Arsitektur Bali pasca Hasta Kosala-Kosali dan Hasta Bhumi: Menyimak Peran dan Karya Ida Bagus Tugur dan Robi Sularto

… the vernacular (should be used) as a source of architectural knowledge and that critically examines the way in which this know how may be integrated with new forms, resources and technologies so as to develop culturally and environmentally sustainable architecture for the future(Velinga in Oliver, 2007).

art1-4

Arsitektur setempat bukanlah benda mati, sesuatu yang ada di bingkai waktu yang berbeda dengan jaman sekarang, melainkan pengetahuan yang selalu hidup berjalan, berakar di masa lalu dan bertumbuh menuju masa depan. Pengetahuan arsitektur setempat sebagai sesuatu yang hidup terus berkembang serta mendapat pemaknaan ulang secara terus menerus merupakan strategi yang bisa dipakai dalam membangun identitas.

Saya menggunakan istilah yang tidak lumrah, pasca-kosala-kosali, untuk menandai jaman saat arsitektur di Bali diciptakan tanpa sepenuhnya menerapkan aturan atau panduan Hasta Kosala-Kosali serta Hasta Bhumi secara leksikal. Penamaan ini masih bisa diperdebatkan lebih jauh lagi dalam rangka penyusunan periodisasi yang lebih matang. Pada masa aturan yang terdapat di dalam beberapa lontar tersebut diterapkan, serta di masa sebelumnya, arsitektur masih bersifat non-authorship, anonym. Anomyn disini dimaksudkan bahwa tidak ada satu nama personal yang secara benderang menjadi undagi atau arsitek di balik sebuah bangunan. Karya-karya arsitektur merupakan hasil kerja yang bersifat komunal. Bangunan menjadi milik masyarakat, karya kolektif, sehingga cukup sulit menyebut satu nama. Misalnya, yang menciptakan candi bentar pertama kali, atau yang menemukan struktur meru, sangat sulit ditelusuri. Berbeda dengan masa setelah arsitektur menjadi ekspresi karya personal setelah masa Hasta Kosala-Kosali dan Hasta Bhumi hingga masa sekarang.

***
Saat membicarakan perkembangan arsitektur Bali post-Kosala-Kosali, ada dua nama yang patut diletakkan pada posisi penting. Kedua nama tersebut adalah Robi Sularto Sastrowardoyo dan Ida Bagus Tugur. Keduanya, meskipun dengan pendekatan yang berbeda, menghasilkan banyak karya monumental yang mewarnai lansekap budaya Bali tahun 70-an hingga pertengahan 90-an. Arsitek-arsitek muda Bali setelah tahun 2000-an barangkali tidak banyak mengenal kedua sosok ini, termasuk juga saya. Gemerlapnya dunia arsitektur internasional dengan segala capaian mutakhirnya serta terjebaknya perdebatan arsitektur tradisional pada ke-masalalu-an, menyebabkan sosok kedua arsitek ini, yang karya-karya besarnya menjadi jembatan kedua kutub yang seolah bertolak belakang ini, berada pada wilayah abu-abu.
Tulisan ini saya susun dengan sangat banyak keterbatasan. Sumber-sumber tertulis tentang peran dan kiprah kedua tokoh ini tidak mudah dijumpai sehingga bisa saja tulisan ini nanti menjadi bias. Foto-foto, sketsa ataupun gambar hasil karya keduanya pun tidak kalah susahnya untuk dirunut. Banyak diantara karya-karya Robi Sularto yang konon sudah dimodifikasi, sehingga menyulitkan saya di dalam melakukan identifikasi orisinil atas ide-ide beliau. Karya Ida Bagus Tugurpun sulit dicari jejak pemikiran dan idenya, sekalipun banyak bangunan beliau yang masih berdiri megah hingga kini. Di tengah segala keterbatasan tersebut, (well boleh jadi ini hanya excuse atas ketidakmampuan saya), saya memberanikan diri untuk mencoba membahas dari sisi yang berbeda. Melalui karya-karyanya, kedua arsitek menunjukkan bahwa arsitektur Bali di masa modern tidak melulu harus terjebak pada romantisisme arsitektur sebagaimana dikembangkan arsitek asing dalam gaya Bali Style. Melalui keahlian masing-masing, kedua arsitek memberi makna baru pada arsitektur tradisional menghasilkan karya dengan bentuk baru, tidak mengambil referensi dari bangunan yang sudah ada sebelumnya, tetapi tetap mengedepankan nafas dan akar arsitektur tradisional melalui re-kreasi dan re-interpretasi sehingga makna nya sesuai dengan jamannya.

tugur

Ida Bagus Tugur adalah seorang seniman yang tidak mengenyam pendidikan arsitektur secara formal. Kepiawaiannya mengolah dan mentransformasi ide menjadi bentuk bangunan mengantarkan beliau menjadi salah satu dosen luar biasa pada Jurusan Arsitektur Universitas Udayana.
Lahir pada tanggal 29 Mei 1926, Ida Bagus Tugur sejatinya adalah seorang pelukis. Selain melukis beliau adalah juga seorang guru pada Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Semanjak tahun 1960-an akhir beliau mulai banyak terlibat di dalam proyek pembangunan fisik. Pengetahuannya tentang cerita-cerita pewayangan, yang umum menjadi tema karya lukisnya, menjadi dasar yang kuat dalam karya-karya arsitekturnya. Imajinasi tentang dunia serta tempat-tempat, istana, taman, serta bangunan dalam dunia pewayangan diterjemahkan ke dalam wujud-wujud karya arsitekturnya yang berkharakter. Berbekal pengetahuan dasar undagi, intepretasi yang dilakukan dibalut dalam wujud prinsip bangunan Bali. Tidak hanya imajinasi wujud bangunannya yang diterjemahkan ke dalam bentuk fisik nyata, tetapi juga nama nama bangunan hingga taman tamannya. Ardha Chandra, Gedung Krya Uccaihcrawa adalah beberapa contoh nama-nama gedung yang diilhami dari kisah-kisah pewayangan.

art2-4
Secara struktur, karya karya Ida Bagus Tugur mengadopsi bentuk-bentuk tradisional dan beberapa prinsipnya. Skala bangunan yang monumental, ketinggian yang dia atas rata-rata, atau lebar yang ekstrem namun proporsi kepala badan kaki yang terjaga dengan baik dalam naungan atap limas adalah sosok umum karya beliau. Kerangka tiang yang memikul beban atap dibuat terpisah dari dinding yang berfungsi sebagai sekat. Prinsip ini adalah hal lumrah dalam arsitektur tradisional Bali. Sekalipun cukup ketat menerapkan prinsip-prisnip struktural tradisional, dalam beberapa karyanya tersemburat pendekatan arsitektur klasik eropa. Kolom-kolom beton berukuran besar dibungkus dengan batu alam paras atau batu bata merah dengan tata olah Doric, Ionic ataupun Corinthian namun dengan ornamen Bali. Mirip dengan kuil-kuil pada masa Romawi ataupun Yunani dalam sentuhan lokal. Kolom-kolom ini dibuat terekspos berada di luar dinding utama bangunan. Strategi ini ternyata membuat bangunan, selain estetis, juga sejuk karena membuat dinding-dinding berada di dalam naungan yang cukup lebar.

Meskipun tetap menggunakan limas sebagai dasar, bentuk atapnya tidak identik dengan bangunan-bangunan traditional Bali umumnya. Salah seorang seniman yang sempat bekerjasama dengan beliau menyebutkan bahwa atap-atap kuil di Thailand banyak berpengaruh pada karya beliau di tahun 1980-an. Hal ini, masih menurut informan yang sama, terjadi terutama setelah beliau melakukan perjalanan ke negeri Gajah Putih tersebut.
Ornament adalah hal yang sangat menonjol dalam karya-karya Tugur. Binatang-binatang dari dunia fantasi pewayangan, naga, gajah mina (hewan dengan kepala gajah berbadan ikan), singa, boma dan jenis lainnya menjadi hiasan yang menyatu tak terpisahkan dari karya-karyanya. Jembatan gajah mina, atau railing tangga dengan naga yang monumental di kompleks Ardha Chandra Denpasar adalah karya yang banyak mendapat apresiasi. Selain ornamen yang kaya, karya tugur juga sangat identik dengan kehadiran taman yang dilengkapi dengan bale kambang dikelilingi kolam teratai atau lotus.
Karya-karya Ida Bagus Tugur sesungguhnya sangat eklektik, mengambil banyak idiom desain dari beragam sumber. Sekalipun dari segi skala, ornament serta beberapa detail sangat kontras dengan arsitektur Bali masa sebelumnya, karya-karya Ida Bagus Tugur mendapat tempat serta banyak dikagumi sebagai sebuah lompatan menuju kematangan arsitektur tradisional di jaman modern. Pengambilan tema dan setting serta cerita atau mitologi yang dekat dengan masyarakat menjadi keberhasilannya dalam merebut perhatian masyarakat Bali. Kepiawaian mengolah pengetahuan konstruksi per-undagi-an tradisional dengan pengetahuan tema dan pengetahuan arsitektur klasik mengantarkannya pada ketenaran terutama di puncak karirnya di tahun 1980-an.

***
Figur yang juga sangat sentral, tidak hanya bagi Bali tapi juga Indonesia, adalah Robi Sularto Sastrowardoyo. Nama ini adalah salah satu lulusan angkatan pertama pendidikan formal arsitektur Indonesia setelah masa kemerdekaan. Lulusan ITB tahun 1967 ini terkenal karena kegigihannya memperjuangkan identitas arsitektur Indonesia di jaman ketika modernisme sedang dahsyat melanda seluruh muka bumi.
Masa akhir perang dunia menjadi ladang subur international style, gaya modern dengan mantra ‘less is more’ berciri strandarsisasi dan mekanisasi material bangunan. Gaya ini pula yang banyak diadopsi oleh arsitek berbagai negara dalam wujud bangunannya pada pavilion Japan Expo 1970. Robi Sularto masih cukup muda, hanya tiga tahun setelah menyelesaikan pendidikan formal arsitektur, merancang pavilion Indonesia dengan gaya yang sama sekali berbeda. Di saat baja dan kaca menjadi norma, Robi menggunakan pendekatan vernakular dengan pilihan arsitektur pola natah rumah tradisional Bali. Bukan menerapkan secara murni, tetapi dengan daya kreasi dan pendekatan modern, pavilion Indonesia mencuri perhatian pengunjung expo. Karya ini menjadi titik tolak sekaligus menumbuhkan kepercayaan bahwa arsitektur Indonesia tidak harus meniru tren yang sedang melanda dunia. Seni pertukangan dan pengetahuan arsitektur local yang mengakar, prinsip yang seolah bertentangan dengan premis modernisasi yang mengutamakan presisi tinggi, biaya minim dan ke-baru-an, ditempatkan dalam posisi terdepan dalam perwujudan karya Robi.
Persentuhannya dengan arsitektur modern terjadi saat bersama-sama banyak lulusan awal arsitektur masa itu magang di proyek CONEFO. Ir. Suyudi almarhum yang merupakan salah satu arsitek modern di awal masa kemerdekaan Indonesia pada masa itu banyak merancang gedung gedung pemerintahan. Bersama Suyudi lah Sularto banyak terlibat dalam proyek-proyek seperti gedung DPR dan MPR dan beberapa proyek mercusuar masa pemerintahan Presiden Sukarno.
Robi selanjutnya sering melakukan eksplorasi dan pertukaran ide dengan banyak pihak: undagi, ahli struktur, engineer, ahli ekonomi, antropologi dan ahli berbagai bidang lainnya. Pertukaran ide ini dilakukan bersama kelompok Tjampuhan Society dimana Buckminster Fuller pernah menjadi anggotanya. Diskusi-diskusi dengan berbagai ahli tersebut membentuk latar belakang keilmuan Robi menjadi campuran antara kemampuan engineering jaman baru dengan nilai filsafat, estetika, identitas serta sejarah yang kemudian berpilin mewujud dalam setiap karyanya.
Bersama beberapa kawan seangkatan, Robi membentuk firma arsitektur legendaris Indonesia, Atelier Enam. Firma yang sempat menjadi ikon dunia arsitektur di Indonesia dengan karya-karya ber-identitas Indonesia. Diantara teman-temannya di firma ini, Robi dikenal dengan segala keunikannya. Pemahaman Robi yang sangat mendalam akan arsitektur tradisional Indonesia sangat kental mewarnai karya-karya Robi Sularto. Hal ini menyebabkan secara personal, Robi tidak pernah kehilangan identitasnya meskipun bergabung dengan rekan-rekannya yang lain dengan minat yang berbeda-beda dan sama sama memiliki karakter yang kuat. Robi juga dikenal sebagai orang yang sangat mencintai detail-detail ketukangan: atap yang penuh detail, dinding yang axisnya diputar 45 derajat dari axis utama bangunan adalah beberapa macam ciri karyanya.
Temuan-temuan termutakhir di bidang ilmu pengetahuan dan rekayasa, oleh Robi disandingkan dan ditransformasi dengan balutan pengetahuan dan nilai arsitektur lokal yang telah berjalan ribuan tahun di Indonesia. Secara sadar, Robi membawa arsitektur Indonesia untuk tidak canggung bergaul dengan arsitektur lain pada jamannya menjadi wakil dari identitas ke-Indonesia-an. Karya-karyanya tidak meniru begitu saja arsitektur tradisional serta tidak mentah-mentah meng-copy arsitektur modern.
Nusa Dua Beach Hotel, salah satu hotel pertama yang dibangun atas rekomendasi dari study SCETO 1971, menjadi pembuktian pandangannya dalam ber arsitektur. Sekalipun mengambil titik tolak yang serupa dengan yang dilakukan Peter Muller saat membuat proposal Matahari Beach Hotel di Sanur, Robby tidak melakukan peniruan arsitektur tradisional dari segi wujud. Jika Muller mengambil ide wujud dan bentuk bangunan: rumah tinggal, wantilan, tembok rurung dsb., Robi mewujudkan ide-ide tata ruang tradisional sesuai dengan intepretasinya terhadap sebuah perkampungan Bali di jaman modern. Hasilnya, sebuah hotel dengan filosofi Bali: memiliki nafas dan jiwa tradisional, namun tidak satu bangunanpun mengambil secara utuh wujud bangunan tradisional Bali.

Kesuksesan desain Nusa Dua Beach Hotel sempat menimbulkan kelatahan di seantero Indonesia. Sejak kesuksesan hotel ini, seolah-olah semua bangunan pemerintah harus dibuat sesuai dengan nafas tradisional setempat.
Tidak hanya hotel, Robi juga banyak membangun bangunan lain, perkantoran pemerintah, kantor bank serta BUMN, hingga fasilitas pengunjung di Pura Samuan Tiga. Di hampir semua karyanya, Robi mengeksplorasi teknik membangun serta teknik ketukangan baru namun tidak tercerabut dari akar arsitektur tradisional. Karya-karyanya menjadi orisinal, bukan peniruan terhadap arsitektur tradisional, sekaligus menyesuaikan diri dengan jamannya. Kepiawaiannya dalam melakukan interpretasi arsitektur vernacular serta pengetahuannya yang mendalam terhadap teknik konstruksi baik tradisional maupun modern mengantarkannya pada pengakuan secara internasional sebagi arsitek yang memperjuangkan identitas arsitektur lokal.

***
Baik Tugur maupun Robi memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengerjakan karyanya. Tugur mengedepankan pada fantasi dan mitologi lokal dalam bentuk ornamen dan wujud bangunan dalam skala ‘grande’ dipadukan dengan berbagai gaya arsitektur yang ditampilkan dalam nuansa Bali yang kental melalui pemakain bahan dan ornament lokal. Robi, di lain pihak, menggali nilai dan nafas arsitektur lokal termasuk teknik konstruksinya, memadukan dengan pengetahuan teknologi terkini dan memberi interpretasi ulang sehingga menghasilkan karya yang bermakna lokal namun bernilai modern. Satu benang merah yang menghubungkan kedua tokoh ini adalah, meminjam idiom yg sering dipakai Josep Prijotomo, keinginan mereka untuk me-modern-kan arsitektur Bali bukan sebaliknya mem-Bali- kan arsitektur modern.

Bacaan selanjutnya
Abel, Chris and Foster, Norman, 2012, Architecture and Identity, second edition, Routledge
Alsayyad, Nezar, 2014, Traditions: The “Real”, the Hyper, and the Virtual In the Built Environment, Routledge
Asquith L.,Vellinga, M., 2006 , Vernacular Architecture in the 21st Century: Theory, Education and Practice, Taylor and Francis
Bourdier, Jean-Paul., AlSayyad, Nezar, 1989, Dwellings settlements and tradition cross-cultural perspectives, Lanham : University Press of America ; Berkeley, CA : International Association for the Study of Traditional Environments
Covarrubias, M. 1986. Island of Bali. First published in 1937. London. KPI limited
Creswell, Tim, 2004, Place: a Short Introduction (first edition), Malden, Oxford, Victoria: Wiley Blackwell
Sularto, R. (1987) A Brief Introduction Traditional Architecture of Bali: Some Basic Norms, Aga Khan Architecture Awards Speech
Oliver, P., 2007, Built to Meet Needs: Cultural Issues in Vernacular Architecture, Routledge
Oliver, P, 2007, Dwellings: the Vernacular House Worldwide, Phaidon Press Ltd; New edition edition
Relph, Edward, 1976, Place and Placelesness, Pion Ltd
Waterson, Roxana, 1997, Living House: An Anthropology of Architecture in South-East Asia, Singapore: Tuttle Publishing