Bilbao Effect: Investasi, Arsitektur dan Infrastruktur Kota

Pernah dengar Bilbao effect? Istilah ini sangat familiar dalam bidang city marketing terutama dalam meningkatkan image kota serta mengundang turis dalam rangka meningkatkan ekonomi lokal penduduknya. Bilbao effect dipicu oleh dibangunnya Museum Gugenheim pada akhir tahun 1980an oleh Frank Gehry. Akan tetapi tulisan ini tidak akan membahas Museum Gugenheim karya Frank Gehry dari sisi arsitektur, yang menyebabkan terjadinya apa yang disebut sebagai Bilbao effect tadi,  tetapi bagaimana investasi bidang pariwisata memiliki keterkaitan dengan perbaikan infrastruktur yang pada akhirnya membawa perbaikan pada kehidupan warga kotanya.

section

Gambar rencana museum Gugenheim Bilbao oleh Frank Gehry. Sumber: http://www.archdaily.com

Sebelum Frank Gehry mendesain Gugenheim Museum di kota kecil di Spanyol, tidak banyak yang mengenal nama Basque City of Bilbao. Bahkan tidak banyak pula yang tahu lokasi persisnya atau bahkan sekedar menuliskan kata ‘Bilbao’ atau mengucapkannya dengan tepat. Kota Bilbao adalah sebuah kota yang tidak pernah terdengar dalam list kota-kota wisata Eropa. Jalan dan lingkungannya yang kumuh, polusi akibat industry baja pada sungai dan udara yang dipenuhi asap  memperburuk kualitas hidup warga dan juga citra kotanya. Keadaan semakin memburuk saat perusahaan baja terbesar di kota tersebut pindah ke Asia meninggalkan kota dalam keadaan nyaris bangkrut. Sebagai bekas kota industry yang mendekati bangkrut, pemerintah kota berusaha meyakinkan Yayasan Gugenheim untuk membangun salah satu museumnya di kota tersebut. Sebagai daya tarik, pemerintah kota berjanji akan menyiapkan infrastruktur modern: transportasi, air bersih, tata kelola sampah serta air hujan yang terintegrasi dengan baik. Semua ini tentu saja untuk menunjang keberadaan museum yang membutuhkan investasi sangat besar sehingga mampu menarik pengunjung yang akan meningkatkan pendapatan museum serta perekonomian warga. Pemerintah kota Bilbao bekerja keras untuk meyakinkan Yayasan Gugenheim dengan cara me-reset strategy pembangunan kotanya melalui penyiapan infrastruktur yang sophisticated. Jalan-jalan diperlebar dan jalur-jalur pedestrian disiapkan. Kualitas udara ditingkatkan dengan mengurangi jumlah mobil di dalam kota melaui penyediaan jalur pedestrian yang lebar serta transportasi publik memadai, demikian pula kualitas air sungai dijaga dari polusi yang selama ini lekat dengannya.

ennocturnaluna1

Sungai yang bersih menjadi latar depan sempurna bagi tampilan akhir museum. Sumber: http://www.gugenheim-bilbao.esp

Akhir tahun 1980-an, Gugenheim Museum Bilbao berdiri di tepi sungai yang dulunya penuh polusi. Sungai tersebut kini telah bersih dan berair jernih. Jalan-jalan kota dipenuhi pedestrian ways yang nyaman, udara bebas polusi serta tembok-tembok kota bersih dari graffity. Desain museum tidak bisa dikatakan cantik tetapi merupakan sebuah karya revolusioner. Bidang-bidang metal yang meliuk-liuk ditingkahi kaca di berbagai sudut serta system struktur yang telanjang membuat siapapun yang melihatnya untuk pertama kali akan terkesima.

Popularitas Museum Gugenheim Bilbao meledak, sangat fenomenal, menjadi ikon baru kota modern, pusat budaya yang menjadi tonggak baru kejayaan Spanyol. Pengembalian investasi yang ditanamkan pemerintah dan Yayasan Gugenheim, yang diperkirakan akan kembali dalam 20 tahun, dicapai hanya dalam 7 tahun. Gugenheim Bilbao menjadi tujuan wisata utama menghasilkan revenue yang menguntungkan kota dan juga yayasan. Serta merta kota yang semula mangalami krisis identitas, dikenal sebagai kawasan kumuh dengan ruang public yang minim serta kurang berkualitas bertransformasi menjadi pusat budaya baru Eropa bahkan dunia. Keberhasilan ini berimbas pada peningkatan perekonomian serta pendapatan kota.

Penduduk kota Bilbao sangat bangga akan identitas kotanya yang baru: pusat budaya modern, jalanan bersih dengan pedestrian ways lebar dilengkapi kafe dan coffee shop yang nyaman dengan ruang ruang terbuka tempat aktivitas sosial warganya. menjaga identitas baru ini, bahu membahu bersama pemerintah, masyarakat turut serta secara aktif menjaga kualitas kotanya. Bilbao selain menjadi magnet turis juga menjadi engine of growth, mesin pertumbuhan baru menghasilkan pendapatan, memicu bisnis-bisnis lain untuk berkembang pesat. Hal ini  mendorong penduduknya memiliki sikap positif tidak hanya kepada isu ekonomi tetapi juga masalah lingkungan dan juga pada kotanya secara keseluruhan. Keberhasilan yang lalu melahirkan istilah ‘Bilbao Effect’. Dari kota yang sama sekali tidak terdengar, kumuh, negatif, penuh graffity, dengan kehadiran investasi berupa  Museum Gugenheim, kini Bilbao menjadi kota dengan infrastruktur yang sophisticated. Jalanan yang dahulu macet oleh kendaraan mengantarkan baja dan besi, kini berganti menjadi pedestrian lebar dan jalur transportasi yang nyaman. sungai yang kumuh menjadi jauh lebih bersih serta menjadi bagian integral lansekap budaya kota. From zero to hero.

Banyak yang mencoba meng-copy strategy kota Bilbao namun tidak banyak yang berhasil menggapai kesuksesan serupa, atau sekedar mendekati, secara finansial maupun secara sosial. Bilbao adalah sebuah fenomena baru. Fenomena kesukesan kreativitas pemerintah yang bertemu dengan kebutuhan investor, Yayasan Gugenheim, serta didukung secara positif oleh penduduknya. Kerjasama mutualisme yang memberi manfaat bagi semua pihak.

Kelompok arsitek ternama yang disebut sebagai golongan starchitects mendapat imbasnya. Abu Dhabi misalnya mendekati Zaha Hadid, Jean Nouvel hingga Tadao Ando untuk membangun berbagai fasilitas budaya untuk memanjakan pengunjung dan semuanya diperkirakan akan mulai beroperasi tahun 2017.

Berbeda dengan Bilbao serta Abu Dhabi yang bersusah payah membangun identitas kotanya guna meyakinkan investor, Bali memiliki daya tarik tiada henti. Gelombang dengan daya pikat tinggi berasal dari jargon the last paradise yang didengungkan pada masa pemerintah kolonial bukannya memudar malah menunjukkan gejala yang menguat. Ribuan bangunan dibangun untuk tujuan memanjakan pengunjung dibangun tiada henti sejak masa pemerintahan Belanda hingga kini. Pariwisata menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Bali sejak pertengahan pertama abad ke 20.

Masih tingginya minat untuk berinvestasi di Bali ditunjukkan tidak pernah surutnya penanaman modal yang dilakukan oleh investor di Pulau yang dijuluki seribu pura ini. Klaim kepala BKPM Provinsi Bali yang dimuat di Harian Tribun Bali pertengahan bulan April 2015 mempertegas tren ini:

“Kalau tidak salah data yang saya lihat secara umum sampai triwulan pertama 2015 izin prinsip dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI jumlahnya itu mencapai Rp 13 triliun untuk Bali,” demikian kata IBM Parwata.

Dengan sedemikian besarnya investasi yang dipertaruhkan, tentu saja investor mengharapkan keuntungan yang tidak sedikit dari uang yang sudah ditanamkan. Tidak mengherankan jika kemudian investor berlomba-lomba membuat fasilitas yang semenarik mungkin, guna mengundang lebih banyak pengunjung yang datang sehingga semakin cepat pula modal yang dikeluarkannya kembali.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Bilbao, pemerintah relative tidak terlalu perlu bersusah payah membangun citra kota serta infrastruktur agar investor datang membawa dana yang tidak sedikit. Image Bali sudah dibangun selama bertahun-tahun dan bukan terjadi dalam waktu instan. Dimulai dengan strategy yang dikembangkan oleh perusahaan pariwisata Belanda, dilanjutkan dengan strategy pemasaran ala Bung Karno, Presiden pertama RI, dengan cara mengundang banyak kepala negara untuk datang ke Bali. Selama menjamu kepala negara sahabat, Bung Karno selalu mengajak mereka melihat berbagai sudut pulau Bali. Setelah masa presiden pertama, dilanjutkan dengan strategy pembangunan wisata massif yang dilakukan pada tahun 1970an.

Berbagai promosi ini bukanlah menjual pepesan kosong. Keunikan Bali sendiri, pulau kecil dengan pantai yang relative landai serta budaya yang unik: gabungan antara kepercayaan lokal dibalut pengaruh Hindu, Budha dan budaya China, membentuk ritual yang unik. Bukan infrastruktur sophisticated tetapi, perpadauan keindahan alam dan keunikan budaya ini menjadi senjata andalan dalam melakukan marketing guna menarik investor. Brosur wisata yang beredar luas menggambarkan keunikan tersebut. Di atas kertas licin berkilat, keindahan alam serta budaya tercetak indah: sawah berteras, pura di tepi danau yang tenang, pantai berpasir putih dan ombak, berpadu dengan gambar gemulai penari atau foto upacara pembakaran mayat (ngaben). Dengan infrastruktur seadanya investor tetap datang karena image yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun telah tertancap dalam di benak investor serta calon wisatawan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gang kumuh dan becek masih mudah dijumpai di berbagai sudut kota kita, kontras dengan fasilitas untuk wisatawan

Pariwisata membutuhkan infrastruktur yang baik, sehingga sangat masuk akal jika hal itu hanya berkembang di wilayah yang akan dilalui oleh jalur wisata saja dan ditujukan untuk memanjakan para wisatawan yang akan berkunjung. Dengan demikian dapat dipahami kenapa bandara harus diperluas, jalan tol di atas perairan harus dibangun dengan dana trilyunan rupiah. Sementara, di lain pihak, jalan di pedesaan, terminal-terminal angkutan umum serta infrastruktur yang melayani masyarakat umum terbengkalai. Focus pembangunan infrastruktur hanya berputar pada pelayanan wisatawan dan investor saja. Pembangunan bidang kepariwisataan tidak memiliki keterkaitan secara langsung dengan peningkatan kualitas infrastruktur serta kesejahteraan untuk masyarakat umum.

Jika anda adalah termasuk yang mengeluh tentang infrastruktur untuk masyarakat umum, maka saya yakin anda tidak sendiri. Dana trilyunan yang masuk ke Bali berfokus sepenuhnya untuk melayani serta memanjakan wisatawan menimbulkan ketimpangan. Jangan pula heran jika masih banyak keluarga miskin dan desa tertinggal di Pulau seribu pura ini.

2 thoughts on “Bilbao Effect: Investasi, Arsitektur dan Infrastruktur Kota

  1. Hai mas..bbrp waktu yg lalu saya ke Bilbao dan amaze sama kota yg super rapi dan bersih. Ternyata memang ada proses panjang di balik itu. Semoga kota di Indonesia bisa ada yg terkena Bilbao effect jg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s