Berada di Masa Kini, Berakar di Masa lalu, Mau Kemana Arsitektur Bali?

Pertama-tama tentu penting bagi kita untuk memiliki pemahaman tentang apa yang kita maksud dengan arsitektur Bali. Untuk itu, saya coba menguraikan beberapa pendapat mengenai pemahaman ini. Pendapat pertama, yang sering kita dengar arsitektur tradisional Bali, adalah arsitektur yang sesuai dengan hasta kosala kosali. Hasta kosala kosali sendiri adalah kitab yang salah satunya memuat tata cara membangun berbagai jenis bangunan. Karena berupa teks tertulis, maka bisa dipastikan waktu kelahirannya adalah setelah manusia mengenal tulisan. Membatasi pemahaman pada pengertian ini berarti mengingkari arsitektur yang sudah ada sebelum dikenalnya tulisan.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Man_met_balen_stro_naast_een_wacht-_of_klokkentoren_in_een_dorp_op_Bali_TMnr_60049096

Bangunan bale kulkul di Bali timur. (Sumber gambar: Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT), the files are licensed under the Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported)
Pengertian kedua, yang juga sering kita dengar adalah, arsitektur Bali yang dihubungkan dengan ke-setempat-an atau locality. Dalam hal ini sering disebut sebagai arsitektur vernacular.  Lalu apa bedanya antara pengertian yang pertama tadi dengan yang kedua ini? Arsitektur vernacular, memiliki cakupan yang sedikit lebih luas.  Tidak hanya karya-karya yang dikenal setelah masa melek huruf, tetapi mencakup semua karya arsitektur manusia yang lahir di suatu tempat, dikerjakan dengan cara setempat, oleh para tukang setempat dengan bahan bangunan dan cita rasa tempat dimana bangunan tersebut berada. Rumah-rumah di Tenganan, Bugbug, Sukawana, Sidatapa dan beberapa desa kuno lainnyadi Bali termasuk di dalam golongan ini. Baik arsitektur dalam golongan hasta kosala kosali maupun yang disebut sebagai arsitektur vernacular dibangun oleh arsitek tradisional yang memperoleh pengetahuan arsitektur tidak di bangku pendidikan formal melainkan melalui cara apprenticeship, magang pada praktisi yang lebih senior selama kurun waktu tertentu, berdiskusi, serta mempraktekkan secara bersama-sama. Para pembangun ini lumrah disebut sebagai undagi.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Verkoopsters_van_etenswaren_voor_een_gebouw_waar_hanengevechten_plaatsvinden_in_Oeboed_TMnr_10023792

Bangunan wantilan serba terbuka. (Sumber gambar: Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT), the files are licensed under the Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported)

Sekarang kita lihat perkembangan arsitektur Bali setelah era undagi, di mana arsitek dengan pendidikan formal mengambil alih peran dan kendali atas bentuk bangunan yang kita pergunakan. Awal tahun 1970-an, didalangi oleh Wija Waworuntu dan Donald Friend, yang hendak mengembangkan hotel untuk kebutuhan pariwisata, beberapa arsitek datang ke Bali: Peter Muller, Geofrey Bawa dan Kerry Hill. Dengan keteguhan Donald Friend dan Wija Waworuntu, ketiga arsitek mengembangkan fasilitas wisata dengan mengadopsi bentuk-bentuk arsitektur tradisional Bali. Setelah era pemerintahan kolonial, mungkin tiga orang inilah ‘arsitek formal’ dengan pendidikan non tradisional pertama yang berpraktek di Bali. Ketiganya mengembangkan bangunan hotel resort, yang pada masa itu sangat asing dalam perbendaharaan arsitektur Bali, dengan cara ‘meniru’ bangunan tradisional Bali yang telah ada sebelumnya. Karya-karya ketiga arsitek ini bisa dibilang pioneer dalam pengembangan arsitektur tradisional Bali, meskipun sejatinya mereka adalah arsitek yang berkecimpung di dunia desain modern. Lebih uniknya lagi, bangunan mereka hadir dalam gaya tradisional yang kental jauh sebelum adanya aturan tentang pengembangan arsitektur tradisional Bali. Kesadaran personal serta tanggung jawab sosial barangkali menjadi kunci wujud karya karya mereka selain, tentu saja, pertimbangan pasar pariwisata yang mengedepankan sisi romantisisme lokal.

7261_87_z

Di masa yang lebih baru, akhir tahun 70-an hingga awal tahun 80-an, hadir pula Martin Ground, dari firma Ground Kent yang berbasis di Perth dan beberapa arsitek asing lainnya, turut meramaikan perbendaharaan bentuk yang bersumber dari bangunan-bangunan tradisional Bali. Kelompok arsitek asing ini kemudian melahirkan apa yang di dalam buku-buku meja kopi (coffee table books) sebagai Bali Style. Mengangkat serta menempatkan ke-Bali-an sebagai titik pusat pusaran ide-ide desainnya. Karya-karya arsitek ini menekankan pada romantisisme vernacular pulau tropis, berbau nostalgia serta menggunakan wujud dan bahan lokal. Mem-Bali-kan kebutuhan ruang yang modern. Baja adalah material yang tabu dalam aliran ini. Beton juga digunakan secara terbatas. Eksplorasi bentuknya meniru typology bangunan yang sudah ada: wantilan, bale lantang, bale gede, tetapi fungsinya dimodifikasi sesuai kebutuhan untuk melayani para tamu hotel, dilengkapi dengan taman tropis. Secara keseluruhan, karakter karyanya menyerupai perkampungan Bali dalam bentuknya yang ideal. Pada masa sekarang, penerus dari kelompok ini semakin beragam dengan bergabungnya banyak arsitek lokal: Popo Danes, Ketut Siandana, A.A. Yokasara dan lain-lain.
Pada pihak arsitek lokal, Indonesia dan Bali, muncul nama Robi Sularto dan juga Ida Bagus Tugur. Robi Sularto pada tahun 1970-an adalah arsitek muda yang aktif. Masa-masa awal karirnya dimulai dari keterlibatannya dalam pengembangan Bali Style, sebagai partner local, bersama beberapa undagi asli Bali. Sementara Ida Bagus Tugur adalah seorang seniman dengan kemampuan yang komplet, menguasai seni lukis, seni ukir serta sangat fasih dengan filosofi pewayangan. Karya kedua arsitek ini, sedikit berbeda dengan arsitek asing yang datang sebelum era mereka yang berkutat pada bangunan hotel, berfokus pada bangunan perkantoran pemerintah dan swasta serta fasilitas untuk masyarakat umum. Jika para arsitek asing lebih banyak mengeksplorasi bentuk yang lebih tradisional, ber-aroma nostalgia dan romantisisme kepulauan pasifik, maka Robi dan Tugur bermain di ranah yang berbeda. Keduanya berangkat dari nilai lokal yang dimodernkan. Bahan-bahan beton, serta baja tidaklah tabu pada karya-karya keduanya. Eksplorasinya ada pada niat untuk memberi makna baru pada arsitektur tradisional dan menjadikannya tampil modern tanpa kehilangan jejak lokalnya. Generasi berikutnya dari kelompok lokal, didominasi oleh dosen-dosen Arsitektur di Universitas Udayana yang umumnya sempat magang di tempat Robi Sularto serta Ida Bagus Tugur, antara lain Suwetja Kader, I Wayan Gomudha, N Renden, Made Sujana, Nengah Sadri, dan seterusnya. Karya-karyanya meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Sularto dan Tugur.

Dari selintas informasi tersebut, maka kita bisa mengambil sikap bahwa apa yang kita maksud sebagai arsitektur Bali bisa dilihat dari banyak sudut. Dari sekian banyak perspektif, ada beberapa kesamaan. Yang pertama, tidak tergantung pada pemahaman manapun yang kita pakai, terdapat nilai-nilai lokalitas yang berkembang di masyarakat sebagai sumber pengembangan arsitekturnya, baik dalam hal bentuk, bahan serta tata ruang yang bersumber dari nilai-nilai vernacular atau nilai yang terkandung pada lontar Hasta Kosala-Kosali. Karya-karya arsitektur tersebut dibuat dengan nilai setempat yang erat, tata ruangnya identik dengan arsitektur yang ada sebelumnya, menggunakan bahan lokal, melibatkan undagi lokal, bangunannya selaras dengan bangunan di sekitarnya. Hal terpenting lainnya adalah tanggapan terhadap iklim lokal. pemahaman terhadap iklim lokal ini melahirkan karya yang nyaman secara thermal serta tahan terhadap kondisi tropis yang keras. Hal ini tergambar dari karya-karya Peter Muller, Bawa, Robi Sularto, dan yang lainnya.Sedikit berbeda, Tugur mengambil tema cerita tradisi dan mitologi Hindu lalu menterjemahkannya menjadi wujud bangunan. Cara ini membuat bangunan yang dibuat dekat dengan keseharian masyarakat karena cerita-cerita yang dipakai sudah menjadi cerita yang sehari-hari dikenal di masyarakat, meskipun dari segi skala bangunannya sangat berbeda dibandingkan bangunan tradisional umum yang dikenal di masyarakat. Kompleks gedung DPRD Bali di Renon, Kompleks pusat seni Art Centre adalah contoh karya Ida Bagus Tugur yang kental nuansa filsafat Hindu.

art8-4a

Kori Agung Taman Budaya Denpasar, kreasi dan pemaknaan ulang versi Ida Bagus Tugur. (Photo oleh Yoga Widnyana 2015)

Yang kedua adalah adanya proses transmisi, baik dalam kasus arsitek asing maupun arsitek lokal,yang bersumber dari karya-karya generasi sebelumnya. Proses transfer ilmu arsitektur dari generasi ke generasi berlangsung dalam berbagai cara dalam sebuah kawasan. Transmisi secara oral, dan praktek langsung: mendengar instruksi, mengerjakan bersama, menggali bersama kemungkinan2 konstruksi merupakan media umum transmisi. Pada masa yang lebih modern, transmisi berlangsung secara tertulis. Bawa, menggali nilai tradisi dengan melakukan pengamatan intensif terhadap bangunan lain serta melibatkan undagi lokal, yang diajak berdiskusi secara intens sehingga terjadi transmisi dari si undagi kepada Bawa, yang lalu mentransmisikan lagi ilmunya kepada Sularto dan kawan kawan yang terlibat di dalam proyeknya. Sularto selanjutnya meneruskannya dengan membina arsitek muda. Kemampuan Bawa serta Muller untuk memahami karya undagi membantu transmisi ini berjalan dari sistem transmisi tradisional menuju sistem pendidikan arsitektur yang lebih modern, karena pola ini lalu menjalar ke Jurusan Arsitektur Udayana di masa awal tahun 1970-an sampai 1990-an. (Sayangnya semakin ke sini, arah pendidikan arsitektur lebih mengadopsi pendekatan Bauhauss atau CIAM-nya Le Corbusier)
Yang ketiga adalah, nilai-nilai yang ditransmisikan bersifat anonymous atau non-authorship. Banyak diantaranya merupakan karya bersama, karya yang dibuat dan dikerjakan secara kolektif memberi nilai kolektif pula.Tidak pernah terungkap siapa yang pertama kali membangun wantilan, atau yang membuat candi bentar ataupun meru. Karya-karya tersebut bersifat kolaboratif serta tetap menjadi inspirasi ribuan tahun semenjak pertama kali dibuat. Demikian juga rancangan kota dan wilayah di Bali, semua bersifat anonymous dan umumnya merupakan karya kolaboratif.
Dari ketiga pemahaman tradisional tadi, dengan demikian maka dimensi temporal, yang berada di jaman primitive, jaman tradisi, jaman modern,  menjadi semu. Kapanpun sebuah karya dibangun, pada masa apapaun, sepanjang mengandung tiga nilai tersebut: berakar di masyarakat; memiliki keterkaitan serta melalui proses transmisi dari masa sebelumnya; mengandung value kolektif masyarakat Bali maka bisa digolongkan sebagai bagian dari arsitektur tradisional Bali. Kata kunci dari diskusi kita adalah pada keber-akar-an sebuah karya. Orang barat menyebut dengan istilah rootedness. Akar ini tidak kaku tetapi sangat bisa re-intepretasi, di re-kreasi dan diberi pemaknaan ulang sesuai dengan jamannya.

Baiklah kita bandingkan dengan pemahaman berdasarkan perbandingan di atas dengan apa yang terjadi hari ini. Bali, khususnya Denpasar dan Badung bagian selatan kini berkembang pesat. Pembangunan bidang ekonomi dan sosial tak pelak memicu pula pembangunan di bidang fisik.Pesatnya pembangunan pariwisata telah mengundang investor untuk menanamkan modalnya di bagian selatan Pulau kecil ini. Pariwisata juga memancing bisnis lain: pendidikan, kesehatan, kuliner, bisnis kebutuhan tersier,yang berkembang sama pesatnya. Semua kegiatan ini membutuhkan ruang untuk tumbuh. Mayoritas tepi jalan telah terbanguni, sawah-sawah semakin berkurang, ruang terbuka semakin langka, jalan telah diaspal memaksa pejalan kaki mengalah pada kendaraan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Arsitektur Bali Baru dari dua lapis jaman berbeda

Mari, secara virtual, kita berangkat dari arah Renon lalu terus ke arah Jalan Dewi Sartika dan melanjutkan ke Jalan Teuku Umar hingga tembus ke perbatasan antara Denpasar dan Badung di kawasan Simpang Dewa Ruci. Apa yang tersaji di kiri dan kanan jalan memberi gambaran pembangunan fisik yang terjadi di kawasan Bali selatan. Secara sosial dan ekonomi denyut pembangunan terasa kencang. Bangunan-bangunan komersial menjejali hampir seluruh tepi jalan. Bangunan ini bukan rumah tinggal atau bangunan sosial tradisional dan bukan juga bangunan peribadatan pura, seperti di masa lalu. Bangunan yang tersaji adalah: ruko, kantor, bengkel, hotel, pusat jajanan, serta pusat perbelanjaan kecil. Saya memperkirakan, bangunan-bangunan baru tersebut dibangun setelah tahun 1990-an atau di awal tahun 2000-an.
Bangunan yang ada di kiri kanan jalan tadi, secara fungsi, tidak berkaitan sama sekali dengan fungsi-fungsi bangunan dari masa sebelumnya yang menjadi akar arsitektur tradisional Bali. Fungsi- fungsi baru tersebut hadir setelah era 2000-an dimana sebelumnya di era awal 1990-an muncul secara malu malu. Jadi secara fungsi, typologinya sama sekali baru.

Lalu bagaimana dengan bentuknya? Bentuknya yang paling umum, sebagaimana sebagian besar bangunan tropis, masih didominasi atap limasan dengan denah kotak. Berbeda dengan prinsip arsitektur ramah iklim dalam ranah vernacular, beberapa bidang kaca memenuhi bagian wajah disertai dengan teritisan pendek.Yang nampak menonjol adalah ornamen serta warna. Berlomba menampilkan identitas diri, serta berusaha menarik perhatian pengendara kendaraan serta pejalan kaki, ukiran besar berbahan batu alam atau bata, warna warni mencolok. Ada juga yang menampilkan garis garis kayu atau aluminium, box berwana mencolok, permainan maju mundur teras serta bermain bidang massif dan non-massif. Kreasi perancang dan pembuatnya seolah tidak memiliki batasan yang rigid melainkan cair atau fluid. Semua dimungkinkan karena ketidakterbatasan pada material, teknik konstruksi, serta panduan membangun.

Bangunan-bangunan baru tadi, membuat lansekap perkotaan Bali, terutama di bagian selatan, memiliki karakter yang sangat kaya. Bangunan tinggalan terdahulu dalam beberapa typology: pura, balai banjar, rumah tinggal dengan bentuk dan bahan serta dikerjakan dengan tekniktradisional, berbaur canggung dengan bangunan baru untuk kegiatan perekonomian. Karena bangunan baru memiliki fungsi ekonomi yang lebih dominan, maka bisa dimaklumi jika perhitungan ekonomi menjadi pertimbangan utama dalam perancangannya.

Meskipun bangunan yang muncul belakangan sangat beragam dari segi bentuk, warna dan nilai estetika, namun ada prinsip kesamaannya. Ciri-ciri bangunan yang dibangun pada era setelah 2000-an sangat dekat dengan mantra ilmu ekonomi yaitu efisiensi. Bangunan dibuat dengan se-optimal mungkin memanfaatkan luas lahan, yang harganya belakangan sudah melambung. Materialnya dipilih yang memiliki harga yang ekonomis, mudah dikerjakan serta tersedia dalam jumlah yang banyak. Secara teknik juga dipilih yang bisa dikerjakan dalam waktu yang singkat sehingga bisa segera dioperasikan, dengan demikian balance sheet bisa segera tercipta. Dengan demikian waktu pengerjaan juga menjadi esensial dalam wujud bangunan termutakhir yang tersaji di lansekap kota. Lalu cirinya yang kedua adalah keinginan untuk tampil menonjol serta mengedepankan kreativitas ‘ yang penting tampil beda’ dengan bangunan sekitarnya. Kreativitas dan ‘beda’ ini ditampilkan dalam berbagai wujud.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Arsitektur Bali baru, mencoba mendekatkan yang lama dengan yang baru. (Photo oleh penulis)

Dari prinsip bangunan yang berakar pada kese-tempat-an dengan bangunan yang berakar pada efisiensi, dan keinginan ‘tampil beda’ muncul diskursus. Karena titik tolaknya berbeda maka diskursus ini bisa semakin tajam dan mengundang perdebatan yang tidak berkesudahan.Diskursus ini, meskipun sepertinya agak sulit dicarikan jalan tengahnya, perlu dicarikan jalan tengah.

Wang Shu, arsitek kelahiran China, pernah mengatakan bahwa saat memulai karirnya sempat tersesat pada daya tarik post-modernisme. Karya-karya yang dihasilkan pada masa masa awal karirnya kontras dengan lingkungan serta, diakuinya, mengingkari sejarah diri dan asal muasalnya, China (Palaasma in Brislin, 2012). Belakangan Wang Shu menggali akar budaya serta arsitektur lokal China secara intensif. Karya karya terbarunya menunjukkan bentuk yang memiliki akar budaya China yang sangat kuat meskipun sama sekali tidak meniru mentah-mentah bentuk bangunan jaman dahulu. Upaya penggalian serta pemaknaan ulangnya terhadap nilai lokal yang tiada henti serta mewujud dalam karya-karya termutakhirnya pada akhirnya memberinya ganjaran ‘nobel’ arsitektur Pritzker Prize tahun 2012. Wang Shu mungkin terlalu jauh untuk dijadikan contoh, kita lihat sekitar yang lebih dekat. Eksperimen Ketut Arthana menunjukkan upaya serupa, menjaga akar budaya, dengan bentuk dan fungsi yang baru. Bentuk-bentuk dasar lingkaran, teknik konstruksi yang mutakhir serta wujud karyanya yang revolusioner tidak canggung untuk berdampingan dengan bangunan bangunan milik masyarakat pedesaan dimana bangunan tersebut berada.

Barangkali ini saat yang tepat untuk menempatkan tradisi pada posisinya yang pas. Tradisi tidak harus diperjuangkan secara kaku. Rapoport (1990) menyarankan agar kita lebih fleksibel dalam menyikapi apa yang sudah ditransmisikan oleh pendahulu kita: tidak perlu terlalu kaku dan tidak juga perlu terlalu antipati hingga meninggalkan tradisi itu sendiri. Tradisi itu ada untuk selalu mendapat pemaknaan ulang agar tradisi itu selalu aktual tanpa memandang bingkai waktu. Selanjutnya ada baiknya pandangan Roxana Waterson dalam memandang tradisi kita pertimbangan untuk menghadapi persoalan hari ini dan persoalan masa depan dengan berkaca pada masa lalu (Waterson, 1997). Atau barangkali saran dari Bourdier dan Alsayyad (1989) bisa dijadikan sebagai pijakan untuk melangkah ke depan menentukan takdir arsitektur Bali dalam menjaga kesinambungan sejarah dengan cara menempatkan pengetahuan arsitektur tradisional sebagai dasar re-intepretasi yang dinamis. Akhirnya saya tutup diskusi ini dengan mengutip argument Marcel Velinga, tentang bagaimana kita menempatkan pengetahuan vernacular dalam menjaga keberlanjutan arsitektur dan lingkungan tanpa membatasi kreativitas:
… the vernacular (should be used) as a source of architectural knowledge and that critically examines the way in which this know how may be integrated with new forms, resources and technologies so as to develop culturally and environmentally sustainable architecture for the future(Velinga in Oliver, 2007).
Salam!

Bahan Bacaan
Abel, C. (2000). Architecture and Identity: Responses to Cultural and Technological Change. Oxford: Architectural Press.
Bourdier, J.P. and Alsayyad, N. (1989).Dwellings, Settlements and Traditions: Cross Cultural Perspectives. Lanham: University Press of America
Brislin, P. (2012). Human Experience and Place: Sustaining Identity. Architectural Design.John Wiley and Sons.
Kusno, A. (2000).Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space and Political Cultures in Indonesia.London: Routledge
Norberg-Schulz, C. (1980). Genius-Loci: Towards a Phenomenology of Architecture, Rizzoli International Publications; New edition
Oliver, P. (2007). Dwellings: The Vernacular House Worldwide. London: Phaidon
Oliver, P. (2006). Build to Meet Needs. London: Architectural Press.
Rapoport, A. (1990). The Meaning of the Built Environment. Arizona: University of Arizona Press.
Relph, E (1976). Place and Placelesness. London: Pion Limited.
Tuan, Y.F. (1977). Space and Place: The Perspective of Experience. Minneapolis: University of Minnesota Press
Waterson, R. (2006). The living House: an Anthropology of Architecture in South East Asia. Singapore: Tuttle Publishing

Gerakan Regionalisme dalam Pusaran Arsitektur Modern, Bagaimana dengan Bali?

 

Maraknya kritik terhadap arsitektur modern yang memuncak di akhir tahun 70-an sepertinya tidak berhasil dijawab oleh kehadiran arsitektur post-modern yang secara tegas tegas melawan kekuatannya. Alih-alih memberi solusi terhadap kritik yang dialamatkan kepada arsitektur modern, pemikiran yang muncul dalam arsitektur postmodern justru menimbulkan perdebatan baru. Wujud-wujud yang muncul dalam lingkup postmodern dikeluhkan hanya menyelesaikan persoalan estetika tetapi belum menyangkut hal-hal yang lebih prinsipil. Jauh sebelum postmodern muncul, setelah masa revolusi industry, sebenarnya kritik terhadap arsitektur sudah seringkali muncul dalam perdebatan. Sayangnya kritik tersebut tenggelam di tengah arus internationalisasi yang menggejala dengan keunggulannya: cepat-ringkas-ekonomis.

Mies_van_der_Rohe_photo_Farnsworth_House_Plano_USA_3

Baja dan kaca penemuan baru jaman revolusi industri menjadi norma arsitektur baru awal abad 20. Farnsworth House oleh Mies van der Rohe. Sumber: Commons.wikimedia.org

Kritik terhadap arsitektur sebenarnya tidak berada pada bingkai temporal: modern atau tradisional, yang dulu atau yang kini. Penekanan kritik pada masa awal abad kedua puluh ada pada pola penyebaran paham dalam bentuk internasionalisme yang mendompleng modernisasi. Sebelum munculnya kritik terhadap arsitektur modern, penemuan bahan baja, kaca dan beton memungkinkan bangunan untuk dibangun dengan cara yang baru. Material bangunan bisa diproduksi dalam jumlah besar, sebelumnya harus diperoleh dari alam dan jumlahnya terbatas. Penemuan mesin uap juga memungkinkan perpindahan material dari satu wilayah ke wilayah lain dengan relative lebih mudah. Teknologi serta mesin-mesin baru diciptakan sehingga meminimalkan kerja manusia sekaligus merubah teknik-teknik membangun. Pada awal abad kedua puluh, bahan bangunan, teknologi serta gaya arsitektur baru menyebar ke seluruh dunia. Gaya yang lalu disebut sebagai ‘international style’ dengan slogan arsitektur, ‘less is more’, yang dicetuskan Mies van der Rohe. Dalam waktu singkat gaya arsitektur baru ini menjadi penanda masyarakat baru, masyarakat yang lebih modern, lebih maju serta lebih praktis dan efisien.

Masa akhir abad ke 19 hingga pertengahan abad keduapuluh negara negara besar dunia mengalami ketegangan secara politik, memperebutkan wilayah jajahan serta keinginan untuk menguasai perekonomian. Negara-negara di eropa dan amerika saling berlomba, beradu teknologi ingin menonjolkan keunggulannya. Kehadiran arsitektur dengan material, teknologi dan wujud baru turut serta menjadi alat propaganda. Banyak negara yang membangun bangunan dalam bingkai arsitektur bergaya baru ini sebagai monument keberhasilan bangsanya, menunjukkan capaian mutakhir bidang ilmu rekayasa arsitektur. Alih-alih menghasilkan karya yang merepresentasikan keunggulan serta keunikan, arsitektur di banyak negara justru menjadi tampil seragam. Kolom tegak menyangga balok melintang sebagai rangka dibungkus kaca berdiri monumental menjadi norma dimana mana.

Dalam kolom Sky Line yang dimuat majalah New Yorker tahun 1941, Lewis Mumford mengkritisi gelaja baru arsitektur yang terjadi dimana-mana. Kehadiran bangunan-bangunan baru dianggap menjauhkan manusia dari alam, menciptakan jarak antar masa kini dan masa lalu akibat tidak dipergunakannya unsur sejarah sebagai referensi. Ketiadaan referensi terhadap lokalitas, akibat mengejar image, juga menjadi sasaran kritik terhadap gaya arsitektur baru ini. Mumford, dalam kritiknya mengatakan bahwa arsitektur yang berwujud serupa di mana mana membuat ‘feel at home’ menjadi hilang. Bangunan-bangunan baru gagal menjalin ikatan emosional dengan penghuninya serta dengan lingkungan sekitarnya. Tanpa memandang batas territorial, bangunan di kota-kota di Amerika serupa-sebangun dengan di belahan dunia lainnya. Demikian pula bangunan di daerah bergunung dan daerah pantai dibuat dengan pendekatan yang sama.

Kritik Mumford tidak menyurutkan penyeragaman gaya international style. Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan: material yang bisa dicetak sesuai kehendak perencana, bisa dipindahkan dari satu negara ke negara lain, proses produksi yang serupa mesin sehingga lebih efisien dari segi waktu, serta wujud yang monumental, membuat gaya international style semakin memuncaki wacana arsitektur dan menjadi kurikulum baku di bangku kuliah arsitektur. Diajarkannya materi-materi dan teknologi membangun yang bersumber dari pendidikan bersifat ‘mesin’ segera menggantikan peran arsitek tradisional yang dididik dengan cara apprenticeship, trial and error menggunakan material serta berlandaskan budaya setempat. Lulusan sekolah formal arsitektur ini menjadi arsitek serta agen-agen baru international style yang membanjiri dunia kerja arsitektur di masa tersebut.

Secara halus, Bernard Rudofsky melalui pameran dan katalognya yang terkenal, Architecture without Architects, menyindir perkembangan arsitektur yang kian jauh dari kondisi alamiah setempat, teknologi serta budaya lokal dan sejarah. Di dalam pamerannya, ratusan foto menampilkan karya-karya permukiman tradisional masyarakat di berbagai belahan dunia. Karya yang dibangun berdasarkan iklim setempat, budaya setempat, ketrampilan pertukangan setempat dan telah terbukti bertahun-tahun mampu mengatasi persoalan manusia akan hunian dengan mempertimbangkan iklim serta pola hidup dan budaya masyarakatnya. Selanjutnya semakin banyak yang mencoba menawarkan pemikiran baru bidang arsitektur hingga kelahiran post-modernism di tahun 1970-an.

Regionalism, demikian istilah yang dipakai selanjutnya sebagai lawan dari internationalism, adalah arsitektur yang dibangun dengan semangat kese-tempat-an. Mumford menolak mentah-mentah jika regionalism disamakan dengan mengulangi arsitektur masa lalu. Regionalism adalah sesuatu yang modern tetapi dibangun sesuai dengan keadaan setempat: mempertimbangkan iklim, kontur, budaya, serta teknik konstruksi yang mampu menyelesaikan persoalan specific di tempat bangunan didirikan. Meniru apa yang sudah pernah dibangun, menurut Mumford, bukanlah regionalism. Semangat regionalism harus mampu menyelesaikan persoalan teknik dan estetika masa kini tanpa meninggalkan konteks kondisi alamiah dan budaya setempat yang unik. Dari daratan Amerika, Frank Lloyd Wright adalah contoh regionalist yang disegani demikian pula Sir Edward Lyuten di Inggris.  Frank Lloyd Wright mengembangkan prairie house sesuai dengan keadaan gurun Prairie, dengan karakter setempat, tanpa memaksakan meniru satupun bangunan yang telah ada. Bangunan karya-karya Frank Lloyd Wright (FLW) bukan pengulangan tetapi keberlanjutan dari arsitektur prairie yang telah ada sebelumnya. Semangat ini sangat kental tercermin dalam karya karya FLW hingga akhir hayatnya.

bethdraw

beth1a

Beth Synagogue oleh Frank Lloyd Wright. Sumber: http://www.wrightontheweb.net 

Sejalan dengan apa yang dilakukan FLW, Mumford percaya, tidak mungkin menghidupkan apa yang sudah mati.  Tugas arsitek adalah meneruskan akar masa lalu dalam mewujudkan arsitektur masa kini dan masa depan. Mumford menolak ide untuk melakukan peniruan bahkan terhadap penggunaan material yang sama persis dengan masa lalu. Penggunaan material maupun teknologi harus disesuaikan dengan jamannya tetapi semangat dan jiwa bangunan harus menyatu menciptakan keharmonisan dengan penghuni dan lingkungan sekitarnya serta menyelesaikan kebutuhan ruang masa kini dengan tetap memegang akar dimasa lalu. Regionalism Mumford bukanlah romantisisme masa lalu yang diwujudkan di masa kini melainkan menjaga kesinambungan tanpa kehilangan semangat ke kini an.

Suka Ozkan (1985) mengusulkan sebuah rumusan tentang regionalism dalam arsitektur. Ozkan mengelompokkan regionalism menjadi dua arus besar dan masing-masing arus dibagi lagi menjadi dua sehingga menjadi empat kelompok spesifik. Kelompok besar pertama adalah vernacularism terdiri atas dua kelompok yang lebih kecil yaitu conservative vernacularism dan interpretive vernacularism. Semantara kelompok kedua adalah modern regionalism dengan concrete regionalism dan abstract regionalism sebagai turunannya.

Conservative vernacularism dicirikan dengan penggunaan arsitektur setempat yang sudah berkembang selama ribuan tahun dan diaplikasikan dengan metode, cara, material, serta bentuk yang serupa dengan yang sudah dipraktekkan sebelumnya. Metode ini dipopulerkan oleh Hasan Fathy di Mesir untuk membangun perumahan bagi masyarakat tidak mampu. Dengan kemampuan teknis sebagai arsitek, Hasan Fathy mengenalkan ulang teknik konstruksi tradisional kepada masyarakat kabanyakan serta membantu mereka mewujudkannya menjadi hunian. Teknik ini mencapai kesuksesan karena mampu diterima serta beradaptasi dengan baik di kalangan masyarakat pedesaan. Conservative vernacularism meniru wujud serta cara kerja arsitektur setempat. Di lain pihak interpretive vernacularism Nampak mirip dengan apa yang diterapkan oleh Hasan Fathy. Namun perbedaan mendasar ada pada tujuan dibangunnya sebuah bangunan. Jika Hasan Fathy membangun untuk memenuhi kebutuhan mendasar manusia akan tempat tinggal, maka interpretive vernacularism mengadopsi bentuk traditional vernacular untuk kepentingan menciptakan images dan kesan visual semata. Secara wujud, karya karya dalam kelompok ini mirip dengan arsitektur vernacular, tetapi tidak mengadopsi cara kerjanya. Penghawaan dan pencahayaan buatan, serta atap yang hanya berfungsi ornament adalah cirinya. Bangunan-bangunan semacam ini banyak dipakai untuk mewujudkan fantasi ‘lokalitas’ pada bangunan akomodasi wisata. Peniruan ornamen, penggunaan material lokal, sementara di balik ornament, sebenarnya bangunan sangat modern. Boleh dibilang bangunan semacam ini memiliki jiwa dibungkus kulit yang berbeda. Karena hanya bersifat memberi kulit, tidak banyak arsitek yang sukses menerapkan gaya ini yang juga jamak disebut neo-vernacular.

157488_sv

Concrete vernacularism: Luxor cultural Centre oleh Hasan Fathy. Source: http://www.dome.mit.edu

tumblr_mrye7gYxs71r9f4pao3_1280

Form follows climate: Madhya Pradesh Vidhan Sabha oleh Charles Correa dibangun sebagai tanggapan terhadap iklim dan budaya setempat. Sumber: http://genericarchitecture.tumblr.com/ 

Dua kelompok lainnya yaitu concrete regionalism dan abstract regionalism. Di dalam aliran ini, penggunaan material dan teknik kontemporer tidaklah diharamkan. Pemahaman regionalism Mumford, lebih kurang mengarah pada aliran modern regionalism ini. Misalnya pada kelopmpok concrete modernism, penggunaan feature, fragment atau bentuk tradisional dimungkinan dengan menggunakan teknik-teknik kontemporer. Sementara pada abstract regionalism, meskipun secara kasat mata Nampak sangat modern, namun cara kerja bangunan serta makna yang dihasilkan bersumber dari nilai nilai local. System penghawaan alami, pencayaan mengandalkan pengetahuan tentang posisi dan pergerakan matahari, tanggapan terhadap kontur site serta pemaknaan terhadap budaya local dicapai dengan memenfaatkan teknologi serta material kontemporer.

1313462157-5933306410-bdd136fe64-b

Interior Bagsværd Church, tata olah bentuk, tekstrur, pencahayaan dan penghawaan alami dalam kulit modern oleh Jorn Utzon. Sumber: http://www.archdaily.com 

Always credit © Nico Saieh as author of these photographs

Säynätsalo Town Hall oleh Alvar Aalto mengunakan bata dan kayu menciptakan kualitas permukaan serta hubungan yang erat dengan lokasi bangunan dalam wujud yang sama sekali baru. Sumber: http://www.tumblr.com

Kenneth Frampton Jørn Utzon Bagsværd Church (1973–6), di dekat Kopenhagen sebagai perkawinan sempurna antara material kontemporer dengan makna tradisional. Tradisional disinipun bersifat universal tidak merujuk pada budaya tertentu tetapi lebih pada makna dan cara kerja bangunan. Dari luar, gereja dibangun menggunakan material prefab modern sementara di bagian interior, ruang yang tercipta menyiratkan makna yang berbeda. Regionalisme menurut Frampton sudah semestinya mengadopsi arsitektur modern secara kritis terutama nilai nilai progressive yang ditawarkannya namun pada saat bersamaan makna dan nilai mesti ditempatkan pada konteks geografis. Penekanannya, Frampton melanjutkan, diberikan pada tanggapan terhadap topografi, iklim setempat, cahaya dan tektonik form dan bukan pada tampilan visual semata. Jadi jelas, bahwa regionalism tidak berlawanan dengan dan bahkan merupakan bagian dari modernisme tetapi yang hendak ditentang adalah internationalisme, penyeragaman serta adopsi membabi buta yang tidak menghormati konteks sejarah dan konteks tempat.

Bagaimana dengan di Bali? Sejauh mana kita memahami lokalitas arsitektur Bali? Topografi, iklim, cahaya, udara dan kelembaban di Bali? Budaya membangun vernacular di Bali dalam mengatasi tantangan tersebut? Regionalism arsitektur Bali hanya akan terwujud jika pengetahuan tentang lokalitas sudah dikuasai dengan baik oleh pelaku arsitektur di Bali mulai dari pengguna, praktisi hingga regulator. Jika pemahaman ini belum kita kuasai dengan baik, akan sangat berat tantangan dalam mewujudkan arsitektur yang berwawasan kese-tempat-an.