Politik Identitas serta Motif Ekonomi dalam Arsitektur Pariwisata di Bali

 

Pariwisata secara umum dikenal sebagai aktivitas bepergian dari tempat tinggal asal menuju tempat lain dengan tujuan tertentu. Salah satu dari banyak tujuan orang berwiasata adalah untuk melihat dan mengalami tempat-tempat lain yang berbeda dengan tempat dimana orang tersebut tinggal selama ini serta melihat kehidupan manusia di tempat yang dikunjunginya. Motif-motif ini menunjukkan bahwa wisata dilakukan atas dua hal yaitu dorongan dari si pelaku serta daya tarik dari tempat yang hendak dikunjunginya. Dengan kata lain, dari segi tempat, motif seseorang melakukan perjalanan adalah meninggalkan sejenak identitas tempat tinggalnya untuk mengunjungi tempat lain yang memiliki identitas yang berbeda.

Hari ini, Bali telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata utama dunia dan nyaris mustahil melepaskan pulau kecil ini dari bisnis yang mendapatkan momentumnya mulai dasawarsa kedua abad kedua puluh. Kehidupan ekonomi masyarakat Bali yang, seperti kebanyakan wilayah bagian selatan Nusantara, awalnya berakar pada pertanian lahan basah perlahan namun pasti mulai bergeser. Tidak banyak lagi anak muda yang tertarik dengan pekerjaan yang telah berakar setidaknya selama 2000an tahun di tanah  yang memperoleh kesuburan dari beberapa kali letusan gunung berapi yang tergabung dalam jajaran yang disebut Sunda Arc. Perpindahan ini juga menyiratkan bahwa identitas lokal turut serta bergeser. Dari pulau yang dikenal dengan budayanya yang berakar pada pola bercocok tanam, kini Bali dikenal sebagai daerah turis dengan beragam jenis hotel serta paket hiburan komplet mulai dari kelab malam tepi pantai hingga wisata spiritual pegunungan.

Menilik sejarahnya, pariwisata Bali lekat dengan politik identitas, demikian pula arsitekturnya yang dibangun untuk melayani para tetamu dari berbagai wilayah luar Bali. Pemanfaatan arsitektur, awalnya hanya bertujuan sebagai tempat tinggal sementara pengunjung, bergerak mengikuti pergolakan social-politik, kemampuan teknis serta, yang termutakhir, mengikuti selera pasar atau dengan kata lain bermotif ekonomi. perubahan-perubahan ini melahirkan tipologi-tipologi arsitektur yang berbeda di setiap jaman serta mewakili pula politik identitas berbeda yang hendak dibangun oleh setiap aktor di jaman yang berbeda.

Entah awalnya memang disengaja atau tidak, pariwisata Bali kemungkinan mendapat jalan masuknya lewat ketersediaan infrastruktur yang ditujukan untuk menghubungkan wilayah-wilayah pertanian di pedalaman pulau dengan pelabuhan-pelabuhan di tepian laut. Jalur-jalur ini kemungkinan dibangun guna mendukung kebijakan baru pemerintah kolonial yang pada akhir abad ke-19 membuka seluruh wilayah jajahannya, terutama di wilayah yang dikenal sebagai Dutch East Indies (DEI) kepada investor swasta. Sebelumnya wilayah ini di bawah monopoli perusahaan dagang VOC namun akhirnya bangkrut. Dibukanya kesempatan berusaha ini tentu saja menuntut pemerintah untuk menyediakan infrastruktur yang memadai. Di lain pihak, terbukanya kesempatan ini serta tersedianya infrastruktur juga mendatangkan tamu lain, selain calon investor, yaitu para pelancong yang ingin melihat ‘dunia lain’ di luar dunia yang diakrabinya selama ini.

(Peta perjalanan wisata pada masa kolonial sekitar tahun 1930 an)

Awal mula pemerintahan kolonial dimulai dengan pembangunan banyak fasilitas perkantoran dan perdagangan, terutama milik swasta pedagang China dan Arab. Bangunan-bangunan pemerintah ini dibangun oleh kontraktor-kontraktor swasta bekerjasama dengan pegawai dinas pekerjaan umum. Tidak disebutkan mengenai persyaratan arsitektur dari setiap bangunan kecuali standar material serta struktur guna menjamin kehandalannya terhadap iklim tropis serta gempa bumi. Arsitek yang berpraktek di wilayah DEI sangat terbatas, sehingga peranan kontraktor sangat mungkin jauh lebih besar dalam perwujudan bangunan. Dari sedikit bangunan yang didesain oleh arsitek professional masa awal adalah bangunan Bali Hotel di jantung kota Denpasar. Disponsori oleh perusahaan pelayaran, yang sekaligus juga mengambil peran sebagai perusahaan perjalanan wisata, KPM. Desain bangunannya dirancang oleh kantor arsitek AIA, didirikan oleh salah satu pionir arsitek professional di DEI, F.J.L. Gijshels, yang berpusat di Surabaya. Bangunannya sendiri tidak menunjukkan karakter tertentu yang kuat tetapi lebih bersifat fungsional: nyaman bagi orang berkulit putih di iklim tropis yang panas dan lembab. Bentuk bangunannya, material yang dipergunakan hingga penataan ruangnya direncanakan tanpa intervensi referensi lokalitas. Rancangannya serta lokasi penempatannya menegaskan politik pemerintah di awal masa penjajahan yang ingin memisahkan diri dari penduduk lokal. Hotel dibangun di lingkungan permukiman warga kulit putih Eropa serta perkantoran pemerintah serta memiliki jarak yang cukup dari permukiman para pedagang China dan Arab yang terletak di sekitar pasar. Lingkungan sekitar hotel juga diwujudkan relatif lebih baik, dilengkapi lapangan tenis, jalan yang dirindangi pepohonan besar yang menciptakan udara sejuk. Kawasan ini terisolir dari permukiman lokal oleh ruas jalan yang mengelilinginya

(Bali Hotel, ditandai lingkaran berwarna kuning, terletak di enclave permukiman masyarakat Eropa di pusat kota Denpasar)

Bentuk bangunan, penataan serta lokasinya menyiratkan bahwa wilayah orang pribumi dan permukiman Eropa diatur untuk tidak berbaur serta dengan demikian menunjukkan identitas yang berbeda pula. Wilayah Bali adalah tempat yang hendak dikunjungi dan permukiman Eropa adalah tempat dimana para pengunjung disarankan untuk tinggal sehari-hari. Tempat tinggal untuk orang Eropa dibangun dengan identitas serta kebutuhan fungsional penghuninya. Bangunan dengan dinding tebal berwarna putih beratap genteng melekat erat sebagai karakternya. Penginapan-penginapan atau persinggahan lain yang dibangun oleh pemerintah juga memiliki karakter yang serupa dengan bangunan Bali Hotel atau bangunan perkantoran pemerintah masa itu: dengan atap genteng, dinding bata tebal dilapis plesteran dan dicat berwarna putih serta teras di depan dan belakang bangunan utama memberi naungan yang menyejukkan udara di dalam ruangan. Letaknya juga terisolir serta bentuk bangunan serta materialnya dengan tegas  menyiratkan perbedaan dengan bangunan masyarakat lokal dan juga dengan bangunan rumah-toko yang menjadi ciri bangunan komersil pedagang China dan Arab.

Dengan demikian pada masa pemerintahan kolonial pemisahan antara pengunjung yang berasal dari dunia barat dan wilayah yang dikunjungi yang merupakan masyarakat lokal dilakukan secara fisik melalui perletakan lokasi hotel di kawasan ekslusif, serta juga dibedakan melalui wujud bangunan, dimana bangunan untuk pengunjung barat dirancang sesuai kebutuhan dan selera barat dan bangunan masyarakat lokal dibiarkan sebagaimana adanya.  

(Arsitektur bangunan Bali Hotel menunjukkan ciri yang berbeda jika disandingkan dengan arsitektur masyarakat lokal)

Setelah perang Puputan Badung yang menewaskan banyak penduduk lokal dikritisi secara luas di Eropa, pemerintah kolonial ingin memperbaiki citranya. Politik etis yang didengungkan dalam rangka memberi kesempatan penduduk pribumi memperoleh perlakuan setara dengan bangsa Eropa dimulai. Turunan dari politik etis ini di Bali menjelma Baliseering yang sering diterjemahkan sebagai Balinisasi Bali atau mem-Bali-kan pulau dan masyarakat Bali. Secara arsitektur, Museum Bali di jantung kota mungkin adalah produk dari politik ini.

Setelah Baliseering, keadaan sedikit berubah. Dengan tujuan mengembalikan identitas Bali, strategi politik baru diterapkan termasuk di bidang kebudayaan yang juga menyangkut arsitektur. Arsitektur Museum Bali yang dirancang arsitek berkebangsaan Jerman dengan melibatkan undagi lokal dibangun untuk membangun kembali karakter pusat kota Bali. Pembagian halamannya dilakukan sebagai refleksi budaya lokal dengan jaba sisi, jaba tengah dan jeroan yang lumrah dijumpai pada penataan pura. Dinding yang mengelilingi halamannya serta pintu-pintu gerbangnya konon meniru bentuk struktur serupa dari bangunan Puri Denpasar yang telah diruntuhkan sebelumnya. Memori terhadap wujud fisik Puri Denpasar dihidupkan kembali dalam bentuk tembok penyengker Museum Bali. Balai kulkul serta bale peninjoan melengkapi halaman jaba sisi dan jaba tengah, sementara di halaman terdalam, jeroan, tiga bangunan yang konon mewakili tiga wilayah berbeda ditata dalam susunan linear. Gedung Tabanan, gedung Buleleng dan gedung Karangasem adalah tiga bangunan sebagai representasi tiga wilayah berbeda di Bali. Pembangunan ini merupakan era baru pelibatan undagi lokal serta pengetahuan arsitektur vernakular Bali menandai kiprah politik baru pemerintah kolonial dalam bidang arsitektur: menggabungkan personil serta pengetahuan barat dengan lokal. Akan tetapi upaya ini terhenti akibat pecahnya perang dunia ke 2 di Eropa dan belahan dunia lainnya yang secara tidak langsung menganggu stabilitas wilayah DEI dan berdampak besar pada aktivitas wisata.

Setelah melewati berbagai turbulensi politik lokal dan nasional, Bali secara resmi bergabung dengan pemerintah Republik Indonesia yang berpusat di Jakarta dengan Sukarno sebagai pemimpinnya. Sebagai salah satu dari banyak propinsi, masa awal pemerintahan di Bali sangat bergantung pada Jakarta terutama masalah politik dan ekonomi. Sukarno, setelah berhasil melepaskan Indonesia dari penjajahan, memiliki strategi politik, budaya serta ekonomi versinya sendiri. Tahun 1950an dikenal sebagai masa saat Indonesia berusaha bangkit, menunjukkan diri sebagai bangsa yang sama, sejajar dengan bangsa lain di dunia. Tidak mengherankan jika masa ini banyak disebut sebagai masa membangun identitas bangsa. Ada dua strategi penting yang menjadi ciri dari upaya membangun identitas nasional masa ini yaitu: modern dan, pada saat bersamaan, membangun budaya lokal yang unggul.

Kedua strategi tersebut mempengaruhi pembangunan fisik di Indonesia terutama di Jakarta dan di Bali dimana yang disebut belakangan pada masa sebelum Perang Dunia Kedua sudah mulai dikenal secara internasional. Sebagai ibu kota negara, Jakarta dibangun secara massif dengan visi sebagai ibu kota bangsa yang modern berdiri sejajar dengan kota-kota besar di dunia. Di Bali, pada waktu yang bersamaan, pembangunan juga mulai dilakukan. Memanfaatkan ketenaran yang sudah diperoleh sebelumnya, Sukarno hendak melanjutkan pembangunan pariwisata sebagai sarana membangun identitas lokal sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan lokal Indonesia adalah salah satu yang bisa diunggulkan. Dengan strategi ini, mudah saja memprediksi jika pengembangan kepariwisataan memperoleh dukungan yang luar biasa: secara politis mampu mewakili keinginan pemerintah baru sebagai bangsa yang berkepribadian dan modern, bisa menjadi sarana ekonomi baru yang modern dan yang terpenting, Bali telah memiliki modal dari ketenaran yang sudah terbangun dari pariwisata masa kolonial.

(Arsitektur Bali Beach, menuangkan visi bangsa modern sesuai niat pemerintah pusat masa awal kemerdekaan untuk berdiri sejajar dengan bangsa barat)

Rencana pembangunan ini mewujud dalam bentuk bangunan fisik arsitektur wisata Bali masa awal pemerintahan republik. Sejalan dengan pembangunan fisik di Jakarta yang mengedepankan arsitektur modern, sesuai visi masa depan Indonesia sebagai bangsa yang modern, bangunan Bali Beach sebagai hotel pertama di bawah pemerintahan yang baru juga dibangun dengan gaya arsitektur yang sama. Kotak kaca sepuluh lantai berbentuk huruf Y dengan sebagian besar kamarnya menghadap ke Samudera Indonesia berdiri menjulang melampaui pohon kelapa di kebun-kebun penduduk lokal tepi pantai Sanur. Kehadiran bangunan ini mirip dengan strategi pemerintah kolonial yang hendak memisahkan antara para pengunjung: yang tinggal di hotel modern, dengan daerah yang ingin dikunjungi: masyarakat dengan segala kegiatan budayanya. Wujud bangunan ini disesuaikan dengan target wisatawan yang hendak dibidik, yaitu kalangan berduit dari Eropa dan Amerika dengan asumsi mereka tidak akan membaur dengan masyarakat lolal.

Strategi pembangunan identitas modern dari pemerintah nyatanya mendapat sedikit perlawanan. Tidak semua wistawan senang untuk tinggal di hotel yang modern. Melihat kembali motivasi seseorang untuk berwisata adalah melihat dan mengalami kehidupan di tempat baru yang berbeda dengan yang dialaminya di tempat asal, fasilitas wisata berbentuk homestay bermunculan. Fasilitas-fasilitas ini memberi pengalaman hidup berbaur dengan masyarakat lokal dan ini sangat berbeda dengan pengalaman yang diperoleh jika menginap di Bali Beach. Fasilitas sejenis ini berkembang lalu dengan cepat meluas menjadi trend. Kawasan Sanur, Kuta dan Ubud menjadi pionirnya. Jika kawasan yang disebut pertama berkembang berkat kedekatannya dengan pusat kota serta dukungan program formal yang dikembangkan oleh pemerintah dengan pembangunan Bali Beach, maka Kuta dan Ubud berkembang secara lebih organis: dibentuk oleh pasar. Selain dibentuk oleh pasar, tentu saja dukungan infrastuktur juga berperan dimana Kuta merupakan salah satu pelabuhan masa pre-kolonial sementara Ubud didukung peran dari pelukis seniman serba bisa Walter Spies yang bagai magnet menarik banyak seniman.

Menjamurnya hotel dan homestay memberi dampak pada berubahnya pandangan terhadap pariwisata. Jika awalnya, oleh Presiden Sukarno hendak dijadikan sebagai sarana mengembangkan jati diri bangsa, pariwisata, setelah perkembangannya yang demikian pesat, menjadi mesin ekonomi baru. Menyadari besarnya peluang ekonomi yang dijanjikan oleh pariwisata, strategi pembangunannya digarap lebih serius. Tentu saja lokasi, jenis, fasilitas, dampaknya terhadap lingkungan serta wujud bangunannya harus diatur. Di dalam pengembanganya, dengan keterbatasan yang dimiliki oleh pemerintah, peran lembaga internasional mulai masuk dengan dilibatkannya Bank Dunia serta konsultan internasional SCETO dalam study kepariwisataan Bali.

Era pengembangan massif pariwisata dimulai dari study SCETO yang melahirkan banyak rekomendasi. Bukan lagi sekedar membangun identitas bangsa serta menunjukkan keunggulan budaya lokal, tetapi motif ekonomi menjadi sasaran utama. Dengan bergantinya tujuan ini, pemerintah berperan sebagai regulator sementara pembangunan fasilitas kepariwisataan sepenuhnya berada di tangan swasta. Ternyata dengan peran ini, bentuk bentuk arsitektur bangunan kepariwisataan mengalami perkembangan.

Dalam dua periode pemerintahan, kolonial dan pemerintahan Indonesia awal, fasilitas dibangun oleh pemerintah dengan strategI yang nyaris serupa: arsitektur yang memenuhi kaidah yang sesuai dengan tempat asal si wisatawan sekaligus mewakili identitas si empunya bangunan: modern dan menempatkan diri di posisi yang berbeda dengan bangunan masyarakat lokal. Perkembangan selanjutnya, saat peran swasta dibuka oleh pemerintah, menunjukkan sifat yang berlawanan.

(Proposal Hotel Matahari dengan upayanya mewujudkan arsitektur lokal untuk masyarakat internasional)

Di sebelah Bali Beach, di Sanur, sebuah fasilitas wisata yang arsitekturnya membaur dengan arsitektur setempat tumbuh, Tanjung Sari. Pemiliknya, bersama rekan bisnisnya seorang seniman Australia, lalu mengembangkan proposal yang dikenal sebagai Matahari Hotel dengan mengundang arsitek asal Australia. Kontras dengan Bali Beach dan Bali Hotel di pusat kota, proposal ini justru menawarkan, kepada calon pengunjungnya, pengalaman hidup seperti orang lokal: tinggal di wilayah tropis dengan alam dan bangunan yang juga menyesuaikan budaya setempat. Di dalam proposal terlihat penataan yang identik dengan sebuah desa traditional dengan ruang terbuka sebagai pusat dikelilingi fasilitas publik termasuk pohon beringin besar. Hunian para tamu ditata menyerupai rumah traditional dengan dinding tinggi yang mengelilinginya. Ruang diantara dinding menciptakan jalur pejalan kaki menyerupai jalan traditional, rurung, yang sejuk. Meskipun proyek ini gagal diwujudkan, akan tetapi pola pembangunannya justru banyak disukai oleh pasar pariwisata dan mungkin juga oleh wisatawan.

Seakan menjadi standar baru, banyak hotel yang dibangun setelah proposal ini mengambil ide-ide dari bangunan tradisional. Identitas arsitektur perhotelan di masa tahun 1970-80an pun terbentuk dari selera pasar ini.  Sepanjang pantai Sanur, Kuta hingga Seminyak dan juga di tepian tebing-tebing kawasan Ubud bermunculan fasilitas wisata dengan wujud meniru arsitektur lokal, tetapi memiliki standar utilitas barat, dan ternyata disukai oleh para wisatawan. Pengalaman hidup bersama warga lokal atau setidaknya tinggal di hotel yang menyerupai rumah orang lokal namun tetap dengan standar modern: closet duduk, kolam renang, bar dan fasilitas modern lainnya, menjadi trend baru dan tanpa sadar membentuk identitas arsitektur pariwisata masa itu.

(Bekas rumah Walter Spies di tebing sungai Campuhan di Ubud menyatu dengan lingkungan sekitar)

Pembangunan arsitektur pariwisata dengan mengedepankan karakter dan identitas lokal tentu saja menarik bagi wisatawan yang berasal dari Eropa, Amerika atau juga Australia. Kehidupan di tempat wisata yang berbeda dari tempat asal memberi pengalaman baru. Akan tetapi, di dalam perkembangannya, pasar juga berubah. Kini tidak saja wisatawan dari luar negeri namun juga dari dalam negeri membanjiri Bali, sehingga selera pasar, dengan demikian, turut berubah. Wisatawan domestik memiliki kehidupan serta budaya yang, meskipun tentu saja terdapat banyak perbedaan, identik dengan budaya lokal. Para pelaku pariwisata juga menangkap peluang ini dengan membangun fasilitas baru. Arsitekturnya? Tentu dibuat berbeda guna memberi pengalaman baru bagi pengunjungnya.

Bertambahnya kunjungan wisatawan jenis terakhir, ditunjang tersedianya penerbangan low-budget, menawarkan peluang ekonomi yang juga tidak sedikit. Menarik untuk mengamati identitas seperti apa yang akan terbangun dari tanggapan terhadap pemenuhan kebutuhan bagi pangsa pasar baru ini.

Ubud Perlu Perpustakaan Umum

Kolam Lotus di depan Puri Saraswati

Sejak tahun 1930an, Ubud menjadi pusat informasi bagi pengunjung serta wisatawan awal yang mengunjungi pulau dewata. Posisi ini diperoleh berkat peranan Walter Spies, seorang pelukis sekaligus pecinta budaya yang selanjutnya menjadi semacam pusat informasi bagi orang asing yang hendak mengetahui Bali. Pada tahun-tahun tersebut pemerintah colonial mulai membuka pulau ini kepada dunia luar dengan memperkenalkan paket-paket pariwisata yang dibangun dengan memanfaatkan jalur jaringan jalan serta pelabuhan yang awalnya dikerjakan untuk kepentingan mengangkut hasil pertanian.

Kota-kota besar Bali masa itu, seperti Singaraja, Klungkung dan Denpasar, terletak di kawasan dataran rendah sehingga memiliki suhu udara yang relative panas dan lembab yang sangat mungkin kurang nyaman bagi sebagian orang Eropa yang terbiasa dengan hawa sejuk. Ubud, Kintamani, serta Tampaksiring menjadi alternative karena, selain jaringan jalan yang dibangun telah melewatinya, suhunya yang lebih bersahabat. Selain itu, kebudayaan local yang belum tersentuh oleh polesan pemerintah colonial sepertinya juga menjadi daya tarik lain.

Bekas Kediaman walter Spies

Kemampuan dan penguasaan Spies terhadap budaya Bali terbangun berkat pergaulannya dengan Raja Ubud serta ketekunannya berbaur dengan masyarakat. Rumah Spies menjadi persinggahan banyak orang yang di kemuadian hari dikenal sebagai pelopor dalam publikasi Bali di dunia international. Miguel dan Rose Covarrubias, Vicki Baum, Colin McPhee adalah beberapa diantaranya banyak individu yang sempat singgah dan menggali pengetahuannya tentang Bali di rumah Walter Spies.

Periode setelah Spies diambil alih oleh sekelompok seniman yang menamakan dirinya sebagai kelompok Pitha Maha. Dari kelompok ini, Rudolf Bonnet menjadi tokoh non-Bali yang intens mempromosikan kesenian, terutama seni lukis dan patung kepada masyarakat Bali secara international lewat jaringan yang dimilikinya. Berkat kelompok ini pula, sebuah museum yang mengkhususkan diri di bidang seni rupa pertama di Bali didirikan di tepian sebuah sawah di atas tebing tepi jalan raya utama Ubud. Museum ini melengkapi Museum Bali di Denpasar serta Museum Gedong Kirtya, sebelumnya disebut perpustakaan Liefrinck van der Tuuk sesuai nama pendirinya di Singaraja yang masing-masing mengkhususkan diri di bidang anthropology serta kesusasteraan Bali dan sekitarnya.

Museum Ratna Warta

Spies bukan satu-satunya, masih ada lagi generasi berikutnya yang menggali dan memperkenalkan Bali ke dunia luar dan memilih Ubud sebagai tempat bermukim. Arie Smith, seorang pelukis yang memelopori gaya Young Artist dan beberapa bulan lampau meninggal dunia, serta arsitek pelopor hospitality architecture Peter Muller juga memilih Ubud sebagi tempat persinggahan dan menggali serta menyebarkan inspirasi.

Belakangan banyak lagi individu yang menggali informasi tentang budaya Bali dari desa yang berakar dari sebuah kerajaan kecil di tengah-tengah pulau Bali ini. Peran sentral yang dimainkan oleh Ubud membawanya memperoleh julukan sebagai the heart of Bali, Pusat Kebudayaan Bali, surga seniman dan banyak lagi julukan lainnya.

Saat ini minat mengetahui informasi tentang Bali dan budayanya tidak jua surut. Informasi-informasi yang telah ditulis dan dijual di rak-rak buku mungkin hanya bisa diakses oleh kalangan yang terbatas. Pembelinyapun kebanyakan adalah kalangan orang asing dengan harga yang relative mahal bagi masyarakat kebanyakan. Masyarakat local, tertama banyak juga yang melakukan riset, memiliki akses yang terbatas terhadap banyaknya publikasi yang tersebar namun sulit dijangkau. Ubud, melihat sejarahnya sebagai pusat informasi serta pengembangan budaya Bali, layak memiliki perpustakaan umum yang representative. Perpustakaan ini akan mengambil peran sebagai corong pengetahuan yang mampu menjangkau semua kalangan. Perpustakaan juga menjadi penting dalam menciptakan budaya membaca dan menulis bagi masyarakat.

Kota-kota di dunia rata-rata memiliki perpustakaan umum yang terintegrasi dengan balai kotanya dan sekaligus juga menjadi museum sejarah perkembangan kota tersebut. Dengan adanya perpustakaan dan museum kota, masyarakat menjadi tahu perkembangan kotanya serta peran apa yang pernah dimainkan oleh tempat tinggal mereka tersebut dari masa ke masa. Dari pemahaman semacam ini, kecintaan dan rasa memiliki bisa ditumbuhkan dan menjadi modal social dalam pembangunan.

Perpustakaan di Ubud, menurut hemat saya menjadi kebutuhan vital dan bisa diintegrasikan dengan museum ataupun bisa berdiri sendiri. Perpustakaan ini dibuat gratis, terjangkau dari segi letak serta nyaman sehingga membuat pengunjungnya betah. Untuk menghidupinya, bisa dilengkapi café serta toko buku. Semoga bisa terwujud.