Agrowisata sebagai Alternatif Pengembangan Ekonomi Bali perlu Dipikirkan Serius

perspektif 5
Fasilitas agrowsiata jeruk oleh Cheryl

Sejak diperkenalkan sebagai alternatif pengembangan ekonomi lokal oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Bali pada awal abad-20, pariwisata telah berkembang sangat pesat. Bisnis yang berkaitan dengan pelesiran dan segala aktivitas pendukungnya ini kini telah memberi penghasilan bagi lebih dari setengah penduduk Pulau Bali. Pulau Bali, berkat peranan pariwisata, telah menjadi salah satu yang paling terkenal diantara 17.000-an pulau di seantero Indonesia. Saking pentingnya peranan pariwisata, pengembangannya selalu mendapat prioritas di dalam rencana tata ruang provinsi maupun kabupaten dan kota yang ada di Bali.

Kesejahteraan dan keuntungan ekonomi yang diberikan serta ditawarkan oleh pariwisata juga mengandung kelemahan. Meskipun awalnya hanya dikembangkan dalam skala yang kecil, hanya sebagai alternatif dari pertanian, pertumbuhan bisnis yang berkaitan dengan pariwisata telah mulai mengalahkan sumber mata pencaharian utama yang telah ribuan tahun menjadi sandaran hidup masyarakat Bali yaitu pertanian. Data statistik dari BPS Provinsi Bali tahun 2017 menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah akomodasi pariwisata berbanding terbalik dengan jumlah sawah. Hal ini berarti bahwa pembangunan pariwisata membawa dampak pada berkurangnya jumlah sawah. Berkurangnya sawah berarti berkurang pula ruang terbuka hijau di Pulau Bali.

Selain mengurangi ruang terbuka hijau, berkurangnya sawah juga berarti penurunan produksi pangan local. Pada suatu pagi, di sebuah pasar, saya menjumpai bahwa sebagain besar komoditas pertanian berasal dari luar pulau. Sayur-mayur, cabai dan bumbu-bumbuan, perlengkapan upacara dan komoditas lainnya dating dari Jawa. Belum terhitung buah-buahan yang harus diimpor dari luar negeri. Semua komoditas tersebut kini memenuhi pasar-pasar traditional hingga rak-rak pasar swalayan dan took modern. Tentu tidak ada yang salah dengan hal tersebut sepanjang masyarakat masih memiliki ekmampuan untuk membeli karena uang yang diperoleh dari pariwisata. Menjadi persolan jika hal ini dikaitkan dengan transportasi dan jejak karbon. Untuk mendatangkan komoditas tersebut dibutuhkan armada angkutan yang besar. Untuk impor dibutuhkan kapal dan pesawat terbang. Jejak karbon yang ditimbulkan menimbulkan polusi serta proses transportasinya membuat jalan-jalan semakin padat menambah rumit persoalan transportasi.

Kini, saat perkembangan pariwisata telah melampaui sektor pertanian, semakin sedikit anak muda yang tertarik untuk terjun menjadi petani dan tinggal di desa. Wilayah-wilayah yang menjadi pusat pariwisata menjadi tujuan urbanisasi membuatnya semakin padat. Kost-kostan dan hunian dalam bentuk perumahan untuk kaum urbane ini, lagi-lagi, mengorbankan area persawahan. Di Kota Denpasar persawahan semakin terjepit tinggal di kawasan pinggiran. Itupun masih berada di bawah ancaman alih fungsi yang massif. Sebaliknya di kawasan perdesaan, akibat urbanisasi, terjadi kekosongan tenaga kerja muda kreatif. Tenaga kerja ini telah pindah ke kawasan yang dianggap lebih menjanjikan dalam memberikan ruang dan keuntungan bagi energikreatif yang mereka miliki. Jika hal ini terus berlangsung, bisa jadi tidak akan ada lagi petani di masa yang akan datang.

Sesungguhnya, salah satu daya tarik yang membuat Bali sedemikian menarik sebagai daerah pariwisata adalah budayanya. Kebudayaan penduduk Bali sangat erat terkait dengan pertanian. Sebagian besar ritual yang dilaksanakan berurat berakar di aktivitas pertanian. Ritual-ritual ini menjiwai kebudayaan Bali dan menjadi factor penarik (pull factors) bagi datangnya pengunjung-pengunjung manca negara.  Menghilangnya pertanian bisa melemahkan atau mengikis kebudayaan dan pada gilirannya bisa mengurangi daya tarik Bali sebagai daerah tujuan wisata.

Pariwisata sendiri sebenarnya sangat rentan terhadap isu dan kejadian negatif. Pada tahun 2002, terjadi peristiwa terorisme di mana sekelompok orang meledakkan kendaraan penuh bahan peledak. Ratusan wisatawan menjadi korban. Kejadian ini memicu ketakutan dan kengerian internasional. Segera setelahnya terbentuk opini bahwa Bali tidak aman bagi pengunjung. Turis enggan datang. Akibatnya bisnis pariwisata mati suri meninggalkan ribuan orang tanpa pekerjaan. Untunglah kejadian ini segera membaik dan kunjungan turis kembali normal. Akan tetapi hal ini menunjukkan betapa rentannya pariwisata terhadap isu keamanan.

Contoh lain adalah peristiwa alam gunung meletus. Bali berada di wilayah yang dikenal sebagai the Ring of Fire. Kawasan yang terdiri atas rangkaian gunung api terbentang dari wilayah barat hingga ke bagian timur Indonesia yang dipenuhi oleh gunung berapi. Di Bali terdapat dua gunung api akif yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur. Keduanya sewaktu-waktu bisa meletus menyebabkan bencana. Pada akhir tahun 2017 hingga awal 2018, Gunung Agung menunjukkan tanda-tanda aktif. Sepanjang September hingga Desember 2017 asap dan debu vulkanik mengepul dari puncak Gunung Agung. Peristiwa ini menganggu penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Selain menganggu bandara, secara psikologis, peristiwa ini juga berpengaruh terhadap isu kemananan pariwisata. Turis yang ada di Bali berbondong-bondong meninggalkan Bali mempersingkat waktu kunjungannya. Sementara itu, mereka yang akan datang membatalkan rencana. Peristiwa ini, seperti juga Bom Bali, kembali mengganggu ekonomi local. Tingkat hunian hotel menurun, kunjungan berkurang dan bisnis pariwisata melambat.

Pariwisata dan pertanian di Bali kini saling berhadap-hadapan. Peningkatan bisnis pariwisata membuat performa pertanian menurun. Akan tetapi saat pariwisata menurun hal sebaliknya tidak terjadi. Saat kunjungan wisatawan menurun, pertanian tetap tidak dilirik sebagai bisnis yang menguntungkan. Ini menunjukkan betapa tingginya angka ketergantungan Bali terhadap pariwisata. Jalan damai untuk menyeimbangkan kedua bisnis ini perlu digali. Potensi penggabungan antara pertanian dan pariwisata bisa disekplor dan dipikirkan dengan serius. Penggabungan keduanya bisa menjadi tulang punggung pengembangan ekonomi Bali di masa depan.

Berdasarkan uraian di atas perlu dipikirkan bisnis kepariwisataan yang:

1.       Tidak menurunkan jumlah sawah dan ruang terbuka hijau secara signifikan

2.       Memberi kesejahteraan yang mampu menghidupi Pulau Bali tanpa tergantung pada hasil pertanian dari luar pulau.

3.       Tidak menambah kemacetan dan polusi udara

4.       Menyediakan lapangan kerja yang menarik bagi generasi muda sehingga mereka tidak harus berpindah tempat tinggal

5.       Tidak mengurangi esensi ritual dan adat yang berakar pada pertanian

6.       Sustainable serta tetap mampu berproduksi, memberi penghasilan bagi pelakunya saat bisnis pariwisata meredup.

Guna menjawab tatangan ekonomi yang terjadi saat ini, mahasiswa arsitektur Universitas Warmadewa mencoba mencari alternative baru pengembangan kepariwisataan sesuai dengan persyaratan di atas. Potensi agrowisata digali di lokasi yang berbeda-beda. Beberapa kelompok menggali kemungkinan penyediaan fasilitas agrowisata di kawasan pedesaan sehingga tersedia lapangan pekerjaan melimpah tanpa harus berpindah ke kota. Beberapa kelompok lainnya membawa pertanian ke tengah kota sehingga distribusi komoditas pertanian lebih dekat kepada masyarakat yang membutuhkannya.

Alternative-alternatif yang diekmbangkan memang masih pada tataran latihan sehingga terkesan idelaistik. Tetapi apa yang diperbuat perlu mendapat perhatian jika pembangunan kepariwisataan diharapkan untuk bersinergi dengan pertanian yang menjiwai kebudayaan local.

Untitled-1
Pengembangan agrowisata kopi oleh Tirta Yadnya
1 (1)
Urban farming oleh Wahyu Anggareza
perspektif 2
Suasana di agrowisata jeruk oleh Cheryl

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s