Belajar Kearifan dari Sahaja Kesiman

Siang itu, awan mendung menggantung di atas kepala mencegah sinar matahari menerobos. Namun cuaca panas tetap tak terhindarkan. Tukang-tukang tradisional terlihat tekun membelah bata-bata kuno berukuran besar, merapikannya, untuk dipasang kembali sebagai dinding pura. Debu-debu yang dihasilkan oleh kegiatan re-konstruksi Pura Sentaka mengepul memenuhi udara. Saya berkunjung ke salah satu pusat peradaban pra-kolonial Denpasar di Kawasan Kesiman. Ditemani Bayu Pramana, akademisi-fotografer-pecinta situs kuno, kami ngobrol ringan seputar pura yang sedang digarap oleh puluhan tukang tersebut.

 

 

Pura Sentaka, menurut penuturan Bayu, dibangun oleh leluhurnya. Minimnya catatan membuatnya kesulitan mengingat kapan tepatnya pura tersebut dibangun. Konon saat buyutnya masih muda, pura tersebut sudah berdiri. Jika menilik informasi tersebut, kemungkinan pura sudah dibangun lebih dari 3 generasi atau lebih dari 100 tahun. Konstruksi pura menggunakan bata merah, kemungkinan bata Gerenceng yang sempat berjaya menjadi pemasok material bangunan ke seluruh pelosok Bali selatan. Ukuran bata, jika dibandingkan dengan bata yang kita kenal belakangan, cukup besar. Tetapi ukuran bata tidak hanya satu, ada beberapa ukuran yang berbeda-beda. ‘Bata yang paling lebar kemungkinan untuk hiasan yang menonjol, sementara yang lebih kecil untuk badan bangunan’, Bayu mengira-ngira. Pemugaran pura diupayakan dengan pendekatan konservasi. Akan tetapi pendekatan kekinian tetap dipakai. Gambar-gambar pelinggih dibuat dengan cara mengukur pelinggih lama lalu dipindahkan ke dalam computer. Bata-bata yang masih kuat dimanfaatkan kembali. Semua ukiran dan hiasan dibuka dan disusun ulang untuk dipasang kembali. Proses ini jauh lebih rumit daripada mengganti baru. Sebagai pewaris, keluarga Bayu yang menyungsung pura ini tidak mau berkompromi terhadap nilai yang tersimpan. Ada kekhawatiran bahwa nilai akan hilang jika diganti baru. Bukankah ada banyak cara selain cara yang rumit ini? ‘Kami meyakini inilah cara yang tepat’, ujarnya mantap. Saat ini riuh rendah terjadi pemugaran pura di berbagai wilayah. Pura yang secara fisik dianggap ‘tidak representatif’ dipugar. Bangunannya diganti dengan yang lebih baru, kayu-kayu tradisionalnya, cempaka atau nangka, ditukar dengan kayu baru, bangkirai, jati dkk. Bataran dan hiasannya diganti dengan yang lebih tahan lama dan ‘modern’. Hasilnya? Pura Nampak lebih megah, bangunannya lebih besar, ukirannya lebih rumit serta bahannya lebih tahan lama. Namun banyak yang menilai proses semacam ini menghilangkan value utama dari pura. Value yang dibangun dan dipupuk bergenerasi-generasi hilang lenyap dalam balutan bangunan megah.

DSC_1143
Ragam hias lama dibuka, disusun ulang dan akan dipasang kembali pada struktur baru

Hujan gerimis tipis turun membasahi dedaunan saat kami berpindah ke Mrajan Puri Kesiman yang dikelilingi kolam. Tetesan air hujan yang jatuh menciptakan lingkaran-lingkaran ritmis di permukaan air yang tenang. Seekor ikan tiba-tiba berkelebat di balik daun-daun teratai hijau. Saat tengah tekun mengagumi dan mengabadikan keindahan karya arsitektur mrajan, Penglingsir Puri (Raja) Kesiman, Turah Kusuma Wardana, tiba-tiba muncul dari balik gapura bata berukir indah. Beliau menyapa ramah dan menyilakan kami berteduh, berlindung dari gerimis siang itu. Memiliki pandangan serupa, Turah, demikian beliau biasa dipanggil, menyatakan hal yang sama dengan Bayu tentang bagaimana beliau merawat warisan berupa puri dan segenap isinya. ‘Saya hanya meneruskan apa yang sudah disuratkan oleh leluhur. Mereka memiliki pengetahuan maha luas yang nyaris mustahil saya lampaui’ ujarnya mantap. Kami melanjutkan berkeliling area mrajan serupa taman tersebut setelah hujan reda. Konon jaman dahulu Kerajaan Kesiman mengelola lahan persawahan yang sangat luas dan subur. Air sungai dikelola dengan baik dan didistribusikan melalui subak-subak di hilir. Sebelum mengalir ke sawah, sebagian air masuk ke halaman mrajan puri dan dijadikan kolam yang mengelilingi bangunan-bangunan suci. Pemimpin Kesiman bisa mengetahui keadaan air di hilir dengan cara melihat air yang ada di mrajan. Jika kolam di mrajan surut, maka bisa dipastikan sawah-sawah di hilir kekurangan air. Cara kontrol sederhana namun efektif. Selang interval beberapa bulan, di mrajan diadakan upacara memohon kesuburan dan kesejahteraan. Mendoakan air selalu tersedia dalam jumlah yang cukup agar kolam di mrajan dan juga di sawah tidak kekurangan. Kesederhanaan berfikir semacam ini mungkin sudah kehilangan tempatnya di jaman serba modern ini, terutama setelah sawah berganti. ‘Segala upacara yang sudah berlangsung ratusan tahun disini tetap kami selenggarakan seperti apa yang sudah berlangung. Saya tidak berani melebihkan apalagi mengurangi,’ ujar Turah setelah kami berkeliling. Bukan hanya upacaranya saja yang terjaga, tetapi juga arsitektur bangunan puri. Tidak Nampak aura kemewahan yang dicirikan oleh bangunan berkelir prada keemasan seperti sebagian besar puri di Bali kini. Banyak puri-puri yang menjaga keagungannya dengan cara membangun ulang dengan bentuk yang lebih megah, warna yang lebih mencolok dan ragam hias yang lebih grande. Tidak demikian dengan Puri Kesiman. Setidaknya itulah yang saya saksikan siang itu. Sepertinya ada upaya untuk tetap teguh menjaga tradisi sarat makna.

 

DSC_1173
Hujan gerimis turun di Mrajan Puri Kesiman
DSC_1168
Gerbang bata mengantarkan kami ke dalam Mrajan
DSC_1170
Meru bertumpang sebelas di Mrajan Puri Kesiman

Luputnya Kesiman dari perhatian, menyebabkan derap pembangunan fisik di Kawasan ini lebih banyak dilakukan oleh komunitas, bukan investor apalagi politisi yang membawa bansos. Investor lebih tertarik dengan kawasan pariwisata, sementara politisi mencari perhatian di kawasan-kawasan yang mendapat sorot media. Hal ini justru menjadikan Kesiman sebagai kawasan pusaka karena tidak banyak warisan budaya arsitekturnya yang dipugar atas nama pembangunan ekonomi atau atas nama jargon politis ‘perbaikan demi masa depan gemilang.’ Sahaja Kesiman yang terawat membuatnya, justru, tampil berkarakter. Khas Bebadungan, lugas, apa adanya tanpa topeng.

Rurung dalam Memori

46766837_2248670425144230_1205851332943020032_n
Rurung di Sanur di tahun 1970an. Photo: Made Wijaya

Kata ‘rurung’ sudah cukup lama menganggu fikiran saya, terutama semenjak jalanan tanah di kampung-kampung mulai diaspal sementara yang di kota dilapisi paving blok. Ada memori yang terhapus saat melihat jalanan yang dahulu berdebu saat kering dan sedikit becek saat hujan berubah mulus dan halus. Bukan, ini bukan soal kualitasnya, tetapi soal ingatan masa kecil.

Saat berusia SD, rurung menjadi halaman bermain anak-anak kampung. Kami terbiasa berkumpul setiap sore, saat terik matahari sudah jauh berkurang, di depan rumah masing-masing saling menunggu. Begitu sebagian besar anak berkumpul, maka berbagai permainan tradisional hingga olah raga ringan bisa dilakukan. Mulai permainan mecepetan, main dipyak (dengkleng;engklek), hingga kasti bahkan sepak bola bisa dimainkan. Suara sorak sorai akan mengundang anak-anak lain untuk datang. Permainan-permainan tersebut tak ubahnya olah raga yang membuat tubuh segar. Selain olah raga, permainan tradisional juga dipercaya mengasah kreativitas serta kepekaan sosial anak-anak terhadap sesama, meningkatkan sportivitas dan kejujuran.

446508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Gambar oleh I Mundik memperlihatkan berbagai aktivitas yang berlangsung di rurung.

Tidak hanya anak-anak, ruang terbuka di depan rumah juga disesaki orang tua kami bahkan kakek nenek. Tidak jarang, sebagian orang dewasa masih melanjutkan pekerjaannya, meraut atau memahat patung di rurung. Para petani yang sudah selesai bekerja di sawah memanfaatkan waktu istirahat sorenya dengan duduk-duduk sembari membawa ayam jago membicarakan hal-ihwal sawahdan segala persoalannya. Generasi yang lebih tua lagi memanfaatkan rurung sebagai ruang interaksi mengobrol sembari menunggu matahari tenggelam. Di ujung rurung jamak dijumpai penggak, semacam warung kecil tanpa atap. Di penggak bisa dibeli jajanan tradisional hingga bubur pengisi perut di sore hari.

46508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Penggak. Gambar: Miguel Covarrubias

Banyak kisah dan cerita yang terurai, tak jarang masalah-masalah di banjar atau desa bisa diselesaikan, dalam interaksi di rurung. Rurung ibarat ruang keluarga semua warga, tempat berinteraksi dan bersosialisasi, tak ada sekat, semua setara.

Kian sore, jumlah anak yang bermain biasanya kian ramai hingga tiba saatnya matahari tenggelam. Sesaat sebelum matahari tenggelam, mendekati jam 6, arena permainan berpindah ke sungai. Badan yang penuh keringat dan berdebu dibilas di aliran sungai yang mengalir membelah kampung. Permainan dilanjutkan dengan berloncatan dari tepian sungai.

DSC_8087
Berlangsung di Rurung, Perang Pandan di Tenganan Pegeringsingan

Di tempat lain, misalnya di daerah Karangasem, rurung juga memiliki fungsi ritual. Di Desa Tenganan Pegeringsingan nyaris sebagian besar, jika tidak semua, aktivitas ritual berlangsung di rurung. Aktivitas ini termasuk ritual perang pandan yang tersohor itu. Di wilayah lain, rurung menjadi arena untuk megibung masal, sebuah ritual makan bersama dalam suatu rangkaian upacara di desa.

Demikianlah, rurung memiliki berbagai fungsi, mulai dari fungsi sosial, budaya, ekonomi, ritual hingga fungsi pendukung kreativitas anak-anak. Banyaknya memori kolektif yang terjalin dari interaksi yang terjadi di rurung menebalkan rasa persaudaraan, meningkatkan kontrol sosial serta menunjang rasa memiliki. Modal sosial tersebut menjadi dasar kekuatan masyarakat desa.

 

456508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Angkul-angkul pembentuk rurung. Photo: Made Wijaya

Untuk mendukung fungsinya, sebuah rurung memiliki berbagai fasilitas meskipun bukanlah sesuatu yang mutakhir. Sekurang-kurangnya di setiap pintu masuk pekarangan terdapat ‘lenéng’. Ini adalah ‘sofa’ informal, tempat duduk yang nyaman bagi siapa saja. Selain ‘lenéng’ batu-batu besar juga bisa menjadi tempat duduk yang kasual.

46771481_296222640996331_9147884688092692480_n
Leneng dan batu sebagai tempat duduk kasual di rurung. Photo: Made Wijaya

Meja dan bangku kecil dibawa oleh pedagang ‘penggak’. Bukan meja atau kursi yang besar tetapi cukuplah untuk meletakkan dagangan sederhana dan tempat duduk sejenak sembari menikmati jajanan.

Di tepian rurung terdapat jelinjingan dan telajakan. Jelinjingan adalah semacam got tetapi bentuknya sedikit tidak teratur. Sementara itu telajakan berfungsi penghijauan, tempat ayam-ayam jago diletakkan di dalam kurungannya. Semak-semak berbunga, pucuk rejuna, soga, mawar, kembang kertas juga mengisi telajakan memenuhi kebutuhan bunga untuk membuat canang. Demikian juga pohon jepun, cempaka, atau pohon buah-buahan lokal.

46668708_353604375404182_1688587996107898880_n
Di telajakan, diskusi berlangsung santai. Photo Made Wijaya

 

Secara arsitektur, ruang rurung dibentuk oleh tembok menerus di kiri dan kanannya. Tembok ini diinterupsi oleh angkul-angkul pintu masuk ke pekarangan rumah penduduk. Dari arah rurung, deretan angkul-angkul ini merupakan sajian arsitektural yang menarik. Meskipun bentuknya mirip, penyelesaian konstruksi dan bahan yang dipergunakan bisa berbeda-beda antara angkul-angkul yang satu dengan yang lain. Angkul-angkul menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat. Anjing pun merasa aman dan nyaman duduk di pintu masuk pekarangan ini.

Fungsi rurung kini telah berubah. Semenjak beberapa tahun belakangan ini sebagian besar rurung telah mengalami pembaharuan secara fisik. Permukaannya yang dahulu becek di kala hujan serta berdebu di kala panas berganti aspal mulus. Tepiannya diturap rapi dan dilengkapi got permanen menggantikan jelinjingan. Tuntutan akan jalan mobil yang lebih lebar seringkali mengorbankan telajakan sehingga ruang hijau menerus yang dahulu nyaman untuk tempat menjemur ayam aduan tidak ada lagi.

Dengan bergantinya permukaan rurung maka beralih pula fungsinya. Kini fungsi utama rurung adalah sebagai jalur transportasi. Raungan kendaraan roda dua dan roda empat menggantikan sorak-sorai anak-anak bermain kasti. Suara klakson dan raut muka tanpa senyum di balik kemudi menggantikan suara kelakar dan wajah penuh tawa yang dulu bisa dijumpai saban hari. Tidak ada lagi anak-anak bermain dan orang-orang kampung bercengkerama sehingga hilang pula peluang ekonomi. Akibatnya, penggak-penggak kehilangan pembeli karena aktivitas di rurung sudah berganti. Dari penggak, tempat nongkrong berpindah ke coffee shop. Kini, ada kerinduan pada aktivitas rurung dengan berbagai aktivitasnya, bukan hanya sebagai jalur transportasi.

46675030_369854530436813_4582681326888419328_n
Warung, tempat istirahat nyaman di sore hari sambil membicarakan gosip lokal. Photo: Made Wijaya

Tentu saja jalur transportasi sangat dibutuhkan di jaman yang serba cepat ini. Aktivitas warga tidak lagi tunggal, hanya bertani, tetapi sudah beragam. Tempat kerja pun tidak lagi di sawah tetapi di kantor-kantor, hotel-hotel dan restaurant, serta tempat-tempat lain. Semua kini butuh kendaraan bermotor entah mobil atau sepeda motor. Akan tetapi, perkembangan ini mestinya tidak menghilangkan kualitas sosial rurung. Saya percaya, jika ada kemauan, kita masih bisa mendapatkan kualitas yang dahulu dimiliki rurung dengan tetap mendapatkan kualitas transportasi yang memadai.

(bersambung ke bagian 2)

 

Agrowisata sebagai Alternatif Pengembangan Ekonomi Bali perlu Dipikirkan Serius

perspektif 5
Fasilitas agrowsiata jeruk oleh Cheryl

Sejak diperkenalkan sebagai alternatif pengembangan ekonomi lokal oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Bali pada awal abad-20, pariwisata telah berkembang sangat pesat. Bisnis yang berkaitan dengan pelesiran dan segala aktivitas pendukungnya ini kini telah memberi penghasilan bagi lebih dari setengah penduduk Pulau Bali. Pulau Bali, berkat peranan pariwisata, telah menjadi salah satu yang paling terkenal diantara 17.000-an pulau di seantero Indonesia. Saking pentingnya peranan pariwisata, pengembangannya selalu mendapat prioritas di dalam rencana tata ruang provinsi maupun kabupaten dan kota yang ada di Bali.

Kesejahteraan dan keuntungan ekonomi yang diberikan serta ditawarkan oleh pariwisata juga mengandung kelemahan. Meskipun awalnya hanya dikembangkan dalam skala yang kecil, hanya sebagai alternatif dari pertanian, pertumbuhan bisnis yang berkaitan dengan pariwisata telah mulai mengalahkan sumber mata pencaharian utama yang telah ribuan tahun menjadi sandaran hidup masyarakat Bali yaitu pertanian. Data statistik dari BPS Provinsi Bali tahun 2017 menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah akomodasi pariwisata berbanding terbalik dengan jumlah sawah. Hal ini berarti bahwa pembangunan pariwisata membawa dampak pada berkurangnya jumlah sawah. Berkurangnya sawah berarti berkurang pula ruang terbuka hijau di Pulau Bali.

Selain mengurangi ruang terbuka hijau, berkurangnya sawah juga berarti penurunan produksi pangan local. Pada suatu pagi, di sebuah pasar, saya menjumpai bahwa sebagain besar komoditas pertanian berasal dari luar pulau. Sayur-mayur, cabai dan bumbu-bumbuan, perlengkapan upacara dan komoditas lainnya dating dari Jawa. Belum terhitung buah-buahan yang harus diimpor dari luar negeri. Semua komoditas tersebut kini memenuhi pasar-pasar traditional hingga rak-rak pasar swalayan dan took modern. Tentu tidak ada yang salah dengan hal tersebut sepanjang masyarakat masih memiliki ekmampuan untuk membeli karena uang yang diperoleh dari pariwisata. Menjadi persolan jika hal ini dikaitkan dengan transportasi dan jejak karbon. Untuk mendatangkan komoditas tersebut dibutuhkan armada angkutan yang besar. Untuk impor dibutuhkan kapal dan pesawat terbang. Jejak karbon yang ditimbulkan menimbulkan polusi serta proses transportasinya membuat jalan-jalan semakin padat menambah rumit persoalan transportasi.

Kini, saat perkembangan pariwisata telah melampaui sektor pertanian, semakin sedikit anak muda yang tertarik untuk terjun menjadi petani dan tinggal di desa. Wilayah-wilayah yang menjadi pusat pariwisata menjadi tujuan urbanisasi membuatnya semakin padat. Kost-kostan dan hunian dalam bentuk perumahan untuk kaum urbane ini, lagi-lagi, mengorbankan area persawahan. Di Kota Denpasar persawahan semakin terjepit tinggal di kawasan pinggiran. Itupun masih berada di bawah ancaman alih fungsi yang massif. Sebaliknya di kawasan perdesaan, akibat urbanisasi, terjadi kekosongan tenaga kerja muda kreatif. Tenaga kerja ini telah pindah ke kawasan yang dianggap lebih menjanjikan dalam memberikan ruang dan keuntungan bagi energikreatif yang mereka miliki. Jika hal ini terus berlangsung, bisa jadi tidak akan ada lagi petani di masa yang akan datang.

Sesungguhnya, salah satu daya tarik yang membuat Bali sedemikian menarik sebagai daerah pariwisata adalah budayanya. Kebudayaan penduduk Bali sangat erat terkait dengan pertanian. Sebagian besar ritual yang dilaksanakan berurat berakar di aktivitas pertanian. Ritual-ritual ini menjiwai kebudayaan Bali dan menjadi factor penarik (pull factors) bagi datangnya pengunjung-pengunjung manca negara.  Menghilangnya pertanian bisa melemahkan atau mengikis kebudayaan dan pada gilirannya bisa mengurangi daya tarik Bali sebagai daerah tujuan wisata.

Pariwisata sendiri sebenarnya sangat rentan terhadap isu dan kejadian negatif. Pada tahun 2002, terjadi peristiwa terorisme di mana sekelompok orang meledakkan kendaraan penuh bahan peledak. Ratusan wisatawan menjadi korban. Kejadian ini memicu ketakutan dan kengerian internasional. Segera setelahnya terbentuk opini bahwa Bali tidak aman bagi pengunjung. Turis enggan datang. Akibatnya bisnis pariwisata mati suri meninggalkan ribuan orang tanpa pekerjaan. Untunglah kejadian ini segera membaik dan kunjungan turis kembali normal. Akan tetapi hal ini menunjukkan betapa rentannya pariwisata terhadap isu keamanan.

Contoh lain adalah peristiwa alam gunung meletus. Bali berada di wilayah yang dikenal sebagai the Ring of Fire. Kawasan yang terdiri atas rangkaian gunung api terbentang dari wilayah barat hingga ke bagian timur Indonesia yang dipenuhi oleh gunung berapi. Di Bali terdapat dua gunung api akif yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur. Keduanya sewaktu-waktu bisa meletus menyebabkan bencana. Pada akhir tahun 2017 hingga awal 2018, Gunung Agung menunjukkan tanda-tanda aktif. Sepanjang September hingga Desember 2017 asap dan debu vulkanik mengepul dari puncak Gunung Agung. Peristiwa ini menganggu penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Selain menganggu bandara, secara psikologis, peristiwa ini juga berpengaruh terhadap isu kemananan pariwisata. Turis yang ada di Bali berbondong-bondong meninggalkan Bali mempersingkat waktu kunjungannya. Sementara itu, mereka yang akan datang membatalkan rencana. Peristiwa ini, seperti juga Bom Bali, kembali mengganggu ekonomi local. Tingkat hunian hotel menurun, kunjungan berkurang dan bisnis pariwisata melambat.

Pariwisata dan pertanian di Bali kini saling berhadap-hadapan. Peningkatan bisnis pariwisata membuat performa pertanian menurun. Akan tetapi saat pariwisata menurun hal sebaliknya tidak terjadi. Saat kunjungan wisatawan menurun, pertanian tetap tidak dilirik sebagai bisnis yang menguntungkan. Ini menunjukkan betapa tingginya angka ketergantungan Bali terhadap pariwisata. Jalan damai untuk menyeimbangkan kedua bisnis ini perlu digali. Potensi penggabungan antara pertanian dan pariwisata bisa disekplor dan dipikirkan dengan serius. Penggabungan keduanya bisa menjadi tulang punggung pengembangan ekonomi Bali di masa depan.

Berdasarkan uraian di atas perlu dipikirkan bisnis kepariwisataan yang:

1.       Tidak menurunkan jumlah sawah dan ruang terbuka hijau secara signifikan

2.       Memberi kesejahteraan yang mampu menghidupi Pulau Bali tanpa tergantung pada hasil pertanian dari luar pulau.

3.       Tidak menambah kemacetan dan polusi udara

4.       Menyediakan lapangan kerja yang menarik bagi generasi muda sehingga mereka tidak harus berpindah tempat tinggal

5.       Tidak mengurangi esensi ritual dan adat yang berakar pada pertanian

6.       Sustainable serta tetap mampu berproduksi, memberi penghasilan bagi pelakunya saat bisnis pariwisata meredup.

Guna menjawab tatangan ekonomi yang terjadi saat ini, mahasiswa arsitektur Universitas Warmadewa mencoba mencari alternative baru pengembangan kepariwisataan sesuai dengan persyaratan di atas. Potensi agrowisata digali di lokasi yang berbeda-beda. Beberapa kelompok menggali kemungkinan penyediaan fasilitas agrowisata di kawasan pedesaan sehingga tersedia lapangan pekerjaan melimpah tanpa harus berpindah ke kota. Beberapa kelompok lainnya membawa pertanian ke tengah kota sehingga distribusi komoditas pertanian lebih dekat kepada masyarakat yang membutuhkannya.

Alternative-alternatif yang diekmbangkan memang masih pada tataran latihan sehingga terkesan idelaistik. Tetapi apa yang diperbuat perlu mendapat perhatian jika pembangunan kepariwisataan diharapkan untuk bersinergi dengan pertanian yang menjiwai kebudayaan local.

Untitled-1
Pengembangan agrowisata kopi oleh Tirta Yadnya
1 (1)
Urban farming oleh Wahyu Anggareza
perspektif 2
Suasana di agrowisata jeruk oleh Cheryl

 

DARI GALACTIC POLITY KE URBAN CONURBATION: MORFOLOGI KOTA DENPASAR DARI MASA KE MASA

 

morphing denpasar

Memahami Kota sebagai Entitas yang Terus Berubah

Kota adalah produk pergulatan penghuninya dan sebaliknya bentuk kota juga mempengaruhi pergulatan penduduk kota (Harvey, 1997). Dengan demikian, bentuk dan struktur sebuah kota selalu berkaitan dengan aktivitas penduduknya. Kota terus berubah dan bertumbuh sepanjang penduduknya masih meng-huni-nya (Larkham dan Conzen, 2014). Tidak mudah membayangkan perkembangan tata ruang wilayah Denpasar sejak masa sebelum kolonial. Hal ini terjadi karena sumber-sumber tulisan yang membahas wilayah ini cukup terbatas serta belum berkembangnya teknologi peta maupun fotografi di masa lalu terutama masa pra-kolonial. Tetapi penataan ruang sebuah wilayah bisa ditelusuri dari narasi, artefak yang tersisa, serta transformasi sistem pemerintahannya. Hal ini bisa dilakukan karena tata ruang dan tata kelola perkotaan selalu berkelindan tak terpisahkan. Aldo Rossi (1966) menyebutkan bahwa perkembangan sebuah kota bisa ditelusuri dari artefaknya dan perkembangan artefak kota bisa ditelusuri dari narasi-narasi kota bersangkutan.

Guna menelusuri perkembangan fisik serta memahami proses transformasi Kota Denpasar, saya menelusuri berbagai dokumen dan juga peta-peta lama. Semua peta tersebut digambar ulang dengan skala yang sama lalu setiap perubahan dicatat serta ditandai. Selanjutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik tersebut dianalisis melalui telaah dokumen serta observasi lapangan dan wawancara. Hasilnya, perubahan fisik Kota Denpasar dari tahun ke tahun bisa ditelusuri dan dipahami.

Penelitian-penelitian tentang kota-kota di Asia Tenggara sudah banyak dilakukan. Dari banyak penelitian, disimpulkan bahwa bentuk pemerintahan sebelum masa kolonial sangat berbeda dengan masa pasca-kolonial. Di masa sebelum masuknya kolonialisme, kerajaan-kerajaan dipimpin oleh raja dengan wilayah politis yang meliputi desa-desa tradisional. Dengan demikian batas politis setiap kerajaan sulit didemarkasi. Meskipun raja secara de jure adalah pemimpin tertinggi, tetapi pengaruhnya terhadap situasi politik dan ekonomi di tingkat desa tidak begitu kuat. Desa-esa tetap dikelola secara mandiri oleh pemerintahan desa yang merdeka. Sebagai simbol pemersatu, kehadiran kerajaan menjadi penting dalam menjaga stabilitas politik dan hubungan antar desa, mencegah konflik horizontal serta mendukung fungsi kerajaan sebagai simbol dunia dimana upacara-upacara besar harus dilaksanakan (Geertz, 1980). Guna mendukung upacara-upacara, kerajaan dan juga penguasa perlu membentuk komunitas pendukung. Hubungan antara pusat dan desa relative longgar. Pola pemerintahan seperti ini sering disebut sebagai ‘unstable circle of kings in a territory without fixed borders’’ (Wolters,’ 1982).

Wilayah dengan Banyak Pusat: Kota Denpasar Pra-kolonial

Di kota Denpasar pada masa pra-kolonial, raja dan kerajaan kuat muncul silih berganti. Kemunculan kerajaan baru dan pemimpin politik baru tidak lantas memutus pemimpin politik sebelumnya. Karena terdapat beberapa pemimpin dengan pendukungnya masing-masing, wilayah yang kita kenal sebagai pusat kota Denpasar kini terdiri atas beberapa pusat. Kekuatan politis pusat-pusat kerajaan ini berbeda-beda dan juga dinamis, bisa menguat dan bisa juga melemah. Secara fisik, kekuatan-kekuatan politis ini, bersama-sama dengan desa-desa traditional yang merdeka, membentuk wilayah dengan, tidak hanya satu, tetapi banyak pusat. Hal ini, wilayah dengan banyak pusat, masih bisa disaksikan hingga awal kedatangan pemerintah colonial Belanda dan juga hingga awal masa kemerdekaan sebagaimana ditunjukkan pada peta pertama. Desa-desa traditional, sekalipun berafiliasi, desa-desa traditional tidak terhubung secara langsung ataupun menyatu dengan pusat pemerintahan kerajaan.

Revised01.pdf

Memudarnya Pusat-pusat dan Pola Penataan Tradisional: Kota Denpasar Masa Kolonial dan Awal Kemerdekaan

Di masa kolonial, pemerintah menerapkan tata kelola baru untuk wilayah jajahannya termasuk Bali. Hirarki baru dikenalkan menggantikan kepemimpinan lama sehingga raja dan kerajaan kehilangan peran simbolisnya sebagai pemersatu wilayah. Hal ini menyebabkan tata pemerintahan tradisional turut terdampak yang berimbas pula pada tata ruang wilayah.

Puri dan perempatan utama di depannya yang menjadi pusat penataan ruang di masa pra-kolonial tergantikan oleh fasilitas baru yang dikembangkan sesuai dengan strategi pemerintah baru. Perkantoran, permukiman pegawai pemerintah dan fasilitas ekonomi baru menempati wilayah pusat kota. Dampaknya, pola orientasi penataan ruang yang awalnya terpusat di titik tengah perempatan utama turut berubah menjadi tersebar. Namun demikian, pola-pola desa yang dahulu berafiliasi dengan pusat kerajaan hanya mengalami sedikit perubahan, jika tidak tetap pada pola tradisionalnya. Hal ini terjadi karena aktivitas perekonomian modern hanya terpusat di pusat kota yang sebelumnya adalah pusat-pusat kerajaan. Selain itu, wilayah yang berkembang adalah di kawasan pelabuhan. Pelabuhan dan pusat kota menjadi titik pusat distribusi barang dan jasa dimana komoditas Bali diangkut keluar serta komoditas yang tidak dihasilkan di Bali dimasukkan. Dengan demikian, dua fasilitas ini menjadi pusat penyebaran produk luar yang dipandang modern serta secara sadar menjadi pusat kehidupan modern memudarkan peran pusat ‘catus patha’.

Kegiatan perekonomian tidak melulu didominasi oleh peredaran komoditas berupa barang dagangan. Sejak seperempat awal abad ke-20, pariwisata mulai dikenalkan sebagai mesin ekonomi baru di Bali oleh pemerintah kolonial. Perkembangan bisnis ini ternyata cukup pesat. Sanur, sebuah desa di bagian timur Denpasar berkembang berkat kegiatan ekonomi baru ini membawa pula konsekuensi urbanisasi. Selain wilayah pusat kota, yang merupakan sumber distribusi barang dan jasa, Sanur juga tumbuh cepat. Akibatnya, tidak hanya di pusat kota, kawasan tepi pantai yang secara tradisi dipandang kurang bernilai ekonomi, bertransformasi menjadi kawasan yang menjanjikan keuntungan tinggi. Alih fungsi lahan menjadi keniscayaan di kawasan yang memiliki daya tarik wisata.

Selain kegiatan ekonomi, perubahan tata pemerintahan juga berpengaruh terhadap perubahan tata ruang kota. Sistem pemerintahan baru yang dikenalkan sejak masa colonial membutuhkan fasilitas baru. Di pusat Kerajaan Denpasar lama dibangun perkantoran pemerintah. Selanjutnya seiring berkembangnya fungsi pemerintahan, di kawasan Renon Juga dibangun kompleks perkantoran baru. Kompleks perkantoran ini membutuhkan penyesuaian terhadap sekaligus memodifikasi tata ruang tradisional. Akibatnya muncul pusat-pusat kegiatan baru.

Kegiatan ekonomi yang menghubungkan pelabuhan dan pusat kota, perkembangan sumber ekonomi baru dalam bentuk tempat wisata serta tumbuhnya aktivitas perkantoran telah mempengaruhi bentuk kota. Semakin pesatnya perkembangan aktivitas ketiganya melemahkan penerapan pola tata ruang tradisional. Pelan namun pasti, wajah Kota Denpasar bertransformasi. Transformasi terasa semakin pesat dalam 15 tahun belakangan ini. Pemicunya, tentu saja pesatnya kegiatan yang didorong oleh factor ekonomi non-pertanian.

Tumbuhnya Pola Pita: Denpasar Masa Modern

Di masa modern, kegiatan ekonomi berkembang akibat meningkatnya performa jaringan jalan yang menghubungkan pasar dengan sumber barang dan jasa dari luar pulau Bali. Selain itu, konsentrasi kegiatan ekonomi dan perkantoran yang terletak di lokasi yang berbeda-beda juga menuntut dibuatnya jaringan jalan baru yang mengubungkan ketiganya. Akibatnya, kegiatan ekonomi yang berbasis tempat, place-based economic activities, sepeti pertanian semakin ditinggalkan. Penduduk kota kini beralih ke kegiatan ekonomi yang dipandang lebih menguntungkan.

Pembangunan jaringan jalan baru dan berkembangnya distribusi barang dan jasa non-tradisional membawa konsekuensi baru yaitu tumbuhnya aktivitas di spenajng jalur jalan utama. Semenjak akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, ruko-ruko bermunculan. Jejak awalnya bisa ditelusuri dari perkembangan di sekitar Jalan Gajah Mada di masa colonial, tetapi fasilitas ini berkembang pesat sejak dibukanya jalur-jalur jalan baru seperti by-pass I Gusti Ngurah Rai dan Jalan Gatot Subroto, dua jalur baru yang menghubungkan BAndara dan pusat kota serta pusat kota ke wilayah di luar Kota Denpasar. Tumbuhnya aktivits ekonomi di sepanjang jalur utama, tanpa pusat aktivitas yang jelas, sering disebut sebagai ribbon development pattern.

gajah mada4

Urban Conurbation: Denpasar Kini

Perkembangan pembangunan dengan pola pita, ribbon development pattern, tidak hanya merambah jalur-jalur utama yang menghubungkan fasilitas dan pusat ekonomi modern tetapi kini merambah pula pada jalur-jalur yang menguhungkan pusat kota dengan desa-desa tradisional dan jalur yang menghubungkan desa tradisional satu dengan yang lain. Hari ini kita akan mengalami kesulitan untuk mengathui batas antara desa Tonja dengan Peguyangan misalnya, atau antara Desa Sanur dengan Renon. Semua wilayah terhubung jalan yang kedua sisinya dipenuhi oleh deretan ruko.

Jika kita melihat peta pertama pada gambar di atas, di kiri atas, dengan peta terakhir, di kanan bawah, akan terlihat jelas perbedaan keduanya. Pada peta pertama, satuan unit-unit desa tradisional masih terlihat jelas sedangkan pada peta terakhir semuanya telah menyatu.

What Next? Denpasar Masa Depan

Mungkinkah kita meramalkan masa depan Denpasar? Tentu saja sangat mungkin. Menilik kalimat pembuka dari tulisan ini, bahwa kota dibentuk dan terbentuk oleh aktivitas penduduknya, maka bentuk masa depan Kota Denpasar bisa diramalkan dari trend aktivitas mana yang meningkat. Jika yang berkembang adalah aktivitas perekonomian baru, maka bisa dipastikan pola pembangunan pita akan terus berlangsung. Sebaliknya jika aktivitas pertanian yang berkembang, yang mana rasanya mustahil, maka penyatuan desa-desa traditional akibat berkembangnya pola pita bisa dicegah. Bisakah perkembangan kota diatur? Tentu saja bisa. Pengaturan bentuk kota bisa dilakukan untuk menjamin bahwa setiap penduduk memiliki kesempatan yang seimbang dan setiap aktivitas seseorang atau sekelompok orang tidak menganggu atau mengurangi hak orang atau kelompok lain yang juga mendiami kota tersebut.

 

MEMORI KOLEKTIF DAN IDENTITAS-TEMPAT

DSC_4943
Identitas tempat bisa direkonstruksi secara fisik
  1. Intro

Saya suka melihat postingan-postingan Bli Gede Kresna di Fb. Ada bangunan, lingkungan, termasuk juga makanan. Ada satu benang merah yang menghubungkan postingan dengan tema yang berbeda-beda tersebut di mata saya. Semuanya mengingatkan akan masa kecil, masa saat ‘pengalaman’ kita belum didikte oleh berbagai macam teori tentang arsitektur yang baik, tentang tata cara menjaga lingkungan, ataupun teori tentang rasa. Masa saat pengalaman-pengalaman terjadi dengan alami, mengalir saja.

Postingan tentang halaman berbatu misalnya, mengingatkan pada licinnya permukaan jalan desa saat hujan, postingan yang memuat foto-foto dedaunan basah mengingatkan akan suara gemerisik daun saat tertimpa hujan atau tertiup angina di setiap akhir tahun.

Kenangan masa lalu mengingatkan kita pada tempat, pada kampong halaman, pada ‘feeling at home’. Sesuatu yang, bagi sebagain kita, menjadi barang mahal belakangan ini.

Saya sekali waktu menunjukkan postingan beliau kepada kawan dan efek yang sama rupanya juga terjadi. Kami mulai ngobrol tentang masa kecil. Tentang pohon badung dan bleket (saya tidak tahu nama kerennya) yang tumbuh di belakang pura ratu ngurah. Tiba-tiba kami seolah mendengar kecipak air di sungai di belakang rumah serta tekstur permukaan batu di tepiannya tempat kami biasa duduk sebelum nyebur di sejuknya air yang mengalir dari pegunungan, mencium aroma kopi yang sedang di nyahnyah. Ibarat gambar-gambar dalam film, imaji-imaji berkelebatan menghubungkan kami dengan tempat kami dulu dibesarkan, melintasi ruang dan waktu.

Kita hidup dilingkupi oleh lansekap. Kita terhubung dengan lansekap sekeliling dalam berbagai cara. Banyak rumah dan fasilitas fisik di kampong pada jaman dahulu dibangun secara bergotong royong. Bangunan-bangunan pura, bale banjar, saluran air dan banyak lagi yang lainnya dibangun oleh leluhur kita. Manusia memodifikasi lansekap. Cara memodifikasi dan menggunakannya membentuk pengalaman, memori, rasa dan akhirnya membentuk persepsi kita tentang lingkungan terbangun. Semakin lama, semakin banyak memori yang tersimpan di dalam lansekap akibat semakin kaya nya pengalaman. Lansekap kita mengandung nilai budaya sehingga sering disebut ‘lansekap kultural’. Lansekap dengan demikian juga mengandung nilai sejarah, menjadi reservoir pengalaman dan memori kolektif.

Ruang-ruang desa, kampung halaman serta ruang-ruang kota dipakai secara kolektif. Pengalaman terbentuk dan dibentuk oleh sekelompok orang. Pura, bale banjar, lapangan, ruang di bawah pohon beringin di pusat desa, semuanya menjadi reservoir memory kolektif.

Saya tidak merasakannya sendirian.

  1. Identitas-tempat dan social-wellbeing

Dengan pengalaman, memori serta persepsi yang terbangun terhadap tempat dan lingkungan sekitar, kita bisa mengidentifikasinya dengan lingkungan lain yang memiliki kualitas yang berbeda.

Sekali waktu saya harus pergi meninggalkan kampung halaman. Saya merasakan aura yang berbeda, saya mulai membangun perbandingan, membandingkan rumah-rumah, membandingkan bangunan-bangunan yang berbeda. Dengan perbandingan saya membentuk identitas-tempat di kepala saya. Saat berada di luar daerah, saya merasakan kerinduan terhadap kampung halaman, ada rasa ‘feeling at home’ yang hilang. Ada rasa ingin segera kembali. Kembali ke lingkungan terbangun yang familiar. Rindu bentuk, rindu rupa, aroma, kualitas permukaan, suara bahkan rasa makanannya. Tanpa sadar, secara personal, identitas-tempat terbentuk dalam diri kita. Identitas tersebut membuat kita mampu membedakan kualitas tempat-tempat yang berbeda. Perbedaan tidak hanya pada bentuk fisik yang visual saja, tetapi juga perbedaan yang dirasakan oleh indera kita yang lain. Lalu kita mengidentifikasi diri kita sebagai bagian dari suatu tempat dan bukan bagian dari tempat yang lain. Kita lalu bisa berkata ‘saya orang Ubud, bukan Nak Badung’. Saat berkata demikian, tanpa sadar kita menyatakan bahwa kita familiar, dekat dengan atau menjadi bagian dari tempat yang kita sebutkan. Dengan menyadari perbedaan-perbedaan kualitas, kita lalu merasa terpengaruh oleh tempat-tempat. Perilaku kita juga, bisa jadi terpengaruh.

Tidak hanya oleh pengalaman serta memory personal, identitas-tempat juga dikonstruksi secara social. Saya masih ingat saat dimarahi oleh orang tua karena menangkap ikan di kolam yang dianggap suci. Kolam tersebut mendapat air dari mata air dari pancuran suci. Di tengahnya terdapat semacam pulau kecil dengan pura yang halamannya selalu becek. Tidak ada anak-anak yang berani kesana sendirian. Masyarakat mensakralkannya. Entah benar atau tidak, ada banyak takhayul beredar tentang kawasan tersebut. Air dari pancuran dipakai untuk membuat tirtha. Secara kolektif masyarakat membentuk identitas kawasan tersebut sebagai tempat yang angker, membuatnya terlindung sekaligus terjaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Pada kasus lain, sebuah pura yang dibangun secara gotong royong dari awal hingga berdiri juga memiliki identitas yang terkonstruksi secara social. Masyarakat pembuatnya menyimpan memori bagaimana lokasi pura dibersihkan, bagaimana proses pengumpulan dan pengangkutan batu, menyusunnya satu demi satu hingga mengukir dan mengupacarainya. Memori ini kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Pura di desa saya, saya dengar, dibangun antara lain oleh kakek saya. Konstruksi social membentuk ‘emotional-attachment.’ Di desa saya, untuk membentuk kembali memori kolektif, banyak diselenggarakan festival dan acara komunal, salah satunya festival rurung. Dalam even ini, para pematung membuat karya instalasi secara keroyokan, dikelilingi oleh para penjual makanan traditional. Sore harinya, anak-anak diajak berkumpul dan bermain bersama. Kegitan-kegiatan semacam ini diharapkan akan memperkuat memory kolektif, menambah rasa ‘feeling at home’ serta rasa memiliki. Pada gilirannya, kegiatan semacam akan meninggikan derajat kepedulian terhadap lingkungan, memperkuat rasa ‘satu’. Dengan demikian identitas-tempat yang kuat mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis manusia, baik secara personal maupun kolektif.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tempat-tempat yang memiliki identitas yang kuat menarik wisatawan
  1. Identitas-tempat dan ekonomi

Semenjak merebaknya industri pariwisata, identitas-tempat menjadi penting. Semua mungkin tahu hotel Bali Beach tetapi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pembangunannya sangat terkait dengan tarik-ulur penciptaan identitas-tempat. Pada awal kemerdekaan, konon Presiden Sukarno ingin membangun identitas baru bagi Indonesia. Identitas yang lepas dari kungkungan kolonialisme, tetapi mencerminkan kehidupan yang maju, modern. Tata ruang dan arsitektur menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan tersebut. Di Jakarta, tata kota dan desain urban dibangun untuk mencerminkan tingkat kemajuan bangsa Indonesia. Bahwa Indonesia tidak kalah oleh bangsa lain. Untuk mengenalkan budaya dan identitas bangsa, Bali, pada waktu itu, menjadi garda depan karena sudah terlanjur dikenal lewat promosi turisme kolonial. Dibangunlah Bali Beach. Tetapi rupanya ide modern Sukarno berlawanan dengan ide turisme. Turis mencari tempat-tempat yang authentic yang berbeda dengan tempat asal si turis. Dengan kata lain, tempat-tempat yang memiliki identitas yang berbeda dengan muasal si pengunjung. Ide Sukarno lalu diseimbangkan oleh sekelompok ekspatriat dengan mengembangkan gaya Bali Style. Kelompok ini pada dasawarsa 70-an dan 80-an menjadi garda depan yang berperan pada pembangunan pariwisata dengan mewujudkan bangunan-bangunan bertema traditional. Semnagat yang sama lalu menular kepada generasi arsitek local. Dimotori oleh Robi Sularto lalu menular hingga kini ke Popo Danes, Ketut Arthana, Ketut Siandana, dan lain-lain. Lalu study SCETO yang terbit tahun 1972 mengukuhkan bahwa identitas Bali harus dijaga. Direkomendasikan agar pembangunan wisata dilakukan dengan hati-hati hanya pada kawasan tertentu saja. Identitas tempat yang kuat juga mengandung nilai ekonomi, dalam hal ini pariwisata.

P3031012.JPG
Memori kolektif yang lahir dari aktivitas sosial
  1. Identitas-tempat dan politik

Identitas-tempat juga mengundang perdebatan politik. Kita terpapar berita soal dihancurkannya simbol-simbol politik oleh sekelompok orang agar identitas suatu tempat hilang dan dapat dibangun identitas baru yang melambangkan kelompoknya.

Beberapa tahun yang lalu, bahkan sampai sekarang, banyak berita beredar soal penghancuran situs-situs bersejarah oleh kelompok teroris. Salah satu tujuannya adalah untuk menghancurkan pesan social, rasa persatuan, serta memory kolektif masyarakat. Hal yang serupa juga terjadi pada awal abad ke 20 saat Belanda datang ke Denpasar. Perempatan agung yang ada di depan Puri Denpasar digantikan dengan jam lonceng. Puri Denpasar dan Puri Pemecutan, symbol kekuasaan dan kekuatan tradisional dihancurkan. Hasilnya? Masyarakt untuk beberapa saat kehilangan ‘rasa’ setempatnya. Dalam salah satu wawancara saya dengan tokoh adat, konon pada masa itu masyarakat kebingungan. Puri sebagai simbol pemersatu telah jatuh. Upacara-upacara yang menjadi reservoir memori kolektif terancam tidak bisa dilaksanakan. Secara fisik, lingkungan juga sudah berubah. Kawasan sekitar puri, yang dahulu disakralkan digantikan oleh permukiman masyarakat Belanda

Dalam kondisi rasa kehilangan, masyarakat mengkonsolidasi kekuatan tradisionalnya. Beberapa banjar lalu membentuk embrio Desa Adat Denpasar. Tugasnya antara lain untuk menjaga memori-kolektif dengan cara meneruskan upacara, menjaga situs-situs traditional pura dan juga mempertahankan aktivitas social. Dengan kata lain, untuk menjaga kesinambungan memori-kolektif masyarakat. Dengan demikian, identitas masyarakat Denpasar diharapkan akan tetap terjaga.

Pemerintah colonial sepertinya sempat merasa menyesal telah menghancurkan Puri Denpasar dan membangun bangunan dengan bentuk yang berbeda di lokasi tersebut. Sebagai gantinya, mereka lalu merekonstruksi beberapa bangunan puri dan mewujudkannya sebagai Museum Bali. Undagi-undagi kerajaan diundang untuk berpartisipasi dalam membangun candi bentar, bale kulkul dan gerbang kori yang ada di Museum Bali. Pembangunan ini nampaknya juga berkaitan dengan politik etis yang merebak sejak akhir abad ke 19. Politik yang menganjurkan agar pemerintah colonial tidak lagi memandang wilayah jajahan sebagai yang ‘inferior’.

  1. Tantangan Identitas-tempat di masa kini

Jarang disadari, memori kolektif dan identitas-tempat yang terbentuk olehnya mempengaruhi banyak sendi kehidupan kita. Karena jarang disadari, kita juga menjadi kurang perduli. Kekurangperdulian kita mengundang banyak aksi belakangan ini, terutama setelah banyak model bangunan, aktivitas, serta perkembangan teknologi terbaru muncul di masyarakat.

Sebagian dari kita mungkin merasa miris dengan model pembangunan pura dengan cara renovasi yang marak menjelang tahun politik.

Sebagian masyarakat resah dengan berkurangnya ruang publik tempat memori-kolektif dibangun yang membuat masyarakat semakin individualis.

Dalam hal teknologi terkini, anak-anak terpapar dengan gadget. Mereka kurang berinterksi dengan temannya dan juga dengan lingkungan fisik di sekitarnya. Memori-kolektif anak anak terbentuk tidak melalui interaksi langsung dengan ruang fisik tetapi virtual. Mereka lebih mengenal istilah-istilah ruang seperti cyberspace, situs online, yang kesemuanya terhubung secara virtual. Tidak banyak lagi yang kenal serta memiliki memori tentang legon, labak, beji, tangluk, uma, bet, serta istilah-istilah lain yang memiliki makna nyata.

  1. Apa yang bisa dilakukan?

Kemajuan tidak bisa dicegah dan perubahan adalah hal yang abadi. Akan tetapi, jika kita masih menganggap bahwa identitas-tempat sebagai hal yang berguna, alternative perlu dicari. Alternative dimana perubahan yang terjadi tidak mereduksi value yang dimiliki oleh tempat-tempat yang membentuk identitas kita. Alternative baru dimana perubahan tidak menggantikan tetapi memperkaya pengalaman yang sudah ada. Sebagai bahan diskusi, berikut beberapa stimulant yang bisa kita lakukan dalam menyusun alternative perubahan.

 

Menjaga artefact yang menjadi reservoir memory

Menjaga dan memutakhirkan cara membangun tradisional

Memperbanyak aktivitas kolektif

Menjaga lingkungan yang menyediakan bahan bangunan, makanan, ruang, dst.

Kembali melihat ke sekitar, apa yang disediakan oleh lingkungan dalam hal: naungan, makanan, memory, dst.

Isle of Wight dan Gerakan Kota Lambat

P8200125.JPG

Menapaki jalan-jalan pusat permukiman West dan East Cowes di Isle of Wight mengingatkan saya pada tulisan Paul L. Knox tentang Slow City Movement. Ya kota-kota yang sengaja memperlambat laju pertumbuhannya untuk memberi kesempatan penduduk, kota itu sendiri serta alam lingkungan di sekitarnya  untuk bernafas di tengah hingar bingar serta perlombaan mengejar kemajuan yang menjadi ciri-ciri kota modern. Globalisasi, demikian istilah yang sering kita dengar, telah memacu kota-kota utama dunia untuk mengejar pertumbuhan di segala bidang. Dengan adanya kemajuan teknologi transportasi dan informasi, pergerakan barang, jasa, dan, terutama, capital menjadi tanpa batas alias bebas dari sekat sekat geografis. Pemilik modal di kawasan A bisa dengan mudah mempengaruhi wajah kota di kawasan B dengan kekuatan capital yang dimilikinya. Demikian pula barang-barang produksi di wilayah satu bisa dengan mudah ditemui di wilayah lain yang letaknya bersebarangan secara geografis. Pergerakan modal, barang dan juga manusia memacu kota-kota yang memiliki daya tarik serta menawarkan janji keuntungan ekonomis tinggi menjadi sasaran tujuan. Adanya modal, barang serta tenaga kerja dari berbagai belahan di satu lokasi membuat pertumbuhan kota tersebut menjadi lebih pesat. Dalam banyak kasus, kota-kota yang berkeinginan untuk memacu pertumbuhannya lalu berupaya me ‘marketing’ kan dirinya guna menarik lebih banyak lagi investasi serta barang dan jasa guna mengejar kemajuan tadi. Karena banyak kota-kota menempuh strategi serupa, maka pertumbuhan kota menjadi seragam, wajah kota menjadi serupa dan mirip: ditandai dengan bermunculannya shopping mall, gerai makanan cepat saji, toko berjaringan, pom bensin untuk menunjang laju kendaraan, serta toko-toko merk pakaian yang sama di seluruh belahan dunia. Perkembangan yang pada akhirnya dikhawatirkan memberi dampak pada keseragaman wajah kota yang sama serupa, menghapus jejak-jejak makna masa lalu, serta pada akhirnya menjadikan kota tanpa jiwa.

Dalam gerakan yang disebut Slow City Movement, kota dibangun dengan prinsip sebaliknya. Toko-toko dan restaurant menjual makanan dan minuman yang dihasilkan dari lahan pertanian lokal, diolah oleh koki setempat berdasarkan resep yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang. Pun halnya dengan  bangunan yang dikonstruksi dengan material yang diperoleh dari lingkungan sekitar: batu alam setempat, kayu yang ditebang dari hutan di pinggiran kota atau bukit di tengah pulau serta dibangun oleh pekerja setempat dengan teknik yang dikuasai secara tradisional. Kota semacam ini, tentu saja akan berjalan lebih lambat karena harus membangun dengan modal yang dimiliki sendiri, yang jumlahanya terbatas, tanpa intervensi modal atau aktor luar. Kota yang tumbuh berkembang atas kemampuannya mengelola sumberdaya secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat lokal.

P8200263.JPG

Kapal ferry yang saya tumpangi melambatkan lajunya sebelum dengan tenang menyentuh bibir dermaga di pelabuhan East Cowes di Isle of Wight yang berjarak tempuh lebih kurang satu jam dari Southampton.  Beberapa menit kemudian pintu kapal terbuka dan kami melangkahkan kaki menapaki pulau di ujung selatan Inggris Raya ini disambut senyum hangat Pak Wayan Gunawan. Sudah belasan tahun tinggal di pulau ini, pak Wayan adalah WNI insinyur mesin yang bekerja di industry pesawat terbang dan workshopnya terdapat di pulau kecil diselimuti hutan di bagian tengahnya ini. Seperti saya sampaikan di awal tulisan tadi, tidak nampak bangunan modern yang menjulang ataupun berkilau dibungkus kaca. Kondisi ini kontras dengan imaji sebagian besar orang tentang kota-kota di barat yang serba modern. Jalan setapak batu alam, bangunan dengan rangka kayu beratap genteng tradisional serta dermaga kayu. Sedikit jejak-jejak pengaruh arsitektur klasik  nampak pada balustrade yang membatasi kawasan jalan setapak dengan tepian air.

Terdapat beberapa pusat permukiman di pulau yang tidak seberapa luas ini dan sebagian besar terletak di tepian pantai berhadapan dengan laut. Pantai-pantai karang berbatu kemungkinan menjadi sumber bahan alam untuk pembuatan dinding serta pondasi bangunan. Sementara di bagian tengah pulau, hutan-hutan hijau gelap mendominasi lansekap. Saya menduga kayu-kayu yang dihasilkan dari wilayah perbukitan inilah yang menjadi pemasok bahan konstruksi. Perpaduan antara batu alam dan kayu menjadi bahan bangunan menciptakan karakter lokal yang kental pada arsitektur permukiman penduduk.  Di bagian tengah pulau di hulu sebuah sungai yang sekaligus menjadi salah satu jalur transportasi utama, pusat kotanya berukuran kompak tidak terlalu besar, barangkali seluruh bagiannya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Semua kota-kota di tepi pantai terhubung dengan pusat kota ini melalui jalur transportasi umum.

P8210403.JPG

‘Seluruh bagian dari pulau ini adalah kota wisata’, demikian Pak Wayan bercerita saat kami menikmati makan siang gratis hasil masakan Ibu Wayan yang lezat. Bagian tepiannya, jika tidak berpantai landai yang asyik untuk berjemur, memiliki pemandangan yang dramatis: tebing-tebing karang eksotis yang bagian bawahnya digempur ombak bertalu-talu. Bagi penggemar hiking atau jogging maka dipastikan akan menyukai jalur-jalur menantang melewati pantai, hutan, ladang pertanian yang luas atau melewati menara suar kuno yang berdiri gagah melawan angin. Arsitektur bangunan penduduk aslinya di abadikan dalam sebuah kawasan desa mini. Bangunan-bangunan tradisional dibuat dalam bentuk model berskala dalam kawasan seluas lebih kurang satu hektar. Jika tidak sempat berkeliling pulau, maka cukuplah bisa menikmati arsitekturnya di tempat ini.

P8210463.JPG

Pariwisata menjadi salah satu andalan pendapatan penduduknya. Kedai-kedai makanan yang menyajikan masakan local, kedai es krim yang juga buatan lokal serta jangan lupa mencicipi wine langsung dari tempat pembuatannya sembari melihat proses produksinya. Ke-setempat-an atau lokalitas menjadi hidangan utama bagi siapa saja yang berkunjung kesini. Ramainya kunjungan wisatawan tidak merusak lingkungan alamnya justru menjadi penopang utama usaha pertanian penduduk. Lihat saja madu-madu yang dihasilkan dari hutan yang terjaga lestari menjadi oleh-oleh yang bernilai. Kemajuan wisata, kelestarian alam, serta kemampuan untuk tetap bersahabat dengan lingkungan guna menopang perekonomian lokal menjadi salah satu tujuan yang disepakati oleh kota-kota yang tergabung dalam gerakan Slow City Movement yang lahir di Italia. Cara kerja gerakan yang hadir sebagai antithesis dari globalisasi kapital ini bisa disaksikan di Isle of Wight.

P8210438.JPG

 

Kemajuan dan Keaslian: Dualisme Semu Arsitektur Bali Hari Ini?

Dalam beberapa bulan terakhir ini ada banyak postingan tentang karya-karya desain rekan-rekan arsitek yang mampir di wall. Postingan yang paling popular tentu saja berasal dari rekan-rekan arsitek muda dan juga beberapa mantan mahasiswa yang sudah memulai eksis di dunia desain dan konstruksi. Ada dua jenis desain yang menjadi perhatian saya yaitu: perumahan dan berbagai jenis turunannya, serta fasilitas pariwisata, termasuk hotel, villa, restaurant dan sejenisnya. Baik rumah maupun akomodasi wisata, keduanya menjadi proyek yang digemari karena, dianggap, memberi peluang eksplorasi desain dibandingkan perkantoran misalnya.

8

Gambar arsitektur jaman baru

Dari segi desain perbedaan-perbedaan kedua fasilitas tersebut sangat kontras. Desain rumah dan turunannya berbentuk kotak-kotak polos yang dipersepsikan sebagai minimalis sementara berlawanan dengan yang pertama, desain fasilitas wisata nampak lebih rumit menggabungkan beberapa elemen mulai dari lansekap, interior yang mendukung bentuk utama mengacu pada apa yang dipersepsikan sebagai arsitektur tradisional. Jika pada desain fasilitas yang disebut duluan ada upaya keras untuk terlihat modern, bergaya impor dan diasosiasikan dengan kemajuan, sebaliknya pada desain fasilitas yang disebut belakangan, ada satu tema yang menjadi benang merah yaitu upaya untuk tampil lokal. Perbedaan pada penggunanya sangat jelas. Jika pada fasilitas yang modern tadi digemari oleh penduduk setempat, yang tradisional popular di kalangan wisatawan.

Berakar, mungkin, di tahun 1950an dan 1960 an saat Indonesia baru merdeka dan ada harapan yang membuncah tentang masa depan yang gemilang. Bung Karno pada masa itu konon berpidato soal kedaulatan serta kemajuan yang akan disongsong di masa depan. Secara fisik, nampaknya kemajuan dilakukan dengan menyaingi yang barat. Masa itu pula dunia pulih dari perang dunia yang menyisakan trauma dan turisme sebagai bisnis mulai berkembang. Keinginan dunia barat untuk mencari sesuatu yang eksotis, keinginan mengulangi petualangan Magelhaens, Marco polo dll sebagaimana ditulis di buku-buku kian menggebu-gebu setelah dunia berangsur pulih dari peperangan. Perbedaan antara keinginan mengejar kemajuan dan keinginan untuk mengunjungi yang asli, menciptakan dua kutub bertolak belakang.

Dalam rangka mengejar kamajuan, banyak proyek yang dibuat oleh presiden pertama. Gaya arsitekturnya? Tentu segala sesuatu yang mencirikan atau setidaknya mengesankan kemajuan sebagaimana yang terjadi di dunia barat. Berbagai proyek mercusuar di Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno, Gedung DPR/MPR, tugu Monas yang semua dibanguan dengan arsitektur modern, adalah tinggalan dari masa ini. Di Bali, bangunan putih menjulang sepuluh lantai, Bali Beach Hotel, di Sanur menjadi artefak yang paling monumental. Dalam upaya mengejar kemajuan, banyak ide-ide yang berasal dari negara luar masuk. Imaji bahwa kemajuan adalah segala sesuatu yang berasal dari barat mungkin merupakan warisan dari masa penjajahan. Anggapan di kalangan penjajah bahwa yang local, yang timur adalah perlambang ketertinggalan, inlander, kumuh, dan seterusnya. Imaji-imaji ini tergambar dari tulisan-tulisan awal pelancong yang datang ke Bali. Saat Indonesia merdeka, upaya mengejar kemajuan ini sepertinya diterjemahkan sebagai mengejar sesuatu yang barat meniru apa yang tumbuh dan berkembang di dunia asal penjajah.

 

Lain soal dari sudut pandang turisme yang mencari eksotisme. Tulisan dari pelancong awal lain justru menggambarkan yang timur adalah yang eksotis, bersahaja dan mengundang penasaran.  Saat bangunan Bali Hotel yang modern dan kontras dengan bangunan setempat, maka golongan yang kedua ini berteriak keras. Bangunan ini, jika ditiru oleh bangunan-bangunan lain, dikhawatirkan akan membawa dampak yang kurang baik bagi pengembangan wisata dimana eksotisme dan ke’asli’an tempat adalah komoditas utamanya. Gelombang ‘perlawanan’ dimulai dengan mulai bermunculannya bangunan fasilitas wisata yang berupaya selaras dengan arsitektur yang local. Bentuk-bentuk dasar arsitektur tradisional dijadikan acuan untuk membangun fasilitas guna menampung fungai baru.

Dua aliran, antara yang ingin mengejar kemajuan dengan meniru yang barat serta yang ingin mempertahankan keaslian dengan cara meniru yang lokal, terjadi hingga kini. Rumah-rumah untuk masyarakat local dibuat dengan gaya yang semakin menjauhi arsitektur tradisional. Beton, kaca, dinding bata diplester dengan lapisan warna-warna mencolok membuat bangunan baru kontras dengan lingkungan di sekitarnya yang masih didominasi oleh bangunan tradisional. Seolah berlomba, setiap bangunan bersaing untuk menjadi yang paling modern dan paling up to date. Tidak ada acuan pasti atau panutan yang dominan. Gaya-gaya baru ini sangat dipengaruhi trend yang dibawa oleh media. Saya ingat tahun 90-an trend mediterania dengan jendela lengkung menjadi kelatahan, lalu bergeser ke kubisme dengan plat beton mini tanpa fungsi di atas jendela. Trend terus bergerak dan, besar kemungkinan, mempengaruhi selera pasar masyarakat lokal.

Di pihak lawannya, fasilitas turisme, juga terjadi perlombaan sejenis. Desain-desain kini mengejar persepsi keaslian. Dalam upaya ini, di pasaran saat ini tersedia alang-alang buatan, batu alam buatan, dan material tiruan lainnya namun nampaknya kurang begitu laku. Justru bambu, kayu, batu alam dan material lokal lainnya banyak dipakai. Karena dipakai untuk bangunan hotel dalam skala besar. Material ini semakin sulit dicari sehingga lalu muncul kesan mahal. Bangunan-bangunan ini umumnya dibangun oleh investor besar dan berlokasi di tempat-tempat yang eksotis, pinggir pantai, tepian sawah, di sekitar pegunungan dan lokasi lainnya dihuni oleh para pelancong manca negara kaya raya. Wisatawanmenganggap lokasi itu adalah representasi dari keaslian, sementara bagi warga local hidup di kota adalah representasi dari modernitas. Di kota semakin lumrah bangunan minimalis yang bisa dijumpai sepanjang jalan jalan utama.

07

Proposal Matahari Hotel oleh Peter Muller berupaya meng-kloning sebuah desa di Bali sebagai antithesis desain modern Bali Beach Hotel

Kekhawatiran bahwa lokalitas arsitektur Bali akan memudar sudah lama didengungkan. Setelah berdirinya Bali Beach di tahun 1960-an, peraturan daerah yang ditujukan untuk mengembalikan filosofi arsitektur traditional dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali kala itu. Di dalamnya di atur soal ketinggian bangunan, gaya-gaya dan bentuk-bentuk tradisional Bali, dan hal hal fisik lainnya. Peraturan ini kemudian, dengan semangat yang sama seperti di tahun 1970-an, direvisi menjadi Perda no 5 tahun 2005.

Kini peraturan tersebut ada dalam dilema. Di satu sisi, dalam sebuah acara seminar, seorang arsitek senior berteriak tentang dimensi temporal, kese-jaman-an dari peraturan ini yang sulit diterapkan sehingga berpotensi akan gagal. Di sisi lain, seolah menjadi alat legitimasi baru bagi lahirnya arsitektur dengan ornament tempelan. Karena bangunan yang sudah ditempeli ukiran Bali, dengan murda atau ikut cledu ternyata jika di uji dengan perda ini bisa lolos dalam kategori arsitektur Bali, meskipun harus mengorbankan arah orientasi yang berpotensi menghambat gerakan udara, serba tertutup sehingga perlu penghawaan buatan, atau berbentuk kotak polos dengan warna mencolok.

Bagi yang kuliah di bangku arsitektur barangkali sering mendengar bahwa tidak ada salah benar dalam berekspresi. Desain adalah pilihan, dimana setiap alternative membawa konsekuensinya masing-masing. Lalu jika keinginan untuk mengejar kemajuan (dimensi temporal kekinian) dank e-setempat-an atau lokalitas (dimensi geografis) hendak dipadukan pilihan apa yang sebaiknya diambil? Tentu saja aka nada banyak kompromi. Yang pertama dalam persoalan temporal adalah yang menyangkut budaya berhuni. Masyarakat Bali umumnya masih memeluk ajaran leluhur dengan taat, namun tidak menolak nilai-nilai baru yang telah ber-akulturasi menjadi bagian dari kehidupan di masa kini. Perpaduan antara nilai yang diwarisi dan nilai baru ini layak dijadikan sebagai pertimbangan dimensi temporal tanpa harus meniru setengah mati gaya hidup lampau atau berusaha keras mengkloning gaya hidup barat. Dari dimensi geografis, Bali merupakan wilayah yang rentan gempa dengan keberadaan gunung api serta berada dalam lempeng Sunda Arc. Disamping itu, kondisi tropis dimana angina bergerak dari arah tertentu, bulan hujan dan bulan kering, serta arah jatuhnya matahari bisa dijadikan pertimbangan dalam menentukan orientasi bangunan, bentuk atap dan teritisan, penghawaan buatan dan seterusnya. Pilihan ini, menurut saya, bisa diambil jika ingin berdamai dengan dimensi temporal dan dimensi geografis.

Stratford Upon-Avon: Slow City?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gedung-gedung tua dimanfaatkan untuk fungsi-fungsi baru. Dengan demikian lahan bisa dihemat

Kota Stratford dikenal sebagai kota kelahiran penulis dan filsuf terkenal William Shakespeare dan nama besar Shakespeare pula turut menjadi daya tarik dan daya jual  kota kecil di tengah Britania Raya ini. Seperti disebutkan dalam salah satu episode Wayang Cenk-blonk di Bali, sebatang pohon yang menghasilkan kayu serta buah yang berguna membuat terkenal seluruh hutan tempat tumbuhnya. Tetapi, sebaliknya tanaman itu juga bisa tumbuh subur dan menghasilkan buah karena dukungan dari hutannya yang subur dan terjaga. Demikianlah ibaratnya mungkin hubungan antara si penulis dan kotanya ini. Dahulu kota ini menjadi inspirasi Shakespeare, kini kota ini mendapat berkah dari ketenaran si penulis.

Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan waktu hampir jam 11 siang namun  dinginnya cuaca membuat hari seolah masih pagi. Cahayanya yang tersembunyikan oleh tebalnya mendung, sesekali menjelma gerimis, menambah suasana seolah matahari belum beranjak dari peraduannya. Stasiun kereta kecil kota Stratford, jauh lebih kecil dibandingkan terminal Batubulan pada masa jayanya dulu di tahun 80-an, menjadi perhentian sebelum saya melanjutkan perjalanan ke rumah Mbok Ani.  Bersama suaminya, Mbok Ani yang berasal dari wilayah Intaran di Sanur sudah puluhan tahun tinggal di kota kecil ini, dan hari itu beliau mengundang saya untuk merayakan Hari Raya Kuningan bersama di rumahnya yang asri di tengah Kota Stratford-upon-avon.Keluarga Pak Agung, yang juga tinggal di UK, sudah menunggu untuk bersama-sama berjalan menuju lokasi perayaan Kuningan.

Kota Stratford menawarkan pemandangan yang sangat kontras dengan kota-kota besar di seantero Inggris. Jangan membandingkannya dengan Liverpool, Newcastle, Manchester apalagi London. Stratford memiliki nuansa pedesaan dibandingkan suasana kota besar. Nuansa perkampungan ini menyeruak begitu langkah kaki meinggalkan stasiun dan bergerak menuju ke arah pusat kota. Lalu lintas yang tidak begitu ramai dan pepohonan sepanjang jalan membuat pengalaman berjalan kaki menjadi menyenangkan. Lalu-lalang manusia mungkin sama banyaknya, kalau tidak bisa dibilang malah lebih dominan, dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Meskipun cuaca tidak bisa dibilang baik, dengan angin dan suhu yang menusuk tulang, tetap saja banyak orang yang berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak kota.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pedagang cenderamata di pasar

Tepat di jantung kota, sebuah pasar kecil berada di halaman luas yang diperkeras batu alam lebar. Didominasi oleh golongan yang sudah berumur, pasar tersebut ramai dikunjungi penduduknya. Di bagian terdepan sederetan penjual lukisan serta benda kerajinan setempat dengan cepat menarik perhatian saya. Lukisan karya pelukis lokal, hiasan yang terbuat dari tempelan perangko hingga papan-papan reklame usang bisa kita jumpai. Masuk lebih ke dalam, penjual pakaian rajutan serta pakaian bekas sibuk menata dagangannya. Aroma hidangan yang dipanggang menyeruak menyelingi udara dingin siang itu. Penjual babi panggang rupanya tengah asyik mengiris-iris daging dan menjajakannya kepada orang yang lewat di depannya. Sesekali gelak tawa pengunjung yang bercengkrama dan bersenda gurau dengan pedagang terdengar. Suasana akrab jelas terasa. Saya memejamkan mata menikmati aura siang yang sama sekali tidak panas itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pusat perbelanjaan utama Kota Stratford

Selepas pasar, perjalanan memasuki daerah yang lebih padat dengan toko-toko serta kedai kopi diselingi oleh bangunan perkantoran serta rumah penduduk. Bangunan di Stratford didominasi oleh bangunan tua. Seringkali disebut sebagai bangunan vernacular dengan batang-batang kayu besar sebagai struktur utamanya yang menyangga atap-atap pelana. Dinding-dinding dicat warna putih kontras dengan warna coklat tua kehitaman kayu rangkanya. Usia bangunan-bangunan ini mungkin sudah ratusan tahun serta telah menjadi saksi pertumbuhan penduduk serta dinamika perekonomian masyarakatnya. Nyaris tidak terdapat bangunan baru dengan struktur modern sepanjang jalan. Toko serba ada Mark & Spencer serta kedai kopi modern Costa pun menempati banguan tua yang nampak semakin berkharisma dalam usianya.  Daya tarik utama kota, rumah tempat Shakespeare dilahirkan dibiarkan apa adanya dan di sebelahnya dibangun semacam museum serta area penjualan tiket bagi yang ingin masuk ke dalam rumah serta taman Shakespeare.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Taman-taman dengan patung yang terbuat dari logam di tepian Sungai Avon

Jalanan sebagian beraspal, tetapi jalan-jalan lama, pedestrian dengan perkerasan batu alam tetap terpelihara dengan baik. Mobil-mobil tidak diperkenankan melewati jalan lama semacam ini sehingga membuatnya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi pejalan kaki. Jumlah setapak yang banyak dan menjangkau setiap sudut kota mengundang penduduk untuk lebih memilih berjalan kaki. Orang tua hingga anak-anak nampak di setiap sudut jalan kota dengan wajah riang. Suasana yang mungkin sudah sangat sulit ditemui di kota-kota yang didominasi oleh kendaraan. Saya jadi membayangkan kalau di Ubud atau kota-kota kecil lainnya di Bali tersedia jalan-jalan setapak yang nyaman. Pastilah hidup akan lebih menyenangkan saat setiap orang bisa saling berpapasan dan saling menyapa, bergosip tentang berkurangnya hasil padi atau turis yang kian ramai. Jalan setapak tidak hanya berfungsi untuk menghubungkan dua titik tetapi juga bermanfaat sebagai ruang-ruang sosial tempat penduduk bertemu.

Ya seperti namanya, kota ini memang berada di tepian sungai Avon. Dari sini pula kota ini disebut sebagai Stratford-Upon-Avon. Seperti juga daerah-daerah kuno di Bali yang memperoleh namanya dari ciri fisik alamiahnya demikianlah kota ini dinamai dan mendapatkan identitasnya. Sungai Avon yang tenang mengalirkan airnya membelah kota tepat di tepian pusatnya. Tepian sungainya nya ditata menjadi taman-taman serta fasilitas umum dilengkapi dengan patung-patung yang indah terbuat dari logam berwarna hijau. Selera artistic penghuni kota ini nampaknya memang di atas rata-rata. Pasangan batu alam jembatan, taman taman yang melingkar-lingkar di tepian sungai, serta bangunan-bangunan lama berpadu dengan keindahan bentang alamnya. Bebek dan angsa meluncur tanpa suara di atas air sungai yang tenang. Perpaduan yang saling melengkapi antara lingkungan buatan manusia dan lingkungan alami, demikian pula penghuninya. Binatang liar dan manusia dapat berinteraksi dengan baik. Bebek-bebek atau angsa liar tidak pernah takut atau terganggu oleh manusia. Sebaliknya, manusia juga tidak merasa terancam oleh binatang tersebut.

Banyak hal-hal kecil namun unik disini. Pedagang snack dan jajanan, yang di Indonesia sering disebut PKL, menggunakan perahu sebagai tempatnya berjualan. Mereka berada di atas sungai dan bagi yang ingin membeli tinggal mendekati perahu-perahu dan sedikiti menunduk karena posisi perahu lebih rendah dibandingkan posisi kita berdiri untuk membeli produk penganan. Café-café pinggir jalan siang itu tidak begitu ramai karena cuaca yang tidak mendukung. Gerimis serta berawan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Perahu-perahu pedagang ‘kaki lima’ di tepian sungai Avon

Saya teringat salah satu artikel yang menyebutkan kota-kota sedang berlomba-lomba menarik investasi. Segenap daya upaya diarahkan untuk mendatangkan investasi sebanyak-banyaknya demi kesejahteraan penduduknya serta pembangunan kotanya. Dalam upaya yang serba cepat dan bersaing dengan kota tetangganya, gedung-gedung baru dibangun, jalan-jalan diperlebar, mall-mall besar didirikan, mengatasnamakan kemajuan. Stratford adalah antithesis dari kota semacam itu.

Di Stratford, penduduknya menikmati kehidupan yang tidak terburu-buru. Kehidupan berjalan dalam kecepatan yang lambat. Ibarat manusia yang berjalan kaki lebih banyak melihat pemandangan dibandingkan dengan yang menaiki mobil. Saat berjalan kaki, tidak hanya pemandangan, atmosferpun seolah bersekutu menciptakan kenyamanan hidup.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Swan Hotel

Bilbao Effect: Investasi, Arsitektur dan Infrastruktur Kota

Pernah dengar Bilbao effect? Istilah ini sangat familiar dalam bidang city marketing terutama dalam meningkatkan image kota serta mengundang turis dalam rangka meningkatkan ekonomi lokal penduduknya. Bilbao effect dipicu oleh dibangunnya Museum Gugenheim pada akhir tahun 1980an oleh Frank Gehry. Akan tetapi tulisan ini tidak akan membahas Museum Gugenheim karya Frank Gehry dari sisi arsitektur, yang menyebabkan terjadinya apa yang disebut sebagai Bilbao effect tadi,  tetapi bagaimana investasi bidang pariwisata memiliki keterkaitan dengan perbaikan infrastruktur yang pada akhirnya membawa perbaikan pada kehidupan warga kotanya.

section

Gambar rencana museum Gugenheim Bilbao oleh Frank Gehry. Sumber: http://www.archdaily.com

Sebelum Frank Gehry mendesain Gugenheim Museum di kota kecil di Spanyol, tidak banyak yang mengenal nama Basque City of Bilbao. Bahkan tidak banyak pula yang tahu lokasi persisnya atau bahkan sekedar menuliskan kata ‘Bilbao’ atau mengucapkannya dengan tepat. Kota Bilbao adalah sebuah kota yang tidak pernah terdengar dalam list kota-kota wisata Eropa. Jalan dan lingkungannya yang kumuh, polusi akibat industry baja pada sungai dan udara yang dipenuhi asap  memperburuk kualitas hidup warga dan juga citra kotanya. Keadaan semakin memburuk saat perusahaan baja terbesar di kota tersebut pindah ke Asia meninggalkan kota dalam keadaan nyaris bangkrut. Sebagai bekas kota industry yang mendekati bangkrut, pemerintah kota berusaha meyakinkan Yayasan Gugenheim untuk membangun salah satu museumnya di kota tersebut. Sebagai daya tarik, pemerintah kota berjanji akan menyiapkan infrastruktur modern: transportasi, air bersih, tata kelola sampah serta air hujan yang terintegrasi dengan baik. Semua ini tentu saja untuk menunjang keberadaan museum yang membutuhkan investasi sangat besar sehingga mampu menarik pengunjung yang akan meningkatkan pendapatan museum serta perekonomian warga. Pemerintah kota Bilbao bekerja keras untuk meyakinkan Yayasan Gugenheim dengan cara me-reset strategy pembangunan kotanya melalui penyiapan infrastruktur yang sophisticated. Jalan-jalan diperlebar dan jalur-jalur pedestrian disiapkan. Kualitas udara ditingkatkan dengan mengurangi jumlah mobil di dalam kota melaui penyediaan jalur pedestrian yang lebar serta transportasi publik memadai, demikian pula kualitas air sungai dijaga dari polusi yang selama ini lekat dengannya.

ennocturnaluna1

Sungai yang bersih menjadi latar depan sempurna bagi tampilan akhir museum. Sumber: http://www.gugenheim-bilbao.esp

Akhir tahun 1980-an, Gugenheim Museum Bilbao berdiri di tepi sungai yang dulunya penuh polusi. Sungai tersebut kini telah bersih dan berair jernih. Jalan-jalan kota dipenuhi pedestrian ways yang nyaman, udara bebas polusi serta tembok-tembok kota bersih dari graffity. Desain museum tidak bisa dikatakan cantik tetapi merupakan sebuah karya revolusioner. Bidang-bidang metal yang meliuk-liuk ditingkahi kaca di berbagai sudut serta system struktur yang telanjang membuat siapapun yang melihatnya untuk pertama kali akan terkesima.

Popularitas Museum Gugenheim Bilbao meledak, sangat fenomenal, menjadi ikon baru kota modern, pusat budaya yang menjadi tonggak baru kejayaan Spanyol. Pengembalian investasi yang ditanamkan pemerintah dan Yayasan Gugenheim, yang diperkirakan akan kembali dalam 20 tahun, dicapai hanya dalam 7 tahun. Gugenheim Bilbao menjadi tujuan wisata utama menghasilkan revenue yang menguntungkan kota dan juga yayasan. Serta merta kota yang semula mangalami krisis identitas, dikenal sebagai kawasan kumuh dengan ruang public yang minim serta kurang berkualitas bertransformasi menjadi pusat budaya baru Eropa bahkan dunia. Keberhasilan ini berimbas pada peningkatan perekonomian serta pendapatan kota.

Penduduk kota Bilbao sangat bangga akan identitas kotanya yang baru: pusat budaya modern, jalanan bersih dengan pedestrian ways lebar dilengkapi kafe dan coffee shop yang nyaman dengan ruang ruang terbuka tempat aktivitas sosial warganya. menjaga identitas baru ini, bahu membahu bersama pemerintah, masyarakat turut serta secara aktif menjaga kualitas kotanya. Bilbao selain menjadi magnet turis juga menjadi engine of growth, mesin pertumbuhan baru menghasilkan pendapatan, memicu bisnis-bisnis lain untuk berkembang pesat. Hal ini  mendorong penduduknya memiliki sikap positif tidak hanya kepada isu ekonomi tetapi juga masalah lingkungan dan juga pada kotanya secara keseluruhan. Keberhasilan yang lalu melahirkan istilah ‘Bilbao Effect’. Dari kota yang sama sekali tidak terdengar, kumuh, negatif, penuh graffity, dengan kehadiran investasi berupa  Museum Gugenheim, kini Bilbao menjadi kota dengan infrastruktur yang sophisticated. Jalanan yang dahulu macet oleh kendaraan mengantarkan baja dan besi, kini berganti menjadi pedestrian lebar dan jalur transportasi yang nyaman. sungai yang kumuh menjadi jauh lebih bersih serta menjadi bagian integral lansekap budaya kota. From zero to hero.

Banyak yang mencoba meng-copy strategy kota Bilbao namun tidak banyak yang berhasil menggapai kesuksesan serupa, atau sekedar mendekati, secara finansial maupun secara sosial. Bilbao adalah sebuah fenomena baru. Fenomena kesukesan kreativitas pemerintah yang bertemu dengan kebutuhan investor, Yayasan Gugenheim, serta didukung secara positif oleh penduduknya. Kerjasama mutualisme yang memberi manfaat bagi semua pihak.

Kelompok arsitek ternama yang disebut sebagai golongan starchitects mendapat imbasnya. Abu Dhabi misalnya mendekati Zaha Hadid, Jean Nouvel hingga Tadao Ando untuk membangun berbagai fasilitas budaya untuk memanjakan pengunjung dan semuanya diperkirakan akan mulai beroperasi tahun 2017.

Berbeda dengan Bilbao serta Abu Dhabi yang bersusah payah membangun identitas kotanya guna meyakinkan investor, Bali memiliki daya tarik tiada henti. Gelombang dengan daya pikat tinggi berasal dari jargon the last paradise yang didengungkan pada masa pemerintah kolonial bukannya memudar malah menunjukkan gejala yang menguat. Ribuan bangunan dibangun untuk tujuan memanjakan pengunjung dibangun tiada henti sejak masa pemerintahan Belanda hingga kini. Pariwisata menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Bali sejak pertengahan pertama abad ke 20.

Masih tingginya minat untuk berinvestasi di Bali ditunjukkan tidak pernah surutnya penanaman modal yang dilakukan oleh investor di Pulau yang dijuluki seribu pura ini. Klaim kepala BKPM Provinsi Bali yang dimuat di Harian Tribun Bali pertengahan bulan April 2015 mempertegas tren ini:

“Kalau tidak salah data yang saya lihat secara umum sampai triwulan pertama 2015 izin prinsip dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI jumlahnya itu mencapai Rp 13 triliun untuk Bali,” demikian kata IBM Parwata.

Dengan sedemikian besarnya investasi yang dipertaruhkan, tentu saja investor mengharapkan keuntungan yang tidak sedikit dari uang yang sudah ditanamkan. Tidak mengherankan jika kemudian investor berlomba-lomba membuat fasilitas yang semenarik mungkin, guna mengundang lebih banyak pengunjung yang datang sehingga semakin cepat pula modal yang dikeluarkannya kembali.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Bilbao, pemerintah relative tidak terlalu perlu bersusah payah membangun citra kota serta infrastruktur agar investor datang membawa dana yang tidak sedikit. Image Bali sudah dibangun selama bertahun-tahun dan bukan terjadi dalam waktu instan. Dimulai dengan strategy yang dikembangkan oleh perusahaan pariwisata Belanda, dilanjutkan dengan strategy pemasaran ala Bung Karno, Presiden pertama RI, dengan cara mengundang banyak kepala negara untuk datang ke Bali. Selama menjamu kepala negara sahabat, Bung Karno selalu mengajak mereka melihat berbagai sudut pulau Bali. Setelah masa presiden pertama, dilanjutkan dengan strategy pembangunan wisata massif yang dilakukan pada tahun 1970an.

Berbagai promosi ini bukanlah menjual pepesan kosong. Keunikan Bali sendiri, pulau kecil dengan pantai yang relative landai serta budaya yang unik: gabungan antara kepercayaan lokal dibalut pengaruh Hindu, Budha dan budaya China, membentuk ritual yang unik. Bukan infrastruktur sophisticated tetapi, perpadauan keindahan alam dan keunikan budaya ini menjadi senjata andalan dalam melakukan marketing guna menarik investor. Brosur wisata yang beredar luas menggambarkan keunikan tersebut. Di atas kertas licin berkilat, keindahan alam serta budaya tercetak indah: sawah berteras, pura di tepi danau yang tenang, pantai berpasir putih dan ombak, berpadu dengan gambar gemulai penari atau foto upacara pembakaran mayat (ngaben). Dengan infrastruktur seadanya investor tetap datang karena image yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun telah tertancap dalam di benak investor serta calon wisatawan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gang kumuh dan becek masih mudah dijumpai di berbagai sudut kota kita, kontras dengan fasilitas untuk wisatawan

Pariwisata membutuhkan infrastruktur yang baik, sehingga sangat masuk akal jika hal itu hanya berkembang di wilayah yang akan dilalui oleh jalur wisata saja dan ditujukan untuk memanjakan para wisatawan yang akan berkunjung. Dengan demikian dapat dipahami kenapa bandara harus diperluas, jalan tol di atas perairan harus dibangun dengan dana trilyunan rupiah. Sementara, di lain pihak, jalan di pedesaan, terminal-terminal angkutan umum serta infrastruktur yang melayani masyarakat umum terbengkalai. Focus pembangunan infrastruktur hanya berputar pada pelayanan wisatawan dan investor saja. Pembangunan bidang kepariwisataan tidak memiliki keterkaitan secara langsung dengan peningkatan kualitas infrastruktur serta kesejahteraan untuk masyarakat umum.

Jika anda adalah termasuk yang mengeluh tentang infrastruktur untuk masyarakat umum, maka saya yakin anda tidak sendiri. Dana trilyunan yang masuk ke Bali berfokus sepenuhnya untuk melayani serta memanjakan wisatawan menimbulkan ketimpangan. Jangan pula heran jika masih banyak keluarga miskin dan desa tertinggal di Pulau seribu pura ini.