Made

 

DSC_3742
Made Wijaya

‘Bali will be a lot more boring without Made Wijaya’

Terdengar berlebihan namun bisa jadi juga benar, demikianlah kalimat penutup dari berita obituary Michael White, atau yang lebih dikenal dengan nama Bali, Made Wijaya, yang dimuat di versi online koran The Sydney Morning Herald cukup menohok buat saya.

Sosok expatriate yang datang ke Bali pada awal tahun 1970an ini begitu kontroversial. Cara pandang dan komentar-komentar pedasnya membuat banyak orang tersinggung dan bahkan berpotensi membuat orang membencinya setengah mati. Namun karya lansekap, buku-bukunya tentang arsitektur Bali serta kecintaannya pada penduduk dan kebudayaan pulau dewata membuatnya dicintai. Dengan ketua kutub yang bersebrangan itu, sosok Made menjadi pribadi yang unik dalam lingkaran pergaulan dunia desain dan budaya Bali.

Saya mengenalnya sebagai sosok yang ramah, mudah tertawa lepas namun dalam sekali sentakan bisa tiba-tiba berkata tajam tanpa memikirkan akibat dari perkataannya. Joke-joke yang terlontar dari mulutnya kadang sarkastik dan berbau porno. Konon tidak jarang sikap kritis dan kata-kata tajam membuatnya kehilangan proyek-proyek berharga akibat berselisih paham dengan klien. Bagi Made, memiliki banyak proyek bukanlah tujuannya, tetapi memiliki proyek yang dibangun dengan segenap hati dan cinta adalah yang utama. Sebagaimana diaungkapkan saat menjelasakan bagaimana cara kerjanya yang melibatkan banyak seniman mulai dari arsitek, juru gambar, tukang kebun hingga pemahat.

‘…it is not uncommon when working for a project we work with limited budget but we do it with a big heart’.

Made membangun reputasinya dari titik terendah saat datang ke Bali sebagai pelatih tenis dan kolomnis di surat khabar Sunday Bali Post. Sebagai seorang hippy, katanya.

Dalam obrolan santai pada suatu siang menjelang sore di teras salah satu bangunan Villa Bebek Made menceritakan kisah hidupnya. Kesempatan untuk berperan dalam proyek lansekap diperoleh dari pergaulannya dengan lingkaran arsitek dan investor perhotelan yang tinggal di Bali di akhir tahun 70an. Saat itu, strategi pemerintah untuk menjadikan Bali sebagai etalase budaya Indonesia sedang dilakukan dengan gencar. Proyek-proyek besar dibangun dengan dana dari luar negeri termasuk Bank Dunia dengan harapan akan memberi keuntungan ekonomi yang berlipat. Berlawanan dengan trend pembangunan hotel internasional yang mengadopsi gaya Miami atau Hawaii, anggota kelompok dari lingkaran expatriate ini jatuh cinta pada budaya Bali dan memiliki visi serupa untuk membangun hotel-hotel yang sesuai dengan citra budaya dan kehidupan lokal. Dalam perjalanannya, mereka berkeliling Bali, menyaksikan perunjukan traditional, upacara-upacara ritual di pura hingga bergaul dengan penduduk setempat dengan cara tinggal di rumah mereka.

Barangkali kegiatan ini akhirnya menebalkan kecintaannya kepada budaya Bali serta menumbuhkan militansinya pada upaya mempertahankan nilai-nilai lokalitas dalam setiap karyanya. Tanaman, patung-patung, bentuk-bentuk taman dengan halaman tengah adalah bentukan fisik yang menjadi ciri utama dari karya Made. Namun semua itu hanya pendukung, baginya yang paling utama dari karyanya adalah kelestarian budaya bercirikan kehidupan lokal yang tercermin pada atmosfer yang tercipta. Elemen-elemen tadi hanyalah penunjangnya saja namun bukan berarti tidak penting. Nyaris setiap karyanya memiliki referensi budaya lokal dan sejarah yang kuat. Satu hal lain yang menjadi karakter adalah pertimbangan iklim tropis yang menjiwai pemilihan tanaman serta penempatan kolam serta elemen pelapis permukaan tanah. Lansekap hotel Amandari dan Bali Hyatt di Sanur adalah dua karya besar awal yang mewujudkan idealisme desainnya.

Kekaguman yang berbuah kecintaan dan militansi untuk mempertahankan budaya lokal tidak hanya tercermin dari karya desain lansekap dan arsitektur tetapi menjelma pula menjadi buku. Tidak kurang dari buku arsitektur, buku pertamanan, buku essay hidupnya selama di Bali serta, yang rencananya akan segera diterbitkan, buku Busana Bali adalah wujud lain dari perjuangan dan buah kekaguman sosok unik ini pada pulau yang telah menjadi rumah keduanya ini. Memudarnya preferensi budaya lokal serta menjamurnya gaya-gaya impor yang mewarnai lansekap Bali hari ini adalah dua hal yang sangat disesalinya.

Made memiliki bakat yang luar biasa dan peninggalannya berupa pengetahuan dan karya arsitektur tak ternilai harganya. Sayang, reputasi internasionalnya tak mampu membuatnya merasa dihargai oleh institusi local.

‘I feel unloved by local instituions’, keluhnya pada kesempatan lain.

Minggu terakhir di Bulan Agustus tahun 2016 ini saya mendapat khabar mengejutkan: Made Wijaya meninggal akibat kanker lymphoma yang dideritanya. Tidak banyak yang tahu, selain kerabat dekat, tentang sakit yang konon sudah dirasakannya sejak lama. Tak pelak kepergiannya mengejutkan bagi orang-orang yang mengenalnya, baik yang menggemari maupun yang membencinya. Saya jadi teringat bahwa kami masih memiliki rencana untuk membuat seri wawancara dan dokumentasi arsitektur pariwisata di Bali yang tertunda.

DSC_3754

Beruntungah, seperti ditulis di dalam artikel the Sydney Morning Herald, Prof. Adrian Vickers mengungkapkan akan mengabadikan semua karya penelitian dan arsip-arsip budayanya.

Sedemikian banyak pengetahuan yang dimilikinya tentang budaya lokal dan kini akan diarsipkan di Australia, tidak di Bali. Sayang sekali jika tidak ada institusi lokal yang tergerak untuk mengarsipkannya di Bali sehingga, seandainya tidak ada yang melanjutkan, setidaknya bisa dipelajari oleh generasi Bali, generasi yang budayanya menjadi pusat daya tarik bagi Made Wijaya.

Ketidakacuhan kita pada arsitektur lokal barangkali tercermin pula dalam ketidakpedulian kita pada ketekunan dan kekritisan pola pikir serta buah kecintaan sosok Made Wijaya yang tertuang dalam arsip-arsip dan karyanya.

Selamat jalan Made, semoga menyatu dengan Yang Tak Terpikirkan.

 

Isle of Wight dan Gerakan Kota Lambat

P8200125.JPG

Menapaki jalan-jalan pusat permukiman West dan East Cowes di Isle of Wight mengingatkan saya pada tulisan Paul L. Knox tentang Slow City Movement. Ya kota-kota yang sengaja memperlambat laju pertumbuhannya untuk memberi kesempatan penduduk, kota itu sendiri serta alam lingkungan di sekitarnya  untuk bernafas di tengah hingar bingar serta perlombaan mengejar kemajuan yang menjadi ciri-ciri kota modern. Globalisasi, demikian istilah yang sering kita dengar, telah memacu kota-kota utama dunia untuk mengejar pertumbuhan di segala bidang. Dengan adanya kemajuan teknologi transportasi dan informasi, pergerakan barang, jasa, dan, terutama, capital menjadi tanpa batas alias bebas dari sekat sekat geografis. Pemilik modal di kawasan A bisa dengan mudah mempengaruhi wajah kota di kawasan B dengan kekuatan capital yang dimilikinya. Demikian pula barang-barang produksi di wilayah satu bisa dengan mudah ditemui di wilayah lain yang letaknya bersebarangan secara geografis. Pergerakan modal, barang dan juga manusia memacu kota-kota yang memiliki daya tarik serta menawarkan janji keuntungan ekonomis tinggi menjadi sasaran tujuan. Adanya modal, barang serta tenaga kerja dari berbagai belahan di satu lokasi membuat pertumbuhan kota tersebut menjadi lebih pesat. Dalam banyak kasus, kota-kota yang berkeinginan untuk memacu pertumbuhannya lalu berupaya me ‘marketing’ kan dirinya guna menarik lebih banyak lagi investasi serta barang dan jasa guna mengejar kemajuan tadi. Karena banyak kota-kota menempuh strategi serupa, maka pertumbuhan kota menjadi seragam, wajah kota menjadi serupa dan mirip: ditandai dengan bermunculannya shopping mall, gerai makanan cepat saji, toko berjaringan, pom bensin untuk menunjang laju kendaraan, serta toko-toko merk pakaian yang sama di seluruh belahan dunia. Perkembangan yang pada akhirnya dikhawatirkan memberi dampak pada keseragaman wajah kota yang sama serupa, menghapus jejak-jejak makna masa lalu, serta pada akhirnya menjadikan kota tanpa jiwa.

Dalam gerakan yang disebut Slow City Movement, kota dibangun dengan prinsip sebaliknya. Toko-toko dan restaurant menjual makanan dan minuman yang dihasilkan dari lahan pertanian lokal, diolah oleh koki setempat berdasarkan resep yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang. Pun halnya dengan  bangunan yang dikonstruksi dengan material yang diperoleh dari lingkungan sekitar: batu alam setempat, kayu yang ditebang dari hutan di pinggiran kota atau bukit di tengah pulau serta dibangun oleh pekerja setempat dengan teknik yang dikuasai secara tradisional. Kota semacam ini, tentu saja akan berjalan lebih lambat karena harus membangun dengan modal yang dimiliki sendiri, yang jumlahanya terbatas, tanpa intervensi modal atau aktor luar. Kota yang tumbuh berkembang atas kemampuannya mengelola sumberdaya secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat lokal.

P8200263.JPG

Kapal ferry yang saya tumpangi melambatkan lajunya sebelum dengan tenang menyentuh bibir dermaga di pelabuhan East Cowes di Isle of Wight yang berjarak tempuh lebih kurang satu jam dari Southampton.  Beberapa menit kemudian pintu kapal terbuka dan kami melangkahkan kaki menapaki pulau di ujung selatan Inggris Raya ini disambut senyum hangat Pak Wayan Gunawan. Sudah belasan tahun tinggal di pulau ini, pak Wayan adalah WNI insinyur mesin yang bekerja di industry pesawat terbang dan workshopnya terdapat di pulau kecil diselimuti hutan di bagian tengahnya ini. Seperti saya sampaikan di awal tulisan tadi, tidak nampak bangunan modern yang menjulang ataupun berkilau dibungkus kaca. Kondisi ini kontras dengan imaji sebagian besar orang tentang kota-kota di barat yang serba modern. Jalan setapak batu alam, bangunan dengan rangka kayu beratap genteng tradisional serta dermaga kayu. Sedikit jejak-jejak pengaruh arsitektur klasik  nampak pada balustrade yang membatasi kawasan jalan setapak dengan tepian air.

Terdapat beberapa pusat permukiman di pulau yang tidak seberapa luas ini dan sebagian besar terletak di tepian pantai berhadapan dengan laut. Pantai-pantai karang berbatu kemungkinan menjadi sumber bahan alam untuk pembuatan dinding serta pondasi bangunan. Sementara di bagian tengah pulau, hutan-hutan hijau gelap mendominasi lansekap. Saya menduga kayu-kayu yang dihasilkan dari wilayah perbukitan inilah yang menjadi pemasok bahan konstruksi. Perpaduan antara batu alam dan kayu menjadi bahan bangunan menciptakan karakter lokal yang kental pada arsitektur permukiman penduduk.  Di bagian tengah pulau di hulu sebuah sungai yang sekaligus menjadi salah satu jalur transportasi utama, pusat kotanya berukuran kompak tidak terlalu besar, barangkali seluruh bagiannya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Semua kota-kota di tepi pantai terhubung dengan pusat kota ini melalui jalur transportasi umum.

P8210403.JPG

‘Seluruh bagian dari pulau ini adalah kota wisata’, demikian Pak Wayan bercerita saat kami menikmati makan siang gratis hasil masakan Ibu Wayan yang lezat. Bagian tepiannya, jika tidak berpantai landai yang asyik untuk berjemur, memiliki pemandangan yang dramatis: tebing-tebing karang eksotis yang bagian bawahnya digempur ombak bertalu-talu. Bagi penggemar hiking atau jogging maka dipastikan akan menyukai jalur-jalur menantang melewati pantai, hutan, ladang pertanian yang luas atau melewati menara suar kuno yang berdiri gagah melawan angin. Arsitektur bangunan penduduk aslinya di abadikan dalam sebuah kawasan desa mini. Bangunan-bangunan tradisional dibuat dalam bentuk model berskala dalam kawasan seluas lebih kurang satu hektar. Jika tidak sempat berkeliling pulau, maka cukuplah bisa menikmati arsitekturnya di tempat ini.

P8210463.JPG

Pariwisata menjadi salah satu andalan pendapatan penduduknya. Kedai-kedai makanan yang menyajikan masakan local, kedai es krim yang juga buatan lokal serta jangan lupa mencicipi wine langsung dari tempat pembuatannya sembari melihat proses produksinya. Ke-setempat-an atau lokalitas menjadi hidangan utama bagi siapa saja yang berkunjung kesini. Ramainya kunjungan wisatawan tidak merusak lingkungan alamnya justru menjadi penopang utama usaha pertanian penduduk. Lihat saja madu-madu yang dihasilkan dari hutan yang terjaga lestari menjadi oleh-oleh yang bernilai. Kemajuan wisata, kelestarian alam, serta kemampuan untuk tetap bersahabat dengan lingkungan guna menopang perekonomian lokal menjadi salah satu tujuan yang disepakati oleh kota-kota yang tergabung dalam gerakan Slow City Movement yang lahir di Italia. Cara kerja gerakan yang hadir sebagai antithesis dari globalisasi kapital ini bisa disaksikan di Isle of Wight.

P8210438.JPG

 

Kemajuan dan Keaslian: Dualisme Semu Arsitektur Bali Hari Ini?

Dalam beberapa bulan terakhir ini ada banyak postingan tentang karya-karya desain rekan-rekan arsitek yang mampir di wall. Postingan yang paling popular tentu saja berasal dari rekan-rekan arsitek muda dan juga beberapa mantan mahasiswa yang sudah memulai eksis di dunia desain dan konstruksi. Ada dua jenis desain yang menjadi perhatian saya yaitu: perumahan dan berbagai jenis turunannya, serta fasilitas pariwisata, termasuk hotel, villa, restaurant dan sejenisnya. Baik rumah maupun akomodasi wisata, keduanya menjadi proyek yang digemari karena, dianggap, memberi peluang eksplorasi desain dibandingkan perkantoran misalnya.

8

Gambar arsitektur jaman baru

Dari segi desain perbedaan-perbedaan kedua fasilitas tersebut sangat kontras. Desain rumah dan turunannya berbentuk kotak-kotak polos yang dipersepsikan sebagai minimalis sementara berlawanan dengan yang pertama, desain fasilitas wisata nampak lebih rumit menggabungkan beberapa elemen mulai dari lansekap, interior yang mendukung bentuk utama mengacu pada apa yang dipersepsikan sebagai arsitektur tradisional. Jika pada desain fasilitas yang disebut duluan ada upaya keras untuk terlihat modern, bergaya impor dan diasosiasikan dengan kemajuan, sebaliknya pada desain fasilitas yang disebut belakangan, ada satu tema yang menjadi benang merah yaitu upaya untuk tampil lokal. Perbedaan pada penggunanya sangat jelas. Jika pada fasilitas yang modern tadi digemari oleh penduduk setempat, yang tradisional popular di kalangan wisatawan.

Berakar, mungkin, di tahun 1950an dan 1960 an saat Indonesia baru merdeka dan ada harapan yang membuncah tentang masa depan yang gemilang. Bung Karno pada masa itu konon berpidato soal kedaulatan serta kemajuan yang akan disongsong di masa depan. Secara fisik, nampaknya kemajuan dilakukan dengan menyaingi yang barat. Masa itu pula dunia pulih dari perang dunia yang menyisakan trauma dan turisme sebagai bisnis mulai berkembang. Keinginan dunia barat untuk mencari sesuatu yang eksotis, keinginan mengulangi petualangan Magelhaens, Marco polo dll sebagaimana ditulis di buku-buku kian menggebu-gebu setelah dunia berangsur pulih dari peperangan. Perbedaan antara keinginan mengejar kemajuan dan keinginan untuk mengunjungi yang asli, menciptakan dua kutub bertolak belakang.

Dalam rangka mengejar kamajuan, banyak proyek yang dibuat oleh presiden pertama. Gaya arsitekturnya? Tentu segala sesuatu yang mencirikan atau setidaknya mengesankan kemajuan sebagaimana yang terjadi di dunia barat. Berbagai proyek mercusuar di Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno, Gedung DPR/MPR, tugu Monas yang semua dibanguan dengan arsitektur modern, adalah tinggalan dari masa ini. Di Bali, bangunan putih menjulang sepuluh lantai, Bali Beach Hotel, di Sanur menjadi artefak yang paling monumental. Dalam upaya mengejar kemajuan, banyak ide-ide yang berasal dari negara luar masuk. Imaji bahwa kemajuan adalah segala sesuatu yang berasal dari barat mungkin merupakan warisan dari masa penjajahan. Anggapan di kalangan penjajah bahwa yang local, yang timur adalah perlambang ketertinggalan, inlander, kumuh, dan seterusnya. Imaji-imaji ini tergambar dari tulisan-tulisan awal pelancong yang datang ke Bali. Saat Indonesia merdeka, upaya mengejar kemajuan ini sepertinya diterjemahkan sebagai mengejar sesuatu yang barat meniru apa yang tumbuh dan berkembang di dunia asal penjajah.

 

Lain soal dari sudut pandang turisme yang mencari eksotisme. Tulisan dari pelancong awal lain justru menggambarkan yang timur adalah yang eksotis, bersahaja dan mengundang penasaran.  Saat bangunan Bali Hotel yang modern dan kontras dengan bangunan setempat, maka golongan yang kedua ini berteriak keras. Bangunan ini, jika ditiru oleh bangunan-bangunan lain, dikhawatirkan akan membawa dampak yang kurang baik bagi pengembangan wisata dimana eksotisme dan ke’asli’an tempat adalah komoditas utamanya. Gelombang ‘perlawanan’ dimulai dengan mulai bermunculannya bangunan fasilitas wisata yang berupaya selaras dengan arsitektur yang local. Bentuk-bentuk dasar arsitektur tradisional dijadikan acuan untuk membangun fasilitas guna menampung fungai baru.

Dua aliran, antara yang ingin mengejar kemajuan dengan meniru yang barat serta yang ingin mempertahankan keaslian dengan cara meniru yang lokal, terjadi hingga kini. Rumah-rumah untuk masyarakat local dibuat dengan gaya yang semakin menjauhi arsitektur tradisional. Beton, kaca, dinding bata diplester dengan lapisan warna-warna mencolok membuat bangunan baru kontras dengan lingkungan di sekitarnya yang masih didominasi oleh bangunan tradisional. Seolah berlomba, setiap bangunan bersaing untuk menjadi yang paling modern dan paling up to date. Tidak ada acuan pasti atau panutan yang dominan. Gaya-gaya baru ini sangat dipengaruhi trend yang dibawa oleh media. Saya ingat tahun 90-an trend mediterania dengan jendela lengkung menjadi kelatahan, lalu bergeser ke kubisme dengan plat beton mini tanpa fungsi di atas jendela. Trend terus bergerak dan, besar kemungkinan, mempengaruhi selera pasar masyarakat lokal.

Di pihak lawannya, fasilitas turisme, juga terjadi perlombaan sejenis. Desain-desain kini mengejar persepsi keaslian. Dalam upaya ini, di pasaran saat ini tersedia alang-alang buatan, batu alam buatan, dan material tiruan lainnya namun nampaknya kurang begitu laku. Justru bambu, kayu, batu alam dan material lokal lainnya banyak dipakai. Karena dipakai untuk bangunan hotel dalam skala besar. Material ini semakin sulit dicari sehingga lalu muncul kesan mahal. Bangunan-bangunan ini umumnya dibangun oleh investor besar dan berlokasi di tempat-tempat yang eksotis, pinggir pantai, tepian sawah, di sekitar pegunungan dan lokasi lainnya dihuni oleh para pelancong manca negara kaya raya. Wisatawanmenganggap lokasi itu adalah representasi dari keaslian, sementara bagi warga local hidup di kota adalah representasi dari modernitas. Di kota semakin lumrah bangunan minimalis yang bisa dijumpai sepanjang jalan jalan utama.

07

Proposal Matahari Hotel oleh Peter Muller berupaya meng-kloning sebuah desa di Bali sebagai antithesis desain modern Bali Beach Hotel

Kekhawatiran bahwa lokalitas arsitektur Bali akan memudar sudah lama didengungkan. Setelah berdirinya Bali Beach di tahun 1960-an, peraturan daerah yang ditujukan untuk mengembalikan filosofi arsitektur traditional dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali kala itu. Di dalamnya di atur soal ketinggian bangunan, gaya-gaya dan bentuk-bentuk tradisional Bali, dan hal hal fisik lainnya. Peraturan ini kemudian, dengan semangat yang sama seperti di tahun 1970-an, direvisi menjadi Perda no 5 tahun 2005.

Kini peraturan tersebut ada dalam dilema. Di satu sisi, dalam sebuah acara seminar, seorang arsitek senior berteriak tentang dimensi temporal, kese-jaman-an dari peraturan ini yang sulit diterapkan sehingga berpotensi akan gagal. Di sisi lain, seolah menjadi alat legitimasi baru bagi lahirnya arsitektur dengan ornament tempelan. Karena bangunan yang sudah ditempeli ukiran Bali, dengan murda atau ikut cledu ternyata jika di uji dengan perda ini bisa lolos dalam kategori arsitektur Bali, meskipun harus mengorbankan arah orientasi yang berpotensi menghambat gerakan udara, serba tertutup sehingga perlu penghawaan buatan, atau berbentuk kotak polos dengan warna mencolok.

Bagi yang kuliah di bangku arsitektur barangkali sering mendengar bahwa tidak ada salah benar dalam berekspresi. Desain adalah pilihan, dimana setiap alternative membawa konsekuensinya masing-masing. Lalu jika keinginan untuk mengejar kemajuan (dimensi temporal kekinian) dank e-setempat-an atau lokalitas (dimensi geografis) hendak dipadukan pilihan apa yang sebaiknya diambil? Tentu saja aka nada banyak kompromi. Yang pertama dalam persoalan temporal adalah yang menyangkut budaya berhuni. Masyarakat Bali umumnya masih memeluk ajaran leluhur dengan taat, namun tidak menolak nilai-nilai baru yang telah ber-akulturasi menjadi bagian dari kehidupan di masa kini. Perpaduan antara nilai yang diwarisi dan nilai baru ini layak dijadikan sebagai pertimbangan dimensi temporal tanpa harus meniru setengah mati gaya hidup lampau atau berusaha keras mengkloning gaya hidup barat. Dari dimensi geografis, Bali merupakan wilayah yang rentan gempa dengan keberadaan gunung api serta berada dalam lempeng Sunda Arc. Disamping itu, kondisi tropis dimana angina bergerak dari arah tertentu, bulan hujan dan bulan kering, serta arah jatuhnya matahari bisa dijadikan pertimbangan dalam menentukan orientasi bangunan, bentuk atap dan teritisan, penghawaan buatan dan seterusnya. Pilihan ini, menurut saya, bisa diambil jika ingin berdamai dengan dimensi temporal dan dimensi geografis.

Resensi: Indonesia Design and Culture

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-7

Saya tidak banyak menemukan buku-buku berkategori sebagai coffee table book yang dibuat berdasarkan riset mendalam. Hal ini wajar saja, karena buku-buku yang ditujukan sebagai teman minum kopi atau teh di sore hari tidaklah harus yang berat dan penuh teori serta bisa merusak suasana santai. Daya jual utama buku-buku semacam ini, pada umumnya, ditekankan pada keindahan visual serta penampilan luks dengan pemilihan objek yang baik. Ada puluhan, atau mungkin ratusan, buku semacam ini tersedia luas di toko-toko buku di bandara-bandara, mall atau pusat keramaian lainnya. Dilihat dari tempat menjualnya pun membuat saya mafhum bahwa buku ini memang bersifat menemani kita sembari menunggu penerbangan atau menemani sambil ngopi di mall atau menghabiskan waktu luang di pusat keramaian. Dari sedikit buku coffee table, yang menurut saya, bagus tadi adalah yang berjudul: Indonesia Design and Culture karya Clifford Pearson dan Photografer Bryan Whitney.

Indonesia, sebagai sebuah negara kepulauan, sangat sulit jika tidak bisa dibilang mustahil untuk diungkapkan dalam satu buku yang komprehensif. Disamping terpisahkan oleh perairan, banyak hal lain yang menyebabkan wilayah di antara dua samudera ini demikian kaya dengan keragaman. Setidaknya terdapat antara 13.000 hingga 17.000 pulau (tergantung referensi mana yang dipakai dan pasang surutnya air laut), penduduknya berkelompok dalam ratusan etnisitas yang berbicara dalam lebih dari 400 bahasa dengan system kepercayaan, sumber daya alam, serta banyak hal lainnya yang menggambarkan keragaman kawasan ini sebagaimana diakui oleh penulis buku ini.

Keragaman tidak hanya karena letak geografis tetapi juga pengaruh luar yang berbeda beda. Kawasan bagian barat dipengaruhi oleh budaya India, Arab dan China yang berbaur dengan budaya lokal sementara kawasan timur relatif lebih sedikit terpengaruh sampai waktu datangnya pendatang Eropa. Penulis berargumen bahwa ketahanan budaya lokal menyerap budaya-budaya baru, baik dari negara-negara Asia maupun dari Eropa, membentuk budaya unik yang terjadi dari akulturasi budaya tradisional yang sudah mengakar selama ribuan tahun. Kedatangan budaya luar juga tidak terjadi bersamaan melainkan dalam periode yang berbeda-beda membentuk, selain dimensi geografis, dimensi temporal yang rumit.

Dihadapkan pada keragaman yang sedemikan kaya, si penulis buku ini berhasil merumuskan tujuh hal yang menjadi prinsip-prinsip pokok, yang disebutnya sebagai, karakter desain Indonesia. Bagaimanapun juga tujuh karakter ini tentu saja masih bisa didebat. Untuk mengurangi perdebatan, argumentasinya diperkuat dengan pilihan tema yang ditampilkan dalam buku setebal 247 halaman ini. Ketujuh prinsip tersebut adalah: inside out; natural materials; orientation; bold combinations; borrowing from others; embellishment; dan tradition. Menggunakan tujuh prinsip ini, disertai dengan pertimbangan dimensi geografis dan dimensi temporal, beberapa karya arsitektur dan desain ditampilkan dilengkapi pula ulasan budaya lokal.

Dari dimensi geografis, pilihan wilayah yang ditampilkan dikelompokkan ke dalam empat kawasan besar, yaitu : Java; Sumatra; Sulawesi; dan Bali. Di antara empat kelompok geografis ini, Jawa dan Bali mendapat coverage paling banyak dengan masing-masing 7 dan 9 karya dan dengan ulasan kehidupan sosial-budaya masyarakat setempat sebagai pelengkapnya. Dari sisi temporal, variasi yang ditampilkan boleh dibilang cukup luas. Terdapat bangunan tradisional yang diwakili rumah tradisional hingga ke bangunan terkini yang diwakili oleh bangunan villa di berbagai wilayah. Dari dimensi budaya, tentu saja bangunan tradisional menjadi wakil yang murni, sedangkan pengaruh budaya luar tergambarkan dari bangunan baru yang ditampilkan berdampingan dengan yang traditional.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-5

Gambar rumah Arief dan Leila Budiman

Yang, menurut saya, paling menarik dari pilihan proyek yang ditampikan adalah karya-karya yang boleh dibilang tidak familiar tetapi memiliki karakter yang sangat kuat. Wilayah yang dibahas pertama adalah Jawa. Dua proyek pertama merupakan karya dua desainer papan atas: Jaya Ibrahim dan Widayanto. Berlatar belakang seniman, masing-masing melakukan pendekatan yang berbeda dalam rancangannya. Jaya Ibrahim berekcplorasi dengan tema tema tradisional dalam rancangan bangunan kolonial sedangkan Widayanto dengan kepiawaian menggubah bentuk.

Puncak dari rasa tertarik saya pada buku ini ada pada ditampilkannya tiga, diantara banyak, karya terbaik Y.B. Mangunwijaya. Dimulai dari Perkampungan Kali Code, Kompleks Ziarah Sendang Sono dan terakhir adalah rumah Arief dan Leila Budiman. Karya arsitek yang biasa dipanggil Romo Mangun ini kental dengan nuansa ketukangan, craftsmanship, meskipun, secara bentuk sosok, tidak bisa diasosiasikan secara langsung dengan typology traditional tertentu. Nampaknya bangunan-bangunan karya Romo Mangun tidak didikte untuk meniru proporsi atau siluet bangunan tradisional tetapi didasarkan atas tektonika lokal, mengedepankan material lokal terutama kayu dan bambu, menghasilkan bentuk baru. Dengan prinsip-prinsip yang serupa dengan yang diterapkan dalam arsitektur traditional: menggunakan bahan sekitar, menerapkan seni ketukangan setempat, disusun dengan prinsip tektonika sesuai lingkunganya, maka mudah saja bagi bentukan-bentukan ini untuk berbaur menyatu dengan lingkungan sekitarnya seperti yang ditunjukkan oleh rumah keluarga Arief Budiman.

Entah disengaja atau hanya kebetulan, tiga proyek ini menggambarkan kepribadian Romo Mangun yang humanis (permukiman Kali Code), religious (kompleks ziarah Sendang Sono) serta menghormati lingkungan alami (Rumah Arief Budiman).

Sebuah rumah modern, bergaya post-modern, menjadi satu-satunya desain non-indigenous karya Burhan Tjakra. Sekalipun tampil dengan gaya impor, sebagaimana argument bahwa budaya Indonesia memang diperkaya oleh budaya lain, rumah ini tetap menampilkan sebagian dari tujuh prinsip yang dirumuskan oleh si penulis.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-2.jpg

Gambar seni ketukangan tradisional dalam mewujudkan rumah di Sulawesi

Rumah-rumah traditional diwakili dua region besar: Sumatera dan Sulawesi. Dari kedua region besar ini terdapat lima bangunan tradisional yang ditampilkan. Widow’s House, Istana Silinduang Bulan dan Rumah Panjang, semuanya ada di Sumatera, ditampilkan bersama uraian soal pasar tradisional, tata cara bertani serta budaya menjunjung bawaan di kepala yang lumrah ditemui di Sumatera.  Dua karya arsitektur dengan atap spektakuler khas Toraja tampil mewakili wilayah Sulawesi. Yang pertama adalah Sesean Mountain Lodge di Rantepao dan berikutnya adalah rumah-rumah traditional Tongkonan. Gaudenz Domenig pernah mengungkapkan bahwa atap merupakan elemen yang sangat penting dalam bentuk-bentuk arsitektur tradisional di wilayah Pasifik. Bentuk bentuk atap ini, dalam argument Domenig, seringkali menyerupai perahu, tanduk atau bentuk-bentuk yang imajinatif sesuai dengan kepercayaan lokal. Rumah-rumah di Sulawesi dengan bentuk atapnya yang spektakuler, mendominasi keseluruhan proporsi, menggambarkan dengan jelas argumen peneliti asal Austria tersebut.

Bali menjadi kawasan yang diliput paling banyak di dalam buku ini. Ulasan tentang Pulau Bali meliputi kawasan pertanian, kesenian, adu ayam hingga ke budaya kremasi. Diantara ulasan tersebut, beberapa karya arsitektur dibahas secara mendalam. Pergaulan Bali dengan budaya internasional yang mulai intens di akhir tahun 1960-an, sekalipun telah dimulai sejak kehadiran pemerintah colonial Belanda di tahun 1910-an, di cover dengan bahasan proyek-proyek hospitality masa awal turisme hingga masa modern. Proyek turisme tidak bisa dilepaskan dari fasilitas berupa hotel dan penginapan.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-8

Gambar lobby dengan seni ketukangan lokal untuk mengakomodasi fungsi baru: lobby hotel

Di Bali ada ratusan atau mungkin ribuan fasilitas sejenis yang bertebaran tetapi tidak banyak yang melegenda. Diantara yang melegenda itu adalah Tandjung Sari yang merupakan cikal bakal fasilitas yang disebut Boutique Hotel. Pemiliknya Wija Waworuntu belakangan bekerjasama dengan Donald Friend, seorang seniman eksentrik asal Australia, mengembangkan fasilitas lainnya dengan bantuan arsitek legendaris Geoffrey Bawa dari Sri Lanka dan juga Peter Muller dari Australia. Dari lingkaran pertemanan ini melahirkan banyak arsitek penerus yang hari ini berada di garis terdepan desainer arsitektur perhotelan dunia termasuk diantaranya desainer lansekap Michael White yang belakangan dikenal dengan nama Made Wijaya. Sebagian karya yang lahir dari lingkaran pertemanan ini diulas dalam buku ini mewakili Bali. termasuk yang diulas adalah rumah milik Donald Friend yang dibuat oleh Geofrey Bawa, rumah Wija Waworuntu,  dan rumah Walter Spies di Iseh. Dari generasi yang datang setelah generasi awal terdapat Taman Mertasari karya pemiliknya sendiri Made Wijaya, Muller House, Mirah & Carl Burman House dan Jean-Francois Fichot House berlokasi di Ubud. Dari semua karya yang mewakili Bali, ada tarikan nafas design yang serupa. Yang pertama, mereka mengambil inspirasi lokal yang kental baik dari segi bentuk maupun teknik konstruksinya berupa tektonika tahan gempa. Atap alang-alang dominan dipakai di hampir semua proyek. Mengabaikan kelemahannya yang gampang dimakan waktu, alang-alang terbukti membuat ruangan yang dinaunginya menjadi sejuk karena dapat menahan panas matahari sekaligus membiarkan ruangan tetap ‘bernafas’ melalui sela-sela serat alang-alang. Pemakaian elemen-elemen lokal menjadi elemen penting berikutnya dalam desain rumah-rumah tadi membuatnya menyatu dengan rumah atau karya-karya arsitektur di sekitarnya.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-3

Gambar Taman Merta Sari di Sanur

Penulis buku ini, Clifford Pearson, seorang senior editor di majalah arsitektur terkemuka Architectural Record adalah juga kritikus arsitektur yang berpengalaman, nampaknya ingin menampilkan bahwa arsitektur dan desain tradisional memiliki kemampuan bertahan, resilience, yang tinggi terhadap berbagai perubahan yang terjadi baik di bidang kepercayaan, teknik konstruksi serta material baru maupun perubahan temporal kesejamanan. Tujuh prinsip yang dikemukannya di awal buku ini, meskipun masih debatable, bisa dijadikan preferensi untuk mengembangkan arsitektur nusantara yang berjati diri, sesuatu yang seringkali diperdebatkan di ruang-ruang seminar. Credit khusus juga layak disematkan pada photographer buku ini yang membuat tujuh premis yang disampaikan oleh si penulis dengan mudah bisa dipahami melalui visual menawan.

Buku ini memiliki beberapa manfaat. Pertama bisa menjadi bacaan awal sebelum membaca buku-buku arsitektur Nusantara yang lebih serius. Dengan pemaparan yang gamlang diselingi ulasan budaya setempat, penulis seolah ingin memberi ‘pintu masuk’ ke pemahaman yang lebih mendalam. Kedua, bagi yang ingin memahami sekilas sejarah perkembangan Nusantara, buku ini juga memberi ulasan mulai dari jaman awal kedatangan manusia di atas kepulauan hingga masa terkini. Yang terakhir, tentu saja kekayaan visual buku ini bisa menjadi referensi dalam mengembangkan desain yang berkarakter Nusantara.