Memahami Model Urbanisasi Masyarakat Bali: Desa induk dan Desa Pedunungan

Istilah medunungan barangkali masih asing bagi sebagain orang, terutama yang berusia muda, namun cukup familiar bagi orang yang berasal dari satu desa atau wilayah di Bali dan mencari penghidupan di wilayah lain dan sehari-hari tidak tinggal di daerah asalnya. Istilah rumah induk dan rumah pedunungan ini sebenarnya bukan istilah baru, namun sudah ada semenjak ratusan atau mungkin ribuan tahun dan sangat terkait dengan faktor ekonomi yang membuat seseorang harus tinggal di daerah yang bukan asal atau di mana dia berafiliasi sebagai warga adat. Terdapat kondisi, dimana seseorang harus tinggal dalam jarak yang cukup jauh dari desa asalnya karena harus bertani, menunggui tanaman serta kebutuhan lainnya. Dalam hal ini maka orang tersebut akan membangun tempat tinggal sementara yang disebut rumah pedunungan. Jika dilihat dari fisiknya, karena bersifat sebagai rumah sementara, maka rumah pedunungan umumnya relative lebih sederhana, lebih kecil serta dibuat relatif tanpa ikatan ketat aturan-aturan membangun rumah sebagaimana yang diterapkan di tempat asal. Kondisi ini menyebabkan rumah-rumah  di kawasan pedunungan memiliki bentuk yang berbeda dengan rumah di desa asal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Image 1. Warga asli, yang sedang melakukan upcara adat, berbaur dengan penduduk pedunungan yang berprofesi sebagai pedagang

Tulisan ini akan mencoba mengurai seluk beluk pola serta karakter urbanisasi masyarakat Bali. Pada bagian awal akan coba diungkap latar belakang permukiman serta rumah tinggal dalam masyarakat Bali dalam kaitannya dengan persoalan budaya dan ekonomi. Selanjutnya akan dibahas karakter permukiman tradisional serta persoalan mata pencaharian terutama dalam kaitanya dengan lahan pertanian. Sebuah model akan dibuat berdasarkan atas latar belakang budaya serta ekonomi penduduk permukiman tradisional serta bagaimana perkembanganya di masa kontemporer saat pertanian sudah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pencaharian. Pada bagian akhir kita akan sampai pada simpulan karakter urbanisasi serta bentuk fisik kawasan urban akibat fenomena pola urbanisasi masyarakat Bali. Masyarakat tradisional menempati satu wilayah dan secara administrative menjadi anggota dalam organisasi yang disebut sebagai desa adat. Yang berhak menjadi anggota adalah warga laki-laki yang sudah menikah. Setelah melakukan upacara pernikahan yang sah, maka secara otomatis orang tersebut akan menyandang status sebagai kepala keluarga serta menjadi anggota masyarakat desa. Sebagai anggota, maka seseorang memiliki hak dan kewajiban. Menempati lahan desa serta menggunakan kuburan sebagai lokasi untuk menguburkan atau membakar jenazah anggota keluarga yang meninggal adalah dua hak mendasar disamping hak lain seperti hak politik memilih dan dipilih dalam pemilihan ketua desa serta hak memperoleh pelayanan social, misalnya saat melangsungkan upacara adat di rumahnya. Karena diberi hak untuk tinggal dan menempati lahan desa, maka setiap warga membangun rumah tinggalnya di desa. Secara fisik, rumah-rumah di desa berbentuk serupa sebangun karena beberapa hal. Ukuran lahan untuk setiap penduduk sangat identic meskipun tidak benar-benar sama, mengingat pola demokratis masyarakat desa. Bangunan yang terdapat di dalam plot juga relative sama dipengaruhi oleh kesamaan system religi, aktivitas, serta kesamaan material yang dipakai. Jika dilihat dari bentuk serta strukturnya, rumah rumah tersebut juga nyaris serupa karena, mungkin, dibangun secara gotong royong oleh semua anggota masyarakat dengan teknik yang mereka kembangkan secara local dan komunal. Karakter permukiman di desa mencerminkan sikap dan kehidupan masyarakatnya yang bersifat homogen. Selain rumah tinggal, desa juga terdiri atas bangunan-bangunan lain. Bangunan umum tempat dilaksanakannya rapat-rapat desa, bangunan umum lain tempat pementasan pertunjukan serta pasar, di mana masyarakat melakukan transasksi jual beli eserta pertukaran komoditi untuk memenuhi kebutuhannya. Fasilitas lainnya adalah pura. Di desa adat setidaknya terdapat satu set pura kahyangan yang terdiri atas: Pura desa/ Bale agung, p[ura puseh dan pura dalem. Kewajiban seorang anggota desa adalah untuk turut seerta terlibat secara aktif dalam setiap kegiatan social desa. Kewajiban untuk memberi pelayanan social bila ada anggota masyarakat yang membutuhkan serta kewajiban untuk menjadi penyungsung pura kahyangan desa. Kewajiban-kewajiban ini mengikat setiap anggota masyarakat untuk tetap tunduk dan setia pada desanya untuk menjaga agar hak-haknya sebagai warga tidak hilang. Untuk menghidupi keluarganya serta untuk membiayai keperluan lain, maka seseorang harus memiliki pendapatan. Pertanian merupakan mata pencaharian utama masyarakat desa. Jauh sebelum booming pariwisata dan sebelum Bali bergabung dengan pemerintah RI, diperkirakan nyaris semua penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani, baik di lahan kering maupun lahan basah, serta kegiatan turunannya: peternakan, perikanan darat, pengolahan hasil pertanian. Usaha-usaha di bidang pertanian inilah yang menjadi andalan masyarakat dalam memenuhi setiap kebutuhan hidupnya. Sebagai petani, maka masyarakat desa sangat bergantung pada lahan-lahan subur agar hasil pertanian bisa menghasilkan dan cukup untuk dikonsumsi tanpa kekurangan. Lahan-lahan subur adalah kekayaan utama bagi sebuah desa tradisional dan penduduknya. Lahan-lahan yang subur seringkali tidak berada di sekitar desa, tempat dimana penduduk membangun rumah tinggal serta fasilitas social dan religious desa, namun berada dalam jarak yang relative jauh. Karena jaraknya relative jauh, maka diperlukan tenaga dan waktu yang lebih banyak jika harus tinggal di desa dan bekerja di lahan pertanian yang merupakan sumber ekonomi utama. Kondisi semacam ini tentulah tidak efektif dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Pilihan untuk membangun tempat tinggal sementara di daerah-daerah pertanian banyak ditempuh, terutama oleh masyarakat di desa-desa pegunungan yang jalur-jalurnya curam, untuk menghemat waktu dan meningkatkan efektivitas. Bangunan-bangunan tempat tinggal sementara ini kemungkinan awalnya berupa gubuk sederhana namun seiring berjalannya waktu berkembang menjadi lebih permanen. Beberapa petani, membangun tempat naungan di lokasi yang saling berdekatan untuk memudahkan komunikasi. Lama-kelamaan permukiman yang awalnya sementara ini memiliki cita rasa yang lebih permanent (sense of permanence). Hal ini timbul karena di tempat-tempat inilah sebagian besar kehidupan sehari-hari dihabiskan sehingga terjalin ikatan emosional antara manusia dan tempat tinggalnya. Permukiman permukiman di wilayah perkebunan serta sawah ini membentuk semacam permukiman baru tetapi tidak dilengkapi fasilitas social dan pura seperti di permukiman induk. Di lain pihak, di desa asal, permukiman induk lebih sepi karena sebagian besar penduduknya bermukim di permukiman yang dekat dengan tempat kerjanya. Hanya orang-orang yang tidak bertani yang tinggal di rumah-rumah yang sebagian besar kosong. Akan tetapi pada waktu-waktu tertentu desa akan ramai oleh kembalinya orang orang yang bekerja. Kembalinya para warga yang bekerja umumnya terjadi saat ada upacara di desa. Upacara bisa berupa piodalan atau ngusaba di pura ataupun perayaan hari raya seperti galungan dan kuningan. Namun bisa juga desa induk ramai saat ada upacara manusia yadnya yang diselenggarakan oleh salah satu warga dan warga lainnya harus membantu memberikan pelayanan menyiapkan upacara tersebut. Hubungan antara desa induk dan tempat tinggal warga yang dekat dengan usaha perekonomiannya membentuk semacam satelit. Wilayah-wilayah yang berkembang di tempat penduduk sehari hari bekerja tidak lepas dari desa induk karena ikatan kekerabatan dan ikatan tanggung jawab dalam bentuk kewajiban untuk menyungsung pura kahyangan desa. Dengan menjaga hubungan ini, maka hak-hak orang tersebut untuk tetap memiliki rumah induk di desa, hak untuk mendapat pelayanan social jika memiliki acara adat serta hak menggunakan setra tetap terjaga. Pengingkaran terhadap kewajiban bisa berakibat pada sanksi hilangnya hak. Sanksi yang paling ditakuti adalah tidak diijinkannya menggunakan kuburan desa jika ada anggota keluarga yang meninggal. Layout1

Image 2. Model hubungan antara desa induk dan desa satelit di masa lalu

Di masa kini, saat pertanian sudah tidak lagi menjadi mata pencaharian utama, hubuangan semacam ini tidakmenyurut tetapi menunjukkan gejala yang semakin lumrah. Jika pada masa lalu keadaan desa induk dan desa satelit dipicu oleh motif ekonomi, kini motifnya lebih beragam. Menempuh pendidikan yang lebih tinggi misalnya, menjadi motif lain seseorang meninggalkan desa induk dan pindah ke wilayah lain dimana tersedia fasilitas pendidikan yang ingin dimasuki. Bertambahnya anggota keluarga yang menikah namun tidak lagi tersedia lahan yang cukup di desa memaksa keluarga baru ini untuk mencari lahan untuk membangun rumahnya di desa lain. Kondisi kondisi semacam ini tidak lantas memutus ikatan seseorang terhadap kahyangan desa serta hubungan social antara orang yang tinggal di luar wilayah desa induk. Setalah pertanian bukan lagi menjadi satu-satunya sumber penghasilan, pergerakan penduduk tidak melulu menuju lahan subur melainkan ke wilayah yang menawarkan mata pencaharian, pendidikan serta hiburan yang lebih baik. Wilayah-wilayah yang memiliki karakter demikian, menjadi tempat yang dituju oleh penduduk yang mencari pekerjaan dan dijadikan sebagai tempat tinggalnya di luar desa induknya. Di wilayah baru ini, dibangunlah rumah tempat tinggal sementara selama mencari pekerjaan atau menempuh pendidikan. Terdapat sedikit perbedaan pola dalam hubungan antara desa induk serta tempat tinggal baru yang berada di luar desa, umum disebut sebagai pedunungan, antara di masa lalu dan di masa sekarang. Di masa lalu, motif ekonomi mendominasi dalam bentuk lokasi sawah ladang berada di luar wilayah desa. Lahan-lahan ini mungkin saja berdekatan, antara yang dikerjakan oleh satu penduduk dengan penduduk lain, sehingga mereka bisa tinggal di wilayah yang sama. Di masa kini, dengan motif yang lebih beragam dan juga jenis pekerjaan yang lebih beragam, maka desa-desa satelit tidak lagi memiliki lokasi yang terkonsentrasi di beberapa titik saja, melainkan sudah menyebar ke segala penjuru dengan jarak yang juga beragam. Lokasinya tidak ladi wilayah pertanian, tetapi justru di permukiman lain. Bahkan banyak penduduk yang masih menjadi anggota desa induk tetapi sudah tinggal di luar kabupaten bahkan di luar pulau. Pergerakan penduduk semacam ini membentuk pola pola urbanisasi khas yang unik dimana penduduk bergerak dinamis. Selain pergerakan penduduk, pola urbanisasi semacam ini juga membentuk pola rumah tinggal yang khas. Rumah di desa induk umumnya berbentuk rumah-rumah tradisional dan serupa sebangun antara rumah yang satu dengan yang lain. Kondisi di rumah pedunungan, dimana seseorang tinggal, bisa lebih bebas sesuai kemampuan ekonomi si empunya rumah. Jika pada masa lalu rumah di kampung yang berada di dekat usaha ekonomi berbentuk lebih sederhana, maka kini kondisi bisa jadi sebaliknya. Rumah-rumah di luar desa induk mungkin saja lebih mewah, lebih permanen, dan tentu saja lebih personal karena dibangun dengan material yang sesuai keinginan dengan bentuk menyesuaikan gaya hidup baru serta lokasinya mungkin di kota yang lebih besar. Jika di desa asal, dimana seseorang teregistrasi sebagai warga adat, kondisi permukiman relative terjaga dan hanya mengalami sedikit perubahan baik secara fisik maupun social, kondisi sebaliknya terjadi di wilayah tujuan. Mungkin saja sama-sama berakar dari perkampungan tradisional tetapi kini, dengan adanya penduduk yang datang dan bermukim di tempat tersebut, wilayah yang menjadi tujuan menjadi berwajah campuran. Rumah-rumah penduduk asli, dimana penduduk setempat tinggal, bercampur dengan rumah-rumah penduduk pedunungan yang membangun rumahnya, selama mencari penghidupan.Microsoft Word - Document1

Image 3. Model permukiman perkotaan masa kini yang berkarakter campuran akibat urbanisasi.

Lingkaran di kanan bawah merupakan wilayah dengan karakter campuran akibat dibangunnya rumah-rumah pedunungan oleh penduduk dari berbagai wilayah lain. Di wilayah-wilayah yang banyak mengundang pendatang serta menawarkan banyak pekerjaan, kondisi permukiman dengan bangunan rumah berkarakter campuran dengan mudah bisa dijumpai. Karena pariwisata kini menjadi primadona baru sumber mata pencaharian pokok, maka tidak mengherankan jika wilayah-wilayah di sekitar objek kunjungan wisata memiliki karakter campuran ini. Kuta, Sanur, Nusa Dua dan kawasan sekitarnya adalah contohnya. Tetapi karakter campuran juga dapat ditemui di kawasan lain seperti yang dekat dengan kampus perguruan tinggi, yang bersebelahan dengan pusat pemerintahan atau kawasan lain dimana penduduk pedunungan memilih untuk tinggal. Karakter permukiman campuran inilah yang kini kita saksikan mewarnai kota-kota di Bali saat ini. Karakter yang muncul sebagai hasil dari permukiman yang sudah ada sebelumnya ditambah dengan rumah-rumah pendatang dalam bentuk plot yang lebih kecil, dengan masa bangunan tunggal serta gaya arsitektur yang lebih beragam. Semakin tingginya arus urbanisasi menyebabkan karakter arsitektur setempat menjadi memudar oleh kehadiran semakin banyaknya bangunan-bangunan yang dibangun oleh kaum urban.

Bilbao Effect: Investasi, Arsitektur dan Infrastruktur Kota

Pernah dengar Bilbao effect? Istilah ini sangat familiar dalam bidang city marketing terutama dalam meningkatkan image kota serta mengundang turis dalam rangka meningkatkan ekonomi lokal penduduknya. Bilbao effect dipicu oleh dibangunnya Museum Gugenheim pada akhir tahun 1980an oleh Frank Gehry. Akan tetapi tulisan ini tidak akan membahas Museum Gugenheim karya Frank Gehry dari sisi arsitektur, yang menyebabkan terjadinya apa yang disebut sebagai Bilbao effect tadi,  tetapi bagaimana investasi bidang pariwisata memiliki keterkaitan dengan perbaikan infrastruktur yang pada akhirnya membawa perbaikan pada kehidupan warga kotanya.

section

Gambar rencana museum Gugenheim Bilbao oleh Frank Gehry. Sumber: http://www.archdaily.com

Sebelum Frank Gehry mendesain Gugenheim Museum di kota kecil di Spanyol, tidak banyak yang mengenal nama Basque City of Bilbao. Bahkan tidak banyak pula yang tahu lokasi persisnya atau bahkan sekedar menuliskan kata ‘Bilbao’ atau mengucapkannya dengan tepat. Kota Bilbao adalah sebuah kota yang tidak pernah terdengar dalam list kota-kota wisata Eropa. Jalan dan lingkungannya yang kumuh, polusi akibat industry baja pada sungai dan udara yang dipenuhi asap  memperburuk kualitas hidup warga dan juga citra kotanya. Keadaan semakin memburuk saat perusahaan baja terbesar di kota tersebut pindah ke Asia meninggalkan kota dalam keadaan nyaris bangkrut. Sebagai bekas kota industry yang mendekati bangkrut, pemerintah kota berusaha meyakinkan Yayasan Gugenheim untuk membangun salah satu museumnya di kota tersebut. Sebagai daya tarik, pemerintah kota berjanji akan menyiapkan infrastruktur modern: transportasi, air bersih, tata kelola sampah serta air hujan yang terintegrasi dengan baik. Semua ini tentu saja untuk menunjang keberadaan museum yang membutuhkan investasi sangat besar sehingga mampu menarik pengunjung yang akan meningkatkan pendapatan museum serta perekonomian warga. Pemerintah kota Bilbao bekerja keras untuk meyakinkan Yayasan Gugenheim dengan cara me-reset strategy pembangunan kotanya melalui penyiapan infrastruktur yang sophisticated. Jalan-jalan diperlebar dan jalur-jalur pedestrian disiapkan. Kualitas udara ditingkatkan dengan mengurangi jumlah mobil di dalam kota melaui penyediaan jalur pedestrian yang lebar serta transportasi publik memadai, demikian pula kualitas air sungai dijaga dari polusi yang selama ini lekat dengannya.

ennocturnaluna1

Sungai yang bersih menjadi latar depan sempurna bagi tampilan akhir museum. Sumber: http://www.gugenheim-bilbao.esp

Akhir tahun 1980-an, Gugenheim Museum Bilbao berdiri di tepi sungai yang dulunya penuh polusi. Sungai tersebut kini telah bersih dan berair jernih. Jalan-jalan kota dipenuhi pedestrian ways yang nyaman, udara bebas polusi serta tembok-tembok kota bersih dari graffity. Desain museum tidak bisa dikatakan cantik tetapi merupakan sebuah karya revolusioner. Bidang-bidang metal yang meliuk-liuk ditingkahi kaca di berbagai sudut serta system struktur yang telanjang membuat siapapun yang melihatnya untuk pertama kali akan terkesima.

Popularitas Museum Gugenheim Bilbao meledak, sangat fenomenal, menjadi ikon baru kota modern, pusat budaya yang menjadi tonggak baru kejayaan Spanyol. Pengembalian investasi yang ditanamkan pemerintah dan Yayasan Gugenheim, yang diperkirakan akan kembali dalam 20 tahun, dicapai hanya dalam 7 tahun. Gugenheim Bilbao menjadi tujuan wisata utama menghasilkan revenue yang menguntungkan kota dan juga yayasan. Serta merta kota yang semula mangalami krisis identitas, dikenal sebagai kawasan kumuh dengan ruang public yang minim serta kurang berkualitas bertransformasi menjadi pusat budaya baru Eropa bahkan dunia. Keberhasilan ini berimbas pada peningkatan perekonomian serta pendapatan kota.

Penduduk kota Bilbao sangat bangga akan identitas kotanya yang baru: pusat budaya modern, jalanan bersih dengan pedestrian ways lebar dilengkapi kafe dan coffee shop yang nyaman dengan ruang ruang terbuka tempat aktivitas sosial warganya. menjaga identitas baru ini, bahu membahu bersama pemerintah, masyarakat turut serta secara aktif menjaga kualitas kotanya. Bilbao selain menjadi magnet turis juga menjadi engine of growth, mesin pertumbuhan baru menghasilkan pendapatan, memicu bisnis-bisnis lain untuk berkembang pesat. Hal ini  mendorong penduduknya memiliki sikap positif tidak hanya kepada isu ekonomi tetapi juga masalah lingkungan dan juga pada kotanya secara keseluruhan. Keberhasilan yang lalu melahirkan istilah ‘Bilbao Effect’. Dari kota yang sama sekali tidak terdengar, kumuh, negatif, penuh graffity, dengan kehadiran investasi berupa  Museum Gugenheim, kini Bilbao menjadi kota dengan infrastruktur yang sophisticated. Jalanan yang dahulu macet oleh kendaraan mengantarkan baja dan besi, kini berganti menjadi pedestrian lebar dan jalur transportasi yang nyaman. sungai yang kumuh menjadi jauh lebih bersih serta menjadi bagian integral lansekap budaya kota. From zero to hero.

Banyak yang mencoba meng-copy strategy kota Bilbao namun tidak banyak yang berhasil menggapai kesuksesan serupa, atau sekedar mendekati, secara finansial maupun secara sosial. Bilbao adalah sebuah fenomena baru. Fenomena kesukesan kreativitas pemerintah yang bertemu dengan kebutuhan investor, Yayasan Gugenheim, serta didukung secara positif oleh penduduknya. Kerjasama mutualisme yang memberi manfaat bagi semua pihak.

Kelompok arsitek ternama yang disebut sebagai golongan starchitects mendapat imbasnya. Abu Dhabi misalnya mendekati Zaha Hadid, Jean Nouvel hingga Tadao Ando untuk membangun berbagai fasilitas budaya untuk memanjakan pengunjung dan semuanya diperkirakan akan mulai beroperasi tahun 2017.

Berbeda dengan Bilbao serta Abu Dhabi yang bersusah payah membangun identitas kotanya guna meyakinkan investor, Bali memiliki daya tarik tiada henti. Gelombang dengan daya pikat tinggi berasal dari jargon the last paradise yang didengungkan pada masa pemerintah kolonial bukannya memudar malah menunjukkan gejala yang menguat. Ribuan bangunan dibangun untuk tujuan memanjakan pengunjung dibangun tiada henti sejak masa pemerintahan Belanda hingga kini. Pariwisata menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Bali sejak pertengahan pertama abad ke 20.

Masih tingginya minat untuk berinvestasi di Bali ditunjukkan tidak pernah surutnya penanaman modal yang dilakukan oleh investor di Pulau yang dijuluki seribu pura ini. Klaim kepala BKPM Provinsi Bali yang dimuat di Harian Tribun Bali pertengahan bulan April 2015 mempertegas tren ini:

“Kalau tidak salah data yang saya lihat secara umum sampai triwulan pertama 2015 izin prinsip dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI jumlahnya itu mencapai Rp 13 triliun untuk Bali,” demikian kata IBM Parwata.

Dengan sedemikian besarnya investasi yang dipertaruhkan, tentu saja investor mengharapkan keuntungan yang tidak sedikit dari uang yang sudah ditanamkan. Tidak mengherankan jika kemudian investor berlomba-lomba membuat fasilitas yang semenarik mungkin, guna mengundang lebih banyak pengunjung yang datang sehingga semakin cepat pula modal yang dikeluarkannya kembali.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Bilbao, pemerintah relative tidak terlalu perlu bersusah payah membangun citra kota serta infrastruktur agar investor datang membawa dana yang tidak sedikit. Image Bali sudah dibangun selama bertahun-tahun dan bukan terjadi dalam waktu instan. Dimulai dengan strategy yang dikembangkan oleh perusahaan pariwisata Belanda, dilanjutkan dengan strategy pemasaran ala Bung Karno, Presiden pertama RI, dengan cara mengundang banyak kepala negara untuk datang ke Bali. Selama menjamu kepala negara sahabat, Bung Karno selalu mengajak mereka melihat berbagai sudut pulau Bali. Setelah masa presiden pertama, dilanjutkan dengan strategy pembangunan wisata massif yang dilakukan pada tahun 1970an.

Berbagai promosi ini bukanlah menjual pepesan kosong. Keunikan Bali sendiri, pulau kecil dengan pantai yang relative landai serta budaya yang unik: gabungan antara kepercayaan lokal dibalut pengaruh Hindu, Budha dan budaya China, membentuk ritual yang unik. Bukan infrastruktur sophisticated tetapi, perpadauan keindahan alam dan keunikan budaya ini menjadi senjata andalan dalam melakukan marketing guna menarik investor. Brosur wisata yang beredar luas menggambarkan keunikan tersebut. Di atas kertas licin berkilat, keindahan alam serta budaya tercetak indah: sawah berteras, pura di tepi danau yang tenang, pantai berpasir putih dan ombak, berpadu dengan gambar gemulai penari atau foto upacara pembakaran mayat (ngaben). Dengan infrastruktur seadanya investor tetap datang karena image yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun telah tertancap dalam di benak investor serta calon wisatawan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gang kumuh dan becek masih mudah dijumpai di berbagai sudut kota kita, kontras dengan fasilitas untuk wisatawan

Pariwisata membutuhkan infrastruktur yang baik, sehingga sangat masuk akal jika hal itu hanya berkembang di wilayah yang akan dilalui oleh jalur wisata saja dan ditujukan untuk memanjakan para wisatawan yang akan berkunjung. Dengan demikian dapat dipahami kenapa bandara harus diperluas, jalan tol di atas perairan harus dibangun dengan dana trilyunan rupiah. Sementara, di lain pihak, jalan di pedesaan, terminal-terminal angkutan umum serta infrastruktur yang melayani masyarakat umum terbengkalai. Focus pembangunan infrastruktur hanya berputar pada pelayanan wisatawan dan investor saja. Pembangunan bidang kepariwisataan tidak memiliki keterkaitan secara langsung dengan peningkatan kualitas infrastruktur serta kesejahteraan untuk masyarakat umum.

Jika anda adalah termasuk yang mengeluh tentang infrastruktur untuk masyarakat umum, maka saya yakin anda tidak sendiri. Dana trilyunan yang masuk ke Bali berfokus sepenuhnya untuk melayani serta memanjakan wisatawan menimbulkan ketimpangan. Jangan pula heran jika masih banyak keluarga miskin dan desa tertinggal di Pulau seribu pura ini.

Arsitektur Traditional dan Tantangan Pola Pendidikan Arsitektur Bali Hari Ini

Sudah banyak ulasan mengenai arsitektur tradisional dari berbagai latar belakang ilmu, baik dari sisi ilmu arsitektur sendiri ataupun dari ilmu lain seperti dari latar belakang geografi dan antropologi. Tanpa memandang asal ataupun bentuk akhir yang menjadi produk suatu tradisi, nampaknya ada semacam kesepakatan bahwa tradisi adalah sesuatu yang diteruskan dari generasi sebelumnya ke generasi hari ini, dan (mungkin) kepada generasi selanjutnya.

Beberapa pertanyaan yang muncul saat memperdebatkan tradisi sangat beragam. Pertanyaan pertana adalah: apakah ‘sesuatu’ yang diteruskan itu? Apakah sebuah produk, pengetahuan, norma ataukah kepercayaan?  Pertanyaan berikutnya: bagaimana ‘sesuatu’ tersebut diturunkan? Melalui babad? Buku-buku? Ataukah media lain? Pertanyaan terakhir yang tak kalah penting adalah: mengapa ‘sesuatu’ itu harus diteruskan? Mengapa tidak diganti dengan hal yang lebih baru dibandingkan bersusah payah mempelajari hal yang sudah lampau? Jikapun semua pertanyaan tersebut sudah terjawab, maka pertanyaan terakhir yang muncul adalah: akankah ‘sesuatu’ itu kita teruskan ke anak cucu? Jika iya, melalui media apa?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tradisi melingkupi segala segi tata cara manusia hidup di dunia. Tradisi bisa berwujud benda, karya seni, cerita, bangunan, norma, tata laku dan wujud lainnya baik yang teraga maupun tidak teraga. Dengan demikian tradisi sangat luas meliputi aspek tangible and intangible, tersirat serta tersurat. Arsitektur sendiri secara kasat mata diterjemahkan sebagai struktur fisik yang tercipta sebagai upaya manusia memenuhi kebutuhannya melindungi diri dari tantangan alam. Kebutuhan untuk melindungi diri dari ancaman ini adalah kebutuhan primer manusia, sementara masih ada lagi kebutuhan lain seperti kebutuhan untuk berada di ruang yang bersifat privat, kebutuhan ruang untuk bekerja dan seterusnya. Kebutuhan ini dari waktu ke waktu berkembang mengikuti aktivitas manusia yang semakin kompleks. Berbeda dengan di masa lalu, kehidupan manusia modern menyebabkan aktivitasnya juga kian beragam. Pada akhirnya hal ini menuntut lebih banyak jenis ruang dengan berbagai persyaratannya.

Arsitektur jika dipandang dalam tataran yang ideal merupakan terjemahan pandangan manusia terhadap semesta. Masyarakat tradisional memandang bahwa tujuan keberadaannya di alam adalah untuk menyesuaikan diri dan menyatu dengan alam. Keinginan untuk beradaptasi dengan alam ini dituangkan ke dalam pandangan hidup yang juga mempengaruhi arsitektur. Saat menciptakan struktur untuk melindungi diri dari tantangan alam, maka struktur tersebut harus sesuai dengan keadaan alamnya. Struktur dibuat ‘meniru’ bagian alam beserta cara kerjanya sehingga lingkungan buatan manusia bisa berjalan harmonis dan memiliki cara kerja serupa alam semesta. Cara pandang manusia ini tertuang di dalam kepercayaan local. Wujudnya bisa dalam bentuk bangunan, symbol-simbol yang menyertai serta upacara yang berkenaan dengan proses membangun.

Umumnya masyarakat di kawasan Asia Tenggara membagi dunia menjadi tiga bagian: alam roh – alam manusia – alam butha. Pandangan ini diterjemahkan di ke dalam kepercayaan yang memandang gunung sebagai alam roh, dataran adalah alam manusia serta perairan adalah alam butha. Manusia tinggal, beraktivitas serta membangun kehidupannya di dataran, diantara alam pegunungan dan laut. Permukiman dan segala elemennya dibuat dengan cara meniru sifat-sifat alam, menjalin simbiosis mutualisme dengan lingkungan alami sekitarnya. Konsepsi ini di dalam masyarakat tradisional Bali disebut sebagai ‘manik ring cecupu’. Alam buatan manusia ibarat manik atau janin yang berada di dalam rahim atau cecupu alam yang dianggap sebagai ibu. Hubungan yang harmonis antara janin dan ibu akan menciptakan kebahagiaan bagi keduanya.

Ilmu, tata laku serta tuntunan mebutuhkan terjemahan sehingga mampu diwujudkan menjadi struktur fisik yang nyata. Terjemahan atau tools ini diistilahkan sebagai know-how bangunan tradisional. Know-how dalam arsitektur tradisional meliputi banyak hal antara lain: perlakuan terhadap site, tata cara menyiasati iklim, tata cara konstruksi yang anti gempa (mengingat wilayah Bali sering terjadi gempa), pemilihan bahan dan material bangunan yang sesuai serta tata cara memperlakukan bangunan.

Perbedaan kondisi site membawa konsekuensi kualitas permukaan yang berbeda-beda di wilayah yang berbeda. Manusia memberi tanggapan yang berbeda pula. Rumah-rumah di wilayah pegunungan berbentuk kompak, karena ketersediaan lahan datar yang relatif lebih terbatas dibanding daerah dataran adalah tanggapan terhadap kondisi site. Iklim mikro juga mempengaruhi karakter bangunan di samping ketersediaan bahan dan material alami. Transportasi tidak selancar hari ini dimana material, dan juga ide, bisa berpindah tempat dengan mudah. Di masa lalu masyarakat tradisional harus mengandalkan bahan yang terseedia di sekitar serta memanfaatkannya dengan ketrampilan yang dikuasai serta dikembangkan secara setempat. Karena site, iklim, ketersediaan bahan serta persebaran ilmu konstruksi di masa lalu sangat site spesifik maka timbul karakter bangunan yang bersifat setempat, memiliki nilai lokalitas yang kental. Kondisi ini sering diistilahkan sebagai local genius (Norberg-Schulz, 1982).

Dalam pemahaman arsitektur yang men-tradisi, maka ketiga hal inilah: kebutuhan terhadap ruang; ilmu/pandagangan hidup terhadap alam; dan know-how arsitektur lokal, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan demikian maka yang dimaksud sebagai arsitektur tradisional meliputi ketiga hal tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa baik kebutuhan, pandangan hidup serta know-how mengalami perkembangan dan bersifat sangat dinamis. Suatu tradisi, dengan demikian, dituntut untuk selalu menyediakan ruang re-interpretasi dan re-aktualisasi agar dapat diterima oleh generasi yang hidup di jaman yang berbeda.

Para pelaku, pada jaman masing-masing, harus mampu meng-aktualkan apa yang diwarisi dari generasi sebelumnya, menyesuaikan dengan keadaan pada jamannya sehingga pengetahuan tradisi itu sendiri akan terus berkembang secara dinamis. Penyesuaian atau aktualisasi yang dibuat tidak menggantikan tetapi justru menyempurnakan nilai yang diwarisi sehingga sesuai dengan konteks jaman. Kesalahpahaman sering timbul akibat ketidak mampuan untuk memahami nilai atau value yang dikandung oleh tradisi sehingga dengan serta merta dianggap sebagai sesuatu yang using. Kesalahpahaman juga bisa timbul akibat keinginan untuk mempaertahan kan tradisi sebagaimana aslinya tanpa mau melakukan intepretasi dan aktualisasi yang pada akhirnya akan membunuh tradisi itu sendiri karena tidak mampu bersanding di dalam bingkai waktu kese-jaman-annya.

transmisi

Image 1: Tiga unsur yang membentuk arsitektur tradisional bersifat dinamis dalam bingkai waktu yang berbeda-beda.

Jadi sekarang sudah kita peroleh sedikit gambaran mengenai pertanyaan ‘apa’ yang harus ditradisikan. Pertanyaan selanjutnya bagaimana hal tersebut menjadi tradisi, diturunkan dari generasi ke generasi tanpa terputus? Pertanyaan ini sangat penting untuk dijawab mengingat media transmisi yang dipakai inilah yang menjamin tersampaikannya pesan  dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di dalam masyarakat tradisional Bali dikenal istilah undagi untuk menyebut orang dengan kemampuan di bidang pertukangan. Istilah ini memiliki banyak makna. Di dalam lontar Hasta Kosali disebutkan bahwa seorang undagi adalah dia yang memiliki pengetahuan mencipta dengan kemampuan yang tinggi. Jika dikaitkan dengan kepercayaan bahwa alam buatan manusia harus dibuat semirip mungkin meniru alam semesta, maka seorang undagi dituntut untuk memahami semesta alam dan segenap cara kerjanya sebelum dia mampu menerjemahkannya ke dalam karya ciptaannya. Jika Sang Hyang widhi dipercaya sebagai pencipta alam semesta, bhuwana agung, maka undagi adalah beliau yang dipercaya mencipta permukiman hingga rumah tinggal, bhuwana alit.

Kata undagi sendiri menurut lontar berasal dari tiga kata yang utama yaitu : Wu = tuhan, yang memiliki kualitas yang sempurna, dikenal segala golongan;  nda = asal, uwed, sumber; gi = manusia; wujud fisik. Undagi dalam pemahaman ini memiliki makna seseorang yang menjadi sumber, atau seseorang dengan kemampuan komplit dan memahami segala cara kerja, sehingga seorang undagi bisa berarti pendeta atau seorang ahli bangunan yang bertugas membuat alam buatan untuk manusia. Karena dipandang sebagai seorang yang ahli dalam mencipta, maka kemampuan seorang undagi tidak hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat teknis belaka melainkan juga wajib menguasai ilmu filsafat, symbol-simbol dan pertanda, serta tata cara menerjemahkannya ke dalam karya cipta fisik untuk kesejahteraan umat manusia.

Dalam hal pembangunan serta penciptaan alam lingkungan buatan, seorang undagi terlibat mulai dari proses filosofi, analisis, perencanaan fasilitas, menciptakan teknologi bangunan dan tata cara ritual yang menyertai segenap proses tersebut. Undagi tidak bekerja sendirian, dalam segenap proses non-teknis dia bisa dibantu dengan panduan dari pendeta sedangkan dalam proses yang bersifat teknis beberapa tenaga ahli yang disebut sangging membantu pelaksanaan pekerjaannya. Seorang sangging, jika telah memiliki kemampuan serta keahlian yang memadai bisa juga menjadi seorang undagi.

undagi

Image 2: Ranah pengetahuan yang harus dikuasai seorang undagi

Secara umum, pengetahuan perundagian diperoleh oleh seseorang tidak berlangsung secara instan. Cara yang paling umum adalah dengan cara magang/apprenticeship pada seorang undagi yang sudah mahir. Melalui kegiatan ini seorang calon undagi disyaratkan untuk ikut terlibat secara langsung bersama undagi panutannya mengerjakan bangunan. Seorang undagi yang sudah cakap dan mahir mungkin dipercaya untuk mengerjakan berbagai macam bangunan: bangunan peribadatan, hunian untuk berbagai golongan, bangunan umum dan social serta bangunan-bangunan lain. Undagi yang sudah berpengalaman umumnya memiliki pengikut magang dalam jumlah yang besar pula. Semakin tinggi pengalaman seorang undagi maka semakin banyaklah ilmu yang bisa diserap oleh orang yang magang pada undagi tersebut.Alih keahlian perundagian di dalam masyarakat Bali umumnya berlangsung secara turun-temurun. Seorang undagi memperoleh keahlian dari orang tua serta leluhurnya dan akan menurunkan ilmu perundagiannya kepada keturunannya. Di dalam masyarakat, karena ilmu perundagian ini berlangsung di dalam sekelompok orang yang masih terikat hubungan kekerabatan, melahirkan soroh (kelompok) undagi. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan seseorang yang tidak memiliki keturunan undagi untuk menjadi undagi. Prosesnya sama seperti umumnya yaitu dengan cara magang dalam kurun waktu tertentu.

bali137a

Proses transmisi pengetahuan perundagian dalam praktek magang ini terjadi dalam beberapa tahapan. Tahapan yang paling awal adalah mengamati. Si calon undagi mengamati bagaimana masternya mengerjakan tugasnya sebagai seorang undagi. Mulai dari tata cara persiapan kerja, mempersiapkan fisik dan mental, peralatan serta persiapan lainnya. Selanjutanya secara bersama-sama, pekerjaan akan dikerjakan. Dalam prosesnya undagi dibantu oleh orang yang magang tersebut secara bersama mengerjakan setiap tahapan pekerjaan. Proses transfer dimulai dari memperhatikan, meniru, menganalisa serta diskusi dan praktek antara si undagi dengan muridnya. Tidak ada kurikulum baku.

Instruksi, petunjuk praktis, dilengkapi bahasa non-verbal dalam bentuk contoh yang meliputi: cara memegang alat hingga mengoperasikannya menjadi media utama transmisi   dalam proses alih ilmu. Porsi praktek langsung dengan cara terlibat sejak dari periode yang sangat awal dari sebuah proses pembangunan sangat dominan.   Dengan demikian, perkataan, pendengaran, demonstrasi visual tentang cara mengerjakan dan demonstrasi bentuk akhir suatu produk menjadi penting. Semua proses ini memerlukan keterlibatan langsung oleh murid dan masternya. Tidak ada patokan pasti tentang berapa lama seseorang harus melalui proses ini hingga dia layak menyandang gelar sebagai undagi. Proses pembelajaran semacam ini bisa berlangsung seumur hidup, atau setidaknya hingga seorang master undagi menyerahkan sebagain besar tanggung jawabnya kepada murid atau penerusnya. Seseorang menyandang status undagi setelah menguasai segenap ilmu secara komplit serta di’wisuda’ secara tradisional.

Saat ini, di tengah gempuran berbagai macam informasi dan perkembangan teknologi terkini, tradisi mendapat tantangan yang semakin berat. Tantangan terberatnya adalah menjawab pertanyaan, seberapa penting tradisi harus kita pertahankan di tengah banyaknya pilihan lain yang tersedia?

Jika di jaman dahulu segala sesuatu tersedia dalam keterbatasan: material terbatas, pengetahuan terbatas, teknik konstruksi serta alat terbatas, maka kini segala sesuatu tersedia dalam jumlah yang tak terduga. Bahan bangunan internasional, marmer dari Italia cat dari Swedia bersanding dengan bahan bangunan local di toko bahan bangunan yang juga menjual bata buatan pengrajin di Keramas. Demikian juga teknologi, dimana beton menggantikan nyaris sebagian besar tata cara pemasangan bata tradisional, bahkan hingga atap pun didominasi bahan tersebut. Dengan arus informasi yang semakin deras, pengetahuan masyarakat terhadap teknik serta wujud bangunan turut menjadi sangat beragam, sesuai selera pribadi masing-masing. Pengetahuan filosofis bangunan, pemahaman terhadap upaya penyelarasan diri dengan semesta serta hal-hal yang pada masa lalu menjadi pegangan para undagi, saat ini menjadi usang. Semua digantikan oleh majalah licin bergambar bangunan dengan kualitas fotografi yang sempurna.

Lalu kembali ke pertanyaan, kenapa kita perlu meneruskan tradisi? Jika, dengan sedemikian  banyaknya pilihan yang ada, kita bisa membuat sesuatu yang baru untuk memenhui kebutuhan kita di dunia?

Praktek membangun yang sudah mentradisi berlangsung secara turun temurun secara tidak langsung menciptakan identitas. Identitas adalah kualitas yang melekat pada suatu benda atau non benda yang membedakannya  benda lain. Dalam kasus arsitektur dan permukiman, identitas membedakan antara kawasan satu dengan kawasan lain. Identitas ini melekat di benak setiap warga masyarakat setempat karena mereka meng-asosiaikan dirinya dengan tempat mereka. Asosiasi antara masyarakat dengan tempatnya ini membentuk hubungan yang unik serta saling menguntungkan bagi bagi kawasan tersebut maupun bagi manusia penghuninya.

Seseorang mungkin merasakan kebahagiaan saat pulang kampung. Pulang ke rumah masa kecil di mana mereka tumbuh dan besar sejak masa kanak-kanak sebelum bermigrasi ke kota. Kesan pulang kampung yang tercipta adalah kembali ke masa di mana banyak kenangan tercipta. Saat dimana lingkungan sekitar sangat akrab dengan keseharian. Melihat pintu gerbang, angkul-angkul, tempat bermain di bawah jineng yang akrab. Semua elemen-elemen fisik tersebut tidak asing lagi dari keseharian dan memiliki kenangan yang membawa kita ke masa lalu. Kenangan tersebut membuat kita merasa dekat, merasakan keakraban yang tidak diperoleh dari kehidupan kota besar. Feeling at home, demikian kata Martin Heidegger untuk menggambarkan suasana hati yang merasa aman, nyaman serta diliputi kebahagiaan. Perasaan yang merupakan wujud eksistensi manusia di dunia. Manusia merasa nyaman di tempat yang dia akrabi, yang disebut ‘home’.

Ikatan emosional antara manusia dan tempat inilah yang menimbulkan perasaan bahagia, dimana manusia merasa memiliki ikatan bathin dengan tempatnya. Ikatan emosional ini bisa menimbulkan perasaan memiliki dan meningkatan ikatan social dimana ini pada akhirnya akan menciptakan aura menyenangkan. Tempat-tempat yang mengandung aura menyenangkan juga di klaim mampu meningkatkan kualitas hidup manusia yang tinggal disana. Tempat-tempat yang memiliki sejarah masa lalu yang panjang yang terjaga dengan baik menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Berkebalikan dengan tempat yang memiliki identitas yang kuat, tempat-tempat yang tidak memiliki identitas dimana elemen-elemennya saling berlomba untuk menonjolkan diri bisa membuat seseorang merasa terasing. Tempat-tempat tersebut tidak menawarkan ikatan emosional dengan penghuninya sehingga kualitas hidup menjadi lebih datar. Umumnya tempat-tempat semacam itu tidak menarik bagi wisatawan dan tidak mampu menunjang kebahagiaan hidup manusia yang ada di dalamnya.

place identity

Image 3: perbandingan nilai atau value antara tempat-tempat yang memiliki identitas kuat serta tempat-tempat yang tidak memiliki identitas. Bagian kiri adalah kualitas tempat yang tidak memiliki identitas berlawanan dengan bagian kanan yang merupakan value yang dikandung oleh tempat yang memiliki identitas yang kuat.

Nah, setelah menemukan alasan kenapa identitas tempat, yang berkaitan erat dengan tradisi, sudah kita temukan jawabannya, maka salah satu yang plaing penting untuk dijawab adalah: Bagaimana caranya melanjutkan tradisi, menjaga identitas tempat-tempat kita, serta meneruskannya kepada generasi selanjutnya?

Dalam bidang arsitektur serta permukiman, tidak lagi berada di dalam kuasa dan kontrol undagi, pendidikan arsitektur hari ini diambil alih oleh perguruan tinggi formal baik negeri maupun swasta. Pada masa lalu, saat transfer pengetahuan dan ketrampilan berlangsung di masa undagi porsi praktek melalui pengamatan langsung, menerima instruksi serta petunjuk, serta mengerjakan langsung mendapat porsi yang besar. Keterlibatan antara pemberi instruksi dan yang diberi instruksi terjadi secara langsung tanpa perantara. Saat ini, pendidikan arsitektur sudah diformalkan, porsi praktek tidak sebesar apa yang terjadi di masa perundagian. Pengetahuan serta keahlian selain didapat dari pengajar juga banyak yang bersumber dari buku dan literature lain. Keterlibatan antara penulis buku atau literature dengan murid tidak terjadi secara langsung melainkan melalui perantara yaitu dosen. Sehingga terjadi perbedaan yang signifikan antara proses di masa lalu dan masa kini. Tapi perbedaan pola kerja transmisi juga menyangkut hal hal lainnya.

Dalam hal waktu, jika di masa lalu tidak terdapat tolak ukur atau standar yang jelas, maka pendidikan arsitektur masa kini memiliki standar waktu dan tolak ukur beban yang jelas. Empat tahun adalah waktu yang umumnya ditetapkan dengan beban SKS tertentu. Jika seseorang sudah melewati semua beban mata kuliah tersebut dalam jangka 4 tahun maka dia sudah menyandang gelar sarjana arsitektur.

Perbedaan lainnya adalah soal materi pembelajaran. Di dalam transmisi undagi, meskipun tidak secara jelas tersurat, materi pembelajaran meliputi filsafat, tata laku, serta pemahaman terhadap alam sangat penting bahkan mungkin menjadi dasar bagi terciptanya wujud bangunan. Pemahaman tentang ke-setempat-an, site, iklim, material local serta teknologi yang dikembangkan secara turun temurun merupakan bahan utama yang harus dikuasai. Sementara itu, dipengaruhi oleh revolusi industry serta gelombang tata cara belajar Bauhauss, materi yang dipelajari di kelas banyak yang memanfaatkan buku buku terbitan luar negeri, out of site dan out of context. Porsi materi arsitektur tradisional dengan cara transmisi tradisional, interaksi langsung antara murid dan undagi, tidak terjadi dalam porsi yang cukup. Materi arsitektur tradisional setempat dipelajari sebatas penmgetahuan umum tidak menyangkut skills serta pemahamana yang mendalam. Jika beban SKS yang harus diselesaikan seorang mahasiswa arsitektur berjumlah 144, maka porsi arsitektur tradisional yang diakomodir di dalamnya tidak lebih dari 10 sks. Jumlah itu kurang dari 10 persen total keseluruhan waktu yang dihabiskan oleh seorang mahasiswa di kampus.

Transmisi tradisional Pendidikan arsitektur masa kini
Sumber belajar Undagi/praktisi langsung Dosen/ praktisi dan non praktisi
Metode Interaksi langsung di lapangan Perantara dan di dalam studio
Proses Magang: observasi, praktek Teori + praktek (terbatas)
Materi Kasus nyata Contoh kasus/simulasi (bisa nyata bisa rekaan)
Alat Semua yang akan dipakai pada pekerjaan nyata Simulasi
Waktu Tidak terbatas (sampai ahli) 4-5 tahun

Karena isu-isu kesetempatan tidak menjadi porsi utama, maka patut dimaklumi jika terjadi keterputusan transmisi. Tergantikannya proses, materi serta cara belajar dari tradisional menjadi pendidikan formal perlu dicarikan jalan keluar. Informasi serta pengetahuan baru yang bersumber dari luar negeri maupun luar pulau bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau dilawan melainkan harus diakomodir di dalam pembelajaran arsitektur. Namun pengetahuan serta informasi dari luar tersebut hendaknya tidak menggantikan, tetapi memperkaya khasanah budaya arsitektur dan secara umum lingkungan binaan di Bali. Dengan demikian maka jalinan tradisi tetap dapat ditransmisikan untuk memenuhi kebutuhan hari ini serta mungkin dilanjutkan ke generasi selanjutnya tanpa mengabaikan isu-isu modernitas serta ke-kini-an.

Lalu apa tantangan terpenting dalam pendidikan arsitektur kita jika ingin mengembangkan arsitektur tradisional tetapi tetap mengakomodir ke-baru-an serta perkembangan jaman? Jawabannya tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Dan tantangan tersebesar ada pada pelaku pendidikan di bidng arsitektur itu sendiri, para pembuat kurikulum serta para pengajar di depan kelas sebagai agen yang bertugas mentransmisikan pengetahuan arsitektur tradisional serta bagaimana menyandingkannya dengan jaman yang sudah banyak berubah.

Beberapa langkah nyata, antara lain: memperbesar porsi SKS di dalam kurikulum, melibatkan mahasiswa dalam proyek nyata bangunan tradisional, menyelipkan agenda perancangan berwawasan identitas, atau menyelenggarakan workshop bangunan tradisional bisa dipertimbangkan.

Jika dikelompokkan, maka strategi yang dibentuk dapat diterjemahkan menjadi: bidang filsafat dan pemahaman terhadap konteks, bidang pemutakhiran kebutuhan masa kini serta bidang teknis-teknologis serta know-how arsitektur tradisional. Jika dijabarkan ke dalam mata kuliah maka masing-masing kelompok ini bisa dijadikan sebagai bagian pembelajaran. Kelompok pertama jatuh kepada kelompok mata kuliah teori dan sejarah arsitektur local, kelompok kedua pada teori perancangan dan penyusunan program kebutuhan sedangkan kelompok ketiga, memperoleh cakupan lebih luas, meliputi aspek: struktur dan konstruksi, utilitas, material serta ilmu bahan bangunan.

Untuk memperkaya pengalaman, maka praktikum harus diberikan  porsi yang cukup dominan. Praktikum mebutuhkan banyak biaya serta alokasi waktu dan tempat khusus. Berhubung di Bali terdapat beberapa perguruan tinggi, maka strategi untuk menekan biaya bisa dilakukan dengan menjalin kerjasama penyelenggaraan workshop bersama. Selain menekan biaya, workshop ini juga menjadi ajang untuk saling berkolaborasi antar berbagai perguruan tinggi arsitektur yang ada di Bali.

Strategi manapun yang dibentuk, harus dimulai dari kesepakatan perguruan arsitektur yang ada di Bali sehingga ada keseragaman langkah serta kesetaraan kualitas. Muaranya tentu saja ada pada terciptanya tradisi berarsitektur yang mengakar di masa lalu, mampu memenuhi kebutuhan masa kini, serta bisa dijadikan pijakan untuk merancang masa depan. Semoga terwujud.

Bahan Bacaan

Abel, Chris and Foster, Norman, 2012, Architecture and Identity, second edition, Routledge

Alsayyad, Nezar, 2014, Traditions: The “Real”, the Hyper, and the Virtual In the Built Environment, Routledge

Asquith L.,Vellinga, M., 2006 , Vernacular Architecture in the 21st Century: Theory, Education and Practice, Taylor and Francis

Bourdier, Jean-Paul., AlSayyad, Nezar, 1989, Dwellings settlements and tradition cross-cultural perspectives, Lanham : University Press of America ; Berkeley, CA : International Association for the Study of Traditional Environments
Covarrubias, M. 1986. Island of Bali. First published in 1937. London. KPI limited

Sularto, R. (1987) A Brief Introduction Traditional Architecture of Bali: Some Basic Norms, Aga Khan Architecture Awards Speech

Waterson, R. (2006). The living House: an Anthropology of Architecture in South East Asia. Singapore: Tuttle Publishing