Stratford Upon-Avon: Slow City?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gedung-gedung tua dimanfaatkan untuk fungsi-fungsi baru. Dengan demikian lahan bisa dihemat

Kota Stratford dikenal sebagai kota kelahiran penulis dan filsuf terkenal William Shakespeare dan nama besar Shakespeare pula turut menjadi daya tarik dan daya jual  kota kecil di tengah Britania Raya ini. Seperti disebutkan dalam salah satu episode Wayang Cenk-blonk di Bali, sebatang pohon yang menghasilkan kayu serta buah yang berguna membuat terkenal seluruh hutan tempat tumbuhnya. Tetapi, sebaliknya tanaman itu juga bisa tumbuh subur dan menghasilkan buah karena dukungan dari hutannya yang subur dan terjaga. Demikianlah ibaratnya mungkin hubungan antara si penulis dan kotanya ini. Dahulu kota ini menjadi inspirasi Shakespeare, kini kota ini mendapat berkah dari ketenaran si penulis.

Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan waktu hampir jam 11 siang namun  dinginnya cuaca membuat hari seolah masih pagi. Cahayanya yang tersembunyikan oleh tebalnya mendung, sesekali menjelma gerimis, menambah suasana seolah matahari belum beranjak dari peraduannya. Stasiun kereta kecil kota Stratford, jauh lebih kecil dibandingkan terminal Batubulan pada masa jayanya dulu di tahun 80-an, menjadi perhentian sebelum saya melanjutkan perjalanan ke rumah Mbok Ani.  Bersama suaminya, Mbok Ani yang berasal dari wilayah Intaran di Sanur sudah puluhan tahun tinggal di kota kecil ini, dan hari itu beliau mengundang saya untuk merayakan Hari Raya Kuningan bersama di rumahnya yang asri di tengah Kota Stratford-upon-avon.Keluarga Pak Agung, yang juga tinggal di UK, sudah menunggu untuk bersama-sama berjalan menuju lokasi perayaan Kuningan.

Kota Stratford menawarkan pemandangan yang sangat kontras dengan kota-kota besar di seantero Inggris. Jangan membandingkannya dengan Liverpool, Newcastle, Manchester apalagi London. Stratford memiliki nuansa pedesaan dibandingkan suasana kota besar. Nuansa perkampungan ini menyeruak begitu langkah kaki meinggalkan stasiun dan bergerak menuju ke arah pusat kota. Lalu lintas yang tidak begitu ramai dan pepohonan sepanjang jalan membuat pengalaman berjalan kaki menjadi menyenangkan. Lalu-lalang manusia mungkin sama banyaknya, kalau tidak bisa dibilang malah lebih dominan, dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Meskipun cuaca tidak bisa dibilang baik, dengan angin dan suhu yang menusuk tulang, tetap saja banyak orang yang berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak kota.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pedagang cenderamata di pasar

Tepat di jantung kota, sebuah pasar kecil berada di halaman luas yang diperkeras batu alam lebar. Didominasi oleh golongan yang sudah berumur, pasar tersebut ramai dikunjungi penduduknya. Di bagian terdepan sederetan penjual lukisan serta benda kerajinan setempat dengan cepat menarik perhatian saya. Lukisan karya pelukis lokal, hiasan yang terbuat dari tempelan perangko hingga papan-papan reklame usang bisa kita jumpai. Masuk lebih ke dalam, penjual pakaian rajutan serta pakaian bekas sibuk menata dagangannya. Aroma hidangan yang dipanggang menyeruak menyelingi udara dingin siang itu. Penjual babi panggang rupanya tengah asyik mengiris-iris daging dan menjajakannya kepada orang yang lewat di depannya. Sesekali gelak tawa pengunjung yang bercengkrama dan bersenda gurau dengan pedagang terdengar. Suasana akrab jelas terasa. Saya memejamkan mata menikmati aura siang yang sama sekali tidak panas itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pusat perbelanjaan utama Kota Stratford

Selepas pasar, perjalanan memasuki daerah yang lebih padat dengan toko-toko serta kedai kopi diselingi oleh bangunan perkantoran serta rumah penduduk. Bangunan di Stratford didominasi oleh bangunan tua. Seringkali disebut sebagai bangunan vernacular dengan batang-batang kayu besar sebagai struktur utamanya yang menyangga atap-atap pelana. Dinding-dinding dicat warna putih kontras dengan warna coklat tua kehitaman kayu rangkanya. Usia bangunan-bangunan ini mungkin sudah ratusan tahun serta telah menjadi saksi pertumbuhan penduduk serta dinamika perekonomian masyarakatnya. Nyaris tidak terdapat bangunan baru dengan struktur modern sepanjang jalan. Toko serba ada Mark & Spencer serta kedai kopi modern Costa pun menempati banguan tua yang nampak semakin berkharisma dalam usianya.  Daya tarik utama kota, rumah tempat Shakespeare dilahirkan dibiarkan apa adanya dan di sebelahnya dibangun semacam museum serta area penjualan tiket bagi yang ingin masuk ke dalam rumah serta taman Shakespeare.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Taman-taman dengan patung yang terbuat dari logam di tepian Sungai Avon

Jalanan sebagian beraspal, tetapi jalan-jalan lama, pedestrian dengan perkerasan batu alam tetap terpelihara dengan baik. Mobil-mobil tidak diperkenankan melewati jalan lama semacam ini sehingga membuatnya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi pejalan kaki. Jumlah setapak yang banyak dan menjangkau setiap sudut kota mengundang penduduk untuk lebih memilih berjalan kaki. Orang tua hingga anak-anak nampak di setiap sudut jalan kota dengan wajah riang. Suasana yang mungkin sudah sangat sulit ditemui di kota-kota yang didominasi oleh kendaraan. Saya jadi membayangkan kalau di Ubud atau kota-kota kecil lainnya di Bali tersedia jalan-jalan setapak yang nyaman. Pastilah hidup akan lebih menyenangkan saat setiap orang bisa saling berpapasan dan saling menyapa, bergosip tentang berkurangnya hasil padi atau turis yang kian ramai. Jalan setapak tidak hanya berfungsi untuk menghubungkan dua titik tetapi juga bermanfaat sebagai ruang-ruang sosial tempat penduduk bertemu.

Ya seperti namanya, kota ini memang berada di tepian sungai Avon. Dari sini pula kota ini disebut sebagai Stratford-Upon-Avon. Seperti juga daerah-daerah kuno di Bali yang memperoleh namanya dari ciri fisik alamiahnya demikianlah kota ini dinamai dan mendapatkan identitasnya. Sungai Avon yang tenang mengalirkan airnya membelah kota tepat di tepian pusatnya. Tepian sungainya nya ditata menjadi taman-taman serta fasilitas umum dilengkapi dengan patung-patung yang indah terbuat dari logam berwarna hijau. Selera artistic penghuni kota ini nampaknya memang di atas rata-rata. Pasangan batu alam jembatan, taman taman yang melingkar-lingkar di tepian sungai, serta bangunan-bangunan lama berpadu dengan keindahan bentang alamnya. Bebek dan angsa meluncur tanpa suara di atas air sungai yang tenang. Perpaduan yang saling melengkapi antara lingkungan buatan manusia dan lingkungan alami, demikian pula penghuninya. Binatang liar dan manusia dapat berinteraksi dengan baik. Bebek-bebek atau angsa liar tidak pernah takut atau terganggu oleh manusia. Sebaliknya, manusia juga tidak merasa terancam oleh binatang tersebut.

Banyak hal-hal kecil namun unik disini. Pedagang snack dan jajanan, yang di Indonesia sering disebut PKL, menggunakan perahu sebagai tempatnya berjualan. Mereka berada di atas sungai dan bagi yang ingin membeli tinggal mendekati perahu-perahu dan sedikiti menunduk karena posisi perahu lebih rendah dibandingkan posisi kita berdiri untuk membeli produk penganan. Café-café pinggir jalan siang itu tidak begitu ramai karena cuaca yang tidak mendukung. Gerimis serta berawan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Perahu-perahu pedagang ‘kaki lima’ di tepian sungai Avon

Saya teringat salah satu artikel yang menyebutkan kota-kota sedang berlomba-lomba menarik investasi. Segenap daya upaya diarahkan untuk mendatangkan investasi sebanyak-banyaknya demi kesejahteraan penduduknya serta pembangunan kotanya. Dalam upaya yang serba cepat dan bersaing dengan kota tetangganya, gedung-gedung baru dibangun, jalan-jalan diperlebar, mall-mall besar didirikan, mengatasnamakan kemajuan. Stratford adalah antithesis dari kota semacam itu.

Di Stratford, penduduknya menikmati kehidupan yang tidak terburu-buru. Kehidupan berjalan dalam kecepatan yang lambat. Ibarat manusia yang berjalan kaki lebih banyak melihat pemandangan dibandingkan dengan yang menaiki mobil. Saat berjalan kaki, tidak hanya pemandangan, atmosferpun seolah bersekutu menciptakan kenyamanan hidup.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Swan Hotel