Pertimbangan Iklim dalam Perancangan Arsitektur: GEDUNG PASCASARJANA UNIVERSITAS WARMADEWA DENPASAR

 Tim Desain: I Nyoman Gede Maha Putra – I Ketut Wistama Yasa Aryana
Grafis: I Ketut Wistama Yasa Aryana – Yoga Widnyana

Setidaknya terdapat tiga hal penting, di luar cara pandang manusia terhadap diri dan alam semesta atau yang sering disebut sebagai kosmologi, yang berpengaruh langsung terhadap bangunan yang dibangun oleh manusia. Hal pertama adalah tanggapannya terhadap iklim, berikutanya adalah materi apa yang dipergunakan guna menanggapi iklim tersebut, serta yang ketiga teknik apa yang dipakai dalam menanggapi iklim tersebu. Tiga hal mendasar ini, di luar factor budaya dan cara hidup masyarakat setempat, memberi karakter pada bangunan-bangunan vernacular yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Perbedaan pada bentuk bentuk yang dilahirkan di daerah yang berbeda-beda dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya keadaan sosio-kultural serta penguasaan teknologi setempat, tetapi upaya dalam rangka menanggapi iklim menunjukkan pola-pola serupa.

Bangunan-bangunan vernacular tradisional memiliki satu ciri pokok dalam bentuk tanggapannya yang positif terhadap iklim. Karakter ini lahir karena bangunan pada mulanya memang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya akan ruang sekaligus untuk melindungi diri dari pengaruh iklim. Dengan material yang tersedia di sekitar site serta dengan kemampuan teknis yang dimiliki (vernacular know-how), bangunan-bangunan vernacular diciptakan pada lokasi-lokasi yang telah dipilih. Setiap lokasi memiliki karakteristik alamiahnya tersendiri: posisinya terhadap matahari, kemiringan lahan, serta karakter alinnya menjadi pertimbangan. Ketersediaan material alami yang berbeda diiringi dengan pengatahuan pertukangan yang juga khas berkembang di daerah setempat menciptakan wujud yang berbeda. Karakter bangunan tercipta by necessity dan bukan by design.

Seiring perkembangan jaman, material tidak lagi diperoleh dari lingkungan sekitar, demikian pula ilmu konstruksi baru yang datang dari segala penjuru mempengaruhi perkembangan teknologi bangunan setempat. Pola pola membangun dengan mengedepankan material dan penguasaan teknologi setempat tidak lagi menjadi satu-satunya acuan. Sekalipun material serta teknologi bangunan telah jauh berkembang, namun iklim tidak banyak berubah. Sehingga, di masa kini, perkembangan material serta teknologi masih dipergunakan untuk memberi tanggapan terhadap iklim yang sama.

Merancang fasilitas pendidikan pascasarjana dengan tuntutan ruang yang fleksibel serta memiliki identitas yang menonjol, merupakan brief yang diberikan dalam penugasan perancangan Gedung Pascasarjana Universitas Warmadewa ini. Pentingnya ruang yang fleksibel karena pola perkuliahan, yang tercermin pada strategi pembelajaran, yang berbeda dibandingkan dengan pola perkuliahan prasarjana. Tuntutan untuk menampilkan identitas yang kuat dimaksudkan guna mendukung cita cita program pascasarjana sebagai batu pijakan baru dalam sejarah perkembangan Universitas Warmadewa.

Sesuai dengan tuntutan, yang dituangkan dari brief perancangan, maka program ruang disusun berdasarkan pertimbangan fleksibilitas penggunaan ruang. Ruang-ruang kantor dibuat open plan sedangkan ruang-ruang kelas dibagi dalam sekat sekat yang bisa dimodifikasi sesuai dinamika aktivitas yang akan berlangsung di dalamnya. Lobby sebagai area penerima dibuat dalam ukuran ‘cukup’, tidak terlalu luas naumn juga tidak terlalu sempit, agar pemanfaatan luas lantai bisa dipergunakan seoptimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan ruang utama. Dominasi ruang kelas serta ruang-ruang untuk aktivitas pembelajaran: ruang baca, ruang diskusi, serta ruang presentasi sengaja dilakukan untuk memenuhi tuntutan fleksibilitas tadi.

Secara vertikal, gedung dibuat empat lantai dimana lantai terbawah dimanfaatkan untuk parkir serta sirkulasi keluar masuk kendaraan. Lantai-lantai lainnya dirancang sesuai dengan intensitas penggunaannya. Lantai di atasnya dipergunakan untuk ruang-ruang admisnitrasi serta lobby. Dua lantai teratas dimanfaatkan untuk ruang ruang kelas serta ruang baca mahasiswa.

B04

Gambar: Denah lantai level lobby menunjukkan study pencahayaan untuk ruang-ruang administrasi

B07

Gambar denah ruang kelas dengan partisi yang bias di modifikasi sesuai kebutuhan ruang untuk memenuhi fleksibillitas penggunaan ruang.

Identitas adalah isu yang selalu actual untuk diperdebatkan di dalam arsitektur. Sebagai konsep yang cair, identitas tidak melulu berkutat pada hal-hal yang bersifat fisik tetapi juga non fisik, melibatkan konsep dan ide serta cara kerja beserta segenap pattern yang tercipta dari proses kerja. Arsitektur Bali, berkembang dari masa sebelum era masyarakat mengenal tulisan hingga jaman internet, telah berkembang sedemikian pesat. Identitasnya, secara budaya, juga turut bergerak dinamis. Perkembangan identitas arsitektur Bali diiringi berbagai macam pandangan, sebagian merasa optimis sementara sebagian lainnya merasa identitas arsitektur Bali tengah terancam akut.  Dalam mebangun identitas gedung ini, diambi strategi pendekatan iklim. Tanpa mengambil salah satu typology, yang umumnya ditempuh saat ingin membangun identitas, strategy perancangan wujud mengandalkan pada ke ber-akar-an yang bersumber pada tata atur proporsi, tata olah material, serta strategy bukaan dan naungan yang kesemuanya ditujukan untuk menyiasati iklim panas-lembab.

Site terletak pada posisi yang relative sulit, di lokasi yang selama ini berfungsi sebagai lahan parkir sekaligus jalur keluar masuk kendaraan sehari-hari. Lebar site terbatas serta panjang site lebih fleksibel. Dengan posisi yang memanjang ke arah utara-selatan, maka sisi terpanjang site memperoleh cahaya matahari langsung. Sisi bagian timur mendapat sinar sepanjang pagi hingga tengah hari, sementara sisi bagian barat terpapar selepas tengah hari hingga matahari tenggelam. Posisi secama ini berpotensi untuk menyebabkan interior bangunan menjadi panas akibat dinding bagian timur dan barat yang terpapar cahaya matahari langsung. Hal ini berpotensi mengurangi kenyamanan pengguna.

3-4

Gambar study bagian kanopy bangunan serta areal tangga utama.

Mengahadapi tuntutan ruang, keinginan untuk memimiliki identitas baru serta mempertimbangkan posisi site, pendekatan iklim menjadi pilihan dalam perancangan gedung pascasarjana ini. Pilihan pendekatan ini akan dipergunakan sebagai strategi untuk menjawab persoalan program dengan tetap tampil membumi serta di sisi lain juga diharapkan mampu menghemat penggunaan energy baik lampu, terutama di siang hari, maupun pendingin ruangan (AC).

Rancangan Gedung pascasarjana ini mengadopsi pengetahuan tradisional tanpa harus  mengingkari perkembangan teknologi terkini. Penggunaan material-material baru ditujukan untuk menunjang performa bangunan dalam menanggapi iklim. Kaca dipergunakan untuk memaksimalkan cahaya masuk ke dalam gedung. Penempatannya dipertimbangkan untuk menghindari bangunan dari panas berlebih (overheat) yang dapt berimbas pada meningkatnya penggunaan AC. Jendela-jendela dirancang untuk menghadap utara dan selatan sehingga terhindar dari panas matahari langsung baik pada pagi maupun siang hingga sore hari. Dengan demikian diharapkan terang matahri masih bisa sampai ke dalam interior bangunan namun panasnya tidak masuk ke dalam gedung.

8-4

Gambar study bagian depan bangunan untuk melihat efekstivitas cahaya alami yang masuk menerangi lobby dan ruang ruang bagian depan.

Penciptaan banyak bayangan guna menurunkan suhu interior bangunan umumnya banyak diterapkan di permukiman-permukiman panas di tepi pantai. Rumah-rumah sengaja dibuat saling berdekatan sehingga bayangan rumah yang satu jatuh pada dinding rumah yang lain serta menaungi ruang terbuka: jalan setapak ataupun natah. Dengan penataan yang demikian, bayangan-bayangan yang tercipta menghindarkan suhu ruang yang tinggi.  Pendekatan semacam ini dipergunakan dalam merancang wajah gedung. Wajah gedung dibuat maju mundur untuk menciptakan banyak bayangan yang akan menurunkan temperature permukaan gedung. Beberapa bagian dibuat menonjol sementara bagian lainnya sengaja disdesain menjorok ke dalam (recessed). Sebagian dinding masih terpapar oleh sinar matahari langsung tetapi banyak permukaan yang mendapatkan teduh bayangan dari permukaan dinding lainnya. Penggabungan pendekatan perancangan seperti ini menghasilkan karakter gedung yang modern namun tidak tercerabut dari akar pengetahuan arsitektur setempat.

Untitled-1

Gambar study wujud 3 dimensional bangunan dari berbagai sudut untuk melihat berbagai efek cahaya. Bagian yang terpapar cahaya langsung diusahakan tampil solid, jendela-jendela kaca menghadap utara dan selatan agar tidak terkena cahaya langsung.

Program 3 dimensional computer dipergunakan untuk membantu melakukan study bayangan pada tahap pra-desain. Dari study-study bentuk 3 dimensional ini keputusan-keputusan desain dibuat dengan mempertimbangkan kesulitan yang mungkin muncul, material yang dipergunakan serta efek banyangan yang ditimbulkan dari bentuk-bentuk yang dibuat. Dari study model juga disusun strategy penanaman pohon serta semak untuk membantu menciptakan keteduhan.

Perancangan lansekap pada gedung ini, selain untuk kepentingan estetika, diarahkan untuk mendukung strategi menanggapi iklim yang menjadi tema utama perancangan gedung ini. Penempatan tanaman sesuai ketinggian serta jenisnya diharapkan akan menciptakan iklim luar ruangan yang juga sejuk serta tetap nyaman.

1-4

Gambar Clay render tampak depan gedung. Permukaan yang menonjol menciptakan bayangan pada jendela jendela kaca besar member keteduhan pada permukaan gedung.

Keberhasilan desain sebuah gedung ditentukan oleh seberapa sukses brief diterjemahkan menjadi program untuk selanjutnya dieksekusi menjadi rancangan. Rancangan ini kemudian diwujudkan ke dalam wujud fisik dan selanjutnya dipergunakan oleh pengguna. Untuk mengukur keberhasilan gedung ini, perlu dilakukan evaluasi pasca huni untuk mengukur kesuksesan program ruang yang dibuat dalam menjawab kebutuhan ruang, kesuksesan strategi perancangan dalam menjawab persoalan perancangan: iklim, material, teknologi dan sebagainya. Pada akhirnya kepuasan pengguna akan menjadi tolok ukur utama.

10358931_10204766032421627_8805131533018006924_o

Gambar penggunaan tanaman sebagai elemen aktif untuk menciptakan ruang-ruang yang teduh serta me’lembut’kan tampilan luar bangunan.

10688187_10204766030821587_2396572685464964058_o

Gambar gedung pascasarjana dari arah selatan. Bagian bawah (kolong bangunan) adalah jalur keluar areal kampus dan juga parkir.

 

MELIHAT MODERNISME DENGAN KACAMATA MASA LALU

Fundamentals Catalogue : La Biennale di Venezia 2014 by Rem Koolhaas

In 1914 it made sense, perhaps, to talk about ‘Chinese’ architecture, ‘Swiss’ Architecture, ‘Indian’ Architecture. One hundred years later, under the influence of wars, revolutions, diverse political regimes, different states of development, architectural movements, individual talents, friendships and technological progress, architectures that were once specific and local become seemingly interchangeable and global. Has national identity been sacrificed to modernity? –Rem Koolhaas–

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Katalog paling tebal yang pernah saya lihat sejauh ini

Arsitektur modern sudah divonis mati oleh Charles Jencks beberapa decade lampau, namun nyatanya nafasnya masih berdenyut hingga kini. Setidaknya Rem Koolhaas, yang ditunjuk sebagai director Venice Biennale 2014 menganggapnya begitu melalui tema pameran, yang disampaikannya kepada 66 delegasi negara peserta, ‘Absorbing Modernity’. Apa sebetulnya yang hendak dicari dari pameran ini merupakan sesuatu yang barangkali sudah dipertanyakan selama bertahun tahun. Pada Architecture Biennale pertama, dikuratori oleh Paolo Porthogesi, pun sebenarnya sudah tersirat pertanyaan serupa. Tema pameran, yang dilaksanakan pada tahun 1980 tersebut, ‘Presence of the Past’ seolah menjadi antithesis terhadap aliran modernisme yang melulu melihat ke depan. Perlu suatu titik dimana introspeksi menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Rem sendiri tanpa ragu-ragu, di dalam katalog pameran ini, menyebutkan bahwa dahulu dia sempat kebingungan dengan tema yang disodorkan oleh Porthogesi karena, mungkin, baginya modernisme adalah soal masa depan bukan masa lalu.

Rem Kolhaas, arsitek kelahiran Rotterdam 71 tahun lampau, tak dipungkiri lagi adalah figure penting dalam dunia arsitektur abad ini baik dalam sebagai seorang praktisi ataupun theorist. Karya-karyanya jelas menggambarkan pandangannya soal arsitektur masa kini serta ramalannya tentang arsitektur yang akan semakin hybrid di masa mendatang. Memulai karirnya sebagai sutradara, Rem kini juga dikenal sebagai urbanist dengan pemikiran tentang masyarakat modern yang akan semakin kosmopolit. Kota-kota, karena pergrakan penduduk yang sangat dinamis, diyakini akan dihuni oleh penduduk dari berbagai macam ras yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan desain yang sama sekali baru. Selain menghasilkan karya-karya berupa rancangan kota, arsitektur hingga furniture, banyak buku yang telah ditulis baik sendiri maupun bersama kolaboratornya. Buku-buku tersebut diantaranya: Delirious New York; S,M,L,XL; Junkspace, Living-Vivre-Leben dan masih banyak lagi, mempengaruhi pemikiran-pemikiran arsitektur dari elemennya yang paling mendasar: manusia.

Rem Koolhaas yang ditunjuk menjadi director untuk Architecture Biennale 2014, mengambil tema Absorbing Modernity, menginginkan agar negara-negara peserta menceritakan apa yang terjadi di negara masing-masing selama 100 tahun terakhir, dimulai dari 1914 hingga 2014, di bidang arsitektur serta di bidang pembangunan secara umum. Seolah ingin melakukan melihat kembali kejadian lampau, pameran kali ini melihat modernisme sebagai sesuatu yang bukannya harus didengungkan untuk masa mendatang melainkan sebagai sesuatu ujian yang terjadi di masa lalu. Sepanjang kurun 100 tahun tersebut tentu semua negara peserta mengalami sendiri goncangan, shock, di bidang social, politik, ekonomi dan berpengaruh pula terhadap arsitektur dan kota-kota di negara tersebut. Cerita inilah yang diminta untuk diputar kembali. Begitulah, 66 negara peserta lalu menyajikan tema tersebut dalam beragam bentuk.

Katalog ini sampai di tangan saya dalam waktu yang cukup singkat sejak saya mulai memesannya di Amazon, kurang dari 24 jam. Saat saya membuka karton pembungkusnya, isinya ternyata sangat tebal dan cukup berat. Terbengong, orang Bali menyebutnya’ care cicing nepukin tai gede’ saya bingung darimana harus memulai menikmatinya. Meskipun statusnya adalah katalog, tetapi ini di luar ekspekstasi saya terhadap sebuah buku pengantar pameran yang biasanya kecil, menarik, kertas licin dan enak dibaca karena ringkas. Yang ini setebal nyaris 600 halaman plus halaman depan. Untunglah dijilid cukup sophisticated sehingga tidak mengkhawatirkan akan jebol atau rusak. Dengan ketebalan yang ekstrem untuk sebuah katalog, terus terang agak menyulitkan untuk menikmatinya, dibaca sambil tidur susah, sambil duduk takut jilidannya tidak kuat. Lay outnya, bagi yang tidak familiar dengan buku-buku a la Netherlands Architecture Institute (NAI), cukup membuat kening berkerut dan mata cepat lelah. Margin untuk teks sangat tipis baik kiri kanan maupun atas sementara gambar-gambar diletakkan di setengah bagian bawah halaman tanpa margin baik kiri-kanan maupun bawah. Tebalnya katalog ini, menunjukkan seberapa serius Rem Koolhaas dan timnya membahas issue ini, membuatnya susah untuk dibawa-bawa.

Isinya terbagi ke dalam tiga sub tema besar, yang pertama tentu saja mencakup isi tema utama pameran ini yaitu ‘Absorbing Modernity’ menampilkan konsep pavilion 66 negara peserta serta, yang sangat unik , liputan kejadian yang menimpa 66 negara peserta dalam 100 tahun melalui essay foto yang dibuat secara bersambung di bagian bawah halaman. Jangan terkecoh, seperti saya pada awalnya, essay foto-foto di halaman tidak berkorelasi secara langsung dengan teks di halaman yang sama di mana foto diletakkan. Foto-foto dibuat bersambung, secara kronologis berdasarkan tahun, dari halaman yang satu ke halaman berikutnya menjalin sebuah cerita tersendiri, sementara teks di bagian atas merupakan penjelasan terhadap konsep pavilun masing-masing negara yang disusun secara alphabetical. secara asimetri, cerita sejarah seratus tahun perkembangan arsitektur berbagi ruang dengan kisah soal bagaimana negara peserta melakukan intepretasi terhadap tema yang disodorkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Teks di bagian atas tidak berkorelasi langsung dengan essay foto di bagian bawah halaman. Masing-masing memiliki informasi yang berbeda.

Sejarah, adalah sesuatu yang nampaknya ingin disusun oleh Rem dan timnya dalam biennale 2014 ini. Hal ini tercermin pula dalam ulasan bagian kedua dari katalog ini yang mengetenghkan elemen-element arsitektur. Pada bagian ini paparkan berbagai elemen yang dipakai dalam arsitektur beserta perkembangannya. Elemen-elemen tersebut dipakai, sekaligus juga menjadi objek pameran pada central pavilion dari bienalle ini. Pada bagian akhir diberi kesempatan untuk bidang art Italia termasuk seni sinematografi, teater, dan tari yang menjadi elemen pengisi pada acara biennale. Semua pentas beserta kisahnya, terutama terkait dengan sejarah modernity, ditampilkan dalam bab bertajuk Monditalia.

Modernity, sekali lagi, belum mati sebagaimana ditegaskan oleh Rem dalam katalog ini, akan tetapi, melihat 66 paviliun dan juga serial foto essay yang mengiringi katalog, diserap oleh semua negara dalam berbagai bentuk melalui tanggapan yang juga beragam. Kehadirannya pada awal hingga pertengahan abad ke dua puluh dengan anak kandungnya international style, harus diakui, telah mengguncang dunia. Banyak yang khawatir bahwa modernitas, sebagaimana diungkap dalam pembukaan bab ‘Absorbing Modernity’, akan mereduksi identitas nasional. Tetapi kini modernitas mengalir dalam berbagai bentuk, tidak bisa dilihat sebagai hitam putih berlawanan dengan gerakan lain di arsitektur misalnya ‘Regionalism’. Moderisme, di tangan yang berbakat, justru bisa dipakai sebagai senjata untuk mempertajam identitas nasional.

Seandainya kerangka kerja yang sama, melihat balik ke belakang, dipakai untuk membahas arsitektur Bali, mungkin akan bisa kita lihat apa yang terjadi serta bagaimana modernitas di absorb oleh arsitek dan mempengaruhi arsitektur Bali.  Perdebatan yang dibalut romantisisme, yang mendominasi diskurus arsitektur Bali saat ini, barangkali bisa digiring ke arah yang lebih produktif, menghasilkan typology baru yang tetap mengakar namun tidak mengingkari ke-sejamanan-nya.

Membaca katalog ini seolah kita diingatkan kembali perkembangan arsitektur tidak bisa dilepasakan dari sejarah social-politik-dan ekonomi sebuah negara. Buku ini, meskipun statusnya sebagai katalog, tidak hanya berperan sebagai pengantar sebuah pameran saja, tetapi dia hadir sebagai bagian pokok dari pameran. Akan sangat bermanfaat tidak saja bagi sejarahwan arsitektur maupun sejarahwan pada umumnya tetapi juga bagi praktisi: para arsitek dan desainer kota, yang ingin memahami lebih jauh soal isu-isu moderinisme dan pengaruhnya terhadap identitas tempat atau identitas negara.

Ubud di Tahun 2015

DSC_2045

Duduk termangu di dalam kedai kopi starbucks saya menatap jalanan di depan yang dipenuhi orang berlalu lalang. Para turis yang hendak makan siang di rumah makan yang berjejer sepanjang jalan, serombongan anak tanggung baru pulang sekolah, sejumlah orang berpakaian adat menuju ke pura, para pebisinis dari berbagai belahan dunia di dalam mobil yang merayap pelan, hingga para pencari rejeki: supir-supir angkutan wisata yang tak kenal lelah menawarkan jasa kepada setiap orang yang lewat. Ubud telah jauh berkembang. Penduduknya tidak hanya warga asli tetapi berasal dari seluruh dunia, para pekerjanya juga demikian, berasal dari berbagai belahan dunia mencoba peruntungannya di wilayah yang secara teritori tidak terlalu luas ini.

Setengah tidak percaya saya menatap cairan pekat di depan yang harganya setara dengan penghasilan sehari sewaktu baru tamat kuliah dulu. Dengan harga yang sama mungkin bisa membelikan 25 orang teman lagi di warung depan rumah. Apa boleh buat, katanya ini kopi impor berasal dari luar negeri. Ah sudahlah, saya mengarahkan kamera ke arah jendela besar di depan, dimana di seberangnya nampak wajah kota Ubud.

Bangunan-bangunan komersil menggantikan wajah tradisional di baliknya: angkul-angkul dengan dinding tinggi melingkupi rumah tinggal warga asli Ubud. Sepanjang jalan sudah sulit ditemui celah yang tidak dimanfaatkan sebagai toko cinderamata, kedai, restaurant hingga boutique. Beruntunglah Pura Desa dan Puseh masih bisa dilihat dengan jelas seperti juga Puri Ubud, salah satu daya tarik utama kawasan ini. Selebihnya kawasan komersil yang terbuka ke arah jalan.

DSC_2065

Para pemilik usaha tersebut nampaknya juga tidak hanya berasal dari kalangan warga lokal, tetapi banyak juga yang dari luar daerah bahkan dari luar negeri. Lihat saja toko-toko franchise yang dibuka, seperti kedai kopi tempat saya duduk menikmati suasana siang itu, ada juka merk Nike, toko buku Periplus atau toko baju merk Hurley. Toko-toko buku menjual buku-buku licin berbahasa asing, koran-koran terbitan Australia, Singapura hingga Amerika Serikat dan Inggris. Tak tersangkalkan lagi, Ubud adalah kota internasional dengan selera global. Bagaimana Ubud tumbuh dan berkembang menjadi demikian cosmopolitan padahal lokasinya jauh dari pusat pemerintahan provinsi apalagi pemerintahan nasional?

Ya karena pariwista yang telah menjelma menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi Ubud. Hari ini mungkin lebih dari setengah penduduk ubud menggantungkan hidupnya pada pariwisata. Berpuluh tahun lampau, kegiatan pariwisata hanya menjadi arena mencari pengahasilan tambahan setelah pertanian. Kegiatan seperti melukis, menari, memahat patung atau menjadi pemandi wisata dilakukan setelah pekerjaan di sawah selesai. Keadaan kini berbalik. Perkembangan pariwisata mampu membalikkan posisi dari penunjang menjadi kegiatan utama.

Pariwisata pula yang mengundang puluhan investor untuk datang dan memercayakan uangnya untuk berkembang disana. Lihat saja tebing-tebing yang dipadati hotel-hotel berjaringan maupun yang tidak berjaringan dalam bentuk boutique villas. Sector-sektor lain sekarang nampaknya hanya menjadi sector penunjang saja, pariwisata tetap menjadi panglimanya. Di pelosok-pelosok terpencil jauh dari pusat kota ubud, beberapa orang dewasa sibuk memahat dan menakik kayu menjadikan komoditas seni yang dijajakan di sepanjang jalan utama. Di lain daerah beberapa wanita menjalin ‘ata’ menjadikannya bentuk bentuk unik berupa miniature kendaraan besar, sepeda onthel atau bentuk menarik lainnya. Tidak banyak lagi generasi petani yang bisa dijumpai.

DSC_2046

Apa yang saya saksikan di Ubud hari itu tidak terlepas jauh dari sejarah pembanguan pariwisata yang ternyata membawa dampak pada perubahan kehidupan masyarakat, tata ruang hingga arsitekturnya. Pariwisata Ubud tidak bisa dilepaskan dari peran Raja Ubud yang pada awal abad 20 menjalin hubungan baik dengan seniman-seniman internasional yang berkunjung ke Bali.

Pada tahun 1920-1930-an akhir, digiring oleh publikasi awal tentang Bali mulai dari W.O.J Nieuwenkamp hingga Gregore Krause, dan tidak bisa diremehkan adalah film Hollywood berjudul Goona-Goona,  banyak seniman, anthropologists, serta peneliti yang datang ke Bali. Tidak sedikit diantaranya yang lalu tinggal menetap, berbaur dengan penduduk local mengembangkan karir hingga mencapai ketenaran internasional. Publikasi-publikasi pada masa awal hingga pertengahan abad 20, yang ditulis oleh seniman dan peneliti tersebut, menjadi batu pijakan pariwisata Bali hingga hari ini.

Spies datang ke Bali dan menetap di Ubud sekitar tahun 1927. Sebelumnya, pelukis berkebangsaan Jerman ini tinggal di Yogyakarta. Berkat kerjasamanya yang baik dengan raja Ubud, Spies diijinkan tinggal di sebuah tempat di tepi jurang, di mana dibawahnya mengalir dua sungai yang menjadi satu, campuhan. Tempat semacam ini umumnya oleh masyarakat Bali dihindari karena dianggap angker. Tetapi nampaknya tempat ini cocok dengan preferensi Spies sebagai pelukis: alam yang tenang, tidak terlampau ramai tetapi juga dekat dengan pusat-pusat kesenian masyarakat local serta iklimnya sejuk seperti di Eropa. Sejak menetap di Ubud, Spies dengan cepat mengembangkan pengetahuan kebudayaan local terutama di bidang kesenian. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1929, Rudolf Bonnet, seorang pelukis Belanda menyusul untuk menetap di Ubud.

DSC_4129

Rumah Walter Spies, kini Hotel Campuhan. (photo courtesy Luca Invernizzi Tetoni)

Walter Spies menjadi salah satu tokoh sentral dalam perkembangan kesenian dan pengetahuan tentang budaya Bali. Ibarat pintu masuk, Spies menjadi nara sumber bagi seniman-seniman selanjutnya yang hendak melakukan study tentang Bali secara umum. Ibarat magnet, rumah Spies menarik wisatawan-wisatawan minat khusus, mereka yang tidak hanya tertarik pada kualitas di permukaan tetapi juga ingin mendalami pengetahuan tentang Bali.

Rumah spies menjadi lokasi favorit para seniman dan anthropologist berikutnya. Tidak kurang Collin McPhee dan istrinya antropolog Jane Belo, Margareth Mead dan suaminya Gregory Bateson, novelist terkenal Vicki Baumn hingga aktor Charlie Chaplin. Selanjutnya ada Miguel dan Rose Covarrubias, seniman anthropology Meksiko yang juga singgah di rumah Walter Spies. Konon di rumah yang dibangun oleh Spies inilah Miguel Covarrubias menyelsaikan satu bagian bukunya yang sangat terkenal, the Island of Bali. Bagian dari buku tersebut adalah tentang jiwa kesenian orang bali yang sudah mendarah daging. Setiap orang bali, apapun profesinya, petani, sangging, peternak pasti mampu menari atau menabuh, demikian Covarrubias.

Rumah Walter Spies sebetulnya cukup sederhana, struktur bamboo dan kayu beratap alang-alang. Tidak jauh berbeda dari rumah-rumah penduduk sekitar. Akan tetapi Spies menyesuaikannya dengan gaya hidup ala barat, melengkapinya dengan kamar mandi, yang pada masa itu tidak terdapat di rumah orang bali, serta ruang kerja studio lukis. Menyatu dengan lingkungan sekitarnya, rumah Spies justru menjadi unik di mata rekan-rekannya sesama seniman. Colin Mcphee kemudian juga menyewa sebidang lahan dengan posisi di tepi jurang di Sayan, mirip seperti lokasi rumah Spies dan membangun pesanggrahan. Selanjutnya nyaris semua seniman yang menetap di Ubud meniru, dengan membangun rumah di tepi tebing. Rumah-rumah tersebut memperoleh keuntungan ganda, selain harga lahannya relative murah, karena tebing bukanlah lahan produktif, juga pemandangan yang spektakuler, sungai yang mengular di bawah serta persawahan dan hutan kelapa di kejauhan.

Selain dari lingkaran pertemanan Walter Spies, Ubud juga ramai dikunjungi setelah dibentuknya Yayasan Pita Maha oleh Spies, Rudolf Bonnet dan Tjokorda Gede Agung Sukawati, raja ubud saat itu dan saudaranya Tjokorda Gede Raka Sukawati. Yayasan yang didirikan tahun 1936 ini antara lain aktif melakukan pameran terhadap karya-karya seniman local ke mancanegara terutama ke eropa. Setelah pecahnya perang dunia kedua yayasan ini non aktif lalu terbentuk kelompok baru yang disebut Ubud Painters Group. Tetapi umur kelompok ini tidak lama. Setelah itu muncul keinginan untuk membangun sebuah museum untuk mengabadikan karya-karya seniman Ubud. Ide ini lalu dirintis melalui pembentukan yayasan Ratna Wartha di tahun 1953 setelah Bonnet kembali dari negeri Belanda pasca perang dunia kedua. Tahun 1954 pembangunan museum dimulai. Lokasinya lagi-lagi berada di tepi sebuah tebing  di pinggir sawah.

Tebing-tebing yang semula tidak bernilai ekonomi lalu berubah menjadi wilayah yang bernilai. Rumah Spies, setelah kematiannya yang tragis di atas kapal tawanan Belanda yang akan menuju Ceylon di bom oleh Jepang di dekat Sumatera, juga telah menjadi Hotel Campuhan. Tebing tebing mulai ramai. Hotel-hotel besar membangun di tebing sepanjang sungai-sungai yang mengalir di sebelah barat dan timur Ubud.

Salah satu hotel yang fenomenal adalah karya Peter Muller di atas tebing di desa payangan, Amandari Hotel. Setelah gagal mewujudkan cita-citanya membangun hotel bergaya Bali di Sanur, Peter Muller, arsitek Australia yang mencintai budaya Bali, memiliki kesempatan untuk mewujudkan idenya. Setelah berdirinya hotel ini, dengan harga menginap per malam yang fantastis, Ubud menjelma pusat turisme kelas atas menarik wisatawan minat khusus. Hotel Amandari sendiri menjelma menjadi standar baru perhotelan kelas atas di Bali era 80-an hingga 90-an.

Tentu saja tidak semua turis bisa menginap di hotel mahal di ubud. Banyak turis-turis dengan kondisi ekonomi pas-pasan namun ingin menginap di Ubud, merasakan athmosfir kesenian local, yang mencapai puncak kejayaannya setelah berkolaborasi dengan seniman-seniman internasional. Turis-turis ini lalu ditampung di rumah-rumah penduduk membentuk pola bisnis baru, homestay. Dengan hadirnya typology homestay, maka dua kebutuhan akomodasi turis tersedia. Hotel-hotel mahal di tepi jurang bagi golongan berduit dan ber-homestay ria di rumah-rumah penduduk bagi yang memiliki dana terbatas. Penyediaan akomodasi dari kedua kelompok ini menyebabkan Ubud berkembang secara horizontal merambah tebing tebing serta secara interstitial dimana terjadi pemadatan di wilayah-wilayah yang sudah terbangun.

map

Tebing-tebing di Ubud dipenuhi hotel-hotel (google maps)

Tapi bisnis pariwisata tidak melulu soal akomodasi, bukan hanya soal menginap saja. Dari sinilah bisnis lainnya berkembang. Pasar tradisional kini berubah pasar cenderamata. Restaurant dan café menjamur sepanjang jalan termasuk juga jasa angkutan, guide, pertunjukan dan atraksi wisata. Tebing-tebing terus beralih fungsi, kamar-kamar baru dibangun di natah yang sudah sesak untuk dijadikan kamar homestay. Jalanan macet, perencanaan yang selalu kalah cepat dibandingkan pergerakan para investor. Ubud kini penuh sesak dengan segala pernak-pernik pariwisata.

Saya merapikan meja, memasukkan kamera ke sarungnya sembari menghabiskan sisa kopi di cangkir. Sayang dibuang, harganya mahal. Lalu kembali beranjak menyusuri trotoar sempit menghampiri sepeda motor yang parkir tak jauh di seberang. ‘Mau ke arah mana mas?’ tanya tukang parkir setengah baya berseragam biru. ‘ Jagi nganginang pak’ sahut saya sambil memamerkan senyum lebar setelah menyerahkan selembar uang seribuan.