lebih marginal di pinggir.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

lampu-lampu mulai menyala seiring langit yang mulai berubah biru tua. Udara bertambah dingin. pasangan-pasangan yang tadi ramai berlalu lalang di jalan-jalan setapak kini beranjak ke dalam restaurant menikmati hidangan seraya merayakan hari spesial. Empat gadis remaja nampak tertawa  lepas sambil memonyongkan bibir sementara tangannya mengarahkan kamera hape ke arah wajahnya. Saya bergegas bersamaan dengan para musisi jalanan yang tergesa menuntaskan lagu terakhirnya sebelum langit semakin gelap sore itu. Lagunya sayup sayup masih terngiang hingga di di dalam kereta yang membawa kembali ke Oxford

…That’s why I’m easy
Aah, aah, aah, aah
I’m easy like Sunday morning
Aah, aah, aah, aah
That’s why I’m easy
Aah, aah, aah, aah
Easy like Sunday morning…

Saat kita merancang kota untuk mobil, kita mendapati mobil berkuasa di segenap sudut kota dengan macet sebagai bonusnya, sebaliknya bonus senyuman bisa diperoleh saat kota-kota dibanjiri pejalan kaki memenuhi ruang-ruang yang memang dirancang untuk mereka. Bath membuat saya kerdil, ya kerdil di dalam ruang sejarah maha besar yang sudah melintas berabad-abad.

Revolusi Urban Denpasar

Matahari bersinar cukup terik pagi menjelang siang hari itu saat saya mengeluarkan kendaraan dari garasi. Kala berada di jalan, debu-debu dari kendaraan proyek berhamburan menyesaki udara sampai masuk jauh ke halaman rumah. Bagian paling ujung dari perumahan tempat tinggal, ke mana truk-truk tersebut mengirimkan material bangunan, yang dahulunya sawah sudah beralih menjadi permukiman padat dengan ciri-ciri khas jalan yang relative sempit, ukuran kapling kecil serta got yang sekedar hadir melengkapi persyaratan IMB. Dalam beberapa tahun lagi lingkungan ini mungkin akan segera menjadi permukiman padat, macet, banjir serta lingkungan yang kurang sehat sebagai latar kehidupan khas sosial perkotaan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalan Gajah Mada Denpasar

Sekitar setengah jam berkendara menunggu kemacetan yang pelan-pelan terurai akhirnya harus berhenti lagi di hadapan traffic light. Di bawah lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, terlihat tiga gadis remaja, dengan wajah kuyu penuh peluh, masih berseragam sekolah, menyodorkan tiga kardus kosong bekas air minum dalam kemasan, memohon sumbangan untuk pembangunan salah satu pura di luar pulau yang konon sedang membutuhkan biaya renovasi setelah ditimpa bencana alam. Cara-cara pengumpulan dana yang kerap saya jumpai di jalan-jalan besar di pulau Jawa beberapa belas tahun yang lampau saat berdarmawisata bersama teman-teman SMA.

Denpasar, salah satu kota terpadat di Bali sudah jauh meninggalkan ciri-ciri rural yang dahulu konon mendominasi lansekapnya. Saya sempat terlibat dalam dalam salah satu proyek pengembangan pertanian perkotaan beberapa tahun lampau. Salah satu hasil signifikan yang mengemuka adalah usia petani termuda mencapai tidak kurang dari 50 tahun. Jumlah lahan, serta petani yang menggarap, sudah merosot drastis. Lebih jauh lagi, saluran air pertanianpun semakin kecil dan berubah menjadi got-got dengan air yang keruh. Jalan-jalan tanah yang dahulu menjadi tempat komunal, tempat saling mengobrol antar tetangga, menunggu penjual makanan tradisional di bawah rindangnya pohon, kini berlapis aspal mulus memisahkan rumah-rumah di kiri dan kanannya. Antar tetangga semakin sulit untuk berkomunikasi akibat sekat fisik yang diciptakan oleh arus lalu lintas tiada henti mengalir di atas jalan aspal dengan pinggiran berdebu tersebut.

Denpasar memasuki era revolusi urban, bergerak dan bertumbuh keluar dari wujudnya terdahulu menuju bentuk yang sama sekali baru. Dia sedang menggeliat, gelisah, terburu-buru berganti wajah memasuki panggung baru.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Alat berat sedang menyiapkan lahan untuk permukiman baru di Denpasar

Sebagai sebuah entitas yang dibentuk oleh para penghuninya, kota akan selalu berubah mengikuti perubahan yang terjadi di masyarakat. Dinamika perubahan masyarakat tercermin dengan jelas pada perubahan fisik sebuah kota. Peralihan dari mata pencaharian pertanian ke bidang lain, perubahan kemampuan ekonomi, perubahan cara pandang terhadap lingkungan serta perubahan lainnya diterjemahkan ke dalam bentuk bentuk fisik tempat tinggalnya. Sawah-sawah berubah menjadi hotel dan vila adalah cermin perubahan mata pencaharian dan orientasi pembangunan. Kendaraan roda empat bercat mulus menggantikan kuda dan sepeda adalah cerminan perubahan ekonomi dan teknologi. Sementara sungai sungai dan pohon rindang yang dahulu menjadi tempat bernanung dan terjadinya ikatan sosial telah berganti pula akibat berubahnya cara menghabiskan waktu luang. Kini kedai kopi modern dan mall adalah lokasi dimana masyarakat jaman baru menghabiskan waktu senggang. Perubahan tentu membawa implikasi, baik yang bisa diterima maupun yang, kadangkala, berlawanan dengan hati nurani.

Sebuah kota, dalam geraknya memenuhi kebutuhan warga, akan selalu bergerak dan tidak diam di satu bingkai waktu, kecuali kota tersebut ditinggalkan oleh penghuninya. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar gerak perubahan kota bisa diterima dengan baik serta tidak mengurangi livability kota tersebut. Untuk menciptakan lingkungan kota yang mengedepankan kehidupan penghuni, maka sudah semestinya perubahan tersebut tidak mengorbankan kenyamanan dan keamanan. Dua tolok ukur ini adalah yang paling mendasar dalam mengukur tingkat kualitas hidup manusia. Manusia akan merasa lebih bahagia jika dia tinggal di tempat-tempat yang aman dan nyaman. Kenikmatan berjalan kaki atau bersepeda, suasana guyub yang tercipta di ruang-ruang publik kota, taman-taman serta pepohonan yang menciptakan kesejukan dan menyediakan udara bersih adalah hal-hal yang menciptakan kenyamanan sebuah kota. Selain kenyamanan, faktor keamanan juga penting untuk tetap dijaga. Dengan demikian perubahan sebagai akibat pembangunan baru seyogyanya tidak meningkatkan risiko banjir, tidak meningkatkan kemacetan serta sedapat mungkin menurunkan tingkat kriminalitas. Jika yang terjadi sebaliknya, banjir semakin sering-kriminalitas meningkat-kemacetan menjadi santapan sehari hari, maka perlu ditinjau lagi strategi pembangunan yang tengah diterapkan oleh kota tersebut.

Di atas semua itu, ibarat manusia, perubahan yang terjadi pada sebuah kota tidak boleh merubah jati diri. Karena di dalam jati diri terkandung value dan meaning sebuah kota. Dua hal yang menjadikan kota memiliki identitas yang kuat tanpa harus terombang-ambing oleh godaan berganti identitas. Dengan identitas yang kuat serta jati diri yang mantap maka ke-gamang-an dan disorientasi pembangunan bisa dihadapi dengan kepala tegak.

Kramaning Kayu: dipetik dari Terjemahan Lontar L.05.T

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kayu merupakan bahan bangunan yang paling populer di dunia, setidaknya hingga saat ini. Hampir di seluruh belahan dunia, kayu dipergunakan untuk berbagai keperluan bangunan: tiang, kerangka penyangga kuda-kuda, dinding, lantai bahkan atap. Penggunaan kayu yang sedmikian populer menyebabkannya menjadi bahan bangunan yang juga relative banyak dikembangkan, dimodifikasi tidak hanya sebagai struktur tetapi juga sebagai hiasan. Selain di tempat-tempat ekstrem kutub utara dan selatan serta wilayah gurun pasir, barangkali tidak banyak bangunan vernacular yang tidak menggunakan kayu.

Berbagai keunggulan kayu menyebabkannya diandalkan oleh masyarakat vernacular di seluruh dunia. Kayu merupakan bahan bangunan yang dapat diperbaharui. Tidak seperti batu yang tidak tumbuh dan bertambah, kayu dapat ditanam, dipelihara serta jika umurnya sudah cukup dapat ditebang untuk keperluan bahan bangunan. Kelenturan serta kakuatannya terhadap gaya tarik dan tekan juga menjadikannya sebagai bahan bangunan yang handal. Teknik-teknik pengolahan serta konstruksi berpadu dengan keunggulan bahan kayu menjadikan bangunan konstruksi kayu sebagai bangunan yang tahan terhadap guncangan gempa.

moojen151

Penerapan tata olah kayu dalam arsitektur tradisional Bali. Sumber: PAJ Moojen, Kunst op Bali

Di Bali, kayu menjadi salah satu bahan bangunan utama. Hampir semua typology bangunan tradisional Bali menggunakan kayu sebagai tiang dan bahan kerangka atap. Kayu bahkan dipakai untuk bahan bangunan yang tinggi seperti meru bertumpang 3 hingga 11. Kayu, dengan teknik konstruksi tertentu juga kuat menyangga beban atap yang lebar dan berat seperti atap bangunan wantilan, misalnya. Di dalam skala rumah tinggal, secara tradisional, kayu menjadi bahan baku utamanya.

Sekalipun kayu merupakan bahan baku yang dapat diperbaharui serta memiliki keunggulan dalam berbagai hal, tetap saja penggunaan kayu perlu diperhatikan. Pengaturan penggunaan kayu ini bertujuan untuk menjaga kelestariannya, menjamin manfaat yang tertinggi dari pemanfaatan kayu serta menjamin bahwa struktur yang dibangun dengan konstruksi kayu aman serta nyaman utnuk ditinggali. Secara tradisional, penggunaan kayu dalam arsitektur tradisional Bali sejak era Hasta Kosali telah diupayakan untuk diatur. Tulisan ini salah satunya bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaturan penggunaan kayu yang di muat di dalam lontar hasta kosali. Pendekatan pembahasannya lebih pada sisi teoretikal dengan bahan utama dari terjemahan lontar Hasta Kosali dengan kode L.05.T.

Secara umum di dalam lontar diatur tentang pemanfaatan kayu dalam konstruksi bangunan. Penggolongan kelas kayu, tata cara menemukan kayu yang baik di alam, tata cara menebang, kayu-kayu yang baik serta tidak baik untuk bangunan merupakan sebagain hal yang di bahas di dalam lontar. Dipercaya bahwa setiap cacat kayu menghilangkan kebaikan yang dimiliki oleh kayu.

bali135a

Kayu sebagai struktur utama tiang dan atap bangunan tradisional. Sumber: Goris, Bali: Atlas Kebudayaan

Tentang penggolongan kelas kayu

Penggolongan kelas kayu dalam lontar hasta kosali menggunakan istilah-istilah dalam dunia kerajaan. Golongan yang paling tinggi adalah golongan raja. Jenis kayu yang termasuk di dalam golongan ini adalah kayu nangka. Golongan berikutnya adalah mahapatih dimana jati menjadi anggotanya. Selanjutnya adalah kayu golongan kelas utama termasuk di dalamnya wangkal, kanuruhan, kwanditan, bintenu, cempaka. Pohon juwet termasuk dalam kelas patih sementara kemoning dan majegau adalah golongan raja bersama sama dengan cendana,dan kayu manengen. Kayu-kayu ini boleh dipergunakan bersama sama dengan kayu pulasari, bekul, sesangka, sangsana dan gambir.  Golongan kayu kelas dua adalah kayu kuang, base-base, tapaning kayu. Namun pohon bintenu juga digolongkan ke dalam kelompok perbekel.

Disebutkan pula bahwa kayu-kayu yang berasal dari golongan utama dapat dipergunakan secara bercampur di dalam satu bangunan. Kayu-kayu tersebut antara lain nangka, jati, wangkal, kajimas, base base, bentenu, adis, kwanditan, sentul, sembung.

Pohon yang bunganya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan tidak boleh dipakai. Pohon berbunga tersebut antara lain adalah: sakaasti, sukanatar, parijata, kayumas, kayu puring, tengeli gending, kayu jaring, sarpa sari, kayu teja, bekul, kejanti, kemoning, kelor, sepelasa. Demikian pula beberapa pohon yang daunnya memiliki banyak manfaat juga sebaiknya dihindari. Menurut daunnya yang tidak boleh dipakai adalah: pandan wong, pandan arum, pandan rangkang, pandan minyak, pandan uduan.

Menurut daun dan semua warna bunga, pohon miyasah, bayam raja, bayam suluh, sulasih pucang, ketekan gambir.

Tentang menemukan kayu yang baik berdasarkan tempatnya tumbuh

Selain dari segi jenisnya, di dalam teks lontar disebutkan pula beberapa pohon tidak baik dipakai sebagai bangunan berdasarkan tempat tumbuhnya. Pohon yang tumbuh di atas persil parhyangan, sanggah dan tempat suci lainnya, serta pohon yang tumbuh di kuburan, tempat-tempat angker serta kotor tidak baik dipakai sebagai bahan bangunan. Pohon yang tumbuh di perbatasan desa atau perbatasan wilayah tidak boleh ditebangi dan harus dijaga agar tetap subur dan tumbuh dengan baik.

Pohon yang tumbuh di tepi jurang atau di tepi telaga alami serta danau dalam jarak tertentu dari tepian air dipercaya sebagai milik penguasa sungai yaitu Dewi Srilingga dan Dewi Tarwih. Pohon yang tumbuh di tempat-tempat seperti itu tidak boleh ditebang seperti juga pohon-pohon di tepi jurang juga tidak boleh dipakai sebagai bahan bangunan.

Kayu yang terdampar di sungai atau laut, kayu yang hanyut, kayu yang tumbang tanpa ditebang atau bekas terbakar, disambar petir atau kayu mati akibat ditusuk juga harus dihindari.

Jika ada kayu tumbuh dari pangkal yang pernah ditebang, maka kayu tersebut juga tidak boleh dipakai sebagai bahan bangunan.

Tentang tata cara menebang kayu

Jika sudah menemukan jenis kayu yang baik serta tumbuh di tempat yang semestinya, maka kayu tersebut boleh ditebang dan dijadikan sebagai bahan bangunan. Tata cara menabang kayu juga termuat di dalam lontar beserta larangan atau pantangan-pantangan yang mesti dihindari. Kayu yang saat ditebang jatuh melintang jalan, melintang sungai atau melintang jurang disebut butawi mesti dihindari. Kayu yang ditebang juga tidak boleh jatuh menimpa benda keras seperti batu, tembok pekarangan atau tanah gundukan yang keras sehingga seolah membantali kayu tersebut.

Asalkan diupacari dengan baik menggunakan sarana nyuh godeg, kayu-kayu yang rebah tetapi tersangkut pohon lain, atau rebah karena tertimpa pohon lain bisa dipakai sebagai jineng dan dapur, tetapi sebaiknya tidak dipakai untuk bangunan lain. Demikian juga perlakuan yang sama diberikan pada kayu-kayu yang rebah karena angin atau yang tumbuh dari batang yang pernah ditebang.

Mantram untuk kayu

Sebelum ditebang, kayu-kayu harus dimohonkan kesediaannya serta dimohonkan ijin kepada pemilik kayu tersebut untuk ditebang. Permohonan dilengkapi dengan sarana banten daksina genap, ketupat kelanan, segehan putih kuning dan tetabuhan.

Mantra yang harus dirapalkan sebelum menebang kayu adalah sebagai berikut:

‘Ong kita sang Kala Agung, Sang kala umah, sang kala ring marga, sang kala ring wates, sang kala ring tegal, sang kala ring alas, aja sira angraksanana ring kayu, mundur pwa kita saparanta, angwetan, angidul, angulon, angalor, iku ulunin kami porandamoni piluyur, teka pah teka pah teka pah.

Jika semua bebantenan dan upacara memohon menebang kayu sudah dilaksanakan, patut diketahui bangunan apa yang akan dibangun menggunakan kayu tersebut. Mengetahui pemanfaatannya berpengaruh terhadap arah rebahnya kayu. Bila kayu yang ditebang itu akan dipakai untuk tempat suci, maka arah rebah ke timur laut adalah yang utama. Kayu yang rebah ke utara dan timur disebut madya. Dan harus dihindari kayu rebah ke arah selain yang telah disebutkan karena itu adalah nista.

Jika kayu yang ditebang akan dimanfaatkan untuk dapur maka arah rebahnya berbeda pula. Untuk dapur, kelumpu dan jineng, kayu yang ditebang lalu jatuh ke arah barat daya adalah utama. Jika jatuhnya ke arah selatan dan barat adalah madya, selain arah-arah tersebut akan membuat kayu bernilai nista.

Setelah kayu rebah ke tanah, kayu harus dipotong menurut ukuran yang telah ditentukan. Pemotongan dilakukan agar memudahkan untuk dipindahkan ke tempat yang lebih lapang untuk selanjutnya dikerjakan seseuai keperluan. Memotong serta membelah kayu tidak bisa dilakukan sembarangan karena masyarakat tradisional percaya bahwa kayu memiliki jiwa serta ada ‘yang memiliki’.

Mantra untuk memotong atau membelah kayu:

‘Pakulun bhagawan Angatemana kayu, Sanghyang Indra dewataning kayu, Sanghyang wisnu Anguripa Tumuwuh, teka pejah… pejah… pejah… wokaya swaha’

Larangan perlakuan terhadap kayu

Kayu-kayu yang telah dipotong serta dibelah-belah menjadi beberapa bagian masih harus diseleksi sebelum benar benar dijadikan sebagai bahan bangunan. Prosesnya meliputi pemilihan secara kasat mata dimana kayu bahan yang keluar hatinya digolongkan sebagai kayu yang cacat. Mata kayu yang terkena pahat pada lubangnya adalah cacat. Kayu yang dipakai hingga kulitnya, masih memperlihatkan bekas kena timpas/kapak, bekas pahat, ketaman yang belum bersih sebaiknya tidak dipergunakan sebagai bahan bangunan. Jika kayu-kayu tersebut tetap akan dipakai maka sebelumnya harus dilukat terlebih dahulu.

Memperlakukan kayu dalam proses pembangunan sebaiknya dilakukan dengan penuh perhitungan serta berhati-hati. Umumnya pekerjaan kayu dilakukan oleh undagi yang sudah mahir dan berpengalaman di atas rata-rata. Hal ini perlu diperhatikan karena kayu merupakan struktur penyangga utama bangunan tradisional.

Kesalahan terhadap perlakukan kayu akan merugikan karena kayu yang salah tidak bisa dipakai lagi. Bila melubangi kayu untuk bangunan lalu lubangnya salah maka kayu tersebut disebut borok wong dan tidak bisa dipakai sebagai bahan bangunan. Jika tetap dipaksakan untuk dipakai dipercaya si pemakai bangunan akan menderita borok, sakit kulit, bisul. Demikian juga saat membuat tiang-tiang bangunan. Harus diketahui ukurannya dengan benar. tiang yang sudah jadi tidak boleh dipependek, diperkecil atau dirubah ukurannya. Jika dilakukan bisa mengakibatkan orang yang memempati bangunan akan kesakitan sedikit demi sedikit dan lama kelamaan akan semakin parah.

Bangunan yang sudah berdiri rangka-rangkanya tidak boleh diperkecil. Memperpendek kelumpu, jineng, dapur misalnya akan berakibat buruk, sebaliknya memperpanjang atau menambah ukurannya dianggap membawa peruntungan. Demikian pula menghaluskan atau mengetam kayu pada bangunan yang sudah selesai dipelaspas disebut janda berhias. Hal ini sangat berbahaya.

Sebagaimana dibahas di atas, beberapa cacat tertentu dapat diupacarai dengan cara penglukatan.

Mantra pengurip kayu

Sebelum dipakai dan diaplikasikan menjadi bahan-bahan tiang atau bahan bangunan lainnya, kayu harus dihidupkan ‘jiwa’ nya. Kegiatan ini disebut ngurip kayu karena sebelumnya, pada saat ditebang, jiwanya dianggap telah meninggalkan raganya. Saat akan dipakai maka jiwa nya harus dihidupkan kembali. Dikutip dari Lontar L.05.T terjemahan N. Gelebet, mantra pengurip kayu adalah sebagai berikut:

‘Ong aku angurip taru, ring utara prenahira, monadi kita wesi, kalukat kalebur dening batara wisnu, manadi kita wesi purasani, kadaden taman tkakena ring swarganira Batara Wisnu, ajua ta sira amilara ring awak sariranku pena

Pakulun hyang Siwa Gotra, ingsun konkonan Bagawan Wiswa Karma, angawangunang saluiring wawangunan, ajua sira milara aku, apan aku anak Hyang Siwagotra, wenang aku angwangunang saluiring raja karya, ajua anyipat anyinggul ring aku, poma… poma… poma’.

Pakulun sang retuning papajonan, Prabu nAngka, Pepatih Jati, Arya Sentul, Rangga ungu, tekening pucak irisan, anunua sira, sun patenin, sukun sira dadi pari sira, masi mawoh; mabungkah kita, pamuwit papa kita winadung ginawe lakar, anakena sangkara, ongkara, ana kena buri akakara, pakulun Sanghyang ekawara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Astawara, Sangawara, redite pinaka tda, soma pinaka pidaminda, anggara pinaka godongda, buda pinaka kembang, wrespati pinaka galih, sukra pinaka camping, saiscara pinaka pancer.

Sami sira astawara anaksenin, dang, jang, gi, no, o , e u, tu, da, mulih maring Sang Hyang Sadwara anaksenin, tung, ar, wur, pa, wa, ma, kajenengan denira Sang Hyang Pancawara, makadi u, pa, pwa, a, ka.

Malih catur laba anaksenin, sri, la, ja, ma, kajenengane denira Sang Hyang Tri Wara, do, wa, bia, kajenengan denira Sang Hyang Dwiwara, menge, pe, telas, denira anaksenin.

Diskusi di kekinian

Jika dilihat dari jenis-jenis kayu yang dibahas terlihat bahwa kayu yang baik untuk bahan bangunan berasal dari jenis dikotil. Tanaman dari jenis ini dikenal memiliki akar tunggang, berbiji belah serta memiliki batang yang kuat dan bercabang. Jika dipotong melintang, maka akan terlihat beberapa lapisan batangnya.

Lapisan batang terdiri atas kulit pohon, cambium, batang muda atau gubal, batang tua dan yang paling tenagh adalah hati. Bagian yang paling baik dipakai sebagai bahan adalah lapisan batang tua. Lapisan hati biasanya sedikit rapuh, smentara batang muda merupakan bagian yang menyalurkan zat makanan dari tanah ke daun bersama sama cambium sehingga cenderung masih belum kuat. Hal menyebabkan di dalam lontar disarankan agar menghindari bagian gubal serta bagian hati. Tentu saja tujuannya adalah mendapatkan bagian kayu yang terbaik.

3. Profil Kayu Sengon Merah

Penampang kayu menunjukkan bagian hati, kayu tua, kayu muda, kambium dan kulit kayu berturut-turut dari bagian tengah ke arah pinggir. sumber: sylvanonursery.blogspot.com

Jika dilihat berdasarkan lokasi tumbuhnya, maka terlihat ada unsur konservasi di dalamnya. Tidak menebang pohon yang tumbuh di dekat sungai memberi perlindungan pada tepi sungai. Longsor bisa dicegah serta erosipun menjadi minimal. Kayu-kayu yang berada dekat dengan telaga alami serta danau menjaga agar pasokan air tetap terjaga. Akar-akar pohon menyerap air hujan dan menyimpannya untuk dikeluarkan pada waktu tertentu. Dengan kemampuan menyimpan air, maka di musim kemarau telaga atau danau tetap memiliki air yang disalurkan melalui sungai-sungai untuk mengairi irigasi persawahan.

Larangan serta pantangan dalam pengolahan kayu bertujuan untuk memastikan bahwa kayu yang dipakai benar benar yang sempurna. Rumah adalah tempat tinggal manusia, mungkin untuk seumur hidup. Kayu-kayu yang menjadi struktur utama harus dipastikan bebas cacat agar kekuatannya terjamin serta aman bagi penghuni rumah.

bali137a

Ilmu mengolah kayu dilakukan secara turun temurun. Sumber: Goris, Bali: Atlas Kebudayaan.

Kepercayaan masyarakat bahwa ada kekuatan lain yang menguasai semesta serta manusia harus mampu menjaga hubungan baik dengannya membawa pada kepercayaan bahwa kayupun memiliki jiwa. Selain memiliki jiwa, kayu juga menjadi ‘milik’ penguasa alam. Menebang kayu harus dilakukan jika sudah mendapatkan ‘kesediaan’ dari kayu itu sendiri serta memperoleh  ‘ijin’ dari sang pemilik. Dengan demikian hubungan baik antara manusia dengan semesta tetap terjalin dengan baik.

Jika pemilihan, tata cara menebang, tata cara mengolah serta tata cara upacara kayu dilaksanakan, masyarakat tradisional percaya hal ini akan menciptakan keseimbangan alam yang membawa kebahagiaan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya.