Social-media, Aktualisasi Diri dan Tata Ruang Kita

1530038wisata-kelimutu780x390
Wisata alam. Sumber travel.kompas

Di Indonesia liburan panjang telah usai dan hari-hari kerja sudah menanti di depan mata. Tentu ada banyak cerita dan pengalaman liburan yang bisa dikenang dan diceritakan bagi rekan sekantor atau teman sekolah. Cerita ini bisa menstimulasi orang yang diceritakan untuk tertarik berkunjung ke tempat yang dikisahkan. Wisata memang salah satunya bertujuan untuk memberi pengalaman baru yang berbeda dibandingkan dengan pengalaman yang kita lewati dalam keseharian. Tujuan berwisata sendiri adalah untuk lepas dari keseharian yang seringkali membuat jenuh. Artinya wisata adalah untuk kebutuhan diri sendiri. Namun ada satu lagi tujuan wisata yang nampaknya berkembang belakangan ini yaitu sebagai sarana aktualisasi diri. Bukan lagi untuk kepentingan diri sendiri secara personal tetapi untuk menunjukkan siapa diri kita di tengah masyarakat. Tentang membentuk dan menciptakan identitas, tentang kualitas yang membuat kita terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan anggota masyarakat lain atau teman-teman.

Karena ingin terlihat ‘berbeda’ atau ‘setara’, maka ada dua trend menarik. Sebagai sarana aktualisasi diri, agar menjadi ‘berbeda’ maka tempat-tempat yang unik yang belum pernah dikunjungi atau diliat oleh teman-teman atau masyarakat di sekitar kita menjadi tujuan. Tempat-tempat ini bisa jadi berupa pegunungan, danau atau laut dengan pasir putihnya atau bisa juga berupa kota kecil dengan suasana unik, bangunan megah, jembatan atau taman wisata air. Atau bisa juga restaurant yang menjual makanan khusus, villa atau kolam renang , dengan desain unik, terletak di kawasan yang dianggap keren. Pendek kata, bisa berupa wilayah alami atau obyek buatan manusia. Dengan dunia internet yang mewabah, tidaklah sulit untuk mencari tempat-tempat tadi. Berikutnya, saat ingin terlihat ‘setara’ menjadi bagian dari golongan tertentu, maka kita cenderung mencari tempat-tempat yang sudah pernah dikunjungi oleh teman-teman kita sebelumnya. Bisa jadi kita mengetahui seorang kawan berkunjung ke Paris atau melihatnya di tepian tebing di Nusa Penida lalu kita ingin berkunjung kesana. Atau ada kawan yang berkunjung dan berpose di depan patung singa di Singapore dan membuat kita ingin mengulangi pengalaman si teman tadi. Kecenderungan yang kedua ini biasanya dipicu oleh  keinginan agar dilihat ‘setara’ sehingga tempat yang pernah dikunjungi oleh orang ‘top’ menjadi primadona. Kita ingin mengunjungi tempat yang pernah dijajaki oleh entah itu artis, politisi atau teman kita yang memiliki status social lebih tinggi, misalnya.

Lalu bagaimana menjadi ‘berbeda’ atau menjadi ‘setara’ ini bisa dijadikan alat aktualisasi diri? Disinilah peranan social-media menjadi penting. Sesaat kita mengunjungi tempat unik, entah karena ‘perbedaan’ atau ‘persamaan’ maka segera pula dalam beberapa saat fotonya akan terpampang di laman social-media kita. Kadang berlomba-lomba untuk lebih dulu memposting agar tidak didahului oleh rekan lain. Karena jika didahului, maka berkurang pula makna ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ yang ingin dicapai. Facebook nampaknya paham betul dengan perilaku semacam ini. Fitur ‘live’ kini kian populer dipergunakan. Dengan fitur ini pengalaman yang diperoleh bisa di-post secara real time. Dengan postingan real time, tujuan agar terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan yang lain bisa segara ditunjukkan. Unsur kecepatan menjadi kunci disini. Semakin cepat pengalaman baru tersebut di-posting, maka semakin cepat pula aktualisasi diri diperoleh. Dalam upaya menjadi ‘berbeda’ dan ‘setara’ ini, kita dihujani oleh berbagai macam image tentang tempat-tempat unik dan tempat-tempat baru, ruang-ruang dimana aktualisasi diri dibentuk. Lalu apa implikasinya bagi perencanaan dan penataan ruang?

hipwee-IMG_20161227_114638_217
Pelataran foto di atas jurang. Sumber hipwee.com

Tempat-tempat alami tentu saja sudah tersedia untuk dikunjungi. Tebing-tebing, danau, jurang yang hijau dan sebagainya sudah ada dan tinggal di’temu’kan dan dikunjungi. Tempat-tempat buatan harus diciptakan. Lalu kita akan jamak menjumpai di social-media teman-teman atau kerabat berpose di pelataran kayu di tepi jurang, berpose di ayunan di tengah laut, atau di restaurant dengan nuansa tertentu. Perancang dan desainer dituntut untuk terus mencari atau menciptakan ide-ide baru. Ide-ide untuk membuat tempat yang bisa dijadikan sebagai ajang ‘aktualisasi diri’ yang akan membuat orang merasa ‘berbeda’ atau ‘setara’ dengan yang lain. Jika dahulu tempat wisata terpusat pada satu atau dua titik saja, kini tempat-tempat wisata bisa kita jumpai di berbagai titik dan wilayah. Bahkan wilayah yang jauh di pelosok-pelosok karena keinginan untuk terlihat ‘berbeda’. Karena wisata tidak terlepas dari faktor ekonomi, pergerakan ekonomi pun mejadi lebih tersebar dalam skala luas. Skala dan kecepatan perubahan menjadi sangat masif. Akan tetapi hal ini berimplikasi pada penataan ruang.

Rencana penataan ruang adalah sebuah rencana jangka panjang, sementara kecepatan pembangunan di lapangan saat ini sangat tinggi berorientasi keuntungan jangka pendek. Terjadi ketimpangan disini. Para investor dan perancang dipaksa untuk terus bekerja keras memikirkan dan melahirkan konsep-konsep unik untuk segera balik modal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ruang-ruang terpencil dieksplorasi sebagai wadah mencipta tempat wisata baru. Arus transportasi dan pergerakan kendaraan kini semakin sulit diprediksi. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pakar transportasi. Laju alih fungsi lahan akan semakin kencang karena tempat-tempat unik dengan segera akan melahirkan pusat ekonomi baru yang membutuhkan lahan. Pemikiran konsep unik ini ujung-ujungnya akan berakhir di titik yang sama seragam. Kita melihat dimana-mana ada pelataran kayu di tepi jurang, ayunan di atas danau, restaurant yang dahulu terasa unik kini di-copy dimana-mana. Restaurant ikan bakar khas Jimbaran bisa dijumpai di tengah sawah di Ubud. Orang  dengan cepat akan bosan dengan tempat yang sudah berkali-kali di post di social media. Tempat-tempat yang awalnya ‘unik’ menjadi biasa-biasa saja. Sebentar lagi pelataran-pelataran kayu di atas tebing akan kehabisan daya tariknya dan digantikan oleh trend baru. Ayunan di tengah laut juga tidak lama lagi akan kehilangan daya pikat. Lalu akan ada lagi trend-trend baru yang melahirkan mobilitas penduduk baru, alih fungsi baru dengan kecepatan dan skala yang semakin tinggi dan luas. Pencarian akan ‘kebaruan’ dan ‘keunikan’ akan kembali berakhir pada kesamaan karena duplikasi akan kembali terjadi. Pada akhirnya akan melahirkan persoalan tata ruang baru.

Tidak mudah mengantisipasi trend semacam ini. Trend dimana segala sesuatu diukur dari kemampuannya untuk menyajikan hal unik sebagai ajang aktualisasi diri. Jika aktualisasi diri dengan konsep menemukan ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ memang menjadi motivasi, maka ada baiknya kita berhenti sejenak, atau setidaknya melambatkan laju.

hipwee-Kebun-Teh-Nglinggo-640x426
Ayunan iconic berwarna mencolok. Sumber hipwee.com

Jauh sebelum segala sesuatunya terlihat sama, manusia sesungguhnya hidup di tempat-tempat yang berbeda-beda. Pengaruh geografis, pengetahuan serta material lokal, keunggulan spesifik suatu lokasi di masa lampau menghasilkan tempat-tempat yang unik. Tidak ada satu desa pun di Bali yang memiliki kesamaan attribut dengan desa lain, misalnya. Atau tidak ada dua pura yang dibangun sama persis. Bahkan rumah-rumah tradisional yang konon dibuat dengan tatanan yang sama, Hasta Kosala-kosali, pun selalu memiliki sisi keunikannya sendiri. Jika kita mengurangi sedikit kecepatan maka keunikan justru dapat digali dari pengetahuan setempat. Bukan dengan cara meng-copy dari tempat lain tetapi melahirkan konsep baru dari pengetahuan setempat. Memberi makna dan nilai baru pada ilmu yang tumbuh dan berkembang di suatu wilayah sebelum adanya pengaruh luar. Authenticity adalah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan hal ini. Tentu saja upaya semacam ini jangan diartikan bahwa kita menolak kemajuan, menolak pengetahuan luar atau hanya sebagai upaya nostalgia. Upaya ini adalah untuk mengembalikan pengetahuan unik dan menyandingkannya dengan pengetahuan baru, ide-ide dari luar, sekaligus mem-perbaharu-inya secara konstan. Dari penyandingan ini akan bisa digali ‘keunikan’ serta saya yakin akan kita temukan ‘kesetaraan’  jika proses ini dilakukan secara konstan. Lembaga pendidikan arsitektur dan desain semestinya berada di garda terdepan dalam hal ini. Di lain pihak, rencana tata ruang kita mestinya bisa mengantisipasi dan membaca fenomena soal kecepatan perubahan ini, memprediksi peran soal social-media dan penyebaran arus informasi yang kini berlangsung real time.