Resensi: Indonesia Design and Culture

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-7

Saya tidak banyak menemukan buku-buku berkategori sebagai coffee table book yang dibuat berdasarkan riset mendalam. Hal ini wajar saja, karena buku-buku yang ditujukan sebagai teman minum kopi atau teh di sore hari tidaklah harus yang berat dan penuh teori serta bisa merusak suasana santai. Daya jual utama buku-buku semacam ini, pada umumnya, ditekankan pada keindahan visual serta penampilan luks dengan pemilihan objek yang baik. Ada puluhan, atau mungkin ratusan, buku semacam ini tersedia luas di toko-toko buku di bandara-bandara, mall atau pusat keramaian lainnya. Dilihat dari tempat menjualnya pun membuat saya mafhum bahwa buku ini memang bersifat menemani kita sembari menunggu penerbangan atau menemani sambil ngopi di mall atau menghabiskan waktu luang di pusat keramaian. Dari sedikit buku coffee table, yang menurut saya, bagus tadi adalah yang berjudul: Indonesia Design and Culture karya Clifford Pearson dan Photografer Bryan Whitney.

Indonesia, sebagai sebuah negara kepulauan, sangat sulit jika tidak bisa dibilang mustahil untuk diungkapkan dalam satu buku yang komprehensif. Disamping terpisahkan oleh perairan, banyak hal lain yang menyebabkan wilayah di antara dua samudera ini demikian kaya dengan keragaman. Setidaknya terdapat antara 13.000 hingga 17.000 pulau (tergantung referensi mana yang dipakai dan pasang surutnya air laut), penduduknya berkelompok dalam ratusan etnisitas yang berbicara dalam lebih dari 400 bahasa dengan system kepercayaan, sumber daya alam, serta banyak hal lainnya yang menggambarkan keragaman kawasan ini sebagaimana diakui oleh penulis buku ini.

Keragaman tidak hanya karena letak geografis tetapi juga pengaruh luar yang berbeda beda. Kawasan bagian barat dipengaruhi oleh budaya India, Arab dan China yang berbaur dengan budaya lokal sementara kawasan timur relatif lebih sedikit terpengaruh sampai waktu datangnya pendatang Eropa. Penulis berargumen bahwa ketahanan budaya lokal menyerap budaya-budaya baru, baik dari negara-negara Asia maupun dari Eropa, membentuk budaya unik yang terjadi dari akulturasi budaya tradisional yang sudah mengakar selama ribuan tahun. Kedatangan budaya luar juga tidak terjadi bersamaan melainkan dalam periode yang berbeda-beda membentuk, selain dimensi geografis, dimensi temporal yang rumit.

Dihadapkan pada keragaman yang sedemikan kaya, si penulis buku ini berhasil merumuskan tujuh hal yang menjadi prinsip-prinsip pokok, yang disebutnya sebagai, karakter desain Indonesia. Bagaimanapun juga tujuh karakter ini tentu saja masih bisa didebat. Untuk mengurangi perdebatan, argumentasinya diperkuat dengan pilihan tema yang ditampilkan dalam buku setebal 247 halaman ini. Ketujuh prinsip tersebut adalah: inside out; natural materials; orientation; bold combinations; borrowing from others; embellishment; dan tradition. Menggunakan tujuh prinsip ini, disertai dengan pertimbangan dimensi geografis dan dimensi temporal, beberapa karya arsitektur dan desain ditampilkan dilengkapi pula ulasan budaya lokal.

Dari dimensi geografis, pilihan wilayah yang ditampilkan dikelompokkan ke dalam empat kawasan besar, yaitu : Java; Sumatra; Sulawesi; dan Bali. Di antara empat kelompok geografis ini, Jawa dan Bali mendapat coverage paling banyak dengan masing-masing 7 dan 9 karya dan dengan ulasan kehidupan sosial-budaya masyarakat setempat sebagai pelengkapnya. Dari sisi temporal, variasi yang ditampilkan boleh dibilang cukup luas. Terdapat bangunan tradisional yang diwakili rumah tradisional hingga ke bangunan terkini yang diwakili oleh bangunan villa di berbagai wilayah. Dari dimensi budaya, tentu saja bangunan tradisional menjadi wakil yang murni, sedangkan pengaruh budaya luar tergambarkan dari bangunan baru yang ditampilkan berdampingan dengan yang traditional.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-5

Gambar rumah Arief dan Leila Budiman

Yang, menurut saya, paling menarik dari pilihan proyek yang ditampikan adalah karya-karya yang boleh dibilang tidak familiar tetapi memiliki karakter yang sangat kuat. Wilayah yang dibahas pertama adalah Jawa. Dua proyek pertama merupakan karya dua desainer papan atas: Jaya Ibrahim dan Widayanto. Berlatar belakang seniman, masing-masing melakukan pendekatan yang berbeda dalam rancangannya. Jaya Ibrahim berekcplorasi dengan tema tema tradisional dalam rancangan bangunan kolonial sedangkan Widayanto dengan kepiawaian menggubah bentuk.

Puncak dari rasa tertarik saya pada buku ini ada pada ditampilkannya tiga, diantara banyak, karya terbaik Y.B. Mangunwijaya. Dimulai dari Perkampungan Kali Code, Kompleks Ziarah Sendang Sono dan terakhir adalah rumah Arief dan Leila Budiman. Karya arsitek yang biasa dipanggil Romo Mangun ini kental dengan nuansa ketukangan, craftsmanship, meskipun, secara bentuk sosok, tidak bisa diasosiasikan secara langsung dengan typology traditional tertentu. Nampaknya bangunan-bangunan karya Romo Mangun tidak didikte untuk meniru proporsi atau siluet bangunan tradisional tetapi didasarkan atas tektonika lokal, mengedepankan material lokal terutama kayu dan bambu, menghasilkan bentuk baru. Dengan prinsip-prinsip yang serupa dengan yang diterapkan dalam arsitektur traditional: menggunakan bahan sekitar, menerapkan seni ketukangan setempat, disusun dengan prinsip tektonika sesuai lingkunganya, maka mudah saja bagi bentukan-bentukan ini untuk berbaur menyatu dengan lingkungan sekitarnya seperti yang ditunjukkan oleh rumah keluarga Arief Budiman.

Entah disengaja atau hanya kebetulan, tiga proyek ini menggambarkan kepribadian Romo Mangun yang humanis (permukiman Kali Code), religious (kompleks ziarah Sendang Sono) serta menghormati lingkungan alami (Rumah Arief Budiman).

Sebuah rumah modern, bergaya post-modern, menjadi satu-satunya desain non-indigenous karya Burhan Tjakra. Sekalipun tampil dengan gaya impor, sebagaimana argument bahwa budaya Indonesia memang diperkaya oleh budaya lain, rumah ini tetap menampilkan sebagian dari tujuh prinsip yang dirumuskan oleh si penulis.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-2.jpg

Gambar seni ketukangan tradisional dalam mewujudkan rumah di Sulawesi

Rumah-rumah traditional diwakili dua region besar: Sumatera dan Sulawesi. Dari kedua region besar ini terdapat lima bangunan tradisional yang ditampilkan. Widow’s House, Istana Silinduang Bulan dan Rumah Panjang, semuanya ada di Sumatera, ditampilkan bersama uraian soal pasar tradisional, tata cara bertani serta budaya menjunjung bawaan di kepala yang lumrah ditemui di Sumatera.  Dua karya arsitektur dengan atap spektakuler khas Toraja tampil mewakili wilayah Sulawesi. Yang pertama adalah Sesean Mountain Lodge di Rantepao dan berikutnya adalah rumah-rumah traditional Tongkonan. Gaudenz Domenig pernah mengungkapkan bahwa atap merupakan elemen yang sangat penting dalam bentuk-bentuk arsitektur tradisional di wilayah Pasifik. Bentuk bentuk atap ini, dalam argument Domenig, seringkali menyerupai perahu, tanduk atau bentuk-bentuk yang imajinatif sesuai dengan kepercayaan lokal. Rumah-rumah di Sulawesi dengan bentuk atapnya yang spektakuler, mendominasi keseluruhan proporsi, menggambarkan dengan jelas argumen peneliti asal Austria tersebut.

Bali menjadi kawasan yang diliput paling banyak di dalam buku ini. Ulasan tentang Pulau Bali meliputi kawasan pertanian, kesenian, adu ayam hingga ke budaya kremasi. Diantara ulasan tersebut, beberapa karya arsitektur dibahas secara mendalam. Pergaulan Bali dengan budaya internasional yang mulai intens di akhir tahun 1960-an, sekalipun telah dimulai sejak kehadiran pemerintah colonial Belanda di tahun 1910-an, di cover dengan bahasan proyek-proyek hospitality masa awal turisme hingga masa modern. Proyek turisme tidak bisa dilepaskan dari fasilitas berupa hotel dan penginapan.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-8

Gambar lobby dengan seni ketukangan lokal untuk mengakomodasi fungsi baru: lobby hotel

Di Bali ada ratusan atau mungkin ribuan fasilitas sejenis yang bertebaran tetapi tidak banyak yang melegenda. Diantara yang melegenda itu adalah Tandjung Sari yang merupakan cikal bakal fasilitas yang disebut Boutique Hotel. Pemiliknya Wija Waworuntu belakangan bekerjasama dengan Donald Friend, seorang seniman eksentrik asal Australia, mengembangkan fasilitas lainnya dengan bantuan arsitek legendaris Geoffrey Bawa dari Sri Lanka dan juga Peter Muller dari Australia. Dari lingkaran pertemanan ini melahirkan banyak arsitek penerus yang hari ini berada di garis terdepan desainer arsitektur perhotelan dunia termasuk diantaranya desainer lansekap Michael White yang belakangan dikenal dengan nama Made Wijaya. Sebagian karya yang lahir dari lingkaran pertemanan ini diulas dalam buku ini mewakili Bali. termasuk yang diulas adalah rumah milik Donald Friend yang dibuat oleh Geofrey Bawa, rumah Wija Waworuntu,  dan rumah Walter Spies di Iseh. Dari generasi yang datang setelah generasi awal terdapat Taman Mertasari karya pemiliknya sendiri Made Wijaya, Muller House, Mirah & Carl Burman House dan Jean-Francois Fichot House berlokasi di Ubud. Dari semua karya yang mewakili Bali, ada tarikan nafas design yang serupa. Yang pertama, mereka mengambil inspirasi lokal yang kental baik dari segi bentuk maupun teknik konstruksinya berupa tektonika tahan gempa. Atap alang-alang dominan dipakai di hampir semua proyek. Mengabaikan kelemahannya yang gampang dimakan waktu, alang-alang terbukti membuat ruangan yang dinaunginya menjadi sejuk karena dapat menahan panas matahari sekaligus membiarkan ruangan tetap ‘bernafas’ melalui sela-sela serat alang-alang. Pemakaian elemen-elemen lokal menjadi elemen penting berikutnya dalam desain rumah-rumah tadi membuatnya menyatu dengan rumah atau karya-karya arsitektur di sekitarnya.

Scan_Maha I Nyoman Gede (13079818)_20160801-134137_0245_001-3

Gambar Taman Merta Sari di Sanur

Penulis buku ini, Clifford Pearson, seorang senior editor di majalah arsitektur terkemuka Architectural Record adalah juga kritikus arsitektur yang berpengalaman, nampaknya ingin menampilkan bahwa arsitektur dan desain tradisional memiliki kemampuan bertahan, resilience, yang tinggi terhadap berbagai perubahan yang terjadi baik di bidang kepercayaan, teknik konstruksi serta material baru maupun perubahan temporal kesejamanan. Tujuh prinsip yang dikemukannya di awal buku ini, meskipun masih debatable, bisa dijadikan preferensi untuk mengembangkan arsitektur nusantara yang berjati diri, sesuatu yang seringkali diperdebatkan di ruang-ruang seminar. Credit khusus juga layak disematkan pada photographer buku ini yang membuat tujuh premis yang disampaikan oleh si penulis dengan mudah bisa dipahami melalui visual menawan.

Buku ini memiliki beberapa manfaat. Pertama bisa menjadi bacaan awal sebelum membaca buku-buku arsitektur Nusantara yang lebih serius. Dengan pemaparan yang gamlang diselingi ulasan budaya setempat, penulis seolah ingin memberi ‘pintu masuk’ ke pemahaman yang lebih mendalam. Kedua, bagi yang ingin memahami sekilas sejarah perkembangan Nusantara, buku ini juga memberi ulasan mulai dari jaman awal kedatangan manusia di atas kepulauan hingga masa terkini. Yang terakhir, tentu saja kekayaan visual buku ini bisa menjadi referensi dalam mengembangkan desain yang berkarakter Nusantara.

Arsitektur Traditional dan Tantangan Pola Pendidikan Arsitektur Bali Hari Ini

Sudah banyak ulasan mengenai arsitektur tradisional dari berbagai latar belakang ilmu, baik dari sisi ilmu arsitektur sendiri ataupun dari ilmu lain seperti dari latar belakang geografi dan antropologi. Tanpa memandang asal ataupun bentuk akhir yang menjadi produk suatu tradisi, nampaknya ada semacam kesepakatan bahwa tradisi adalah sesuatu yang diteruskan dari generasi sebelumnya ke generasi hari ini, dan (mungkin) kepada generasi selanjutnya.

Beberapa pertanyaan yang muncul saat memperdebatkan tradisi sangat beragam. Pertanyaan pertana adalah: apakah ‘sesuatu’ yang diteruskan itu? Apakah sebuah produk, pengetahuan, norma ataukah kepercayaan?  Pertanyaan berikutnya: bagaimana ‘sesuatu’ tersebut diturunkan? Melalui babad? Buku-buku? Ataukah media lain? Pertanyaan terakhir yang tak kalah penting adalah: mengapa ‘sesuatu’ itu harus diteruskan? Mengapa tidak diganti dengan hal yang lebih baru dibandingkan bersusah payah mempelajari hal yang sudah lampau? Jikapun semua pertanyaan tersebut sudah terjawab, maka pertanyaan terakhir yang muncul adalah: akankah ‘sesuatu’ itu kita teruskan ke anak cucu? Jika iya, melalui media apa?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tradisi melingkupi segala segi tata cara manusia hidup di dunia. Tradisi bisa berwujud benda, karya seni, cerita, bangunan, norma, tata laku dan wujud lainnya baik yang teraga maupun tidak teraga. Dengan demikian tradisi sangat luas meliputi aspek tangible and intangible, tersirat serta tersurat. Arsitektur sendiri secara kasat mata diterjemahkan sebagai struktur fisik yang tercipta sebagai upaya manusia memenuhi kebutuhannya melindungi diri dari tantangan alam. Kebutuhan untuk melindungi diri dari ancaman ini adalah kebutuhan primer manusia, sementara masih ada lagi kebutuhan lain seperti kebutuhan untuk berada di ruang yang bersifat privat, kebutuhan ruang untuk bekerja dan seterusnya. Kebutuhan ini dari waktu ke waktu berkembang mengikuti aktivitas manusia yang semakin kompleks. Berbeda dengan di masa lalu, kehidupan manusia modern menyebabkan aktivitasnya juga kian beragam. Pada akhirnya hal ini menuntut lebih banyak jenis ruang dengan berbagai persyaratannya.

Arsitektur jika dipandang dalam tataran yang ideal merupakan terjemahan pandangan manusia terhadap semesta. Masyarakat tradisional memandang bahwa tujuan keberadaannya di alam adalah untuk menyesuaikan diri dan menyatu dengan alam. Keinginan untuk beradaptasi dengan alam ini dituangkan ke dalam pandangan hidup yang juga mempengaruhi arsitektur. Saat menciptakan struktur untuk melindungi diri dari tantangan alam, maka struktur tersebut harus sesuai dengan keadaan alamnya. Struktur dibuat ‘meniru’ bagian alam beserta cara kerjanya sehingga lingkungan buatan manusia bisa berjalan harmonis dan memiliki cara kerja serupa alam semesta. Cara pandang manusia ini tertuang di dalam kepercayaan local. Wujudnya bisa dalam bentuk bangunan, symbol-simbol yang menyertai serta upacara yang berkenaan dengan proses membangun.

Umumnya masyarakat di kawasan Asia Tenggara membagi dunia menjadi tiga bagian: alam roh – alam manusia – alam butha. Pandangan ini diterjemahkan di ke dalam kepercayaan yang memandang gunung sebagai alam roh, dataran adalah alam manusia serta perairan adalah alam butha. Manusia tinggal, beraktivitas serta membangun kehidupannya di dataran, diantara alam pegunungan dan laut. Permukiman dan segala elemennya dibuat dengan cara meniru sifat-sifat alam, menjalin simbiosis mutualisme dengan lingkungan alami sekitarnya. Konsepsi ini di dalam masyarakat tradisional Bali disebut sebagai ‘manik ring cecupu’. Alam buatan manusia ibarat manik atau janin yang berada di dalam rahim atau cecupu alam yang dianggap sebagai ibu. Hubungan yang harmonis antara janin dan ibu akan menciptakan kebahagiaan bagi keduanya.

Ilmu, tata laku serta tuntunan mebutuhkan terjemahan sehingga mampu diwujudkan menjadi struktur fisik yang nyata. Terjemahan atau tools ini diistilahkan sebagai know-how bangunan tradisional. Know-how dalam arsitektur tradisional meliputi banyak hal antara lain: perlakuan terhadap site, tata cara menyiasati iklim, tata cara konstruksi yang anti gempa (mengingat wilayah Bali sering terjadi gempa), pemilihan bahan dan material bangunan yang sesuai serta tata cara memperlakukan bangunan.

Perbedaan kondisi site membawa konsekuensi kualitas permukaan yang berbeda-beda di wilayah yang berbeda. Manusia memberi tanggapan yang berbeda pula. Rumah-rumah di wilayah pegunungan berbentuk kompak, karena ketersediaan lahan datar yang relatif lebih terbatas dibanding daerah dataran adalah tanggapan terhadap kondisi site. Iklim mikro juga mempengaruhi karakter bangunan di samping ketersediaan bahan dan material alami. Transportasi tidak selancar hari ini dimana material, dan juga ide, bisa berpindah tempat dengan mudah. Di masa lalu masyarakat tradisional harus mengandalkan bahan yang terseedia di sekitar serta memanfaatkannya dengan ketrampilan yang dikuasai serta dikembangkan secara setempat. Karena site, iklim, ketersediaan bahan serta persebaran ilmu konstruksi di masa lalu sangat site spesifik maka timbul karakter bangunan yang bersifat setempat, memiliki nilai lokalitas yang kental. Kondisi ini sering diistilahkan sebagai local genius (Norberg-Schulz, 1982).

Dalam pemahaman arsitektur yang men-tradisi, maka ketiga hal inilah: kebutuhan terhadap ruang; ilmu/pandagangan hidup terhadap alam; dan know-how arsitektur lokal, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan demikian maka yang dimaksud sebagai arsitektur tradisional meliputi ketiga hal tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa baik kebutuhan, pandangan hidup serta know-how mengalami perkembangan dan bersifat sangat dinamis. Suatu tradisi, dengan demikian, dituntut untuk selalu menyediakan ruang re-interpretasi dan re-aktualisasi agar dapat diterima oleh generasi yang hidup di jaman yang berbeda.

Para pelaku, pada jaman masing-masing, harus mampu meng-aktualkan apa yang diwarisi dari generasi sebelumnya, menyesuaikan dengan keadaan pada jamannya sehingga pengetahuan tradisi itu sendiri akan terus berkembang secara dinamis. Penyesuaian atau aktualisasi yang dibuat tidak menggantikan tetapi justru menyempurnakan nilai yang diwarisi sehingga sesuai dengan konteks jaman. Kesalahpahaman sering timbul akibat ketidak mampuan untuk memahami nilai atau value yang dikandung oleh tradisi sehingga dengan serta merta dianggap sebagai sesuatu yang using. Kesalahpahaman juga bisa timbul akibat keinginan untuk mempaertahan kan tradisi sebagaimana aslinya tanpa mau melakukan intepretasi dan aktualisasi yang pada akhirnya akan membunuh tradisi itu sendiri karena tidak mampu bersanding di dalam bingkai waktu kese-jaman-annya.

transmisi

Image 1: Tiga unsur yang membentuk arsitektur tradisional bersifat dinamis dalam bingkai waktu yang berbeda-beda.

Jadi sekarang sudah kita peroleh sedikit gambaran mengenai pertanyaan ‘apa’ yang harus ditradisikan. Pertanyaan selanjutnya bagaimana hal tersebut menjadi tradisi, diturunkan dari generasi ke generasi tanpa terputus? Pertanyaan ini sangat penting untuk dijawab mengingat media transmisi yang dipakai inilah yang menjamin tersampaikannya pesan  dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di dalam masyarakat tradisional Bali dikenal istilah undagi untuk menyebut orang dengan kemampuan di bidang pertukangan. Istilah ini memiliki banyak makna. Di dalam lontar Hasta Kosali disebutkan bahwa seorang undagi adalah dia yang memiliki pengetahuan mencipta dengan kemampuan yang tinggi. Jika dikaitkan dengan kepercayaan bahwa alam buatan manusia harus dibuat semirip mungkin meniru alam semesta, maka seorang undagi dituntut untuk memahami semesta alam dan segenap cara kerjanya sebelum dia mampu menerjemahkannya ke dalam karya ciptaannya. Jika Sang Hyang widhi dipercaya sebagai pencipta alam semesta, bhuwana agung, maka undagi adalah beliau yang dipercaya mencipta permukiman hingga rumah tinggal, bhuwana alit.

Kata undagi sendiri menurut lontar berasal dari tiga kata yang utama yaitu : Wu = tuhan, yang memiliki kualitas yang sempurna, dikenal segala golongan;  nda = asal, uwed, sumber; gi = manusia; wujud fisik. Undagi dalam pemahaman ini memiliki makna seseorang yang menjadi sumber, atau seseorang dengan kemampuan komplit dan memahami segala cara kerja, sehingga seorang undagi bisa berarti pendeta atau seorang ahli bangunan yang bertugas membuat alam buatan untuk manusia. Karena dipandang sebagai seorang yang ahli dalam mencipta, maka kemampuan seorang undagi tidak hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat teknis belaka melainkan juga wajib menguasai ilmu filsafat, symbol-simbol dan pertanda, serta tata cara menerjemahkannya ke dalam karya cipta fisik untuk kesejahteraan umat manusia.

Dalam hal pembangunan serta penciptaan alam lingkungan buatan, seorang undagi terlibat mulai dari proses filosofi, analisis, perencanaan fasilitas, menciptakan teknologi bangunan dan tata cara ritual yang menyertai segenap proses tersebut. Undagi tidak bekerja sendirian, dalam segenap proses non-teknis dia bisa dibantu dengan panduan dari pendeta sedangkan dalam proses yang bersifat teknis beberapa tenaga ahli yang disebut sangging membantu pelaksanaan pekerjaannya. Seorang sangging, jika telah memiliki kemampuan serta keahlian yang memadai bisa juga menjadi seorang undagi.

undagi

Image 2: Ranah pengetahuan yang harus dikuasai seorang undagi

Secara umum, pengetahuan perundagian diperoleh oleh seseorang tidak berlangsung secara instan. Cara yang paling umum adalah dengan cara magang/apprenticeship pada seorang undagi yang sudah mahir. Melalui kegiatan ini seorang calon undagi disyaratkan untuk ikut terlibat secara langsung bersama undagi panutannya mengerjakan bangunan. Seorang undagi yang sudah cakap dan mahir mungkin dipercaya untuk mengerjakan berbagai macam bangunan: bangunan peribadatan, hunian untuk berbagai golongan, bangunan umum dan social serta bangunan-bangunan lain. Undagi yang sudah berpengalaman umumnya memiliki pengikut magang dalam jumlah yang besar pula. Semakin tinggi pengalaman seorang undagi maka semakin banyaklah ilmu yang bisa diserap oleh orang yang magang pada undagi tersebut.Alih keahlian perundagian di dalam masyarakat Bali umumnya berlangsung secara turun-temurun. Seorang undagi memperoleh keahlian dari orang tua serta leluhurnya dan akan menurunkan ilmu perundagiannya kepada keturunannya. Di dalam masyarakat, karena ilmu perundagian ini berlangsung di dalam sekelompok orang yang masih terikat hubungan kekerabatan, melahirkan soroh (kelompok) undagi. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan seseorang yang tidak memiliki keturunan undagi untuk menjadi undagi. Prosesnya sama seperti umumnya yaitu dengan cara magang dalam kurun waktu tertentu.

bali137a

Proses transmisi pengetahuan perundagian dalam praktek magang ini terjadi dalam beberapa tahapan. Tahapan yang paling awal adalah mengamati. Si calon undagi mengamati bagaimana masternya mengerjakan tugasnya sebagai seorang undagi. Mulai dari tata cara persiapan kerja, mempersiapkan fisik dan mental, peralatan serta persiapan lainnya. Selanjutanya secara bersama-sama, pekerjaan akan dikerjakan. Dalam prosesnya undagi dibantu oleh orang yang magang tersebut secara bersama mengerjakan setiap tahapan pekerjaan. Proses transfer dimulai dari memperhatikan, meniru, menganalisa serta diskusi dan praktek antara si undagi dengan muridnya. Tidak ada kurikulum baku.

Instruksi, petunjuk praktis, dilengkapi bahasa non-verbal dalam bentuk contoh yang meliputi: cara memegang alat hingga mengoperasikannya menjadi media utama transmisi   dalam proses alih ilmu. Porsi praktek langsung dengan cara terlibat sejak dari periode yang sangat awal dari sebuah proses pembangunan sangat dominan.   Dengan demikian, perkataan, pendengaran, demonstrasi visual tentang cara mengerjakan dan demonstrasi bentuk akhir suatu produk menjadi penting. Semua proses ini memerlukan keterlibatan langsung oleh murid dan masternya. Tidak ada patokan pasti tentang berapa lama seseorang harus melalui proses ini hingga dia layak menyandang gelar sebagai undagi. Proses pembelajaran semacam ini bisa berlangsung seumur hidup, atau setidaknya hingga seorang master undagi menyerahkan sebagain besar tanggung jawabnya kepada murid atau penerusnya. Seseorang menyandang status undagi setelah menguasai segenap ilmu secara komplit serta di’wisuda’ secara tradisional.

Saat ini, di tengah gempuran berbagai macam informasi dan perkembangan teknologi terkini, tradisi mendapat tantangan yang semakin berat. Tantangan terberatnya adalah menjawab pertanyaan, seberapa penting tradisi harus kita pertahankan di tengah banyaknya pilihan lain yang tersedia?

Jika di jaman dahulu segala sesuatu tersedia dalam keterbatasan: material terbatas, pengetahuan terbatas, teknik konstruksi serta alat terbatas, maka kini segala sesuatu tersedia dalam jumlah yang tak terduga. Bahan bangunan internasional, marmer dari Italia cat dari Swedia bersanding dengan bahan bangunan local di toko bahan bangunan yang juga menjual bata buatan pengrajin di Keramas. Demikian juga teknologi, dimana beton menggantikan nyaris sebagian besar tata cara pemasangan bata tradisional, bahkan hingga atap pun didominasi bahan tersebut. Dengan arus informasi yang semakin deras, pengetahuan masyarakat terhadap teknik serta wujud bangunan turut menjadi sangat beragam, sesuai selera pribadi masing-masing. Pengetahuan filosofis bangunan, pemahaman terhadap upaya penyelarasan diri dengan semesta serta hal-hal yang pada masa lalu menjadi pegangan para undagi, saat ini menjadi usang. Semua digantikan oleh majalah licin bergambar bangunan dengan kualitas fotografi yang sempurna.

Lalu kembali ke pertanyaan, kenapa kita perlu meneruskan tradisi? Jika, dengan sedemikian  banyaknya pilihan yang ada, kita bisa membuat sesuatu yang baru untuk memenhui kebutuhan kita di dunia?

Praktek membangun yang sudah mentradisi berlangsung secara turun temurun secara tidak langsung menciptakan identitas. Identitas adalah kualitas yang melekat pada suatu benda atau non benda yang membedakannya  benda lain. Dalam kasus arsitektur dan permukiman, identitas membedakan antara kawasan satu dengan kawasan lain. Identitas ini melekat di benak setiap warga masyarakat setempat karena mereka meng-asosiaikan dirinya dengan tempat mereka. Asosiasi antara masyarakat dengan tempatnya ini membentuk hubungan yang unik serta saling menguntungkan bagi bagi kawasan tersebut maupun bagi manusia penghuninya.

Seseorang mungkin merasakan kebahagiaan saat pulang kampung. Pulang ke rumah masa kecil di mana mereka tumbuh dan besar sejak masa kanak-kanak sebelum bermigrasi ke kota. Kesan pulang kampung yang tercipta adalah kembali ke masa di mana banyak kenangan tercipta. Saat dimana lingkungan sekitar sangat akrab dengan keseharian. Melihat pintu gerbang, angkul-angkul, tempat bermain di bawah jineng yang akrab. Semua elemen-elemen fisik tersebut tidak asing lagi dari keseharian dan memiliki kenangan yang membawa kita ke masa lalu. Kenangan tersebut membuat kita merasa dekat, merasakan keakraban yang tidak diperoleh dari kehidupan kota besar. Feeling at home, demikian kata Martin Heidegger untuk menggambarkan suasana hati yang merasa aman, nyaman serta diliputi kebahagiaan. Perasaan yang merupakan wujud eksistensi manusia di dunia. Manusia merasa nyaman di tempat yang dia akrabi, yang disebut ‘home’.

Ikatan emosional antara manusia dan tempat inilah yang menimbulkan perasaan bahagia, dimana manusia merasa memiliki ikatan bathin dengan tempatnya. Ikatan emosional ini bisa menimbulkan perasaan memiliki dan meningkatan ikatan social dimana ini pada akhirnya akan menciptakan aura menyenangkan. Tempat-tempat yang mengandung aura menyenangkan juga di klaim mampu meningkatkan kualitas hidup manusia yang tinggal disana. Tempat-tempat yang memiliki sejarah masa lalu yang panjang yang terjaga dengan baik menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Berkebalikan dengan tempat yang memiliki identitas yang kuat, tempat-tempat yang tidak memiliki identitas dimana elemen-elemennya saling berlomba untuk menonjolkan diri bisa membuat seseorang merasa terasing. Tempat-tempat tersebut tidak menawarkan ikatan emosional dengan penghuninya sehingga kualitas hidup menjadi lebih datar. Umumnya tempat-tempat semacam itu tidak menarik bagi wisatawan dan tidak mampu menunjang kebahagiaan hidup manusia yang ada di dalamnya.

place identity

Image 3: perbandingan nilai atau value antara tempat-tempat yang memiliki identitas kuat serta tempat-tempat yang tidak memiliki identitas. Bagian kiri adalah kualitas tempat yang tidak memiliki identitas berlawanan dengan bagian kanan yang merupakan value yang dikandung oleh tempat yang memiliki identitas yang kuat.

Nah, setelah menemukan alasan kenapa identitas tempat, yang berkaitan erat dengan tradisi, sudah kita temukan jawabannya, maka salah satu yang plaing penting untuk dijawab adalah: Bagaimana caranya melanjutkan tradisi, menjaga identitas tempat-tempat kita, serta meneruskannya kepada generasi selanjutnya?

Dalam bidang arsitektur serta permukiman, tidak lagi berada di dalam kuasa dan kontrol undagi, pendidikan arsitektur hari ini diambil alih oleh perguruan tinggi formal baik negeri maupun swasta. Pada masa lalu, saat transfer pengetahuan dan ketrampilan berlangsung di masa undagi porsi praktek melalui pengamatan langsung, menerima instruksi serta petunjuk, serta mengerjakan langsung mendapat porsi yang besar. Keterlibatan antara pemberi instruksi dan yang diberi instruksi terjadi secara langsung tanpa perantara. Saat ini, pendidikan arsitektur sudah diformalkan, porsi praktek tidak sebesar apa yang terjadi di masa perundagian. Pengetahuan serta keahlian selain didapat dari pengajar juga banyak yang bersumber dari buku dan literature lain. Keterlibatan antara penulis buku atau literature dengan murid tidak terjadi secara langsung melainkan melalui perantara yaitu dosen. Sehingga terjadi perbedaan yang signifikan antara proses di masa lalu dan masa kini. Tapi perbedaan pola kerja transmisi juga menyangkut hal hal lainnya.

Dalam hal waktu, jika di masa lalu tidak terdapat tolak ukur atau standar yang jelas, maka pendidikan arsitektur masa kini memiliki standar waktu dan tolak ukur beban yang jelas. Empat tahun adalah waktu yang umumnya ditetapkan dengan beban SKS tertentu. Jika seseorang sudah melewati semua beban mata kuliah tersebut dalam jangka 4 tahun maka dia sudah menyandang gelar sarjana arsitektur.

Perbedaan lainnya adalah soal materi pembelajaran. Di dalam transmisi undagi, meskipun tidak secara jelas tersurat, materi pembelajaran meliputi filsafat, tata laku, serta pemahaman terhadap alam sangat penting bahkan mungkin menjadi dasar bagi terciptanya wujud bangunan. Pemahaman tentang ke-setempat-an, site, iklim, material local serta teknologi yang dikembangkan secara turun temurun merupakan bahan utama yang harus dikuasai. Sementara itu, dipengaruhi oleh revolusi industry serta gelombang tata cara belajar Bauhauss, materi yang dipelajari di kelas banyak yang memanfaatkan buku buku terbitan luar negeri, out of site dan out of context. Porsi materi arsitektur tradisional dengan cara transmisi tradisional, interaksi langsung antara murid dan undagi, tidak terjadi dalam porsi yang cukup. Materi arsitektur tradisional setempat dipelajari sebatas penmgetahuan umum tidak menyangkut skills serta pemahamana yang mendalam. Jika beban SKS yang harus diselesaikan seorang mahasiswa arsitektur berjumlah 144, maka porsi arsitektur tradisional yang diakomodir di dalamnya tidak lebih dari 10 sks. Jumlah itu kurang dari 10 persen total keseluruhan waktu yang dihabiskan oleh seorang mahasiswa di kampus.

Transmisi tradisional Pendidikan arsitektur masa kini
Sumber belajar Undagi/praktisi langsung Dosen/ praktisi dan non praktisi
Metode Interaksi langsung di lapangan Perantara dan di dalam studio
Proses Magang: observasi, praktek Teori + praktek (terbatas)
Materi Kasus nyata Contoh kasus/simulasi (bisa nyata bisa rekaan)
Alat Semua yang akan dipakai pada pekerjaan nyata Simulasi
Waktu Tidak terbatas (sampai ahli) 4-5 tahun

Karena isu-isu kesetempatan tidak menjadi porsi utama, maka patut dimaklumi jika terjadi keterputusan transmisi. Tergantikannya proses, materi serta cara belajar dari tradisional menjadi pendidikan formal perlu dicarikan jalan keluar. Informasi serta pengetahuan baru yang bersumber dari luar negeri maupun luar pulau bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau dilawan melainkan harus diakomodir di dalam pembelajaran arsitektur. Namun pengetahuan serta informasi dari luar tersebut hendaknya tidak menggantikan, tetapi memperkaya khasanah budaya arsitektur dan secara umum lingkungan binaan di Bali. Dengan demikian maka jalinan tradisi tetap dapat ditransmisikan untuk memenuhi kebutuhan hari ini serta mungkin dilanjutkan ke generasi selanjutnya tanpa mengabaikan isu-isu modernitas serta ke-kini-an.

Lalu apa tantangan terpenting dalam pendidikan arsitektur kita jika ingin mengembangkan arsitektur tradisional tetapi tetap mengakomodir ke-baru-an serta perkembangan jaman? Jawabannya tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Dan tantangan tersebesar ada pada pelaku pendidikan di bidng arsitektur itu sendiri, para pembuat kurikulum serta para pengajar di depan kelas sebagai agen yang bertugas mentransmisikan pengetahuan arsitektur tradisional serta bagaimana menyandingkannya dengan jaman yang sudah banyak berubah.

Beberapa langkah nyata, antara lain: memperbesar porsi SKS di dalam kurikulum, melibatkan mahasiswa dalam proyek nyata bangunan tradisional, menyelipkan agenda perancangan berwawasan identitas, atau menyelenggarakan workshop bangunan tradisional bisa dipertimbangkan.

Jika dikelompokkan, maka strategi yang dibentuk dapat diterjemahkan menjadi: bidang filsafat dan pemahaman terhadap konteks, bidang pemutakhiran kebutuhan masa kini serta bidang teknis-teknologis serta know-how arsitektur tradisional. Jika dijabarkan ke dalam mata kuliah maka masing-masing kelompok ini bisa dijadikan sebagai bagian pembelajaran. Kelompok pertama jatuh kepada kelompok mata kuliah teori dan sejarah arsitektur local, kelompok kedua pada teori perancangan dan penyusunan program kebutuhan sedangkan kelompok ketiga, memperoleh cakupan lebih luas, meliputi aspek: struktur dan konstruksi, utilitas, material serta ilmu bahan bangunan.

Untuk memperkaya pengalaman, maka praktikum harus diberikan  porsi yang cukup dominan. Praktikum mebutuhkan banyak biaya serta alokasi waktu dan tempat khusus. Berhubung di Bali terdapat beberapa perguruan tinggi, maka strategi untuk menekan biaya bisa dilakukan dengan menjalin kerjasama penyelenggaraan workshop bersama. Selain menekan biaya, workshop ini juga menjadi ajang untuk saling berkolaborasi antar berbagai perguruan tinggi arsitektur yang ada di Bali.

Strategi manapun yang dibentuk, harus dimulai dari kesepakatan perguruan arsitektur yang ada di Bali sehingga ada keseragaman langkah serta kesetaraan kualitas. Muaranya tentu saja ada pada terciptanya tradisi berarsitektur yang mengakar di masa lalu, mampu memenuhi kebutuhan masa kini, serta bisa dijadikan pijakan untuk merancang masa depan. Semoga terwujud.

Bahan Bacaan

Abel, Chris and Foster, Norman, 2012, Architecture and Identity, second edition, Routledge

Alsayyad, Nezar, 2014, Traditions: The “Real”, the Hyper, and the Virtual In the Built Environment, Routledge

Asquith L.,Vellinga, M., 2006 , Vernacular Architecture in the 21st Century: Theory, Education and Practice, Taylor and Francis

Bourdier, Jean-Paul., AlSayyad, Nezar, 1989, Dwellings settlements and tradition cross-cultural perspectives, Lanham : University Press of America ; Berkeley, CA : International Association for the Study of Traditional Environments
Covarrubias, M. 1986. Island of Bali. First published in 1937. London. KPI limited

Sularto, R. (1987) A Brief Introduction Traditional Architecture of Bali: Some Basic Norms, Aga Khan Architecture Awards Speech

Waterson, R. (2006). The living House: an Anthropology of Architecture in South East Asia. Singapore: Tuttle Publishing

Arsitektur Bali pasca Hasta Kosala-Kosali dan Hasta Bhumi: Menyimak Peran dan Karya Ida Bagus Tugur dan Robi Sularto

… the vernacular (should be used) as a source of architectural knowledge and that critically examines the way in which this know how may be integrated with new forms, resources and technologies so as to develop culturally and environmentally sustainable architecture for the future(Velinga in Oliver, 2007).

art1-4

Arsitektur setempat bukanlah benda mati, sesuatu yang ada di bingkai waktu yang berbeda dengan jaman sekarang, melainkan pengetahuan yang selalu hidup berjalan, berakar di masa lalu dan bertumbuh menuju masa depan. Pengetahuan arsitektur setempat sebagai sesuatu yang hidup terus berkembang serta mendapat pemaknaan ulang secara terus menerus merupakan strategi yang bisa dipakai dalam membangun identitas.

Saya menggunakan istilah yang tidak lumrah, pasca-kosala-kosali, untuk menandai jaman saat arsitektur di Bali diciptakan tanpa sepenuhnya menerapkan aturan atau panduan Hasta Kosala-Kosali serta Hasta Bhumi secara leksikal. Penamaan ini masih bisa diperdebatkan lebih jauh lagi dalam rangka penyusunan periodisasi yang lebih matang. Pada masa aturan yang terdapat di dalam beberapa lontar tersebut diterapkan, serta di masa sebelumnya, arsitektur masih bersifat non-authorship, anonym. Anomyn disini dimaksudkan bahwa tidak ada satu nama personal yang secara benderang menjadi undagi atau arsitek di balik sebuah bangunan. Karya-karya arsitektur merupakan hasil kerja yang bersifat komunal. Bangunan menjadi milik masyarakat, karya kolektif, sehingga cukup sulit menyebut satu nama. Misalnya, yang menciptakan candi bentar pertama kali, atau yang menemukan struktur meru, sangat sulit ditelusuri. Berbeda dengan masa setelah arsitektur menjadi ekspresi karya personal setelah masa Hasta Kosala-Kosali dan Hasta Bhumi hingga masa sekarang.

***
Saat membicarakan perkembangan arsitektur Bali post-Kosala-Kosali, ada dua nama yang patut diletakkan pada posisi penting. Kedua nama tersebut adalah Robi Sularto Sastrowardoyo dan Ida Bagus Tugur. Keduanya, meskipun dengan pendekatan yang berbeda, menghasilkan banyak karya monumental yang mewarnai lansekap budaya Bali tahun 70-an hingga pertengahan 90-an. Arsitek-arsitek muda Bali setelah tahun 2000-an barangkali tidak banyak mengenal kedua sosok ini, termasuk juga saya. Gemerlapnya dunia arsitektur internasional dengan segala capaian mutakhirnya serta terjebaknya perdebatan arsitektur tradisional pada ke-masalalu-an, menyebabkan sosok kedua arsitek ini, yang karya-karya besarnya menjadi jembatan kedua kutub yang seolah bertolak belakang ini, berada pada wilayah abu-abu.
Tulisan ini saya susun dengan sangat banyak keterbatasan. Sumber-sumber tertulis tentang peran dan kiprah kedua tokoh ini tidak mudah dijumpai sehingga bisa saja tulisan ini nanti menjadi bias. Foto-foto, sketsa ataupun gambar hasil karya keduanya pun tidak kalah susahnya untuk dirunut. Banyak diantara karya-karya Robi Sularto yang konon sudah dimodifikasi, sehingga menyulitkan saya di dalam melakukan identifikasi orisinil atas ide-ide beliau. Karya Ida Bagus Tugurpun sulit dicari jejak pemikiran dan idenya, sekalipun banyak bangunan beliau yang masih berdiri megah hingga kini. Di tengah segala keterbatasan tersebut, (well boleh jadi ini hanya excuse atas ketidakmampuan saya), saya memberanikan diri untuk mencoba membahas dari sisi yang berbeda. Melalui karya-karyanya, kedua arsitek menunjukkan bahwa arsitektur Bali di masa modern tidak melulu harus terjebak pada romantisisme arsitektur sebagaimana dikembangkan arsitek asing dalam gaya Bali Style. Melalui keahlian masing-masing, kedua arsitek memberi makna baru pada arsitektur tradisional menghasilkan karya dengan bentuk baru, tidak mengambil referensi dari bangunan yang sudah ada sebelumnya, tetapi tetap mengedepankan nafas dan akar arsitektur tradisional melalui re-kreasi dan re-interpretasi sehingga makna nya sesuai dengan jamannya.

tugur

Ida Bagus Tugur adalah seorang seniman yang tidak mengenyam pendidikan arsitektur secara formal. Kepiawaiannya mengolah dan mentransformasi ide menjadi bentuk bangunan mengantarkan beliau menjadi salah satu dosen luar biasa pada Jurusan Arsitektur Universitas Udayana.
Lahir pada tanggal 29 Mei 1926, Ida Bagus Tugur sejatinya adalah seorang pelukis. Selain melukis beliau adalah juga seorang guru pada Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Semanjak tahun 1960-an akhir beliau mulai banyak terlibat di dalam proyek pembangunan fisik. Pengetahuannya tentang cerita-cerita pewayangan, yang umum menjadi tema karya lukisnya, menjadi dasar yang kuat dalam karya-karya arsitekturnya. Imajinasi tentang dunia serta tempat-tempat, istana, taman, serta bangunan dalam dunia pewayangan diterjemahkan ke dalam wujud-wujud karya arsitekturnya yang berkharakter. Berbekal pengetahuan dasar undagi, intepretasi yang dilakukan dibalut dalam wujud prinsip bangunan Bali. Tidak hanya imajinasi wujud bangunannya yang diterjemahkan ke dalam bentuk fisik nyata, tetapi juga nama nama bangunan hingga taman tamannya. Ardha Chandra, Gedung Krya Uccaihcrawa adalah beberapa contoh nama-nama gedung yang diilhami dari kisah-kisah pewayangan.

art2-4
Secara struktur, karya karya Ida Bagus Tugur mengadopsi bentuk-bentuk tradisional dan beberapa prinsipnya. Skala bangunan yang monumental, ketinggian yang dia atas rata-rata, atau lebar yang ekstrem namun proporsi kepala badan kaki yang terjaga dengan baik dalam naungan atap limas adalah sosok umum karya beliau. Kerangka tiang yang memikul beban atap dibuat terpisah dari dinding yang berfungsi sebagai sekat. Prinsip ini adalah hal lumrah dalam arsitektur tradisional Bali. Sekalipun cukup ketat menerapkan prinsip-prisnip struktural tradisional, dalam beberapa karyanya tersemburat pendekatan arsitektur klasik eropa. Kolom-kolom beton berukuran besar dibungkus dengan batu alam paras atau batu bata merah dengan tata olah Doric, Ionic ataupun Corinthian namun dengan ornamen Bali. Mirip dengan kuil-kuil pada masa Romawi ataupun Yunani dalam sentuhan lokal. Kolom-kolom ini dibuat terekspos berada di luar dinding utama bangunan. Strategi ini ternyata membuat bangunan, selain estetis, juga sejuk karena membuat dinding-dinding berada di dalam naungan yang cukup lebar.

Meskipun tetap menggunakan limas sebagai dasar, bentuk atapnya tidak identik dengan bangunan-bangunan traditional Bali umumnya. Salah seorang seniman yang sempat bekerjasama dengan beliau menyebutkan bahwa atap-atap kuil di Thailand banyak berpengaruh pada karya beliau di tahun 1980-an. Hal ini, masih menurut informan yang sama, terjadi terutama setelah beliau melakukan perjalanan ke negeri Gajah Putih tersebut.
Ornament adalah hal yang sangat menonjol dalam karya-karya Tugur. Binatang-binatang dari dunia fantasi pewayangan, naga, gajah mina (hewan dengan kepala gajah berbadan ikan), singa, boma dan jenis lainnya menjadi hiasan yang menyatu tak terpisahkan dari karya-karyanya. Jembatan gajah mina, atau railing tangga dengan naga yang monumental di kompleks Ardha Chandra Denpasar adalah karya yang banyak mendapat apresiasi. Selain ornamen yang kaya, karya tugur juga sangat identik dengan kehadiran taman yang dilengkapi dengan bale kambang dikelilingi kolam teratai atau lotus.
Karya-karya Ida Bagus Tugur sesungguhnya sangat eklektik, mengambil banyak idiom desain dari beragam sumber. Sekalipun dari segi skala, ornament serta beberapa detail sangat kontras dengan arsitektur Bali masa sebelumnya, karya-karya Ida Bagus Tugur mendapat tempat serta banyak dikagumi sebagai sebuah lompatan menuju kematangan arsitektur tradisional di jaman modern. Pengambilan tema dan setting serta cerita atau mitologi yang dekat dengan masyarakat menjadi keberhasilannya dalam merebut perhatian masyarakat Bali. Kepiawaian mengolah pengetahuan konstruksi per-undagi-an tradisional dengan pengetahuan tema dan pengetahuan arsitektur klasik mengantarkannya pada ketenaran terutama di puncak karirnya di tahun 1980-an.

***
Figur yang juga sangat sentral, tidak hanya bagi Bali tapi juga Indonesia, adalah Robi Sularto Sastrowardoyo. Nama ini adalah salah satu lulusan angkatan pertama pendidikan formal arsitektur Indonesia setelah masa kemerdekaan. Lulusan ITB tahun 1967 ini terkenal karena kegigihannya memperjuangkan identitas arsitektur Indonesia di jaman ketika modernisme sedang dahsyat melanda seluruh muka bumi.
Masa akhir perang dunia menjadi ladang subur international style, gaya modern dengan mantra ‘less is more’ berciri strandarsisasi dan mekanisasi material bangunan. Gaya ini pula yang banyak diadopsi oleh arsitek berbagai negara dalam wujud bangunannya pada pavilion Japan Expo 1970. Robi Sularto masih cukup muda, hanya tiga tahun setelah menyelesaikan pendidikan formal arsitektur, merancang pavilion Indonesia dengan gaya yang sama sekali berbeda. Di saat baja dan kaca menjadi norma, Robi menggunakan pendekatan vernakular dengan pilihan arsitektur pola natah rumah tradisional Bali. Bukan menerapkan secara murni, tetapi dengan daya kreasi dan pendekatan modern, pavilion Indonesia mencuri perhatian pengunjung expo. Karya ini menjadi titik tolak sekaligus menumbuhkan kepercayaan bahwa arsitektur Indonesia tidak harus meniru tren yang sedang melanda dunia. Seni pertukangan dan pengetahuan arsitektur local yang mengakar, prinsip yang seolah bertentangan dengan premis modernisasi yang mengutamakan presisi tinggi, biaya minim dan ke-baru-an, ditempatkan dalam posisi terdepan dalam perwujudan karya Robi.
Persentuhannya dengan arsitektur modern terjadi saat bersama-sama banyak lulusan awal arsitektur masa itu magang di proyek CONEFO. Ir. Suyudi almarhum yang merupakan salah satu arsitek modern di awal masa kemerdekaan Indonesia pada masa itu banyak merancang gedung gedung pemerintahan. Bersama Suyudi lah Sularto banyak terlibat dalam proyek-proyek seperti gedung DPR dan MPR dan beberapa proyek mercusuar masa pemerintahan Presiden Sukarno.
Robi selanjutnya sering melakukan eksplorasi dan pertukaran ide dengan banyak pihak: undagi, ahli struktur, engineer, ahli ekonomi, antropologi dan ahli berbagai bidang lainnya. Pertukaran ide ini dilakukan bersama kelompok Tjampuhan Society dimana Buckminster Fuller pernah menjadi anggotanya. Diskusi-diskusi dengan berbagai ahli tersebut membentuk latar belakang keilmuan Robi menjadi campuran antara kemampuan engineering jaman baru dengan nilai filsafat, estetika, identitas serta sejarah yang kemudian berpilin mewujud dalam setiap karyanya.
Bersama beberapa kawan seangkatan, Robi membentuk firma arsitektur legendaris Indonesia, Atelier Enam. Firma yang sempat menjadi ikon dunia arsitektur di Indonesia dengan karya-karya ber-identitas Indonesia. Diantara teman-temannya di firma ini, Robi dikenal dengan segala keunikannya. Pemahaman Robi yang sangat mendalam akan arsitektur tradisional Indonesia sangat kental mewarnai karya-karya Robi Sularto. Hal ini menyebabkan secara personal, Robi tidak pernah kehilangan identitasnya meskipun bergabung dengan rekan-rekannya yang lain dengan minat yang berbeda-beda dan sama sama memiliki karakter yang kuat. Robi juga dikenal sebagai orang yang sangat mencintai detail-detail ketukangan: atap yang penuh detail, dinding yang axisnya diputar 45 derajat dari axis utama bangunan adalah beberapa macam ciri karyanya.
Temuan-temuan termutakhir di bidang ilmu pengetahuan dan rekayasa, oleh Robi disandingkan dan ditransformasi dengan balutan pengetahuan dan nilai arsitektur lokal yang telah berjalan ribuan tahun di Indonesia. Secara sadar, Robi membawa arsitektur Indonesia untuk tidak canggung bergaul dengan arsitektur lain pada jamannya menjadi wakil dari identitas ke-Indonesia-an. Karya-karyanya tidak meniru begitu saja arsitektur tradisional serta tidak mentah-mentah meng-copy arsitektur modern.
Nusa Dua Beach Hotel, salah satu hotel pertama yang dibangun atas rekomendasi dari study SCETO 1971, menjadi pembuktian pandangannya dalam ber arsitektur. Sekalipun mengambil titik tolak yang serupa dengan yang dilakukan Peter Muller saat membuat proposal Matahari Beach Hotel di Sanur, Robby tidak melakukan peniruan arsitektur tradisional dari segi wujud. Jika Muller mengambil ide wujud dan bentuk bangunan: rumah tinggal, wantilan, tembok rurung dsb., Robi mewujudkan ide-ide tata ruang tradisional sesuai dengan intepretasinya terhadap sebuah perkampungan Bali di jaman modern. Hasilnya, sebuah hotel dengan filosofi Bali: memiliki nafas dan jiwa tradisional, namun tidak satu bangunanpun mengambil secara utuh wujud bangunan tradisional Bali.

Kesuksesan desain Nusa Dua Beach Hotel sempat menimbulkan kelatahan di seantero Indonesia. Sejak kesuksesan hotel ini, seolah-olah semua bangunan pemerintah harus dibuat sesuai dengan nafas tradisional setempat.
Tidak hanya hotel, Robi juga banyak membangun bangunan lain, perkantoran pemerintah, kantor bank serta BUMN, hingga fasilitas pengunjung di Pura Samuan Tiga. Di hampir semua karyanya, Robi mengeksplorasi teknik membangun serta teknik ketukangan baru namun tidak tercerabut dari akar arsitektur tradisional. Karya-karyanya menjadi orisinal, bukan peniruan terhadap arsitektur tradisional, sekaligus menyesuaikan diri dengan jamannya. Kepiawaiannya dalam melakukan interpretasi arsitektur vernacular serta pengetahuannya yang mendalam terhadap teknik konstruksi baik tradisional maupun modern mengantarkannya pada pengakuan secara internasional sebagi arsitek yang memperjuangkan identitas arsitektur lokal.

***
Baik Tugur maupun Robi memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengerjakan karyanya. Tugur mengedepankan pada fantasi dan mitologi lokal dalam bentuk ornamen dan wujud bangunan dalam skala ‘grande’ dipadukan dengan berbagai gaya arsitektur yang ditampilkan dalam nuansa Bali yang kental melalui pemakain bahan dan ornament lokal. Robi, di lain pihak, menggali nilai dan nafas arsitektur lokal termasuk teknik konstruksinya, memadukan dengan pengetahuan teknologi terkini dan memberi interpretasi ulang sehingga menghasilkan karya yang bermakna lokal namun bernilai modern. Satu benang merah yang menghubungkan kedua tokoh ini adalah, meminjam idiom yg sering dipakai Josep Prijotomo, keinginan mereka untuk me-modern-kan arsitektur Bali bukan sebaliknya mem-Bali- kan arsitektur modern.

Bacaan selanjutnya
Abel, Chris and Foster, Norman, 2012, Architecture and Identity, second edition, Routledge
Alsayyad, Nezar, 2014, Traditions: The “Real”, the Hyper, and the Virtual In the Built Environment, Routledge
Asquith L.,Vellinga, M., 2006 , Vernacular Architecture in the 21st Century: Theory, Education and Practice, Taylor and Francis
Bourdier, Jean-Paul., AlSayyad, Nezar, 1989, Dwellings settlements and tradition cross-cultural perspectives, Lanham : University Press of America ; Berkeley, CA : International Association for the Study of Traditional Environments
Covarrubias, M. 1986. Island of Bali. First published in 1937. London. KPI limited
Creswell, Tim, 2004, Place: a Short Introduction (first edition), Malden, Oxford, Victoria: Wiley Blackwell
Sularto, R. (1987) A Brief Introduction Traditional Architecture of Bali: Some Basic Norms, Aga Khan Architecture Awards Speech
Oliver, P., 2007, Built to Meet Needs: Cultural Issues in Vernacular Architecture, Routledge
Oliver, P, 2007, Dwellings: the Vernacular House Worldwide, Phaidon Press Ltd; New edition edition
Relph, Edward, 1976, Place and Placelesness, Pion Ltd
Waterson, Roxana, 1997, Living House: An Anthropology of Architecture in South-East Asia, Singapore: Tuttle Publishing

Kramaning Kayu: dipetik dari Terjemahan Lontar L.05.T

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kayu merupakan bahan bangunan yang paling populer di dunia, setidaknya hingga saat ini. Hampir di seluruh belahan dunia, kayu dipergunakan untuk berbagai keperluan bangunan: tiang, kerangka penyangga kuda-kuda, dinding, lantai bahkan atap. Penggunaan kayu yang sedmikian populer menyebabkannya menjadi bahan bangunan yang juga relative banyak dikembangkan, dimodifikasi tidak hanya sebagai struktur tetapi juga sebagai hiasan. Selain di tempat-tempat ekstrem kutub utara dan selatan serta wilayah gurun pasir, barangkali tidak banyak bangunan vernacular yang tidak menggunakan kayu.

Berbagai keunggulan kayu menyebabkannya diandalkan oleh masyarakat vernacular di seluruh dunia. Kayu merupakan bahan bangunan yang dapat diperbaharui. Tidak seperti batu yang tidak tumbuh dan bertambah, kayu dapat ditanam, dipelihara serta jika umurnya sudah cukup dapat ditebang untuk keperluan bahan bangunan. Kelenturan serta kakuatannya terhadap gaya tarik dan tekan juga menjadikannya sebagai bahan bangunan yang handal. Teknik-teknik pengolahan serta konstruksi berpadu dengan keunggulan bahan kayu menjadikan bangunan konstruksi kayu sebagai bangunan yang tahan terhadap guncangan gempa.

moojen151

Penerapan tata olah kayu dalam arsitektur tradisional Bali. Sumber: PAJ Moojen, Kunst op Bali

Di Bali, kayu menjadi salah satu bahan bangunan utama. Hampir semua typology bangunan tradisional Bali menggunakan kayu sebagai tiang dan bahan kerangka atap. Kayu bahkan dipakai untuk bahan bangunan yang tinggi seperti meru bertumpang 3 hingga 11. Kayu, dengan teknik konstruksi tertentu juga kuat menyangga beban atap yang lebar dan berat seperti atap bangunan wantilan, misalnya. Di dalam skala rumah tinggal, secara tradisional, kayu menjadi bahan baku utamanya.

Sekalipun kayu merupakan bahan baku yang dapat diperbaharui serta memiliki keunggulan dalam berbagai hal, tetap saja penggunaan kayu perlu diperhatikan. Pengaturan penggunaan kayu ini bertujuan untuk menjaga kelestariannya, menjamin manfaat yang tertinggi dari pemanfaatan kayu serta menjamin bahwa struktur yang dibangun dengan konstruksi kayu aman serta nyaman utnuk ditinggali. Secara tradisional, penggunaan kayu dalam arsitektur tradisional Bali sejak era Hasta Kosali telah diupayakan untuk diatur. Tulisan ini salah satunya bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaturan penggunaan kayu yang di muat di dalam lontar hasta kosali. Pendekatan pembahasannya lebih pada sisi teoretikal dengan bahan utama dari terjemahan lontar Hasta Kosali dengan kode L.05.T.

Secara umum di dalam lontar diatur tentang pemanfaatan kayu dalam konstruksi bangunan. Penggolongan kelas kayu, tata cara menemukan kayu yang baik di alam, tata cara menebang, kayu-kayu yang baik serta tidak baik untuk bangunan merupakan sebagain hal yang di bahas di dalam lontar. Dipercaya bahwa setiap cacat kayu menghilangkan kebaikan yang dimiliki oleh kayu.

bali135a

Kayu sebagai struktur utama tiang dan atap bangunan tradisional. Sumber: Goris, Bali: Atlas Kebudayaan

Tentang penggolongan kelas kayu

Penggolongan kelas kayu dalam lontar hasta kosali menggunakan istilah-istilah dalam dunia kerajaan. Golongan yang paling tinggi adalah golongan raja. Jenis kayu yang termasuk di dalam golongan ini adalah kayu nangka. Golongan berikutnya adalah mahapatih dimana jati menjadi anggotanya. Selanjutnya adalah kayu golongan kelas utama termasuk di dalamnya wangkal, kanuruhan, kwanditan, bintenu, cempaka. Pohon juwet termasuk dalam kelas patih sementara kemoning dan majegau adalah golongan raja bersama sama dengan cendana,dan kayu manengen. Kayu-kayu ini boleh dipergunakan bersama sama dengan kayu pulasari, bekul, sesangka, sangsana dan gambir.  Golongan kayu kelas dua adalah kayu kuang, base-base, tapaning kayu. Namun pohon bintenu juga digolongkan ke dalam kelompok perbekel.

Disebutkan pula bahwa kayu-kayu yang berasal dari golongan utama dapat dipergunakan secara bercampur di dalam satu bangunan. Kayu-kayu tersebut antara lain nangka, jati, wangkal, kajimas, base base, bentenu, adis, kwanditan, sentul, sembung.

Pohon yang bunganya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan tidak boleh dipakai. Pohon berbunga tersebut antara lain adalah: sakaasti, sukanatar, parijata, kayumas, kayu puring, tengeli gending, kayu jaring, sarpa sari, kayu teja, bekul, kejanti, kemoning, kelor, sepelasa. Demikian pula beberapa pohon yang daunnya memiliki banyak manfaat juga sebaiknya dihindari. Menurut daunnya yang tidak boleh dipakai adalah: pandan wong, pandan arum, pandan rangkang, pandan minyak, pandan uduan.

Menurut daun dan semua warna bunga, pohon miyasah, bayam raja, bayam suluh, sulasih pucang, ketekan gambir.

Tentang menemukan kayu yang baik berdasarkan tempatnya tumbuh

Selain dari segi jenisnya, di dalam teks lontar disebutkan pula beberapa pohon tidak baik dipakai sebagai bangunan berdasarkan tempat tumbuhnya. Pohon yang tumbuh di atas persil parhyangan, sanggah dan tempat suci lainnya, serta pohon yang tumbuh di kuburan, tempat-tempat angker serta kotor tidak baik dipakai sebagai bahan bangunan. Pohon yang tumbuh di perbatasan desa atau perbatasan wilayah tidak boleh ditebangi dan harus dijaga agar tetap subur dan tumbuh dengan baik.

Pohon yang tumbuh di tepi jurang atau di tepi telaga alami serta danau dalam jarak tertentu dari tepian air dipercaya sebagai milik penguasa sungai yaitu Dewi Srilingga dan Dewi Tarwih. Pohon yang tumbuh di tempat-tempat seperti itu tidak boleh ditebang seperti juga pohon-pohon di tepi jurang juga tidak boleh dipakai sebagai bahan bangunan.

Kayu yang terdampar di sungai atau laut, kayu yang hanyut, kayu yang tumbang tanpa ditebang atau bekas terbakar, disambar petir atau kayu mati akibat ditusuk juga harus dihindari.

Jika ada kayu tumbuh dari pangkal yang pernah ditebang, maka kayu tersebut juga tidak boleh dipakai sebagai bahan bangunan.

Tentang tata cara menebang kayu

Jika sudah menemukan jenis kayu yang baik serta tumbuh di tempat yang semestinya, maka kayu tersebut boleh ditebang dan dijadikan sebagai bahan bangunan. Tata cara menabang kayu juga termuat di dalam lontar beserta larangan atau pantangan-pantangan yang mesti dihindari. Kayu yang saat ditebang jatuh melintang jalan, melintang sungai atau melintang jurang disebut butawi mesti dihindari. Kayu yang ditebang juga tidak boleh jatuh menimpa benda keras seperti batu, tembok pekarangan atau tanah gundukan yang keras sehingga seolah membantali kayu tersebut.

Asalkan diupacari dengan baik menggunakan sarana nyuh godeg, kayu-kayu yang rebah tetapi tersangkut pohon lain, atau rebah karena tertimpa pohon lain bisa dipakai sebagai jineng dan dapur, tetapi sebaiknya tidak dipakai untuk bangunan lain. Demikian juga perlakuan yang sama diberikan pada kayu-kayu yang rebah karena angin atau yang tumbuh dari batang yang pernah ditebang.

Mantram untuk kayu

Sebelum ditebang, kayu-kayu harus dimohonkan kesediaannya serta dimohonkan ijin kepada pemilik kayu tersebut untuk ditebang. Permohonan dilengkapi dengan sarana banten daksina genap, ketupat kelanan, segehan putih kuning dan tetabuhan.

Mantra yang harus dirapalkan sebelum menebang kayu adalah sebagai berikut:

‘Ong kita sang Kala Agung, Sang kala umah, sang kala ring marga, sang kala ring wates, sang kala ring tegal, sang kala ring alas, aja sira angraksanana ring kayu, mundur pwa kita saparanta, angwetan, angidul, angulon, angalor, iku ulunin kami porandamoni piluyur, teka pah teka pah teka pah.

Jika semua bebantenan dan upacara memohon menebang kayu sudah dilaksanakan, patut diketahui bangunan apa yang akan dibangun menggunakan kayu tersebut. Mengetahui pemanfaatannya berpengaruh terhadap arah rebahnya kayu. Bila kayu yang ditebang itu akan dipakai untuk tempat suci, maka arah rebah ke timur laut adalah yang utama. Kayu yang rebah ke utara dan timur disebut madya. Dan harus dihindari kayu rebah ke arah selain yang telah disebutkan karena itu adalah nista.

Jika kayu yang ditebang akan dimanfaatkan untuk dapur maka arah rebahnya berbeda pula. Untuk dapur, kelumpu dan jineng, kayu yang ditebang lalu jatuh ke arah barat daya adalah utama. Jika jatuhnya ke arah selatan dan barat adalah madya, selain arah-arah tersebut akan membuat kayu bernilai nista.

Setelah kayu rebah ke tanah, kayu harus dipotong menurut ukuran yang telah ditentukan. Pemotongan dilakukan agar memudahkan untuk dipindahkan ke tempat yang lebih lapang untuk selanjutnya dikerjakan seseuai keperluan. Memotong serta membelah kayu tidak bisa dilakukan sembarangan karena masyarakat tradisional percaya bahwa kayu memiliki jiwa serta ada ‘yang memiliki’.

Mantra untuk memotong atau membelah kayu:

‘Pakulun bhagawan Angatemana kayu, Sanghyang Indra dewataning kayu, Sanghyang wisnu Anguripa Tumuwuh, teka pejah… pejah… pejah… wokaya swaha’

Larangan perlakuan terhadap kayu

Kayu-kayu yang telah dipotong serta dibelah-belah menjadi beberapa bagian masih harus diseleksi sebelum benar benar dijadikan sebagai bahan bangunan. Prosesnya meliputi pemilihan secara kasat mata dimana kayu bahan yang keluar hatinya digolongkan sebagai kayu yang cacat. Mata kayu yang terkena pahat pada lubangnya adalah cacat. Kayu yang dipakai hingga kulitnya, masih memperlihatkan bekas kena timpas/kapak, bekas pahat, ketaman yang belum bersih sebaiknya tidak dipergunakan sebagai bahan bangunan. Jika kayu-kayu tersebut tetap akan dipakai maka sebelumnya harus dilukat terlebih dahulu.

Memperlakukan kayu dalam proses pembangunan sebaiknya dilakukan dengan penuh perhitungan serta berhati-hati. Umumnya pekerjaan kayu dilakukan oleh undagi yang sudah mahir dan berpengalaman di atas rata-rata. Hal ini perlu diperhatikan karena kayu merupakan struktur penyangga utama bangunan tradisional.

Kesalahan terhadap perlakukan kayu akan merugikan karena kayu yang salah tidak bisa dipakai lagi. Bila melubangi kayu untuk bangunan lalu lubangnya salah maka kayu tersebut disebut borok wong dan tidak bisa dipakai sebagai bahan bangunan. Jika tetap dipaksakan untuk dipakai dipercaya si pemakai bangunan akan menderita borok, sakit kulit, bisul. Demikian juga saat membuat tiang-tiang bangunan. Harus diketahui ukurannya dengan benar. tiang yang sudah jadi tidak boleh dipependek, diperkecil atau dirubah ukurannya. Jika dilakukan bisa mengakibatkan orang yang memempati bangunan akan kesakitan sedikit demi sedikit dan lama kelamaan akan semakin parah.

Bangunan yang sudah berdiri rangka-rangkanya tidak boleh diperkecil. Memperpendek kelumpu, jineng, dapur misalnya akan berakibat buruk, sebaliknya memperpanjang atau menambah ukurannya dianggap membawa peruntungan. Demikian pula menghaluskan atau mengetam kayu pada bangunan yang sudah selesai dipelaspas disebut janda berhias. Hal ini sangat berbahaya.

Sebagaimana dibahas di atas, beberapa cacat tertentu dapat diupacarai dengan cara penglukatan.

Mantra pengurip kayu

Sebelum dipakai dan diaplikasikan menjadi bahan-bahan tiang atau bahan bangunan lainnya, kayu harus dihidupkan ‘jiwa’ nya. Kegiatan ini disebut ngurip kayu karena sebelumnya, pada saat ditebang, jiwanya dianggap telah meninggalkan raganya. Saat akan dipakai maka jiwa nya harus dihidupkan kembali. Dikutip dari Lontar L.05.T terjemahan N. Gelebet, mantra pengurip kayu adalah sebagai berikut:

‘Ong aku angurip taru, ring utara prenahira, monadi kita wesi, kalukat kalebur dening batara wisnu, manadi kita wesi purasani, kadaden taman tkakena ring swarganira Batara Wisnu, ajua ta sira amilara ring awak sariranku pena

Pakulun hyang Siwa Gotra, ingsun konkonan Bagawan Wiswa Karma, angawangunang saluiring wawangunan, ajua sira milara aku, apan aku anak Hyang Siwagotra, wenang aku angwangunang saluiring raja karya, ajua anyipat anyinggul ring aku, poma… poma… poma’.

Pakulun sang retuning papajonan, Prabu nAngka, Pepatih Jati, Arya Sentul, Rangga ungu, tekening pucak irisan, anunua sira, sun patenin, sukun sira dadi pari sira, masi mawoh; mabungkah kita, pamuwit papa kita winadung ginawe lakar, anakena sangkara, ongkara, ana kena buri akakara, pakulun Sanghyang ekawara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Astawara, Sangawara, redite pinaka tda, soma pinaka pidaminda, anggara pinaka godongda, buda pinaka kembang, wrespati pinaka galih, sukra pinaka camping, saiscara pinaka pancer.

Sami sira astawara anaksenin, dang, jang, gi, no, o , e u, tu, da, mulih maring Sang Hyang Sadwara anaksenin, tung, ar, wur, pa, wa, ma, kajenengan denira Sang Hyang Pancawara, makadi u, pa, pwa, a, ka.

Malih catur laba anaksenin, sri, la, ja, ma, kajenengane denira Sang Hyang Tri Wara, do, wa, bia, kajenengan denira Sang Hyang Dwiwara, menge, pe, telas, denira anaksenin.

Diskusi di kekinian

Jika dilihat dari jenis-jenis kayu yang dibahas terlihat bahwa kayu yang baik untuk bahan bangunan berasal dari jenis dikotil. Tanaman dari jenis ini dikenal memiliki akar tunggang, berbiji belah serta memiliki batang yang kuat dan bercabang. Jika dipotong melintang, maka akan terlihat beberapa lapisan batangnya.

Lapisan batang terdiri atas kulit pohon, cambium, batang muda atau gubal, batang tua dan yang paling tenagh adalah hati. Bagian yang paling baik dipakai sebagai bahan adalah lapisan batang tua. Lapisan hati biasanya sedikit rapuh, smentara batang muda merupakan bagian yang menyalurkan zat makanan dari tanah ke daun bersama sama cambium sehingga cenderung masih belum kuat. Hal menyebabkan di dalam lontar disarankan agar menghindari bagian gubal serta bagian hati. Tentu saja tujuannya adalah mendapatkan bagian kayu yang terbaik.

3. Profil Kayu Sengon Merah

Penampang kayu menunjukkan bagian hati, kayu tua, kayu muda, kambium dan kulit kayu berturut-turut dari bagian tengah ke arah pinggir. sumber: sylvanonursery.blogspot.com

Jika dilihat berdasarkan lokasi tumbuhnya, maka terlihat ada unsur konservasi di dalamnya. Tidak menebang pohon yang tumbuh di dekat sungai memberi perlindungan pada tepi sungai. Longsor bisa dicegah serta erosipun menjadi minimal. Kayu-kayu yang berada dekat dengan telaga alami serta danau menjaga agar pasokan air tetap terjaga. Akar-akar pohon menyerap air hujan dan menyimpannya untuk dikeluarkan pada waktu tertentu. Dengan kemampuan menyimpan air, maka di musim kemarau telaga atau danau tetap memiliki air yang disalurkan melalui sungai-sungai untuk mengairi irigasi persawahan.

Larangan serta pantangan dalam pengolahan kayu bertujuan untuk memastikan bahwa kayu yang dipakai benar benar yang sempurna. Rumah adalah tempat tinggal manusia, mungkin untuk seumur hidup. Kayu-kayu yang menjadi struktur utama harus dipastikan bebas cacat agar kekuatannya terjamin serta aman bagi penghuni rumah.

bali137a

Ilmu mengolah kayu dilakukan secara turun temurun. Sumber: Goris, Bali: Atlas Kebudayaan.

Kepercayaan masyarakat bahwa ada kekuatan lain yang menguasai semesta serta manusia harus mampu menjaga hubungan baik dengannya membawa pada kepercayaan bahwa kayupun memiliki jiwa. Selain memiliki jiwa, kayu juga menjadi ‘milik’ penguasa alam. Menebang kayu harus dilakukan jika sudah mendapatkan ‘kesediaan’ dari kayu itu sendiri serta memperoleh  ‘ijin’ dari sang pemilik. Dengan demikian hubungan baik antara manusia dengan semesta tetap terjalin dengan baik.

Jika pemilihan, tata cara menebang, tata cara mengolah serta tata cara upacara kayu dilaksanakan, masyarakat tradisional percaya hal ini akan menciptakan keseimbangan alam yang membawa kebahagiaan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya.

Ritus Air: Mensejahterakan Umat Manusia

(Semua foto di dalam post ini hasil karya Made Widnyana Sudibya)

Dalam kepercayaan masyarakat Bali, air memegang peranan yang sangat penting. Konon dahulu sebelum disebut sebagai ‘Hindu’ agama yang dianut oleh penduduk bali disebut sebagai agama ‘Tirta’, agama yang meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini memperoleh kehidupanya dari air. Pulau Bali memperoleh segala kehidupannya, yang bergantung pada pertanian, dari air.

Image

Secara topografi, Bali terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian pegunungan yang berada di tengah tengah pulau dan membagi wilayah dataran menjadi dua. Dataran di bagian selatan memiliki luas yang relative lebih besar dibandingkan dengan dataran di wilayah utara. Selain pegunungan dan dataran, bali masih memiliki wilayah pesisir pantai dihuni oleh kelompok masyarakat nelayan. Tiga kawasan ini memberi penghidupan bagi masyarakat dengan segenap sumber daya alamnya masing masing. Di wilayah pegunungan, masyarakat mengolah lahan pertanian kering, karena topografinya yang miring mengakibatkan air dengan segera mengalir ke bawah,  dengan menanami lahannya dengan tumbuhan keras; kopi, cengkeh, jeruk dan tanaman lain. Tanaman keras ini berumur panjang dan memiliki siklus panen tanpa harus menebang pohonnya. Cukuplah buahnya dipetik dan pohonnya dibiarkan tumbuh subur, memegang tanah, mencegah longsor sekaligus akar akarnya menyimpan air hujan. Air hujan yang melimpah di kawasan pegunungan tinggi ini selanjutnya mengalir melalui mata air-mata air alami menuju kawasan yang lebih rendah. Banyak pula mata air ini mengalirkan airnya ke danau yang juga berada di kawasan pegunungan. Terdapat empat danau besar yang menjadi semacam penampungan air bagi pulau kecil ini. Danau tersebut antara lain Danau Batur di Kabupaten Bangli, Danau Beratan di Kabupaten Tabanan, serta dua danau yang lebih kecil, Danau Buyan dan Danau Tamblingan, di Kabupaten Buleleng. Ibarat sumber penghidupan, masyarakat Bali sangat menghormati sumber sumber air, baik itu mata air kecil maupun danau-danau, yang terdapat di wilayah pegunungan. Pada keempat danau tersebut terdapat pura tempat menghaturkan terimakasih terhadap semesta alam atas air yang dianugerahkan. Selain di pura-pura, yang terdapat di keempat danau, masyarakat juga melindungi mata air kecil yang terdapat di daerah pegunungan dengan cara men-sakral-kannya. Membatasi orang yang boleh mendekati mata air, melindungi kawasan sekitarnya dari kemungkinan kerusakan akibat ulah manusia sekaligus mensyukuri air yang bersumber di tempat tersebut. Menimbang besarnya peranan sumber sumber mata air ini maka harus dijaga agar memberi manfaat yang sebesar besarnya.

Image

Manfaat keberadaan mata air dan danau, sekalipun hanya berada di beberapa tempat, tidak lantas ekslusif menjadi milik masyarakat setempat saja. Seluruh masyarakat Bali menikmati air yang bersumber dari beberapa tempat tadi sehingga tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya menjadi tanggung jawab seluruh penduduk Bali. Pura pura yang berada pada mata air atau danau-danau tersebut selanjutnya merupakan Pura Kahyangan Jagat yang artinya kurang lebih tempat suci bagi seluruh umat, tanpa memandang asal, keturunan, ataupun gelar. Semua masyarakat Bali penjadi penyungsung[i] pura pura tersebut. Untuk melindungi segenap mata air dan danau-danau tersebut dibuatkan jarak kesakralan kawasan dalam bentuk radius kesakralan. Radius untuk masing masing sumber mata air berbeda beda tergantung dari besar dan kecilnya mata air atau danau. Semakin besar ukuran mata air atau danau tersebut, maka semakin luas pula ukuran radius kesucian atau kesakralannya. Selain untuk menjaga dari tangan tangan jahil, radius ini juga untuk melindungi wilayah sumber tangkapan air hujan yang menjadi sumber air bagi mata air tersebut yang mengalir mengairi sawah sawah penduduk di seluruh Bali

Image

Air danau dan mata air mengalir melalui sungai sungai yang terdapat di Bali. Sungai sugai ini mengalir berliku menuju ke laut, dimana air sungai menyatu dengan samudera. Dalam perjalanan menuju samudera, air melintasi dan sekaligus menyuburkan ribuan hektar sawah dan ladang penduduk. Dianugerahi oleh lahan yang subur ditambah air yang mengalir sepanjang tahun, petani tidak pernah mengalami musim kering dalam setahun. Air sungai-sungai ini, karena volumenya yang terbatas, harus dibagi bagi diantara petani. Pembagian air dilakukan, mulai dari sumber mata air tersebut mengalir, secara adil. Petani membentuk kelompok-kelompok yang disebut subak. Masing masing subak terdiri atas beberapa petani dengan satu orang anggota yang dipilih secara demokratis sebagai koordinator. Kelompok kelompok subak inilah yang memastikan pengaturan air berjalan secara adil bagi seluruh sawah milik anggotanya. Pada hulu dari masing masing subak ini didirikan pula pura yang disebut pura subak disungsung oleh anggotanya. Selain untuk mengucap syukur atas air yang diperoleh, pura ini juga difungsikan untuk memuja Dewi kesuburan, mengucap terimakasih kepada semesta alam atas lahan dan hasil pertanian yang dilimpahkan. Di dalam kelompok subak ini, mempertimbangkan jumlah air yang terbatas, diatur pula pola tanam antara tanaman kering dan tanaman basah. Jika mendapat giliran tanaman basah, maka air akan dialirkan ke sawah milik petani tersebut, namun jika mendapat giliran tanaman kering, maka air tidak dialirkan ke lahan tersebut namun ke lahan petani lain yang mendapat giliran tanaman basah. Pola pertanian semacam ini telah belangsung selama ratusan bahkan mungkin ribuan tahun di Bali. Selain efektif dalam mengatur pembagian air, pola ini juga memutus rantai hama di satu lahan pertanian. Lahan-lahan pertanian terhampar luas dengan tanaman padi atau palawija dengan air yang diatur pengelolaannya member kemakmuran bagi seantero Bali. Sawah sawah, karena pertimbangan toporafi yang berbukit, tersusun susun menciptakan lansekap cultural dilengkapi dengan bangunan pura di beberapa tempat serta balai-balai peristirahatan. Air, setelah mengairi sawah dan menyuburkan lahan mengalir menuju lautan lepas.

263858_1796719794222_893818_n

Di lautan lepas air menyatu dengan samudera sekaligus melakukan proses pemurnian/penyucian. Di Bali selain dipercaya sebagai tempat peleburan, laut juga dipercaya sebagai tempat penyucian kembali. Tempat dilakukan pemurnian terhadap apa yang telah dialami oleh suatu, benda baik hidup maupun mati, untuk dikembalikan kepada nilai dasarnya. Karena itu banyak upacara penyucian dilakukan di laut, termasuk abu jenazah bagi orang yang sudah meninggal juga dilarung ke tengah laut dalam upacara nganyut sekah.

Siklus air, dari awal mula muncul hingga menyatu lagi ke laut dan kembali menjadi hujan untuk selanjutnya berproses berputar ini disyukuri oleh masyarakat bali yang sangat mengandalkan pertanian sebagai mata pencahariannya. Tanpa adanya air, maka sawah sawah akan kekeringan, lading tidak akan menghasilkan serta secara otomatis masyarakat akan menjadi melarat. Untuk menghormati anugerah luar biasa berupa air ini masyarakat Bali melaksanakan upacara Bumi Sudha. Upacara ini dilangsungkan dengan cara mempertemukan air dari tiga sumber yang berbeda yaitu, dari mata air di pegunungan, air yang bersumber dari danau dan air yang berasal dari laut. Air dari ketiga sumber ini disatukan dalam bentuk upacara melambangkan satu kesatuan siklus yang memberi kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Siklus air yang tidak terputus berlangsung dan telah mensejahterakan dunia.

1513274_10201176147782237_2043689413_n


[i] Penyungsung berarasal dari kata sungsung, meletakkan beban di atas kepala, panyungsung berarti penduduk yang meletakkan tanggung jawab terhadap pura tersebut di atas kepalanya.

Bacaan

Byfield, G., and Darling, D. (1998) Bali Sketchbook, Singapore: Archipelago Press

Vickers, A. (1990) Bali: A Paradise Created, Second Edition, Singapore: Tuttle Publishing

Waterson, R. (1997) Living House: An Anthropology of Architecture in South East Asia, Singapore: Oxford University Press.

Wawancara tidak terstruktur

Ir. Made Widnyana Sudibya antara tanggal 29 Desember 2013 – 1 Januari 2014.