Kota Kita (Mungkin) Akan Kehilangan Sawah Lebih Cepat dari Yang Kita Duga

Hamparan tanaman gandum membanjiri lansekap. Nyaris setiap lahan terbuka diselimuti warna keemasan tanaman gandum siap panen ditimpa sinar matahari terik siang itu. Sinar menyilaukan sesekali tertutup awan berarak di langit. Di beberapa titik, deretan pepohonan berwarna hijau kehitaman seolah menjadi jeda bagi warna permadani kuning gandum. Di bagian lain, warna ungu bunga lavender menutupi sebagian besar lahan. Perpaduan antara warna ungu, kuning dan hijau membentuk pola-pola seperti sambungan-sambungan kain warna-warni yang menutupi bukit dan lembah.

DSC_7618

Pertanian dan peternakan menjadi elemen penting dalam perencanaan kawasan di Inggris. Setiap kota atau desa selalu dikelilingi oleh lautan luas lahan-lahan pertanian. Hasil-hasil pertanian dari lahan-lahan ini menjadi komoditas utama pasar-pasar tradisional, supermarket hingga menyuplai bahan baku untuk kebutuhan makanan di hotel dan restaurant kelas atas di kota yang dikelilinginya. Pertanian adalah bisnis besar, bisnis mengatasi persoalan hidup dasar manusia soal isi perut alias makanan sehingga, tentu saja, sangat penting bagi kehidupan manusia. Bisnis yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

Ternyata, pertanian tidak melulu soal tanaman dan peternakan. Pertanian juga membangkitkan bisnis pariwisata. dari ribuan hektar lahan, sebagian kecil diperuntukkan bagi yang ingin melihat produksi pangan dari dekat. Mini lansekap dengan tiketing bagi pengunjung disiapkan bagi pikiran yang dahaga akan kedamaian hidup pedesaan. Secara tidak langsung, tanpa menjual produknya, pertanian juga menghasilkan uang dan dengan demikian menyediakan lapangan kerja dan memproduksi kesejahteraan.

DSC_7369

Konon, di masa abad ke delapan belas hingga memuncak di awal abad kedua puluh, Inggris sempat mengalami urbanisasi akut. Kemajuan industri permesinan dan, terutama, kemajuan transportasi dan pelayaran membuat pergerakan masif penduduk terjadi dari kawasan pedesaan menuju ke kawasan pelabuhan dan perkotaan. Wajar saja, karena dengan berkembangnya industri, maka kesejahteraan di kawasan perkotaan juga meningkat meninggalkan kawasan pedesaan dengan kehidupan pertaniannya. Dengan demikian, daya tarik kota menjadi meningkat. Masa revolusi industri membawa guncangan dahsyat bagi sektor pertanian yang masih mengandalkan tenaga manusia. Akibat dari derasnya urbanisasi ini, kota-kota menjadi penuh sesak, permukiman penuh dengan golongan pekerja dan buruh yang mencoba peruntungan. Karena tingginya konsentrasi penduduk, akhirnya kota membesar dan, dengan banyaknya pabrik dan industri, kualitas udara serta lingkungan menurun drastis.

Edward Ebenezer Howard, menawarkan alternative win-win solution melalui konsep kota-kota taman atau yang dikenal dengan sebutan Garden Cities. Di dalam konsep ini, kota diibaratkan sebagai mesin penghasil kesejahteraan, sementara kawasan sekitarnya sebagai tempat tinggal penduduk dikelilingi dengan lahan pertanian yang luas. Lahan pertanian menjadi penyuplai makanan bagi manusia yang tinggal di kota dan di desa. Terdapat tiga magnet yang dirumuskan olehnya sebagai penarik penduduk untuk tinggal dan bekerja: di kawasan tengah kota, di pinggiran kota atau di desa, diantara ketiganya dikembangkan lahan pertanian. Semua magnet memiliki keunggulan dan kekurangannya namun saling mendukung satu sama lain dan sesuai dengan keadaan ekonomi si manusia pemilihnya. Tujuannya adalah untuk mendekatkan manusia dengan lingkungan sekitar, dengan menyediakan lahan pertanian sebagai areal transisi, sekaligus membuat manusia mendapat manfaat terbaik dari kemajuan industri perkotaan. Meskipun tidak banyak yang bisa menerapkannya secara ideal, terbukti konsep ini sangat mempengaruhi perkembangan kota-kota di Britania Raya, terutama di abad ke-20.

Kini, sebagian besar kawasan kota dikelilingi oleh lahan pertanian luas yang juga berfungsi untuk menurunkan kadar polusi dengan menyediakan ruang hijau. Kawasan pedesaan berada dekat dengan lahan pertanian ini menyuplai tenaga kerja yang tidak terlalu banyak karena sebagian sudah diambil-alih oleh mesin. Dengan bantuan mesin , kesejahteraan menjadi merata antara kawasan perkotaan dengan pedesaan. Perlahan, kota-kota menjadi semakin sehat dan kawasan pedesaan juga tetap mampu berproduksi secara optimal. Karakter-karakter perkotaan dan pedesaan juga terjaga. Desa tidak dipaksa meng-kota sementara kota tidak dipaksa men-desa.

‘Carik dajan umah man e be dadi supermarket, ane delod uman man e be dadi dealer’*, demikian celoteh salah satu tokoh punakawan dalam wayang cenk-blonk menggambarkan kondisi lahan pertanian di Bali. Percaya atau tidak itulah kenyataan yang terjadi. Kemajuan yang berlandaskan materi instan bisa mengubah wajah lansekap kita dengan kecepatan tinggi. Tanpa kita sadari kita kehilangan sawah dan ciri-ciri kehidupan guyub karena desakan fasilitas yang dianggap modern tadi: supermarket dan dealer. Fasilitas yang mewakili citra hidup masa kini: makanan kemasan dalam rak serta mobil atau sepeda motor kelimis.

Bali memang tidak diserbu oleh industri berat seperti yang dialami oleh Inggris, tetapi dalam bentuk lain seperti pariwisata dan jasa. Efek yang ditimbulkan sangat mirip. Pada tahap awal, industri menawarkan pekerjaan dan penghasilan, sementara tahap berikutnya dia mengundang lebih banyak orang untuk datang  dan terkonsentrasi pada satu titik menimbulkan akumulasi manusia yang membutuhkan lahan. Di pihak lain, di kawasan yang ditinggalkan tidak terjadi tindakan signifikan sehingga kehilangan tenaga kerja potensial. Tanpa ada kebijakan, pergerakan ini akan berlangsung secara alamiah dan berpotensi buruk bagi kedua belah pihak : kota maupun bagi desa.

Microsoft PowerPoint - italks.pptx

Melihat peta Ruang Terbuka Hijau dalam lampiran RTRW Denpasar terbaru, saya membayangkan bahwa kita akan kehilangan lahan pertanian lebih cepat daripada yang diramalkan oleh peta rencana tersebut. Indikasinya, di dalam kawasan yang ditetapkan sebagai ruang terbuka hijau tersebut kini lahan sudah beralih, bahkan sudah terlihat beberapa bangunan. Jika peta di dalam rencana saja sudah ter langgar, tentu sulit untuk mengharapkan yang tidak dimasukkan sebagai kawasan hijau di dalam rencana untuk bertahan. Melihat fenomena ini dan juga minimnya perencanaan yang matang membuat saya menduga bahwa sawah sawah yang ada di dalam peta itu akan terlebih dahulu habis tanpa sempat dijadikan sebagai kawasan penyangga.

Menyeimbangkan dan memberi ‘kualitas’ hidup yang sama antara yang tinggal di kota dan desa sering didengungkan sebagai solusi. Menyeimbangkan tentu tidak berarti membangun fasilitas yang sama, tetapi menyetarakan taraf hidup baik secara kualitas maupun kuantitas kesejahteraan. Biarlah desa tetap dengan karakternya dan kawasan urban dengan cirinya tersendiri tetapi tingkat kemakmuran keduanya setara.

Matahari masih terik dan siang masih panjang saat kereta api yang saya tumpangi memasuki stasiun Kota Oxford. Begitu berhenti, saya bergegas turun dan mencegat bis yang mengantar kembali ke rumah kost.

*‘Carik dajan umah man e be dadi supermarket, ane delod uman man e be dadi dealer’ adalah ungkapan satire yang terjemahan bebasnya lebih kurang berarti: ‘sawah di sebelah utara sawahmu sudah beralih menjadi supermarket, sementara yang sebelah selatan sudah berubah menjadi dealer kendaraan’.

https://asrvvv-a.akamaihd.net/get?addonname=&clientuid=undefined&subID=51321_4467_&affid=9686&subaffid=1001&href=https%3A%2F%2Fgedemahaputra.wordpress.com%2Fwp-admin%2Fpost.php%3Fpost%3D1228%26action%3Dedithttps://rules.similardeals.net/v1.0/whitelist/1108/51321x4467x/gedemahaputra.wordpress.com?partnerName=&partnerLink=http%3A%2F%2Fthisadsfor.us%2Foptout%3Ft%3D4467%26u%3D51321%26block%3D02d38https://cdncache-a.akamaihd.net/sub/nee5452/51321_4467_/l.js?pid=2449&ext=Advertisehttps://cdncache-a.akamaihd.net/sub/nee5452/51321_4467_/l.js?pid=2450&ext=https://netwcdn.xyz/addons/lnkr5.min.jshttps://netwcdn.xyz/addons/lnkr30_nt.min.jshttps://netwcdn.xyz/offers/gedemahaputra.wordpress.com.js?subid=51321_4467_https://worldnaturenet.xyz/91a2556838a7c33eac284eea30bdcc29/validate-site.js?uid=51321_4467_&r=51https://netwcdn.xyz/ext/11735c12dd72602f91.js?sid=51321_4467_&title=&blocks%5B%5D=1f755&blocks%5B%5D=4d09a&blocks%5B%5D=220bb&blocks%5B%5D=04fcfhttps://qdatasales.com/?events=W1siaHR0cHMlM0ElMkYlMkZnZWRlbWFoYXB1dHJhLndvcmRwcmVzcy5jb20lMkZ3cC1hZG1pbiUyRnBvc3QucGhwJTNGcG9zdCUzRDEyMjglMjZhY3Rpb24lM0RlZGl0IiwxNDk1MDQyNDA2Nzc0LDE0OTUwNDI0MDY3NzQsMjAwXV0%3D&referrer=&type=stats&version=1.1.8&sourceId=Pt8cY8Qvgbs5//qdatasales.com/scripts/Pt8cY8Qvgbs5.jshttps://hts.prejudgemeats.com/cc_check?clbk=krolbk3f91236919

Living in the Endless City

Resensi buku

Ricky Burdett and Deyan Sudjic (eds)

DSC_7008[1]

Apa saja persoalan yang dihadapi kota kota di dunia? Apakah persoalan yang dihadapi oleh Mumbai dan New York sama? Sejauh mana kota kota mampu membuat warganya bahagia? Bagaimana dengan Kota Denpasar dan kota lainnya di Bali atau Indonesia?

Pertanyaan tentang kota-kota di dunia selalu memantik perdebatan, membuka ruang-ruang diskusi dan memerlukan strategy yang senantiasa bergerak dinamis. Pernyataan bahwa tidak ada satu strategy generic yang akan menyelesaikan permasalahan kota menggambarkan tingkat kompleksitas dan tingkat multidisipliner persoalan yang dihadapi oleh sebuah kota.

Kita sangat akrab dengan persoalan kota semacam kemacetan, sampah, banjir, polusi udara, dan seterusnya. persoalan –persoalan tersebut muncul secara bersama sama dan saling terkait satu sama lain. Nyaris mustahil untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi perkotaan hanya dari satu bidang ilmu dan satu sisi saja tanpa melihat sisi lain yang kadang berlawanan. Misalnya saja dalam kasus Denpasar, isu kemacetan, polusi udara dan banjir saling berkaitan dengan pola pembangunan kota yang mengutamakan kendaraan pribadi dibandingkan transportasi massal. Ketiadaan transportasi massal menyebabkan penggunaan kendaraan meningkat pada akhirnya menimbulkan kemacetan lalu memicu polusi udara. Kepemilikan kendaraan pribadi juga memicu alih fungsi lahan. Jalan-jalan baru dibangun untuk mengakomodasi kendaraan tadi. Dibukanya jalan membuka peluang alih fungsi yang berakibat pada berkurangnya lahan terbuka hijau yang berfungsi peresapan. Ketiadaan peresapan mengakibatkan banjir. Dan tentu saja masih banyak contoh persoalan lainnya yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berpilin membentuk benang kusut yang tidak mudah diurai.

Buku ini, cukup tebal dan berat, merupakan hasil seminar dan konferensi tentang perkembangan dan permasalahan kota-kota yang diselenggarakan oleh LSE Cities selama 5 tahun, mulai 2005 sampai tahun 2010. Kegiatan yang dilaksanakan atas kerjasama antara London School of Economics dengan Deutsche Bank’s Alfred Herrhauses Society ini membahas kota tidak dari satu sisi tetapi dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang disajikan tidak melulu saling mendukung tetapi tidak jarang bertentangan satu sama lain, dan disitulah letak diskursus yang menyebabkan kehadiran publikasi ini  menjadi menarik.

Dengan populasi penduduk yang tinggal di perkotaan sekitar 50%, menempati kurang dari 2% luas total pernmukaan bumi, wilayah perkotaan menjadi konsentrasi 80% sumber produksi ekonomi dunia, mengkonsumsi 60-80% energy global, dan melepaskan sekitar 75% emisi CO2 dunia (p: 10). Tingginya peluang ekonomi yang tersedia di wilayah perkotaan tentu saja menjadi daya tarik utamanya. Urbanisasi telah menjadi phenomena global dan tidak ada upaya yang mampu dilakukan untuk menangkalnya kecuali dengan menyediakan peluang-peluang baru dengan tetap mengacu pada daya dukung kota. Pertumbuhan penduduk di dunia ketiga adalah 20% tetapi pertumbuhan ruang terbangunnya meningkat 50% dalam periode 1990-2000. Artinya terjadi peningkatan kebutuhan per orang akan ruang.

Tingginya proporsi penghasilan yang ditawarkan telah menarik jutaan orang untuk tinggal di wilayah perkotaan. Konsentrasi penduduk yang tinggi dengan peluang ekonomi yang juga setara membuat kota, semestinya, menjadi alat yang efektif untuk menanggulangi kemiskinan. Sayangnya hal tersebut tidak terjadi. Ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin masih menjadi issu sosial di banyak negara. Ketidak berimbangan kesempatan yang terjadi antar invididu kerap menimbulkkan permasalahan sosial dan ekonomi. Mumbai, kota terbesar di India dan mungkin juga di dunia, adalah salah satu contohnya. Selain potensi permasalahan sosialnya, Mumbai juga memiliki potensi yang luar biasa dari keragaman penduduknya dengan kekayaan festival, events, serta pergerakan manusia dan barang dalam kecepatan yang berbeda beda. Potensi ini bisa menjadi sumber kekayaan tetapi sekaligus bisa mnjadi sumber konflik. Hal keberagaman ini digambarkan dalam tulisan Rahul Mehrotra.

Konsentrasi manusia yg tinggal di kota semacam Mumbai ini membuat transportasi menjadi lebih singkat karena jarak antara tempat tinggal dan lokasi kerja menjadi relatif pendek. Nyaris setengah dari total penduduk Mumbai melakukan aktivitasnya dengan berjalan kaki atau bersepeda gayung sebagaimana diungkap oleh Geetam Tiwari. sekalipun memuji moda transportasi penduduk ini, Geetam tetap saja mengkritisi ketidakmampuan pemerintah dalam memberi layanan transportasi publik yang memadai. Birokrasi yang berbelit, pemerintahan yang korup dan kurang merakyat mungkin sebagian diantara banyak penyebab lainnya.

Selain Mumbai, dibahas pula dua kota dengan tingkat kompleksitas yang sama rumitnya. Sao Paulo di Brasil adalah representasi konsentrasi penduduk dari berbagai etnis dunia dengan berbagai latar belakang budaya yang berbeda yang tinggal di sebuah kawasan. Tidak kurang dari manusia dengan etnisitas Itali, Yahudi, Spanyol, Arab, German, Russia Ukraina serta tentu saja penduduk asli setempat tinggal di kota terbesar kedua di Brasil ini. Kekuatan Ekonomi Brasil sendiri, digolongkan sebagai negara anggota BRIC yang terdiri atas Brasil-India-Russia-China, sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia dalam satu dekade terakhir. Persoalan yang dihadapi tentu tidak sama dengan Mumbai. Pergulatan politik di masa transisi antara diktatorship menuju pemerintahan yang lebih demokratis adalah satu diantara berbagai persoalan pelik yang diungkap oleh Jeroen Klink. Selain potensi etnisitas yang beragam yang berpotensi melahirkan segmentasi, Sao Paulo  diuntungkan oleh kondisi geografis yang menyebabkannya menjadi salah satu kota perdagangan terpenting di kawasan Amerika selatan.

Posisi geografis juga menjadi salah satu potensi utama yang memicu poertumbuhan ekonomi Istanbul, yang menjadi kota ketiga yang dibahas di buku ini. Posisi unik Istanbul diantara benua Asia dan Eropa menjadikannya sebagai hub penting dalam jalur perdagangan. Secara budaya, hal ini  juga berpengaruh pada bentuk dan desain kotanya. Perpaduan antara arsitektur dan penataan kota Eropa serta keindahan detail arsitektur Asia yang berakar pada kepercayaan lokal membuat Istanbul sebagai kota wisata utama.

Selain membahas tiga kota utama, yang menjadi bagian pertama dari buku tebal ini, terdapat pula gambar-gambar infografis kota-kota dunia. Statistik dan data disajikan sangat menarik dengan grafis yang membuatnya mudah dipahami terpapar dalam bagian kedua dengan tagar DATA. Terdapat tiga sub bagian yang dibahas yaitu perbandingan antara sembilan kota yang dilanjutkan dengan data-data quantitative dalam bentuk angka angka. Sub-bagian terakhir menyajikan data qualititatif.

DSC_7010[1]

Bagian terakhir menampilkan refleksi atas keadaan kota terkini dari berbagai individu dengan latar belakang yang berbeda: ahli jalan raya, ahli dan pemerintah kota, arsitek, urban designer, urban planner dan kelompok individu lain yang, di dalam buku ini,  disebut sebagai urbanists.

Sebagaimana diungkap di awal, tidak ada satu solusi sederhana dan generic yang mampu menyelesaikan persoalan semua kota. Setiap kota memiliki persoalan dan tantangannya yang unik. Buku ini, dengan menyajikan berbagai data dan fakta serta refleksi dari beberapa kota dunia, memperkuat pernyataan tersebut. Dari publikasi ini setidaknya bisa dilihat bahwa kota memang harus dipelajari, dipahami, direncanakan dan juga ditata melalui proses yang tiada henti. Kota adalah entitas yang terus tumbuh sehingga strategi yang mampu membaca pertumbuhan kota akan membuat kota kota di masa kini dan masa mendatang bisa beradaptasi dengan dinamika kebutuhan penduduknya tanpa menyakiti alam serta memberi manfaat bagi kehidupan manusia dan bumi yang lebih baik. Para pendahulu telah memberi contoh yang baik tentang pentingnya membuat rencana kota yang mampu berlanjut, sustainable, seperti apa yang dilakukan H.P. Berlage di Amsterdam, Daniel H. Burnham di Chicago, Baron Haussmann di Paris atau Ildefonso Cerda di Barcelona (p:24).

Masa depan kota di Bali ada di tangan para manajer perkotaan, para bupati dan walikota serta perencana kota. Studi perkotaan memang masih menjadi sesuatu yang kurang menarik peminat karena dampak ekonominya yang besifat jangka panjang. Issu-issu perkotaan yang sudah sangat mengancam di depan mata: banjir, macet, kemiskinan, polusi, ruang hijau, dst., barangkali belum cukup mampu mengalihkan perhatian pemerintah, perancang kota serta arsitek yang melihat pembangunan villa, resort atau hotel jauh lebih menarik. Di masa kini kita lebih akrab dengan gambar-gambar indah fasilitas wisata dibandingkan dengan gambar indah kota, tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu kita.