Rurung dalam Memori

46766837_2248670425144230_1205851332943020032_n
Rurung di Sanur di tahun 1970an. Photo: Made Wijaya

Kata ‘rurung’ sudah cukup lama menganggu fikiran saya, terutama semenjak jalanan tanah di kampung-kampung mulai diaspal sementara yang di kota dilapisi paving blok. Ada memori yang terhapus saat melihat jalanan yang dahulu berdebu saat kering dan sedikit becek saat hujan berubah mulus dan halus. Bukan, ini bukan soal kualitasnya, tetapi soal ingatan masa kecil.

Saat berusia SD, rurung menjadi halaman bermain anak-anak kampung. Kami terbiasa berkumpul setiap sore, saat terik matahari sudah jauh berkurang, di depan rumah masing-masing saling menunggu. Begitu sebagian besar anak berkumpul, maka berbagai permainan tradisional hingga olah raga ringan bisa dilakukan. Mulai permainan mecepetan, main dipyak (dengkleng;engklek), hingga kasti bahkan sepak bola bisa dimainkan. Suara sorak sorai akan mengundang anak-anak lain untuk datang. Permainan-permainan tersebut tak ubahnya olah raga yang membuat tubuh segar. Selain olah raga, permainan tradisional juga dipercaya mengasah kreativitas serta kepekaan sosial anak-anak terhadap sesama, meningkatkan sportivitas dan kejujuran.

446508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Gambar oleh I Mundik memperlihatkan berbagai aktivitas yang berlangsung di rurung.

Tidak hanya anak-anak, ruang terbuka di depan rumah juga disesaki orang tua kami bahkan kakek nenek. Tidak jarang, sebagian orang dewasa masih melanjutkan pekerjaannya, meraut atau memahat patung di rurung. Para petani yang sudah selesai bekerja di sawah memanfaatkan waktu istirahat sorenya dengan duduk-duduk sembari membawa ayam jago membicarakan hal-ihwal sawahdan segala persoalannya. Generasi yang lebih tua lagi memanfaatkan rurung sebagai ruang interaksi mengobrol sembari menunggu matahari tenggelam. Di ujung rurung jamak dijumpai penggak, semacam warung kecil tanpa atap. Di penggak bisa dibeli jajanan tradisional hingga bubur pengisi perut di sore hari.

46508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Penggak. Gambar: Miguel Covarrubias

Banyak kisah dan cerita yang terurai, tak jarang masalah-masalah di banjar atau desa bisa diselesaikan, dalam interaksi di rurung. Rurung ibarat ruang keluarga semua warga, tempat berinteraksi dan bersosialisasi, tak ada sekat, semua setara.

Kian sore, jumlah anak yang bermain biasanya kian ramai hingga tiba saatnya matahari tenggelam. Sesaat sebelum matahari tenggelam, mendekati jam 6, arena permainan berpindah ke sungai. Badan yang penuh keringat dan berdebu dibilas di aliran sungai yang mengalir membelah kampung. Permainan dilanjutkan dengan berloncatan dari tepian sungai.

DSC_8087
Berlangsung di Rurung, Perang Pandan di Tenganan Pegeringsingan

Di tempat lain, misalnya di daerah Karangasem, rurung juga memiliki fungsi ritual. Di Desa Tenganan Pegeringsingan nyaris sebagian besar, jika tidak semua, aktivitas ritual berlangsung di rurung. Aktivitas ini termasuk ritual perang pandan yang tersohor itu. Di wilayah lain, rurung menjadi arena untuk megibung masal, sebuah ritual makan bersama dalam suatu rangkaian upacara di desa.

Demikianlah, rurung memiliki berbagai fungsi, mulai dari fungsi sosial, budaya, ekonomi, ritual hingga fungsi pendukung kreativitas anak-anak. Banyaknya memori kolektif yang terjalin dari interaksi yang terjadi di rurung menebalkan rasa persaudaraan, meningkatkan kontrol sosial serta menunjang rasa memiliki. Modal sosial tersebut menjadi dasar kekuatan masyarakat desa.

 

456508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Angkul-angkul pembentuk rurung. Photo: Made Wijaya

Untuk mendukung fungsinya, sebuah rurung memiliki berbagai fasilitas meskipun bukanlah sesuatu yang mutakhir. Sekurang-kurangnya di setiap pintu masuk pekarangan terdapat ‘lenéng’. Ini adalah ‘sofa’ informal, tempat duduk yang nyaman bagi siapa saja. Selain ‘lenéng’ batu-batu besar juga bisa menjadi tempat duduk yang kasual.

46771481_296222640996331_9147884688092692480_n
Leneng dan batu sebagai tempat duduk kasual di rurung. Photo: Made Wijaya

Meja dan bangku kecil dibawa oleh pedagang ‘penggak’. Bukan meja atau kursi yang besar tetapi cukuplah untuk meletakkan dagangan sederhana dan tempat duduk sejenak sembari menikmati jajanan.

Di tepian rurung terdapat jelinjingan dan telajakan. Jelinjingan adalah semacam got tetapi bentuknya sedikit tidak teratur. Sementara itu telajakan berfungsi penghijauan, tempat ayam-ayam jago diletakkan di dalam kurungannya. Semak-semak berbunga, pucuk rejuna, soga, mawar, kembang kertas juga mengisi telajakan memenuhi kebutuhan bunga untuk membuat canang. Demikian juga pohon jepun, cempaka, atau pohon buah-buahan lokal.

46668708_353604375404182_1688587996107898880_n
Di telajakan, diskusi berlangsung santai. Photo Made Wijaya

 

Secara arsitektur, ruang rurung dibentuk oleh tembok menerus di kiri dan kanannya. Tembok ini diinterupsi oleh angkul-angkul pintu masuk ke pekarangan rumah penduduk. Dari arah rurung, deretan angkul-angkul ini merupakan sajian arsitektural yang menarik. Meskipun bentuknya mirip, penyelesaian konstruksi dan bahan yang dipergunakan bisa berbeda-beda antara angkul-angkul yang satu dengan yang lain. Angkul-angkul menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat. Anjing pun merasa aman dan nyaman duduk di pintu masuk pekarangan ini.

Fungsi rurung kini telah berubah. Semenjak beberapa tahun belakangan ini sebagian besar rurung telah mengalami pembaharuan secara fisik. Permukaannya yang dahulu becek di kala hujan serta berdebu di kala panas berganti aspal mulus. Tepiannya diturap rapi dan dilengkapi got permanen menggantikan jelinjingan. Tuntutan akan jalan mobil yang lebih lebar seringkali mengorbankan telajakan sehingga ruang hijau menerus yang dahulu nyaman untuk tempat menjemur ayam aduan tidak ada lagi.

Dengan bergantinya permukaan rurung maka beralih pula fungsinya. Kini fungsi utama rurung adalah sebagai jalur transportasi. Raungan kendaraan roda dua dan roda empat menggantikan sorak-sorai anak-anak bermain kasti. Suara klakson dan raut muka tanpa senyum di balik kemudi menggantikan suara kelakar dan wajah penuh tawa yang dulu bisa dijumpai saban hari. Tidak ada lagi anak-anak bermain dan orang-orang kampung bercengkerama sehingga hilang pula peluang ekonomi. Akibatnya, penggak-penggak kehilangan pembeli karena aktivitas di rurung sudah berganti. Dari penggak, tempat nongkrong berpindah ke coffee shop. Kini, ada kerinduan pada aktivitas rurung dengan berbagai aktivitasnya, bukan hanya sebagai jalur transportasi.

46675030_369854530436813_4582681326888419328_n
Warung, tempat istirahat nyaman di sore hari sambil membicarakan gosip lokal. Photo: Made Wijaya

Tentu saja jalur transportasi sangat dibutuhkan di jaman yang serba cepat ini. Aktivitas warga tidak lagi tunggal, hanya bertani, tetapi sudah beragam. Tempat kerja pun tidak lagi di sawah tetapi di kantor-kantor, hotel-hotel dan restaurant, serta tempat-tempat lain. Semua kini butuh kendaraan bermotor entah mobil atau sepeda motor. Akan tetapi, perkembangan ini mestinya tidak menghilangkan kualitas sosial rurung. Saya percaya, jika ada kemauan, kita masih bisa mendapatkan kualitas yang dahulu dimiliki rurung dengan tetap mendapatkan kualitas transportasi yang memadai.

(bersambung ke bagian 2)

 

Tentang Banjar Bali di UK

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Om Swastyastu,

Ijinkan saya menceritakan sedikit ihwal terbentuknya Banjar Bali di UK ini, sedari awal munculnya ide hingga kondisinya saat ini. Pertemuan pada acara ‘Hello Indonesia’ di Trafalgar Square hari itu ditindaklanjuti dengan membentuk group WhatsApp. Anggota awalnya terbatas hanya pada 5 orang: Pak Agung, Pak Dewa Cipta, Pak Agung Dwijaya Saputra, Gede Pringgana dan saya. Selain Pak Agung Dwijaya, Gede Pringgana dan saya yang sudah bersepakat untuk bertemu hari itu, pertemuan dengan dua orang yang lain terjadi secara kebetulan. Dari pertemuan itulah muncul ide untuk membentuk semacam forum, tempat bertukar dan berbagi cerita antar sesama orang Bali di seantero UK. Pak agung dan teman teman yang lain lalu secara berantai saling menambahkan anggota di group berdasarkan kontak kenalan di handphone masing masing. foto1 Group di Facebook menjadi embrio berikutnya. Awalnya salah satu rekan, Edy Suardiyana yang sedang menempuh study di Coventry menanyakan apakah ada organisasi masyarakat Hindu Bali di UK dan kebetulan baru saja terbentuk group whatssap. Keinginan untuk menjangkau audience yang lebih luas, akhirnya mendorong Edy, Pak Dewa Cipta dan saya membentuk group masyarakat Bali di Facebook. Dan seperti juga yang terjadi di whatssap, kami saling menambhkan teman dan jaringan yang ada di jalinan pertemanan masing masing ke dalam group facebook. Hingga tulisan ini dibuat sudah terdapat 32 orang yang tergabung di dalam group facebook dengan nama group Nyama Braya Bali di UK. Kelompok ini dan ide-ide selanjutnya terus bergulir. Untuk lebih mengenal anggota masyarakat bali di UK, saya berinisiatif untuk membuat semacam daftar isian melalui google drive. Dan dari isian di google drie ini diharapkan data dasar masyarakat bali di Uk bisa terekam untuk selanjutnya dijadikan sebagai rujukan dalam membuat kegiatan. Hingga tulisan ini dibuat, terdapat 26 orang yang mengisi fromulir dan berasal dari berbagai kota di UK. Dari anggota ini terekam juga data mengenai status di UK apakah pelajar ataukah tinggal menetap dan bekerja. 10443208_10202804841695231_4623343567524352943_o

Tentu saja harapan selanjutnya agar group kita ini semakin maju dan terjaga kelangsunganya menjadi tanggung jawab berikutnya. Untuk menjaga tali silaturahmi serta membuat semakin kuatnya ikatan kita, masyarakat  Bali di UK, ada baiknya membuat sebuah organisasi yang lebih solid meskipun tidak harus mengikat secara kaku. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada modal awal, untuk membuat Banjar ini semakin kuat, yaitu keanggotaan yang sudah terdata di google drive. Selanjutnya perlu kita pikirkan gerak langkah yang lebih konkret lagi. semoga nanti lebih banyak lagi saudara-saudara kita yang bergabung dan berpartisipasi di group kita. Dengan demikian usaha untuk membuat kita tetap memiliki tali persaudaraan selama berada di negeri orang bisa tetap terjaga. Ngiring bersama-sama kita jaga tali persaudaraan ini di negeri Ratu Elizabeth, ribuan mil dari asal kita tempat indah bernama Pulau Bali. Om Santih Santih Santih, Om