Juhani Pallasmaa: Obrolan bersama Peter Zumthor

Artikel asli ada di: Michael Asgaard (2012) Juhani Pallasmaa: In Conversation with Peter Zumthor in Paul Brislin (ed)(2012) Human experience and Place: Sustaining Identity, London : Wiley

Detail konstruksi atap, tiang dan dinding Saint Benedict Chapel by Peter Zumthor. Image courtesy of Felipe Camus

Saat seorang arsitek merancang bangunan di suatu lokasi yang tidak familiar dengannya, interpretasinya terhadap tradisi local dan regional kerap menjadi sangat tajam. Ketidakakrabannya dengan lingkungan sekitar, membuatnya mampu melihat lokalitas dengan ‘mata’ dan ‘pikiran’ yang lebih segar. Peter Zumthor seorang arsitek berkebangsaan Swiss, dalam karyanya di negara negara Nordic baik yang terbangun maupun tidak, mengeksplorasi tradisi tempat-tempat tersebut dengan tingkat sensitivitas tinggi terhadap topografi, cahaya alami dan material local. Hasilnya, karya-karya yang secara simultan meneruskan sekaligus memperbaharui tradisi setempat. Saya tertarik untuk menerjemahkan obrolannya dengan Juhani Pallasmaa yang rekamannya ditayangkan di pameran arsitektur bertema: ‘New Nordic –Architecture & Identity’ mengingat dalamnya isi diskusi serta kemungkinannya untuk dieksplor lebih lanjut di wilayah-wilayah Asia yang disebut sebagai the Global South. Sebetulnya ada kekhawatiran jika hasil terjemahan ini sedikit skewed, tetapi di atas semua itu, saya yakin ada banyak hal yang bisa kita petik dari obrolan dua orang senior ini.

Peter Zumthor (PZ): Saya semakin menua dan saya melihat sesungguhnya ada koneksi yang sangat kuat antara masa lalu dan masa depan. Apa yang saya lakukan hari ini bersumber dari masa lalu, bukan hanya dalam karya desain tetapi hal-hal nyata keseharian. Segala sesuatu ter-koneksi dengan masa lalu, tetapi mereka juga terhubung dengan masa depan, karena apa yang kita lihat di hari ini akan menjadi bagian dari masa depan, masa depan saya dan masa depan orang lain. Hal ini membuat saya merasa tenang, maksud saya ide konektivitas ini.

Juhani Pallasmaa (JP): Menurut saya, hal penting dari tradisi adalah semakin baik hasil karya tersebut, semakin dia membuat kita mengerti tentang karya-karya masa lalu.  Karya yang baik ‘menemukan kembali’ serta mengekspose cara kerja lama dengan memberinya ‘cahaya baru’. Menurut saya adalah tanggung jawab generasi masa sekarang untuk tidak berpaling terhadap apa yang sudah dikerjakan terdahulu, tetapi menemukan kembali esensinya.

PZ: Seni dan arsitektur adalah soal keindahan dan kebenaran, tentang momen-momen yang menyenangkan. Bukan sekedar soal tentang yang lama dan yang baru. Ini tentang keindahan dan kualitas. Saya ingat 15 tahun yang lalu, seorang mahasiswi di dalam kuliah di Belanda menanyakan pertanyaan yang sangat menggugah saya: ‘Peter, apakah anda adalah seorang arsitek modern?’ Saya jawab: ‘Saya tidak mengerti pertanyaan ini. Saya hidup di waktu sekarang. Apapun yang saya lakukan pastilah bersifat kontemporer. Semua yang saya lakukan adalah response saya terhadap kehidupan di hari ini.’

JP: Anda merujuk pada dimensi kehidupan dalam arsitektur dan lansekap. Bukankah sebagai salah satu aspek dalam kehidupan berarsitektur, jejak waktu dan pengalaman ruang itu penting? dan sepertinya hal ini dilupakan dalam arsitektur modern karena kita selalu ingin terlihat baru? apakah kita ingin bangunan semacam itu? sepertinya anda memiliki attitude yang berbeda, seperti juga saya. Buat saya jejak waktu dan patina (taksu) dan juga jejak cuaca dan musim memperkaya desain. Mereka memberikan narasi yang dalam pada kehidupan dan jaman.

PZ: Ya saya sependapat. Dunia ini sebetulnya dipenuhi oleh bangunan-bangunan dan kota-kota yang indah produk masa lampau; sangat banyak malahan. Bangunan-bangunan lama yang dibuat sangat baik meninggikan martabat manusia. Menurut saya, ini semua pada akhirnya adalah soal bagaimana membuat hidup bermartabat.   Kita harus melingkupi diri dengan hal-hal baik, menciptakan (mendesain) karya-karya yang berkualitas, yang indah. Inilah yang saya sebut sebagai martabat. Ini adalah keistimewaan (bagi arsitek: my own emphasis).

JP: Kita sering menganggap bahwa setting kehidupan adalah panggung untuk mementaskan hidup. Tetapi seiring menuanya usia, saya menyadari bahwa keterkaitan antara kita dan setting (actor dan panggungnya) jauh lebih dalam. Dunia dalam diri dan dunia di luar diri sesungguhnya satu dan saling berkait dalam sebuah continuum. Jika kita mulai berfikir semacam itu (kesatuan antara dunia dalam dan luar diri: my own emphasis), signifikansi arsitektur dan lansekap, ataupun hal lain di sekitar kita semakin terasa meningkat karena selain dengan hal-hal yang bersifat fisik kita juga menemukan hal-hal yang immaterial, mental things, dan tidak hanya tentang diri kita tetapi juga manusia secara lebih luas dan juga generasi yang akan datang.

PZ: Iya, mungkin pertanyaan tentang identitas adalah soal keistimewaan: nilai yang membuat perbedaan, menciptakan karakter yang membuatnya berbeda dengan yang lain. Dan tentu saja seperti yang anda sampaikan, identitas selalu memiliki nilai spiritual. Saya kira ada karakter kuat dalam karya arsitektur yang baik. Arsitektur yang baik menciptakan ‘place’. ‘Place’ yang mana kita bisa me-narasi-kan hubungan emosional, inilah yang menciptakan identitas.

Kekinian adalah soal keterkaitan dengan masa lalu dan masa yang akan datang, Kolumba Museum by Peter Zumthor. Image courtesy of Fernandi Vazquez

JP: Mungkin, bahkan juga dalam hal yang lebih luas daripada arsitektur. Misalnya, sangat jelas buat saya bahwa setiap negara Nordic memiliki karakter arsitekturnya tersendiri. Sangat mudah untuk menyebutkan ini arsitektur Norwegia, yang ini arsitektur Swedia, atau yang itu arsitektur Finlandia. Arsitektur bisa mendukung identitas kultural dalam level yang lebih luas, tidak hanya hal-hal yang bersifat personal. Dan dalam level yang lebih abstrak, dalam pandangan saya, arsitektur bisa dijadikan sebagai framework untuk memahami kehidupan. Kita memahami lansekap, misalnya, dalam kaitannya dengan arsitektur. Kita memahami perubahan jaman dalam kaitannya dengan arsitektur dan seterusnya. Kita mengerti institusi kemanusiaan dalam kaitan dengan arsitektur, jadi arsitektur mengorganisir pengalaman-pengalaman kita dalam level perseptual. Arsitektur membantu kita memahami cara kita berfikir soal diri kita.

PZ: Benar. Saya teringat soal ‘tanpa-identitas’ tentang arsitektur yang tidak memiliki identitas, apakah ini yang disebut arsitektur global?

JP: Mungkin saja.

PZ: Identitas harus dikaitkan dengan hal-hal nyata.

JP: Benar, dan identitas mesti dikaitkan dengan sejarah diri, pengalaman keluarga dan sejarah kita dalam level yang lebih luas. Kita tidak hanya ada di hari ini, kita adalah produk dari perubahan waktu dalam banyak hal. Tetapi hal semacam itu seringkali dilupakan, terutama di hari ini, dunia yang semakin dikaitkan dengan ‘kekinian’. Misalnya, identitas selalu dikaitkan dengan fashion, tampilan luar, yang mana selalu berganti dalam  siklus 3 bulanan. Hal semacam ini menurunkan level pemahaman soal identitas.

Memperkuat lansekap alam, Bruder Klaus Field Chapel by Peter Zumthor. Image courtesy of Samuel Ludwig

PZ: Kita juga harus menghargai orang lain, tidak hanya berfokus pada penciptaan identitas kita sendiri. Ada tanggung jawab disini. Adalah hal yang indah bahwa sebuah pohon adalah bagian dari suatu family tertentu, tetapi dia juga harus menjadi bagian dari species yang lebih luas. Dalam karya-karya saya, saya suka melihatnya sebagai bagian dari ‘keluarga’ bagunan-bangunan dalam skala yang lebih luas, sebagai bagian yang menyatu dengan lansekap perkotaan ataupun bagian dari organisme di sekitar, bagian dari hidup itu sendiri.

JP: Saya kira itu point yang sangat baik. karena hari ini semakin banyak orang yang lebih percaya pada keunikan dan individualitas, dan saya tidak paham bagaimana hal semacam itu memberi nilai yang positif  pada arsitektur ataupun seni. Saya kira kita perlu sedikit nilai-nilai universalitas and anonimitas dalam karya kita. Jika tidak, karya-karya tersebut tidak akan ‘berbicara’ pada kita.

PZ: Bangunan yang normal, sederhana, biasa-biasa saja yang tidak berusaha untuk menarik perhatian- hal semacam ini harus diajarkan lagi. Sangat menarik dan penting untuk bisa melihat kualitas dari hal-hal biasa, menggunakannya dan mengerjakannya.

JP: Sayangnya bangunan semacam itu justru dianggap kutukan dalam dunia arsitektur belakangan ini. tetapi saya pikir bangunan yang biasa itulah juice in life, bahwa mereka seharusnya dan bisa dibuat menjadi sesuatu yang bermakna keindahan bermartabat.

PZ: Saya pikir mesti ada arsitek muda dengan pemikiran yang sama dengan kita –pasti ada satu dua orang- yang memiliki kemampuan untuk melihat melampui hal-hal komersial, bahwa karya yang baik tidak sekedar karya yang mengkilat atau sekedar pattern yang menarik di wajah bangunan. Saya melihat, arsitek-arsitek muda di kantor saya memiliki hasrat yang baik. Ada harapan pada bakat-bakat mereka. Banyak orang berbakat.

Wawancara ini dimuat di Jurnal/majalah arsitektur AD terbitan Wiley, 2012.