Bersyukur di Masa Susah

Image

Sekolah di luar negeri mungkin merupakan sebuah capaian dari upaya tak kenal lelah ditambah passion tiada henti. Bisa menjadi kebanggaan serta yang paling penting menguak segala rasa penasaran tentang kehidupan di belahan bumi yang lain. Lika liku sekolah di luar negeri juga kadang indah namun tidak jarang penuh duka yang harus dilewati.

Sebagai penerima beasiswa, nasib tidak selalu berjalan sesuai rel, kadang meleset, di lain waktu, malah melenceng dari landasannya. Perjalanan dimulai dari mengintip beasiswa yang pas, memenuhi segenap persyaratan persiapan keberangkatan serta hal-hal teknis lain. Namun jangan juga lupa mempersiapkan mental karena di negeri orang dengan bahasa dan budaya yang berbeda, hidup tidak selalu semulus khayalan.

Tapi mari lupakan dulu segala duka yang mungkin terjadi. Di UK internet luar biasa kenceng, jadi, menikmati youtube tidak lagi perlu khawatir dengan gerakan streaming ala robot. Menonton siaran langsung live streaming sangatlah lancar. Video klip dari artis favourit, siaran langsung sepakbola atau tennis,  bisa dinikmati dengan mulus. Selain kenceng, internet juga gratis karena sudah termasuk dalam biaya tuition fee kampus, jadi memanglah sungguh sangat nyaman.

Transportasi massal gratis selaku mahasiswa. Bis datang setiap limabelas menit meskipun kadang terlambat namun tidak lebih 5 menitlah. Tempat duduknya nyaman, interiornya bersih, sopirnya ramah serta kecepatannya tidak lebih dari 20 KM/jam, tidak akan membuat mabok. Tidak ada penumpang merokok, teriak-teriak atau pengamen dengan music ala kadarnya yang menolak dikasi uang recehan. Di kampus pun lumayan nyaman. Ruangan studio luas terang benderang dengan alat tulis yang bisa diambil semau gue: pensil, pulpen kertas, penggaris, map, dll, semua gratis sepanjang untuk kepentingan studi.

Tapi, sebentar dulu. Hidup memang tidak selalu di atas, selalu ada masa masa merasakan bagian terbawah dari lingkaran roda pedati. Kadang ketika kita pas berada pada posisi roda di bawah, saat bersamaan si pedati melewati lumpur. Wah, seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Sebagai penerima beasiswa dari pemerintah, harus bersiap menerima konsekuensi keterlambatan pengiriman. Tentulah tidak ada unsur kesengajaan, tetapi jalur birokrasi yang harus dilewati sampai pencairan beasiswa penuh liku. Pertama-tama ada persyaratan agar mengirimkan laporan perkembangan study yang ditandatangan pembimbing. Tidak ada masalah dengan hal ini, tetapi menjadi rumit ketika diminta saat semester belum berakhir. Jadilah harus memasang tampang memelas kepada pembimbing agar sudi menandatangani laporan di tengah-tengah semester. Meskipun beliau tidak keberatan, tetap saja tatapan aneh menyelidiknya membuat kita tersipu malu. Setelah itu semua persyaratan diupload di web beasiswa.

Bulan-bulan di awal tahun 2014 ini adalah masa-masa suram. Saat partai-partai politik dan simpatisannya hiruk pikuk mempersiapkan pesta demokrasi, para karyasiswa harap harap cemas menanti kiriman biaya hidup bulanan. Sudah lebih sebulan dari jadwal semestinya tapi belum juga cair. Awal semester sebelumnya pihak pengelola, DIKTI, sudah menyampaikan tentang kemungkinan keterlambatan ini, jadi sebetulnya rata-rata karyasiswa sudah bersiap diri dengan skenario terburuk.

Saya sendiri, yang sudah kali kedua menjadi karyasiswa DIKTI, sudah sangat siap lahir bathin. Kalau dulu ada kawan penerima beasiswa dari lembaga lain yang bisa dipinjami sementara, kali ini trik berhematlah yang harus ditempuh. beli bahan makanan paling murah!!

Saat uang di dompet sudah menipis, keberuntungan bisa muncul di depan mata. Sore itu saya bermaksud jalan-jalan, blusukan kata orang, ke tengah-tengah pasar tradisional. Pasar terletak di tengah-tengah kota di belakang deretan toko-toko cukup tersembunyi. Banyak barang yang dijual, umumnya hasil pertanian serta peternakan penduduk setempat. Ada juga barang-barang hasil karya tangan: sepatu handmade, baju rajutan, syal, sampai cenderamata. Tidak ada rencana untuk berbelanja, jadi cukuplah tiga keping logam kuning keemasan menemani di saku. Uang senilai 3 Pounds inipun sekedar jaga-jaga kalau tiba-tiba ketemu warung kopi yang enak, sekalian bisa mampir. Aroma masakan traditional mampir di hidung dari restaurant yang terletak berdekatan dengan pintu masuk pasar. Gurihnya aroma daging yang sedang dibakar, entah sapi atau domba, menguar udara. Perut jadi lapar. Masuk ke dalam pasar, aneka rupa hasil pertanian terpajang rapi di rak rak pedagang sayur-mayur dan buah-buahan bersanding dengan bunga-bunga segar dari kebun-kebun bunga di sekitar kota. Tepat di sebelahnya beberapa potong paha sapi gemuk tergantung di jendela toko daging. Di bawahnya daging ayam yang sudah bersih terpajang di dalam bungkus styrofoam. Bersih dan sama sekali tidak beraroma amis. Dinginnya udara serta prosesnya yang higienis mungkin berperan membuat baunya tidak sampai mengganggu beberapa orang yang sedang asyik makan sandwiches di sebelah saya. Iseng-iseng melirik harganya. BUSYETT!!!, ternyata lebih mahal dibanding di toko serba ada, tempat biasa membeli kebutuhan sehari-hari. Saat ditanya, ternyata semua daging yang dijual disana adalah daging organic hasil peternakan penduduk setempat. Harganya lebih mahal karena diproses mulai dari makanan hingga penyembelihan dan dijual secara organic tanpa melibatkan mesin.

Ahh…untunglah siang itu tidak berniat berbelanja, sekedar berkeliling pasar sambil memotret kehidupan asli penduduk setempat. Lagipula beasiswa masih enggan mampir di rekening. Tidak hanya daging, ternyata barang-barang lain juga memiliki harga di atas rata-rata toko. Saya perkirakan karena semuanya handmade. Sepatu dibuat langsung disitu dengan cara mengukur kaki pemesan, demikian juga baju baju serta syal rajutan semua sama, lebih mahal.

Puas berkeliling pasar, saya memutuskan untuk pulang. Melewati lagi beberapa pedagang termasuk pedagang daging tadi. Di atas meja di dekat pintu terdapat beberapa bungkusan dengan tanda harga 1 Pounds. Iseng-iseng saya dekati. Wah isinya daging beratnya kira kira seperempat kilo. Lhah kok lumayan murah, jauh dari harga yang tadi saya lihat. Setelah diteliti, isinya ternyata tulang-tulang yang tidak laku. Termasuk tulang iga. Saya ambil dua bungkus lalu membayar di kasir. Wah lumayan ternyata dapat setengah kilo tulang kambing dengan harga 2 pounds. Kalau daging kambingnya sendiri per kilo harganya sekitar 10-15 pounds. Saat-saat duit menipis, tentulah hal-hal semacam ini patut disyukuri.

Sampai dirumah, tulang belulang dikeluarkan dan isinya lumayan. Tulang iga dan beberapa potong tulang dengkul. Masih banyak dagingnya. Dua potong iga dimasukkan ke panggangan, sementara dengkul dan tulang lain dimasukkan panci dan direbus. Hasilnya? dua potong iga dan semangkuk besar sup pedas, ditemani sepiring nasi panas di dinginnya sore berkabut, sungguh nikmat tak terkira dengan harga yang terjangkau.

bagi yang senasib, Selamat mencoba…

Bapak

Bah….mata ini tidak juga mau terpejam. Tengah malam sudah lewat dua jam yang lalu dan rasa kantuk itu tidak juga menghampiri. Ujung jemari terasa dingin gara gara selimut yang bergeser. Sambil merapatkan selimut yang baru kemaren aku beli di Primark, toko serba ada dekat Magdalen Street pusat kota Oxford tempatku sementara tinggal. Harahhh mata ini bukannya menyipit karena kantuk malahan semakin terasa benderang. Barangkali kafein kopi sore tadi mulai bereaksi mempengaruhi otak dan memerintahkannya tetap terjaga. Dalam keterjagaannya si otak ini mengambara kemana mana ke manapun dia mau…

Di luar sana awan berarak beriringan. Cahaya matahari kadang menerobos jika awan yang berlalu tidak terlalu tebal, namun awan tebal lebih sering menutupi cahayanya menyisakan langit kemerahan di ufuk barat. Aku duduk termenung di kursi penumpang menyaksikan prosesi tenggelamnya matahari sore itu sambil menunggu keberangkatan pesawat dari Surabaya menuju Bali. Lamunanku melayang jauh ke belakang semacam flashback di film film drama. Imaji yang tidak begitu jelas menghampiri,kadang berwarna kadang hitam putih namun berangsur mulai jelas, di kepala…

Pagi saat mentari belum menampakkan sinarnya, ibu sudah sibuk di dapur. Menyiapkan segala keperluan hari itu saat udara masih dingin dan pagi masih berselimut kabut tipis. Aku terjaga dari tidur sedikit agak pagi. Bapak biasanya sudah bangun dan menyapu di halaman rumah, membersihkan daun jeruk di sanggah serta daun srikaya di natah depan bale dangin. Rengekanku rupanya mengusik aktivitasnya. Setiap pagi setelah menyapu halaman bapak selalu mengajakku jalan jalan di sekitar perkampungan rumah kami. Rumah rumah di kampong tersusun berderet dalam petak petak berukuran hamper sama. Ujung jalan di bagian hulu adalah sebuah pura kecil dengan pohon pule raksasa yang tidak seorangpun tahu kapan dibangun. Sementara di bagian hilir kampong terdapat sungai yang memisahkan perkampungan kami dengan jalan besar yang menghubungkan Kota Ubud dengan Gianyar dan Denpasar. Rumah rumah tersusun di kiri dan kanan jalan tanah. Jalan tanah di depan rumah pagi itu masih cukup gelap namun warna tanah kecoklatan sudah nampak. Bapak meletakkanku di atas bahunya, mesunggi kata orang di kampong, berjalan menyusuri jalan yang setiap sore biasanya rame celoteh anak kecil bermain. Pagi itu masih cukup sepi, sambil berjalan, bapak mendendangkan lagu lagu tradisional. Pupuh dandang gula, ginanti, ginada dan entah apa lagi aku tidak begitu ingat. Mataku masih terkantuk kantuk kadang terpejam sesaat. Tembang bapak diiringi suara kokok ayam jantan menjadi teman setiaku setiap baru bangun pagi. Nyanyian, lebih tepat disebut gumaman itu akan berakhir jika ibu sudah memanggil, tanda kopi sudah diseduh. Harum aroma kopi mengakhiri ritual jalan jalan pagi ditemani tembang ku bersama bapak. Setiap pagi ibu selalu membuat air hangat dulu sebelum memasak, setelah air panas dan kopi terseduh untuk bapak dan kakek, barulah ibu mulai memasak. Sewaktu kecil aku dilarang minum kopi, katanya kopi tidak baik buat anak kecil. Sambil menunggu kopi dingin, vespa berwarna abu tua bapak dikeluarkan dari emperan bale daja ke halaman. Diperlukan waktu sekitar sepuluh menit untuk memanaskan motor itu untuk nanti dipakai oleh bapak. Sembari memanaskan, tangannya yang kokoh mengelap seluruh permukaan motor sambil sesekali menghampiri kopi di bataran bale dangin, di dekatku duduk, untuk diseruput. Jam tujuh pagi bapak berangkat ke kantor, punggungnya yang bungkuk di atas motor perlahan lahan hilang di turunan ujung jalan dari pandanganku. Bapak bekerja di dinas pendidikan kecamatan sebagai pegawai administrasi. Setiap hari berangkat jam tujuh pagi dan biasanya pulang jam dua sore. Sebelum bekerja di kantor dinas pendidikan, bapak bekerja serabutan, tukang jarit celana kolor, menulis serabutan di Koran serta majalah hingga menjadi tukang foto keliling pernah dilakoninya. Disamping pekerjaan tersebut, bapak juga masih bertani ke sawah sesekali membantu kakek yang sudah mulai renta.  Saat itu hari kerja tidak seperti sekarang yang lima hari tetapi enam hari sampai sabtu. Hari jumat adalah hari yang selalu aku tunggu, karena selain pulang lebih cepat, bapak selalu membelikaknku majalah anak anak ananda, barang langka di kampong pada saat itu. Majalah yang selalu menarik perhatian kami, anak anak kampong untuk berkerumun mengitarinya sambil aku membuka lembar demi lembar halamannya. Mata bulat teman teman sebayaku, kadek, balik, komang tidak berkedip melihat gambar gambar di halaman majalah. Sekalipun aku belum bisa membaca, bapak tetap rutin membelikanku majalah. Selain majalah sesekali dia juga membawakan kami buku dongeng anak anak berbahasa Bali, satua Bali.  Bapak sangat menyayangi kami, aku dan kakakku. Malam sebelum tidur dongeng dongeng dicakan sambil kami berebutan rebah di dada atau lengan bapak. Dua hingga tiga dongeng dibacakan secara berulang ulang tiap malam tapi tidak pernah kami bosan. Kami tertawa kalau bapak menceritakan hal lucu atau menirukan mimic monyet, dan bergelung takut kalau dia menirukan suara macan atau menunjukkan wajah galak raksasa dalam dongeng. Kadang kami terlelap jauh sebelum dongeng berakhir.

Tak terasa pesawat yang aku tumpangi telah sampai di Bandara Ngurah Rai. Langkahku tergesa melewati orang orang yang menjemput kerabatnya. Langit sudah gelap dan lampu lampu bandara menyilaukan mata. Aku menutupi sebagian wajah sambil menuju pintu keluar dan mencari taksi. Tubuhku terasa ringan, seorang sopir taksi menyebut angka yang aku lupa persisnya tapi aku iyakan saja. Tubuhku mati rasa. Tak sadar lagi taksi meluncur melewati jalanan padat kota Denpasar menuju Ubud. Jarak terasa sangat jauh. Waktu seolah membeku. Tiba di depan rumah, halaman sudah ramai oleh tetangga dan kerabat. Mereka menggunakan pakaian adat ringan. Berkain sarung dan memakai destar di kepala. Suasana terasa asing. Bale dauh sudah sesak seperti juga halnya teras bale delod. Gelas gelas kosong bekas kopi tampak di depan duduknya orang orang. Wajah wajah murung irit bicara membuat atmosfer terasa sesak. Aku mencari ibu. Diantara kerumunan di sekitar natah beranjak ke dapur. Tiba tiba wajahnya muncul diantara kakak dan saudara misanku. Matanya sembab, dan begitu melihatku tangisnya pecah. Air mataku mengalir serupa sungai, badan terasa berat. Aku menunduk menumpukan kedua telapak tanganku di atas lutut. Suara ibu bergetar, sambil tangannya mengusap punggungku, “Bapak sudah pergi…”

Jelang Perpisahan

Cerita ini seharusnya ditempatkan di awal blog, namun karena berbagai pertimbangan, terutama kesiapan mental untuk mengeditnya kembali, terpaksa diupload belakangan. Mudah-mudahan tidak mengurangi keutuhan blog ini sebagai sebuah cerita.

1390674_738114742881932_1999490809_n

Sandal mungil berwarna pink yang aku belikan tadi sore terlepas dari kakinya sementara kepalanya telah terkulai lemas di bahuku. Malam itu Bulan tidak mau lepas dari gendonganku, setiap kali ditaruh di atas tempat tidur tangannya segera menjulur minta digendong lagi sekalipun matanya sudah terpejam. Sambil menyanyikan lagu Putri Cening Ayu[i] kesukaanya aku gendong berkeliling kamar rumah sakit berharap dia segera terlelap. Anak kedua kami, Bumi, yang baru lahir sehari sebelumnya telah lama terlelap di samping ibunya yang masih terbaring lemah setelah menjalani operasi caesar. Matanya terpejam sementara mulutnya seolah tersenyum ke arahku. Ibuku terkulai lemas di sofa, kelelahan, seharian menemani istriku merawat anak anak kami. Empat orang yang telah berkorban sangat besar mendukung keinginanku melanjutkan sekolah di negeri yang belum pernah aku kunjungi. Sebelum terlelap aku masih sempat mengajak Bulan jalan jalan di seputaran kota denpasar, berdua saja. Sempat memilih milih sepatu sendiri, minta dibelikan bangku kecil serta menguyah permen kembalian uang kecil di toko sepatu. Sepanjang perjalanan beberapa kali dia minta dipeluk sementara aku menyetir, tentu saja aku tidak bisa memenuhi keinginannya. Bibir mungilnya beberapa kali mendarat di pipiku untuk menggantikan pelukan yang tidak bisa aku berikan sambil mengemudi.

***

Saat memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang S3, tidak pernah terbayang di kepala bahwa perpisahan itu akan sesulit ini. Setahun lebih aku mencoba menyiapkan diri, kursus bahasa inggris intensif, melakukan pra penelitian untuk menyiapkan topik penelitian, menulis proposal yang seringkali berakhir pada penolakan serta menyiapkan puluhan lembar dokumen yang kadangkala tidak aku mengerti untuk apa. Perjuangan untuk mendapat beasiswa tidak kalah melelahkannya. Pembekalan, mengurus dokumen perjalanan, dokumen pendaftaran di perguruan tinggi yang hendak dituju hingga mengurus tempat tinggal di Oxford semua tiada artinya dibanding sulitnya  memikirkan akan berpisah dari empat orang yang saat ini ada di ruang 105 Wing Amerta Rumah Sakit Sanglah ini.

Jauh sebelumnya aku telah menyiapkan segenap kebutuhan keluargaku terutama kesiapan financial. Begitu selesai kursus bahasa inggris di satu lembaga pendidikan bahasa yang cukup bonafid di Surabaya dan mendapat calon supervisor, aku memulai perburuan beasiswa yang tidak sesulit yang aku bayangkan. Sambil berjuang mendapatkan beasiswa, aku mempersiapkan pula kebutuhan financial. Bekerja siang malam aku jalani dengan senang hati meskipun kadangkala diiringi protes istriku. Mertuapun kadang turut pula mengingatkan agar cukup istirahat namun tumpukan pekerjaan tiada habisnya tiap hari.

***

Sore itu Bulan tidak mau lepas dariku. Setelah seharian lelah bermain bersamaku dia sempat terleap sejenak setelah menangis ingin bermain lagi sementara waktunya tidur siang telah lama lewat. Sebelum terlelap dia minta dipeluk dan dibuatkan sebotol susu hangat. Belum habis susu di dalam botol dia telah terlelap di pelukanku. Kutinggalkan sebentar untuk menggendong Bumi dan mencoba bercengkrama dengannya meskipun sudah jelas dia tidak mengerti gumamanku. Memandangi wajahnya yang tenang dengan bibir mungil dan mata lebar berwibawanya membuatku bersyukur karena tuhan telah memberi kami anak yang sungguh luar biasa. Anak ini lahir di tanggal dan hari yang banyak dihindari orang, Jumat Kliwon tanggal 13 bulan 9 tahun 2013. Pilihan ini telah cukup lama kami diskusikan dan tiada jalan lain bahwa tanggal ini adalah yag paling baik dipandang dari segala sudut kepentingan yang menghimpit kala itu. Upacara Ngaben bapak mertua baru dua hari berlalu sebelum kelahirannya sementara tanggal keberangkatakanku tiga hari setelah kelahirannya. Kasihan sebetulnya dia tidak sempat merasakan dekapanku lebih lama seperti Bulan kakaknya. Lamunanku pecah saat tiba tiba Bulan bangun dari lelapnya dan minta mandi. Bahkan untuk urusan remeh temeh seperti mandi dan ganti pakaianpun dia minta supaya aku yang membantunya seolah tahu bakal ditinggal dalam waktu yang cukup lama.

Pipiku hangat oleh air mata saat Bulan dan Bumi akhirnya terlelap dan tidak minta digendong lagi. Entah mengapa rasa haru itu menyeruak berubah sembilu menyayat perasaanku memecah segala ketabahan yang aku bangun beberapa hari belakangan ini. Tangis itu tidak dapat lagi aku tahan namun berusaha aku sembunyikan saat istriku terbangun minta dipapah ke toilet. Berjalan ke arah teras setelah memapah istriku, sungai hangat itu mengalir pelan di pipiku. Bintang bintang di langit bersinar malas diantara awan tipis yang mengambang tak bergerak di langit. Empat orang yang setia menemani hidupku telah kembali terbuai dalam lelap. Lamat lamat aku menggumam, “putri cening ayu…..ngijeng cening jumah….tityang luas malu….[ii]


[i] Tembang rare atau lagu anak anak yang sangat terkenal di Bali tentang orang tua yang meninggalkan anaknya sejenak untuk mencari makan

[ii] Sebagian lirik lagu Putri Cening Ayu yang telah saya modifikasi sendiri, artinya kurang lebih, “anakku putri yang ayu, tinggallah di rumah, saya pergi sebentar…..”

Alarm

Image

Urusan keselamatan dan keamanan sangat krusial bagi orang Inggris. Entah apakah kejahatan begitu parahnya di negeri ini ataukah bencana demikian sering terjadi? Nampaknya bukan, karena berita mengenai bencana, kecelakaan, ataupun tindakan kriminal tidaklah begitu ramai di koran-koran maupun berita di internet. Bandingkan dengan di kota Denpasar misalnya, berita mengenai hal-hal buruk disini tidak ada apa apanya. Harian terkenal di Indonesia malah punya satu halaman khusus yang memberitakan hal hal yang berkaitan dengan tindak kejahatan, bencana. Yang lebih menyeramkan, setiap hari selalu saja ada kejadian yang diberitakan.

Saat Pak Jokowi baru menjabat sebagai gubernur di Jakarta, kebakaran terjadi di banyak tempat dan memakan banyak korban jiwa. Terbaru, Pak Ahok, wakil gubernur Jakarta dengan gayanya yang ceplas ceplos menyarankan agar PLN tidak memberi sambungan listrik kepada rumah rumah yang tidak memiliki IMB. Saya jadi bertanya berarti selama ini PLN memberi layanan kepada semua rumah tanpa melihat latar belakangnya apakah rumah tersebut layak menerima sambungan ataukah tidak? Atau barangkali PLN memang menginginkan agar semua masyarakat dapat menikmati listrik? Entah yang mana yang benar. Yang jelas dua duanya bertujuan baik. Lhah kalau kejadian malah jadi kebakaran kayak gini, trus siapa yang mesti disalahkan? Bingung…..

Oya balik lagi ke cerita semula (malah ngelantur) soal keselamatan. Crescent Hall, kos kosan saya selama di Oxford sejauh ini nampaknya cukup aman dan sepertinya mempertimbangkan segala aspek keamanan dan keselamatan. Hall dirancang memiliki kemanan tingkat tinggi dari segala kemungkinan bencana maupun tindakan criminal malah menurut saya fasilitas ini agak lebay alias berlebihan. Di dapur terdapat kompor, microwave dan oven yang semuanya bertenaga listrik. Selama memasak, kita tidak akan pernah melihat nyala api yang membuat pantat panci di dapur emak kita di dapur jadi item. Panasnya berasal dari elemen besi bulet atau batang-batang besi melingkar lingkar kalau di dalam oven. Nah peralatan tadi sepertinya ngga akan mungkin menyebabkan kebakaran. Dalam kondisi demikian ternyata perlengkapan keselamatan yang disediakan amat sangat lengkap. Di dapur kita bias liat ada fire blanket (selimut api ) buat menutup nyala api kali terjadi kebakaran, kemudian ada tabung pemadam kebakaran kecil. Tabung pemadam ini juga terdapat di koridor. Kemudian prosedur pemakaian dan tata cara penyelamatan diri disediakan di dinding dengan sangat lengkap. Nah itu alat pemadam apinya. Adalagi detector asap yang bisa mendeteksi jika terjadi asap di luar kewajaran. Detector ini akan menyala otomatis dan tersambung ke sistem alarm guna memberi peringatan jika terjadi kebakaran. Sebelum menghuni salah satu kamar kita sudah diberitahu segala macam prosedur dan manual. Sayangnya pada saat datang saya sudah sangat kelelahan sehingga tidak sempat menengok ke prosedur yang tersedia tersebut barang sekejap.

Prosedur kemanan tak kalah hebohnya meskipun tidak disediakan pentungan atau kentongan jika terjadi maling. Prosedur keamanan lebih pada aturan membuka pintu dan jendela dan menyimpan barang barang berharga kita. Namun perlengkapannya ternyata cukup menyiksa. Di luar jendela kira kira berjarak 15 cm dari jendela, khusus di lantai dasar, dipasangi terali. Tidak ada yang aneh awalnya hingga saya merasa perlu udara segar. Saya buka itu jendela, “tak” kena bagian terali. Oalahhhh ternyata jendela hanya bisa dibuka tidak lebih dari seperlima bukaan. Sangat sempit. Cukup sempit untuk membuat seekor kucing mengurungkan niatnya masuk. Ck..ck..ck.. maunya aman malah membuat orang tersiksa. Kemudian aturan tentang membuka pintu yang betul betul membuat paranoid saya kumat. Begini bunyinya, “Sebelum membuka pintu pastikan keadaan sekitar anda aman, jika ada orang yang anda curigai segeralah masuk dan jangan beri kesempatan orang tersebut menyerobot masuk, kecuali dia punya kunci sendiri”. Adawwwww……serammmmm… hahahaha padahal kok ya sepertinya konyol sekali.

Kadangkala segala prosedur itu tampak konyol sekaligus, bagi kita yang tidak terbiasa, sedikit mengurangi kenyamanan. Bayangkan kita harus tau prosedur penyelamatan dan tidak boleh mengabaikannya. Setiap pelanggaran terhadap prosedur keselamatan akan didenda 100GBP untuk pelanggaran pertama, 200 GBP untuk pelanggaran kedua, dan diusir dari hall untuk pelangaran ketiga. Nah lo. Prosedur keamanan juga demikian. Jika di atas jam 10 masih ada jendela yang terbuka dan semua penghuni telah tidur atau tidak ada penghuni di dalam unit, maka semua penghuni dikenai denda. Jumlah denda dan sanksinya sama seperti pada prosedur keselamatan. Kadang saya mikir…..kota segini amannya kok ya dibikin rumit….lha beberapa kota di Indonesia yang relative lebih ‘serem’ kok ya malah santai…

Pagi itu, rasanya hari Jumat tapi kalau salah ya.berarti bukan hari Jumat pokoknya bukan hari Sabtulah, penghuni hall rasanya masih menikmati sisa sisa mimpinya. Biasanya bagian akhir dari mimpi, sebagaimana film, adalah saat saat menuju puncak cerita……saat saat akan diakhiri dengan indah. Tiba tiba, “kuinggggg….ngngngng…ngngngng..ngngng..ngngngng…..nguing nguing nguing…” alarm berbunyi dengan amat sangat nyaringnya. Tokek di dinding yang sudah kepayahan karena tidak mendapat nyamuk setelah semalaman berburupun terkaget kaget. Aku bangun dengan panik, kaget dan kaki tersandung selimut tebal. Jatuh bergulingan di lantai. Pintu yang tidak terkuncipun rasanya sangat sulit untuk dibuka akibat kepanikan yang sudah menjalar ke dalam pembuluh menjalar ke di saraf tulang belakang meluncur deras menuju otak hingga otak memerintahkan semua organ tubuh agar bergerak dengan kecepatan maksimal. Begitu pintu terbuka aku menerjang gelapnya koridor bertubrukan dengan seorang teman di koridor entah siapa berebutan menuju pintu keluar. Sempat juga memaki dalam hati, kenapa tidak membaca buku manual keselamatan secara lengkap. Lebih menyiksa lagi, karena standar keamanan yang tinggi, dari koridor menuju halaman harus melawati tiga pintu dengan standar kemanan yang tinggi. Aku biarkan si kawan tadi keluar lebih dulu, karena biasanya dalam keadaan panic aku seringkali berbuat konyol. Dia menerobos pintu pertama, dan langsung berhadapan dengan pintu kedua, aku mengikuti di belakangnya dengan nafas tersengal sengal. Selanjutnya tinggal satu pintu lagi, kami dengan cepat berbelok menuju pintu terakhir sebelum halaman, dan begitu pintu terbuka langsung meloncat ke halaman berumput. Dinginnya embun bagai es yang menempel di rumput sudah tidak dipedulikan lagi. Kami berlarian tak tentu arah hingga tempat parkir. Terengah engah kami berhasil tiba di tempat parkir, dan hampir semua kawan telah berkumpul di sana. Beberapa petugas berseragam hijau muda menyala nyala menenangkan kami semua sebelum akhirnya manager hall memberi pengumuman, “silence please, silence please…., listen…..kami sudah menghitung jumlah kalian semua, dan cocok dengan daftar yang ada di receptionist, hari ini kalian semua aman”. Kami yang barusan mencoba menarik nafas sambil bertanya-tanya, kamar siapa yang terbakar? Dimana apinya muncul? Dan berbagai pertanyaan lain. Si manager tinggi ceking meneruskan, “sekarang silakan kembali ke kamar masing masing, karena alarm tadi adalah simulasi untuk menguji kesiagaan kalian semua”. Sial!!

Crescent Hall

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Badan masih terasa remuk redam saat taksi kami merayap diantara bus-bus bertingkat berwarna merah dan biru menggerayangi jalan jalan sempit pusat kota Oxford. Crescent Hall, tujuan kami, entah kapan akan sampai dengan kecepatan taksi yang sungguh lebih lambat dari laju kerbau yang abis membajak sehektar sawah dan lupa dikasi minum oleh pemiliknya, bertolak belakang dengan kecepatan argo yang seolah melampaui kecepatan lengkingan suara Mariah Carey, aaaaaiiaaaa…. tiba tiba sudah menunjuk angka 10 Pounds dan masih melaju cepat beradu dengan nafasku yang ngos-ngosan. Dari headset di telinga lagu Shoot To Thrill berdentam cepat dari grup cadas AC/DC sekedar untuk menjaga agar mata tetap terbuka. Matahari sudah jauh kesandung dan hampir tenggelam saat akhirnya kami tiba di Crescent Hall. Lingkungannya asri dikelilingi perumahan deret berdinding bata merah. Wuzzz bbbbrrrrr….. dinginnya angin musim gugur menyapa mengusap kepala yang sedari tadi diguyur AC pesawat Etihad. Setelah membayar taksi dan mengucapakan terimakasih, aku menyeret koper raksasa yang hanya berisi tidak sampai setengahnya saja menuju front office hall. Bah berat juga benda ini diseret dalam keadaan letih. Gimana ngga berat, lhah menyeret kaki aja rasanya sudah malas, ini malah ditambah menyeret benda besar yang sudah terlihat robek di bagian atasnya. Receptionist di hall sekadar berbasa basi menanyakan kabar, ‘Hi, how are you doing? How was the flight?’ etc etc…dengan logat campuran British dan Afrika. Berhubung mata sudah lima watt jadi aku jawab saja sekenanya, ‘Am doing good, the flight was fine..’ blah blah blah. Akhirnya kunci yang semula ada di tangannya sudah berpindah ke dalam genggamanku.

Gedung asrama Crescent Hall terdiri atas beberapa bangunan yang saling terkoneksi dengan cukup kompak. Jarak antar gedung tidak lebih dari 3 meter dengan masing masing terdiri atas tiga lantai. Sebuah halaman tengah serupa courtyard, atau natah di Bali, dengan pohon maple rindang di tengah-tengahnya menjadi pusat orientasi lima bangunan. Daunnya melambai lambai mengucap selamat datang tapi aku cueki sajalah, besok barangkali akan kusapa kalau tenaga sudah kembali. Bangunan gedung dibungkus bata seperti bangunan lain di sekitarnya. Masing-masing lantai dihuni enam orang dilengkapi satu dapur dan ruang makan bersama, dua toilet dan dua shower.

Kamarku terletak paling ujung dari arah pintu masuk berhadapan dengan kamar Michael orang asli dari Inggris bagian utara. Tiga orang lainnya adalah Steven berasal dari London, orangnya tidak banyak bicara namun sangat cekatan dalam memasak, Gabriel laki laki bertubuh tinggi besar dari Amerika yang sangat peduli pada penampilan dan satu orang dari Austria yang saat tulisan ini dibuat aku lupa namanya. Satu kamar lainnya masih kosong. Sebagai satu satunya orang Asia aku merasa terasing di tengah tengah mereka namun untungnya keempatnya sangat ramah dan tidak pernah sungkan untuk saling meledek satu sama lain. Mereka masih muda dan sepertinya akulah yang paling tua diantara mereka.

Ukuran kamar tidak bisa dikatakan besar karena hanya memiliki lebar 2.3 meter dengan panjang 4.2 meter. Namun dengan penataan yang optimal, kamar ini terlihat jauh lebih nyaman dibandingkan kamarku di Bali yang ukurannya sedikit lebih besar, 3 x 4 meter. Begitu pintu kamar dibuka, aroma lembab karpet berlomba menyerbu masuk ke rongga hidung tanpa sempat diflter dengan tangan. Setiap kamar dilengkapi dengan satu single bed, satu meja belajar yang dilengkapi dengan rak buku terbuka di atasnya, dua buah meja kecil dengan tiga laci di bawahnya, satu lemari yang cukup besar dengan dua pintu. Dan yang membuatku cukup bahagia adalah sebuah wastafel mungil dengan cermin tanpa bingkai tempat mencukur kumis dan jenggot, berhubung sudah hampir seminggu rambut rambat halus yang tumbuh tanpa ijin itu menjajah sebagian wajah. Lantai kamar dilapisi karpet berwarna broken green (hijau pecah?) yang hangat sementara dinding berwarna peach (kuning samru?). Sebuah heater (penghangat ruang) ditempel di bagian bawah dinding di sebelah kanan tempat tidur. Jendela mungil menghadap semak-semak liar di belakang kamarku berada tepat di atas heater tersebut. Cukup nyaman untuk ditinggali selama kurang lebih tiga tahun sampai aku menyelesaikan PhD program.

Sesaat setelah si receptionist yang bergaya rapper pergi aku segera membuka jaket dan membiarkan tubuhku terjerembab di atas tempat tidur yang tidak seberapa luas. “Gedebug” seperti pohon raksasa yang bagian akarnya dimakan rayap tubuhku yang yang sudah miring bagai di iklan minuman isotonik kini teronggok tak berdaya di atas kasur tanpa selimut. Dalam hitungan detik aku sudah melayang di alam mimpi. Kata orang kesuksesan berawal dari mimpi dan mimpi hanya bisa terjadi kalau kita tidur. Jadi aku putuskan untuk mengawali kesuksesan dengan tidur nyen…..Zzzz….zzzzz…..zzzzzzzz.

Tengah malam sekitar pukul 02.00 dini hari aku terbangun, dinginnya malam membuat badan menggigil dan segera tersadar bahwa tidak tersedia selimut, bantal ataupun guling, hanya kasur. Hmmm rasa capek telah membuat tubuhku abai pada rasa dingin. Aku mengutuki diri sendiri kenapa tidak menyiapkan segala keperluan tidur sebelum berangkat. Sungguh bodoh mengabaikan segala petunjuk yang rasanya sudah pernah aku baca beberapa minggu lalu bahwa mereka tidak menyediakan bantal selimut apalagi guling di dalam kamar. Ah..aku jadi teringat istriku di rumah yang selalu menyiapkan segala kebutuhanku….seandainya ada dia disini pastilah segalanya sudah siap, tempat tidur dengan sprei yang bersih, bantal dengan sarung yang wangi serta selimut yang terlipat rapi. Di tengah dinginnya malam aku bersyukur punya istri yang demikian telaten soal urusan rumah tangga, sehingga aku merasa aman meninggalkan dua anakku bersamanya di rumah. Anak-anak pastilah nyaman bersama emaknya.

Ah, hidup. Ajaib memang. Baru kemarin aku bersama istri dan anak-anakku, berkasur wangi dengan bantal guling kebanggaan, sekarang sudah mojok aku di belahan bumi sebelah sini, terbangun tengah malam, kedinginan, tak berselimut, tanpa bantal dan terancam tengeng.

Melirik koper jumbo yang belum sempat terbongkar, lalu melemparkan pandang pada wastafel mungil bakal tempat cukur, sembari meraba jenggot yang mulai semi, aku agak-agak berkontemplasi, Crescent Hall? Really? Apa-apaan sistem penamaan di sini. Balai pemuda dan olah raga bolehlah. Balai Desa. Balai Kota. Balai Kambang. Balai Sarbini. Tapi Balai Bulan Sabit? Bah! Aku bisa merasakan otot mukaku menarik ujung bibir untuk tersenyum. Oh…. Crescent Hall, Balai Bulan Sabit, tempatku bersarang tiga tahun ke depan ini, bisik pikirku pada hati, barangkali kau memang serupa bulan sabit dalam siklus hidupku. Melengkung imut di langit malam. Setipis semangka. Menunggu bumi berevolusi, untuk nanti menghadirkan purnama. Purnama hidupku. Hidup kami. Hidup anak-anakku beserta ibunya.