DARI GALACTIC POLITY KE URBAN CONURBATION: MORFOLOGI KOTA DENPASAR DARI MASA KE MASA

 

morphing denpasar

Memahami Kota sebagai Entitas yang Terus Berubah

Kota adalah produk pergulatan penghuninya dan sebaliknya bentuk kota juga mempengaruhi pergulatan penduduk kota (Harvey, 1997). Dengan demikian, bentuk dan struktur sebuah kota selalu berkaitan dengan aktivitas penduduknya. Kota terus berubah dan bertumbuh sepanjang penduduknya masih meng-huni-nya (Larkham dan Conzen, 2014). Tidak mudah membayangkan perkembangan tata ruang wilayah Denpasar sejak masa sebelum kolonial. Hal ini terjadi karena sumber-sumber tulisan yang membahas wilayah ini cukup terbatas serta belum berkembangnya teknologi peta maupun fotografi di masa lalu terutama masa pra-kolonial. Tetapi penataan ruang sebuah wilayah bisa ditelusuri dari narasi, artefak yang tersisa, serta transformasi sistem pemerintahannya. Hal ini bisa dilakukan karena tata ruang dan tata kelola perkotaan selalu berkelindan tak terpisahkan. Aldo Rossi (1966) menyebutkan bahwa perkembangan sebuah kota bisa ditelusuri dari artefaknya dan perkembangan artefak kota bisa ditelusuri dari narasi-narasi kota bersangkutan.

Guna menelusuri perkembangan fisik serta memahami proses transformasi Kota Denpasar, saya menelusuri berbagai dokumen dan juga peta-peta lama. Semua peta tersebut digambar ulang dengan skala yang sama lalu setiap perubahan dicatat serta ditandai. Selanjutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik tersebut dianalisis melalui telaah dokumen serta observasi lapangan dan wawancara. Hasilnya, perubahan fisik Kota Denpasar dari tahun ke tahun bisa ditelusuri dan dipahami.

Penelitian-penelitian tentang kota-kota di Asia Tenggara sudah banyak dilakukan. Dari banyak penelitian, disimpulkan bahwa bentuk pemerintahan sebelum masa kolonial sangat berbeda dengan masa pasca-kolonial. Di masa sebelum masuknya kolonialisme, kerajaan-kerajaan dipimpin oleh raja dengan wilayah politis yang meliputi desa-desa tradisional. Dengan demikian batas politis setiap kerajaan sulit didemarkasi. Meskipun raja secara de jure adalah pemimpin tertinggi, tetapi pengaruhnya terhadap situasi politik dan ekonomi di tingkat desa tidak begitu kuat. Desa-esa tetap dikelola secara mandiri oleh pemerintahan desa yang merdeka. Sebagai simbol pemersatu, kehadiran kerajaan menjadi penting dalam menjaga stabilitas politik dan hubungan antar desa, mencegah konflik horizontal serta mendukung fungsi kerajaan sebagai simbol dunia dimana upacara-upacara besar harus dilaksanakan (Geertz, 1980). Guna mendukung upacara-upacara, kerajaan dan juga penguasa perlu membentuk komunitas pendukung. Hubungan antara pusat dan desa relative longgar. Pola pemerintahan seperti ini sering disebut sebagai ‘unstable circle of kings in a territory without fixed borders’’ (Wolters,’ 1982).

Wilayah dengan Banyak Pusat: Kota Denpasar Pra-kolonial

Di kota Denpasar pada masa pra-kolonial, raja dan kerajaan kuat muncul silih berganti. Kemunculan kerajaan baru dan pemimpin politik baru tidak lantas memutus pemimpin politik sebelumnya. Karena terdapat beberapa pemimpin dengan pendukungnya masing-masing, wilayah yang kita kenal sebagai pusat kota Denpasar kini terdiri atas beberapa pusat. Kekuatan politis pusat-pusat kerajaan ini berbeda-beda dan juga dinamis, bisa menguat dan bisa juga melemah. Secara fisik, kekuatan-kekuatan politis ini, bersama-sama dengan desa-desa traditional yang merdeka, membentuk wilayah dengan, tidak hanya satu, tetapi banyak pusat. Hal ini, wilayah dengan banyak pusat, masih bisa disaksikan hingga awal kedatangan pemerintah colonial Belanda dan juga hingga awal masa kemerdekaan sebagaimana ditunjukkan pada peta pertama. Desa-desa traditional, sekalipun berafiliasi, desa-desa traditional tidak terhubung secara langsung ataupun menyatu dengan pusat pemerintahan kerajaan.

Revised01.pdf

Memudarnya Pusat-pusat dan Pola Penataan Tradisional: Kota Denpasar Masa Kolonial dan Awal Kemerdekaan

Di masa kolonial, pemerintah menerapkan tata kelola baru untuk wilayah jajahannya termasuk Bali. Hirarki baru dikenalkan menggantikan kepemimpinan lama sehingga raja dan kerajaan kehilangan peran simbolisnya sebagai pemersatu wilayah. Hal ini menyebabkan tata pemerintahan tradisional turut terdampak yang berimbas pula pada tata ruang wilayah.

Puri dan perempatan utama di depannya yang menjadi pusat penataan ruang di masa pra-kolonial tergantikan oleh fasilitas baru yang dikembangkan sesuai dengan strategi pemerintah baru. Perkantoran, permukiman pegawai pemerintah dan fasilitas ekonomi baru menempati wilayah pusat kota. Dampaknya, pola orientasi penataan ruang yang awalnya terpusat di titik tengah perempatan utama turut berubah menjadi tersebar. Namun demikian, pola-pola desa yang dahulu berafiliasi dengan pusat kerajaan hanya mengalami sedikit perubahan, jika tidak tetap pada pola tradisionalnya. Hal ini terjadi karena aktivitas perekonomian modern hanya terpusat di pusat kota yang sebelumnya adalah pusat-pusat kerajaan. Selain itu, wilayah yang berkembang adalah di kawasan pelabuhan. Pelabuhan dan pusat kota menjadi titik pusat distribusi barang dan jasa dimana komoditas Bali diangkut keluar serta komoditas yang tidak dihasilkan di Bali dimasukkan. Dengan demikian, dua fasilitas ini menjadi pusat penyebaran produk luar yang dipandang modern serta secara sadar menjadi pusat kehidupan modern memudarkan peran pusat ‘catus patha’.

Kegiatan perekonomian tidak melulu didominasi oleh peredaran komoditas berupa barang dagangan. Sejak seperempat awal abad ke-20, pariwisata mulai dikenalkan sebagai mesin ekonomi baru di Bali oleh pemerintah kolonial. Perkembangan bisnis ini ternyata cukup pesat. Sanur, sebuah desa di bagian timur Denpasar berkembang berkat kegiatan ekonomi baru ini membawa pula konsekuensi urbanisasi. Selain wilayah pusat kota, yang merupakan sumber distribusi barang dan jasa, Sanur juga tumbuh cepat. Akibatnya, tidak hanya di pusat kota, kawasan tepi pantai yang secara tradisi dipandang kurang bernilai ekonomi, bertransformasi menjadi kawasan yang menjanjikan keuntungan tinggi. Alih fungsi lahan menjadi keniscayaan di kawasan yang memiliki daya tarik wisata.

Selain kegiatan ekonomi, perubahan tata pemerintahan juga berpengaruh terhadap perubahan tata ruang kota. Sistem pemerintahan baru yang dikenalkan sejak masa colonial membutuhkan fasilitas baru. Di pusat Kerajaan Denpasar lama dibangun perkantoran pemerintah. Selanjutnya seiring berkembangnya fungsi pemerintahan, di kawasan Renon Juga dibangun kompleks perkantoran baru. Kompleks perkantoran ini membutuhkan penyesuaian terhadap sekaligus memodifikasi tata ruang tradisional. Akibatnya muncul pusat-pusat kegiatan baru.

Kegiatan ekonomi yang menghubungkan pelabuhan dan pusat kota, perkembangan sumber ekonomi baru dalam bentuk tempat wisata serta tumbuhnya aktivitas perkantoran telah mempengaruhi bentuk kota. Semakin pesatnya perkembangan aktivitas ketiganya melemahkan penerapan pola tata ruang tradisional. Pelan namun pasti, wajah Kota Denpasar bertransformasi. Transformasi terasa semakin pesat dalam 15 tahun belakangan ini. Pemicunya, tentu saja pesatnya kegiatan yang didorong oleh factor ekonomi non-pertanian.

Tumbuhnya Pola Pita: Denpasar Masa Modern

Di masa modern, kegiatan ekonomi berkembang akibat meningkatnya performa jaringan jalan yang menghubungkan pasar dengan sumber barang dan jasa dari luar pulau Bali. Selain itu, konsentrasi kegiatan ekonomi dan perkantoran yang terletak di lokasi yang berbeda-beda juga menuntut dibuatnya jaringan jalan baru yang mengubungkan ketiganya. Akibatnya, kegiatan ekonomi yang berbasis tempat, place-based economic activities, sepeti pertanian semakin ditinggalkan. Penduduk kota kini beralih ke kegiatan ekonomi yang dipandang lebih menguntungkan.

Pembangunan jaringan jalan baru dan berkembangnya distribusi barang dan jasa non-tradisional membawa konsekuensi baru yaitu tumbuhnya aktivitas di spenajng jalur jalan utama. Semenjak akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, ruko-ruko bermunculan. Jejak awalnya bisa ditelusuri dari perkembangan di sekitar Jalan Gajah Mada di masa colonial, tetapi fasilitas ini berkembang pesat sejak dibukanya jalur-jalur jalan baru seperti by-pass I Gusti Ngurah Rai dan Jalan Gatot Subroto, dua jalur baru yang menghubungkan BAndara dan pusat kota serta pusat kota ke wilayah di luar Kota Denpasar. Tumbuhnya aktivits ekonomi di sepanjang jalur utama, tanpa pusat aktivitas yang jelas, sering disebut sebagai ribbon development pattern.

gajah mada4

Urban Conurbation: Denpasar Kini

Perkembangan pembangunan dengan pola pita, ribbon development pattern, tidak hanya merambah jalur-jalur utama yang menghubungkan fasilitas dan pusat ekonomi modern tetapi kini merambah pula pada jalur-jalur yang menguhungkan pusat kota dengan desa-desa tradisional dan jalur yang menghubungkan desa tradisional satu dengan yang lain. Hari ini kita akan mengalami kesulitan untuk mengathui batas antara desa Tonja dengan Peguyangan misalnya, atau antara Desa Sanur dengan Renon. Semua wilayah terhubung jalan yang kedua sisinya dipenuhi oleh deretan ruko.

Jika kita melihat peta pertama pada gambar di atas, di kiri atas, dengan peta terakhir, di kanan bawah, akan terlihat jelas perbedaan keduanya. Pada peta pertama, satuan unit-unit desa tradisional masih terlihat jelas sedangkan pada peta terakhir semuanya telah menyatu.

What Next? Denpasar Masa Depan

Mungkinkah kita meramalkan masa depan Denpasar? Tentu saja sangat mungkin. Menilik kalimat pembuka dari tulisan ini, bahwa kota dibentuk dan terbentuk oleh aktivitas penduduknya, maka bentuk masa depan Kota Denpasar bisa diramalkan dari trend aktivitas mana yang meningkat. Jika yang berkembang adalah aktivitas perekonomian baru, maka bisa dipastikan pola pembangunan pita akan terus berlangsung. Sebaliknya jika aktivitas pertanian yang berkembang, yang mana rasanya mustahil, maka penyatuan desa-desa traditional akibat berkembangnya pola pita bisa dicegah. Bisakah perkembangan kota diatur? Tentu saja bisa. Pengaturan bentuk kota bisa dilakukan untuk menjamin bahwa setiap penduduk memiliki kesempatan yang seimbang dan setiap aktivitas seseorang atau sekelompok orang tidak menganggu atau mengurangi hak orang atau kelompok lain yang juga mendiami kota tersebut.

 

3 thoughts on “DARI GALACTIC POLITY KE URBAN CONURBATION: MORFOLOGI KOTA DENPASAR DARI MASA KE MASA

  1. Hallo bapak gede, perkenalkan saya Putri mahasiswa jurusan Arsitektur Lanskap UNUD, dan saat ini saya sedang dalam tahap penyelesaian skripsi saya pak. Setelah saya membaca artikel bapak saya sangat tertarik mengenai perjalanan kota denpasar dari waktu ke waktu, dan kebetulan juga topik skripsi saya membahas mengenai perubahan pola spasial Kota Denpasar yang terkait juga nanti dengan wajah lanskapnya dari zaman sebelum perang puputan badung hingga denpasar resmi menjadi ibukota provinsi Bali. Bila bapak berkenan bisakah saya meminta kontak bapak untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai topik tersebut pak? Terimakasih

    1. Halo Putri, salam kenal ya. Wah menarik sekali thesisnya, saya juga akan bercerita soal yang sama di Unhi tanggal 26 Maret Senin depan. Di samping itu saya juga bisa dikontak melalui wa 082112964528

      1. Terimakasih banyak bapak. Saya harap kita bisa berdiskusi lebih lanjut. Bila tidak ada halangan, mungkin tanggal 26 maret nanti saya akan datang ke kampus unhi pak. Sekali lagi terimakasih banyak pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s