St. Just

Udara malam menusuk tulang diperparah hembusan angin yang menyertai gerimis pertengahan Oktober. Sambil berteduh di emperan, saya mengibaskan jaket hitam yang membungkus badan guna melepaskan titik-titik air yang telah menimpanya seharian ini.

Pusat permukiman St. Just di kawasan Cornwall ini tidak bisa dibilang besar, malah relatif kecil menurut saya.  Di jantung permukiman, di mana tiga ruas jalan bertemu, saya hanya menjumpai satu toko serba ada kecil, pub yang ramai oleh pengunjung lokal di akhir pekan itu, serta sebuah kedai fish and chips tepat bersebelahan dengan pub tadi. Didorong rasa lapar, segera saja saya masuk dan naik ke lantai atas yang merupakan tempat makan kedai yang nampak hangat dari luar. Butir-butir gerimis masih berjatuhan dari gelapnya langit malam membasahi seluruh kota. Dari jendela yang dipenuhi bulir gerimis, terlihat jalan-jalan yang basah memantulkan pendar cahaya lampu jalan, warnanya kuning pucat. Satu dua kendaraan lewat. Lampunya meninggalkan jejak cahaya memanjang sepanjang jalan. Selebihnya sepi. Sesaat sepasang manula berjalan tertatih dibantu tongkat melintas bergandengan tangan. Badannya yang mulai membungkuk ditimpa cahaya lampu jalan menciptakan bayangan memanjang di balik punggung, lalu menghilang di persimpangan jalan.

DSC_7902.JPG

Seperti juga kotanya, kedai ini juga tidak begitu ramai malam itu. Selain pasangan yang bercakap-cakap lirih di sudut ruangan, dua meja diisi sekelompok orang dari berbagai umur, nampaknya keluarga yang menikmati akhir pekan. Sedikit menggigil mengusir sisa-sisa dingin, saya memegang poci keramik berisi teh hangat dan menuangkan isinya yang merah pekat ke dalam cangkir. Tidak sekedar memegang gagang, saya menangkupkan kedua tangan di permukaan sisi cangkir berharap hangatnya menjalar ke seluruh tubuh. Sambil mendekatkan cangkir ke wajah, saya menghembuskan udara dari mulut ke permukaan cairan pekat kemerahan dengan asap mengepul-ngepul. Uapnya yang melayang-layang menempel di kacamata membuat pandangan sejenak mengabur.  Suara garpu dan pisau yang beradu dengan piring memecah sejenak kesunyian dengan bebunyian khas kedai makan. Sesekali kembali terdengar percakapan lirih dari sepasang tamu di meja seberang. Waktu serasa berjalan lebih lambat.

***

Terbangun di pagi hari yang menunjukkan ciri-ciri hari bakalan cerah, awan berarak, pendar semburat jingga di horizon serta langit yang berwarna biru muda. Di kejauhan, cottage-cottage nampak kecil dibandingkan keluasan garis bumi tanpa batas yang melatarinya. Barisan pepohonan dan hutan nampak kehitaman sementara deretan dinding-dinding batu rendah membatasi petak-petak peternakan membuat lansekap nampak terkomposisi mengikuti liukan kontur tanah. Suara lenguh lembu, ringkik kuda serta cericit burung memenuhi udara. Tidak membuat bising, tapi seoalh undangan untuk seturut bergabung.

DSC_7914.JPG

Tanpa basa-basi saya menyambar kamera, memakai sepatu kets dan bergegas menuju pintu keluar. Sapaan ‘Good Morning’ dari Ruth, si pemilik cottage tempat menginap, saya balas ala kadarnya. Derit pintu kayu dengan engsel besi karatan mengiringi langkah kaki menuju peternakan tepat di belakang cottage.

Udara masih membeku membelai kulit. Tetapi paru-paru bersorak girang merayakan kesegarannya yang unik dengan aroma humus dan padang ilalang basah sisa hujan semalam. Saya harus hati-hati melangkah karena tebaran kotoran lembu sebesar baskom ada di mana mana. Di bawah telapak kaki, tanah serasa empuk oleh tebalnya humus dan rerumputan hijau.

Beruntunglah orang-orang yang terlahir dan dibesarkan disini, di desa kecil berudara sejuk jauh dari hiruk-pikuk perkotaan serba cepat.

DSC_7959.JPG

Tentang Banjar Bali di UK

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Om Swastyastu,

Ijinkan saya menceritakan sedikit ihwal terbentuknya Banjar Bali di UK ini, sedari awal munculnya ide hingga kondisinya saat ini. Pertemuan pada acara ‘Hello Indonesia’ di Trafalgar Square hari itu ditindaklanjuti dengan membentuk group WhatsApp. Anggota awalnya terbatas hanya pada 5 orang: Pak Agung, Pak Dewa Cipta, Pak Agung Dwijaya Saputra, Gede Pringgana dan saya. Selain Pak Agung Dwijaya, Gede Pringgana dan saya yang sudah bersepakat untuk bertemu hari itu, pertemuan dengan dua orang yang lain terjadi secara kebetulan. Dari pertemuan itulah muncul ide untuk membentuk semacam forum, tempat bertukar dan berbagi cerita antar sesama orang Bali di seantero UK. Pak agung dan teman teman yang lain lalu secara berantai saling menambahkan anggota di group berdasarkan kontak kenalan di handphone masing masing. foto1 Group di Facebook menjadi embrio berikutnya. Awalnya salah satu rekan, Edy Suardiyana yang sedang menempuh study di Coventry menanyakan apakah ada organisasi masyarakat Hindu Bali di UK dan kebetulan baru saja terbentuk group whatssap. Keinginan untuk menjangkau audience yang lebih luas, akhirnya mendorong Edy, Pak Dewa Cipta dan saya membentuk group masyarakat Bali di Facebook. Dan seperti juga yang terjadi di whatssap, kami saling menambhkan teman dan jaringan yang ada di jalinan pertemanan masing masing ke dalam group facebook. Hingga tulisan ini dibuat sudah terdapat 32 orang yang tergabung di dalam group facebook dengan nama group Nyama Braya Bali di UK. Kelompok ini dan ide-ide selanjutnya terus bergulir. Untuk lebih mengenal anggota masyarakat bali di UK, saya berinisiatif untuk membuat semacam daftar isian melalui google drive. Dan dari isian di google drie ini diharapkan data dasar masyarakat bali di Uk bisa terekam untuk selanjutnya dijadikan sebagai rujukan dalam membuat kegiatan. Hingga tulisan ini dibuat, terdapat 26 orang yang mengisi fromulir dan berasal dari berbagai kota di UK. Dari anggota ini terekam juga data mengenai status di UK apakah pelajar ataukah tinggal menetap dan bekerja. 10443208_10202804841695231_4623343567524352943_o

Tentu saja harapan selanjutnya agar group kita ini semakin maju dan terjaga kelangsunganya menjadi tanggung jawab berikutnya. Untuk menjaga tali silaturahmi serta membuat semakin kuatnya ikatan kita, masyarakat  Bali di UK, ada baiknya membuat sebuah organisasi yang lebih solid meskipun tidak harus mengikat secara kaku. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada modal awal, untuk membuat Banjar ini semakin kuat, yaitu keanggotaan yang sudah terdata di google drive. Selanjutnya perlu kita pikirkan gerak langkah yang lebih konkret lagi. semoga nanti lebih banyak lagi saudara-saudara kita yang bergabung dan berpartisipasi di group kita. Dengan demikian usaha untuk membuat kita tetap memiliki tali persaudaraan selama berada di negeri orang bisa tetap terjaga. Ngiring bersama-sama kita jaga tali persaudaraan ini di negeri Ratu Elizabeth, ribuan mil dari asal kita tempat indah bernama Pulau Bali. Om Santih Santih Santih, Om

Megalung di Gumin Anak: Merayakan Galungan di Negeri Orang

10888556_10203432932650313_4680107934848272223_n

Saya coba melawan keinginan untuk kembali menarik selimut di dinginnya udara pagi itu demi mengejar bis untuk berangkat ke London. Pagi menjelang siang itu, sinar matahari tidak begitu jelas akibat kabut tipis memenuhi udara membuat jarak pandang terbatas. Rasa kantuk masih terasa di mata saat menunggu kendaraan besar bertingkat dari Oxford ke London, sementara suhu yang kurang bersahabat ditambah angin semilir memaksa tangan untuk keluar dari saku guna memperbaiki posisi syal di leher menjadi lebih rapat.

***
Hari ini sebetulnya bertepatan dengan Hari Raya Kuningan di Bali. Besok Minggu 28 Desember, beberapa teman dengan keyakinan yang sama  Hindu-Bali berencana merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan dengan berkumpul untuk melaksanakan persembahyangan di salah satu rumah warga Hindu-Bali di London. Pak Agung, demikian kami memanggil nama beliau, menyediakan rumah dan dapurnya untuk diobrak-abrik sebagai persiapan pelaksanaan perayaan Galungan.
Galungan dan Kuningan sendiri sejatinya sudah lewat beberapa hari sebelumnya, namun karena ketiadaan libur, maka perayaan kami sepakati hari Minggu 28 Desember. Hari yang sekiranya sebagian besar dari kami, masyarakat Hindu-Bali di Inggris libur dan berkesempatan untuk berkumpul bersama, tujuannya untuk bersembahyang bersama dan  semoga tidak mengurangi makna hari raya itu sendiri.
Mengenai makna hari raya Galungan sejujurnya saya tidak begitu paham secara mendalam. Banyaknya ulasan serta kajian yang dimuat di berbagai situs bisa dijadikan rujukan mengenai pemaknaan hari raya. Yang terngiang sepanjang ingatan sejak saya kecil di kampung halaman, ada beberapa feature yang tidak pernah absen dalam perayaan.

Feature-feature itu antara lain sarana bebantenan yang terdiri dari hasil bumi: umbi-umbian (palabungkah), buah-buahan (palagantung), daun-daunan, padi; semua ditata dalam bentuk yang indah menyesuaikan dengan keterampilan masyarakat setempat. Kemudian ada juga yang berupa hasil ternak: olahan berbagai macam hidangan dari daging, unggas yang juga diolah sesuai dengan selera dan cita rasa masyarakat setempat. Baik bebantenan maupun hidangan dipersembahkan kepada Sang Hyang Tunggal serta para leluhur sebelum dihidangkan kepada keluarga dan juga tetangga.

***
Lewat salah satu kajian yang saya jumpai di internet dilanjutkan dengan obrolan ringan dengan seorang kawan yang berkecimpung di bidang lingkungan, konon Hari Raya Galungan bisa dimaknai sebagai hari bumi. Hari di mana masyarakat tradisional di Bali, yang dominan adalah petani, mengucap syukur atas segala hasil yang diperoleh dari mengolah tanah. Hal ini, jika dikaitkan dengan salah satu ungkapan masyarakat Bali pegunungan, cukup beralasan. Ungkapan tersebut berbunyi:
“Wong desa angertanin gumin Ida Betara”
Artinya kurang lebih bahwa masyarakat desa menghuni tanah-tanah yang dimiliki oleh para dewata. Masyarakat desa mengolah, menjadikannya produktif, menghasilkan bagi kesejahteraan umat manusia. Untuk itu, masyarakat mengucap syukur karena suatu saat, ketika roh sudah meninggalkan jiwa, semua tanah-tanah akan dikembalikan kepada pemiliknya yang sejati, Sang Hyang Tunggal.

10680036_10203432929090224_7166064077399287813_o

***

Minggu 28 Desember 2014, sudah lewat tengah hari saat semua kesibukan di dapur mulai reda. Ayam betutu, ayam panggang, gado-gado, telor balado, sambel matah dan beberapa hidangan lain sudah tertata di atas meja makan. Saya menata buah buah, yang jarang ditemui di Bali, di atas sebuah nampan kecil. Beberapa tangkai bunga krisan menggantikan canang-canang yang biasanya menghiasi banten di Bali.
10430450_10203432947930695_8512689368537412626_n
Dimulai dengan menguncarkan Puja Trisandhya, persembahyangan hari itu kami lanjutkan dengan panca sembah. Sekalipun salju belum turun di Inggris bagian selatan, udara di luar masih belum beranjak. Masih dingin menggigil. Percikan tirtha, nunas dari Pura di Belgia, menutup persembahyangan di ruang keluarga rumah Pak Agung. Hidangan ala Bali minus lawar, sate dan urutan, menjadi penutup sempurna sekaligus menemani obrolan tentang berbagai hal sore hari itu.
Selamat Hari Bumi, Hari Raya Galungan dan Kuningan
London, 28 Desember 2014

Dari Cranfield Membayangkan Kampung Halaman

Image

Dari balik jendela bis, suasana perumahan rural dalam perjalanan menuju Cranfield

Saya bersiap di depan pintu keluar saat bis mulai mengurangi kecepatannya sebelum benar benar berhenti dalam areal kampus Cranfield University. Aroma humus yang lembut dan segarnya udara pedesaan memenuhi rongga paru-paru begitu pintu bis terbuka di depan halte Main Gate Cranfield University.  Sisa-sisa kantuk tersapu tak berbekas oleh hembusan sejuk angin yang berhembus menggoyang pohon-pohon besar menanungi jalan jalan sepi kampus pagi hari itu.

Baru pertama kali mengunjungi Cranfield sebuah desa yang terletak cukup dekat dengan London tetapi tidak begitu ramai, setidaknya hingga pagi itu saat saya menginjakkan kaki di atas permukaan jalanannya yang diperkeras paving block. Sebelum berkunjung, kening saya sedikit berkerut saat mendengar nama Cranfield yang masih asing di telinga. Seorang kawan menggeleng ragu saat saya tanya apakah dia pernah berkunjung ke Cranfield. Dia bahkan juga belum pernah mendengar nama kota itu. Dari cerita seorang teman yang sebelumnya sudah pernah ke sana, saya mendapat gambaran, Cranfield sebagai sebuah desa kecil yang sepi terletak sekitar 1.5 jam naik bis dari Oxford. Undangan untuk mengikuti workshop dari CRISCOM (Cranfield Indonesian Scholar Community) bagi pelajar 1st year menggiring saya untuk mencari tiket bis akhir pekan ke tempat yang katanya sangat sepi oleh seorang kawan lain yang adiknya kuliah di Cranfield.

Image

Halaman kampus tenang dan sejuk, Cranfield University

Kesan pertama, kawasan ini benar-benar sepi, dan tenang. Sepanjang perjalananpun yang lebih banyak mendominsai pemandangan di balik jendela bis adalah lansekap alam pedesaan dengan sawah dan ladang tempat sapi dan domba merumput di bawah birunya langit. Hamparan sawah dan ladang diselang seling rumah-rumah penduduk yang jumlahnya tidak begitu padat membawa khayalan tentang desa desa tradisional dalam cerita detektif anak-anak Lima Sekawan-nya (the Famous Five) Enid Blyton. Dalam cerita novel-novel petualangannya, Enid Blyton mengambil setting perkampungan dimana empat anak sekolah remaja dan seekor anjingnya yang setia sedang berlibur, setelah menempuh ujian sekolah. Jalan-jalan tanah, bukit hijau dengan gubuk beratap alang-alang adalah lokasi lima anak anak bersama seekor anjing mereka menemukan misteri yang menantang untuk dipecahkan. Saat membaca novel-novelnya waktu SD dahulu saya membayangkan mereka berlarian diantara rindangnya pohon, di jalanan tanah yang lembab dan empuk akibat humus yang tebal atau bersepeda menaiki bukit atau berkemah di tepian danau yang tenang sambil memancing. Diantara sawah-sawah yang menghijau, gubuk-gubuk atau lumbung beratap alang-alang, bermain dengan orang-orangan sawah pengusir gagak. Tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari susunan batu alam dengan penghangat perapian tradisional sambil menikmati hidangan makan malam khas pedesaan dengan aroma roti yang sedang dipanggang ditemani minuman jahe hangat di atas meja makan . Semua khayalan masa kecil tersebut saat ini membentang memenuhi horizon di depan mata.

Image

Menuju ruang workshop bersama PakDubes dan peserta lainnya

Suasana Cranfield sangat kontras dengan kawasan Milton Keynes yang kami lewati sekitar 25 menit sebelumnya. Milton Keynes, berstatus town bukan city, adalah sebuah kota baru yang dibangun sekitar tahun 60-an saat London mulai dilanda urbanisasi akut. Sebuah kota baru direncanakan dengan teori kota taman, garden city, untuk menyediakan perumahan bagi para pekerja yang bekerja di London. Perencanaan kota diperuntukkan bagi berbagai kalangan, menengah hingga atas. Pusat kotanya dirancang untuk melayani kebutuhan kota akan perumahan, hiburan, pusat belanja serta titik temu berbagai moda transportasi. Di sekeliling kota dibiarkan berupa hutan dalam bentuk taman rekreasi yang luas, dilengkapi danau sebagai antisipasi banjir. Taman-taman yang luas ini menyambung dengan pohon-pohon yang menaungi ruas-ruas jalan kota membentuk ruang terbuka hijau menerus mendominasi lansekap perkotaan hingga ke permukiman penduduk. Meskipun tidak bisa dibilang besar, namun kota ini jauh lebih ramai daripada Cranfield.

Image

Suasana pagi hari di desa dari balik jendela kamar seorang kawan dimana saya menginap

Desa Cranfield konon dihuni tidak lebih dari 5000 orang penduduk. Angka yang cukup kecil mengingat lokasinya yang dekat dengan kota-kota besar di UK, London, Oxford, Cambridge serta tetangganya Milton Keynes. Tidak banyak fasilitas yang bisa dijumpai di pusat permukimannya: beberapa restaurant kecil, toko kebutuhan sehari-hari, praktik dokter, kantor pos serta toko buku yang berlokasi di dalam kampus. Jangan membayangkan mall, pusat belanja, bioskop atau sejenisnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lahan pertanian dan ladang gembala peternakan memenuhi horizon

Meskipun memiliki karakter desa, yang sering diasosiasikan ketinggalan jaman atau ndeso dalam bahasa Tukul Arwana, kehadiran Cranfield University membawa aroma kamajuan kontemporer. Terdapat sebuah bandara yang dahulu dipergunakan sebagai arena latihan militer oleh angkatan udara kerajaan Inggris. Saat ini Bandar udara ini menjadi homebase sekolah penerbangan. Salah satu runwaynya telah ditutup dan Nissan, bekerjasama dengan Cranfield University, sedang membangun technology park sebagai pusat penelitian dan pengembangan produksi mobilnya. Technology Park ini selain akan dihuni oleh Nissan juga diperuntukkan bagi industry technology yang ingin mengembangkan produknya bersama Cranfield University. Sebuah inkubator bisnis tengah dibangun guna mendukung pelaku bisnis baru bidang teknologi untuk memulai usahanya. Seluruh fasilitas Tehcnology Park dibangun di atas bekas lahan bandara dan berdekatan dengan kampus tanpa mengorbankan lahan pertanian menjaga athmosphere desa yang tenang.

Image

Makan malam bersama Pak Dubes

Workshop hari pertama adalah pemaparan materi dari dosen Cranfield University tentang membangun budaya riset. Beberapa dosen dan peneliti adalah warga Negara Indonesia, kalau tidak salah ada 5 orang selain mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan disana. Selain berseminar dengan sesama pelajar Indonesia, Pak Dubes beserta Atase Pendidikan RI di UK juga berkenan hadir serta mentraktir makan malam rijstafel (ternyata artinya rice on the table) ala Indonesia.  Dibungkus dengan suasana yang akrab ditambah sejuknya suasana pedesaan membuat hari berlalu tanpa terasa. Sore itu, alunan lagu-lagu perjuangan serta lagu-lagu lama Koes Plus yang dinyanyikan oleh dosen dan mahasiswa Cranfield University membawa kenangan ke kampung halaman ribuan kilometer dari UK.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Antara Oxford dan Ubud: Dua Kota satu Nafas

Tautan seorang teman di laman facebooknya tentang Oxford yang dilabeli sebagai salah satu Kota terbaik di Inggris mengingatkan saya pada tulisan Hermawan Kertajaya tentang Ubud. Sekalipun terbentang jarak yang sangat jauh, sekitar 18 – 30 jam dengan pesawat terbang, saya menemukan nafas yang sama dari kedua kota ini, bagaimana tradisi membentuk image kawasan yang membuatnya dikenal penjuru dunia. Ubud daerah kelahiran dan Oxford tempat hidup sementara saya.

ID_GPU2013MTH08UTSOB_C

Sampul buku ‘Ubud: The Spirit of Bali’ karya Hermawan Kertajaya

 

Arsitektur Kota: buah karya tangan tangan terampil

Image Oxford sebagai kota pendidikan melekat kuat di kepala sehingga setiap kali membayangkannya maka yang muncul di kepala adalah bangunan kampus-kampus berarsitektur gothic hingga barock berbahan batu alam menjulang membentuk garis langit, skyline, yang unik. Tidak hanya melalui gedung-gedungnya, keindahan kota dapat dinikmati saat kita berjalan-jalan di jalan-jalan kecil serta gang-gang sempit berbahan batu alam, cobble stone, yang sudah dibuat ada disana selama ratusan tahun yang lampau. Tidak banyak yang berubah dari suasana yang tercipta sejak berabad lampau sehingga identitasnya melekat kuat. Musisi jalanan siap menghibur, saat kita melintas, dengan alunan musiknya yang khas. Ribuan atau mungkin jutaan orang telah melintas menyusuri jalan-jalan dan setiap jengkal ruang kota, tradisi tetap hangat menyapa dengan nafas yang sama. Jalinan sejarah, kisah panjang pengalaman penghuni maupun pengunjungnya, berpilin tidak terpisahkan dengan wujud fisik kota mencipta imaji kota. Imaji sama yang dimiliki banyak generasi sebelumnya dan tidak lekang oleh waktu.

Image

Selain kampus-kampus, Oxford juga terkenal karena perpustakaan yang memiliki koleksi buku tak terhitung. Sebagai kota denan kampus-kampus tertua di Negara berbahasa Inggris, perpustakaan adalah tulang punggungnya. Konon, kalau diletakkan berjejer, rak-rak buku di perpustakaan memiliki panjang total hingga mendekati angka 200 kilometer! Selain di perpustkaan, buku-buku juga dapat kita jumpai di toko toko buku tua yang bertebaran di sekitar kota. Salah satu toko buku paling tua adalah The Blackwell Bookshop. Ruang buku utamanya, Norrington Room, sering dijadikan jujukan pencinta buku dari seluruh dunia. Sekali menjejakkan kaki di di ruanganya, aroma buku-buku dari berbagai genre tercium di hidung. Panjang total rak yang dijejali buku-buku tersebut sekitar 5 kilometer. Cukuplah membuat kaki pegal mengelilinginya, atau bisa dijadikan alternative olahraga terutama di musim dingin yang menggigil. Satu hal lagi, yang saya sukai, kedai kopi di took buku ini terletak di ruangan yang sama. Aroma kopi yang tersaji di meja bercampur dengan aroma buku memberi efek relaksasi yang nyaman.

 

Place for Museum Lovers

Berjumpa dengan dinosaurus? Binatang langka dari seluruh dunia? Atau melihat penemuan penemuan bidang seni dan science dari berbagai jaman? Kota oxford memiliki museum yang lumayan lengkap. Museum of Natural History memiliki koleksi dari jaman dinosaurus hingga kehidupan alam di dunia saat ini, sementara Museum of the History of Science menyimpan koleksi puluhan atau bahkan mungkin ratusan perkakas berbau tehnology, jam kuno, teleskop dari berbagai jaman, kalender mekanik dari berbagai belahan, alat-alat kedokteran, fisika dan hal-hal lain yang berkaitan dengan teknologi. Ashmolean Museum adalah tempat dimana kita dapat menyaksikan sejarah kebudayaan dari berbagai jaman dan dari berbagai belahan dunia. Koleksinya terbentang mulai Afrika, Asia, Eropa hingga oceania dalam bidang arkeologi, arsitektur, kesusasteraan, ethnografi dan seni berbagai bentuk.  Pecinta seni modern bisa menikmati karya-karya seniman di Museum Modern Art. Yang lebih menyenangkan adlah untuk menikmati semua museum tersebut tidak dipungut biaya. Museum-museum seolah menghentikan waktu, sehingga masa lampau dapat dinikmati di masa kini.

Image

Dipenuhi oleh ribuan pelajar sejak beratus tahun lampau, tidak sulit mencari pub atau café-café tempat nongkrong di seputaran kota. The Missing Bean, The Grand Cafe and The Vaults dan masih banyak lagi café –café yang menyajikan kopi, the, sarapan ringan atau makan siang dan makan malam yang berat. Penduduk yang heterogen bisa disaksikan dari beragamnya jenis kuliner yang bisa dijumpai. Hidangan makan malam tradisional ala Inggris bisa dinikmati di restaurant local ternama, Turl Street Kitchen. Konon tidak hanya jenis makannnya yang tradisional tetapi seuruh bahannya juga dihasilkan dari lahan-lahan pertanian yang masih mendominasi lansekap pinggiran kota Oxford. Daerah Cowley, tempat bermukimnya imigran dari berbagai negara, menyediakan makanan yang lebih beranekaragam. Hidangan dari Timur Tengah, Jepang, China dan wilayah lain di Asia dan eropa Timur bisa dijumpai. Sayangnya belum ada restaurant yang menyediakan makanan khas Indonesia.

Image

Ada satu Pub yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa, Tavern Turf, terletak di gang sempit tersembunyi di balik dinding-dinding batu alam tinggi. Bentuknya sangat tradisional, hanya bangunan kecil dengan halaman yang dijejali kursi dan meja dinaungi paying-payung kanvas tebal. Mungkin salah satu yang paling ramai di kota sehingga setiap kali kesana saya tidak pernah mendapati kursi yang kosong. Alhasil niat untuk mencicipi hidanganya tidak kunjung sampai. Konon beberapa tokoh terkenal pernah mampir disini. Menurut rumor, Bill Clinton, mantan presiden Amerika Serikat, sering menghisap marijuana pada saat muda di pub ini. Kemudian masih ada pub terkenal lainnya tempat J.R.R. Tolkien, pengarang trilogy The Lord of The Ring, sering bertemu dan mencari inspirasi bersama teman-temannya setiap selasa pagi, The Hawk and Child.

Segenap memory aktivitas serta kenangan bersama dengan wujud fisik kota menjadikan Oxford sebagai kota kecil yang hidup, aktif dan menarik tidak hanya pelajar namun juga turis setiap tahunnya.

Ubud

Lalu jika disuruh memilih kota mana yang lebih baik, saya tetap akan menjawab Ubud. Oxford adalah tempat ideal untuk belajar, melepas penat selepas mengerjakan assignment di café atau pub atau sekedar duduk duduk di pinggir sungai sambil bertegur sapa dengan sesame pelajar atau  penduduk lokal. Tetapi Ubud meninggalkan kenangan yang tak terlupa. Berlarian di pematang sawah sambil sesekali menangkap belut di petak-petak sawah berlumpur, memanjat pohon mangga atau papaya lalu membuat rujak di bawah teduhnya rumpun bambu adalah kenangan yang tidak gampang hilang dari kepala.

Image

Ngaben di Puri Peliatan, Ubud. Foto: Widnyana Sudibya

Ubud hari ini memang telah banyak berubah namun, seperti juga Oxford, tradisi masih terjaga baik. Keramah-tamahan penduduk yang tidak sungkan berbaur dengan orang asing adalah cerminan tradisi local yang fasih bergaul dengan tata kehidupan baru. Di Ubud bukan hal aneh menyaksikan festival-festival traditional yang sudah berlangsung ribuan tahun dan masih dipraktekkan hingga kini di ruang-ruang kotanya. Pada hari-hari tertentu, misalnya saat bulan purnama, ruang ruang budaya bale banjar, wantilan, mementaskan tari-tarian tradisional yang dipelajari oleh warga dari nenek moyang secara turun temurun sejak beratus tahun yang lalu. Nada-nada pentatonic dari bilah bilah logam yang ditabuh berirama mengiringi gerak para penari di atas panggung yang tidak terlampau besar. Para penari dan penabuhnya di siang hari adalah orang-orang yang bekerja di kantor-kantor pemerintah, di sekolah atau para petani di sawah dan ladang.

Image

Tari Legong Kuntul, foto: Widnyana Sudibya

Kehidupan sudah jauh berkembang, wujud kota perlahan telah berubah namun nafas tradisi tetap terjaga. Bangunan-bangunan tradisional masih mendominasi lansekap kota, berbahan local dan dikerjakan tangan-tangan terampil tukang-tukang ukir tradisional. Banyak gedung baru yang dibangun dan mengkonversi lahan sawah dan ladang. Bangunan-bangunan baru tersebut dibangun tetap dengan tradisi yang sama dengan bangunan yang telah ada sebelumnya. Atap alang-alang, warna merah bata dindingnya serta dilengkapi taman-taman luas dengan kolam tempat tumbuhnya tanaman lotus. Pota kotanya masih tetap sama. Aktivitas utama penduduk terpusat di sudut persilangan jalan utama dimana pasar traditional berbaur dengan pasar seni. Di pagi hari penduduknya datang dari berbagai pelosok membeli kebutuhan sehari-hari sementara siang hari pasar berubah menjadi semacam gallery seni jalanan.

Image

Puri Saraswati ubud. foto: http://www.fotowisata.com 

Seperti juga di Oxford, kawasan Ubud juga dijejali banyak museum. Museum Ratna Wartha adalah yang tertua. Berturut-turut selanjutnya dibangun banyak museum lainnya, Museum Neka, Museum Rudana, Gallery Seniwati, Agung Rai Museum of Art serta yang cukup fenomenal Blanco Renaissance Museum. Museum di Ubud rata-rata dikelola oleh individu-individu yang memiliki kepedulian dengan perkembangan seni dan budaya local. Selain koleksi tetapnya, museum-museum tersebut juga memiliki hari-hari tertentu dimana pegelaran seni budaya local dipentaskan.

Makanan traditional di Ubud sering menjadi referensi pelancong local hingga mancanegara. Hidangan tradisional semacam, ayam atau bebek betutu, bebek goring renyah, nasi ayam kedewatan serta babi guling Bu Oka terkenal hingga ke mancanegara. Warung Bebek Tepi Sawah, Bebek Bengil, Nasi Ayam Kedewatan, Warung Makan Teges dan lain-lain menjadi lokasi makan siang favourite warga dan juga wisatawan. Makanan semacam inilah yang membuat saya selalu menjadikan Ubud sebagai tempat favourit. Duduk di bale-bale terbuka tradisional di pinggir sawah sambil menikmati hidangan bebek goreng, ditemani sambal pedas dan segelas minuman tradisional, daluman, menjadi pengingat untuk selalu pulang saat berada jauh dari rumah.

Ekstasi kota, konon, adalah value yang mampu memuaskan segenap indra kita. Indra penglihatan dengan tampilan fisiknya yang menawan, indra penciuman dengan aroma udara yang menyegarkan, permukaan jalan serta dindingnya, suara-suara indah dari gamelan atau musisi jalanan, serta makanan yang memanjakan lidah. Kota kehilangan daya tariknya saat dia tidak mampu memberi kepuasan bagi indra kita.

Sopan dan Jujur

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ada satu hal yang menggelitik saya tentang kejujuran orang orang di Oxford. Sebuah nilai yang semakin memudar di tanah kelahiran sendiri di Bali. Harus saya akui bahwa saya cukup kaget dengan kejujuran orang orang disini yang berbanding terbalik dengan banyaknya manual untuk menjaga keamanan sebagaimana banyak tertempel di papan papan pengumuman yang dibuat oleh polisi. Pengumuman tersebut mengingatkan agar kita selalu berhari hati dengan barang bawaan, handpone, ipod, ipad, computer tablet atau barang berharga lainnya. Tentu pengumuman tersebut dibuat untuk kebaikan kita semua juga.

Pengalaman pertama tentang nilai kejujuran saya dapatkan ketika suatu sore, sepulang dari kampus, dalam keadaan yang cukup lelah dan saya akan membuka pintu hall yang menuju ke unit di mana saya tinggal. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan beberapa lembar kertas yang menmpel di pintu kaca. Sembari merogoh saku celana mencari cari kunci, yang rasanya saya selipkan disana tadi pagi, mata saya persis berhadapan dengan salah satu kertas yang tertempel.

“Lost but Found”

“If you think that you left your cell phone, an iphone, we’ve found it. Just go to the receptionist and bring any necessary proof of your ownership”.

Wahh. Saya terus terang tidak terbiasa melihat pengumuman semacam itu. Ada orang yang menemukan sebuah handphone, salah satu merk yang paling ngetop pula, dan dengan sukarela dia menyerahkan ke reception hall. Tidak cukup sampai disitu, si penemu masih sempat menempelkan secarik kertas dan memberi pengumuman. Pengumuman tadi cukup membuat mata saya membesar, mendelik dan memaksa otak saya untuk tidak mempercayainya atau paling tidak memaksa otak agar membacanya ulang. Tapi tulisan itu masih berbunyi sama. Ah, syukurlah si pemilik, yang saya perkirakan salah satu kawan mahasiswa, akhirnya bisa berhubungan lagi dengan kawan, keluarga, kolega dengan handphone yang sama dan tidak perlu lagi member tahu mereka bahwa dia harus ganti nomer gara gara handphone hilang.

Well, handphone cukup mahal, bisa saja kita berkilah, ahh, mungkin yang nemu ngga enak dapet barang yang mahal jadi dia kembaliin barang itu.

Apakah ada yang pernah meninggalkan flashdisk di ruang computer yang dipakai beramai ramai dan di dalamnya berisi file file penting? Rasanya sangat menjengkelkan. Dibanding handphone merek apel tergigit, harga sebuah flashdisk tidak ada apa apanya. Tetapi jika di dalamnya ada beberapa data penting tentu tidak bisa diukur dengan uang. Di studio urban design, di kampus, terdapat puluhan computer dan semuanya dapat dipakai untuk mengerjakan tugas, menggambar, berkirim surel dan sebagainya. Tidak kurang dari 25 orang setiap harinya menggunakan komputer-komputer tersebut. Di tengah semakin banyaknya tugas menjelang libur akhir semester, seringkali kita kurang memperhatikan hal hal kecil, semisal mencolok flashdisk untuk menyalin data ke computer dan berlalu begitu semua data telah tersalin. Sampai di rumah terlupa bahwa flashdisk yang kita pakai tertinggal. Barangnya kecil, harganya tidak seberapa mahal, tapi isinya, alamakk….semua file tugas, file CV, form-form bimbingan ada disana. Tidak terbayang paniknya. Disini hati cukup tenang kalau kita mengalami kejadian serupa. It is likely, bahwa jika ada yang menemukan, maka flashdisk akan dikembalikan, mahasiswa disini cukup memahami pentingnya ‘isi’ di dalam flashdisk yang tidak ternilai. Seperti pemberitahuan di laman group Facebook siang itu.

Hi Everyone, i just found this memory stick left in a computer in the Urban Design Studio. I’ve placed it on the small circular table in the research supervision area of UDS.

Image

if the owner of this memory stick wants i can look after it for them until their back. my email is 12027487.

Setelah memposting benda yang ditemukan, si penemu masih menawarkan diri untuk menjaga sampai yang punya mengambilnya. Seandainya itu barang saya, saya akan amat sangat berterimakasih mengingat sudah puluhan kali kehilangan barang serupa. Tanpa bermaksud menyalahkan siapa-siapa, barang saya hilang karena kecerobohan sendiri, tertinggal entah dimana. Namun seandainya si penemu sebaik orang yang menemukan barang di atas, tentulah akan dikembalikan.

Saya sebenarnya tidak ingin menulis cerita ini seandainya kejadian berikutnya, masih soal kebaikan, ini tidak menimpa saya. Sore itu seperti biasa sepulang dari kampus, saya berpapasan dengan Lloyda, salah satu petugas hall (warden). Saya ceritakan mahalnya mencuci pakaian di laundry di luar hall dan saya sampaikan pula mesinnya kecil sehingga hanya menampung sedikit pakaian. Dia terkaget kaget karena di hall sendiri terdapat sebuah ruang khusus untuk melaundry. Hanya saya malas karena banyaknya mahasiswa yang mencuci sehingga harus antre. Sembari menanyakan berapa harga laundry di luar dan berapa kali saya sudah me-laundry pakaian di luar, dia menyarankan saya melakukan laundry di Jumat sore. Biasanya Jumat sore semua orang akan pulang terlambat karena berakhir pekan, jadi ruang laundry biasanya sepi, atau sabtu pagi saat orang orang biasanya bangun terlambat. Saya mangut-manggut sambil menjelaskan bahwa harga laundry di luar hampir dua kali lipat dari harga laundry di hall. Di hall sekali laundry dan mengeringkan cucian harganya sekitar 5 GBP sementara di luar harganya 9.5GBP. Lloyd berkali kali meminta maaf karena kejadian tersebut. Dia menyarankan agar saya selalu berkoordinasi jika mengalami kesulitan apapun.

Keesokan harinya sepulang dari berbelanja kebutuhan seminggu, saat membuka pintu kamar, tanpa sengaja saya menginjak sebuah amplop tanpa nama pengirim. Cukup berat dan sepertinya berisi uang logam. Saya membukanya dan menemukan empat buah token didalamnya. Secarik kertas berwarna biru bertulisan tangan menyertai keempat token tadi.

“dear Maha,

Here are four washing tokens to compensate your washing outside of halls. I am very sorry you were not aware of laundry facilities here at Crescent. Use one token per washing.

Lloyda (warden)”.

Saya sungguh terharu, tidak dengan uang, dia mengganti semua pengeluaran laundry saya dengan empat buah token. Nilainya empat kali laundry alias dua kali dari yang saya korbankan untuk mencuci pakaian di luar.

Saya sering berdiskusi dengan kawan kawan di PPI dan membandingkan orang Inggris dengan orang dari belahan dunia lain. Kami sempat berkesimpulan bahwa mereka cuek, cenderung arogan, sangat menjaga pride dan attitude. Saat membaca tulisan tersebut serta mengingat kembali semua kejadian sebelumnya, pandangan saya berubah sepenuhnya. Orang disini sangat baik, jujur, dan tulus. Tidak cukup sampai disana, sorenya salah satu warden yang lain mendatangi saya saat sedang memasak. Kembali dia menyatakaan permintaan maafnya soal pengeluaran laundry saya, lalu dia menjelaskan ulang semua fasilitas yang bisa saya pakai, dan semua layanan yang saya butuhkan. Sebelum pergi dia masih bertanya apakah ada kesulitan lain yang saya alami, dia atau kawan yang lain siap 24 jam. Sebelum pergi dia meninggalkan nomer hp yang bisa dihubungi kapanpun 24/7.