Ledakan Kreativitas Kota dalam Mural

DSC_9934Menunggu lampu menyala hijau, setiap orang yang berhenti di lampu pengatur lalu lintas di dekat Art Centre pasti teralih perhatiannya pada lukisan di dinding sebelah barat. Pada lukisan, tergambar sejarah ringkas, hasil intepretasi si pelukis, tentang alih fungsi lahan di Bali. Ada tiga seri lukisan dinding, atau yang kerap disebut mural, pada tembok yang menjadi latarnya.  Pada lukisan paling selatan, tergambar petani tengah membajak sawah sementara pada lukisan di tengah terlihat dua orang yang membicarakan sebidang tanah sawah yang dijual. Pada lukisan paling kanan tergambar keadaan Pulau Bali yang penuh bangunan beton dengan dua orang pemancing yang mendapat hasil sebuah sepatu.

Gambar semacam yang terdapat di dinding sebagaimana saya ceritakan di atas tentu bukan sebuah lukisan yang jamak dijumpai di ruang-ruang pamer seni. Gambar-gambar tersebut tidak punya tempat di ruang-ruang ber-AC yang dingin, untuk dinikmati segelintir kalangan berduit. Sebaliknya, ia dinikmati oleh khalayak ramai, siapa saja yang melintas di jalan. Seringkali diremehkan. Tetapi justru disinilah letak kekuatannya. Kekuatan utama yang tidak terletak pada nilai jualnya, tetapi pada kemampuannya untuk dinikmati oleh banyak orang tanpa preferensi tertentu. Kekuatan inilah yang, sepertinya, dimanfaatkan oleh si pelukis untuk menyampaikan kegundahannya sekaligus pesan moral yang hendak disampaikannya kepada khalayak luas. Khalayak yang lebih sering berada di ruang luar, di tempat-tempat dimana AC adalah barang mewah. Tetapi jangan salah, gambar-gambar yang dibuat oleh, sebut saja, seniman jalanan tersebut memiliki nilai artistik yang juga tinggi. Perhatikan saja teknik penggambaranya, pewarnaannya, hingga kemampuannya merangkum sebuah tema cerita. Niscaya kita akan sadari ada manusia jenius dan kreatif di baliknya. Kreativitas ini tentu disertai dengan keberanian serta kekuatan tanpa pamrih. Sulit membayangkan lukisan-lukisan semacam itu dibuat oleh para penakut, atau orang yang hanya mau mengambil keuntungan finansial semata. Tanpa kreatifitas, tembok di dekat lampu pengatur lalu lintas tersebut mungkin tidak akan menarik perhatian. Tanpa kreatifitas, pesan yang hendak disampaikan mungkin tidak akan terdengar, atau terdengar tetapi dengan efek yang berbeda. Kreatifitas membuat penyampaian pesan menjadi lebih elok. Tanpa kreativitas, seni menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati sedikit kalangan.

Denpasar, kini telah menjadi metropolitan. Sebagai kota metropolis, penduduknya sangat heterogen. Heterogenitas ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah terbentuknya kota. Berakar dari permukiman-permukiman tradisional, Kota Denpasar berkembang pesat saat di awal abad ke-20 saat Pemerintah Kolonial Belanda membuka Pulau Bali untuk investasi internasional. Bersama investasi, masuk pula kelompok-kelompok masyarakat baru dari berbagai etnis mendiami wilayah pulau yang terbilang tidak besar ini. Berkat peran barunya sebagai pusat pemerintahan kolonial, Denpasar menjadi tujuan tinggal kelompok-kelompok multi etnis yang awalnya datang dengan motif ekonomi. Mula-mula, kelompok-kelompok yang berlainan etnis ini tinggal di kawasan yang berbeda-beda. Kelompok pegawai berkebangsaan Eropa tinggal di kawasan sekitar pusat pemerintahan seputaran Catus Patha, sementara kawasan perdagangan di sekitar pasar dikuasai oleh kelompok etnis China dan Arab. Kelompok etnis Jawa menempati bantaran sungai, sementara penduduk lokal terorganisir dalam banjar-banjar yang sudah ada jauh sebelum hadirnya pemerintah kolonial. Keuntungan ekonomi yang dimiliki oleh Denpasar ternyata masih sangat menjanjikan. Selain itu, peran kota sebagai ibu kota Provinsi Bali membuatnya menjadi pusat pemerintahan, pusat pendidikan, pusat perdagangan hingga pusat pengembangan seni daerah. Akibatnya, sepanjang waktu, aliran pendatang terus mengalir. Hal ini berimbas pada, sebagaimana disampaikan oleh mural di atas, sawah-sawah mengecil bahkan menghilang digantikan oleh bangunan-bangunan berbagai fungsi.

Kini, masyarakat Kota Denpasar tinggal dan tumbuh di lokasi dan dengan kondisi yang berbeda-beda. Sebagian masyarakat hidup di tempat-tempat yang baik dan layak, sebagian lagi hidup di kawasan yang tergolong mewah, menikmati fasilitas yang sangat baik. Namun tidak sedikit juga yang hidup di kantong-kantong dengan layanan infrastruktur yang sangat terbatas. Namun demikian, semua memiliki hak hidup dan tinggal yang sama.

DSC_9923

Kebudayaan yang dibawa oleh kelompok yang berbeda-beda ini tentu sangat beragam. Hal ini menyebabkan mulai terjadinya polarisasi dan juga akulturasi budaya termasuk di bidang kesenian. Kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat diperkaya lagi oleh kesenian-kesenian dari kelompok multi-etnis baru. Sempat muncul kekhawatiran akan memudarnya kesenian local, terutama akibat gerusan globalisasi. Menanggapi hal ini, Pemerintah Daerah, di tahun 1970-an akhir, membangun pusat seni atau yang jamak disebut sebagai Art Centre di Kota Denpasar. Pada fasilitas ini, pertunjukan seni dipentaskan, lukisan dan patung dipamerkan dan masyarakat bisa menikmatinya.

Kesenian terus tumbuh dan berkembang. Masyarakat dengan latar heterogen menemukan dan menciptakan sendiri seninya, seni yang seringkali dituduh tidak memiliki latar belakang budaya. Sesungguhnya seni-seni kontemporer adalah produk budaya penduduk kontemporer. Seperti juga seni tradisional, ia menggambarkan kekaguman, kegelisahan, bahkan ketidakadilan yang terjadi dalam pergaulan masyarakat kontemporer dengan caranya sendiri. Cara yang berbeda dengan kesenian-kesenian tradisional. Perbedaan cara ini seringkali menyebabkan seni-seni kontemporer dituduh sebagai cabang kesenian yang remeh, tidak bermutu. Tentu anggapan ini tidak benar sama sekali. Justru banyak dari seniman-seniman justru menemukan ‘panggung’nya pada kesenian alternative ini.

 

Kini seni mural hadir di banyak lokasi di Kota Denpasar yang penduduknya tidak lagi homogen. Seperti juga mural yang diceritakan di awal tulisan, banyak pesan moral yang dikandungnya. Di dekat pasar Badung yang sedang direnovasi, muncul mural yang cukup menarik. Sebuah pesan antikorupsi menjadi latar belakang aktivitas ekonomi masyarakat. Pesan yang menyelipkan kebanggaan untuk bekerja jujur, kerja masyarakat kebanyakan yang jauh dari hiruk-pikuk politik. Pesan yang mengena, sekali lagi, disampaikan lewat media yang sesuai.

DSC_9914

Seni mural tidak memerlukan prasyarat istimewa. Dia hanya membutuhkan sebidang dinding yang siap menjadi medianya. Demikian juga untuk menikmati seni ini juga tidak butuh tiket, pakaian khusus, ataupun perlu registrasi. Seni ini bisa dinikmati di ruang-ruang public, oleh siapa saja. Tidak peduli bersandal jepit, baju sehari-hari, tanpa perlu mendaftar. Ia hadir mengisi kekosongan, memenuhi ceruk sekaligus hak setiap orang untuk menikmati seni. Seni dan kesenian memang harus dinikmati, dinikmati oleh siapa saja. Kesenian juga representasi masyarakat. Masyarakat heterogen mewujudkan sendiri seninya. Di masa mendatang akan hadir lagi seni-seni yang lain, seni yang mewakili dan menjadi representasi masyarakat pendukungnya. Ibu Suriawati, pemilik CushCush Gallery, yang menginisiasi gerakan Denpasar Art+Design, dalam satu kesempatan mengungkapkan cita-citanya untuk menghidupkan kesenian-kesenian yang terpendam. Upaya yang sekaligus menunjukkan upaya untuk mengangkat derajat seni serta menjadikannya sebagai sesuatu yang ‘sehari-hari’, bisa dinikmati oleh siapa saja. Karena seni bersifat universal.

Kue Pariwisata dan Kegelisahan Desa-desa Kuno di Bali

Faktor ekonomi mendorong nyaris semua aktivitas manusia dewasa ini. Hal ini juga tercermin dalam setiap program pembangunan yang disusun oleh pemerintah. Menyadari besarnya potensi pariwisata, pemerintahan Presiden Joko Widodo meluncurkan program yang disebut sebagai ’10 Bali Baru’. Program kepariwisataan ini berangkat dari fakta bahwa dengan hanya satu Bali saja Indonesia sudah mendatangkan 11.5 Juta wisatawan di tahun 2016. Jumlah kunjungan ini telah menyumbang Rp. 172 Trilliun PDB Indonesia dan menyediakan pekerjaan bagi 12 juta orang. Bayangkan jika ada sepuluh ‘Bali baru’. Keuntungan ekonominya pastilah akan lebih berlipat ganda lagi. Betapa besar kue pariwisata yang bisa dibagi. Tentunya sangat banyak yang ingin mendapatkan bagian dari kue tersebut.

Demikianlah, pariwisata kini menjadi salah satu andalan dalam upaya meningkatkkan perekonomian nasional. Tetapi bagaimana dampaknya bagi masyarakat di akar rumput?

Hari Selasa 7 Agustus 2018, bersama empat orang rekan peneliti, saya berkunjung ke sebuah desa kuno di belahan Bali bagian utara. Desa Tigawasa, demikian namanya. Desa ini tergabung dalam sebuah jaringan desa-desa kuno yang disebut SCTPB terdiri atas Sidatapa-Cempaga-Tigawasa-Pedawa-Banyusri. Desa-desa ini sempat memiliki citra yang kurang baik karena seringnya diberitakan terjadi konflik kekerasan di tahun 1980-1990an. Namun secara arsitektural dan kondisi geografis sangat menarik karena menawarkan keunikan yang tidak bias dijumpai di wilayah Bali lainnya. Lokasinya di lereng perbukitan yang tandus menuntut penyelesaian arsitektural yang khas. Bahan bangunan bambu, dulu, menjadi pilihan material konstruksi tradisional yang tahan gempa. Selain itu, desa-desa kuno umumnya memiliki tradisi khas yang tumbuh dan berkembang secara turun-temurun.

Begitu sampai di daerah Munduk, sepanjang kiri dan kanan jalan yang kami lewati dipenuhi oleh spanduk-spanduk tawaran singgah. Bunyinya, meskipun tidak sama, nyaris seragam: ‘Pondok Wisata Selfie’.

Memasuki jalan sempit berliku dan menurun, mobil memasuki kawasan desa kuno Pedawa di lereng utara Pulau Bali. Jalanan sempit tersebut membuat Agung, yang duduk di belakang kemudi, harus ekstra waspada terutama jika ada kendaraan melintas dari arah berlawanan. Lima belas menit memasuki jalan turunan terjal berliku, di sebelah kanan jalan terlihat beberapa gugus bangunan yang terbuat dari bambu. Tampak sebuah menara dengan tanda ‘jantung’ memuncakinya. ‘Tempat selfie lagi!’ seru Agung. Ya benar, di tengah perdesaan dengan infrastruktur yang tidak begitu mudah dijangkau terdapat fasilitas yang juga sama serupa dengan yang kami lewati sebelumnya di jalanan yang lebih besar. Papan informasi di depannya memberi petunjuk bahwa fasilitas tersebut dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng. Bukan hanya itu, selepas dua puluh menit perjalanan, sebuah papan petunjuk kembali hadir. Tulisannya, ‘Pondok Hobbit’. Jelaslah di lokasi yang ditunjukkan oleh papan tersebut tersedia rumah-rumah kecil ala permukiman di film the Hobbit karya sutradara Peter Jackson yang sempat booming di tahun 2012. Tak bisa disangkal lagi, semua fasilitas tersebut dibangun untuk mengundang pengunjung, para wisatawan yang haus dengan citra diri, selfie.

‘Kami sedang mengupayakan agar desa-desa yang termasuk dalam kelompok SCTPB dikunjungi oleh wisatawan’ ujar seorang pentolan LSM yang kami temui di Kantor Desa Tigawasa. Ujaran ini menyambung penyampaian Kepala Desa yang sekaligus juga merangkap Bendesa Adat bahwa pariwisata kini sedang digiatkan untuk membangun ekonomi desa yang, hingga saat ini, masih bergantung pada cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama.

Untuk mendukung program pariwisata desa, maka banyak aktivitas dilakukan. Pembangunan pondok-pondok selfie, barangkali, menjadi primadona. Di tebing-tebing, di tepian hutan hingga di daerah dengan air terjun, kini dibangun pondok-pondok untuk wisatawan mengambil gambar yang bisa diunggah di media sosial.

Fenomena selfie ini mulai merebak tiga tahun belakangan ini. Kemunculan media sosial yang memungkinkan setiap orang untuk memiliki media sendiri untuk menampilkan citra diri menjadi pendorong utamanya. Seiring booming-nya media sosial, yang menimbulkan dominasi citra visual dalam kehidupan keseharian kita, maka daerah-daerah yang menawarkan lokasi selfie turut menjamur. Program acara jalan-jalan yang ditayangkan televisi swasta nasional turut mendorong orang untuk berburu tempat-tempat yang dipandang eksotis. Tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini turut mendorong kegiatan kepariwisataan, terutama di kalangan generasi muda. Ada harapan besar, terutama di tataran lokal, akan keuntungan ekonomi yang dibawa oleh aktivitas ini.

Tidak hanya di kawasan Munduk hingga ke Tigawasa, wisata selfie sejatinya berkembang di seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga ke pelosok Papua. Polanya nyaris serupa: menawarkan tempat ngopi dan berfoto di ketinggian dengan pamandangan hutan, danau atau sawah. Bentuk anjungannya berupa pelataran kayu yang ditempatkan pada pohon yang cukup kuat. Belakangan, muncul pula anjungan berupa ayunan.

Berwisata, pada hakekatnya adalah mencari pengalaman baru. Bermanfaat untuk diri sendiri dalam upaya mencari kesejatian diri. Kini, berwisata juga berarti menunjukkan pengalaman baru kepada orang lain. Menunjukkan keunggulan diri kepada orang lain dalam bentuk unggahan di media sosial. Motif yang kedua inilah yang kini, di jaman citra visual, lebih mengemuka dan kelihatan ‘lebih menguntungkan’ secara ekonomis dalam jangka pendek.

Pengalaman baru berwisata bisa didapatkan dari tempat-tempat baru, baik secara alam maupun budaya, yang sama sekali berbeda dari alam dan budaya tempat tinggal si wisatawan. Dalam konteks ini, Bali sempat selalu menjadi unggulan berkat alam dan budaya yang unik. Di dalam Pulau Bali sendiri masih terdapat banyak keunikan-keunikan yang menyebabkannya menjadi kolase beragam budaya dan alam yang spesifik.

Sayangnya keragaman dan keunikan tersebut, sejak merebaknya citra visual imajiner media social dan wisata pamer, gagal dijadikan sebagai dasar membangun ekonomi. Alih-alih melakukan penggalian keunikan lokal, peniruan-peniruan justru merebak. Peniruan ini awalnya memang seolah-olah memberi keunikan tetapi saat semua daerah mengembangkan jenis wisata yang sama, maka pudarlah nilai keunikan tersebut. Kepudaran ini sejatinya tidak akan menjadi masalah jika ia tidak mempengaruhi keunikan otentik yang tumbuh dan berkembang di lokasi tradisional. Sayangnya kini banyak lokasi-lokasi tradisional yang memiliki keunikan mengakar kuat pada tradisi malah sibuk mengejar ‘keunikan’ sesaat dalam bentuk wisata selfie.

Desa-desa tradisional, tanpa intervensi massif demi mengejar citra visual medsos, telah memiliki keunikan yang lahir dari interaksi keseharian manusia dengan alamnya, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan penciptanya serta bagaimana interaksi tersebut diwujudkan dalam bentuk arsitektur, produk kerajinan, pertanian, maupun budaya tak benda yang diwariskan. Kemampuan kita meng-kapitalisasi warisan tak ternilai ini semestinya dikedepankan sebagai ujung tombak pembangunan pariwisata. Keinginan memperoleh keuntungan jangka pendek dengan cara melakukan peniruan bias berujung pada menghilangnya potensi yang dikandung oleh keunikan yang telah mengakar. Desa-desa tradisional kini lebih suka meniru disbanding menggali sendiri potensinya.

Jika dengan satu Bali saja sudah banyak desa-desa yang berubah, maka dengan 10 Bali bisa dibayangkan akan berapa banyak keunikan yang tergerus jika pembangunan pariwisata tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai tentang keunikan budaya lokal.

Desa-desa tradisional di Bali yang menjadi ujung tombak penyedia keunikan kini bertransformasi mengembangkan jenis pariwisata yang serupa. Secara pribadi, saya khawatir perkembangan pariwisata yang berlangsung saat ini akan menjauh dari cita-cita luhur membangun jati-diri bangsa. Gurihnya kue pariwisata nampaknya membuat desa-desa kuno, bahkan yang memiliki ‘akar’ budaya paling kuat sekalipun, gelisah.