Belajar Kearifan dari Sahaja Kesiman

Siang itu, awan mendung menggantung di atas kepala mencegah sinar matahari menerobos. Namun cuaca panas tetap tak terhindarkan. Tukang-tukang tradisional terlihat tekun membelah bata-bata kuno berukuran besar, merapikannya, untuk dipasang kembali sebagai dinding pura. Debu-debu yang dihasilkan oleh kegiatan re-konstruksi Pura Sentaka mengepul memenuhi udara. Saya berkunjung ke salah satu pusat peradaban pra-kolonial Denpasar di Kawasan Kesiman. Ditemani Bayu Pramana, akademisi-fotografer-pecinta situs kuno, kami ngobrol ringan seputar pura yang sedang digarap oleh puluhan tukang tersebut.

 

 

Pura Sentaka, menurut penuturan Bayu, dibangun oleh leluhurnya. Minimnya catatan membuatnya kesulitan mengingat kapan tepatnya pura tersebut dibangun. Konon saat buyutnya masih muda, pura tersebut sudah berdiri. Jika menilik informasi tersebut, kemungkinan pura sudah dibangun lebih dari 3 generasi atau lebih dari 100 tahun. Konstruksi pura menggunakan bata merah, kemungkinan bata Gerenceng yang sempat berjaya menjadi pemasok material bangunan ke seluruh pelosok Bali selatan. Ukuran bata, jika dibandingkan dengan bata yang kita kenal belakangan, cukup besar. Tetapi ukuran bata tidak hanya satu, ada beberapa ukuran yang berbeda-beda. ‘Bata yang paling lebar kemungkinan untuk hiasan yang menonjol, sementara yang lebih kecil untuk badan bangunan’, Bayu mengira-ngira. Pemugaran pura diupayakan dengan pendekatan konservasi. Akan tetapi pendekatan kekinian tetap dipakai. Gambar-gambar pelinggih dibuat dengan cara mengukur pelinggih lama lalu dipindahkan ke dalam computer. Bata-bata yang masih kuat dimanfaatkan kembali. Semua ukiran dan hiasan dibuka dan disusun ulang untuk dipasang kembali. Proses ini jauh lebih rumit daripada mengganti baru. Sebagai pewaris, keluarga Bayu yang menyungsung pura ini tidak mau berkompromi terhadap nilai yang tersimpan. Ada kekhawatiran bahwa nilai akan hilang jika diganti baru. Bukankah ada banyak cara selain cara yang rumit ini? ‘Kami meyakini inilah cara yang tepat’, ujarnya mantap. Saat ini riuh rendah terjadi pemugaran pura di berbagai wilayah. Pura yang secara fisik dianggap ‘tidak representatif’ dipugar. Bangunannya diganti dengan yang lebih baru, kayu-kayu tradisionalnya, cempaka atau nangka, ditukar dengan kayu baru, bangkirai, jati dkk. Bataran dan hiasannya diganti dengan yang lebih tahan lama dan ‘modern’. Hasilnya? Pura Nampak lebih megah, bangunannya lebih besar, ukirannya lebih rumit serta bahannya lebih tahan lama. Namun banyak yang menilai proses semacam ini menghilangkan value utama dari pura. Value yang dibangun dan dipupuk bergenerasi-generasi hilang lenyap dalam balutan bangunan megah.

DSC_1143
Ragam hias lama dibuka, disusun ulang dan akan dipasang kembali pada struktur baru

Hujan gerimis tipis turun membasahi dedaunan saat kami berpindah ke Mrajan Puri Kesiman yang dikelilingi kolam. Tetesan air hujan yang jatuh menciptakan lingkaran-lingkaran ritmis di permukaan air yang tenang. Seekor ikan tiba-tiba berkelebat di balik daun-daun teratai hijau. Saat tengah tekun mengagumi dan mengabadikan keindahan karya arsitektur mrajan, Penglingsir Puri (Raja) Kesiman, Turah Kusuma Wardana, tiba-tiba muncul dari balik gapura bata berukir indah. Beliau menyapa ramah dan menyilakan kami berteduh, berlindung dari gerimis siang itu. Memiliki pandangan serupa, Turah, demikian beliau biasa dipanggil, menyatakan hal yang sama dengan Bayu tentang bagaimana beliau merawat warisan berupa puri dan segenap isinya. ‘Saya hanya meneruskan apa yang sudah disuratkan oleh leluhur. Mereka memiliki pengetahuan maha luas yang nyaris mustahil saya lampaui’ ujarnya mantap. Kami melanjutkan berkeliling area mrajan serupa taman tersebut setelah hujan reda. Konon jaman dahulu Kerajaan Kesiman mengelola lahan persawahan yang sangat luas dan subur. Air sungai dikelola dengan baik dan didistribusikan melalui subak-subak di hilir. Sebelum mengalir ke sawah, sebagian air masuk ke halaman mrajan puri dan dijadikan kolam yang mengelilingi bangunan-bangunan suci. Pemimpin Kesiman bisa mengetahui keadaan air di hilir dengan cara melihat air yang ada di mrajan. Jika kolam di mrajan surut, maka bisa dipastikan sawah-sawah di hilir kekurangan air. Cara kontrol sederhana namun efektif. Selang interval beberapa bulan, di mrajan diadakan upacara memohon kesuburan dan kesejahteraan. Mendoakan air selalu tersedia dalam jumlah yang cukup agar kolam di mrajan dan juga di sawah tidak kekurangan. Kesederhanaan berfikir semacam ini mungkin sudah kehilangan tempatnya di jaman serba modern ini, terutama setelah sawah berganti. ‘Segala upacara yang sudah berlangsung ratusan tahun disini tetap kami selenggarakan seperti apa yang sudah berlangung. Saya tidak berani melebihkan apalagi mengurangi,’ ujar Turah setelah kami berkeliling. Bukan hanya upacaranya saja yang terjaga, tetapi juga arsitektur bangunan puri. Tidak Nampak aura kemewahan yang dicirikan oleh bangunan berkelir prada keemasan seperti sebagian besar puri di Bali kini. Banyak puri-puri yang menjaga keagungannya dengan cara membangun ulang dengan bentuk yang lebih megah, warna yang lebih mencolok dan ragam hias yang lebih grande. Tidak demikian dengan Puri Kesiman. Setidaknya itulah yang saya saksikan siang itu. Sepertinya ada upaya untuk tetap teguh menjaga tradisi sarat makna.

 

DSC_1173
Hujan gerimis turun di Mrajan Puri Kesiman
DSC_1168
Gerbang bata mengantarkan kami ke dalam Mrajan
DSC_1170
Meru bertumpang sebelas di Mrajan Puri Kesiman

Luputnya Kesiman dari perhatian, menyebabkan derap pembangunan fisik di Kawasan ini lebih banyak dilakukan oleh komunitas, bukan investor apalagi politisi yang membawa bansos. Investor lebih tertarik dengan kawasan pariwisata, sementara politisi mencari perhatian di kawasan-kawasan yang mendapat sorot media. Hal ini justru menjadikan Kesiman sebagai kawasan pusaka karena tidak banyak warisan budaya arsitekturnya yang dipugar atas nama pembangunan ekonomi atau atas nama jargon politis ‘perbaikan demi masa depan gemilang.’ Sahaja Kesiman yang terawat membuatnya, justru, tampil berkarakter. Khas Bebadungan, lugas, apa adanya tanpa topeng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s