Hari Raya

Menjelang hari raya yang diselenggarakan setiap 210 hari sekali, atau 10 hari setelah galungan, timeline di sosmed ramai dengan status dari kawan-kawan dan semeton Bali di Inggris menggambarkan keinginan untuk merayakan bersama.

DSC_0060

Saya sejujurnya tidak begitu paham makna filosofis maupun historis perayaan hari raya ini. Di sosmed ada yang membahas etimologynya dari kata ka-uning-an, yang memiliki makna untuk mengingatkan diri sehingga konon tidak ada hubungannya dengan ‘kuning’ sebagai warna. Yang terbayang dalam memory semasa kecil hingga sekarang adalah melimpahnya makanan berbahan babi buatan bapak almarhum, aroma dupa wangi semerbak memenuhi udara kampung, alunan Gamelan Semarpegulingan merdu mengiringi barisan ibu-ibu beriringan menuju Pura Desa. Dan yang paling seru dan ditunggu orang sekampung tentu saja rombongan penari barong dari banjar Teges Kanginan, yang terkenal galak mengejar anak-anak yang mengejeknya, menari keliling desa. Tetabuhannya sederhana, kenong, kempur, kendang dan cengceng yang kesemuanya dimainkan anak-anak. Tetabuhan dan barong sederhana ini menjadi hiburan utama kala hari raya bahkan ditunggu-tunggu hingga hari ini.

Pada hari raya, baik Galungan maupun Kuningan, rumah kami di kampung selalu ramai oleh kehadiran handai taulan yang datang bersembahyang di pura keluarga, di sanggah. Persembahyangan lalu akan diikuti dengan silaturahmi dan obrolan seputar keseharian masing masing. Dahulu, cerita tentang air di sawah, hama ataupun banyaknya belut yang ditangkap menjadi menu utama. Beralih masa, obrolan berubah menjadi ramai tidaknya turis, laku tidaknya ukiran kayu atau sepinya tip dari tamu hotel. Ya obrolan keseharian yang sepertinya remeh tetapi buat saya esensinya adalah bertemu dan mengetahui keadaan saudara dan demikian juga mereka bisa tahu keadaan kami di rumah sembari bersama-sama menikmati hidangan khas, surudan hari raya berupa jaja kukus dan buah-buahan. Makna hari raya sebagai ajang bersilaturahmi semacam itu terbawa hingga kini, saat tinggal jauh dari kampung halaman. Kerinduan pada perpaduan aroma dupa, warna-warni wastra, alunan gamelan serta canda tawa keluarga besar tersirat pada keinginan untuk merayakan Galungan dan Kuningan bersama.

DSC_0057

Hari Kuningan, 15 April 2017, ini kami rayakan di Birmingham, kota terbesar kedua setelah London yang terletak di tengah tengah Negara Inggris sehingga lebih mudah dijangkau dari berbagai arah. Persembahyangan dilakukan dengan sederhana di ruangan hall salah satu hotel, tanpa dentingan genta, tiada pajeng serta umbul-umbul warna warni, meja tempat banten hanya dilapisi secarik kain prada serta bendera merah putih menggambarkan kerinduan pada tanah air serta kampung halaman di Bali  Namun trisandya khusuk dilanjutkan panca sembah berlangsung khidmat, hingga percikan tirta membasahi wajah dan rambut. Beberapa biji beras, bija, dibubuhkan dikening dan di ujung bawah leher.

DSC_0111

Selepas sembahyang, Sathya Deva, mahasiswa asal Gianyar yang kuliah di London menari Baris tunggal, lalu ibu-ibu dan remaja putri mementaskan tarian rejang dewa. Tidak ada kenong, kempur, kupek, cengceng apalagi gangsa, semua tarian diiringi suara gamelan yg diunduh dari channel youtube. Sebelum pentas terjadi sedikit insiden karena suara gamelan tidak bisa di mainkan, untunglah Bli Gede Lolet dan Putu Suwarta sigap mengatasi masalah tata suara. Sementara selepas tarian, anak-anak berlarian bermain saling berkejaran. Para orang tua, yang karena kendala jarak membuat jarang bertemu, ngobrol tiada habisnya. Semua membawa cerita seru dari kota tempat tinggalnya masing-masing. Saling mengundang untuk mengunjungi sembari menawari tempat menginap menjadi cerita lumrah. ‘Kalau mampir ke Oxford jangan lupa berkhabar, ya, nanti saya ajak ke rooftop bar yang menyajikan view kota’, ujar saya kepada setiap semeton yang tertarik berkunjung. Pak Wayan juga sibuk menawari semeton untuk mampir ke pulau indah tempat beliau tinggal bersama keluarga di Isle of Wight.

Makanan hari itu luar biasa banyak. Bli Gede Lolet membuat kerupuk kulit babi, sementara betutu dibuat oleh mbok Eniek. Bu Putri, jagoan masak, membuat lawar nangka dan jukut buah kacang. Ibu Arum membawa berbagai macam jajanan yang tidak habis dimakan oleh seluruh hadirin meskipun masing-masing sudah mangambil lebih dari satu. Minuman tak terkira. Ada minuman bersoda rasa buah, air putih, hingga minuman beralkohol yang dibawa oleh Made Rexi, warga asal Sanur yang kebetulan juga menjadi tuan rumah acara. Kerinduan akan makanan hari raya, pada hari itu, terbayar lunas tanpa sisa. Bahkan ada juga hidangan babi guling buatan Mbok Rini, sementara saya sendiri membuat ayam panggang sambel matah, yang dulu semasa kecil sering dibuatkan oleh almarhum ibu dari ayam surudan banten.

Senyum mengembang, tawa dan canda tiada habis. Kegembiraan juga dilengkapi oleh hadirnya pak Gulfan, konsuler KBRI London, memberi sambutan. Kehadiran beliau menambah semangat secara moral terhadap keberadaan banjar yang baru kami bentuk ini.

DSC_0177

Saya menghempaskan pantat di kursi kereta yang lumayan empuk. Setelah merapikan koper dan tas kamera, leher yang pegal saya pijiti sendiri sementara tanpa disadari seorang anak kecil berambut pirang di seberang tempat duduk memperhatikan gerak gerik. Saat ibunya tahu, segera dialihkannya perhatian si anak sementara saya tersenyum geli melihat tingkahnya.

Hari sudah jelang malam, jam menunjukkan pukul 19.33 tetapi langit masih terlihat terang. Di cakrawala, semburat cahaya matahari melabur awan dengan warna merah jingga semakin ke atas semakin gelap. Burung-burung terbang kembali ke sarang. Saat kereta mulai bergerak dan tiada lagi yang bisa dilakukan saya ambil kamera dari dalam tas gendong yang menemani dari kemarin.

DSC_0196

Melihat wajah-wajah ceria teman-teman sesama warga Bali di rantau dari layar 3 inchi, membuat saya kembali tersenyum. Hari ini bertambah lagi memori tentang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Cerita lama tentang Kak Oman yang sawahnya terserang hama tikus dan juga Pak Tutnik yang tidak mampu membayar cicilan motor karena harga patung yang jatuh kini berpadu dengan cerita dari teman-teman disini. Kenangan kuningan kini juga soal enaknya tum buatan Mbok Luh Chapman, semangat menggebu-gebunya Mbok Rini, tarian Baris Tunggal Deva, tentang Pak Wayan Gunawan sekeluarga yang menempuh jalan ratusan kilometer mengendarai mobil dari Cowes menuju Birmingham, Bli Gede Lolet yang bercita-cita membuka bisnis travel di Bali, Bu Putri yang bergadang membuat gelungan rejang sehingga adik-adik Yuthri, Erly, Ayu, Novi, Devina dkk bisa menari bak bidadari. Keceriaan Kuningan mungkin bertahan dalam 2-3 hari, tetapi memori nya akan bertahan menumpuk berpilin dengan kenangan hari raya di masa kecil.

Konon identitas manusia sebagai makhluk sosial, salah satunya, dibangun dari pengalaman dan memori. Kita menyebut diri orang Bali karena dibentuk oleh memori yang diceritakan orang tua kepada kita, memori yang kita bangun sendiri berdasarkan pengalaman hidup merayakan hari raya Bebali, atau buku-buku dan pelajaran sekolah tentang Bali yang diajarkan kepada kita. Saat kita berhenti merayakan hari raya Bali, atau berhenti diberikan cerita soal Bali, mungkin kita tidak lagi merasa menjadi ‘Bali’. Suatu saat, kami akan bercerita soal kuningan di Birmingham kepada anak-anak kami, atau anak-anak yang ikut merayakan Kuningan di Birmingham akan memiliki kenangannya sendiri tentang perayaan hari ini. Cerita dan kenangan yang akan memperkuat identitas kami dan juga mereka.

DSC_0070

Sedikit malas, setiba di Oxford saya menyeret koper yang isinya sudah banyak berkurang. Makanan yang memenuhinya saat berangkat sudah habis, menyisakan kamen, saput dan udeng. Permukaan jalan berlapis batu alam membuat lajunya tidak bisa lancar dan mangeluarkan suara dregdeg…dregdeg…dregdeg. Perjalanan sampai rumah kost masih harus ditempuh 20 menit lagi dengan naik bis. Langit sudah gelap, semburat sinar matahari sudah berganti kelam malam bertabur bintang. Bergegas saya menuju halte untuk menunggu bis diterangi lampu jalan.

Selamat Hari Raya Kuningan, semoga kita selalu berjumpa dalam keadaan damai tidak kekurangan suatu apapun.

Saniscara, Kliwon wuku Kuningan, Sabtu 15 April, 2017,

Di dalam kereta dalam perjalanan dari Birmingham ke Oxford