Belajar Kearifan dari Sahaja Kesiman

Siang itu, awan mendung menggantung di atas kepala mencegah sinar matahari menerobos. Namun cuaca panas tetap tak terhindarkan. Tukang-tukang tradisional terlihat tekun membelah bata-bata kuno berukuran besar, merapikannya, untuk dipasang kembali sebagai dinding pura. Debu-debu yang dihasilkan oleh kegiatan re-konstruksi Pura Sentaka mengepul memenuhi udara. Saya berkunjung ke salah satu pusat peradaban pra-kolonial Denpasar di Kawasan Kesiman. Ditemani Bayu Pramana, akademisi-fotografer-pecinta situs kuno, kami ngobrol ringan seputar pura yang sedang digarap oleh puluhan tukang tersebut.

 

 

Pura Sentaka, menurut penuturan Bayu, dibangun oleh leluhurnya. Minimnya catatan membuatnya kesulitan mengingat kapan tepatnya pura tersebut dibangun. Konon saat buyutnya masih muda, pura tersebut sudah berdiri. Jika menilik informasi tersebut, kemungkinan pura sudah dibangun lebih dari 3 generasi atau lebih dari 100 tahun. Konstruksi pura menggunakan bata merah, kemungkinan bata Gerenceng yang sempat berjaya menjadi pemasok material bangunan ke seluruh pelosok Bali selatan. Ukuran bata, jika dibandingkan dengan bata yang kita kenal belakangan, cukup besar. Tetapi ukuran bata tidak hanya satu, ada beberapa ukuran yang berbeda-beda. ‘Bata yang paling lebar kemungkinan untuk hiasan yang menonjol, sementara yang lebih kecil untuk badan bangunan’, Bayu mengira-ngira. Pemugaran pura diupayakan dengan pendekatan konservasi. Akan tetapi pendekatan kekinian tetap dipakai. Gambar-gambar pelinggih dibuat dengan cara mengukur pelinggih lama lalu dipindahkan ke dalam computer. Bata-bata yang masih kuat dimanfaatkan kembali. Semua ukiran dan hiasan dibuka dan disusun ulang untuk dipasang kembali. Proses ini jauh lebih rumit daripada mengganti baru. Sebagai pewaris, keluarga Bayu yang menyungsung pura ini tidak mau berkompromi terhadap nilai yang tersimpan. Ada kekhawatiran bahwa nilai akan hilang jika diganti baru. Bukankah ada banyak cara selain cara yang rumit ini? ‘Kami meyakini inilah cara yang tepat’, ujarnya mantap. Saat ini riuh rendah terjadi pemugaran pura di berbagai wilayah. Pura yang secara fisik dianggap ‘tidak representatif’ dipugar. Bangunannya diganti dengan yang lebih baru, kayu-kayu tradisionalnya, cempaka atau nangka, ditukar dengan kayu baru, bangkirai, jati dkk. Bataran dan hiasannya diganti dengan yang lebih tahan lama dan ‘modern’. Hasilnya? Pura Nampak lebih megah, bangunannya lebih besar, ukirannya lebih rumit serta bahannya lebih tahan lama. Namun banyak yang menilai proses semacam ini menghilangkan value utama dari pura. Value yang dibangun dan dipupuk bergenerasi-generasi hilang lenyap dalam balutan bangunan megah.

DSC_1143
Ragam hias lama dibuka, disusun ulang dan akan dipasang kembali pada struktur baru

Hujan gerimis tipis turun membasahi dedaunan saat kami berpindah ke Mrajan Puri Kesiman yang dikelilingi kolam. Tetesan air hujan yang jatuh menciptakan lingkaran-lingkaran ritmis di permukaan air yang tenang. Seekor ikan tiba-tiba berkelebat di balik daun-daun teratai hijau. Saat tengah tekun mengagumi dan mengabadikan keindahan karya arsitektur mrajan, Penglingsir Puri (Raja) Kesiman, Turah Kusuma Wardana, tiba-tiba muncul dari balik gapura bata berukir indah. Beliau menyapa ramah dan menyilakan kami berteduh, berlindung dari gerimis siang itu. Memiliki pandangan serupa, Turah, demikian beliau biasa dipanggil, menyatakan hal yang sama dengan Bayu tentang bagaimana beliau merawat warisan berupa puri dan segenap isinya. ‘Saya hanya meneruskan apa yang sudah disuratkan oleh leluhur. Mereka memiliki pengetahuan maha luas yang nyaris mustahil saya lampaui’ ujarnya mantap. Kami melanjutkan berkeliling area mrajan serupa taman tersebut setelah hujan reda. Konon jaman dahulu Kerajaan Kesiman mengelola lahan persawahan yang sangat luas dan subur. Air sungai dikelola dengan baik dan didistribusikan melalui subak-subak di hilir. Sebelum mengalir ke sawah, sebagian air masuk ke halaman mrajan puri dan dijadikan kolam yang mengelilingi bangunan-bangunan suci. Pemimpin Kesiman bisa mengetahui keadaan air di hilir dengan cara melihat air yang ada di mrajan. Jika kolam di mrajan surut, maka bisa dipastikan sawah-sawah di hilir kekurangan air. Cara kontrol sederhana namun efektif. Selang interval beberapa bulan, di mrajan diadakan upacara memohon kesuburan dan kesejahteraan. Mendoakan air selalu tersedia dalam jumlah yang cukup agar kolam di mrajan dan juga di sawah tidak kekurangan. Kesederhanaan berfikir semacam ini mungkin sudah kehilangan tempatnya di jaman serba modern ini, terutama setelah sawah berganti. ‘Segala upacara yang sudah berlangsung ratusan tahun disini tetap kami selenggarakan seperti apa yang sudah berlangung. Saya tidak berani melebihkan apalagi mengurangi,’ ujar Turah setelah kami berkeliling. Bukan hanya upacaranya saja yang terjaga, tetapi juga arsitektur bangunan puri. Tidak Nampak aura kemewahan yang dicirikan oleh bangunan berkelir prada keemasan seperti sebagian besar puri di Bali kini. Banyak puri-puri yang menjaga keagungannya dengan cara membangun ulang dengan bentuk yang lebih megah, warna yang lebih mencolok dan ragam hias yang lebih grande. Tidak demikian dengan Puri Kesiman. Setidaknya itulah yang saya saksikan siang itu. Sepertinya ada upaya untuk tetap teguh menjaga tradisi sarat makna.

 

DSC_1173
Hujan gerimis turun di Mrajan Puri Kesiman
DSC_1168
Gerbang bata mengantarkan kami ke dalam Mrajan
DSC_1170
Meru bertumpang sebelas di Mrajan Puri Kesiman

Luputnya Kesiman dari perhatian, menyebabkan derap pembangunan fisik di Kawasan ini lebih banyak dilakukan oleh komunitas, bukan investor apalagi politisi yang membawa bansos. Investor lebih tertarik dengan kawasan pariwisata, sementara politisi mencari perhatian di kawasan-kawasan yang mendapat sorot media. Hal ini justru menjadikan Kesiman sebagai kawasan pusaka karena tidak banyak warisan budaya arsitekturnya yang dipugar atas nama pembangunan ekonomi atau atas nama jargon politis ‘perbaikan demi masa depan gemilang.’ Sahaja Kesiman yang terawat membuatnya, justru, tampil berkarakter. Khas Bebadungan, lugas, apa adanya tanpa topeng.

Rurung dalam Memori

46766837_2248670425144230_1205851332943020032_n
Rurung di Sanur di tahun 1970an. Photo: Made Wijaya

Kata ‘rurung’ sudah cukup lama menganggu fikiran saya, terutama semenjak jalanan tanah di kampung-kampung mulai diaspal sementara yang di kota dilapisi paving blok. Ada memori yang terhapus saat melihat jalanan yang dahulu berdebu saat kering dan sedikit becek saat hujan berubah mulus dan halus. Bukan, ini bukan soal kualitasnya, tetapi soal ingatan masa kecil.

Saat berusia SD, rurung menjadi halaman bermain anak-anak kampung. Kami terbiasa berkumpul setiap sore, saat terik matahari sudah jauh berkurang, di depan rumah masing-masing saling menunggu. Begitu sebagian besar anak berkumpul, maka berbagai permainan tradisional hingga olah raga ringan bisa dilakukan. Mulai permainan mecepetan, main dipyak (dengkleng;engklek), hingga kasti bahkan sepak bola bisa dimainkan. Suara sorak sorai akan mengundang anak-anak lain untuk datang. Permainan-permainan tersebut tak ubahnya olah raga yang membuat tubuh segar. Selain olah raga, permainan tradisional juga dipercaya mengasah kreativitas serta kepekaan sosial anak-anak terhadap sesama, meningkatkan sportivitas dan kejujuran.

446508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Gambar oleh I Mundik memperlihatkan berbagai aktivitas yang berlangsung di rurung.

Tidak hanya anak-anak, ruang terbuka di depan rumah juga disesaki orang tua kami bahkan kakek nenek. Tidak jarang, sebagian orang dewasa masih melanjutkan pekerjaannya, meraut atau memahat patung di rurung. Para petani yang sudah selesai bekerja di sawah memanfaatkan waktu istirahat sorenya dengan duduk-duduk sembari membawa ayam jago membicarakan hal-ihwal sawahdan segala persoalannya. Generasi yang lebih tua lagi memanfaatkan rurung sebagai ruang interaksi mengobrol sembari menunggu matahari tenggelam. Di ujung rurung jamak dijumpai penggak, semacam warung kecil tanpa atap. Di penggak bisa dibeli jajanan tradisional hingga bubur pengisi perut di sore hari.

46508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Penggak. Gambar: Miguel Covarrubias

Banyak kisah dan cerita yang terurai, tak jarang masalah-masalah di banjar atau desa bisa diselesaikan, dalam interaksi di rurung. Rurung ibarat ruang keluarga semua warga, tempat berinteraksi dan bersosialisasi, tak ada sekat, semua setara.

Kian sore, jumlah anak yang bermain biasanya kian ramai hingga tiba saatnya matahari tenggelam. Sesaat sebelum matahari tenggelam, mendekati jam 6, arena permainan berpindah ke sungai. Badan yang penuh keringat dan berdebu dibilas di aliran sungai yang mengalir membelah kampung. Permainan dilanjutkan dengan berloncatan dari tepian sungai.

DSC_8087
Berlangsung di Rurung, Perang Pandan di Tenganan Pegeringsingan

Di tempat lain, misalnya di daerah Karangasem, rurung juga memiliki fungsi ritual. Di Desa Tenganan Pegeringsingan nyaris sebagian besar, jika tidak semua, aktivitas ritual berlangsung di rurung. Aktivitas ini termasuk ritual perang pandan yang tersohor itu. Di wilayah lain, rurung menjadi arena untuk megibung masal, sebuah ritual makan bersama dalam suatu rangkaian upacara di desa.

Demikianlah, rurung memiliki berbagai fungsi, mulai dari fungsi sosial, budaya, ekonomi, ritual hingga fungsi pendukung kreativitas anak-anak. Banyaknya memori kolektif yang terjalin dari interaksi yang terjadi di rurung menebalkan rasa persaudaraan, meningkatkan kontrol sosial serta menunjang rasa memiliki. Modal sosial tersebut menjadi dasar kekuatan masyarakat desa.

 

456508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Angkul-angkul pembentuk rurung. Photo: Made Wijaya

Untuk mendukung fungsinya, sebuah rurung memiliki berbagai fasilitas meskipun bukanlah sesuatu yang mutakhir. Sekurang-kurangnya di setiap pintu masuk pekarangan terdapat ‘lenéng’. Ini adalah ‘sofa’ informal, tempat duduk yang nyaman bagi siapa saja. Selain ‘lenéng’ batu-batu besar juga bisa menjadi tempat duduk yang kasual.

46771481_296222640996331_9147884688092692480_n
Leneng dan batu sebagai tempat duduk kasual di rurung. Photo: Made Wijaya

Meja dan bangku kecil dibawa oleh pedagang ‘penggak’. Bukan meja atau kursi yang besar tetapi cukuplah untuk meletakkan dagangan sederhana dan tempat duduk sejenak sembari menikmati jajanan.

Di tepian rurung terdapat jelinjingan dan telajakan. Jelinjingan adalah semacam got tetapi bentuknya sedikit tidak teratur. Sementara itu telajakan berfungsi penghijauan, tempat ayam-ayam jago diletakkan di dalam kurungannya. Semak-semak berbunga, pucuk rejuna, soga, mawar, kembang kertas juga mengisi telajakan memenuhi kebutuhan bunga untuk membuat canang. Demikian juga pohon jepun, cempaka, atau pohon buah-buahan lokal.

46668708_353604375404182_1688587996107898880_n
Di telajakan, diskusi berlangsung santai. Photo Made Wijaya

 

Secara arsitektur, ruang rurung dibentuk oleh tembok menerus di kiri dan kanannya. Tembok ini diinterupsi oleh angkul-angkul pintu masuk ke pekarangan rumah penduduk. Dari arah rurung, deretan angkul-angkul ini merupakan sajian arsitektural yang menarik. Meskipun bentuknya mirip, penyelesaian konstruksi dan bahan yang dipergunakan bisa berbeda-beda antara angkul-angkul yang satu dengan yang lain. Angkul-angkul menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat. Anjing pun merasa aman dan nyaman duduk di pintu masuk pekarangan ini.

Fungsi rurung kini telah berubah. Semenjak beberapa tahun belakangan ini sebagian besar rurung telah mengalami pembaharuan secara fisik. Permukaannya yang dahulu becek di kala hujan serta berdebu di kala panas berganti aspal mulus. Tepiannya diturap rapi dan dilengkapi got permanen menggantikan jelinjingan. Tuntutan akan jalan mobil yang lebih lebar seringkali mengorbankan telajakan sehingga ruang hijau menerus yang dahulu nyaman untuk tempat menjemur ayam aduan tidak ada lagi.

Dengan bergantinya permukaan rurung maka beralih pula fungsinya. Kini fungsi utama rurung adalah sebagai jalur transportasi. Raungan kendaraan roda dua dan roda empat menggantikan sorak-sorai anak-anak bermain kasti. Suara klakson dan raut muka tanpa senyum di balik kemudi menggantikan suara kelakar dan wajah penuh tawa yang dulu bisa dijumpai saban hari. Tidak ada lagi anak-anak bermain dan orang-orang kampung bercengkerama sehingga hilang pula peluang ekonomi. Akibatnya, penggak-penggak kehilangan pembeli karena aktivitas di rurung sudah berganti. Dari penggak, tempat nongkrong berpindah ke coffee shop. Kini, ada kerinduan pada aktivitas rurung dengan berbagai aktivitasnya, bukan hanya sebagai jalur transportasi.

46675030_369854530436813_4582681326888419328_n
Warung, tempat istirahat nyaman di sore hari sambil membicarakan gosip lokal. Photo: Made Wijaya

Tentu saja jalur transportasi sangat dibutuhkan di jaman yang serba cepat ini. Aktivitas warga tidak lagi tunggal, hanya bertani, tetapi sudah beragam. Tempat kerja pun tidak lagi di sawah tetapi di kantor-kantor, hotel-hotel dan restaurant, serta tempat-tempat lain. Semua kini butuh kendaraan bermotor entah mobil atau sepeda motor. Akan tetapi, perkembangan ini mestinya tidak menghilangkan kualitas sosial rurung. Saya percaya, jika ada kemauan, kita masih bisa mendapatkan kualitas yang dahulu dimiliki rurung dengan tetap mendapatkan kualitas transportasi yang memadai.

(bersambung ke bagian 2)

 

Ihwal Ikut Cledu pada Arsitektur Bali

moojen032
Bangunan terbuka di pojok sebuah puri di Bali menggunakan atap alang-alang tetapi dilengkapi dengan bubungan genteng. (Foto: Moojen, P.A.J. Kunst op Bali, Adi Poestaka 1926)

Bagi yang sering berkecimpung pada kegiatan studi maupun kegiatan ber-arsitektur di Bali, istilah ikut cledu pastilah bukan sesuatu yang asing. Istilah ini merujuk pada hiasan pada bagian atap bangunan. Letaknya ada pada ujung jurai atap limasan berbentuk ukiran serupa sulur yang menyerupai sebilah daun. Hiasan ini lumrah ditemui di hampir semua bangunan Bali kini sehingga sering dianggap sebagai bagian dari elemen kunci dalam arsitektur Bali.

‘Kenapa setiap mengajukan IMB selalu ditanya soal ikut cledu?’ ketus seorang kawan pada suatu siang di kantornya yang sejuk oleh rerimbunan pohon mangga. ‘Kantor ini tidak memakai ikut cledu, tetapi setiap klien kami merasa nyaman dan menganggap ini adalah bangunan Bali’ ujarnya melanjutkan. ‘Apakah arsitektur Bali mesti diidentikkan dengan ikut cledu?’ pungkasnya.

Saya hanya manggut-manggut sembari berfikir memutar otak mendengar keluh kesah si kawan yang dalam setahun punya klien lebih banyak daripada angka umurnya. ‘Ikut cledu ditempelkan di bagian ujung atap genteng dengan semen, atau setidaknya tanah liat. Artinya ikut cledu butuh tempat yang kuat dan perekat yang mumpuni untuk bisa ditempelkan di bagian atap yang miring’, saya berhipotesa. ‘Sementara bangunan tradisional kita banyak yang beratap jerami, ijuk bahkan klangsah’, saya melanjutkan dugaan. Sementara waktu saya merasa punya jawaban. ‘Jadi kalau kita tengok ke belakang, ikut cledu itu bukan cerminan pokok dari arsitektur tradisional Bali’.

Sejujurnya pertanyaan si kawan itu membuat saya berfikir cukup lama. Sampai di rumah saya buka-buka lagi literature dan buku-buku lama tulisan para peneliti Belanda tentang arsitektur Bali di awal abad 20.

Salah satu buku yang memuat banyak sekali visual arsitektur tradisional Bali adalah Kunst op Bali yang ditulis oleh P.A.J. Moojen. Si penulis adalah salah satu arsitek profesional pionir di kawasan Hindia Belanda dan pada awal abad ke 20 melakukan perjalanan ke Bali. Bukunya memuat ratusan foto-foto bangunan tradisional Bali yang dijumpainya pada masa itu.

Dari foto yang ada di buku, sepertinya hipotesa saya menemukan pembuktiannya. Tidak semua bangunan menggunakan ikut cledu, bahkan sebagian besar bangunan tidak menempatkan ikut cledu sebagai hiasan di ujung atapnya. Namun demikian, ikut cledu banyak dijumpai pada bangunan-bangunan yang memiliki atap kecil yang berfungsi sebagai bangunan peribadatan. Ikut cledu, misalnya, ditempatkan pada atap pelinggih-pelinggih di pura yang ada di Buleleng. Pelinggih-pelinggih tersebut berukuran relatif kecil dengan konstruksi bata atau paras bahan hingga ke atapnya. Dengan atap yang terbuat dari bata atau paras, maka, cukup mudah untuk menempelkan hiasan ukiran sulur di bagian ujung atapnya.

moojen100
Dua pelinggih terbuat dari bata atau paras, satunya memakai ikut cledu sementara yang di kiri menggunakan ornamen yang berbeda. (Foto: Moojen, P.A.J. Kunst op Bali, Adi Poestaka 1926)

Selain pada bangunan pelinggih, hiasan sulur di ujung atap juga bisa dijumpai pada bangunan candi bentar dan kori agung/gelung kori. Serupa dengan pelinggih, bangunan ini juga dikontruksi dari bata atau batu paras. Cara menempelkannyapun serupa dengan konstruksi di bangunan pelinggih yang lebih kecil. ikut cledu ditempatkan pada bagian ujung atap dan direkatkan dengan tanah liat. Penggunaan tanah liat tentu saja lumrah karena ketiadaan semen pada masa itu.

moojen137
Kori Agung di Belayu (Foto: Moojen, P.A.J. Kunst op Bali, Adi Poestaka 1926)

Akan tetapi, ikut cledu hadir tidak di setiap kori agung. Banyak juga kori agung yang tidak menggunakan hiasan ini pada bagian atapnya. penggunaan ikut cledu sangat dipengaruhi oleh gaya bangunan yang diterapkan oleh sang undagi, si pembangun. Misalnya saja pada gelung kori Pura Luhur Uluwatu. Gelung kori pura ini tidak menyertakan ikut cledu sebagai bagian dari ornamennya.

bali106a
Gelung Kori Pura Luhur Uluwatu (atas), tanpa ikut cledu (Goris, R. Bali: Atlas Kebudayaan, 1957)

Pada bangunan-bangunan besar, yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan bangunan publik, ikut cledu nampaknya tidak lumrah. Sekali lagi, sepertinya hipotesa bahwa tidak mungkin menempelkan hiasan yang terbuat dari batu paras atau bata pada alang-alang, yang meruapak atap paling dominan pada bangunan besar, menemukan pembenaranya. Foto-foto Moojen yang diambil di seantero Bali menunjukkan bahwa nyaris tidak ada bangunan rumah tinggal menggunakan ikut cledu pada atapnya. Tidak hanya pada bangunan yang beratap alang-alang, ikut cledu juga absen pada bangunan dengan atap sirap bamboo, seperti bangunan yang lumrah dijumpai pada bangunan di Kabupaten Bangli dan kawasan dataran tinggi lainnya yang banyak memproduksi bambu.

 

moojen018
Bangunan-bangunan rumah tinggal beratap alang-alang dan sirap bambu tanpa ikut cledu (Moojen, P.A.J., Kunst op Bali, Adi Poestaka, 1926)
moojen058
Bangunan-bangunan publik dengan atap alang-alang tidak menggunakan ikut cledu (Moojen, P.A.J., Kunst op Bali, Adi Poestaka, 1926)

Ikut cledu muncul dalam sebuah foto bale bengong sebuah puri di Bali selatan beratap alang-alang. Akan tetapi ikut cledu tersebut disematkan pada bubungan atap yang terbuat dari genteng tanah liat. Hal ini menunjukkan bahwa faktor teknis menyebabkan ikut cledu dipakai pada bangunan tersebut.

Ikut cledu kembali bisa dijumpai pada bangunan yang dipakai untuk orang meninggal. misalnya pada bade, wadah yang beratap, serta bangunan untuk menaungi lembu di setra. Bahannya terbuat dari kertas atau, mungkin, upih (pangkal pelepah daun palem kering). Sekali lagi faktor teknis kemudahan menempelkan material ini di ujung bubungan atap limasan barangkali menjadi alasan utamanya.

bali144a
Ikut Cledu pada Bade (Goris, R. Bali: Atlas Kebudayaan, 1957)

Jadi? menurut saya, ikut cledu bukanlah elemen pokok yang menjadikan sebuah bangunan bisa disebut sudah menerapkan arsitektur Bali atau belum. Peran ikut cledu berbeda dengan dinding, ata, lantai dan elemen struktur dengan prinsip-prinsip konstruksinya yang membentuk ruang-ruang tradisional. Setara dengan kekarangan (karang gajah, curing, bentulu, mata, dll), pepalihan, pepatran dan ornamen lainnya, menurut hemat saya, ikut cledu boleh tidak hadir dalam bangunan Bali. Ikut cledu hadir di banyak bangunan tetapi ia bukan elemen inti, it is not the essence of Balinese Traditional Architecture, tetapi karena letaknya cukup tinggi, di bagian atap, iya terlihat menonjol.

Agrowisata sebagai Alternatif Pengembangan Ekonomi Bali perlu Dipikirkan Serius

perspektif 5
Fasilitas agrowsiata jeruk oleh Cheryl

Sejak diperkenalkan sebagai alternatif pengembangan ekonomi lokal oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Bali pada awal abad-20, pariwisata telah berkembang sangat pesat. Bisnis yang berkaitan dengan pelesiran dan segala aktivitas pendukungnya ini kini telah memberi penghasilan bagi lebih dari setengah penduduk Pulau Bali. Pulau Bali, berkat peranan pariwisata, telah menjadi salah satu yang paling terkenal diantara 17.000-an pulau di seantero Indonesia. Saking pentingnya peranan pariwisata, pengembangannya selalu mendapat prioritas di dalam rencana tata ruang provinsi maupun kabupaten dan kota yang ada di Bali.

Kesejahteraan dan keuntungan ekonomi yang diberikan serta ditawarkan oleh pariwisata juga mengandung kelemahan. Meskipun awalnya hanya dikembangkan dalam skala yang kecil, hanya sebagai alternatif dari pertanian, pertumbuhan bisnis yang berkaitan dengan pariwisata telah mulai mengalahkan sumber mata pencaharian utama yang telah ribuan tahun menjadi sandaran hidup masyarakat Bali yaitu pertanian. Data statistik dari BPS Provinsi Bali tahun 2017 menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah akomodasi pariwisata berbanding terbalik dengan jumlah sawah. Hal ini berarti bahwa pembangunan pariwisata membawa dampak pada berkurangnya jumlah sawah. Berkurangnya sawah berarti berkurang pula ruang terbuka hijau di Pulau Bali.

Selain mengurangi ruang terbuka hijau, berkurangnya sawah juga berarti penurunan produksi pangan local. Pada suatu pagi, di sebuah pasar, saya menjumpai bahwa sebagain besar komoditas pertanian berasal dari luar pulau. Sayur-mayur, cabai dan bumbu-bumbuan, perlengkapan upacara dan komoditas lainnya dating dari Jawa. Belum terhitung buah-buahan yang harus diimpor dari luar negeri. Semua komoditas tersebut kini memenuhi pasar-pasar traditional hingga rak-rak pasar swalayan dan took modern. Tentu tidak ada yang salah dengan hal tersebut sepanjang masyarakat masih memiliki ekmampuan untuk membeli karena uang yang diperoleh dari pariwisata. Menjadi persolan jika hal ini dikaitkan dengan transportasi dan jejak karbon. Untuk mendatangkan komoditas tersebut dibutuhkan armada angkutan yang besar. Untuk impor dibutuhkan kapal dan pesawat terbang. Jejak karbon yang ditimbulkan menimbulkan polusi serta proses transportasinya membuat jalan-jalan semakin padat menambah rumit persoalan transportasi.

Kini, saat perkembangan pariwisata telah melampaui sektor pertanian, semakin sedikit anak muda yang tertarik untuk terjun menjadi petani dan tinggal di desa. Wilayah-wilayah yang menjadi pusat pariwisata menjadi tujuan urbanisasi membuatnya semakin padat. Kost-kostan dan hunian dalam bentuk perumahan untuk kaum urbane ini, lagi-lagi, mengorbankan area persawahan. Di Kota Denpasar persawahan semakin terjepit tinggal di kawasan pinggiran. Itupun masih berada di bawah ancaman alih fungsi yang massif. Sebaliknya di kawasan perdesaan, akibat urbanisasi, terjadi kekosongan tenaga kerja muda kreatif. Tenaga kerja ini telah pindah ke kawasan yang dianggap lebih menjanjikan dalam memberikan ruang dan keuntungan bagi energikreatif yang mereka miliki. Jika hal ini terus berlangsung, bisa jadi tidak akan ada lagi petani di masa yang akan datang.

Sesungguhnya, salah satu daya tarik yang membuat Bali sedemikian menarik sebagai daerah pariwisata adalah budayanya. Kebudayaan penduduk Bali sangat erat terkait dengan pertanian. Sebagian besar ritual yang dilaksanakan berurat berakar di aktivitas pertanian. Ritual-ritual ini menjiwai kebudayaan Bali dan menjadi factor penarik (pull factors) bagi datangnya pengunjung-pengunjung manca negara.  Menghilangnya pertanian bisa melemahkan atau mengikis kebudayaan dan pada gilirannya bisa mengurangi daya tarik Bali sebagai daerah tujuan wisata.

Pariwisata sendiri sebenarnya sangat rentan terhadap isu dan kejadian negatif. Pada tahun 2002, terjadi peristiwa terorisme di mana sekelompok orang meledakkan kendaraan penuh bahan peledak. Ratusan wisatawan menjadi korban. Kejadian ini memicu ketakutan dan kengerian internasional. Segera setelahnya terbentuk opini bahwa Bali tidak aman bagi pengunjung. Turis enggan datang. Akibatnya bisnis pariwisata mati suri meninggalkan ribuan orang tanpa pekerjaan. Untunglah kejadian ini segera membaik dan kunjungan turis kembali normal. Akan tetapi hal ini menunjukkan betapa rentannya pariwisata terhadap isu keamanan.

Contoh lain adalah peristiwa alam gunung meletus. Bali berada di wilayah yang dikenal sebagai the Ring of Fire. Kawasan yang terdiri atas rangkaian gunung api terbentang dari wilayah barat hingga ke bagian timur Indonesia yang dipenuhi oleh gunung berapi. Di Bali terdapat dua gunung api akif yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur. Keduanya sewaktu-waktu bisa meletus menyebabkan bencana. Pada akhir tahun 2017 hingga awal 2018, Gunung Agung menunjukkan tanda-tanda aktif. Sepanjang September hingga Desember 2017 asap dan debu vulkanik mengepul dari puncak Gunung Agung. Peristiwa ini menganggu penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Selain menganggu bandara, secara psikologis, peristiwa ini juga berpengaruh terhadap isu kemananan pariwisata. Turis yang ada di Bali berbondong-bondong meninggalkan Bali mempersingkat waktu kunjungannya. Sementara itu, mereka yang akan datang membatalkan rencana. Peristiwa ini, seperti juga Bom Bali, kembali mengganggu ekonomi local. Tingkat hunian hotel menurun, kunjungan berkurang dan bisnis pariwisata melambat.

Pariwisata dan pertanian di Bali kini saling berhadap-hadapan. Peningkatan bisnis pariwisata membuat performa pertanian menurun. Akan tetapi saat pariwisata menurun hal sebaliknya tidak terjadi. Saat kunjungan wisatawan menurun, pertanian tetap tidak dilirik sebagai bisnis yang menguntungkan. Ini menunjukkan betapa tingginya angka ketergantungan Bali terhadap pariwisata. Jalan damai untuk menyeimbangkan kedua bisnis ini perlu digali. Potensi penggabungan antara pertanian dan pariwisata bisa disekplor dan dipikirkan dengan serius. Penggabungan keduanya bisa menjadi tulang punggung pengembangan ekonomi Bali di masa depan.

Berdasarkan uraian di atas perlu dipikirkan bisnis kepariwisataan yang:

1.       Tidak menurunkan jumlah sawah dan ruang terbuka hijau secara signifikan

2.       Memberi kesejahteraan yang mampu menghidupi Pulau Bali tanpa tergantung pada hasil pertanian dari luar pulau.

3.       Tidak menambah kemacetan dan polusi udara

4.       Menyediakan lapangan kerja yang menarik bagi generasi muda sehingga mereka tidak harus berpindah tempat tinggal

5.       Tidak mengurangi esensi ritual dan adat yang berakar pada pertanian

6.       Sustainable serta tetap mampu berproduksi, memberi penghasilan bagi pelakunya saat bisnis pariwisata meredup.

Guna menjawab tatangan ekonomi yang terjadi saat ini, mahasiswa arsitektur Universitas Warmadewa mencoba mencari alternative baru pengembangan kepariwisataan sesuai dengan persyaratan di atas. Potensi agrowisata digali di lokasi yang berbeda-beda. Beberapa kelompok menggali kemungkinan penyediaan fasilitas agrowisata di kawasan pedesaan sehingga tersedia lapangan pekerjaan melimpah tanpa harus berpindah ke kota. Beberapa kelompok lainnya membawa pertanian ke tengah kota sehingga distribusi komoditas pertanian lebih dekat kepada masyarakat yang membutuhkannya.

Alternative-alternatif yang diekmbangkan memang masih pada tataran latihan sehingga terkesan idelaistik. Tetapi apa yang diperbuat perlu mendapat perhatian jika pembangunan kepariwisataan diharapkan untuk bersinergi dengan pertanian yang menjiwai kebudayaan local.

Untitled-1
Pengembangan agrowisata kopi oleh Tirta Yadnya
1 (1)
Urban farming oleh Wahyu Anggareza
perspektif 2
Suasana di agrowisata jeruk oleh Cheryl

 

MEMORI KOLEKTIF DAN IDENTITAS-TEMPAT

DSC_4943
Identitas tempat bisa direkonstruksi secara fisik
  1. Intro

Saya suka melihat postingan-postingan Bli Gede Kresna di Fb. Ada bangunan, lingkungan, termasuk juga makanan. Ada satu benang merah yang menghubungkan postingan dengan tema yang berbeda-beda tersebut di mata saya. Semuanya mengingatkan akan masa kecil, masa saat ‘pengalaman’ kita belum didikte oleh berbagai macam teori tentang arsitektur yang baik, tentang tata cara menjaga lingkungan, ataupun teori tentang rasa. Masa saat pengalaman-pengalaman terjadi dengan alami, mengalir saja.

Postingan tentang halaman berbatu misalnya, mengingatkan pada licinnya permukaan jalan desa saat hujan, postingan yang memuat foto-foto dedaunan basah mengingatkan akan suara gemerisik daun saat tertimpa hujan atau tertiup angina di setiap akhir tahun.

Kenangan masa lalu mengingatkan kita pada tempat, pada kampong halaman, pada ‘feeling at home’. Sesuatu yang, bagi sebagain kita, menjadi barang mahal belakangan ini.

Saya sekali waktu menunjukkan postingan beliau kepada kawan dan efek yang sama rupanya juga terjadi. Kami mulai ngobrol tentang masa kecil. Tentang pohon badung dan bleket (saya tidak tahu nama kerennya) yang tumbuh di belakang pura ratu ngurah. Tiba-tiba kami seolah mendengar kecipak air di sungai di belakang rumah serta tekstur permukaan batu di tepiannya tempat kami biasa duduk sebelum nyebur di sejuknya air yang mengalir dari pegunungan, mencium aroma kopi yang sedang di nyahnyah. Ibarat gambar-gambar dalam film, imaji-imaji berkelebatan menghubungkan kami dengan tempat kami dulu dibesarkan, melintasi ruang dan waktu.

Kita hidup dilingkupi oleh lansekap. Kita terhubung dengan lansekap sekeliling dalam berbagai cara. Banyak rumah dan fasilitas fisik di kampong pada jaman dahulu dibangun secara bergotong royong. Bangunan-bangunan pura, bale banjar, saluran air dan banyak lagi yang lainnya dibangun oleh leluhur kita. Manusia memodifikasi lansekap. Cara memodifikasi dan menggunakannya membentuk pengalaman, memori, rasa dan akhirnya membentuk persepsi kita tentang lingkungan terbangun. Semakin lama, semakin banyak memori yang tersimpan di dalam lansekap akibat semakin kaya nya pengalaman. Lansekap kita mengandung nilai budaya sehingga sering disebut ‘lansekap kultural’. Lansekap dengan demikian juga mengandung nilai sejarah, menjadi reservoir pengalaman dan memori kolektif.

Ruang-ruang desa, kampung halaman serta ruang-ruang kota dipakai secara kolektif. Pengalaman terbentuk dan dibentuk oleh sekelompok orang. Pura, bale banjar, lapangan, ruang di bawah pohon beringin di pusat desa, semuanya menjadi reservoir memory kolektif.

Saya tidak merasakannya sendirian.

  1. Identitas-tempat dan social-wellbeing

Dengan pengalaman, memori serta persepsi yang terbangun terhadap tempat dan lingkungan sekitar, kita bisa mengidentifikasinya dengan lingkungan lain yang memiliki kualitas yang berbeda.

Sekali waktu saya harus pergi meninggalkan kampung halaman. Saya merasakan aura yang berbeda, saya mulai membangun perbandingan, membandingkan rumah-rumah, membandingkan bangunan-bangunan yang berbeda. Dengan perbandingan saya membentuk identitas-tempat di kepala saya. Saat berada di luar daerah, saya merasakan kerinduan terhadap kampung halaman, ada rasa ‘feeling at home’ yang hilang. Ada rasa ingin segera kembali. Kembali ke lingkungan terbangun yang familiar. Rindu bentuk, rindu rupa, aroma, kualitas permukaan, suara bahkan rasa makanannya. Tanpa sadar, secara personal, identitas-tempat terbentuk dalam diri kita. Identitas tersebut membuat kita mampu membedakan kualitas tempat-tempat yang berbeda. Perbedaan tidak hanya pada bentuk fisik yang visual saja, tetapi juga perbedaan yang dirasakan oleh indera kita yang lain. Lalu kita mengidentifikasi diri kita sebagai bagian dari suatu tempat dan bukan bagian dari tempat yang lain. Kita lalu bisa berkata ‘saya orang Ubud, bukan Nak Badung’. Saat berkata demikian, tanpa sadar kita menyatakan bahwa kita familiar, dekat dengan atau menjadi bagian dari tempat yang kita sebutkan. Dengan menyadari perbedaan-perbedaan kualitas, kita lalu merasa terpengaruh oleh tempat-tempat. Perilaku kita juga, bisa jadi terpengaruh.

Tidak hanya oleh pengalaman serta memory personal, identitas-tempat juga dikonstruksi secara social. Saya masih ingat saat dimarahi oleh orang tua karena menangkap ikan di kolam yang dianggap suci. Kolam tersebut mendapat air dari mata air dari pancuran suci. Di tengahnya terdapat semacam pulau kecil dengan pura yang halamannya selalu becek. Tidak ada anak-anak yang berani kesana sendirian. Masyarakat mensakralkannya. Entah benar atau tidak, ada banyak takhayul beredar tentang kawasan tersebut. Air dari pancuran dipakai untuk membuat tirtha. Secara kolektif masyarakat membentuk identitas kawasan tersebut sebagai tempat yang angker, membuatnya terlindung sekaligus terjaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Pada kasus lain, sebuah pura yang dibangun secara gotong royong dari awal hingga berdiri juga memiliki identitas yang terkonstruksi secara social. Masyarakat pembuatnya menyimpan memori bagaimana lokasi pura dibersihkan, bagaimana proses pengumpulan dan pengangkutan batu, menyusunnya satu demi satu hingga mengukir dan mengupacarainya. Memori ini kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Pura di desa saya, saya dengar, dibangun antara lain oleh kakek saya. Konstruksi social membentuk ‘emotional-attachment.’ Di desa saya, untuk membentuk kembali memori kolektif, banyak diselenggarakan festival dan acara komunal, salah satunya festival rurung. Dalam even ini, para pematung membuat karya instalasi secara keroyokan, dikelilingi oleh para penjual makanan traditional. Sore harinya, anak-anak diajak berkumpul dan bermain bersama. Kegitan-kegiatan semacam ini diharapkan akan memperkuat memory kolektif, menambah rasa ‘feeling at home’ serta rasa memiliki. Pada gilirannya, kegiatan semacam akan meninggikan derajat kepedulian terhadap lingkungan, memperkuat rasa ‘satu’. Dengan demikian identitas-tempat yang kuat mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis manusia, baik secara personal maupun kolektif.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tempat-tempat yang memiliki identitas yang kuat menarik wisatawan
  1. Identitas-tempat dan ekonomi

Semenjak merebaknya industri pariwisata, identitas-tempat menjadi penting. Semua mungkin tahu hotel Bali Beach tetapi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pembangunannya sangat terkait dengan tarik-ulur penciptaan identitas-tempat. Pada awal kemerdekaan, konon Presiden Sukarno ingin membangun identitas baru bagi Indonesia. Identitas yang lepas dari kungkungan kolonialisme, tetapi mencerminkan kehidupan yang maju, modern. Tata ruang dan arsitektur menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan tersebut. Di Jakarta, tata kota dan desain urban dibangun untuk mencerminkan tingkat kemajuan bangsa Indonesia. Bahwa Indonesia tidak kalah oleh bangsa lain. Untuk mengenalkan budaya dan identitas bangsa, Bali, pada waktu itu, menjadi garda depan karena sudah terlanjur dikenal lewat promosi turisme kolonial. Dibangunlah Bali Beach. Tetapi rupanya ide modern Sukarno berlawanan dengan ide turisme. Turis mencari tempat-tempat yang authentic yang berbeda dengan tempat asal si turis. Dengan kata lain, tempat-tempat yang memiliki identitas yang berbeda dengan muasal si pengunjung. Ide Sukarno lalu diseimbangkan oleh sekelompok ekspatriat dengan mengembangkan gaya Bali Style. Kelompok ini pada dasawarsa 70-an dan 80-an menjadi garda depan yang berperan pada pembangunan pariwisata dengan mewujudkan bangunan-bangunan bertema traditional. Semnagat yang sama lalu menular kepada generasi arsitek local. Dimotori oleh Robi Sularto lalu menular hingga kini ke Popo Danes, Ketut Arthana, Ketut Siandana, dan lain-lain. Lalu study SCETO yang terbit tahun 1972 mengukuhkan bahwa identitas Bali harus dijaga. Direkomendasikan agar pembangunan wisata dilakukan dengan hati-hati hanya pada kawasan tertentu saja. Identitas tempat yang kuat juga mengandung nilai ekonomi, dalam hal ini pariwisata.

P3031012.JPG
Memori kolektif yang lahir dari aktivitas sosial
  1. Identitas-tempat dan politik

Identitas-tempat juga mengundang perdebatan politik. Kita terpapar berita soal dihancurkannya simbol-simbol politik oleh sekelompok orang agar identitas suatu tempat hilang dan dapat dibangun identitas baru yang melambangkan kelompoknya.

Beberapa tahun yang lalu, bahkan sampai sekarang, banyak berita beredar soal penghancuran situs-situs bersejarah oleh kelompok teroris. Salah satu tujuannya adalah untuk menghancurkan pesan social, rasa persatuan, serta memory kolektif masyarakat. Hal yang serupa juga terjadi pada awal abad ke 20 saat Belanda datang ke Denpasar. Perempatan agung yang ada di depan Puri Denpasar digantikan dengan jam lonceng. Puri Denpasar dan Puri Pemecutan, symbol kekuasaan dan kekuatan tradisional dihancurkan. Hasilnya? Masyarakt untuk beberapa saat kehilangan ‘rasa’ setempatnya. Dalam salah satu wawancara saya dengan tokoh adat, konon pada masa itu masyarakat kebingungan. Puri sebagai simbol pemersatu telah jatuh. Upacara-upacara yang menjadi reservoir memori kolektif terancam tidak bisa dilaksanakan. Secara fisik, lingkungan juga sudah berubah. Kawasan sekitar puri, yang dahulu disakralkan digantikan oleh permukiman masyarakat Belanda

Dalam kondisi rasa kehilangan, masyarakat mengkonsolidasi kekuatan tradisionalnya. Beberapa banjar lalu membentuk embrio Desa Adat Denpasar. Tugasnya antara lain untuk menjaga memori-kolektif dengan cara meneruskan upacara, menjaga situs-situs traditional pura dan juga mempertahankan aktivitas social. Dengan kata lain, untuk menjaga kesinambungan memori-kolektif masyarakat. Dengan demikian, identitas masyarakat Denpasar diharapkan akan tetap terjaga.

Pemerintah colonial sepertinya sempat merasa menyesal telah menghancurkan Puri Denpasar dan membangun bangunan dengan bentuk yang berbeda di lokasi tersebut. Sebagai gantinya, mereka lalu merekonstruksi beberapa bangunan puri dan mewujudkannya sebagai Museum Bali. Undagi-undagi kerajaan diundang untuk berpartisipasi dalam membangun candi bentar, bale kulkul dan gerbang kori yang ada di Museum Bali. Pembangunan ini nampaknya juga berkaitan dengan politik etis yang merebak sejak akhir abad ke 19. Politik yang menganjurkan agar pemerintah colonial tidak lagi memandang wilayah jajahan sebagai yang ‘inferior’.

  1. Tantangan Identitas-tempat di masa kini

Jarang disadari, memori kolektif dan identitas-tempat yang terbentuk olehnya mempengaruhi banyak sendi kehidupan kita. Karena jarang disadari, kita juga menjadi kurang perduli. Kekurangperdulian kita mengundang banyak aksi belakangan ini, terutama setelah banyak model bangunan, aktivitas, serta perkembangan teknologi terbaru muncul di masyarakat.

Sebagian dari kita mungkin merasa miris dengan model pembangunan pura dengan cara renovasi yang marak menjelang tahun politik.

Sebagian masyarakat resah dengan berkurangnya ruang publik tempat memori-kolektif dibangun yang membuat masyarakat semakin individualis.

Dalam hal teknologi terkini, anak-anak terpapar dengan gadget. Mereka kurang berinterksi dengan temannya dan juga dengan lingkungan fisik di sekitarnya. Memori-kolektif anak anak terbentuk tidak melalui interaksi langsung dengan ruang fisik tetapi virtual. Mereka lebih mengenal istilah-istilah ruang seperti cyberspace, situs online, yang kesemuanya terhubung secara virtual. Tidak banyak lagi yang kenal serta memiliki memori tentang legon, labak, beji, tangluk, uma, bet, serta istilah-istilah lain yang memiliki makna nyata.

  1. Apa yang bisa dilakukan?

Kemajuan tidak bisa dicegah dan perubahan adalah hal yang abadi. Akan tetapi, jika kita masih menganggap bahwa identitas-tempat sebagai hal yang berguna, alternative perlu dicari. Alternative dimana perubahan yang terjadi tidak mereduksi value yang dimiliki oleh tempat-tempat yang membentuk identitas kita. Alternative baru dimana perubahan tidak menggantikan tetapi memperkaya pengalaman yang sudah ada. Sebagai bahan diskusi, berikut beberapa stimulant yang bisa kita lakukan dalam menyusun alternative perubahan.

 

Menjaga artefact yang menjadi reservoir memory

Menjaga dan memutakhirkan cara membangun tradisional

Memperbanyak aktivitas kolektif

Menjaga lingkungan yang menyediakan bahan bangunan, makanan, ruang, dst.

Kembali melihat ke sekitar, apa yang disediakan oleh lingkungan dalam hal: naungan, makanan, memory, dst.

Social-media, Aktualisasi Diri dan Tata Ruang Kita

1530038wisata-kelimutu780x390
Wisata alam. Sumber travel.kompas

Di Indonesia liburan panjang telah usai dan hari-hari kerja sudah menanti di depan mata. Tentu ada banyak cerita dan pengalaman liburan yang bisa dikenang dan diceritakan bagi rekan sekantor atau teman sekolah. Cerita ini bisa menstimulasi orang yang diceritakan untuk tertarik berkunjung ke tempat yang dikisahkan. Wisata memang salah satunya bertujuan untuk memberi pengalaman baru yang berbeda dibandingkan dengan pengalaman yang kita lewati dalam keseharian. Tujuan berwisata sendiri adalah untuk lepas dari keseharian yang seringkali membuat jenuh. Artinya wisata adalah untuk kebutuhan diri sendiri. Namun ada satu lagi tujuan wisata yang nampaknya berkembang belakangan ini yaitu sebagai sarana aktualisasi diri. Bukan lagi untuk kepentingan diri sendiri secara personal tetapi untuk menunjukkan siapa diri kita di tengah masyarakat. Tentang membentuk dan menciptakan identitas, tentang kualitas yang membuat kita terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan anggota masyarakat lain atau teman-teman.

Karena ingin terlihat ‘berbeda’ atau ‘setara’, maka ada dua trend menarik. Sebagai sarana aktualisasi diri, agar menjadi ‘berbeda’ maka tempat-tempat yang unik yang belum pernah dikunjungi atau diliat oleh teman-teman atau masyarakat di sekitar kita menjadi tujuan. Tempat-tempat ini bisa jadi berupa pegunungan, danau atau laut dengan pasir putihnya atau bisa juga berupa kota kecil dengan suasana unik, bangunan megah, jembatan atau taman wisata air. Atau bisa juga restaurant yang menjual makanan khusus, villa atau kolam renang , dengan desain unik, terletak di kawasan yang dianggap keren. Pendek kata, bisa berupa wilayah alami atau obyek buatan manusia. Dengan dunia internet yang mewabah, tidaklah sulit untuk mencari tempat-tempat tadi. Berikutnya, saat ingin terlihat ‘setara’ menjadi bagian dari golongan tertentu, maka kita cenderung mencari tempat-tempat yang sudah pernah dikunjungi oleh teman-teman kita sebelumnya. Bisa jadi kita mengetahui seorang kawan berkunjung ke Paris atau melihatnya di tepian tebing di Nusa Penida lalu kita ingin berkunjung kesana. Atau ada kawan yang berkunjung dan berpose di depan patung singa di Singapore dan membuat kita ingin mengulangi pengalaman si teman tadi. Kecenderungan yang kedua ini biasanya dipicu oleh  keinginan agar dilihat ‘setara’ sehingga tempat yang pernah dikunjungi oleh orang ‘top’ menjadi primadona. Kita ingin mengunjungi tempat yang pernah dijajaki oleh entah itu artis, politisi atau teman kita yang memiliki status social lebih tinggi, misalnya.

Lalu bagaimana menjadi ‘berbeda’ atau menjadi ‘setara’ ini bisa dijadikan alat aktualisasi diri? Disinilah peranan social-media menjadi penting. Sesaat kita mengunjungi tempat unik, entah karena ‘perbedaan’ atau ‘persamaan’ maka segera pula dalam beberapa saat fotonya akan terpampang di laman social-media kita. Kadang berlomba-lomba untuk lebih dulu memposting agar tidak didahului oleh rekan lain. Karena jika didahului, maka berkurang pula makna ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ yang ingin dicapai. Facebook nampaknya paham betul dengan perilaku semacam ini. Fitur ‘live’ kini kian populer dipergunakan. Dengan fitur ini pengalaman yang diperoleh bisa di-post secara real time. Dengan postingan real time, tujuan agar terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan yang lain bisa segara ditunjukkan. Unsur kecepatan menjadi kunci disini. Semakin cepat pengalaman baru tersebut di-posting, maka semakin cepat pula aktualisasi diri diperoleh. Dalam upaya menjadi ‘berbeda’ dan ‘setara’ ini, kita dihujani oleh berbagai macam image tentang tempat-tempat unik dan tempat-tempat baru, ruang-ruang dimana aktualisasi diri dibentuk. Lalu apa implikasinya bagi perencanaan dan penataan ruang?

hipwee-IMG_20161227_114638_217
Pelataran foto di atas jurang. Sumber hipwee.com

Tempat-tempat alami tentu saja sudah tersedia untuk dikunjungi. Tebing-tebing, danau, jurang yang hijau dan sebagainya sudah ada dan tinggal di’temu’kan dan dikunjungi. Tempat-tempat buatan harus diciptakan. Lalu kita akan jamak menjumpai di social-media teman-teman atau kerabat berpose di pelataran kayu di tepi jurang, berpose di ayunan di tengah laut, atau di restaurant dengan nuansa tertentu. Perancang dan desainer dituntut untuk terus mencari atau menciptakan ide-ide baru. Ide-ide untuk membuat tempat yang bisa dijadikan sebagai ajang ‘aktualisasi diri’ yang akan membuat orang merasa ‘berbeda’ atau ‘setara’ dengan yang lain. Jika dahulu tempat wisata terpusat pada satu atau dua titik saja, kini tempat-tempat wisata bisa kita jumpai di berbagai titik dan wilayah. Bahkan wilayah yang jauh di pelosok-pelosok karena keinginan untuk terlihat ‘berbeda’. Karena wisata tidak terlepas dari faktor ekonomi, pergerakan ekonomi pun mejadi lebih tersebar dalam skala luas. Skala dan kecepatan perubahan menjadi sangat masif. Akan tetapi hal ini berimplikasi pada penataan ruang.

Rencana penataan ruang adalah sebuah rencana jangka panjang, sementara kecepatan pembangunan di lapangan saat ini sangat tinggi berorientasi keuntungan jangka pendek. Terjadi ketimpangan disini. Para investor dan perancang dipaksa untuk terus bekerja keras memikirkan dan melahirkan konsep-konsep unik untuk segera balik modal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ruang-ruang terpencil dieksplorasi sebagai wadah mencipta tempat wisata baru. Arus transportasi dan pergerakan kendaraan kini semakin sulit diprediksi. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pakar transportasi. Laju alih fungsi lahan akan semakin kencang karena tempat-tempat unik dengan segera akan melahirkan pusat ekonomi baru yang membutuhkan lahan. Pemikiran konsep unik ini ujung-ujungnya akan berakhir di titik yang sama seragam. Kita melihat dimana-mana ada pelataran kayu di tepi jurang, ayunan di atas danau, restaurant yang dahulu terasa unik kini di-copy dimana-mana. Restaurant ikan bakar khas Jimbaran bisa dijumpai di tengah sawah di Ubud. Orang  dengan cepat akan bosan dengan tempat yang sudah berkali-kali di post di social media. Tempat-tempat yang awalnya ‘unik’ menjadi biasa-biasa saja. Sebentar lagi pelataran-pelataran kayu di atas tebing akan kehabisan daya tariknya dan digantikan oleh trend baru. Ayunan di tengah laut juga tidak lama lagi akan kehilangan daya pikat. Lalu akan ada lagi trend-trend baru yang melahirkan mobilitas penduduk baru, alih fungsi baru dengan kecepatan dan skala yang semakin tinggi dan luas. Pencarian akan ‘kebaruan’ dan ‘keunikan’ akan kembali berakhir pada kesamaan karena duplikasi akan kembali terjadi. Pada akhirnya akan melahirkan persoalan tata ruang baru.

Tidak mudah mengantisipasi trend semacam ini. Trend dimana segala sesuatu diukur dari kemampuannya untuk menyajikan hal unik sebagai ajang aktualisasi diri. Jika aktualisasi diri dengan konsep menemukan ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ memang menjadi motivasi, maka ada baiknya kita berhenti sejenak, atau setidaknya melambatkan laju.

hipwee-Kebun-Teh-Nglinggo-640x426
Ayunan iconic berwarna mencolok. Sumber hipwee.com

Jauh sebelum segala sesuatunya terlihat sama, manusia sesungguhnya hidup di tempat-tempat yang berbeda-beda. Pengaruh geografis, pengetahuan serta material lokal, keunggulan spesifik suatu lokasi di masa lampau menghasilkan tempat-tempat yang unik. Tidak ada satu desa pun di Bali yang memiliki kesamaan attribut dengan desa lain, misalnya. Atau tidak ada dua pura yang dibangun sama persis. Bahkan rumah-rumah tradisional yang konon dibuat dengan tatanan yang sama, Hasta Kosala-kosali, pun selalu memiliki sisi keunikannya sendiri. Jika kita mengurangi sedikit kecepatan maka keunikan justru dapat digali dari pengetahuan setempat. Bukan dengan cara meng-copy dari tempat lain tetapi melahirkan konsep baru dari pengetahuan setempat. Memberi makna dan nilai baru pada ilmu yang tumbuh dan berkembang di suatu wilayah sebelum adanya pengaruh luar. Authenticity adalah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan hal ini. Tentu saja upaya semacam ini jangan diartikan bahwa kita menolak kemajuan, menolak pengetahuan luar atau hanya sebagai upaya nostalgia. Upaya ini adalah untuk mengembalikan pengetahuan unik dan menyandingkannya dengan pengetahuan baru, ide-ide dari luar, sekaligus mem-perbaharu-inya secara konstan. Dari penyandingan ini akan bisa digali ‘keunikan’ serta saya yakin akan kita temukan ‘kesetaraan’  jika proses ini dilakukan secara konstan. Lembaga pendidikan arsitektur dan desain semestinya berada di garda terdepan dalam hal ini. Di lain pihak, rencana tata ruang kita mestinya bisa mengantisipasi dan membaca fenomena soal kecepatan perubahan ini, memprediksi peran soal social-media dan penyebaran arus informasi yang kini berlangsung real time.

Isle of Wight dan Gerakan Kota Lambat

P8200125.JPG

Menapaki jalan-jalan pusat permukiman West dan East Cowes di Isle of Wight mengingatkan saya pada tulisan Paul L. Knox tentang Slow City Movement. Ya kota-kota yang sengaja memperlambat laju pertumbuhannya untuk memberi kesempatan penduduk, kota itu sendiri serta alam lingkungan di sekitarnya  untuk bernafas di tengah hingar bingar serta perlombaan mengejar kemajuan yang menjadi ciri-ciri kota modern. Globalisasi, demikian istilah yang sering kita dengar, telah memacu kota-kota utama dunia untuk mengejar pertumbuhan di segala bidang. Dengan adanya kemajuan teknologi transportasi dan informasi, pergerakan barang, jasa, dan, terutama, capital menjadi tanpa batas alias bebas dari sekat sekat geografis. Pemilik modal di kawasan A bisa dengan mudah mempengaruhi wajah kota di kawasan B dengan kekuatan capital yang dimilikinya. Demikian pula barang-barang produksi di wilayah satu bisa dengan mudah ditemui di wilayah lain yang letaknya bersebarangan secara geografis. Pergerakan modal, barang dan juga manusia memacu kota-kota yang memiliki daya tarik serta menawarkan janji keuntungan ekonomis tinggi menjadi sasaran tujuan. Adanya modal, barang serta tenaga kerja dari berbagai belahan di satu lokasi membuat pertumbuhan kota tersebut menjadi lebih pesat. Dalam banyak kasus, kota-kota yang berkeinginan untuk memacu pertumbuhannya lalu berupaya me ‘marketing’ kan dirinya guna menarik lebih banyak lagi investasi serta barang dan jasa guna mengejar kemajuan tadi. Karena banyak kota-kota menempuh strategi serupa, maka pertumbuhan kota menjadi seragam, wajah kota menjadi serupa dan mirip: ditandai dengan bermunculannya shopping mall, gerai makanan cepat saji, toko berjaringan, pom bensin untuk menunjang laju kendaraan, serta toko-toko merk pakaian yang sama di seluruh belahan dunia. Perkembangan yang pada akhirnya dikhawatirkan memberi dampak pada keseragaman wajah kota yang sama serupa, menghapus jejak-jejak makna masa lalu, serta pada akhirnya menjadikan kota tanpa jiwa.

Dalam gerakan yang disebut Slow City Movement, kota dibangun dengan prinsip sebaliknya. Toko-toko dan restaurant menjual makanan dan minuman yang dihasilkan dari lahan pertanian lokal, diolah oleh koki setempat berdasarkan resep yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang. Pun halnya dengan  bangunan yang dikonstruksi dengan material yang diperoleh dari lingkungan sekitar: batu alam setempat, kayu yang ditebang dari hutan di pinggiran kota atau bukit di tengah pulau serta dibangun oleh pekerja setempat dengan teknik yang dikuasai secara tradisional. Kota semacam ini, tentu saja akan berjalan lebih lambat karena harus membangun dengan modal yang dimiliki sendiri, yang jumlahanya terbatas, tanpa intervensi modal atau aktor luar. Kota yang tumbuh berkembang atas kemampuannya mengelola sumberdaya secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat lokal.

P8200263.JPG

Kapal ferry yang saya tumpangi melambatkan lajunya sebelum dengan tenang menyentuh bibir dermaga di pelabuhan East Cowes di Isle of Wight yang berjarak tempuh lebih kurang satu jam dari Southampton.  Beberapa menit kemudian pintu kapal terbuka dan kami melangkahkan kaki menapaki pulau di ujung selatan Inggris Raya ini disambut senyum hangat Pak Wayan Gunawan. Sudah belasan tahun tinggal di pulau ini, pak Wayan adalah WNI insinyur mesin yang bekerja di industry pesawat terbang dan workshopnya terdapat di pulau kecil diselimuti hutan di bagian tengahnya ini. Seperti saya sampaikan di awal tulisan tadi, tidak nampak bangunan modern yang menjulang ataupun berkilau dibungkus kaca. Kondisi ini kontras dengan imaji sebagian besar orang tentang kota-kota di barat yang serba modern. Jalan setapak batu alam, bangunan dengan rangka kayu beratap genteng tradisional serta dermaga kayu. Sedikit jejak-jejak pengaruh arsitektur klasik  nampak pada balustrade yang membatasi kawasan jalan setapak dengan tepian air.

Terdapat beberapa pusat permukiman di pulau yang tidak seberapa luas ini dan sebagian besar terletak di tepian pantai berhadapan dengan laut. Pantai-pantai karang berbatu kemungkinan menjadi sumber bahan alam untuk pembuatan dinding serta pondasi bangunan. Sementara di bagian tengah pulau, hutan-hutan hijau gelap mendominasi lansekap. Saya menduga kayu-kayu yang dihasilkan dari wilayah perbukitan inilah yang menjadi pemasok bahan konstruksi. Perpaduan antara batu alam dan kayu menjadi bahan bangunan menciptakan karakter lokal yang kental pada arsitektur permukiman penduduk.  Di bagian tengah pulau di hulu sebuah sungai yang sekaligus menjadi salah satu jalur transportasi utama, pusat kotanya berukuran kompak tidak terlalu besar, barangkali seluruh bagiannya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Semua kota-kota di tepi pantai terhubung dengan pusat kota ini melalui jalur transportasi umum.

P8210403.JPG

‘Seluruh bagian dari pulau ini adalah kota wisata’, demikian Pak Wayan bercerita saat kami menikmati makan siang gratis hasil masakan Ibu Wayan yang lezat. Bagian tepiannya, jika tidak berpantai landai yang asyik untuk berjemur, memiliki pemandangan yang dramatis: tebing-tebing karang eksotis yang bagian bawahnya digempur ombak bertalu-talu. Bagi penggemar hiking atau jogging maka dipastikan akan menyukai jalur-jalur menantang melewati pantai, hutan, ladang pertanian yang luas atau melewati menara suar kuno yang berdiri gagah melawan angin. Arsitektur bangunan penduduk aslinya di abadikan dalam sebuah kawasan desa mini. Bangunan-bangunan tradisional dibuat dalam bentuk model berskala dalam kawasan seluas lebih kurang satu hektar. Jika tidak sempat berkeliling pulau, maka cukuplah bisa menikmati arsitekturnya di tempat ini.

P8210463.JPG

Pariwisata menjadi salah satu andalan pendapatan penduduknya. Kedai-kedai makanan yang menyajikan masakan local, kedai es krim yang juga buatan lokal serta jangan lupa mencicipi wine langsung dari tempat pembuatannya sembari melihat proses produksinya. Ke-setempat-an atau lokalitas menjadi hidangan utama bagi siapa saja yang berkunjung kesini. Ramainya kunjungan wisatawan tidak merusak lingkungan alamnya justru menjadi penopang utama usaha pertanian penduduk. Lihat saja madu-madu yang dihasilkan dari hutan yang terjaga lestari menjadi oleh-oleh yang bernilai. Kemajuan wisata, kelestarian alam, serta kemampuan untuk tetap bersahabat dengan lingkungan guna menopang perekonomian lokal menjadi salah satu tujuan yang disepakati oleh kota-kota yang tergabung dalam gerakan Slow City Movement yang lahir di Italia. Cara kerja gerakan yang hadir sebagai antithesis dari globalisasi kapital ini bisa disaksikan di Isle of Wight.

P8210438.JPG

 

Kemajuan dan Keaslian: Dualisme Semu Arsitektur Bali Hari Ini?

Dalam beberapa bulan terakhir ini ada banyak postingan tentang karya-karya desain rekan-rekan arsitek yang mampir di wall. Postingan yang paling popular tentu saja berasal dari rekan-rekan arsitek muda dan juga beberapa mantan mahasiswa yang sudah memulai eksis di dunia desain dan konstruksi. Ada dua jenis desain yang menjadi perhatian saya yaitu: perumahan dan berbagai jenis turunannya, serta fasilitas pariwisata, termasuk hotel, villa, restaurant dan sejenisnya. Baik rumah maupun akomodasi wisata, keduanya menjadi proyek yang digemari karena, dianggap, memberi peluang eksplorasi desain dibandingkan perkantoran misalnya.

8

Gambar arsitektur jaman baru

Dari segi desain perbedaan-perbedaan kedua fasilitas tersebut sangat kontras. Desain rumah dan turunannya berbentuk kotak-kotak polos yang dipersepsikan sebagai minimalis sementara berlawanan dengan yang pertama, desain fasilitas wisata nampak lebih rumit menggabungkan beberapa elemen mulai dari lansekap, interior yang mendukung bentuk utama mengacu pada apa yang dipersepsikan sebagai arsitektur tradisional. Jika pada desain fasilitas yang disebut duluan ada upaya keras untuk terlihat modern, bergaya impor dan diasosiasikan dengan kemajuan, sebaliknya pada desain fasilitas yang disebut belakangan, ada satu tema yang menjadi benang merah yaitu upaya untuk tampil lokal. Perbedaan pada penggunanya sangat jelas. Jika pada fasilitas yang modern tadi digemari oleh penduduk setempat, yang tradisional popular di kalangan wisatawan.

Berakar, mungkin, di tahun 1950an dan 1960 an saat Indonesia baru merdeka dan ada harapan yang membuncah tentang masa depan yang gemilang. Bung Karno pada masa itu konon berpidato soal kedaulatan serta kemajuan yang akan disongsong di masa depan. Secara fisik, nampaknya kemajuan dilakukan dengan menyaingi yang barat. Masa itu pula dunia pulih dari perang dunia yang menyisakan trauma dan turisme sebagai bisnis mulai berkembang. Keinginan dunia barat untuk mencari sesuatu yang eksotis, keinginan mengulangi petualangan Magelhaens, Marco polo dll sebagaimana ditulis di buku-buku kian menggebu-gebu setelah dunia berangsur pulih dari peperangan. Perbedaan antara keinginan mengejar kemajuan dan keinginan untuk mengunjungi yang asli, menciptakan dua kutub bertolak belakang.

Dalam rangka mengejar kamajuan, banyak proyek yang dibuat oleh presiden pertama. Gaya arsitekturnya? Tentu segala sesuatu yang mencirikan atau setidaknya mengesankan kemajuan sebagaimana yang terjadi di dunia barat. Berbagai proyek mercusuar di Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno, Gedung DPR/MPR, tugu Monas yang semua dibanguan dengan arsitektur modern, adalah tinggalan dari masa ini. Di Bali, bangunan putih menjulang sepuluh lantai, Bali Beach Hotel, di Sanur menjadi artefak yang paling monumental. Dalam upaya mengejar kemajuan, banyak ide-ide yang berasal dari negara luar masuk. Imaji bahwa kemajuan adalah segala sesuatu yang berasal dari barat mungkin merupakan warisan dari masa penjajahan. Anggapan di kalangan penjajah bahwa yang local, yang timur adalah perlambang ketertinggalan, inlander, kumuh, dan seterusnya. Imaji-imaji ini tergambar dari tulisan-tulisan awal pelancong yang datang ke Bali. Saat Indonesia merdeka, upaya mengejar kemajuan ini sepertinya diterjemahkan sebagai mengejar sesuatu yang barat meniru apa yang tumbuh dan berkembang di dunia asal penjajah.

 

Lain soal dari sudut pandang turisme yang mencari eksotisme. Tulisan dari pelancong awal lain justru menggambarkan yang timur adalah yang eksotis, bersahaja dan mengundang penasaran.  Saat bangunan Bali Hotel yang modern dan kontras dengan bangunan setempat, maka golongan yang kedua ini berteriak keras. Bangunan ini, jika ditiru oleh bangunan-bangunan lain, dikhawatirkan akan membawa dampak yang kurang baik bagi pengembangan wisata dimana eksotisme dan ke’asli’an tempat adalah komoditas utamanya. Gelombang ‘perlawanan’ dimulai dengan mulai bermunculannya bangunan fasilitas wisata yang berupaya selaras dengan arsitektur yang local. Bentuk-bentuk dasar arsitektur tradisional dijadikan acuan untuk membangun fasilitas guna menampung fungai baru.

Dua aliran, antara yang ingin mengejar kemajuan dengan meniru yang barat serta yang ingin mempertahankan keaslian dengan cara meniru yang lokal, terjadi hingga kini. Rumah-rumah untuk masyarakat local dibuat dengan gaya yang semakin menjauhi arsitektur tradisional. Beton, kaca, dinding bata diplester dengan lapisan warna-warna mencolok membuat bangunan baru kontras dengan lingkungan di sekitarnya yang masih didominasi oleh bangunan tradisional. Seolah berlomba, setiap bangunan bersaing untuk menjadi yang paling modern dan paling up to date. Tidak ada acuan pasti atau panutan yang dominan. Gaya-gaya baru ini sangat dipengaruhi trend yang dibawa oleh media. Saya ingat tahun 90-an trend mediterania dengan jendela lengkung menjadi kelatahan, lalu bergeser ke kubisme dengan plat beton mini tanpa fungsi di atas jendela. Trend terus bergerak dan, besar kemungkinan, mempengaruhi selera pasar masyarakat lokal.

Di pihak lawannya, fasilitas turisme, juga terjadi perlombaan sejenis. Desain-desain kini mengejar persepsi keaslian. Dalam upaya ini, di pasaran saat ini tersedia alang-alang buatan, batu alam buatan, dan material tiruan lainnya namun nampaknya kurang begitu laku. Justru bambu, kayu, batu alam dan material lokal lainnya banyak dipakai. Karena dipakai untuk bangunan hotel dalam skala besar. Material ini semakin sulit dicari sehingga lalu muncul kesan mahal. Bangunan-bangunan ini umumnya dibangun oleh investor besar dan berlokasi di tempat-tempat yang eksotis, pinggir pantai, tepian sawah, di sekitar pegunungan dan lokasi lainnya dihuni oleh para pelancong manca negara kaya raya. Wisatawanmenganggap lokasi itu adalah representasi dari keaslian, sementara bagi warga local hidup di kota adalah representasi dari modernitas. Di kota semakin lumrah bangunan minimalis yang bisa dijumpai sepanjang jalan jalan utama.

07

Proposal Matahari Hotel oleh Peter Muller berupaya meng-kloning sebuah desa di Bali sebagai antithesis desain modern Bali Beach Hotel

Kekhawatiran bahwa lokalitas arsitektur Bali akan memudar sudah lama didengungkan. Setelah berdirinya Bali Beach di tahun 1960-an, peraturan daerah yang ditujukan untuk mengembalikan filosofi arsitektur traditional dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali kala itu. Di dalamnya di atur soal ketinggian bangunan, gaya-gaya dan bentuk-bentuk tradisional Bali, dan hal hal fisik lainnya. Peraturan ini kemudian, dengan semangat yang sama seperti di tahun 1970-an, direvisi menjadi Perda no 5 tahun 2005.

Kini peraturan tersebut ada dalam dilema. Di satu sisi, dalam sebuah acara seminar, seorang arsitek senior berteriak tentang dimensi temporal, kese-jaman-an dari peraturan ini yang sulit diterapkan sehingga berpotensi akan gagal. Di sisi lain, seolah menjadi alat legitimasi baru bagi lahirnya arsitektur dengan ornament tempelan. Karena bangunan yang sudah ditempeli ukiran Bali, dengan murda atau ikut cledu ternyata jika di uji dengan perda ini bisa lolos dalam kategori arsitektur Bali, meskipun harus mengorbankan arah orientasi yang berpotensi menghambat gerakan udara, serba tertutup sehingga perlu penghawaan buatan, atau berbentuk kotak polos dengan warna mencolok.

Bagi yang kuliah di bangku arsitektur barangkali sering mendengar bahwa tidak ada salah benar dalam berekspresi. Desain adalah pilihan, dimana setiap alternative membawa konsekuensinya masing-masing. Lalu jika keinginan untuk mengejar kemajuan (dimensi temporal kekinian) dank e-setempat-an atau lokalitas (dimensi geografis) hendak dipadukan pilihan apa yang sebaiknya diambil? Tentu saja aka nada banyak kompromi. Yang pertama dalam persoalan temporal adalah yang menyangkut budaya berhuni. Masyarakat Bali umumnya masih memeluk ajaran leluhur dengan taat, namun tidak menolak nilai-nilai baru yang telah ber-akulturasi menjadi bagian dari kehidupan di masa kini. Perpaduan antara nilai yang diwarisi dan nilai baru ini layak dijadikan sebagai pertimbangan dimensi temporal tanpa harus meniru setengah mati gaya hidup lampau atau berusaha keras mengkloning gaya hidup barat. Dari dimensi geografis, Bali merupakan wilayah yang rentan gempa dengan keberadaan gunung api serta berada dalam lempeng Sunda Arc. Disamping itu, kondisi tropis dimana angina bergerak dari arah tertentu, bulan hujan dan bulan kering, serta arah jatuhnya matahari bisa dijadikan pertimbangan dalam menentukan orientasi bangunan, bentuk atap dan teritisan, penghawaan buatan dan seterusnya. Pilihan ini, menurut saya, bisa diambil jika ingin berdamai dengan dimensi temporal dan dimensi geografis.

Resensi: Indonesia Design and Culture

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-7

Saya tidak banyak menemukan buku-buku berkategori sebagai coffee table book yang dibuat berdasarkan riset mendalam. Hal ini wajar saja, karena buku-buku yang ditujukan sebagai teman minum kopi atau teh di sore hari tidaklah harus yang berat dan penuh teori serta bisa merusak suasana santai. Daya jual utama buku-buku semacam ini, pada umumnya, ditekankan pada keindahan visual serta penampilan luks dengan pemilihan objek yang baik. Ada puluhan, atau mungkin ratusan, buku semacam ini tersedia luas di toko-toko buku di bandara-bandara, mall atau pusat keramaian lainnya. Dilihat dari tempat menjualnya pun membuat saya mafhum bahwa buku ini memang bersifat menemani kita sembari menunggu penerbangan atau menemani sambil ngopi di mall atau menghabiskan waktu luang di pusat keramaian. Dari sedikit buku coffee table, yang menurut saya, bagus tadi adalah yang berjudul: Indonesia Design and Culture karya Clifford Pearson dan Photografer Bryan Whitney.

Indonesia, sebagai sebuah negara kepulauan, sangat sulit jika tidak bisa dibilang mustahil untuk diungkapkan dalam satu buku yang komprehensif. Disamping terpisahkan oleh perairan, banyak hal lain yang menyebabkan wilayah di antara dua samudera ini demikian kaya dengan keragaman. Setidaknya terdapat antara 13.000 hingga 17.000 pulau (tergantung referensi mana yang dipakai dan pasang surutnya air laut), penduduknya berkelompok dalam ratusan etnisitas yang berbicara dalam lebih dari 400 bahasa dengan system kepercayaan, sumber daya alam, serta banyak hal lainnya yang menggambarkan keragaman kawasan ini sebagaimana diakui oleh penulis buku ini.

Keragaman tidak hanya karena letak geografis tetapi juga pengaruh luar yang berbeda beda. Kawasan bagian barat dipengaruhi oleh budaya India, Arab dan China yang berbaur dengan budaya lokal sementara kawasan timur relatif lebih sedikit terpengaruh sampai waktu datangnya pendatang Eropa. Penulis berargumen bahwa ketahanan budaya lokal menyerap budaya-budaya baru, baik dari negara-negara Asia maupun dari Eropa, membentuk budaya unik yang terjadi dari akulturasi budaya tradisional yang sudah mengakar selama ribuan tahun. Kedatangan budaya luar juga tidak terjadi bersamaan melainkan dalam periode yang berbeda-beda membentuk, selain dimensi geografis, dimensi temporal yang rumit.

Dihadapkan pada keragaman yang sedemikan kaya, si penulis buku ini berhasil merumuskan tujuh hal yang menjadi prinsip-prinsip pokok, yang disebutnya sebagai, karakter desain Indonesia. Bagaimanapun juga tujuh karakter ini tentu saja masih bisa didebat. Untuk mengurangi perdebatan, argumentasinya diperkuat dengan pilihan tema yang ditampilkan dalam buku setebal 247 halaman ini. Ketujuh prinsip tersebut adalah: inside out; natural materials; orientation; bold combinations; borrowing from others; embellishment; dan tradition. Menggunakan tujuh prinsip ini, disertai dengan pertimbangan dimensi geografis dan dimensi temporal, beberapa karya arsitektur dan desain ditampilkan dilengkapi pula ulasan budaya lokal.

Dari dimensi geografis, pilihan wilayah yang ditampilkan dikelompokkan ke dalam empat kawasan besar, yaitu : Java; Sumatra; Sulawesi; dan Bali. Di antara empat kelompok geografis ini, Jawa dan Bali mendapat coverage paling banyak dengan masing-masing 7 dan 9 karya dan dengan ulasan kehidupan sosial-budaya masyarakat setempat sebagai pelengkapnya. Dari sisi temporal, variasi yang ditampilkan boleh dibilang cukup luas. Terdapat bangunan tradisional yang diwakili rumah tradisional hingga ke bangunan terkini yang diwakili oleh bangunan villa di berbagai wilayah. Dari dimensi budaya, tentu saja bangunan tradisional menjadi wakil yang murni, sedangkan pengaruh budaya luar tergambarkan dari bangunan baru yang ditampilkan berdampingan dengan yang traditional.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-5

Gambar rumah Arief dan Leila Budiman

Yang, menurut saya, paling menarik dari pilihan proyek yang ditampikan adalah karya-karya yang boleh dibilang tidak familiar tetapi memiliki karakter yang sangat kuat. Wilayah yang dibahas pertama adalah Jawa. Dua proyek pertama merupakan karya dua desainer papan atas: Jaya Ibrahim dan Widayanto. Berlatar belakang seniman, masing-masing melakukan pendekatan yang berbeda dalam rancangannya. Jaya Ibrahim berekcplorasi dengan tema tema tradisional dalam rancangan bangunan kolonial sedangkan Widayanto dengan kepiawaian menggubah bentuk.

Puncak dari rasa tertarik saya pada buku ini ada pada ditampilkannya tiga, diantara banyak, karya terbaik Y.B. Mangunwijaya. Dimulai dari Perkampungan Kali Code, Kompleks Ziarah Sendang Sono dan terakhir adalah rumah Arief dan Leila Budiman. Karya arsitek yang biasa dipanggil Romo Mangun ini kental dengan nuansa ketukangan, craftsmanship, meskipun, secara bentuk sosok, tidak bisa diasosiasikan secara langsung dengan typology traditional tertentu. Nampaknya bangunan-bangunan karya Romo Mangun tidak didikte untuk meniru proporsi atau siluet bangunan tradisional tetapi didasarkan atas tektonika lokal, mengedepankan material lokal terutama kayu dan bambu, menghasilkan bentuk baru. Dengan prinsip-prinsip yang serupa dengan yang diterapkan dalam arsitektur traditional: menggunakan bahan sekitar, menerapkan seni ketukangan setempat, disusun dengan prinsip tektonika sesuai lingkunganya, maka mudah saja bagi bentukan-bentukan ini untuk berbaur menyatu dengan lingkungan sekitarnya seperti yang ditunjukkan oleh rumah keluarga Arief Budiman.

Entah disengaja atau hanya kebetulan, tiga proyek ini menggambarkan kepribadian Romo Mangun yang humanis (permukiman Kali Code), religious (kompleks ziarah Sendang Sono) serta menghormati lingkungan alami (Rumah Arief Budiman).

Sebuah rumah modern, bergaya post-modern, menjadi satu-satunya desain non-indigenous karya Burhan Tjakra. Sekalipun tampil dengan gaya impor, sebagaimana argument bahwa budaya Indonesia memang diperkaya oleh budaya lain, rumah ini tetap menampilkan sebagian dari tujuh prinsip yang dirumuskan oleh si penulis.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-2.jpg

Gambar seni ketukangan tradisional dalam mewujudkan rumah di Sulawesi

Rumah-rumah traditional diwakili dua region besar: Sumatera dan Sulawesi. Dari kedua region besar ini terdapat lima bangunan tradisional yang ditampilkan. Widow’s House, Istana Silinduang Bulan dan Rumah Panjang, semuanya ada di Sumatera, ditampilkan bersama uraian soal pasar tradisional, tata cara bertani serta budaya menjunjung bawaan di kepala yang lumrah ditemui di Sumatera.  Dua karya arsitektur dengan atap spektakuler khas Toraja tampil mewakili wilayah Sulawesi. Yang pertama adalah Sesean Mountain Lodge di Rantepao dan berikutnya adalah rumah-rumah traditional Tongkonan. Gaudenz Domenig pernah mengungkapkan bahwa atap merupakan elemen yang sangat penting dalam bentuk-bentuk arsitektur tradisional di wilayah Pasifik. Bentuk bentuk atap ini, dalam argument Domenig, seringkali menyerupai perahu, tanduk atau bentuk-bentuk yang imajinatif sesuai dengan kepercayaan lokal. Rumah-rumah di Sulawesi dengan bentuk atapnya yang spektakuler, mendominasi keseluruhan proporsi, menggambarkan dengan jelas argumen peneliti asal Austria tersebut.

Bali menjadi kawasan yang diliput paling banyak di dalam buku ini. Ulasan tentang Pulau Bali meliputi kawasan pertanian, kesenian, adu ayam hingga ke budaya kremasi. Diantara ulasan tersebut, beberapa karya arsitektur dibahas secara mendalam. Pergaulan Bali dengan budaya internasional yang mulai intens di akhir tahun 1960-an, sekalipun telah dimulai sejak kehadiran pemerintah colonial Belanda di tahun 1910-an, di cover dengan bahasan proyek-proyek hospitality masa awal turisme hingga masa modern. Proyek turisme tidak bisa dilepaskan dari fasilitas berupa hotel dan penginapan.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-8

Gambar lobby dengan seni ketukangan lokal untuk mengakomodasi fungsi baru: lobby hotel

Di Bali ada ratusan atau mungkin ribuan fasilitas sejenis yang bertebaran tetapi tidak banyak yang melegenda. Diantara yang melegenda itu adalah Tandjung Sari yang merupakan cikal bakal fasilitas yang disebut Boutique Hotel. Pemiliknya Wija Waworuntu belakangan bekerjasama dengan Donald Friend, seorang seniman eksentrik asal Australia, mengembangkan fasilitas lainnya dengan bantuan arsitek legendaris Geoffrey Bawa dari Sri Lanka dan juga Peter Muller dari Australia. Dari lingkaran pertemanan ini melahirkan banyak arsitek penerus yang hari ini berada di garis terdepan desainer arsitektur perhotelan dunia termasuk diantaranya desainer lansekap Michael White yang belakangan dikenal dengan nama Made Wijaya. Sebagian karya yang lahir dari lingkaran pertemanan ini diulas dalam buku ini mewakili Bali. termasuk yang diulas adalah rumah milik Donald Friend yang dibuat oleh Geofrey Bawa, rumah Wija Waworuntu,  dan rumah Walter Spies di Iseh. Dari generasi yang datang setelah generasi awal terdapat Taman Mertasari karya pemiliknya sendiri Made Wijaya, Muller House, Mirah & Carl Burman House dan Jean-Francois Fichot House berlokasi di Ubud. Dari semua karya yang mewakili Bali, ada tarikan nafas design yang serupa. Yang pertama, mereka mengambil inspirasi lokal yang kental baik dari segi bentuk maupun teknik konstruksinya berupa tektonika tahan gempa. Atap alang-alang dominan dipakai di hampir semua proyek. Mengabaikan kelemahannya yang gampang dimakan waktu, alang-alang terbukti membuat ruangan yang dinaunginya menjadi sejuk karena dapat menahan panas matahari sekaligus membiarkan ruangan tetap ‘bernafas’ melalui sela-sela serat alang-alang. Pemakaian elemen-elemen lokal menjadi elemen penting berikutnya dalam desain rumah-rumah tadi membuatnya menyatu dengan rumah atau karya-karya arsitektur di sekitarnya.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-3

Gambar Taman Merta Sari di Sanur

Penulis buku ini, Clifford Pearson, seorang senior editor di majalah arsitektur terkemuka Architectural Record adalah juga kritikus arsitektur yang berpengalaman, nampaknya ingin menampilkan bahwa arsitektur dan desain tradisional memiliki kemampuan bertahan, resilience, yang tinggi terhadap berbagai perubahan yang terjadi baik di bidang kepercayaan, teknik konstruksi serta material baru maupun perubahan temporal kesejamanan. Tujuh prinsip yang dikemukannya di awal buku ini, meskipun masih debatable, bisa dijadikan preferensi untuk mengembangkan arsitektur nusantara yang berjati diri, sesuatu yang seringkali diperdebatkan di ruang-ruang seminar. Credit khusus juga layak disematkan pada photographer buku ini yang membuat tujuh premis yang disampaikan oleh si penulis dengan mudah bisa dipahami melalui visual menawan.

Buku ini memiliki beberapa manfaat. Pertama bisa menjadi bacaan awal sebelum membaca buku-buku arsitektur Nusantara yang lebih serius. Dengan pemaparan yang gamlang diselingi ulasan budaya setempat, penulis seolah ingin memberi ‘pintu masuk’ ke pemahaman yang lebih mendalam. Kedua, bagi yang ingin memahami sekilas sejarah perkembangan Nusantara, buku ini juga memberi ulasan mulai dari jaman awal kedatangan manusia di atas kepulauan hingga masa terkini. Yang terakhir, tentu saja kekayaan visual buku ini bisa menjadi referensi dalam mengembangkan desain yang berkarakter Nusantara.

Stratford Upon-Avon: Slow City?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gedung-gedung tua dimanfaatkan untuk fungsi-fungsi baru. Dengan demikian lahan bisa dihemat

Kota Stratford dikenal sebagai kota kelahiran penulis dan filsuf terkenal William Shakespeare dan nama besar Shakespeare pula turut menjadi daya tarik dan daya jual  kota kecil di tengah Britania Raya ini. Seperti disebutkan dalam salah satu episode Wayang Cenk-blonk di Bali, sebatang pohon yang menghasilkan kayu serta buah yang berguna membuat terkenal seluruh hutan tempat tumbuhnya. Tetapi, sebaliknya tanaman itu juga bisa tumbuh subur dan menghasilkan buah karena dukungan dari hutannya yang subur dan terjaga. Demikianlah ibaratnya mungkin hubungan antara si penulis dan kotanya ini. Dahulu kota ini menjadi inspirasi Shakespeare, kini kota ini mendapat berkah dari ketenaran si penulis.

Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan waktu hampir jam 11 siang namun  dinginnya cuaca membuat hari seolah masih pagi. Cahayanya yang tersembunyikan oleh tebalnya mendung, sesekali menjelma gerimis, menambah suasana seolah matahari belum beranjak dari peraduannya. Stasiun kereta kecil kota Stratford, jauh lebih kecil dibandingkan terminal Batubulan pada masa jayanya dulu di tahun 80-an, menjadi perhentian sebelum saya melanjutkan perjalanan ke rumah Mbok Ani.  Bersama suaminya, Mbok Ani yang berasal dari wilayah Intaran di Sanur sudah puluhan tahun tinggal di kota kecil ini, dan hari itu beliau mengundang saya untuk merayakan Hari Raya Kuningan bersama di rumahnya yang asri di tengah Kota Stratford-upon-avon.Keluarga Pak Agung, yang juga tinggal di UK, sudah menunggu untuk bersama-sama berjalan menuju lokasi perayaan Kuningan.

Kota Stratford menawarkan pemandangan yang sangat kontras dengan kota-kota besar di seantero Inggris. Jangan membandingkannya dengan Liverpool, Newcastle, Manchester apalagi London. Stratford memiliki nuansa pedesaan dibandingkan suasana kota besar. Nuansa perkampungan ini menyeruak begitu langkah kaki meinggalkan stasiun dan bergerak menuju ke arah pusat kota. Lalu lintas yang tidak begitu ramai dan pepohonan sepanjang jalan membuat pengalaman berjalan kaki menjadi menyenangkan. Lalu-lalang manusia mungkin sama banyaknya, kalau tidak bisa dibilang malah lebih dominan, dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Meskipun cuaca tidak bisa dibilang baik, dengan angin dan suhu yang menusuk tulang, tetap saja banyak orang yang berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak kota.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pedagang cenderamata di pasar

Tepat di jantung kota, sebuah pasar kecil berada di halaman luas yang diperkeras batu alam lebar. Didominasi oleh golongan yang sudah berumur, pasar tersebut ramai dikunjungi penduduknya. Di bagian terdepan sederetan penjual lukisan serta benda kerajinan setempat dengan cepat menarik perhatian saya. Lukisan karya pelukis lokal, hiasan yang terbuat dari tempelan perangko hingga papan-papan reklame usang bisa kita jumpai. Masuk lebih ke dalam, penjual pakaian rajutan serta pakaian bekas sibuk menata dagangannya. Aroma hidangan yang dipanggang menyeruak menyelingi udara dingin siang itu. Penjual babi panggang rupanya tengah asyik mengiris-iris daging dan menjajakannya kepada orang yang lewat di depannya. Sesekali gelak tawa pengunjung yang bercengkrama dan bersenda gurau dengan pedagang terdengar. Suasana akrab jelas terasa. Saya memejamkan mata menikmati aura siang yang sama sekali tidak panas itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pusat perbelanjaan utama Kota Stratford

Selepas pasar, perjalanan memasuki daerah yang lebih padat dengan toko-toko serta kedai kopi diselingi oleh bangunan perkantoran serta rumah penduduk. Bangunan di Stratford didominasi oleh bangunan tua. Seringkali disebut sebagai bangunan vernacular dengan batang-batang kayu besar sebagai struktur utamanya yang menyangga atap-atap pelana. Dinding-dinding dicat warna putih kontras dengan warna coklat tua kehitaman kayu rangkanya. Usia bangunan-bangunan ini mungkin sudah ratusan tahun serta telah menjadi saksi pertumbuhan penduduk serta dinamika perekonomian masyarakatnya. Nyaris tidak terdapat bangunan baru dengan struktur modern sepanjang jalan. Toko serba ada Mark & Spencer serta kedai kopi modern Costa pun menempati banguan tua yang nampak semakin berkharisma dalam usianya.  Daya tarik utama kota, rumah tempat Shakespeare dilahirkan dibiarkan apa adanya dan di sebelahnya dibangun semacam museum serta area penjualan tiket bagi yang ingin masuk ke dalam rumah serta taman Shakespeare.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Taman-taman dengan patung yang terbuat dari logam di tepian Sungai Avon

Jalanan sebagian beraspal, tetapi jalan-jalan lama, pedestrian dengan perkerasan batu alam tetap terpelihara dengan baik. Mobil-mobil tidak diperkenankan melewati jalan lama semacam ini sehingga membuatnya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi pejalan kaki. Jumlah setapak yang banyak dan menjangkau setiap sudut kota mengundang penduduk untuk lebih memilih berjalan kaki. Orang tua hingga anak-anak nampak di setiap sudut jalan kota dengan wajah riang. Suasana yang mungkin sudah sangat sulit ditemui di kota-kota yang didominasi oleh kendaraan. Saya jadi membayangkan kalau di Ubud atau kota-kota kecil lainnya di Bali tersedia jalan-jalan setapak yang nyaman. Pastilah hidup akan lebih menyenangkan saat setiap orang bisa saling berpapasan dan saling menyapa, bergosip tentang berkurangnya hasil padi atau turis yang kian ramai. Jalan setapak tidak hanya berfungsi untuk menghubungkan dua titik tetapi juga bermanfaat sebagai ruang-ruang sosial tempat penduduk bertemu.

Ya seperti namanya, kota ini memang berada di tepian sungai Avon. Dari sini pula kota ini disebut sebagai Stratford-Upon-Avon. Seperti juga daerah-daerah kuno di Bali yang memperoleh namanya dari ciri fisik alamiahnya demikianlah kota ini dinamai dan mendapatkan identitasnya. Sungai Avon yang tenang mengalirkan airnya membelah kota tepat di tepian pusatnya. Tepian sungainya nya ditata menjadi taman-taman serta fasilitas umum dilengkapi dengan patung-patung yang indah terbuat dari logam berwarna hijau. Selera artistic penghuni kota ini nampaknya memang di atas rata-rata. Pasangan batu alam jembatan, taman taman yang melingkar-lingkar di tepian sungai, serta bangunan-bangunan lama berpadu dengan keindahan bentang alamnya. Bebek dan angsa meluncur tanpa suara di atas air sungai yang tenang. Perpaduan yang saling melengkapi antara lingkungan buatan manusia dan lingkungan alami, demikian pula penghuninya. Binatang liar dan manusia dapat berinteraksi dengan baik. Bebek-bebek atau angsa liar tidak pernah takut atau terganggu oleh manusia. Sebaliknya, manusia juga tidak merasa terancam oleh binatang tersebut.

Banyak hal-hal kecil namun unik disini. Pedagang snack dan jajanan, yang di Indonesia sering disebut PKL, menggunakan perahu sebagai tempatnya berjualan. Mereka berada di atas sungai dan bagi yang ingin membeli tinggal mendekati perahu-perahu dan sedikiti menunduk karena posisi perahu lebih rendah dibandingkan posisi kita berdiri untuk membeli produk penganan. Café-café pinggir jalan siang itu tidak begitu ramai karena cuaca yang tidak mendukung. Gerimis serta berawan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Perahu-perahu pedagang ‘kaki lima’ di tepian sungai Avon

Saya teringat salah satu artikel yang menyebutkan kota-kota sedang berlomba-lomba menarik investasi. Segenap daya upaya diarahkan untuk mendatangkan investasi sebanyak-banyaknya demi kesejahteraan penduduknya serta pembangunan kotanya. Dalam upaya yang serba cepat dan bersaing dengan kota tetangganya, gedung-gedung baru dibangun, jalan-jalan diperlebar, mall-mall besar didirikan, mengatasnamakan kemajuan. Stratford adalah antithesis dari kota semacam itu.

Di Stratford, penduduknya menikmati kehidupan yang tidak terburu-buru. Kehidupan berjalan dalam kecepatan yang lambat. Ibarat manusia yang berjalan kaki lebih banyak melihat pemandangan dibandingkan dengan yang menaiki mobil. Saat berjalan kaki, tidak hanya pemandangan, atmosferpun seolah bersekutu menciptakan kenyamanan hidup.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Swan Hotel