DARI GALACTIC POLITY KE URBAN CONURBATION: MORFOLOGI KOTA DENPASAR DARI MASA KE MASA

 

morphing denpasar

Memahami Kota sebagai Entitas yang Terus Berubah

Kota adalah produk pergulatan penghuninya dan sebaliknya bentuk kota juga mempengaruhi pergulatan penduduk kota (Harvey, 1997). Dengan demikian, bentuk dan struktur sebuah kota selalu berkaitan dengan aktivitas penduduknya. Kota terus berubah dan bertumbuh sepanjang penduduknya masih meng-huni-nya (Larkham dan Conzen, 2014). Tidak mudah membayangkan perkembangan tata ruang wilayah Denpasar sejak masa sebelum kolonial. Hal ini terjadi karena sumber-sumber tulisan yang membahas wilayah ini cukup terbatas serta belum berkembangnya teknologi peta maupun fotografi di masa lalu terutama masa pra-kolonial. Tetapi penataan ruang sebuah wilayah bisa ditelusuri dari narasi, artefak yang tersisa, serta transformasi sistem pemerintahannya. Hal ini bisa dilakukan karena tata ruang dan tata kelola perkotaan selalu berkelindan tak terpisahkan. Aldo Rossi (1966) menyebutkan bahwa perkembangan sebuah kota bisa ditelusuri dari artefaknya dan perkembangan artefak kota bisa ditelusuri dari narasi-narasi kota bersangkutan.

Guna menelusuri perkembangan fisik serta memahami proses transformasi Kota Denpasar, saya menelusuri berbagai dokumen dan juga peta-peta lama. Semua peta tersebut digambar ulang dengan skala yang sama lalu setiap perubahan dicatat serta ditandai. Selanjutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik tersebut dianalisis melalui telaah dokumen serta observasi lapangan dan wawancara. Hasilnya, perubahan fisik Kota Denpasar dari tahun ke tahun bisa ditelusuri dan dipahami.

Penelitian-penelitian tentang kota-kota di Asia Tenggara sudah banyak dilakukan. Dari banyak penelitian, disimpulkan bahwa bentuk pemerintahan sebelum masa kolonial sangat berbeda dengan masa pasca-kolonial. Di masa sebelum masuknya kolonialisme, kerajaan-kerajaan dipimpin oleh raja dengan wilayah politis yang meliputi desa-desa tradisional. Dengan demikian batas politis setiap kerajaan sulit didemarkasi. Meskipun raja secara de jure adalah pemimpin tertinggi, tetapi pengaruhnya terhadap situasi politik dan ekonomi di tingkat desa tidak begitu kuat. Desa-esa tetap dikelola secara mandiri oleh pemerintahan desa yang merdeka. Sebagai simbol pemersatu, kehadiran kerajaan menjadi penting dalam menjaga stabilitas politik dan hubungan antar desa, mencegah konflik horizontal serta mendukung fungsi kerajaan sebagai simbol dunia dimana upacara-upacara besar harus dilaksanakan (Geertz, 1980). Guna mendukung upacara-upacara, kerajaan dan juga penguasa perlu membentuk komunitas pendukung. Hubungan antara pusat dan desa relative longgar. Pola pemerintahan seperti ini sering disebut sebagai ‘unstable circle of kings in a territory without fixed borders’’ (Wolters,’ 1982).

Wilayah dengan Banyak Pusat: Kota Denpasar Pra-kolonial

Di kota Denpasar pada masa pra-kolonial, raja dan kerajaan kuat muncul silih berganti. Kemunculan kerajaan baru dan pemimpin politik baru tidak lantas memutus pemimpin politik sebelumnya. Karena terdapat beberapa pemimpin dengan pendukungnya masing-masing, wilayah yang kita kenal sebagai pusat kota Denpasar kini terdiri atas beberapa pusat. Kekuatan politis pusat-pusat kerajaan ini berbeda-beda dan juga dinamis, bisa menguat dan bisa juga melemah. Secara fisik, kekuatan-kekuatan politis ini, bersama-sama dengan desa-desa traditional yang merdeka, membentuk wilayah dengan, tidak hanya satu, tetapi banyak pusat. Hal ini, wilayah dengan banyak pusat, masih bisa disaksikan hingga awal kedatangan pemerintah colonial Belanda dan juga hingga awal masa kemerdekaan sebagaimana ditunjukkan pada peta pertama. Desa-desa traditional, sekalipun berafiliasi, desa-desa traditional tidak terhubung secara langsung ataupun menyatu dengan pusat pemerintahan kerajaan.

Revised01.pdf

Memudarnya Pusat-pusat dan Pola Penataan Tradisional: Kota Denpasar Masa Kolonial dan Awal Kemerdekaan

Di masa kolonial, pemerintah menerapkan tata kelola baru untuk wilayah jajahannya termasuk Bali. Hirarki baru dikenalkan menggantikan kepemimpinan lama sehingga raja dan kerajaan kehilangan peran simbolisnya sebagai pemersatu wilayah. Hal ini menyebabkan tata pemerintahan tradisional turut terdampak yang berimbas pula pada tata ruang wilayah.

Puri dan perempatan utama di depannya yang menjadi pusat penataan ruang di masa pra-kolonial tergantikan oleh fasilitas baru yang dikembangkan sesuai dengan strategi pemerintah baru. Perkantoran, permukiman pegawai pemerintah dan fasilitas ekonomi baru menempati wilayah pusat kota. Dampaknya, pola orientasi penataan ruang yang awalnya terpusat di titik tengah perempatan utama turut berubah menjadi tersebar. Namun demikian, pola-pola desa yang dahulu berafiliasi dengan pusat kerajaan hanya mengalami sedikit perubahan, jika tidak tetap pada pola tradisionalnya. Hal ini terjadi karena aktivitas perekonomian modern hanya terpusat di pusat kota yang sebelumnya adalah pusat-pusat kerajaan. Selain itu, wilayah yang berkembang adalah di kawasan pelabuhan. Pelabuhan dan pusat kota menjadi titik pusat distribusi barang dan jasa dimana komoditas Bali diangkut keluar serta komoditas yang tidak dihasilkan di Bali dimasukkan. Dengan demikian, dua fasilitas ini menjadi pusat penyebaran produk luar yang dipandang modern serta secara sadar menjadi pusat kehidupan modern memudarkan peran pusat ‘catus patha’.

Kegiatan perekonomian tidak melulu didominasi oleh peredaran komoditas berupa barang dagangan. Sejak seperempat awal abad ke-20, pariwisata mulai dikenalkan sebagai mesin ekonomi baru di Bali oleh pemerintah kolonial. Perkembangan bisnis ini ternyata cukup pesat. Sanur, sebuah desa di bagian timur Denpasar berkembang berkat kegiatan ekonomi baru ini membawa pula konsekuensi urbanisasi. Selain wilayah pusat kota, yang merupakan sumber distribusi barang dan jasa, Sanur juga tumbuh cepat. Akibatnya, tidak hanya di pusat kota, kawasan tepi pantai yang secara tradisi dipandang kurang bernilai ekonomi, bertransformasi menjadi kawasan yang menjanjikan keuntungan tinggi. Alih fungsi lahan menjadi keniscayaan di kawasan yang memiliki daya tarik wisata.

Selain kegiatan ekonomi, perubahan tata pemerintahan juga berpengaruh terhadap perubahan tata ruang kota. Sistem pemerintahan baru yang dikenalkan sejak masa colonial membutuhkan fasilitas baru. Di pusat Kerajaan Denpasar lama dibangun perkantoran pemerintah. Selanjutnya seiring berkembangnya fungsi pemerintahan, di kawasan Renon Juga dibangun kompleks perkantoran baru. Kompleks perkantoran ini membutuhkan penyesuaian terhadap sekaligus memodifikasi tata ruang tradisional. Akibatnya muncul pusat-pusat kegiatan baru.

Kegiatan ekonomi yang menghubungkan pelabuhan dan pusat kota, perkembangan sumber ekonomi baru dalam bentuk tempat wisata serta tumbuhnya aktivitas perkantoran telah mempengaruhi bentuk kota. Semakin pesatnya perkembangan aktivitas ketiganya melemahkan penerapan pola tata ruang tradisional. Pelan namun pasti, wajah Kota Denpasar bertransformasi. Transformasi terasa semakin pesat dalam 15 tahun belakangan ini. Pemicunya, tentu saja pesatnya kegiatan yang didorong oleh factor ekonomi non-pertanian.

Tumbuhnya Pola Pita: Denpasar Masa Modern

Di masa modern, kegiatan ekonomi berkembang akibat meningkatnya performa jaringan jalan yang menghubungkan pasar dengan sumber barang dan jasa dari luar pulau Bali. Selain itu, konsentrasi kegiatan ekonomi dan perkantoran yang terletak di lokasi yang berbeda-beda juga menuntut dibuatnya jaringan jalan baru yang mengubungkan ketiganya. Akibatnya, kegiatan ekonomi yang berbasis tempat, place-based economic activities, sepeti pertanian semakin ditinggalkan. Penduduk kota kini beralih ke kegiatan ekonomi yang dipandang lebih menguntungkan.

Pembangunan jaringan jalan baru dan berkembangnya distribusi barang dan jasa non-tradisional membawa konsekuensi baru yaitu tumbuhnya aktivitas di spenajng jalur jalan utama. Semenjak akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, ruko-ruko bermunculan. Jejak awalnya bisa ditelusuri dari perkembangan di sekitar Jalan Gajah Mada di masa colonial, tetapi fasilitas ini berkembang pesat sejak dibukanya jalur-jalur jalan baru seperti by-pass I Gusti Ngurah Rai dan Jalan Gatot Subroto, dua jalur baru yang menghubungkan BAndara dan pusat kota serta pusat kota ke wilayah di luar Kota Denpasar. Tumbuhnya aktivits ekonomi di sepanjang jalur utama, tanpa pusat aktivitas yang jelas, sering disebut sebagai ribbon development pattern.

gajah mada4

Urban Conurbation: Denpasar Kini

Perkembangan pembangunan dengan pola pita, ribbon development pattern, tidak hanya merambah jalur-jalur utama yang menghubungkan fasilitas dan pusat ekonomi modern tetapi kini merambah pula pada jalur-jalur yang menguhungkan pusat kota dengan desa-desa tradisional dan jalur yang menghubungkan desa tradisional satu dengan yang lain. Hari ini kita akan mengalami kesulitan untuk mengathui batas antara desa Tonja dengan Peguyangan misalnya, atau antara Desa Sanur dengan Renon. Semua wilayah terhubung jalan yang kedua sisinya dipenuhi oleh deretan ruko.

Jika kita melihat peta pertama pada gambar di atas, di kiri atas, dengan peta terakhir, di kanan bawah, akan terlihat jelas perbedaan keduanya. Pada peta pertama, satuan unit-unit desa tradisional masih terlihat jelas sedangkan pada peta terakhir semuanya telah menyatu.

What Next? Denpasar Masa Depan

Mungkinkah kita meramalkan masa depan Denpasar? Tentu saja sangat mungkin. Menilik kalimat pembuka dari tulisan ini, bahwa kota dibentuk dan terbentuk oleh aktivitas penduduknya, maka bentuk masa depan Kota Denpasar bisa diramalkan dari trend aktivitas mana yang meningkat. Jika yang berkembang adalah aktivitas perekonomian baru, maka bisa dipastikan pola pembangunan pita akan terus berlangsung. Sebaliknya jika aktivitas pertanian yang berkembang, yang mana rasanya mustahil, maka penyatuan desa-desa traditional akibat berkembangnya pola pita bisa dicegah. Bisakah perkembangan kota diatur? Tentu saja bisa. Pengaturan bentuk kota bisa dilakukan untuk menjamin bahwa setiap penduduk memiliki kesempatan yang seimbang dan setiap aktivitas seseorang atau sekelompok orang tidak menganggu atau mengurangi hak orang atau kelompok lain yang juga mendiami kota tersebut.

 

MEMORI KOLEKTIF DAN IDENTITAS-TEMPAT

DSC_4943
Identitas tempat bisa direkonstruksi secara fisik
  1. Intro

Saya suka melihat postingan-postingan Bli Gede Kresna di Fb. Ada bangunan, lingkungan, termasuk juga makanan. Ada satu benang merah yang menghubungkan postingan dengan tema yang berbeda-beda tersebut di mata saya. Semuanya mengingatkan akan masa kecil, masa saat ‘pengalaman’ kita belum didikte oleh berbagai macam teori tentang arsitektur yang baik, tentang tata cara menjaga lingkungan, ataupun teori tentang rasa. Masa saat pengalaman-pengalaman terjadi dengan alami, mengalir saja.

Postingan tentang halaman berbatu misalnya, mengingatkan pada licinnya permukaan jalan desa saat hujan, postingan yang memuat foto-foto dedaunan basah mengingatkan akan suara gemerisik daun saat tertimpa hujan atau tertiup angina di setiap akhir tahun.

Kenangan masa lalu mengingatkan kita pada tempat, pada kampong halaman, pada ‘feeling at home’. Sesuatu yang, bagi sebagain kita, menjadi barang mahal belakangan ini.

Saya sekali waktu menunjukkan postingan beliau kepada kawan dan efek yang sama rupanya juga terjadi. Kami mulai ngobrol tentang masa kecil. Tentang pohon badung dan bleket (saya tidak tahu nama kerennya) yang tumbuh di belakang pura ratu ngurah. Tiba-tiba kami seolah mendengar kecipak air di sungai di belakang rumah serta tekstur permukaan batu di tepiannya tempat kami biasa duduk sebelum nyebur di sejuknya air yang mengalir dari pegunungan, mencium aroma kopi yang sedang di nyahnyah. Ibarat gambar-gambar dalam film, imaji-imaji berkelebatan menghubungkan kami dengan tempat kami dulu dibesarkan, melintasi ruang dan waktu.

Kita hidup dilingkupi oleh lansekap. Kita terhubung dengan lansekap sekeliling dalam berbagai cara. Banyak rumah dan fasilitas fisik di kampong pada jaman dahulu dibangun secara bergotong royong. Bangunan-bangunan pura, bale banjar, saluran air dan banyak lagi yang lainnya dibangun oleh leluhur kita. Manusia memodifikasi lansekap. Cara memodifikasi dan menggunakannya membentuk pengalaman, memori, rasa dan akhirnya membentuk persepsi kita tentang lingkungan terbangun. Semakin lama, semakin banyak memori yang tersimpan di dalam lansekap akibat semakin kaya nya pengalaman. Lansekap kita mengandung nilai budaya sehingga sering disebut ‘lansekap kultural’. Lansekap dengan demikian juga mengandung nilai sejarah, menjadi reservoir pengalaman dan memori kolektif.

Ruang-ruang desa, kampung halaman serta ruang-ruang kota dipakai secara kolektif. Pengalaman terbentuk dan dibentuk oleh sekelompok orang. Pura, bale banjar, lapangan, ruang di bawah pohon beringin di pusat desa, semuanya menjadi reservoir memory kolektif.

Saya tidak merasakannya sendirian.

  1. Identitas-tempat dan social-wellbeing

Dengan pengalaman, memori serta persepsi yang terbangun terhadap tempat dan lingkungan sekitar, kita bisa mengidentifikasinya dengan lingkungan lain yang memiliki kualitas yang berbeda.

Sekali waktu saya harus pergi meninggalkan kampung halaman. Saya merasakan aura yang berbeda, saya mulai membangun perbandingan, membandingkan rumah-rumah, membandingkan bangunan-bangunan yang berbeda. Dengan perbandingan saya membentuk identitas-tempat di kepala saya. Saat berada di luar daerah, saya merasakan kerinduan terhadap kampung halaman, ada rasa ‘feeling at home’ yang hilang. Ada rasa ingin segera kembali. Kembali ke lingkungan terbangun yang familiar. Rindu bentuk, rindu rupa, aroma, kualitas permukaan, suara bahkan rasa makanannya. Tanpa sadar, secara personal, identitas-tempat terbentuk dalam diri kita. Identitas tersebut membuat kita mampu membedakan kualitas tempat-tempat yang berbeda. Perbedaan tidak hanya pada bentuk fisik yang visual saja, tetapi juga perbedaan yang dirasakan oleh indera kita yang lain. Lalu kita mengidentifikasi diri kita sebagai bagian dari suatu tempat dan bukan bagian dari tempat yang lain. Kita lalu bisa berkata ‘saya orang Ubud, bukan Nak Badung’. Saat berkata demikian, tanpa sadar kita menyatakan bahwa kita familiar, dekat dengan atau menjadi bagian dari tempat yang kita sebutkan. Dengan menyadari perbedaan-perbedaan kualitas, kita lalu merasa terpengaruh oleh tempat-tempat. Perilaku kita juga, bisa jadi terpengaruh.

Tidak hanya oleh pengalaman serta memory personal, identitas-tempat juga dikonstruksi secara social. Saya masih ingat saat dimarahi oleh orang tua karena menangkap ikan di kolam yang dianggap suci. Kolam tersebut mendapat air dari mata air dari pancuran suci. Di tengahnya terdapat semacam pulau kecil dengan pura yang halamannya selalu becek. Tidak ada anak-anak yang berani kesana sendirian. Masyarakat mensakralkannya. Entah benar atau tidak, ada banyak takhayul beredar tentang kawasan tersebut. Air dari pancuran dipakai untuk membuat tirtha. Secara kolektif masyarakat membentuk identitas kawasan tersebut sebagai tempat yang angker, membuatnya terlindung sekaligus terjaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Pada kasus lain, sebuah pura yang dibangun secara gotong royong dari awal hingga berdiri juga memiliki identitas yang terkonstruksi secara social. Masyarakat pembuatnya menyimpan memori bagaimana lokasi pura dibersihkan, bagaimana proses pengumpulan dan pengangkutan batu, menyusunnya satu demi satu hingga mengukir dan mengupacarainya. Memori ini kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Pura di desa saya, saya dengar, dibangun antara lain oleh kakek saya. Konstruksi social membentuk ‘emotional-attachment.’ Di desa saya, untuk membentuk kembali memori kolektif, banyak diselenggarakan festival dan acara komunal, salah satunya festival rurung. Dalam even ini, para pematung membuat karya instalasi secara keroyokan, dikelilingi oleh para penjual makanan traditional. Sore harinya, anak-anak diajak berkumpul dan bermain bersama. Kegitan-kegiatan semacam ini diharapkan akan memperkuat memory kolektif, menambah rasa ‘feeling at home’ serta rasa memiliki. Pada gilirannya, kegiatan semacam akan meninggikan derajat kepedulian terhadap lingkungan, memperkuat rasa ‘satu’. Dengan demikian identitas-tempat yang kuat mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis manusia, baik secara personal maupun kolektif.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tempat-tempat yang memiliki identitas yang kuat menarik wisatawan
  1. Identitas-tempat dan ekonomi

Semenjak merebaknya industri pariwisata, identitas-tempat menjadi penting. Semua mungkin tahu hotel Bali Beach tetapi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pembangunannya sangat terkait dengan tarik-ulur penciptaan identitas-tempat. Pada awal kemerdekaan, konon Presiden Sukarno ingin membangun identitas baru bagi Indonesia. Identitas yang lepas dari kungkungan kolonialisme, tetapi mencerminkan kehidupan yang maju, modern. Tata ruang dan arsitektur menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan tersebut. Di Jakarta, tata kota dan desain urban dibangun untuk mencerminkan tingkat kemajuan bangsa Indonesia. Bahwa Indonesia tidak kalah oleh bangsa lain. Untuk mengenalkan budaya dan identitas bangsa, Bali, pada waktu itu, menjadi garda depan karena sudah terlanjur dikenal lewat promosi turisme kolonial. Dibangunlah Bali Beach. Tetapi rupanya ide modern Sukarno berlawanan dengan ide turisme. Turis mencari tempat-tempat yang authentic yang berbeda dengan tempat asal si turis. Dengan kata lain, tempat-tempat yang memiliki identitas yang berbeda dengan muasal si pengunjung. Ide Sukarno lalu diseimbangkan oleh sekelompok ekspatriat dengan mengembangkan gaya Bali Style. Kelompok ini pada dasawarsa 70-an dan 80-an menjadi garda depan yang berperan pada pembangunan pariwisata dengan mewujudkan bangunan-bangunan bertema traditional. Semnagat yang sama lalu menular kepada generasi arsitek local. Dimotori oleh Robi Sularto lalu menular hingga kini ke Popo Danes, Ketut Arthana, Ketut Siandana, dan lain-lain. Lalu study SCETO yang terbit tahun 1972 mengukuhkan bahwa identitas Bali harus dijaga. Direkomendasikan agar pembangunan wisata dilakukan dengan hati-hati hanya pada kawasan tertentu saja. Identitas tempat yang kuat juga mengandung nilai ekonomi, dalam hal ini pariwisata.

P3031012.JPG
Memori kolektif yang lahir dari aktivitas sosial
  1. Identitas-tempat dan politik

Identitas-tempat juga mengundang perdebatan politik. Kita terpapar berita soal dihancurkannya simbol-simbol politik oleh sekelompok orang agar identitas suatu tempat hilang dan dapat dibangun identitas baru yang melambangkan kelompoknya.

Beberapa tahun yang lalu, bahkan sampai sekarang, banyak berita beredar soal penghancuran situs-situs bersejarah oleh kelompok teroris. Salah satu tujuannya adalah untuk menghancurkan pesan social, rasa persatuan, serta memory kolektif masyarakat. Hal yang serupa juga terjadi pada awal abad ke 20 saat Belanda datang ke Denpasar. Perempatan agung yang ada di depan Puri Denpasar digantikan dengan jam lonceng. Puri Denpasar dan Puri Pemecutan, symbol kekuasaan dan kekuatan tradisional dihancurkan. Hasilnya? Masyarakt untuk beberapa saat kehilangan ‘rasa’ setempatnya. Dalam salah satu wawancara saya dengan tokoh adat, konon pada masa itu masyarakat kebingungan. Puri sebagai simbol pemersatu telah jatuh. Upacara-upacara yang menjadi reservoir memori kolektif terancam tidak bisa dilaksanakan. Secara fisik, lingkungan juga sudah berubah. Kawasan sekitar puri, yang dahulu disakralkan digantikan oleh permukiman masyarakat Belanda

Dalam kondisi rasa kehilangan, masyarakat mengkonsolidasi kekuatan tradisionalnya. Beberapa banjar lalu membentuk embrio Desa Adat Denpasar. Tugasnya antara lain untuk menjaga memori-kolektif dengan cara meneruskan upacara, menjaga situs-situs traditional pura dan juga mempertahankan aktivitas social. Dengan kata lain, untuk menjaga kesinambungan memori-kolektif masyarakat. Dengan demikian, identitas masyarakat Denpasar diharapkan akan tetap terjaga.

Pemerintah colonial sepertinya sempat merasa menyesal telah menghancurkan Puri Denpasar dan membangun bangunan dengan bentuk yang berbeda di lokasi tersebut. Sebagai gantinya, mereka lalu merekonstruksi beberapa bangunan puri dan mewujudkannya sebagai Museum Bali. Undagi-undagi kerajaan diundang untuk berpartisipasi dalam membangun candi bentar, bale kulkul dan gerbang kori yang ada di Museum Bali. Pembangunan ini nampaknya juga berkaitan dengan politik etis yang merebak sejak akhir abad ke 19. Politik yang menganjurkan agar pemerintah colonial tidak lagi memandang wilayah jajahan sebagai yang ‘inferior’.

  1. Tantangan Identitas-tempat di masa kini

Jarang disadari, memori kolektif dan identitas-tempat yang terbentuk olehnya mempengaruhi banyak sendi kehidupan kita. Karena jarang disadari, kita juga menjadi kurang perduli. Kekurangperdulian kita mengundang banyak aksi belakangan ini, terutama setelah banyak model bangunan, aktivitas, serta perkembangan teknologi terbaru muncul di masyarakat.

Sebagian dari kita mungkin merasa miris dengan model pembangunan pura dengan cara renovasi yang marak menjelang tahun politik.

Sebagian masyarakat resah dengan berkurangnya ruang publik tempat memori-kolektif dibangun yang membuat masyarakat semakin individualis.

Dalam hal teknologi terkini, anak-anak terpapar dengan gadget. Mereka kurang berinterksi dengan temannya dan juga dengan lingkungan fisik di sekitarnya. Memori-kolektif anak anak terbentuk tidak melalui interaksi langsung dengan ruang fisik tetapi virtual. Mereka lebih mengenal istilah-istilah ruang seperti cyberspace, situs online, yang kesemuanya terhubung secara virtual. Tidak banyak lagi yang kenal serta memiliki memori tentang legon, labak, beji, tangluk, uma, bet, serta istilah-istilah lain yang memiliki makna nyata.

  1. Apa yang bisa dilakukan?

Kemajuan tidak bisa dicegah dan perubahan adalah hal yang abadi. Akan tetapi, jika kita masih menganggap bahwa identitas-tempat sebagai hal yang berguna, alternative perlu dicari. Alternative dimana perubahan yang terjadi tidak mereduksi value yang dimiliki oleh tempat-tempat yang membentuk identitas kita. Alternative baru dimana perubahan tidak menggantikan tetapi memperkaya pengalaman yang sudah ada. Sebagai bahan diskusi, berikut beberapa stimulant yang bisa kita lakukan dalam menyusun alternative perubahan.

 

Menjaga artefact yang menjadi reservoir memory

Menjaga dan memutakhirkan cara membangun tradisional

Memperbanyak aktivitas kolektif

Menjaga lingkungan yang menyediakan bahan bangunan, makanan, ruang, dst.

Kembali melihat ke sekitar, apa yang disediakan oleh lingkungan dalam hal: naungan, makanan, memory, dst.