Agrowisata sebagai Alternatif Pengembangan Ekonomi Bali perlu Dipikirkan Serius

perspektif 5
Fasilitas agrowsiata jeruk oleh Cheryl

Sejak diperkenalkan sebagai alternatif pengembangan ekonomi lokal oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Bali pada awal abad-20, pariwisata telah berkembang sangat pesat. Bisnis yang berkaitan dengan pelesiran dan segala aktivitas pendukungnya ini kini telah memberi penghasilan bagi lebih dari setengah penduduk Pulau Bali. Pulau Bali, berkat peranan pariwisata, telah menjadi salah satu yang paling terkenal diantara 17.000-an pulau di seantero Indonesia. Saking pentingnya peranan pariwisata, pengembangannya selalu mendapat prioritas di dalam rencana tata ruang provinsi maupun kabupaten dan kota yang ada di Bali.

Kesejahteraan dan keuntungan ekonomi yang diberikan serta ditawarkan oleh pariwisata juga mengandung kelemahan. Meskipun awalnya hanya dikembangkan dalam skala yang kecil, hanya sebagai alternatif dari pertanian, pertumbuhan bisnis yang berkaitan dengan pariwisata telah mulai mengalahkan sumber mata pencaharian utama yang telah ribuan tahun menjadi sandaran hidup masyarakat Bali yaitu pertanian. Data statistik dari BPS Provinsi Bali tahun 2017 menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah akomodasi pariwisata berbanding terbalik dengan jumlah sawah. Hal ini berarti bahwa pembangunan pariwisata membawa dampak pada berkurangnya jumlah sawah. Berkurangnya sawah berarti berkurang pula ruang terbuka hijau di Pulau Bali.

Selain mengurangi ruang terbuka hijau, berkurangnya sawah juga berarti penurunan produksi pangan local. Pada suatu pagi, di sebuah pasar, saya menjumpai bahwa sebagain besar komoditas pertanian berasal dari luar pulau. Sayur-mayur, cabai dan bumbu-bumbuan, perlengkapan upacara dan komoditas lainnya dating dari Jawa. Belum terhitung buah-buahan yang harus diimpor dari luar negeri. Semua komoditas tersebut kini memenuhi pasar-pasar traditional hingga rak-rak pasar swalayan dan took modern. Tentu tidak ada yang salah dengan hal tersebut sepanjang masyarakat masih memiliki ekmampuan untuk membeli karena uang yang diperoleh dari pariwisata. Menjadi persolan jika hal ini dikaitkan dengan transportasi dan jejak karbon. Untuk mendatangkan komoditas tersebut dibutuhkan armada angkutan yang besar. Untuk impor dibutuhkan kapal dan pesawat terbang. Jejak karbon yang ditimbulkan menimbulkan polusi serta proses transportasinya membuat jalan-jalan semakin padat menambah rumit persoalan transportasi.

Kini, saat perkembangan pariwisata telah melampaui sektor pertanian, semakin sedikit anak muda yang tertarik untuk terjun menjadi petani dan tinggal di desa. Wilayah-wilayah yang menjadi pusat pariwisata menjadi tujuan urbanisasi membuatnya semakin padat. Kost-kostan dan hunian dalam bentuk perumahan untuk kaum urbane ini, lagi-lagi, mengorbankan area persawahan. Di Kota Denpasar persawahan semakin terjepit tinggal di kawasan pinggiran. Itupun masih berada di bawah ancaman alih fungsi yang massif. Sebaliknya di kawasan perdesaan, akibat urbanisasi, terjadi kekosongan tenaga kerja muda kreatif. Tenaga kerja ini telah pindah ke kawasan yang dianggap lebih menjanjikan dalam memberikan ruang dan keuntungan bagi energikreatif yang mereka miliki. Jika hal ini terus berlangsung, bisa jadi tidak akan ada lagi petani di masa yang akan datang.

Sesungguhnya, salah satu daya tarik yang membuat Bali sedemikian menarik sebagai daerah pariwisata adalah budayanya. Kebudayaan penduduk Bali sangat erat terkait dengan pertanian. Sebagian besar ritual yang dilaksanakan berurat berakar di aktivitas pertanian. Ritual-ritual ini menjiwai kebudayaan Bali dan menjadi factor penarik (pull factors) bagi datangnya pengunjung-pengunjung manca negara.  Menghilangnya pertanian bisa melemahkan atau mengikis kebudayaan dan pada gilirannya bisa mengurangi daya tarik Bali sebagai daerah tujuan wisata.

Pariwisata sendiri sebenarnya sangat rentan terhadap isu dan kejadian negatif. Pada tahun 2002, terjadi peristiwa terorisme di mana sekelompok orang meledakkan kendaraan penuh bahan peledak. Ratusan wisatawan menjadi korban. Kejadian ini memicu ketakutan dan kengerian internasional. Segera setelahnya terbentuk opini bahwa Bali tidak aman bagi pengunjung. Turis enggan datang. Akibatnya bisnis pariwisata mati suri meninggalkan ribuan orang tanpa pekerjaan. Untunglah kejadian ini segera membaik dan kunjungan turis kembali normal. Akan tetapi hal ini menunjukkan betapa rentannya pariwisata terhadap isu keamanan.

Contoh lain adalah peristiwa alam gunung meletus. Bali berada di wilayah yang dikenal sebagai the Ring of Fire. Kawasan yang terdiri atas rangkaian gunung api terbentang dari wilayah barat hingga ke bagian timur Indonesia yang dipenuhi oleh gunung berapi. Di Bali terdapat dua gunung api akif yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur. Keduanya sewaktu-waktu bisa meletus menyebabkan bencana. Pada akhir tahun 2017 hingga awal 2018, Gunung Agung menunjukkan tanda-tanda aktif. Sepanjang September hingga Desember 2017 asap dan debu vulkanik mengepul dari puncak Gunung Agung. Peristiwa ini menganggu penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Selain menganggu bandara, secara psikologis, peristiwa ini juga berpengaruh terhadap isu kemananan pariwisata. Turis yang ada di Bali berbondong-bondong meninggalkan Bali mempersingkat waktu kunjungannya. Sementara itu, mereka yang akan datang membatalkan rencana. Peristiwa ini, seperti juga Bom Bali, kembali mengganggu ekonomi local. Tingkat hunian hotel menurun, kunjungan berkurang dan bisnis pariwisata melambat.

Pariwisata dan pertanian di Bali kini saling berhadap-hadapan. Peningkatan bisnis pariwisata membuat performa pertanian menurun. Akan tetapi saat pariwisata menurun hal sebaliknya tidak terjadi. Saat kunjungan wisatawan menurun, pertanian tetap tidak dilirik sebagai bisnis yang menguntungkan. Ini menunjukkan betapa tingginya angka ketergantungan Bali terhadap pariwisata. Jalan damai untuk menyeimbangkan kedua bisnis ini perlu digali. Potensi penggabungan antara pertanian dan pariwisata bisa disekplor dan dipikirkan dengan serius. Penggabungan keduanya bisa menjadi tulang punggung pengembangan ekonomi Bali di masa depan.

Berdasarkan uraian di atas perlu dipikirkan bisnis kepariwisataan yang:

1.       Tidak menurunkan jumlah sawah dan ruang terbuka hijau secara signifikan

2.       Memberi kesejahteraan yang mampu menghidupi Pulau Bali tanpa tergantung pada hasil pertanian dari luar pulau.

3.       Tidak menambah kemacetan dan polusi udara

4.       Menyediakan lapangan kerja yang menarik bagi generasi muda sehingga mereka tidak harus berpindah tempat tinggal

5.       Tidak mengurangi esensi ritual dan adat yang berakar pada pertanian

6.       Sustainable serta tetap mampu berproduksi, memberi penghasilan bagi pelakunya saat bisnis pariwisata meredup.

Guna menjawab tatangan ekonomi yang terjadi saat ini, mahasiswa arsitektur Universitas Warmadewa mencoba mencari alternative baru pengembangan kepariwisataan sesuai dengan persyaratan di atas. Potensi agrowisata digali di lokasi yang berbeda-beda. Beberapa kelompok menggali kemungkinan penyediaan fasilitas agrowisata di kawasan pedesaan sehingga tersedia lapangan pekerjaan melimpah tanpa harus berpindah ke kota. Beberapa kelompok lainnya membawa pertanian ke tengah kota sehingga distribusi komoditas pertanian lebih dekat kepada masyarakat yang membutuhkannya.

Alternative-alternatif yang diekmbangkan memang masih pada tataran latihan sehingga terkesan idelaistik. Tetapi apa yang diperbuat perlu mendapat perhatian jika pembangunan kepariwisataan diharapkan untuk bersinergi dengan pertanian yang menjiwai kebudayaan local.

Untitled-1
Pengembangan agrowisata kopi oleh Tirta Yadnya
1 (1)
Urban farming oleh Wahyu Anggareza
perspektif 2
Suasana di agrowisata jeruk oleh Cheryl

 

Social-media, Aktualisasi Diri dan Tata Ruang Kita

1530038wisata-kelimutu780x390
Wisata alam. Sumber travel.kompas

Di Indonesia liburan panjang telah usai dan hari-hari kerja sudah menanti di depan mata. Tentu ada banyak cerita dan pengalaman liburan yang bisa dikenang dan diceritakan bagi rekan sekantor atau teman sekolah. Cerita ini bisa menstimulasi orang yang diceritakan untuk tertarik berkunjung ke tempat yang dikisahkan. Wisata memang salah satunya bertujuan untuk memberi pengalaman baru yang berbeda dibandingkan dengan pengalaman yang kita lewati dalam keseharian. Tujuan berwisata sendiri adalah untuk lepas dari keseharian yang seringkali membuat jenuh. Artinya wisata adalah untuk kebutuhan diri sendiri. Namun ada satu lagi tujuan wisata yang nampaknya berkembang belakangan ini yaitu sebagai sarana aktualisasi diri. Bukan lagi untuk kepentingan diri sendiri secara personal tetapi untuk menunjukkan siapa diri kita di tengah masyarakat. Tentang membentuk dan menciptakan identitas, tentang kualitas yang membuat kita terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan anggota masyarakat lain atau teman-teman.

Karena ingin terlihat ‘berbeda’ atau ‘setara’, maka ada dua trend menarik. Sebagai sarana aktualisasi diri, agar menjadi ‘berbeda’ maka tempat-tempat yang unik yang belum pernah dikunjungi atau diliat oleh teman-teman atau masyarakat di sekitar kita menjadi tujuan. Tempat-tempat ini bisa jadi berupa pegunungan, danau atau laut dengan pasir putihnya atau bisa juga berupa kota kecil dengan suasana unik, bangunan megah, jembatan atau taman wisata air. Atau bisa juga restaurant yang menjual makanan khusus, villa atau kolam renang , dengan desain unik, terletak di kawasan yang dianggap keren. Pendek kata, bisa berupa wilayah alami atau obyek buatan manusia. Dengan dunia internet yang mewabah, tidaklah sulit untuk mencari tempat-tempat tadi. Berikutnya, saat ingin terlihat ‘setara’ menjadi bagian dari golongan tertentu, maka kita cenderung mencari tempat-tempat yang sudah pernah dikunjungi oleh teman-teman kita sebelumnya. Bisa jadi kita mengetahui seorang kawan berkunjung ke Paris atau melihatnya di tepian tebing di Nusa Penida lalu kita ingin berkunjung kesana. Atau ada kawan yang berkunjung dan berpose di depan patung singa di Singapore dan membuat kita ingin mengulangi pengalaman si teman tadi. Kecenderungan yang kedua ini biasanya dipicu oleh  keinginan agar dilihat ‘setara’ sehingga tempat yang pernah dikunjungi oleh orang ‘top’ menjadi primadona. Kita ingin mengunjungi tempat yang pernah dijajaki oleh entah itu artis, politisi atau teman kita yang memiliki status social lebih tinggi, misalnya.

Lalu bagaimana menjadi ‘berbeda’ atau menjadi ‘setara’ ini bisa dijadikan alat aktualisasi diri? Disinilah peranan social-media menjadi penting. Sesaat kita mengunjungi tempat unik, entah karena ‘perbedaan’ atau ‘persamaan’ maka segera pula dalam beberapa saat fotonya akan terpampang di laman social-media kita. Kadang berlomba-lomba untuk lebih dulu memposting agar tidak didahului oleh rekan lain. Karena jika didahului, maka berkurang pula makna ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ yang ingin dicapai. Facebook nampaknya paham betul dengan perilaku semacam ini. Fitur ‘live’ kini kian populer dipergunakan. Dengan fitur ini pengalaman yang diperoleh bisa di-post secara real time. Dengan postingan real time, tujuan agar terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan yang lain bisa segara ditunjukkan. Unsur kecepatan menjadi kunci disini. Semakin cepat pengalaman baru tersebut di-posting, maka semakin cepat pula aktualisasi diri diperoleh. Dalam upaya menjadi ‘berbeda’ dan ‘setara’ ini, kita dihujani oleh berbagai macam image tentang tempat-tempat unik dan tempat-tempat baru, ruang-ruang dimana aktualisasi diri dibentuk. Lalu apa implikasinya bagi perencanaan dan penataan ruang?

hipwee-IMG_20161227_114638_217
Pelataran foto di atas jurang. Sumber hipwee.com

Tempat-tempat alami tentu saja sudah tersedia untuk dikunjungi. Tebing-tebing, danau, jurang yang hijau dan sebagainya sudah ada dan tinggal di’temu’kan dan dikunjungi. Tempat-tempat buatan harus diciptakan. Lalu kita akan jamak menjumpai di social-media teman-teman atau kerabat berpose di pelataran kayu di tepi jurang, berpose di ayunan di tengah laut, atau di restaurant dengan nuansa tertentu. Perancang dan desainer dituntut untuk terus mencari atau menciptakan ide-ide baru. Ide-ide untuk membuat tempat yang bisa dijadikan sebagai ajang ‘aktualisasi diri’ yang akan membuat orang merasa ‘berbeda’ atau ‘setara’ dengan yang lain. Jika dahulu tempat wisata terpusat pada satu atau dua titik saja, kini tempat-tempat wisata bisa kita jumpai di berbagai titik dan wilayah. Bahkan wilayah yang jauh di pelosok-pelosok karena keinginan untuk terlihat ‘berbeda’. Karena wisata tidak terlepas dari faktor ekonomi, pergerakan ekonomi pun mejadi lebih tersebar dalam skala luas. Skala dan kecepatan perubahan menjadi sangat masif. Akan tetapi hal ini berimplikasi pada penataan ruang.

Rencana penataan ruang adalah sebuah rencana jangka panjang, sementara kecepatan pembangunan di lapangan saat ini sangat tinggi berorientasi keuntungan jangka pendek. Terjadi ketimpangan disini. Para investor dan perancang dipaksa untuk terus bekerja keras memikirkan dan melahirkan konsep-konsep unik untuk segera balik modal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ruang-ruang terpencil dieksplorasi sebagai wadah mencipta tempat wisata baru. Arus transportasi dan pergerakan kendaraan kini semakin sulit diprediksi. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pakar transportasi. Laju alih fungsi lahan akan semakin kencang karena tempat-tempat unik dengan segera akan melahirkan pusat ekonomi baru yang membutuhkan lahan. Pemikiran konsep unik ini ujung-ujungnya akan berakhir di titik yang sama seragam. Kita melihat dimana-mana ada pelataran kayu di tepi jurang, ayunan di atas danau, restaurant yang dahulu terasa unik kini di-copy dimana-mana. Restaurant ikan bakar khas Jimbaran bisa dijumpai di tengah sawah di Ubud. Orang  dengan cepat akan bosan dengan tempat yang sudah berkali-kali di post di social media. Tempat-tempat yang awalnya ‘unik’ menjadi biasa-biasa saja. Sebentar lagi pelataran-pelataran kayu di atas tebing akan kehabisan daya tariknya dan digantikan oleh trend baru. Ayunan di tengah laut juga tidak lama lagi akan kehilangan daya pikat. Lalu akan ada lagi trend-trend baru yang melahirkan mobilitas penduduk baru, alih fungsi baru dengan kecepatan dan skala yang semakin tinggi dan luas. Pencarian akan ‘kebaruan’ dan ‘keunikan’ akan kembali berakhir pada kesamaan karena duplikasi akan kembali terjadi. Pada akhirnya akan melahirkan persoalan tata ruang baru.

Tidak mudah mengantisipasi trend semacam ini. Trend dimana segala sesuatu diukur dari kemampuannya untuk menyajikan hal unik sebagai ajang aktualisasi diri. Jika aktualisasi diri dengan konsep menemukan ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ memang menjadi motivasi, maka ada baiknya kita berhenti sejenak, atau setidaknya melambatkan laju.

hipwee-Kebun-Teh-Nglinggo-640x426
Ayunan iconic berwarna mencolok. Sumber hipwee.com

Jauh sebelum segala sesuatunya terlihat sama, manusia sesungguhnya hidup di tempat-tempat yang berbeda-beda. Pengaruh geografis, pengetahuan serta material lokal, keunggulan spesifik suatu lokasi di masa lampau menghasilkan tempat-tempat yang unik. Tidak ada satu desa pun di Bali yang memiliki kesamaan attribut dengan desa lain, misalnya. Atau tidak ada dua pura yang dibangun sama persis. Bahkan rumah-rumah tradisional yang konon dibuat dengan tatanan yang sama, Hasta Kosala-kosali, pun selalu memiliki sisi keunikannya sendiri. Jika kita mengurangi sedikit kecepatan maka keunikan justru dapat digali dari pengetahuan setempat. Bukan dengan cara meng-copy dari tempat lain tetapi melahirkan konsep baru dari pengetahuan setempat. Memberi makna dan nilai baru pada ilmu yang tumbuh dan berkembang di suatu wilayah sebelum adanya pengaruh luar. Authenticity adalah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan hal ini. Tentu saja upaya semacam ini jangan diartikan bahwa kita menolak kemajuan, menolak pengetahuan luar atau hanya sebagai upaya nostalgia. Upaya ini adalah untuk mengembalikan pengetahuan unik dan menyandingkannya dengan pengetahuan baru, ide-ide dari luar, sekaligus mem-perbaharu-inya secara konstan. Dari penyandingan ini akan bisa digali ‘keunikan’ serta saya yakin akan kita temukan ‘kesetaraan’  jika proses ini dilakukan secara konstan. Lembaga pendidikan arsitektur dan desain semestinya berada di garda terdepan dalam hal ini. Di lain pihak, rencana tata ruang kita mestinya bisa mengantisipasi dan membaca fenomena soal kecepatan perubahan ini, memprediksi peran soal social-media dan penyebaran arus informasi yang kini berlangsung real time.

St. Just

Udara malam menusuk tulang diperparah hembusan angin yang menyertai gerimis pertengahan Oktober. Sambil berteduh di emperan, saya mengibaskan jaket hitam yang membungkus badan guna melepaskan titik-titik air yang telah menimpanya seharian ini.

Pusat permukiman St. Just di kawasan Cornwall ini tidak bisa dibilang besar, malah relatif kecil menurut saya.  Di jantung permukiman, di mana tiga ruas jalan bertemu, saya hanya menjumpai satu toko serba ada kecil, pub yang ramai oleh pengunjung lokal di akhir pekan itu, serta sebuah kedai fish and chips tepat bersebelahan dengan pub tadi. Didorong rasa lapar, segera saja saya masuk dan naik ke lantai atas yang merupakan tempat makan kedai yang nampak hangat dari luar. Butir-butir gerimis masih berjatuhan dari gelapnya langit malam membasahi seluruh kota. Dari jendela yang dipenuhi bulir gerimis, terlihat jalan-jalan yang basah memantulkan pendar cahaya lampu jalan, warnanya kuning pucat. Satu dua kendaraan lewat. Lampunya meninggalkan jejak cahaya memanjang sepanjang jalan. Selebihnya sepi. Sesaat sepasang manula berjalan tertatih dibantu tongkat melintas bergandengan tangan. Badannya yang mulai membungkuk ditimpa cahaya lampu jalan menciptakan bayangan memanjang di balik punggung, lalu menghilang di persimpangan jalan.

DSC_7902.JPG

Seperti juga kotanya, kedai ini juga tidak begitu ramai malam itu. Selain pasangan yang bercakap-cakap lirih di sudut ruangan, dua meja diisi sekelompok orang dari berbagai umur, nampaknya keluarga yang menikmati akhir pekan. Sedikit menggigil mengusir sisa-sisa dingin, saya memegang poci keramik berisi teh hangat dan menuangkan isinya yang merah pekat ke dalam cangkir. Tidak sekedar memegang gagang, saya menangkupkan kedua tangan di permukaan sisi cangkir berharap hangatnya menjalar ke seluruh tubuh. Sambil mendekatkan cangkir ke wajah, saya menghembuskan udara dari mulut ke permukaan cairan pekat kemerahan dengan asap mengepul-ngepul. Uapnya yang melayang-layang menempel di kacamata membuat pandangan sejenak mengabur.  Suara garpu dan pisau yang beradu dengan piring memecah sejenak kesunyian dengan bebunyian khas kedai makan. Sesekali kembali terdengar percakapan lirih dari sepasang tamu di meja seberang. Waktu serasa berjalan lebih lambat.

***

Terbangun di pagi hari yang menunjukkan ciri-ciri hari bakalan cerah, awan berarak, pendar semburat jingga di horizon serta langit yang berwarna biru muda. Di kejauhan, cottage-cottage nampak kecil dibandingkan keluasan garis bumi tanpa batas yang melatarinya. Barisan pepohonan dan hutan nampak kehitaman sementara deretan dinding-dinding batu rendah membatasi petak-petak peternakan membuat lansekap nampak terkomposisi mengikuti liukan kontur tanah. Suara lenguh lembu, ringkik kuda serta cericit burung memenuhi udara. Tidak membuat bising, tapi seoalh undangan untuk seturut bergabung.

DSC_7914.JPG

Tanpa basa-basi saya menyambar kamera, memakai sepatu kets dan bergegas menuju pintu keluar. Sapaan ‘Good Morning’ dari Ruth, si pemilik cottage tempat menginap, saya balas ala kadarnya. Derit pintu kayu dengan engsel besi karatan mengiringi langkah kaki menuju peternakan tepat di belakang cottage.

Udara masih membeku membelai kulit. Tetapi paru-paru bersorak girang merayakan kesegarannya yang unik dengan aroma humus dan padang ilalang basah sisa hujan semalam. Saya harus hati-hati melangkah karena tebaran kotoran lembu sebesar baskom ada di mana mana. Di bawah telapak kaki, tanah serasa empuk oleh tebalnya humus dan rerumputan hijau.

Beruntunglah orang-orang yang terlahir dan dibesarkan disini, di desa kecil berudara sejuk jauh dari hiruk-pikuk perkotaan serba cepat.

DSC_7959.JPG

Isle of Wight dan Gerakan Kota Lambat

P8200125.JPG

Menapaki jalan-jalan pusat permukiman West dan East Cowes di Isle of Wight mengingatkan saya pada tulisan Paul L. Knox tentang Slow City Movement. Ya kota-kota yang sengaja memperlambat laju pertumbuhannya untuk memberi kesempatan penduduk, kota itu sendiri serta alam lingkungan di sekitarnya  untuk bernafas di tengah hingar bingar serta perlombaan mengejar kemajuan yang menjadi ciri-ciri kota modern. Globalisasi, demikian istilah yang sering kita dengar, telah memacu kota-kota utama dunia untuk mengejar pertumbuhan di segala bidang. Dengan adanya kemajuan teknologi transportasi dan informasi, pergerakan barang, jasa, dan, terutama, capital menjadi tanpa batas alias bebas dari sekat sekat geografis. Pemilik modal di kawasan A bisa dengan mudah mempengaruhi wajah kota di kawasan B dengan kekuatan capital yang dimilikinya. Demikian pula barang-barang produksi di wilayah satu bisa dengan mudah ditemui di wilayah lain yang letaknya bersebarangan secara geografis. Pergerakan modal, barang dan juga manusia memacu kota-kota yang memiliki daya tarik serta menawarkan janji keuntungan ekonomis tinggi menjadi sasaran tujuan. Adanya modal, barang serta tenaga kerja dari berbagai belahan di satu lokasi membuat pertumbuhan kota tersebut menjadi lebih pesat. Dalam banyak kasus, kota-kota yang berkeinginan untuk memacu pertumbuhannya lalu berupaya me ‘marketing’ kan dirinya guna menarik lebih banyak lagi investasi serta barang dan jasa guna mengejar kemajuan tadi. Karena banyak kota-kota menempuh strategi serupa, maka pertumbuhan kota menjadi seragam, wajah kota menjadi serupa dan mirip: ditandai dengan bermunculannya shopping mall, gerai makanan cepat saji, toko berjaringan, pom bensin untuk menunjang laju kendaraan, serta toko-toko merk pakaian yang sama di seluruh belahan dunia. Perkembangan yang pada akhirnya dikhawatirkan memberi dampak pada keseragaman wajah kota yang sama serupa, menghapus jejak-jejak makna masa lalu, serta pada akhirnya menjadikan kota tanpa jiwa.

Dalam gerakan yang disebut Slow City Movement, kota dibangun dengan prinsip sebaliknya. Toko-toko dan restaurant menjual makanan dan minuman yang dihasilkan dari lahan pertanian lokal, diolah oleh koki setempat berdasarkan resep yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang. Pun halnya dengan  bangunan yang dikonstruksi dengan material yang diperoleh dari lingkungan sekitar: batu alam setempat, kayu yang ditebang dari hutan di pinggiran kota atau bukit di tengah pulau serta dibangun oleh pekerja setempat dengan teknik yang dikuasai secara tradisional. Kota semacam ini, tentu saja akan berjalan lebih lambat karena harus membangun dengan modal yang dimiliki sendiri, yang jumlahanya terbatas, tanpa intervensi modal atau aktor luar. Kota yang tumbuh berkembang atas kemampuannya mengelola sumberdaya secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat lokal.

P8200263.JPG

Kapal ferry yang saya tumpangi melambatkan lajunya sebelum dengan tenang menyentuh bibir dermaga di pelabuhan East Cowes di Isle of Wight yang berjarak tempuh lebih kurang satu jam dari Southampton.  Beberapa menit kemudian pintu kapal terbuka dan kami melangkahkan kaki menapaki pulau di ujung selatan Inggris Raya ini disambut senyum hangat Pak Wayan Gunawan. Sudah belasan tahun tinggal di pulau ini, pak Wayan adalah WNI insinyur mesin yang bekerja di industry pesawat terbang dan workshopnya terdapat di pulau kecil diselimuti hutan di bagian tengahnya ini. Seperti saya sampaikan di awal tulisan tadi, tidak nampak bangunan modern yang menjulang ataupun berkilau dibungkus kaca. Kondisi ini kontras dengan imaji sebagian besar orang tentang kota-kota di barat yang serba modern. Jalan setapak batu alam, bangunan dengan rangka kayu beratap genteng tradisional serta dermaga kayu. Sedikit jejak-jejak pengaruh arsitektur klasik  nampak pada balustrade yang membatasi kawasan jalan setapak dengan tepian air.

Terdapat beberapa pusat permukiman di pulau yang tidak seberapa luas ini dan sebagian besar terletak di tepian pantai berhadapan dengan laut. Pantai-pantai karang berbatu kemungkinan menjadi sumber bahan alam untuk pembuatan dinding serta pondasi bangunan. Sementara di bagian tengah pulau, hutan-hutan hijau gelap mendominasi lansekap. Saya menduga kayu-kayu yang dihasilkan dari wilayah perbukitan inilah yang menjadi pemasok bahan konstruksi. Perpaduan antara batu alam dan kayu menjadi bahan bangunan menciptakan karakter lokal yang kental pada arsitektur permukiman penduduk.  Di bagian tengah pulau di hulu sebuah sungai yang sekaligus menjadi salah satu jalur transportasi utama, pusat kotanya berukuran kompak tidak terlalu besar, barangkali seluruh bagiannya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Semua kota-kota di tepi pantai terhubung dengan pusat kota ini melalui jalur transportasi umum.

P8210403.JPG

‘Seluruh bagian dari pulau ini adalah kota wisata’, demikian Pak Wayan bercerita saat kami menikmati makan siang gratis hasil masakan Ibu Wayan yang lezat. Bagian tepiannya, jika tidak berpantai landai yang asyik untuk berjemur, memiliki pemandangan yang dramatis: tebing-tebing karang eksotis yang bagian bawahnya digempur ombak bertalu-talu. Bagi penggemar hiking atau jogging maka dipastikan akan menyukai jalur-jalur menantang melewati pantai, hutan, ladang pertanian yang luas atau melewati menara suar kuno yang berdiri gagah melawan angin. Arsitektur bangunan penduduk aslinya di abadikan dalam sebuah kawasan desa mini. Bangunan-bangunan tradisional dibuat dalam bentuk model berskala dalam kawasan seluas lebih kurang satu hektar. Jika tidak sempat berkeliling pulau, maka cukuplah bisa menikmati arsitekturnya di tempat ini.

P8210463.JPG

Pariwisata menjadi salah satu andalan pendapatan penduduknya. Kedai-kedai makanan yang menyajikan masakan local, kedai es krim yang juga buatan lokal serta jangan lupa mencicipi wine langsung dari tempat pembuatannya sembari melihat proses produksinya. Ke-setempat-an atau lokalitas menjadi hidangan utama bagi siapa saja yang berkunjung kesini. Ramainya kunjungan wisatawan tidak merusak lingkungan alamnya justru menjadi penopang utama usaha pertanian penduduk. Lihat saja madu-madu yang dihasilkan dari hutan yang terjaga lestari menjadi oleh-oleh yang bernilai. Kemajuan wisata, kelestarian alam, serta kemampuan untuk tetap bersahabat dengan lingkungan guna menopang perekonomian lokal menjadi salah satu tujuan yang disepakati oleh kota-kota yang tergabung dalam gerakan Slow City Movement yang lahir di Italia. Cara kerja gerakan yang hadir sebagai antithesis dari globalisasi kapital ini bisa disaksikan di Isle of Wight.

P8210438.JPG

 

Kota Kita (Mungkin) Akan Kehilangan Sawah Lebih Cepat dari Yang Kita Duga

Hamparan tanaman gandum membanjiri lansekap. Nyaris setiap lahan terbuka diselimuti warna keemasan tanaman gandum siap panen ditimpa sinar matahari terik siang itu. Sinar menyilaukan sesekali tertutup awan berarak di langit. Di beberapa titik, deretan pepohonan berwarna hijau kehitaman seolah menjadi jeda bagi warna permadani kuning gandum. Di bagian lain, warna ungu bunga lavender menutupi sebagian besar lahan. Perpaduan antara warna ungu, kuning dan hijau membentuk pola-pola seperti sambungan-sambungan kain warna-warni yang menutupi bukit dan lembah.

DSC_7618

Pertanian dan peternakan menjadi elemen penting dalam perencanaan kawasan di Inggris. Setiap kota atau desa selalu dikelilingi oleh lautan luas lahan-lahan pertanian. Hasil-hasil pertanian dari lahan-lahan ini menjadi komoditas utama pasar-pasar tradisional, supermarket hingga menyuplai bahan baku untuk kebutuhan makanan di hotel dan restaurant kelas atas di kota yang dikelilinginya. Pertanian adalah bisnis besar, bisnis mengatasi persoalan hidup dasar manusia soal isi perut alias makanan sehingga, tentu saja, sangat penting bagi kehidupan manusia. Bisnis yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

Ternyata, pertanian tidak melulu soal tanaman dan peternakan. Pertanian juga membangkitkan bisnis pariwisata. dari ribuan hektar lahan, sebagian kecil diperuntukkan bagi yang ingin melihat produksi pangan dari dekat. Mini lansekap dengan tiketing bagi pengunjung disiapkan bagi pikiran yang dahaga akan kedamaian hidup pedesaan. Secara tidak langsung, tanpa menjual produknya, pertanian juga menghasilkan uang dan dengan demikian menyediakan lapangan kerja dan memproduksi kesejahteraan.

DSC_7369

Konon, di masa abad ke delapan belas hingga memuncak di awal abad kedua puluh, Inggris sempat mengalami urbanisasi akut. Kemajuan industri permesinan dan, terutama, kemajuan transportasi dan pelayaran membuat pergerakan masif penduduk terjadi dari kawasan pedesaan menuju ke kawasan pelabuhan dan perkotaan. Wajar saja, karena dengan berkembangnya industri, maka kesejahteraan di kawasan perkotaan juga meningkat meninggalkan kawasan pedesaan dengan kehidupan pertaniannya. Dengan demikian, daya tarik kota menjadi meningkat. Masa revolusi industri membawa guncangan dahsyat bagi sektor pertanian yang masih mengandalkan tenaga manusia. Akibat dari derasnya urbanisasi ini, kota-kota menjadi penuh sesak, permukiman penuh dengan golongan pekerja dan buruh yang mencoba peruntungan. Karena tingginya konsentrasi penduduk, akhirnya kota membesar dan, dengan banyaknya pabrik dan industri, kualitas udara serta lingkungan menurun drastis.

Edward Ebenezer Howard, menawarkan alternative win-win solution melalui konsep kota-kota taman atau yang dikenal dengan sebutan Garden Cities. Di dalam konsep ini, kota diibaratkan sebagai mesin penghasil kesejahteraan, sementara kawasan sekitarnya sebagai tempat tinggal penduduk dikelilingi dengan lahan pertanian yang luas. Lahan pertanian menjadi penyuplai makanan bagi manusia yang tinggal di kota dan di desa. Terdapat tiga magnet yang dirumuskan olehnya sebagai penarik penduduk untuk tinggal dan bekerja: di kawasan tengah kota, di pinggiran kota atau di desa, diantara ketiganya dikembangkan lahan pertanian. Semua magnet memiliki keunggulan dan kekurangannya namun saling mendukung satu sama lain dan sesuai dengan keadaan ekonomi si manusia pemilihnya. Tujuannya adalah untuk mendekatkan manusia dengan lingkungan sekitar, dengan menyediakan lahan pertanian sebagai areal transisi, sekaligus membuat manusia mendapat manfaat terbaik dari kemajuan industri perkotaan. Meskipun tidak banyak yang bisa menerapkannya secara ideal, terbukti konsep ini sangat mempengaruhi perkembangan kota-kota di Britania Raya, terutama di abad ke-20.

Kini, sebagian besar kawasan kota dikelilingi oleh lahan pertanian luas yang juga berfungsi untuk menurunkan kadar polusi dengan menyediakan ruang hijau. Kawasan pedesaan berada dekat dengan lahan pertanian ini menyuplai tenaga kerja yang tidak terlalu banyak karena sebagian sudah diambil-alih oleh mesin. Dengan bantuan mesin , kesejahteraan menjadi merata antara kawasan perkotaan dengan pedesaan. Perlahan, kota-kota menjadi semakin sehat dan kawasan pedesaan juga tetap mampu berproduksi secara optimal. Karakter-karakter perkotaan dan pedesaan juga terjaga. Desa tidak dipaksa meng-kota sementara kota tidak dipaksa men-desa.

‘Carik dajan umah man e be dadi supermarket, ane delod uman man e be dadi dealer’*, demikian celoteh salah satu tokoh punakawan dalam wayang cenk-blonk menggambarkan kondisi lahan pertanian di Bali. Percaya atau tidak itulah kenyataan yang terjadi. Kemajuan yang berlandaskan materi instan bisa mengubah wajah lansekap kita dengan kecepatan tinggi. Tanpa kita sadari kita kehilangan sawah dan ciri-ciri kehidupan guyub karena desakan fasilitas yang dianggap modern tadi: supermarket dan dealer. Fasilitas yang mewakili citra hidup masa kini: makanan kemasan dalam rak serta mobil atau sepeda motor kelimis.

Bali memang tidak diserbu oleh industri berat seperti yang dialami oleh Inggris, tetapi dalam bentuk lain seperti pariwisata dan jasa. Efek yang ditimbulkan sangat mirip. Pada tahap awal, industri menawarkan pekerjaan dan penghasilan, sementara tahap berikutnya dia mengundang lebih banyak orang untuk datang  dan terkonsentrasi pada satu titik menimbulkan akumulasi manusia yang membutuhkan lahan. Di pihak lain, di kawasan yang ditinggalkan tidak terjadi tindakan signifikan sehingga kehilangan tenaga kerja potensial. Tanpa ada kebijakan, pergerakan ini akan berlangsung secara alamiah dan berpotensi buruk bagi kedua belah pihak : kota maupun bagi desa.

Microsoft PowerPoint - italks.pptx

Melihat peta Ruang Terbuka Hijau dalam lampiran RTRW Denpasar terbaru, saya membayangkan bahwa kita akan kehilangan lahan pertanian lebih cepat daripada yang diramalkan oleh peta rencana tersebut. Indikasinya, di dalam kawasan yang ditetapkan sebagai ruang terbuka hijau tersebut kini lahan sudah beralih, bahkan sudah terlihat beberapa bangunan. Jika peta di dalam rencana saja sudah ter langgar, tentu sulit untuk mengharapkan yang tidak dimasukkan sebagai kawasan hijau di dalam rencana untuk bertahan. Melihat fenomena ini dan juga minimnya perencanaan yang matang membuat saya menduga bahwa sawah sawah yang ada di dalam peta itu akan terlebih dahulu habis tanpa sempat dijadikan sebagai kawasan penyangga.

Menyeimbangkan dan memberi ‘kualitas’ hidup yang sama antara yang tinggal di kota dan desa sering didengungkan sebagai solusi. Menyeimbangkan tentu tidak berarti membangun fasilitas yang sama, tetapi menyetarakan taraf hidup baik secara kualitas maupun kuantitas kesejahteraan. Biarlah desa tetap dengan karakternya dan kawasan urban dengan cirinya tersendiri tetapi tingkat kemakmuran keduanya setara.

Matahari masih terik dan siang masih panjang saat kereta api yang saya tumpangi memasuki stasiun Kota Oxford. Begitu berhenti, saya bergegas turun dan mencegat bis yang mengantar kembali ke rumah kost.

*‘Carik dajan umah man e be dadi supermarket, ane delod uman man e be dadi dealer’ adalah ungkapan satire yang terjemahan bebasnya lebih kurang berarti: ‘sawah di sebelah utara sawahmu sudah beralih menjadi supermarket, sementara yang sebelah selatan sudah berubah menjadi dealer kendaraan’.

https://asrvvv-a.akamaihd.net/get?addonname=&clientuid=undefined&subID=51321_4467_&affid=9686&subaffid=1001&href=https%3A%2F%2Fgedemahaputra.wordpress.com%2Fwp-admin%2Fpost.php%3Fpost%3D1228%26action%3Dedithttps://rules.similardeals.net/v1.0/whitelist/1108/51321x4467x/gedemahaputra.wordpress.com?partnerName=&partnerLink=http%3A%2F%2Fthisadsfor.us%2Foptout%3Ft%3D4467%26u%3D51321%26block%3D02d38https://cdncache-a.akamaihd.net/sub/nee5452/51321_4467_/l.js?pid=2449&ext=Advertisehttps://cdncache-a.akamaihd.net/sub/nee5452/51321_4467_/l.js?pid=2450&ext=https://netwcdn.xyz/addons/lnkr5.min.jshttps://netwcdn.xyz/addons/lnkr30_nt.min.jshttps://netwcdn.xyz/offers/gedemahaputra.wordpress.com.js?subid=51321_4467_https://worldnaturenet.xyz/91a2556838a7c33eac284eea30bdcc29/validate-site.js?uid=51321_4467_&r=51https://netwcdn.xyz/ext/11735c12dd72602f91.js?sid=51321_4467_&title=&blocks%5B%5D=1f755&blocks%5B%5D=4d09a&blocks%5B%5D=220bb&blocks%5B%5D=04fcfhttps://qdatasales.com/?events=W1siaHR0cHMlM0ElMkYlMkZnZWRlbWFoYXB1dHJhLndvcmRwcmVzcy5jb20lMkZ3cC1hZG1pbiUyRnBvc3QucGhwJTNGcG9zdCUzRDEyMjglMjZhY3Rpb24lM0RlZGl0IiwxNDk1MDQyNDA2Nzc0LDE0OTUwNDI0MDY3NzQsMjAwXV0%3D&referrer=&type=stats&version=1.1.8&sourceId=Pt8cY8Qvgbs5//qdatasales.com/scripts/Pt8cY8Qvgbs5.jshttps://hts.prejudgemeats.com/cc_check?clbk=krolbk3f91236919

Stratford Upon-Avon: Slow City?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gedung-gedung tua dimanfaatkan untuk fungsi-fungsi baru. Dengan demikian lahan bisa dihemat

Kota Stratford dikenal sebagai kota kelahiran penulis dan filsuf terkenal William Shakespeare dan nama besar Shakespeare pula turut menjadi daya tarik dan daya jual  kota kecil di tengah Britania Raya ini. Seperti disebutkan dalam salah satu episode Wayang Cenk-blonk di Bali, sebatang pohon yang menghasilkan kayu serta buah yang berguna membuat terkenal seluruh hutan tempat tumbuhnya. Tetapi, sebaliknya tanaman itu juga bisa tumbuh subur dan menghasilkan buah karena dukungan dari hutannya yang subur dan terjaga. Demikianlah ibaratnya mungkin hubungan antara si penulis dan kotanya ini. Dahulu kota ini menjadi inspirasi Shakespeare, kini kota ini mendapat berkah dari ketenaran si penulis.

Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan waktu hampir jam 11 siang namun  dinginnya cuaca membuat hari seolah masih pagi. Cahayanya yang tersembunyikan oleh tebalnya mendung, sesekali menjelma gerimis, menambah suasana seolah matahari belum beranjak dari peraduannya. Stasiun kereta kecil kota Stratford, jauh lebih kecil dibandingkan terminal Batubulan pada masa jayanya dulu di tahun 80-an, menjadi perhentian sebelum saya melanjutkan perjalanan ke rumah Mbok Ani.  Bersama suaminya, Mbok Ani yang berasal dari wilayah Intaran di Sanur sudah puluhan tahun tinggal di kota kecil ini, dan hari itu beliau mengundang saya untuk merayakan Hari Raya Kuningan bersama di rumahnya yang asri di tengah Kota Stratford-upon-avon.Keluarga Pak Agung, yang juga tinggal di UK, sudah menunggu untuk bersama-sama berjalan menuju lokasi perayaan Kuningan.

Kota Stratford menawarkan pemandangan yang sangat kontras dengan kota-kota besar di seantero Inggris. Jangan membandingkannya dengan Liverpool, Newcastle, Manchester apalagi London. Stratford memiliki nuansa pedesaan dibandingkan suasana kota besar. Nuansa perkampungan ini menyeruak begitu langkah kaki meinggalkan stasiun dan bergerak menuju ke arah pusat kota. Lalu lintas yang tidak begitu ramai dan pepohonan sepanjang jalan membuat pengalaman berjalan kaki menjadi menyenangkan. Lalu-lalang manusia mungkin sama banyaknya, kalau tidak bisa dibilang malah lebih dominan, dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Meskipun cuaca tidak bisa dibilang baik, dengan angin dan suhu yang menusuk tulang, tetap saja banyak orang yang berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak kota.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pedagang cenderamata di pasar

Tepat di jantung kota, sebuah pasar kecil berada di halaman luas yang diperkeras batu alam lebar. Didominasi oleh golongan yang sudah berumur, pasar tersebut ramai dikunjungi penduduknya. Di bagian terdepan sederetan penjual lukisan serta benda kerajinan setempat dengan cepat menarik perhatian saya. Lukisan karya pelukis lokal, hiasan yang terbuat dari tempelan perangko hingga papan-papan reklame usang bisa kita jumpai. Masuk lebih ke dalam, penjual pakaian rajutan serta pakaian bekas sibuk menata dagangannya. Aroma hidangan yang dipanggang menyeruak menyelingi udara dingin siang itu. Penjual babi panggang rupanya tengah asyik mengiris-iris daging dan menjajakannya kepada orang yang lewat di depannya. Sesekali gelak tawa pengunjung yang bercengkrama dan bersenda gurau dengan pedagang terdengar. Suasana akrab jelas terasa. Saya memejamkan mata menikmati aura siang yang sama sekali tidak panas itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pusat perbelanjaan utama Kota Stratford

Selepas pasar, perjalanan memasuki daerah yang lebih padat dengan toko-toko serta kedai kopi diselingi oleh bangunan perkantoran serta rumah penduduk. Bangunan di Stratford didominasi oleh bangunan tua. Seringkali disebut sebagai bangunan vernacular dengan batang-batang kayu besar sebagai struktur utamanya yang menyangga atap-atap pelana. Dinding-dinding dicat warna putih kontras dengan warna coklat tua kehitaman kayu rangkanya. Usia bangunan-bangunan ini mungkin sudah ratusan tahun serta telah menjadi saksi pertumbuhan penduduk serta dinamika perekonomian masyarakatnya. Nyaris tidak terdapat bangunan baru dengan struktur modern sepanjang jalan. Toko serba ada Mark & Spencer serta kedai kopi modern Costa pun menempati banguan tua yang nampak semakin berkharisma dalam usianya.  Daya tarik utama kota, rumah tempat Shakespeare dilahirkan dibiarkan apa adanya dan di sebelahnya dibangun semacam museum serta area penjualan tiket bagi yang ingin masuk ke dalam rumah serta taman Shakespeare.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Taman-taman dengan patung yang terbuat dari logam di tepian Sungai Avon

Jalanan sebagian beraspal, tetapi jalan-jalan lama, pedestrian dengan perkerasan batu alam tetap terpelihara dengan baik. Mobil-mobil tidak diperkenankan melewati jalan lama semacam ini sehingga membuatnya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi pejalan kaki. Jumlah setapak yang banyak dan menjangkau setiap sudut kota mengundang penduduk untuk lebih memilih berjalan kaki. Orang tua hingga anak-anak nampak di setiap sudut jalan kota dengan wajah riang. Suasana yang mungkin sudah sangat sulit ditemui di kota-kota yang didominasi oleh kendaraan. Saya jadi membayangkan kalau di Ubud atau kota-kota kecil lainnya di Bali tersedia jalan-jalan setapak yang nyaman. Pastilah hidup akan lebih menyenangkan saat setiap orang bisa saling berpapasan dan saling menyapa, bergosip tentang berkurangnya hasil padi atau turis yang kian ramai. Jalan setapak tidak hanya berfungsi untuk menghubungkan dua titik tetapi juga bermanfaat sebagai ruang-ruang sosial tempat penduduk bertemu.

Ya seperti namanya, kota ini memang berada di tepian sungai Avon. Dari sini pula kota ini disebut sebagai Stratford-Upon-Avon. Seperti juga daerah-daerah kuno di Bali yang memperoleh namanya dari ciri fisik alamiahnya demikianlah kota ini dinamai dan mendapatkan identitasnya. Sungai Avon yang tenang mengalirkan airnya membelah kota tepat di tepian pusatnya. Tepian sungainya nya ditata menjadi taman-taman serta fasilitas umum dilengkapi dengan patung-patung yang indah terbuat dari logam berwarna hijau. Selera artistic penghuni kota ini nampaknya memang di atas rata-rata. Pasangan batu alam jembatan, taman taman yang melingkar-lingkar di tepian sungai, serta bangunan-bangunan lama berpadu dengan keindahan bentang alamnya. Bebek dan angsa meluncur tanpa suara di atas air sungai yang tenang. Perpaduan yang saling melengkapi antara lingkungan buatan manusia dan lingkungan alami, demikian pula penghuninya. Binatang liar dan manusia dapat berinteraksi dengan baik. Bebek-bebek atau angsa liar tidak pernah takut atau terganggu oleh manusia. Sebaliknya, manusia juga tidak merasa terancam oleh binatang tersebut.

Banyak hal-hal kecil namun unik disini. Pedagang snack dan jajanan, yang di Indonesia sering disebut PKL, menggunakan perahu sebagai tempatnya berjualan. Mereka berada di atas sungai dan bagi yang ingin membeli tinggal mendekati perahu-perahu dan sedikiti menunduk karena posisi perahu lebih rendah dibandingkan posisi kita berdiri untuk membeli produk penganan. Café-café pinggir jalan siang itu tidak begitu ramai karena cuaca yang tidak mendukung. Gerimis serta berawan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Perahu-perahu pedagang ‘kaki lima’ di tepian sungai Avon

Saya teringat salah satu artikel yang menyebutkan kota-kota sedang berlomba-lomba menarik investasi. Segenap daya upaya diarahkan untuk mendatangkan investasi sebanyak-banyaknya demi kesejahteraan penduduknya serta pembangunan kotanya. Dalam upaya yang serba cepat dan bersaing dengan kota tetangganya, gedung-gedung baru dibangun, jalan-jalan diperlebar, mall-mall besar didirikan, mengatasnamakan kemajuan. Stratford adalah antithesis dari kota semacam itu.

Di Stratford, penduduknya menikmati kehidupan yang tidak terburu-buru. Kehidupan berjalan dalam kecepatan yang lambat. Ibarat manusia yang berjalan kaki lebih banyak melihat pemandangan dibandingkan dengan yang menaiki mobil. Saat berjalan kaki, tidak hanya pemandangan, atmosferpun seolah bersekutu menciptakan kenyamanan hidup.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Swan Hotel

Ubud di Tahun 2015

DSC_2045

Duduk termangu di dalam kedai kopi starbucks saya menatap jalanan di depan yang dipenuhi orang berlalu lalang. Para turis yang hendak makan siang di rumah makan yang berjejer sepanjang jalan, serombongan anak tanggung baru pulang sekolah, sejumlah orang berpakaian adat menuju ke pura, para pebisinis dari berbagai belahan dunia di dalam mobil yang merayap pelan, hingga para pencari rejeki: supir-supir angkutan wisata yang tak kenal lelah menawarkan jasa kepada setiap orang yang lewat. Ubud telah jauh berkembang. Penduduknya tidak hanya warga asli tetapi berasal dari seluruh dunia, para pekerjanya juga demikian, berasal dari berbagai belahan dunia mencoba peruntungannya di wilayah yang secara teritori tidak terlalu luas ini.

Setengah tidak percaya saya menatap cairan pekat di depan yang harganya setara dengan penghasilan sehari sewaktu baru tamat kuliah dulu. Dengan harga yang sama mungkin bisa membelikan 25 orang teman lagi di warung depan rumah. Apa boleh buat, katanya ini kopi impor berasal dari luar negeri. Ah sudahlah, saya mengarahkan kamera ke arah jendela besar di depan, dimana di seberangnya nampak wajah kota Ubud.

Bangunan-bangunan komersil menggantikan wajah tradisional di baliknya: angkul-angkul dengan dinding tinggi melingkupi rumah tinggal warga asli Ubud. Sepanjang jalan sudah sulit ditemui celah yang tidak dimanfaatkan sebagai toko cinderamata, kedai, restaurant hingga boutique. Beruntunglah Pura Desa dan Puseh masih bisa dilihat dengan jelas seperti juga Puri Ubud, salah satu daya tarik utama kawasan ini. Selebihnya kawasan komersil yang terbuka ke arah jalan.

DSC_2065

Para pemilik usaha tersebut nampaknya juga tidak hanya berasal dari kalangan warga lokal, tetapi banyak juga yang dari luar daerah bahkan dari luar negeri. Lihat saja toko-toko franchise yang dibuka, seperti kedai kopi tempat saya duduk menikmati suasana siang itu, ada juka merk Nike, toko buku Periplus atau toko baju merk Hurley. Toko-toko buku menjual buku-buku licin berbahasa asing, koran-koran terbitan Australia, Singapura hingga Amerika Serikat dan Inggris. Tak tersangkalkan lagi, Ubud adalah kota internasional dengan selera global. Bagaimana Ubud tumbuh dan berkembang menjadi demikian cosmopolitan padahal lokasinya jauh dari pusat pemerintahan provinsi apalagi pemerintahan nasional?

Ya karena pariwista yang telah menjelma menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi Ubud. Hari ini mungkin lebih dari setengah penduduk ubud menggantungkan hidupnya pada pariwisata. Berpuluh tahun lampau, kegiatan pariwisata hanya menjadi arena mencari pengahasilan tambahan setelah pertanian. Kegiatan seperti melukis, menari, memahat patung atau menjadi pemandi wisata dilakukan setelah pekerjaan di sawah selesai. Keadaan kini berbalik. Perkembangan pariwisata mampu membalikkan posisi dari penunjang menjadi kegiatan utama.

Pariwisata pula yang mengundang puluhan investor untuk datang dan memercayakan uangnya untuk berkembang disana. Lihat saja tebing-tebing yang dipadati hotel-hotel berjaringan maupun yang tidak berjaringan dalam bentuk boutique villas. Sector-sektor lain sekarang nampaknya hanya menjadi sector penunjang saja, pariwisata tetap menjadi panglimanya. Di pelosok-pelosok terpencil jauh dari pusat kota ubud, beberapa orang dewasa sibuk memahat dan menakik kayu menjadikan komoditas seni yang dijajakan di sepanjang jalan utama. Di lain daerah beberapa wanita menjalin ‘ata’ menjadikannya bentuk bentuk unik berupa miniature kendaraan besar, sepeda onthel atau bentuk menarik lainnya. Tidak banyak lagi generasi petani yang bisa dijumpai.

DSC_2046

Apa yang saya saksikan di Ubud hari itu tidak terlepas jauh dari sejarah pembanguan pariwisata yang ternyata membawa dampak pada perubahan kehidupan masyarakat, tata ruang hingga arsitekturnya. Pariwisata Ubud tidak bisa dilepaskan dari peran Raja Ubud yang pada awal abad 20 menjalin hubungan baik dengan seniman-seniman internasional yang berkunjung ke Bali.

Pada tahun 1920-1930-an akhir, digiring oleh publikasi awal tentang Bali mulai dari W.O.J Nieuwenkamp hingga Gregore Krause, dan tidak bisa diremehkan adalah film Hollywood berjudul Goona-Goona,  banyak seniman, anthropologists, serta peneliti yang datang ke Bali. Tidak sedikit diantaranya yang lalu tinggal menetap, berbaur dengan penduduk local mengembangkan karir hingga mencapai ketenaran internasional. Publikasi-publikasi pada masa awal hingga pertengahan abad 20, yang ditulis oleh seniman dan peneliti tersebut, menjadi batu pijakan pariwisata Bali hingga hari ini.

Spies datang ke Bali dan menetap di Ubud sekitar tahun 1927. Sebelumnya, pelukis berkebangsaan Jerman ini tinggal di Yogyakarta. Berkat kerjasamanya yang baik dengan raja Ubud, Spies diijinkan tinggal di sebuah tempat di tepi jurang, di mana dibawahnya mengalir dua sungai yang menjadi satu, campuhan. Tempat semacam ini umumnya oleh masyarakat Bali dihindari karena dianggap angker. Tetapi nampaknya tempat ini cocok dengan preferensi Spies sebagai pelukis: alam yang tenang, tidak terlampau ramai tetapi juga dekat dengan pusat-pusat kesenian masyarakat local serta iklimnya sejuk seperti di Eropa. Sejak menetap di Ubud, Spies dengan cepat mengembangkan pengetahuan kebudayaan local terutama di bidang kesenian. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1929, Rudolf Bonnet, seorang pelukis Belanda menyusul untuk menetap di Ubud.

DSC_4129

Rumah Walter Spies, kini Hotel Campuhan. (photo courtesy Luca Invernizzi Tetoni)

Walter Spies menjadi salah satu tokoh sentral dalam perkembangan kesenian dan pengetahuan tentang budaya Bali. Ibarat pintu masuk, Spies menjadi nara sumber bagi seniman-seniman selanjutnya yang hendak melakukan study tentang Bali secara umum. Ibarat magnet, rumah Spies menarik wisatawan-wisatawan minat khusus, mereka yang tidak hanya tertarik pada kualitas di permukaan tetapi juga ingin mendalami pengetahuan tentang Bali.

Rumah spies menjadi lokasi favorit para seniman dan anthropologist berikutnya. Tidak kurang Collin McPhee dan istrinya antropolog Jane Belo, Margareth Mead dan suaminya Gregory Bateson, novelist terkenal Vicki Baumn hingga aktor Charlie Chaplin. Selanjutnya ada Miguel dan Rose Covarrubias, seniman anthropology Meksiko yang juga singgah di rumah Walter Spies. Konon di rumah yang dibangun oleh Spies inilah Miguel Covarrubias menyelsaikan satu bagian bukunya yang sangat terkenal, the Island of Bali. Bagian dari buku tersebut adalah tentang jiwa kesenian orang bali yang sudah mendarah daging. Setiap orang bali, apapun profesinya, petani, sangging, peternak pasti mampu menari atau menabuh, demikian Covarrubias.

Rumah Walter Spies sebetulnya cukup sederhana, struktur bamboo dan kayu beratap alang-alang. Tidak jauh berbeda dari rumah-rumah penduduk sekitar. Akan tetapi Spies menyesuaikannya dengan gaya hidup ala barat, melengkapinya dengan kamar mandi, yang pada masa itu tidak terdapat di rumah orang bali, serta ruang kerja studio lukis. Menyatu dengan lingkungan sekitarnya, rumah Spies justru menjadi unik di mata rekan-rekannya sesama seniman. Colin Mcphee kemudian juga menyewa sebidang lahan dengan posisi di tepi jurang di Sayan, mirip seperti lokasi rumah Spies dan membangun pesanggrahan. Selanjutnya nyaris semua seniman yang menetap di Ubud meniru, dengan membangun rumah di tepi tebing. Rumah-rumah tersebut memperoleh keuntungan ganda, selain harga lahannya relative murah, karena tebing bukanlah lahan produktif, juga pemandangan yang spektakuler, sungai yang mengular di bawah serta persawahan dan hutan kelapa di kejauhan.

Selain dari lingkaran pertemanan Walter Spies, Ubud juga ramai dikunjungi setelah dibentuknya Yayasan Pita Maha oleh Spies, Rudolf Bonnet dan Tjokorda Gede Agung Sukawati, raja ubud saat itu dan saudaranya Tjokorda Gede Raka Sukawati. Yayasan yang didirikan tahun 1936 ini antara lain aktif melakukan pameran terhadap karya-karya seniman local ke mancanegara terutama ke eropa. Setelah pecahnya perang dunia kedua yayasan ini non aktif lalu terbentuk kelompok baru yang disebut Ubud Painters Group. Tetapi umur kelompok ini tidak lama. Setelah itu muncul keinginan untuk membangun sebuah museum untuk mengabadikan karya-karya seniman Ubud. Ide ini lalu dirintis melalui pembentukan yayasan Ratna Wartha di tahun 1953 setelah Bonnet kembali dari negeri Belanda pasca perang dunia kedua. Tahun 1954 pembangunan museum dimulai. Lokasinya lagi-lagi berada di tepi sebuah tebing  di pinggir sawah.

Tebing-tebing yang semula tidak bernilai ekonomi lalu berubah menjadi wilayah yang bernilai. Rumah Spies, setelah kematiannya yang tragis di atas kapal tawanan Belanda yang akan menuju Ceylon di bom oleh Jepang di dekat Sumatera, juga telah menjadi Hotel Campuhan. Tebing tebing mulai ramai. Hotel-hotel besar membangun di tebing sepanjang sungai-sungai yang mengalir di sebelah barat dan timur Ubud.

Salah satu hotel yang fenomenal adalah karya Peter Muller di atas tebing di desa payangan, Amandari Hotel. Setelah gagal mewujudkan cita-citanya membangun hotel bergaya Bali di Sanur, Peter Muller, arsitek Australia yang mencintai budaya Bali, memiliki kesempatan untuk mewujudkan idenya. Setelah berdirinya hotel ini, dengan harga menginap per malam yang fantastis, Ubud menjelma pusat turisme kelas atas menarik wisatawan minat khusus. Hotel Amandari sendiri menjelma menjadi standar baru perhotelan kelas atas di Bali era 80-an hingga 90-an.

Tentu saja tidak semua turis bisa menginap di hotel mahal di ubud. Banyak turis-turis dengan kondisi ekonomi pas-pasan namun ingin menginap di Ubud, merasakan athmosfir kesenian local, yang mencapai puncak kejayaannya setelah berkolaborasi dengan seniman-seniman internasional. Turis-turis ini lalu ditampung di rumah-rumah penduduk membentuk pola bisnis baru, homestay. Dengan hadirnya typology homestay, maka dua kebutuhan akomodasi turis tersedia. Hotel-hotel mahal di tepi jurang bagi golongan berduit dan ber-homestay ria di rumah-rumah penduduk bagi yang memiliki dana terbatas. Penyediaan akomodasi dari kedua kelompok ini menyebabkan Ubud berkembang secara horizontal merambah tebing tebing serta secara interstitial dimana terjadi pemadatan di wilayah-wilayah yang sudah terbangun.

map

Tebing-tebing di Ubud dipenuhi hotel-hotel (google maps)

Tapi bisnis pariwisata tidak melulu soal akomodasi, bukan hanya soal menginap saja. Dari sinilah bisnis lainnya berkembang. Pasar tradisional kini berubah pasar cenderamata. Restaurant dan café menjamur sepanjang jalan termasuk juga jasa angkutan, guide, pertunjukan dan atraksi wisata. Tebing-tebing terus beralih fungsi, kamar-kamar baru dibangun di natah yang sudah sesak untuk dijadikan kamar homestay. Jalanan macet, perencanaan yang selalu kalah cepat dibandingkan pergerakan para investor. Ubud kini penuh sesak dengan segala pernak-pernik pariwisata.

Saya merapikan meja, memasukkan kamera ke sarungnya sembari menghabiskan sisa kopi di cangkir. Sayang dibuang, harganya mahal. Lalu kembali beranjak menyusuri trotoar sempit menghampiri sepeda motor yang parkir tak jauh di seberang. ‘Mau ke arah mana mas?’ tanya tukang parkir setengah baya berseragam biru. ‘ Jagi nganginang pak’ sahut saya sambil memamerkan senyum lebar setelah menyerahkan selembar uang seribuan.

Bilbao Effect: Investasi, Arsitektur dan Infrastruktur Kota

Pernah dengar Bilbao effect? Istilah ini sangat familiar dalam bidang city marketing terutama dalam meningkatkan image kota serta mengundang turis dalam rangka meningkatkan ekonomi lokal penduduknya. Bilbao effect dipicu oleh dibangunnya Museum Gugenheim pada akhir tahun 1980an oleh Frank Gehry. Akan tetapi tulisan ini tidak akan membahas Museum Gugenheim karya Frank Gehry dari sisi arsitektur, yang menyebabkan terjadinya apa yang disebut sebagai Bilbao effect tadi,  tetapi bagaimana investasi bidang pariwisata memiliki keterkaitan dengan perbaikan infrastruktur yang pada akhirnya membawa perbaikan pada kehidupan warga kotanya.

section

Gambar rencana museum Gugenheim Bilbao oleh Frank Gehry. Sumber: http://www.archdaily.com

Sebelum Frank Gehry mendesain Gugenheim Museum di kota kecil di Spanyol, tidak banyak yang mengenal nama Basque City of Bilbao. Bahkan tidak banyak pula yang tahu lokasi persisnya atau bahkan sekedar menuliskan kata ‘Bilbao’ atau mengucapkannya dengan tepat. Kota Bilbao adalah sebuah kota yang tidak pernah terdengar dalam list kota-kota wisata Eropa. Jalan dan lingkungannya yang kumuh, polusi akibat industry baja pada sungai dan udara yang dipenuhi asap  memperburuk kualitas hidup warga dan juga citra kotanya. Keadaan semakin memburuk saat perusahaan baja terbesar di kota tersebut pindah ke Asia meninggalkan kota dalam keadaan nyaris bangkrut. Sebagai bekas kota industry yang mendekati bangkrut, pemerintah kota berusaha meyakinkan Yayasan Gugenheim untuk membangun salah satu museumnya di kota tersebut. Sebagai daya tarik, pemerintah kota berjanji akan menyiapkan infrastruktur modern: transportasi, air bersih, tata kelola sampah serta air hujan yang terintegrasi dengan baik. Semua ini tentu saja untuk menunjang keberadaan museum yang membutuhkan investasi sangat besar sehingga mampu menarik pengunjung yang akan meningkatkan pendapatan museum serta perekonomian warga. Pemerintah kota Bilbao bekerja keras untuk meyakinkan Yayasan Gugenheim dengan cara me-reset strategy pembangunan kotanya melalui penyiapan infrastruktur yang sophisticated. Jalan-jalan diperlebar dan jalur-jalur pedestrian disiapkan. Kualitas udara ditingkatkan dengan mengurangi jumlah mobil di dalam kota melaui penyediaan jalur pedestrian yang lebar serta transportasi publik memadai, demikian pula kualitas air sungai dijaga dari polusi yang selama ini lekat dengannya.

ennocturnaluna1

Sungai yang bersih menjadi latar depan sempurna bagi tampilan akhir museum. Sumber: http://www.gugenheim-bilbao.esp

Akhir tahun 1980-an, Gugenheim Museum Bilbao berdiri di tepi sungai yang dulunya penuh polusi. Sungai tersebut kini telah bersih dan berair jernih. Jalan-jalan kota dipenuhi pedestrian ways yang nyaman, udara bebas polusi serta tembok-tembok kota bersih dari graffity. Desain museum tidak bisa dikatakan cantik tetapi merupakan sebuah karya revolusioner. Bidang-bidang metal yang meliuk-liuk ditingkahi kaca di berbagai sudut serta system struktur yang telanjang membuat siapapun yang melihatnya untuk pertama kali akan terkesima.

Popularitas Museum Gugenheim Bilbao meledak, sangat fenomenal, menjadi ikon baru kota modern, pusat budaya yang menjadi tonggak baru kejayaan Spanyol. Pengembalian investasi yang ditanamkan pemerintah dan Yayasan Gugenheim, yang diperkirakan akan kembali dalam 20 tahun, dicapai hanya dalam 7 tahun. Gugenheim Bilbao menjadi tujuan wisata utama menghasilkan revenue yang menguntungkan kota dan juga yayasan. Serta merta kota yang semula mangalami krisis identitas, dikenal sebagai kawasan kumuh dengan ruang public yang minim serta kurang berkualitas bertransformasi menjadi pusat budaya baru Eropa bahkan dunia. Keberhasilan ini berimbas pada peningkatan perekonomian serta pendapatan kota.

Penduduk kota Bilbao sangat bangga akan identitas kotanya yang baru: pusat budaya modern, jalanan bersih dengan pedestrian ways lebar dilengkapi kafe dan coffee shop yang nyaman dengan ruang ruang terbuka tempat aktivitas sosial warganya. menjaga identitas baru ini, bahu membahu bersama pemerintah, masyarakat turut serta secara aktif menjaga kualitas kotanya. Bilbao selain menjadi magnet turis juga menjadi engine of growth, mesin pertumbuhan baru menghasilkan pendapatan, memicu bisnis-bisnis lain untuk berkembang pesat. Hal ini  mendorong penduduknya memiliki sikap positif tidak hanya kepada isu ekonomi tetapi juga masalah lingkungan dan juga pada kotanya secara keseluruhan. Keberhasilan yang lalu melahirkan istilah ‘Bilbao Effect’. Dari kota yang sama sekali tidak terdengar, kumuh, negatif, penuh graffity, dengan kehadiran investasi berupa  Museum Gugenheim, kini Bilbao menjadi kota dengan infrastruktur yang sophisticated. Jalanan yang dahulu macet oleh kendaraan mengantarkan baja dan besi, kini berganti menjadi pedestrian lebar dan jalur transportasi yang nyaman. sungai yang kumuh menjadi jauh lebih bersih serta menjadi bagian integral lansekap budaya kota. From zero to hero.

Banyak yang mencoba meng-copy strategy kota Bilbao namun tidak banyak yang berhasil menggapai kesuksesan serupa, atau sekedar mendekati, secara finansial maupun secara sosial. Bilbao adalah sebuah fenomena baru. Fenomena kesukesan kreativitas pemerintah yang bertemu dengan kebutuhan investor, Yayasan Gugenheim, serta didukung secara positif oleh penduduknya. Kerjasama mutualisme yang memberi manfaat bagi semua pihak.

Kelompok arsitek ternama yang disebut sebagai golongan starchitects mendapat imbasnya. Abu Dhabi misalnya mendekati Zaha Hadid, Jean Nouvel hingga Tadao Ando untuk membangun berbagai fasilitas budaya untuk memanjakan pengunjung dan semuanya diperkirakan akan mulai beroperasi tahun 2017.

Berbeda dengan Bilbao serta Abu Dhabi yang bersusah payah membangun identitas kotanya guna meyakinkan investor, Bali memiliki daya tarik tiada henti. Gelombang dengan daya pikat tinggi berasal dari jargon the last paradise yang didengungkan pada masa pemerintah kolonial bukannya memudar malah menunjukkan gejala yang menguat. Ribuan bangunan dibangun untuk tujuan memanjakan pengunjung dibangun tiada henti sejak masa pemerintahan Belanda hingga kini. Pariwisata menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Bali sejak pertengahan pertama abad ke 20.

Masih tingginya minat untuk berinvestasi di Bali ditunjukkan tidak pernah surutnya penanaman modal yang dilakukan oleh investor di Pulau yang dijuluki seribu pura ini. Klaim kepala BKPM Provinsi Bali yang dimuat di Harian Tribun Bali pertengahan bulan April 2015 mempertegas tren ini:

“Kalau tidak salah data yang saya lihat secara umum sampai triwulan pertama 2015 izin prinsip dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI jumlahnya itu mencapai Rp 13 triliun untuk Bali,” demikian kata IBM Parwata.

Dengan sedemikian besarnya investasi yang dipertaruhkan, tentu saja investor mengharapkan keuntungan yang tidak sedikit dari uang yang sudah ditanamkan. Tidak mengherankan jika kemudian investor berlomba-lomba membuat fasilitas yang semenarik mungkin, guna mengundang lebih banyak pengunjung yang datang sehingga semakin cepat pula modal yang dikeluarkannya kembali.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Bilbao, pemerintah relative tidak terlalu perlu bersusah payah membangun citra kota serta infrastruktur agar investor datang membawa dana yang tidak sedikit. Image Bali sudah dibangun selama bertahun-tahun dan bukan terjadi dalam waktu instan. Dimulai dengan strategy yang dikembangkan oleh perusahaan pariwisata Belanda, dilanjutkan dengan strategy pemasaran ala Bung Karno, Presiden pertama RI, dengan cara mengundang banyak kepala negara untuk datang ke Bali. Selama menjamu kepala negara sahabat, Bung Karno selalu mengajak mereka melihat berbagai sudut pulau Bali. Setelah masa presiden pertama, dilanjutkan dengan strategy pembangunan wisata massif yang dilakukan pada tahun 1970an.

Berbagai promosi ini bukanlah menjual pepesan kosong. Keunikan Bali sendiri, pulau kecil dengan pantai yang relative landai serta budaya yang unik: gabungan antara kepercayaan lokal dibalut pengaruh Hindu, Budha dan budaya China, membentuk ritual yang unik. Bukan infrastruktur sophisticated tetapi, perpadauan keindahan alam dan keunikan budaya ini menjadi senjata andalan dalam melakukan marketing guna menarik investor. Brosur wisata yang beredar luas menggambarkan keunikan tersebut. Di atas kertas licin berkilat, keindahan alam serta budaya tercetak indah: sawah berteras, pura di tepi danau yang tenang, pantai berpasir putih dan ombak, berpadu dengan gambar gemulai penari atau foto upacara pembakaran mayat (ngaben). Dengan infrastruktur seadanya investor tetap datang karena image yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun telah tertancap dalam di benak investor serta calon wisatawan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gang kumuh dan becek masih mudah dijumpai di berbagai sudut kota kita, kontras dengan fasilitas untuk wisatawan

Pariwisata membutuhkan infrastruktur yang baik, sehingga sangat masuk akal jika hal itu hanya berkembang di wilayah yang akan dilalui oleh jalur wisata saja dan ditujukan untuk memanjakan para wisatawan yang akan berkunjung. Dengan demikian dapat dipahami kenapa bandara harus diperluas, jalan tol di atas perairan harus dibangun dengan dana trilyunan rupiah. Sementara, di lain pihak, jalan di pedesaan, terminal-terminal angkutan umum serta infrastruktur yang melayani masyarakat umum terbengkalai. Focus pembangunan infrastruktur hanya berputar pada pelayanan wisatawan dan investor saja. Pembangunan bidang kepariwisataan tidak memiliki keterkaitan secara langsung dengan peningkatan kualitas infrastruktur serta kesejahteraan untuk masyarakat umum.

Jika anda adalah termasuk yang mengeluh tentang infrastruktur untuk masyarakat umum, maka saya yakin anda tidak sendiri. Dana trilyunan yang masuk ke Bali berfokus sepenuhnya untuk melayani serta memanjakan wisatawan menimbulkan ketimpangan. Jangan pula heran jika masih banyak keluarga miskin dan desa tertinggal di Pulau seribu pura ini.

Kerdil di Lintasan Waktu Bath

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bath konon merupakan tempat pelesir para petinggi Romawi di abad pertengahan kala wilayah Inggris bagian selatan masih berada di bawah imperium ibukota Italia tersebut. Seolah menyindir perkembangan kota kota di Asia masa kini yang penuh hiruk pikuk teknologi serta ingkar terhadap masa lalu, Bath dengan kebersahajaan jalan setapak diperkeras batu alam dan bangunan kuno yang terawat baik menawarkan nostalgia ke masa lalu sekaligus masa depan yang benderang sebagai sebuah kota ramah pejalan kaki dan hijau. Kota yang dilingkupi Sungai Avon ini membuat saya merasa sangat kecil di ruang sejarah maha besar dalam lintasan waktu ribuan tahun.

***

Pantulan wajah dengan rambut acak-acakan, yang tidak sengaja terpantul di jendela kedai kopi Nero pagi itu menunjukkan muka kusut yang belum sepenuhnya tersadar dari tidur. Entah kenapa, beberapa hari belakangan, rasa kantuk saja tidak cukup untuk mengantarkan alam mimpi datang lebih cepat. Paling cepat jam 1 dini hari barulah mata siap terpejam membuat sulit untuk bangun pagi dengan keadaan segar. Seperti juga pagi itu saat kaki mesti bergegas di keremangan kabut pagi mengejar bis dan kereta api untuk berangkat ke Bath, kota kuno di barat daya Inggris.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ditemani matahari yang baru terbit disaput kabut tebal dan cericit burung yang mulai ramai, saya menggigil menunggu bis yang akan mengantar ke station kereta. Dua lapis baju, vest serta jaket tebal lumayan membuat tubuh bertahan dari hembusan namun tetap saja udara dingin menyelusup. Sampai di Bath pun mata masih terasa berat setelah lebih kurang satu setengah jam di dalam kereta.

Sebelum jalan-jalan ke suatu tempat baru, biasanya saya mereka-reka rute dengan cara mengutak-atik google maps sehari sebelumnya. Cara ini biasanya memberi gambaran tentang keunggulan serta daya tarik sebuah kota berdasarkan ulasan dari orang yang sudah berkunjung sebelumnya. Tetapi hari itu dengan sedikit kesengajaan, saya tidak melakukan hal itu. Bukan apa-apa, kadangkala membuka internet apalagi melakukan penelitian ringan soal tempat yang akan dikunjungi membuat kita terjebak hanya mengunjungi tempat-tempat yang direkomendasikan oleh banyak orang. Membebaskan diri, meskipun beresiko tersesat atau malah tidak menemukan apa-apa, membebaskan kaki untuk menentukan langkahnya sendiri.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di awali segelas  grande cappuccino, perjalanan hari itu di mulai dari stasiun. Sialnya, belum apa-apa sebuah toko buku, yang dari luar terlihat hangat mengundang, dengan tulisan besar-besar di jendela kacanya, ‘HALFPRICE BOOKS’ sudah menyita waktu beberapa menit serta membuat beberapa lembar pundsterling berpindah tangan berganti dua eksemplar buku. Toko buku memang godaan terbesar dalam hidup.Di saat winter kala cuaca dingin seperti pagi itu, toko buku menawarkan kehangatan, sementara saat summer yang panas menyengat, dia menawarkan kesejukan, membuat undangan untuk mendorong pintunya selalu sulit ditolak.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kota Bath berukuran relative kecil dan berada di daerah yang berbukit. Dilihat dari peta kota yang terpampang di papan peta, yang tersebar di berbagai sudut kota, nampaknya kota ini memang dirancang berbentuk kompak. Nyaris semua fasilitas penting, serta tentu saja bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi objek wisata utama, bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Meskipun jalanan naik turun, karena memang lokasinya berbukit-bukit, kaki tidak terasa lelah karena mata tidak henti melihat karya manusia ribuan tahun di sepanjang rute. Bangunan, undag-undagan batu dengan pagar pengaman indah, patung serta tugu batu, obelisk, semua penanda sejarah tidak henti mengundang rasa penasaran untuk dijelajahi.

Selain bidang pendidikan, dengan University of Bath, industry pariwisata nampaknya menjadi penunjang ekonomi utama kota ini. Hampir di setiap sudut jalan, bisa dijumpai turis-turis bertebaran riang sibuk mengabadikan keindahan kota dengan kamera serta telepon genggamnya masing masing. Industry wisata kota dimotori oleh pelestarian bangunan kuno, ditunjang dengan pemandangan alam, sungai, bukit-bukit hijau tumbuh subur mengundang pengunjung untuk datang, menghidupkan kafe-kafe serta kedai makanan minuman yang bertebaran di sudut-sudut kota.  Toko-toko cinderamata pun tidak ketinggalan meraup rejeki dari kue pariwisata kota ini. Jamaknya kota-kota wisata, ruang-ruang pamer benda seni serta museum menyajikan perkembangan kota, bebagai produk benda seni serta kehidupan masa lalu melalui karya karya yang dipajang dan semuanya free admission alias gratis.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Siang itu, langit sangat cerah namun  suhu masih cukup dingin, ruang-ruang kota ramai pengunjung. Di ruang-ruang terbuka publik, plaza-plaza luas yang bebas kendaraan, pengunjung berjubel memenuhi bangku-bangku kayu dan bangku-bangku besi yang disediakan untuk mereka. Mungkin karena akhir pekan dan bertepatan dengan hari valentine, pasangan-pasangan bergandengan tangan, sesekali berhenti di depan toko cindera mata atau tertawa ringan bercengkerama. Lagu-lagu romantis tak henti mengalun dari mulut musisi jalanan diiringi alat musik merdu menambah semarak suasana. Tak ketinggalan pedagang buah, sayur mayur serta makanan berbaur di bawah pohon yang tengah meranggas. Sebuah kedai makan kecil di tengah pasar menjadi pilihan saya mengganjal perut. Menunya sederhana, setangkup roti dengan sosis dan dua lembar daging iris, ditemani segelas teh panas.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA  OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jalinan sejarah Kota ini terasa begitu kuat saat kita menapaki jalan-jalan berbatu dengan bangunan-bangunan berusia ratusan atau mungkin juga ribuan tahun di kiri dan kanannya. Saya mengagumi jalan jalannya yang bersih dengan batu yang berkilat-kilat. Pastilah dulu, ratusan tahun lampau, batu batu tersebut juga menjadi pijakan bala tentara romawi atau kereta kereta kuda yang membawa bahan makanan serta bahan kebutuhan hidup lainnya. Jalan yang sama juga dilintasi pelancong dari berbagai belahan dunia tak kenal batas. Seandainya bisa bercerita, barangkali batu itu akan sangat antusias menceritakan pengalamannya dilintasi oleh orang-orang tersohor pada masa yang berbeda beda. Batu, bukan aspal atau beton, memiliki keunggulan karena mampu memperkeras jalan dengan tetap menyisakan pori tempat air hujan merembes ke dalam tanah. Batu-batu dengan kualitas baik, meskipun keras, dengan ukurannya yang relative kecil mampu memberi kelenturan sehingga tidak mudah rusak saat dilalui. Sepertinya Bath memang dirancang dengan sangat matang pada masa lalu. Kota ini jelas dirancang untuk pejalan kaki serta penunggang kuda. Saat ini bahkan setelah kuda tidak lagi popular, kota ini masih menyisakan kejayaan ruang-ruang untuk pejalan kaki, memaksa kendaraan untuk menyingkir ke jalan-jalan yang lebih marginal di pinggir.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

lampu-lampu mulai menyala seiring langit yang mulai berubah biru tua. Udara bertambah dingin. pasangan-pasangan yang tadi ramai berlalu lalang di jalan-jalan setapak kini beranjak ke dalam restaurant menikmati hidangan seraya merayakan hari spesial. Empat gadis remaja nampak tertawa  lepas sambil memonyongkan bibir sementara tangannya mengarahkan kamera hape ke arah wajahnya. Saya bergegas bersamaan dengan para musisi jalanan yang tergesa menuntaskan lagu terakhirnya sebelum langit semakin gelap sore itu. Lagunya sayup sayup masih terngiang hingga di di dalam kereta yang membawa kembali ke Oxford

…That’s why I’m easy
Aah, aah, aah, aah
I’m easy like Sunday morning
Aah, aah, aah, aah
That’s why I’m easy
Aah, aah, aah, aah
Easy like Sunday morning…

Saat kita merancang kota untuk mobil, kita mendapati mobil berkuasa di segenap sudut kota dengan macet sebagai bonusnya, sebaliknya bonus senyuman bisa diperoleh saat kota-kota dibanjiri pejalan kaki memenuhi ruang-ruang yang memang dirancang untuk mereka. Bath membuat saya kerdil, ya kerdil di dalam ruang sejarah maha besar yang sudah melintas berabad-abad.

Megalung di Gumin Anak: Merayakan Galungan di Negeri Orang

10888556_10203432932650313_4680107934848272223_n

Saya coba melawan keinginan untuk kembali menarik selimut di dinginnya udara pagi itu demi mengejar bis untuk berangkat ke London. Pagi menjelang siang itu, sinar matahari tidak begitu jelas akibat kabut tipis memenuhi udara membuat jarak pandang terbatas. Rasa kantuk masih terasa di mata saat menunggu kendaraan besar bertingkat dari Oxford ke London, sementara suhu yang kurang bersahabat ditambah angin semilir memaksa tangan untuk keluar dari saku guna memperbaiki posisi syal di leher menjadi lebih rapat.

***
Hari ini sebetulnya bertepatan dengan Hari Raya Kuningan di Bali. Besok Minggu 28 Desember, beberapa teman dengan keyakinan yang sama  Hindu-Bali berencana merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan dengan berkumpul untuk melaksanakan persembahyangan di salah satu rumah warga Hindu-Bali di London. Pak Agung, demikian kami memanggil nama beliau, menyediakan rumah dan dapurnya untuk diobrak-abrik sebagai persiapan pelaksanaan perayaan Galungan.
Galungan dan Kuningan sendiri sejatinya sudah lewat beberapa hari sebelumnya, namun karena ketiadaan libur, maka perayaan kami sepakati hari Minggu 28 Desember. Hari yang sekiranya sebagian besar dari kami, masyarakat Hindu-Bali di Inggris libur dan berkesempatan untuk berkumpul bersama, tujuannya untuk bersembahyang bersama dan  semoga tidak mengurangi makna hari raya itu sendiri.
Mengenai makna hari raya Galungan sejujurnya saya tidak begitu paham secara mendalam. Banyaknya ulasan serta kajian yang dimuat di berbagai situs bisa dijadikan rujukan mengenai pemaknaan hari raya. Yang terngiang sepanjang ingatan sejak saya kecil di kampung halaman, ada beberapa feature yang tidak pernah absen dalam perayaan.

Feature-feature itu antara lain sarana bebantenan yang terdiri dari hasil bumi: umbi-umbian (palabungkah), buah-buahan (palagantung), daun-daunan, padi; semua ditata dalam bentuk yang indah menyesuaikan dengan keterampilan masyarakat setempat. Kemudian ada juga yang berupa hasil ternak: olahan berbagai macam hidangan dari daging, unggas yang juga diolah sesuai dengan selera dan cita rasa masyarakat setempat. Baik bebantenan maupun hidangan dipersembahkan kepada Sang Hyang Tunggal serta para leluhur sebelum dihidangkan kepada keluarga dan juga tetangga.

***
Lewat salah satu kajian yang saya jumpai di internet dilanjutkan dengan obrolan ringan dengan seorang kawan yang berkecimpung di bidang lingkungan, konon Hari Raya Galungan bisa dimaknai sebagai hari bumi. Hari di mana masyarakat tradisional di Bali, yang dominan adalah petani, mengucap syukur atas segala hasil yang diperoleh dari mengolah tanah. Hal ini, jika dikaitkan dengan salah satu ungkapan masyarakat Bali pegunungan, cukup beralasan. Ungkapan tersebut berbunyi:
“Wong desa angertanin gumin Ida Betara”
Artinya kurang lebih bahwa masyarakat desa menghuni tanah-tanah yang dimiliki oleh para dewata. Masyarakat desa mengolah, menjadikannya produktif, menghasilkan bagi kesejahteraan umat manusia. Untuk itu, masyarakat mengucap syukur karena suatu saat, ketika roh sudah meninggalkan jiwa, semua tanah-tanah akan dikembalikan kepada pemiliknya yang sejati, Sang Hyang Tunggal.

10680036_10203432929090224_7166064077399287813_o

***

Minggu 28 Desember 2014, sudah lewat tengah hari saat semua kesibukan di dapur mulai reda. Ayam betutu, ayam panggang, gado-gado, telor balado, sambel matah dan beberapa hidangan lain sudah tertata di atas meja makan. Saya menata buah buah, yang jarang ditemui di Bali, di atas sebuah nampan kecil. Beberapa tangkai bunga krisan menggantikan canang-canang yang biasanya menghiasi banten di Bali.
10430450_10203432947930695_8512689368537412626_n
Dimulai dengan menguncarkan Puja Trisandhya, persembahyangan hari itu kami lanjutkan dengan panca sembah. Sekalipun salju belum turun di Inggris bagian selatan, udara di luar masih belum beranjak. Masih dingin menggigil. Percikan tirtha, nunas dari Pura di Belgia, menutup persembahyangan di ruang keluarga rumah Pak Agung. Hidangan ala Bali minus lawar, sate dan urutan, menjadi penutup sempurna sekaligus menemani obrolan tentang berbagai hal sore hari itu.
Selamat Hari Bumi, Hari Raya Galungan dan Kuningan
London, 28 Desember 2014