Belajar Kearifan dari Sahaja Kesiman

Siang itu, awan mendung menggantung di atas kepala mencegah sinar matahari menerobos. Namun cuaca panas tetap tak terhindarkan. Tukang-tukang tradisional terlihat tekun membelah bata-bata kuno berukuran besar, merapikannya, untuk dipasang kembali sebagai dinding pura. Debu-debu yang dihasilkan oleh kegiatan re-konstruksi Pura Sentaka mengepul memenuhi udara. Saya berkunjung ke salah satu pusat peradaban pra-kolonial Denpasar di Kawasan Kesiman. Ditemani Bayu Pramana, akademisi-fotografer-pecinta situs kuno, kami ngobrol ringan seputar pura yang sedang digarap oleh puluhan tukang tersebut.

 

 

Pura Sentaka, menurut penuturan Bayu, dibangun oleh leluhurnya. Minimnya catatan membuatnya kesulitan mengingat kapan tepatnya pura tersebut dibangun. Konon saat buyutnya masih muda, pura tersebut sudah berdiri. Jika menilik informasi tersebut, kemungkinan pura sudah dibangun lebih dari 3 generasi atau lebih dari 100 tahun. Konstruksi pura menggunakan bata merah, kemungkinan bata Gerenceng yang sempat berjaya menjadi pemasok material bangunan ke seluruh pelosok Bali selatan. Ukuran bata, jika dibandingkan dengan bata yang kita kenal belakangan, cukup besar. Tetapi ukuran bata tidak hanya satu, ada beberapa ukuran yang berbeda-beda. ‘Bata yang paling lebar kemungkinan untuk hiasan yang menonjol, sementara yang lebih kecil untuk badan bangunan’, Bayu mengira-ngira. Pemugaran pura diupayakan dengan pendekatan konservasi. Akan tetapi pendekatan kekinian tetap dipakai. Gambar-gambar pelinggih dibuat dengan cara mengukur pelinggih lama lalu dipindahkan ke dalam computer. Bata-bata yang masih kuat dimanfaatkan kembali. Semua ukiran dan hiasan dibuka dan disusun ulang untuk dipasang kembali. Proses ini jauh lebih rumit daripada mengganti baru. Sebagai pewaris, keluarga Bayu yang menyungsung pura ini tidak mau berkompromi terhadap nilai yang tersimpan. Ada kekhawatiran bahwa nilai akan hilang jika diganti baru. Bukankah ada banyak cara selain cara yang rumit ini? ‘Kami meyakini inilah cara yang tepat’, ujarnya mantap. Saat ini riuh rendah terjadi pemugaran pura di berbagai wilayah. Pura yang secara fisik dianggap ‘tidak representatif’ dipugar. Bangunannya diganti dengan yang lebih baru, kayu-kayu tradisionalnya, cempaka atau nangka, ditukar dengan kayu baru, bangkirai, jati dkk. Bataran dan hiasannya diganti dengan yang lebih tahan lama dan ‘modern’. Hasilnya? Pura Nampak lebih megah, bangunannya lebih besar, ukirannya lebih rumit serta bahannya lebih tahan lama. Namun banyak yang menilai proses semacam ini menghilangkan value utama dari pura. Value yang dibangun dan dipupuk bergenerasi-generasi hilang lenyap dalam balutan bangunan megah.

DSC_1143
Ragam hias lama dibuka, disusun ulang dan akan dipasang kembali pada struktur baru

Hujan gerimis tipis turun membasahi dedaunan saat kami berpindah ke Mrajan Puri Kesiman yang dikelilingi kolam. Tetesan air hujan yang jatuh menciptakan lingkaran-lingkaran ritmis di permukaan air yang tenang. Seekor ikan tiba-tiba berkelebat di balik daun-daun teratai hijau. Saat tengah tekun mengagumi dan mengabadikan keindahan karya arsitektur mrajan, Penglingsir Puri (Raja) Kesiman, Turah Kusuma Wardana, tiba-tiba muncul dari balik gapura bata berukir indah. Beliau menyapa ramah dan menyilakan kami berteduh, berlindung dari gerimis siang itu. Memiliki pandangan serupa, Turah, demikian beliau biasa dipanggil, menyatakan hal yang sama dengan Bayu tentang bagaimana beliau merawat warisan berupa puri dan segenap isinya. ‘Saya hanya meneruskan apa yang sudah disuratkan oleh leluhur. Mereka memiliki pengetahuan maha luas yang nyaris mustahil saya lampaui’ ujarnya mantap. Kami melanjutkan berkeliling area mrajan serupa taman tersebut setelah hujan reda. Konon jaman dahulu Kerajaan Kesiman mengelola lahan persawahan yang sangat luas dan subur. Air sungai dikelola dengan baik dan didistribusikan melalui subak-subak di hilir. Sebelum mengalir ke sawah, sebagian air masuk ke halaman mrajan puri dan dijadikan kolam yang mengelilingi bangunan-bangunan suci. Pemimpin Kesiman bisa mengetahui keadaan air di hilir dengan cara melihat air yang ada di mrajan. Jika kolam di mrajan surut, maka bisa dipastikan sawah-sawah di hilir kekurangan air. Cara kontrol sederhana namun efektif. Selang interval beberapa bulan, di mrajan diadakan upacara memohon kesuburan dan kesejahteraan. Mendoakan air selalu tersedia dalam jumlah yang cukup agar kolam di mrajan dan juga di sawah tidak kekurangan. Kesederhanaan berfikir semacam ini mungkin sudah kehilangan tempatnya di jaman serba modern ini, terutama setelah sawah berganti. ‘Segala upacara yang sudah berlangsung ratusan tahun disini tetap kami selenggarakan seperti apa yang sudah berlangung. Saya tidak berani melebihkan apalagi mengurangi,’ ujar Turah setelah kami berkeliling. Bukan hanya upacaranya saja yang terjaga, tetapi juga arsitektur bangunan puri. Tidak Nampak aura kemewahan yang dicirikan oleh bangunan berkelir prada keemasan seperti sebagian besar puri di Bali kini. Banyak puri-puri yang menjaga keagungannya dengan cara membangun ulang dengan bentuk yang lebih megah, warna yang lebih mencolok dan ragam hias yang lebih grande. Tidak demikian dengan Puri Kesiman. Setidaknya itulah yang saya saksikan siang itu. Sepertinya ada upaya untuk tetap teguh menjaga tradisi sarat makna.

 

DSC_1173
Hujan gerimis turun di Mrajan Puri Kesiman
DSC_1168
Gerbang bata mengantarkan kami ke dalam Mrajan
DSC_1170
Meru bertumpang sebelas di Mrajan Puri Kesiman

Luputnya Kesiman dari perhatian, menyebabkan derap pembangunan fisik di Kawasan ini lebih banyak dilakukan oleh komunitas, bukan investor apalagi politisi yang membawa bansos. Investor lebih tertarik dengan kawasan pariwisata, sementara politisi mencari perhatian di kawasan-kawasan yang mendapat sorot media. Hal ini justru menjadikan Kesiman sebagai kawasan pusaka karena tidak banyak warisan budaya arsitekturnya yang dipugar atas nama pembangunan ekonomi atau atas nama jargon politis ‘perbaikan demi masa depan gemilang.’ Sahaja Kesiman yang terawat membuatnya, justru, tampil berkarakter. Khas Bebadungan, lugas, apa adanya tanpa topeng.

Rurung dalam Memori

46766837_2248670425144230_1205851332943020032_n
Rurung di Sanur di tahun 1970an. Photo: Made Wijaya

Kata ‘rurung’ sudah cukup lama menganggu fikiran saya, terutama semenjak jalanan tanah di kampung-kampung mulai diaspal sementara yang di kota dilapisi paving blok. Ada memori yang terhapus saat melihat jalanan yang dahulu berdebu saat kering dan sedikit becek saat hujan berubah mulus dan halus. Bukan, ini bukan soal kualitasnya, tetapi soal ingatan masa kecil.

Saat berusia SD, rurung menjadi halaman bermain anak-anak kampung. Kami terbiasa berkumpul setiap sore, saat terik matahari sudah jauh berkurang, di depan rumah masing-masing saling menunggu. Begitu sebagian besar anak berkumpul, maka berbagai permainan tradisional hingga olah raga ringan bisa dilakukan. Mulai permainan mecepetan, main dipyak (dengkleng;engklek), hingga kasti bahkan sepak bola bisa dimainkan. Suara sorak sorai akan mengundang anak-anak lain untuk datang. Permainan-permainan tersebut tak ubahnya olah raga yang membuat tubuh segar. Selain olah raga, permainan tradisional juga dipercaya mengasah kreativitas serta kepekaan sosial anak-anak terhadap sesama, meningkatkan sportivitas dan kejujuran.

446508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Gambar oleh I Mundik memperlihatkan berbagai aktivitas yang berlangsung di rurung.

Tidak hanya anak-anak, ruang terbuka di depan rumah juga disesaki orang tua kami bahkan kakek nenek. Tidak jarang, sebagian orang dewasa masih melanjutkan pekerjaannya, meraut atau memahat patung di rurung. Para petani yang sudah selesai bekerja di sawah memanfaatkan waktu istirahat sorenya dengan duduk-duduk sembari membawa ayam jago membicarakan hal-ihwal sawahdan segala persoalannya. Generasi yang lebih tua lagi memanfaatkan rurung sebagai ruang interaksi mengobrol sembari menunggu matahari tenggelam. Di ujung rurung jamak dijumpai penggak, semacam warung kecil tanpa atap. Di penggak bisa dibeli jajanan tradisional hingga bubur pengisi perut di sore hari.

46508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Penggak. Gambar: Miguel Covarrubias

Banyak kisah dan cerita yang terurai, tak jarang masalah-masalah di banjar atau desa bisa diselesaikan, dalam interaksi di rurung. Rurung ibarat ruang keluarga semua warga, tempat berinteraksi dan bersosialisasi, tak ada sekat, semua setara.

Kian sore, jumlah anak yang bermain biasanya kian ramai hingga tiba saatnya matahari tenggelam. Sesaat sebelum matahari tenggelam, mendekati jam 6, arena permainan berpindah ke sungai. Badan yang penuh keringat dan berdebu dibilas di aliran sungai yang mengalir membelah kampung. Permainan dilanjutkan dengan berloncatan dari tepian sungai.

DSC_8087
Berlangsung di Rurung, Perang Pandan di Tenganan Pegeringsingan

Di tempat lain, misalnya di daerah Karangasem, rurung juga memiliki fungsi ritual. Di Desa Tenganan Pegeringsingan nyaris sebagian besar, jika tidak semua, aktivitas ritual berlangsung di rurung. Aktivitas ini termasuk ritual perang pandan yang tersohor itu. Di wilayah lain, rurung menjadi arena untuk megibung masal, sebuah ritual makan bersama dalam suatu rangkaian upacara di desa.

Demikianlah, rurung memiliki berbagai fungsi, mulai dari fungsi sosial, budaya, ekonomi, ritual hingga fungsi pendukung kreativitas anak-anak. Banyaknya memori kolektif yang terjalin dari interaksi yang terjadi di rurung menebalkan rasa persaudaraan, meningkatkan kontrol sosial serta menunjang rasa memiliki. Modal sosial tersebut menjadi dasar kekuatan masyarakat desa.

 

456508350_344104979470306_8098053496785338368_n
Angkul-angkul pembentuk rurung. Photo: Made Wijaya

Untuk mendukung fungsinya, sebuah rurung memiliki berbagai fasilitas meskipun bukanlah sesuatu yang mutakhir. Sekurang-kurangnya di setiap pintu masuk pekarangan terdapat ‘lenéng’. Ini adalah ‘sofa’ informal, tempat duduk yang nyaman bagi siapa saja. Selain ‘lenéng’ batu-batu besar juga bisa menjadi tempat duduk yang kasual.

46771481_296222640996331_9147884688092692480_n
Leneng dan batu sebagai tempat duduk kasual di rurung. Photo: Made Wijaya

Meja dan bangku kecil dibawa oleh pedagang ‘penggak’. Bukan meja atau kursi yang besar tetapi cukuplah untuk meletakkan dagangan sederhana dan tempat duduk sejenak sembari menikmati jajanan.

Di tepian rurung terdapat jelinjingan dan telajakan. Jelinjingan adalah semacam got tetapi bentuknya sedikit tidak teratur. Sementara itu telajakan berfungsi penghijauan, tempat ayam-ayam jago diletakkan di dalam kurungannya. Semak-semak berbunga, pucuk rejuna, soga, mawar, kembang kertas juga mengisi telajakan memenuhi kebutuhan bunga untuk membuat canang. Demikian juga pohon jepun, cempaka, atau pohon buah-buahan lokal.

46668708_353604375404182_1688587996107898880_n
Di telajakan, diskusi berlangsung santai. Photo Made Wijaya

 

Secara arsitektur, ruang rurung dibentuk oleh tembok menerus di kiri dan kanannya. Tembok ini diinterupsi oleh angkul-angkul pintu masuk ke pekarangan rumah penduduk. Dari arah rurung, deretan angkul-angkul ini merupakan sajian arsitektural yang menarik. Meskipun bentuknya mirip, penyelesaian konstruksi dan bahan yang dipergunakan bisa berbeda-beda antara angkul-angkul yang satu dengan yang lain. Angkul-angkul menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat. Anjing pun merasa aman dan nyaman duduk di pintu masuk pekarangan ini.

Fungsi rurung kini telah berubah. Semenjak beberapa tahun belakangan ini sebagian besar rurung telah mengalami pembaharuan secara fisik. Permukaannya yang dahulu becek di kala hujan serta berdebu di kala panas berganti aspal mulus. Tepiannya diturap rapi dan dilengkapi got permanen menggantikan jelinjingan. Tuntutan akan jalan mobil yang lebih lebar seringkali mengorbankan telajakan sehingga ruang hijau menerus yang dahulu nyaman untuk tempat menjemur ayam aduan tidak ada lagi.

Dengan bergantinya permukaan rurung maka beralih pula fungsinya. Kini fungsi utama rurung adalah sebagai jalur transportasi. Raungan kendaraan roda dua dan roda empat menggantikan sorak-sorai anak-anak bermain kasti. Suara klakson dan raut muka tanpa senyum di balik kemudi menggantikan suara kelakar dan wajah penuh tawa yang dulu bisa dijumpai saban hari. Tidak ada lagi anak-anak bermain dan orang-orang kampung bercengkerama sehingga hilang pula peluang ekonomi. Akibatnya, penggak-penggak kehilangan pembeli karena aktivitas di rurung sudah berganti. Dari penggak, tempat nongkrong berpindah ke coffee shop. Kini, ada kerinduan pada aktivitas rurung dengan berbagai aktivitasnya, bukan hanya sebagai jalur transportasi.

46675030_369854530436813_4582681326888419328_n
Warung, tempat istirahat nyaman di sore hari sambil membicarakan gosip lokal. Photo: Made Wijaya

Tentu saja jalur transportasi sangat dibutuhkan di jaman yang serba cepat ini. Aktivitas warga tidak lagi tunggal, hanya bertani, tetapi sudah beragam. Tempat kerja pun tidak lagi di sawah tetapi di kantor-kantor, hotel-hotel dan restaurant, serta tempat-tempat lain. Semua kini butuh kendaraan bermotor entah mobil atau sepeda motor. Akan tetapi, perkembangan ini mestinya tidak menghilangkan kualitas sosial rurung. Saya percaya, jika ada kemauan, kita masih bisa mendapatkan kualitas yang dahulu dimiliki rurung dengan tetap mendapatkan kualitas transportasi yang memadai.

(bersambung ke bagian 2)

 

DARI GALACTIC POLITY KE URBAN CONURBATION: MORFOLOGI KOTA DENPASAR DARI MASA KE MASA

 

morphing denpasar

Memahami Kota sebagai Entitas yang Terus Berubah

Kota adalah produk pergulatan penghuninya dan sebaliknya bentuk kota juga mempengaruhi pergulatan penduduk kota (Harvey, 1997). Dengan demikian, bentuk dan struktur sebuah kota selalu berkaitan dengan aktivitas penduduknya. Kota terus berubah dan bertumbuh sepanjang penduduknya masih meng-huni-nya (Larkham dan Conzen, 2014). Tidak mudah membayangkan perkembangan tata ruang wilayah Denpasar sejak masa sebelum kolonial. Hal ini terjadi karena sumber-sumber tulisan yang membahas wilayah ini cukup terbatas serta belum berkembangnya teknologi peta maupun fotografi di masa lalu terutama masa pra-kolonial. Tetapi penataan ruang sebuah wilayah bisa ditelusuri dari narasi, artefak yang tersisa, serta transformasi sistem pemerintahannya. Hal ini bisa dilakukan karena tata ruang dan tata kelola perkotaan selalu berkelindan tak terpisahkan. Aldo Rossi (1966) menyebutkan bahwa perkembangan sebuah kota bisa ditelusuri dari artefaknya dan perkembangan artefak kota bisa ditelusuri dari narasi-narasi kota bersangkutan.

Guna menelusuri perkembangan fisik serta memahami proses transformasi Kota Denpasar, saya menelusuri berbagai dokumen dan juga peta-peta lama. Semua peta tersebut digambar ulang dengan skala yang sama lalu setiap perubahan dicatat serta ditandai. Selanjutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik tersebut dianalisis melalui telaah dokumen serta observasi lapangan dan wawancara. Hasilnya, perubahan fisik Kota Denpasar dari tahun ke tahun bisa ditelusuri dan dipahami.

Penelitian-penelitian tentang kota-kota di Asia Tenggara sudah banyak dilakukan. Dari banyak penelitian, disimpulkan bahwa bentuk pemerintahan sebelum masa kolonial sangat berbeda dengan masa pasca-kolonial. Di masa sebelum masuknya kolonialisme, kerajaan-kerajaan dipimpin oleh raja dengan wilayah politis yang meliputi desa-desa tradisional. Dengan demikian batas politis setiap kerajaan sulit didemarkasi. Meskipun raja secara de jure adalah pemimpin tertinggi, tetapi pengaruhnya terhadap situasi politik dan ekonomi di tingkat desa tidak begitu kuat. Desa-esa tetap dikelola secara mandiri oleh pemerintahan desa yang merdeka. Sebagai simbol pemersatu, kehadiran kerajaan menjadi penting dalam menjaga stabilitas politik dan hubungan antar desa, mencegah konflik horizontal serta mendukung fungsi kerajaan sebagai simbol dunia dimana upacara-upacara besar harus dilaksanakan (Geertz, 1980). Guna mendukung upacara-upacara, kerajaan dan juga penguasa perlu membentuk komunitas pendukung. Hubungan antara pusat dan desa relative longgar. Pola pemerintahan seperti ini sering disebut sebagai ‘unstable circle of kings in a territory without fixed borders’’ (Wolters,’ 1982).

Wilayah dengan Banyak Pusat: Kota Denpasar Pra-kolonial

Di kota Denpasar pada masa pra-kolonial, raja dan kerajaan kuat muncul silih berganti. Kemunculan kerajaan baru dan pemimpin politik baru tidak lantas memutus pemimpin politik sebelumnya. Karena terdapat beberapa pemimpin dengan pendukungnya masing-masing, wilayah yang kita kenal sebagai pusat kota Denpasar kini terdiri atas beberapa pusat. Kekuatan politis pusat-pusat kerajaan ini berbeda-beda dan juga dinamis, bisa menguat dan bisa juga melemah. Secara fisik, kekuatan-kekuatan politis ini, bersama-sama dengan desa-desa traditional yang merdeka, membentuk wilayah dengan, tidak hanya satu, tetapi banyak pusat. Hal ini, wilayah dengan banyak pusat, masih bisa disaksikan hingga awal kedatangan pemerintah colonial Belanda dan juga hingga awal masa kemerdekaan sebagaimana ditunjukkan pada peta pertama. Desa-desa traditional, sekalipun berafiliasi, desa-desa traditional tidak terhubung secara langsung ataupun menyatu dengan pusat pemerintahan kerajaan.

Revised01.pdf

Memudarnya Pusat-pusat dan Pola Penataan Tradisional: Kota Denpasar Masa Kolonial dan Awal Kemerdekaan

Di masa kolonial, pemerintah menerapkan tata kelola baru untuk wilayah jajahannya termasuk Bali. Hirarki baru dikenalkan menggantikan kepemimpinan lama sehingga raja dan kerajaan kehilangan peran simbolisnya sebagai pemersatu wilayah. Hal ini menyebabkan tata pemerintahan tradisional turut terdampak yang berimbas pula pada tata ruang wilayah.

Puri dan perempatan utama di depannya yang menjadi pusat penataan ruang di masa pra-kolonial tergantikan oleh fasilitas baru yang dikembangkan sesuai dengan strategi pemerintah baru. Perkantoran, permukiman pegawai pemerintah dan fasilitas ekonomi baru menempati wilayah pusat kota. Dampaknya, pola orientasi penataan ruang yang awalnya terpusat di titik tengah perempatan utama turut berubah menjadi tersebar. Namun demikian, pola-pola desa yang dahulu berafiliasi dengan pusat kerajaan hanya mengalami sedikit perubahan, jika tidak tetap pada pola tradisionalnya. Hal ini terjadi karena aktivitas perekonomian modern hanya terpusat di pusat kota yang sebelumnya adalah pusat-pusat kerajaan. Selain itu, wilayah yang berkembang adalah di kawasan pelabuhan. Pelabuhan dan pusat kota menjadi titik pusat distribusi barang dan jasa dimana komoditas Bali diangkut keluar serta komoditas yang tidak dihasilkan di Bali dimasukkan. Dengan demikian, dua fasilitas ini menjadi pusat penyebaran produk luar yang dipandang modern serta secara sadar menjadi pusat kehidupan modern memudarkan peran pusat ‘catus patha’.

Kegiatan perekonomian tidak melulu didominasi oleh peredaran komoditas berupa barang dagangan. Sejak seperempat awal abad ke-20, pariwisata mulai dikenalkan sebagai mesin ekonomi baru di Bali oleh pemerintah kolonial. Perkembangan bisnis ini ternyata cukup pesat. Sanur, sebuah desa di bagian timur Denpasar berkembang berkat kegiatan ekonomi baru ini membawa pula konsekuensi urbanisasi. Selain wilayah pusat kota, yang merupakan sumber distribusi barang dan jasa, Sanur juga tumbuh cepat. Akibatnya, tidak hanya di pusat kota, kawasan tepi pantai yang secara tradisi dipandang kurang bernilai ekonomi, bertransformasi menjadi kawasan yang menjanjikan keuntungan tinggi. Alih fungsi lahan menjadi keniscayaan di kawasan yang memiliki daya tarik wisata.

Selain kegiatan ekonomi, perubahan tata pemerintahan juga berpengaruh terhadap perubahan tata ruang kota. Sistem pemerintahan baru yang dikenalkan sejak masa colonial membutuhkan fasilitas baru. Di pusat Kerajaan Denpasar lama dibangun perkantoran pemerintah. Selanjutnya seiring berkembangnya fungsi pemerintahan, di kawasan Renon Juga dibangun kompleks perkantoran baru. Kompleks perkantoran ini membutuhkan penyesuaian terhadap sekaligus memodifikasi tata ruang tradisional. Akibatnya muncul pusat-pusat kegiatan baru.

Kegiatan ekonomi yang menghubungkan pelabuhan dan pusat kota, perkembangan sumber ekonomi baru dalam bentuk tempat wisata serta tumbuhnya aktivitas perkantoran telah mempengaruhi bentuk kota. Semakin pesatnya perkembangan aktivitas ketiganya melemahkan penerapan pola tata ruang tradisional. Pelan namun pasti, wajah Kota Denpasar bertransformasi. Transformasi terasa semakin pesat dalam 15 tahun belakangan ini. Pemicunya, tentu saja pesatnya kegiatan yang didorong oleh factor ekonomi non-pertanian.

Tumbuhnya Pola Pita: Denpasar Masa Modern

Di masa modern, kegiatan ekonomi berkembang akibat meningkatnya performa jaringan jalan yang menghubungkan pasar dengan sumber barang dan jasa dari luar pulau Bali. Selain itu, konsentrasi kegiatan ekonomi dan perkantoran yang terletak di lokasi yang berbeda-beda juga menuntut dibuatnya jaringan jalan baru yang mengubungkan ketiganya. Akibatnya, kegiatan ekonomi yang berbasis tempat, place-based economic activities, sepeti pertanian semakin ditinggalkan. Penduduk kota kini beralih ke kegiatan ekonomi yang dipandang lebih menguntungkan.

Pembangunan jaringan jalan baru dan berkembangnya distribusi barang dan jasa non-tradisional membawa konsekuensi baru yaitu tumbuhnya aktivitas di spenajng jalur jalan utama. Semenjak akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, ruko-ruko bermunculan. Jejak awalnya bisa ditelusuri dari perkembangan di sekitar Jalan Gajah Mada di masa colonial, tetapi fasilitas ini berkembang pesat sejak dibukanya jalur-jalur jalan baru seperti by-pass I Gusti Ngurah Rai dan Jalan Gatot Subroto, dua jalur baru yang menghubungkan BAndara dan pusat kota serta pusat kota ke wilayah di luar Kota Denpasar. Tumbuhnya aktivits ekonomi di sepanjang jalur utama, tanpa pusat aktivitas yang jelas, sering disebut sebagai ribbon development pattern.

gajah mada4

Urban Conurbation: Denpasar Kini

Perkembangan pembangunan dengan pola pita, ribbon development pattern, tidak hanya merambah jalur-jalur utama yang menghubungkan fasilitas dan pusat ekonomi modern tetapi kini merambah pula pada jalur-jalur yang menguhungkan pusat kota dengan desa-desa tradisional dan jalur yang menghubungkan desa tradisional satu dengan yang lain. Hari ini kita akan mengalami kesulitan untuk mengathui batas antara desa Tonja dengan Peguyangan misalnya, atau antara Desa Sanur dengan Renon. Semua wilayah terhubung jalan yang kedua sisinya dipenuhi oleh deretan ruko.

Jika kita melihat peta pertama pada gambar di atas, di kiri atas, dengan peta terakhir, di kanan bawah, akan terlihat jelas perbedaan keduanya. Pada peta pertama, satuan unit-unit desa tradisional masih terlihat jelas sedangkan pada peta terakhir semuanya telah menyatu.

What Next? Denpasar Masa Depan

Mungkinkah kita meramalkan masa depan Denpasar? Tentu saja sangat mungkin. Menilik kalimat pembuka dari tulisan ini, bahwa kota dibentuk dan terbentuk oleh aktivitas penduduknya, maka bentuk masa depan Kota Denpasar bisa diramalkan dari trend aktivitas mana yang meningkat. Jika yang berkembang adalah aktivitas perekonomian baru, maka bisa dipastikan pola pembangunan pita akan terus berlangsung. Sebaliknya jika aktivitas pertanian yang berkembang, yang mana rasanya mustahil, maka penyatuan desa-desa traditional akibat berkembangnya pola pita bisa dicegah. Bisakah perkembangan kota diatur? Tentu saja bisa. Pengaturan bentuk kota bisa dilakukan untuk menjamin bahwa setiap penduduk memiliki kesempatan yang seimbang dan setiap aktivitas seseorang atau sekelompok orang tidak menganggu atau mengurangi hak orang atau kelompok lain yang juga mendiami kota tersebut.

 

Social-media, Aktualisasi Diri dan Tata Ruang Kita

1530038wisata-kelimutu780x390
Wisata alam. Sumber travel.kompas

Di Indonesia liburan panjang telah usai dan hari-hari kerja sudah menanti di depan mata. Tentu ada banyak cerita dan pengalaman liburan yang bisa dikenang dan diceritakan bagi rekan sekantor atau teman sekolah. Cerita ini bisa menstimulasi orang yang diceritakan untuk tertarik berkunjung ke tempat yang dikisahkan. Wisata memang salah satunya bertujuan untuk memberi pengalaman baru yang berbeda dibandingkan dengan pengalaman yang kita lewati dalam keseharian. Tujuan berwisata sendiri adalah untuk lepas dari keseharian yang seringkali membuat jenuh. Artinya wisata adalah untuk kebutuhan diri sendiri. Namun ada satu lagi tujuan wisata yang nampaknya berkembang belakangan ini yaitu sebagai sarana aktualisasi diri. Bukan lagi untuk kepentingan diri sendiri secara personal tetapi untuk menunjukkan siapa diri kita di tengah masyarakat. Tentang membentuk dan menciptakan identitas, tentang kualitas yang membuat kita terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan anggota masyarakat lain atau teman-teman.

Karena ingin terlihat ‘berbeda’ atau ‘setara’, maka ada dua trend menarik. Sebagai sarana aktualisasi diri, agar menjadi ‘berbeda’ maka tempat-tempat yang unik yang belum pernah dikunjungi atau diliat oleh teman-teman atau masyarakat di sekitar kita menjadi tujuan. Tempat-tempat ini bisa jadi berupa pegunungan, danau atau laut dengan pasir putihnya atau bisa juga berupa kota kecil dengan suasana unik, bangunan megah, jembatan atau taman wisata air. Atau bisa juga restaurant yang menjual makanan khusus, villa atau kolam renang , dengan desain unik, terletak di kawasan yang dianggap keren. Pendek kata, bisa berupa wilayah alami atau obyek buatan manusia. Dengan dunia internet yang mewabah, tidaklah sulit untuk mencari tempat-tempat tadi. Berikutnya, saat ingin terlihat ‘setara’ menjadi bagian dari golongan tertentu, maka kita cenderung mencari tempat-tempat yang sudah pernah dikunjungi oleh teman-teman kita sebelumnya. Bisa jadi kita mengetahui seorang kawan berkunjung ke Paris atau melihatnya di tepian tebing di Nusa Penida lalu kita ingin berkunjung kesana. Atau ada kawan yang berkunjung dan berpose di depan patung singa di Singapore dan membuat kita ingin mengulangi pengalaman si teman tadi. Kecenderungan yang kedua ini biasanya dipicu oleh  keinginan agar dilihat ‘setara’ sehingga tempat yang pernah dikunjungi oleh orang ‘top’ menjadi primadona. Kita ingin mengunjungi tempat yang pernah dijajaki oleh entah itu artis, politisi atau teman kita yang memiliki status social lebih tinggi, misalnya.

Lalu bagaimana menjadi ‘berbeda’ atau menjadi ‘setara’ ini bisa dijadikan alat aktualisasi diri? Disinilah peranan social-media menjadi penting. Sesaat kita mengunjungi tempat unik, entah karena ‘perbedaan’ atau ‘persamaan’ maka segera pula dalam beberapa saat fotonya akan terpampang di laman social-media kita. Kadang berlomba-lomba untuk lebih dulu memposting agar tidak didahului oleh rekan lain. Karena jika didahului, maka berkurang pula makna ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ yang ingin dicapai. Facebook nampaknya paham betul dengan perilaku semacam ini. Fitur ‘live’ kini kian populer dipergunakan. Dengan fitur ini pengalaman yang diperoleh bisa di-post secara real time. Dengan postingan real time, tujuan agar terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan yang lain bisa segara ditunjukkan. Unsur kecepatan menjadi kunci disini. Semakin cepat pengalaman baru tersebut di-posting, maka semakin cepat pula aktualisasi diri diperoleh. Dalam upaya menjadi ‘berbeda’ dan ‘setara’ ini, kita dihujani oleh berbagai macam image tentang tempat-tempat unik dan tempat-tempat baru, ruang-ruang dimana aktualisasi diri dibentuk. Lalu apa implikasinya bagi perencanaan dan penataan ruang?

hipwee-IMG_20161227_114638_217
Pelataran foto di atas jurang. Sumber hipwee.com

Tempat-tempat alami tentu saja sudah tersedia untuk dikunjungi. Tebing-tebing, danau, jurang yang hijau dan sebagainya sudah ada dan tinggal di’temu’kan dan dikunjungi. Tempat-tempat buatan harus diciptakan. Lalu kita akan jamak menjumpai di social-media teman-teman atau kerabat berpose di pelataran kayu di tepi jurang, berpose di ayunan di tengah laut, atau di restaurant dengan nuansa tertentu. Perancang dan desainer dituntut untuk terus mencari atau menciptakan ide-ide baru. Ide-ide untuk membuat tempat yang bisa dijadikan sebagai ajang ‘aktualisasi diri’ yang akan membuat orang merasa ‘berbeda’ atau ‘setara’ dengan yang lain. Jika dahulu tempat wisata terpusat pada satu atau dua titik saja, kini tempat-tempat wisata bisa kita jumpai di berbagai titik dan wilayah. Bahkan wilayah yang jauh di pelosok-pelosok karena keinginan untuk terlihat ‘berbeda’. Karena wisata tidak terlepas dari faktor ekonomi, pergerakan ekonomi pun mejadi lebih tersebar dalam skala luas. Skala dan kecepatan perubahan menjadi sangat masif. Akan tetapi hal ini berimplikasi pada penataan ruang.

Rencana penataan ruang adalah sebuah rencana jangka panjang, sementara kecepatan pembangunan di lapangan saat ini sangat tinggi berorientasi keuntungan jangka pendek. Terjadi ketimpangan disini. Para investor dan perancang dipaksa untuk terus bekerja keras memikirkan dan melahirkan konsep-konsep unik untuk segera balik modal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ruang-ruang terpencil dieksplorasi sebagai wadah mencipta tempat wisata baru. Arus transportasi dan pergerakan kendaraan kini semakin sulit diprediksi. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pakar transportasi. Laju alih fungsi lahan akan semakin kencang karena tempat-tempat unik dengan segera akan melahirkan pusat ekonomi baru yang membutuhkan lahan. Pemikiran konsep unik ini ujung-ujungnya akan berakhir di titik yang sama seragam. Kita melihat dimana-mana ada pelataran kayu di tepi jurang, ayunan di atas danau, restaurant yang dahulu terasa unik kini di-copy dimana-mana. Restaurant ikan bakar khas Jimbaran bisa dijumpai di tengah sawah di Ubud. Orang  dengan cepat akan bosan dengan tempat yang sudah berkali-kali di post di social media. Tempat-tempat yang awalnya ‘unik’ menjadi biasa-biasa saja. Sebentar lagi pelataran-pelataran kayu di atas tebing akan kehabisan daya tariknya dan digantikan oleh trend baru. Ayunan di tengah laut juga tidak lama lagi akan kehilangan daya pikat. Lalu akan ada lagi trend-trend baru yang melahirkan mobilitas penduduk baru, alih fungsi baru dengan kecepatan dan skala yang semakin tinggi dan luas. Pencarian akan ‘kebaruan’ dan ‘keunikan’ akan kembali berakhir pada kesamaan karena duplikasi akan kembali terjadi. Pada akhirnya akan melahirkan persoalan tata ruang baru.

Tidak mudah mengantisipasi trend semacam ini. Trend dimana segala sesuatu diukur dari kemampuannya untuk menyajikan hal unik sebagai ajang aktualisasi diri. Jika aktualisasi diri dengan konsep menemukan ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ memang menjadi motivasi, maka ada baiknya kita berhenti sejenak, atau setidaknya melambatkan laju.

hipwee-Kebun-Teh-Nglinggo-640x426
Ayunan iconic berwarna mencolok. Sumber hipwee.com

Jauh sebelum segala sesuatunya terlihat sama, manusia sesungguhnya hidup di tempat-tempat yang berbeda-beda. Pengaruh geografis, pengetahuan serta material lokal, keunggulan spesifik suatu lokasi di masa lampau menghasilkan tempat-tempat yang unik. Tidak ada satu desa pun di Bali yang memiliki kesamaan attribut dengan desa lain, misalnya. Atau tidak ada dua pura yang dibangun sama persis. Bahkan rumah-rumah tradisional yang konon dibuat dengan tatanan yang sama, Hasta Kosala-kosali, pun selalu memiliki sisi keunikannya sendiri. Jika kita mengurangi sedikit kecepatan maka keunikan justru dapat digali dari pengetahuan setempat. Bukan dengan cara meng-copy dari tempat lain tetapi melahirkan konsep baru dari pengetahuan setempat. Memberi makna dan nilai baru pada ilmu yang tumbuh dan berkembang di suatu wilayah sebelum adanya pengaruh luar. Authenticity adalah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan hal ini. Tentu saja upaya semacam ini jangan diartikan bahwa kita menolak kemajuan, menolak pengetahuan luar atau hanya sebagai upaya nostalgia. Upaya ini adalah untuk mengembalikan pengetahuan unik dan menyandingkannya dengan pengetahuan baru, ide-ide dari luar, sekaligus mem-perbaharu-inya secara konstan. Dari penyandingan ini akan bisa digali ‘keunikan’ serta saya yakin akan kita temukan ‘kesetaraan’  jika proses ini dilakukan secara konstan. Lembaga pendidikan arsitektur dan desain semestinya berada di garda terdepan dalam hal ini. Di lain pihak, rencana tata ruang kita mestinya bisa mengantisipasi dan membaca fenomena soal kecepatan perubahan ini, memprediksi peran soal social-media dan penyebaran arus informasi yang kini berlangsung real time.

St. Just

Udara malam menusuk tulang diperparah hembusan angin yang menyertai gerimis pertengahan Oktober. Sambil berteduh di emperan, saya mengibaskan jaket hitam yang membungkus badan guna melepaskan titik-titik air yang telah menimpanya seharian ini.

Pusat permukiman St. Just di kawasan Cornwall ini tidak bisa dibilang besar, malah relatif kecil menurut saya.  Di jantung permukiman, di mana tiga ruas jalan bertemu, saya hanya menjumpai satu toko serba ada kecil, pub yang ramai oleh pengunjung lokal di akhir pekan itu, serta sebuah kedai fish and chips tepat bersebelahan dengan pub tadi. Didorong rasa lapar, segera saja saya masuk dan naik ke lantai atas yang merupakan tempat makan kedai yang nampak hangat dari luar. Butir-butir gerimis masih berjatuhan dari gelapnya langit malam membasahi seluruh kota. Dari jendela yang dipenuhi bulir gerimis, terlihat jalan-jalan yang basah memantulkan pendar cahaya lampu jalan, warnanya kuning pucat. Satu dua kendaraan lewat. Lampunya meninggalkan jejak cahaya memanjang sepanjang jalan. Selebihnya sepi. Sesaat sepasang manula berjalan tertatih dibantu tongkat melintas bergandengan tangan. Badannya yang mulai membungkuk ditimpa cahaya lampu jalan menciptakan bayangan memanjang di balik punggung, lalu menghilang di persimpangan jalan.

DSC_7902.JPG

Seperti juga kotanya, kedai ini juga tidak begitu ramai malam itu. Selain pasangan yang bercakap-cakap lirih di sudut ruangan, dua meja diisi sekelompok orang dari berbagai umur, nampaknya keluarga yang menikmati akhir pekan. Sedikit menggigil mengusir sisa-sisa dingin, saya memegang poci keramik berisi teh hangat dan menuangkan isinya yang merah pekat ke dalam cangkir. Tidak sekedar memegang gagang, saya menangkupkan kedua tangan di permukaan sisi cangkir berharap hangatnya menjalar ke seluruh tubuh. Sambil mendekatkan cangkir ke wajah, saya menghembuskan udara dari mulut ke permukaan cairan pekat kemerahan dengan asap mengepul-ngepul. Uapnya yang melayang-layang menempel di kacamata membuat pandangan sejenak mengabur.  Suara garpu dan pisau yang beradu dengan piring memecah sejenak kesunyian dengan bebunyian khas kedai makan. Sesekali kembali terdengar percakapan lirih dari sepasang tamu di meja seberang. Waktu serasa berjalan lebih lambat.

***

Terbangun di pagi hari yang menunjukkan ciri-ciri hari bakalan cerah, awan berarak, pendar semburat jingga di horizon serta langit yang berwarna biru muda. Di kejauhan, cottage-cottage nampak kecil dibandingkan keluasan garis bumi tanpa batas yang melatarinya. Barisan pepohonan dan hutan nampak kehitaman sementara deretan dinding-dinding batu rendah membatasi petak-petak peternakan membuat lansekap nampak terkomposisi mengikuti liukan kontur tanah. Suara lenguh lembu, ringkik kuda serta cericit burung memenuhi udara. Tidak membuat bising, tapi seoalh undangan untuk seturut bergabung.

DSC_7914.JPG

Tanpa basa-basi saya menyambar kamera, memakai sepatu kets dan bergegas menuju pintu keluar. Sapaan ‘Good Morning’ dari Ruth, si pemilik cottage tempat menginap, saya balas ala kadarnya. Derit pintu kayu dengan engsel besi karatan mengiringi langkah kaki menuju peternakan tepat di belakang cottage.

Udara masih membeku membelai kulit. Tetapi paru-paru bersorak girang merayakan kesegarannya yang unik dengan aroma humus dan padang ilalang basah sisa hujan semalam. Saya harus hati-hati melangkah karena tebaran kotoran lembu sebesar baskom ada di mana mana. Di bawah telapak kaki, tanah serasa empuk oleh tebalnya humus dan rerumputan hijau.

Beruntunglah orang-orang yang terlahir dan dibesarkan disini, di desa kecil berudara sejuk jauh dari hiruk-pikuk perkotaan serba cepat.

DSC_7959.JPG

Kota Kita (Mungkin) Akan Kehilangan Sawah Lebih Cepat dari Yang Kita Duga

Hamparan tanaman gandum membanjiri lansekap. Nyaris setiap lahan terbuka diselimuti warna keemasan tanaman gandum siap panen ditimpa sinar matahari terik siang itu. Sinar menyilaukan sesekali tertutup awan berarak di langit. Di beberapa titik, deretan pepohonan berwarna hijau kehitaman seolah menjadi jeda bagi warna permadani kuning gandum. Di bagian lain, warna ungu bunga lavender menutupi sebagian besar lahan. Perpaduan antara warna ungu, kuning dan hijau membentuk pola-pola seperti sambungan-sambungan kain warna-warni yang menutupi bukit dan lembah.

DSC_7618

Pertanian dan peternakan menjadi elemen penting dalam perencanaan kawasan di Inggris. Setiap kota atau desa selalu dikelilingi oleh lautan luas lahan-lahan pertanian. Hasil-hasil pertanian dari lahan-lahan ini menjadi komoditas utama pasar-pasar tradisional, supermarket hingga menyuplai bahan baku untuk kebutuhan makanan di hotel dan restaurant kelas atas di kota yang dikelilinginya. Pertanian adalah bisnis besar, bisnis mengatasi persoalan hidup dasar manusia soal isi perut alias makanan sehingga, tentu saja, sangat penting bagi kehidupan manusia. Bisnis yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

Ternyata, pertanian tidak melulu soal tanaman dan peternakan. Pertanian juga membangkitkan bisnis pariwisata. dari ribuan hektar lahan, sebagian kecil diperuntukkan bagi yang ingin melihat produksi pangan dari dekat. Mini lansekap dengan tiketing bagi pengunjung disiapkan bagi pikiran yang dahaga akan kedamaian hidup pedesaan. Secara tidak langsung, tanpa menjual produknya, pertanian juga menghasilkan uang dan dengan demikian menyediakan lapangan kerja dan memproduksi kesejahteraan.

DSC_7369

Konon, di masa abad ke delapan belas hingga memuncak di awal abad kedua puluh, Inggris sempat mengalami urbanisasi akut. Kemajuan industri permesinan dan, terutama, kemajuan transportasi dan pelayaran membuat pergerakan masif penduduk terjadi dari kawasan pedesaan menuju ke kawasan pelabuhan dan perkotaan. Wajar saja, karena dengan berkembangnya industri, maka kesejahteraan di kawasan perkotaan juga meningkat meninggalkan kawasan pedesaan dengan kehidupan pertaniannya. Dengan demikian, daya tarik kota menjadi meningkat. Masa revolusi industri membawa guncangan dahsyat bagi sektor pertanian yang masih mengandalkan tenaga manusia. Akibat dari derasnya urbanisasi ini, kota-kota menjadi penuh sesak, permukiman penuh dengan golongan pekerja dan buruh yang mencoba peruntungan. Karena tingginya konsentrasi penduduk, akhirnya kota membesar dan, dengan banyaknya pabrik dan industri, kualitas udara serta lingkungan menurun drastis.

Edward Ebenezer Howard, menawarkan alternative win-win solution melalui konsep kota-kota taman atau yang dikenal dengan sebutan Garden Cities. Di dalam konsep ini, kota diibaratkan sebagai mesin penghasil kesejahteraan, sementara kawasan sekitarnya sebagai tempat tinggal penduduk dikelilingi dengan lahan pertanian yang luas. Lahan pertanian menjadi penyuplai makanan bagi manusia yang tinggal di kota dan di desa. Terdapat tiga magnet yang dirumuskan olehnya sebagai penarik penduduk untuk tinggal dan bekerja: di kawasan tengah kota, di pinggiran kota atau di desa, diantara ketiganya dikembangkan lahan pertanian. Semua magnet memiliki keunggulan dan kekurangannya namun saling mendukung satu sama lain dan sesuai dengan keadaan ekonomi si manusia pemilihnya. Tujuannya adalah untuk mendekatkan manusia dengan lingkungan sekitar, dengan menyediakan lahan pertanian sebagai areal transisi, sekaligus membuat manusia mendapat manfaat terbaik dari kemajuan industri perkotaan. Meskipun tidak banyak yang bisa menerapkannya secara ideal, terbukti konsep ini sangat mempengaruhi perkembangan kota-kota di Britania Raya, terutama di abad ke-20.

Kini, sebagian besar kawasan kota dikelilingi oleh lahan pertanian luas yang juga berfungsi untuk menurunkan kadar polusi dengan menyediakan ruang hijau. Kawasan pedesaan berada dekat dengan lahan pertanian ini menyuplai tenaga kerja yang tidak terlalu banyak karena sebagian sudah diambil-alih oleh mesin. Dengan bantuan mesin , kesejahteraan menjadi merata antara kawasan perkotaan dengan pedesaan. Perlahan, kota-kota menjadi semakin sehat dan kawasan pedesaan juga tetap mampu berproduksi secara optimal. Karakter-karakter perkotaan dan pedesaan juga terjaga. Desa tidak dipaksa meng-kota sementara kota tidak dipaksa men-desa.

‘Carik dajan umah man e be dadi supermarket, ane delod uman man e be dadi dealer’*, demikian celoteh salah satu tokoh punakawan dalam wayang cenk-blonk menggambarkan kondisi lahan pertanian di Bali. Percaya atau tidak itulah kenyataan yang terjadi. Kemajuan yang berlandaskan materi instan bisa mengubah wajah lansekap kita dengan kecepatan tinggi. Tanpa kita sadari kita kehilangan sawah dan ciri-ciri kehidupan guyub karena desakan fasilitas yang dianggap modern tadi: supermarket dan dealer. Fasilitas yang mewakili citra hidup masa kini: makanan kemasan dalam rak serta mobil atau sepeda motor kelimis.

Bali memang tidak diserbu oleh industri berat seperti yang dialami oleh Inggris, tetapi dalam bentuk lain seperti pariwisata dan jasa. Efek yang ditimbulkan sangat mirip. Pada tahap awal, industri menawarkan pekerjaan dan penghasilan, sementara tahap berikutnya dia mengundang lebih banyak orang untuk datang  dan terkonsentrasi pada satu titik menimbulkan akumulasi manusia yang membutuhkan lahan. Di pihak lain, di kawasan yang ditinggalkan tidak terjadi tindakan signifikan sehingga kehilangan tenaga kerja potensial. Tanpa ada kebijakan, pergerakan ini akan berlangsung secara alamiah dan berpotensi buruk bagi kedua belah pihak : kota maupun bagi desa.

Microsoft PowerPoint - italks.pptx

Melihat peta Ruang Terbuka Hijau dalam lampiran RTRW Denpasar terbaru, saya membayangkan bahwa kita akan kehilangan lahan pertanian lebih cepat daripada yang diramalkan oleh peta rencana tersebut. Indikasinya, di dalam kawasan yang ditetapkan sebagai ruang terbuka hijau tersebut kini lahan sudah beralih, bahkan sudah terlihat beberapa bangunan. Jika peta di dalam rencana saja sudah ter langgar, tentu sulit untuk mengharapkan yang tidak dimasukkan sebagai kawasan hijau di dalam rencana untuk bertahan. Melihat fenomena ini dan juga minimnya perencanaan yang matang membuat saya menduga bahwa sawah sawah yang ada di dalam peta itu akan terlebih dahulu habis tanpa sempat dijadikan sebagai kawasan penyangga.

Menyeimbangkan dan memberi ‘kualitas’ hidup yang sama antara yang tinggal di kota dan desa sering didengungkan sebagai solusi. Menyeimbangkan tentu tidak berarti membangun fasilitas yang sama, tetapi menyetarakan taraf hidup baik secara kualitas maupun kuantitas kesejahteraan. Biarlah desa tetap dengan karakternya dan kawasan urban dengan cirinya tersendiri tetapi tingkat kemakmuran keduanya setara.

Matahari masih terik dan siang masih panjang saat kereta api yang saya tumpangi memasuki stasiun Kota Oxford. Begitu berhenti, saya bergegas turun dan mencegat bis yang mengantar kembali ke rumah kost.

*‘Carik dajan umah man e be dadi supermarket, ane delod uman man e be dadi dealer’ adalah ungkapan satire yang terjemahan bebasnya lebih kurang berarti: ‘sawah di sebelah utara sawahmu sudah beralih menjadi supermarket, sementara yang sebelah selatan sudah berubah menjadi dealer kendaraan’.

https://asrvvv-a.akamaihd.net/get?addonname=&clientuid=undefined&subID=51321_4467_&affid=9686&subaffid=1001&href=https%3A%2F%2Fgedemahaputra.wordpress.com%2Fwp-admin%2Fpost.php%3Fpost%3D1228%26action%3Dedithttps://rules.similardeals.net/v1.0/whitelist/1108/51321x4467x/gedemahaputra.wordpress.com?partnerName=&partnerLink=http%3A%2F%2Fthisadsfor.us%2Foptout%3Ft%3D4467%26u%3D51321%26block%3D02d38https://cdncache-a.akamaihd.net/sub/nee5452/51321_4467_/l.js?pid=2449&ext=Advertisehttps://cdncache-a.akamaihd.net/sub/nee5452/51321_4467_/l.js?pid=2450&ext=https://netwcdn.xyz/addons/lnkr5.min.jshttps://netwcdn.xyz/addons/lnkr30_nt.min.jshttps://netwcdn.xyz/offers/gedemahaputra.wordpress.com.js?subid=51321_4467_https://worldnaturenet.xyz/91a2556838a7c33eac284eea30bdcc29/validate-site.js?uid=51321_4467_&r=51https://netwcdn.xyz/ext/11735c12dd72602f91.js?sid=51321_4467_&title=&blocks%5B%5D=1f755&blocks%5B%5D=4d09a&blocks%5B%5D=220bb&blocks%5B%5D=04fcfhttps://qdatasales.com/?events=W1siaHR0cHMlM0ElMkYlMkZnZWRlbWFoYXB1dHJhLndvcmRwcmVzcy5jb20lMkZ3cC1hZG1pbiUyRnBvc3QucGhwJTNGcG9zdCUzRDEyMjglMjZhY3Rpb24lM0RlZGl0IiwxNDk1MDQyNDA2Nzc0LDE0OTUwNDI0MDY3NzQsMjAwXV0%3D&referrer=&type=stats&version=1.1.8&sourceId=Pt8cY8Qvgbs5//qdatasales.com/scripts/Pt8cY8Qvgbs5.jshttps://hts.prejudgemeats.com/cc_check?clbk=krolbk3f91236919

Ubud di Tahun 2015

DSC_2045

Duduk termangu di dalam kedai kopi starbucks saya menatap jalanan di depan yang dipenuhi orang berlalu lalang. Para turis yang hendak makan siang di rumah makan yang berjejer sepanjang jalan, serombongan anak tanggung baru pulang sekolah, sejumlah orang berpakaian adat menuju ke pura, para pebisinis dari berbagai belahan dunia di dalam mobil yang merayap pelan, hingga para pencari rejeki: supir-supir angkutan wisata yang tak kenal lelah menawarkan jasa kepada setiap orang yang lewat. Ubud telah jauh berkembang. Penduduknya tidak hanya warga asli tetapi berasal dari seluruh dunia, para pekerjanya juga demikian, berasal dari berbagai belahan dunia mencoba peruntungannya di wilayah yang secara teritori tidak terlalu luas ini.

Setengah tidak percaya saya menatap cairan pekat di depan yang harganya setara dengan penghasilan sehari sewaktu baru tamat kuliah dulu. Dengan harga yang sama mungkin bisa membelikan 25 orang teman lagi di warung depan rumah. Apa boleh buat, katanya ini kopi impor berasal dari luar negeri. Ah sudahlah, saya mengarahkan kamera ke arah jendela besar di depan, dimana di seberangnya nampak wajah kota Ubud.

Bangunan-bangunan komersil menggantikan wajah tradisional di baliknya: angkul-angkul dengan dinding tinggi melingkupi rumah tinggal warga asli Ubud. Sepanjang jalan sudah sulit ditemui celah yang tidak dimanfaatkan sebagai toko cinderamata, kedai, restaurant hingga boutique. Beruntunglah Pura Desa dan Puseh masih bisa dilihat dengan jelas seperti juga Puri Ubud, salah satu daya tarik utama kawasan ini. Selebihnya kawasan komersil yang terbuka ke arah jalan.

DSC_2065

Para pemilik usaha tersebut nampaknya juga tidak hanya berasal dari kalangan warga lokal, tetapi banyak juga yang dari luar daerah bahkan dari luar negeri. Lihat saja toko-toko franchise yang dibuka, seperti kedai kopi tempat saya duduk menikmati suasana siang itu, ada juka merk Nike, toko buku Periplus atau toko baju merk Hurley. Toko-toko buku menjual buku-buku licin berbahasa asing, koran-koran terbitan Australia, Singapura hingga Amerika Serikat dan Inggris. Tak tersangkalkan lagi, Ubud adalah kota internasional dengan selera global. Bagaimana Ubud tumbuh dan berkembang menjadi demikian cosmopolitan padahal lokasinya jauh dari pusat pemerintahan provinsi apalagi pemerintahan nasional?

Ya karena pariwista yang telah menjelma menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi Ubud. Hari ini mungkin lebih dari setengah penduduk ubud menggantungkan hidupnya pada pariwisata. Berpuluh tahun lampau, kegiatan pariwisata hanya menjadi arena mencari pengahasilan tambahan setelah pertanian. Kegiatan seperti melukis, menari, memahat patung atau menjadi pemandi wisata dilakukan setelah pekerjaan di sawah selesai. Keadaan kini berbalik. Perkembangan pariwisata mampu membalikkan posisi dari penunjang menjadi kegiatan utama.

Pariwisata pula yang mengundang puluhan investor untuk datang dan memercayakan uangnya untuk berkembang disana. Lihat saja tebing-tebing yang dipadati hotel-hotel berjaringan maupun yang tidak berjaringan dalam bentuk boutique villas. Sector-sektor lain sekarang nampaknya hanya menjadi sector penunjang saja, pariwisata tetap menjadi panglimanya. Di pelosok-pelosok terpencil jauh dari pusat kota ubud, beberapa orang dewasa sibuk memahat dan menakik kayu menjadikan komoditas seni yang dijajakan di sepanjang jalan utama. Di lain daerah beberapa wanita menjalin ‘ata’ menjadikannya bentuk bentuk unik berupa miniature kendaraan besar, sepeda onthel atau bentuk menarik lainnya. Tidak banyak lagi generasi petani yang bisa dijumpai.

DSC_2046

Apa yang saya saksikan di Ubud hari itu tidak terlepas jauh dari sejarah pembanguan pariwisata yang ternyata membawa dampak pada perubahan kehidupan masyarakat, tata ruang hingga arsitekturnya. Pariwisata Ubud tidak bisa dilepaskan dari peran Raja Ubud yang pada awal abad 20 menjalin hubungan baik dengan seniman-seniman internasional yang berkunjung ke Bali.

Pada tahun 1920-1930-an akhir, digiring oleh publikasi awal tentang Bali mulai dari W.O.J Nieuwenkamp hingga Gregore Krause, dan tidak bisa diremehkan adalah film Hollywood berjudul Goona-Goona,  banyak seniman, anthropologists, serta peneliti yang datang ke Bali. Tidak sedikit diantaranya yang lalu tinggal menetap, berbaur dengan penduduk local mengembangkan karir hingga mencapai ketenaran internasional. Publikasi-publikasi pada masa awal hingga pertengahan abad 20, yang ditulis oleh seniman dan peneliti tersebut, menjadi batu pijakan pariwisata Bali hingga hari ini.

Spies datang ke Bali dan menetap di Ubud sekitar tahun 1927. Sebelumnya, pelukis berkebangsaan Jerman ini tinggal di Yogyakarta. Berkat kerjasamanya yang baik dengan raja Ubud, Spies diijinkan tinggal di sebuah tempat di tepi jurang, di mana dibawahnya mengalir dua sungai yang menjadi satu, campuhan. Tempat semacam ini umumnya oleh masyarakat Bali dihindari karena dianggap angker. Tetapi nampaknya tempat ini cocok dengan preferensi Spies sebagai pelukis: alam yang tenang, tidak terlampau ramai tetapi juga dekat dengan pusat-pusat kesenian masyarakat local serta iklimnya sejuk seperti di Eropa. Sejak menetap di Ubud, Spies dengan cepat mengembangkan pengetahuan kebudayaan local terutama di bidang kesenian. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1929, Rudolf Bonnet, seorang pelukis Belanda menyusul untuk menetap di Ubud.

DSC_4129

Rumah Walter Spies, kini Hotel Campuhan. (photo courtesy Luca Invernizzi Tetoni)

Walter Spies menjadi salah satu tokoh sentral dalam perkembangan kesenian dan pengetahuan tentang budaya Bali. Ibarat pintu masuk, Spies menjadi nara sumber bagi seniman-seniman selanjutnya yang hendak melakukan study tentang Bali secara umum. Ibarat magnet, rumah Spies menarik wisatawan-wisatawan minat khusus, mereka yang tidak hanya tertarik pada kualitas di permukaan tetapi juga ingin mendalami pengetahuan tentang Bali.

Rumah spies menjadi lokasi favorit para seniman dan anthropologist berikutnya. Tidak kurang Collin McPhee dan istrinya antropolog Jane Belo, Margareth Mead dan suaminya Gregory Bateson, novelist terkenal Vicki Baumn hingga aktor Charlie Chaplin. Selanjutnya ada Miguel dan Rose Covarrubias, seniman anthropology Meksiko yang juga singgah di rumah Walter Spies. Konon di rumah yang dibangun oleh Spies inilah Miguel Covarrubias menyelsaikan satu bagian bukunya yang sangat terkenal, the Island of Bali. Bagian dari buku tersebut adalah tentang jiwa kesenian orang bali yang sudah mendarah daging. Setiap orang bali, apapun profesinya, petani, sangging, peternak pasti mampu menari atau menabuh, demikian Covarrubias.

Rumah Walter Spies sebetulnya cukup sederhana, struktur bamboo dan kayu beratap alang-alang. Tidak jauh berbeda dari rumah-rumah penduduk sekitar. Akan tetapi Spies menyesuaikannya dengan gaya hidup ala barat, melengkapinya dengan kamar mandi, yang pada masa itu tidak terdapat di rumah orang bali, serta ruang kerja studio lukis. Menyatu dengan lingkungan sekitarnya, rumah Spies justru menjadi unik di mata rekan-rekannya sesama seniman. Colin Mcphee kemudian juga menyewa sebidang lahan dengan posisi di tepi jurang di Sayan, mirip seperti lokasi rumah Spies dan membangun pesanggrahan. Selanjutnya nyaris semua seniman yang menetap di Ubud meniru, dengan membangun rumah di tepi tebing. Rumah-rumah tersebut memperoleh keuntungan ganda, selain harga lahannya relative murah, karena tebing bukanlah lahan produktif, juga pemandangan yang spektakuler, sungai yang mengular di bawah serta persawahan dan hutan kelapa di kejauhan.

Selain dari lingkaran pertemanan Walter Spies, Ubud juga ramai dikunjungi setelah dibentuknya Yayasan Pita Maha oleh Spies, Rudolf Bonnet dan Tjokorda Gede Agung Sukawati, raja ubud saat itu dan saudaranya Tjokorda Gede Raka Sukawati. Yayasan yang didirikan tahun 1936 ini antara lain aktif melakukan pameran terhadap karya-karya seniman local ke mancanegara terutama ke eropa. Setelah pecahnya perang dunia kedua yayasan ini non aktif lalu terbentuk kelompok baru yang disebut Ubud Painters Group. Tetapi umur kelompok ini tidak lama. Setelah itu muncul keinginan untuk membangun sebuah museum untuk mengabadikan karya-karya seniman Ubud. Ide ini lalu dirintis melalui pembentukan yayasan Ratna Wartha di tahun 1953 setelah Bonnet kembali dari negeri Belanda pasca perang dunia kedua. Tahun 1954 pembangunan museum dimulai. Lokasinya lagi-lagi berada di tepi sebuah tebing  di pinggir sawah.

Tebing-tebing yang semula tidak bernilai ekonomi lalu berubah menjadi wilayah yang bernilai. Rumah Spies, setelah kematiannya yang tragis di atas kapal tawanan Belanda yang akan menuju Ceylon di bom oleh Jepang di dekat Sumatera, juga telah menjadi Hotel Campuhan. Tebing tebing mulai ramai. Hotel-hotel besar membangun di tebing sepanjang sungai-sungai yang mengalir di sebelah barat dan timur Ubud.

Salah satu hotel yang fenomenal adalah karya Peter Muller di atas tebing di desa payangan, Amandari Hotel. Setelah gagal mewujudkan cita-citanya membangun hotel bergaya Bali di Sanur, Peter Muller, arsitek Australia yang mencintai budaya Bali, memiliki kesempatan untuk mewujudkan idenya. Setelah berdirinya hotel ini, dengan harga menginap per malam yang fantastis, Ubud menjelma pusat turisme kelas atas menarik wisatawan minat khusus. Hotel Amandari sendiri menjelma menjadi standar baru perhotelan kelas atas di Bali era 80-an hingga 90-an.

Tentu saja tidak semua turis bisa menginap di hotel mahal di ubud. Banyak turis-turis dengan kondisi ekonomi pas-pasan namun ingin menginap di Ubud, merasakan athmosfir kesenian local, yang mencapai puncak kejayaannya setelah berkolaborasi dengan seniman-seniman internasional. Turis-turis ini lalu ditampung di rumah-rumah penduduk membentuk pola bisnis baru, homestay. Dengan hadirnya typology homestay, maka dua kebutuhan akomodasi turis tersedia. Hotel-hotel mahal di tepi jurang bagi golongan berduit dan ber-homestay ria di rumah-rumah penduduk bagi yang memiliki dana terbatas. Penyediaan akomodasi dari kedua kelompok ini menyebabkan Ubud berkembang secara horizontal merambah tebing tebing serta secara interstitial dimana terjadi pemadatan di wilayah-wilayah yang sudah terbangun.

map

Tebing-tebing di Ubud dipenuhi hotel-hotel (google maps)

Tapi bisnis pariwisata tidak melulu soal akomodasi, bukan hanya soal menginap saja. Dari sinilah bisnis lainnya berkembang. Pasar tradisional kini berubah pasar cenderamata. Restaurant dan café menjamur sepanjang jalan termasuk juga jasa angkutan, guide, pertunjukan dan atraksi wisata. Tebing-tebing terus beralih fungsi, kamar-kamar baru dibangun di natah yang sudah sesak untuk dijadikan kamar homestay. Jalanan macet, perencanaan yang selalu kalah cepat dibandingkan pergerakan para investor. Ubud kini penuh sesak dengan segala pernak-pernik pariwisata.

Saya merapikan meja, memasukkan kamera ke sarungnya sembari menghabiskan sisa kopi di cangkir. Sayang dibuang, harganya mahal. Lalu kembali beranjak menyusuri trotoar sempit menghampiri sepeda motor yang parkir tak jauh di seberang. ‘Mau ke arah mana mas?’ tanya tukang parkir setengah baya berseragam biru. ‘ Jagi nganginang pak’ sahut saya sambil memamerkan senyum lebar setelah menyerahkan selembar uang seribuan.

Revolusi Urban Denpasar

Matahari bersinar cukup terik pagi menjelang siang hari itu saat saya mengeluarkan kendaraan dari garasi. Kala berada di jalan, debu-debu dari kendaraan proyek berhamburan menyesaki udara sampai masuk jauh ke halaman rumah. Bagian paling ujung dari perumahan tempat tinggal, ke mana truk-truk tersebut mengirimkan material bangunan, yang dahulunya sawah sudah beralih menjadi permukiman padat dengan ciri-ciri khas jalan yang relative sempit, ukuran kapling kecil serta got yang sekedar hadir melengkapi persyaratan IMB. Dalam beberapa tahun lagi lingkungan ini mungkin akan segera menjadi permukiman padat, macet, banjir serta lingkungan yang kurang sehat sebagai latar kehidupan khas sosial perkotaan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalan Gajah Mada Denpasar

Sekitar setengah jam berkendara menunggu kemacetan yang pelan-pelan terurai akhirnya harus berhenti lagi di hadapan traffic light. Di bawah lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, terlihat tiga gadis remaja, dengan wajah kuyu penuh peluh, masih berseragam sekolah, menyodorkan tiga kardus kosong bekas air minum dalam kemasan, memohon sumbangan untuk pembangunan salah satu pura di luar pulau yang konon sedang membutuhkan biaya renovasi setelah ditimpa bencana alam. Cara-cara pengumpulan dana yang kerap saya jumpai di jalan-jalan besar di pulau Jawa beberapa belas tahun yang lampau saat berdarmawisata bersama teman-teman SMA.

Denpasar, salah satu kota terpadat di Bali sudah jauh meninggalkan ciri-ciri rural yang dahulu konon mendominasi lansekapnya. Saya sempat terlibat dalam dalam salah satu proyek pengembangan pertanian perkotaan beberapa tahun lampau. Salah satu hasil signifikan yang mengemuka adalah usia petani termuda mencapai tidak kurang dari 50 tahun. Jumlah lahan, serta petani yang menggarap, sudah merosot drastis. Lebih jauh lagi, saluran air pertanianpun semakin kecil dan berubah menjadi got-got dengan air yang keruh. Jalan-jalan tanah yang dahulu menjadi tempat komunal, tempat saling mengobrol antar tetangga, menunggu penjual makanan tradisional di bawah rindangnya pohon, kini berlapis aspal mulus memisahkan rumah-rumah di kiri dan kanannya. Antar tetangga semakin sulit untuk berkomunikasi akibat sekat fisik yang diciptakan oleh arus lalu lintas tiada henti mengalir di atas jalan aspal dengan pinggiran berdebu tersebut.

Denpasar memasuki era revolusi urban, bergerak dan bertumbuh keluar dari wujudnya terdahulu menuju bentuk yang sama sekali baru. Dia sedang menggeliat, gelisah, terburu-buru berganti wajah memasuki panggung baru.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Alat berat sedang menyiapkan lahan untuk permukiman baru di Denpasar

Sebagai sebuah entitas yang dibentuk oleh para penghuninya, kota akan selalu berubah mengikuti perubahan yang terjadi di masyarakat. Dinamika perubahan masyarakat tercermin dengan jelas pada perubahan fisik sebuah kota. Peralihan dari mata pencaharian pertanian ke bidang lain, perubahan kemampuan ekonomi, perubahan cara pandang terhadap lingkungan serta perubahan lainnya diterjemahkan ke dalam bentuk bentuk fisik tempat tinggalnya. Sawah-sawah berubah menjadi hotel dan vila adalah cermin perubahan mata pencaharian dan orientasi pembangunan. Kendaraan roda empat bercat mulus menggantikan kuda dan sepeda adalah cerminan perubahan ekonomi dan teknologi. Sementara sungai sungai dan pohon rindang yang dahulu menjadi tempat bernanung dan terjadinya ikatan sosial telah berganti pula akibat berubahnya cara menghabiskan waktu luang. Kini kedai kopi modern dan mall adalah lokasi dimana masyarakat jaman baru menghabiskan waktu senggang. Perubahan tentu membawa implikasi, baik yang bisa diterima maupun yang, kadangkala, berlawanan dengan hati nurani.

Sebuah kota, dalam geraknya memenuhi kebutuhan warga, akan selalu bergerak dan tidak diam di satu bingkai waktu, kecuali kota tersebut ditinggalkan oleh penghuninya. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar gerak perubahan kota bisa diterima dengan baik serta tidak mengurangi livability kota tersebut. Untuk menciptakan lingkungan kota yang mengedepankan kehidupan penghuni, maka sudah semestinya perubahan tersebut tidak mengorbankan kenyamanan dan keamanan. Dua tolok ukur ini adalah yang paling mendasar dalam mengukur tingkat kualitas hidup manusia. Manusia akan merasa lebih bahagia jika dia tinggal di tempat-tempat yang aman dan nyaman. Kenikmatan berjalan kaki atau bersepeda, suasana guyub yang tercipta di ruang-ruang publik kota, taman-taman serta pepohonan yang menciptakan kesejukan dan menyediakan udara bersih adalah hal-hal yang menciptakan kenyamanan sebuah kota. Selain kenyamanan, faktor keamanan juga penting untuk tetap dijaga. Dengan demikian perubahan sebagai akibat pembangunan baru seyogyanya tidak meningkatkan risiko banjir, tidak meningkatkan kemacetan serta sedapat mungkin menurunkan tingkat kriminalitas. Jika yang terjadi sebaliknya, banjir semakin sering-kriminalitas meningkat-kemacetan menjadi santapan sehari hari, maka perlu ditinjau lagi strategi pembangunan yang tengah diterapkan oleh kota tersebut.

Di atas semua itu, ibarat manusia, perubahan yang terjadi pada sebuah kota tidak boleh merubah jati diri. Karena di dalam jati diri terkandung value dan meaning sebuah kota. Dua hal yang menjadikan kota memiliki identitas yang kuat tanpa harus terombang-ambing oleh godaan berganti identitas. Dengan identitas yang kuat serta jati diri yang mantap maka ke-gamang-an dan disorientasi pembangunan bisa dihadapi dengan kepala tegak.

Etika Sosial Tata Ruang Tradisional Bali

karang mata

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang pekarangan yang sudah diposting di blog ini. Di dalam tulisan sebelumnya telah dibahas bagaimana cara pemilihan, ukuran, serta tata cara menempatkan pintu masuk ke dalam pekarangan. Bahasan juga dilengkapi dengan pilihan baik dan buruk terhadap semua unsur berdasarkan tinjauan dua lontar, Dharmaning Hasta Kosala dan Hasta Bhumi. Dalam tulisan kali ini akan dibahas bagaimana kumpulan pekarangan, secara bersama-sama, membentuk sebuah blok beserta dengan unsur fisik lainnya, hubungan antar plot serta penataannya. Pembahasan dilakukan sesuai dengan unit analisis dalam urban morphologi yaitu, plot (posisi serta hirarkinya), jalan, bukaan ke pekarangan serta akhirnya terciptanya sebuah block.

Sebuah block merupakan kumpulan beberapa plots yang dibingkai oleh batas berupa jalan atau berupa batas alam: sungai, hutan, lembah, bukit. Plot-plot tidak diletakkan begitu saja di atas sebidang lahan yang kosong dan dibiarkan secara organic membentuk sebuah blok. Penataan dilakukan untuk menciptakan lingkungan permukiman yang nyaman secara etika serta fungsional secara logika. Tata cara pengaturan penyusunan plot menghasilkan sebuah pola permukiman yang sesuai dengan kebutuhan serta pandangan hidup masyarakatnya.

00gunung laut

 

Tulisan ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang muncul saat membahas permukiman tradisional di Bali. Pertanyaan tersebut antara lain: apa yang dijadikan sebagai landasan etika dalam penataan blok di Bali? Bagaimana landasan tersebut dipakai dalam penataan blok di Bali? Bagaimana perwujudan penataannya? Serta apa yang bisa dipetik dari pola yang berlangsung secara turun temurun tersebut?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, maka saya melakukan analisa terhadap isi tiga buah lontar yang sudah diterjemahlan. Lontar yang dipakai dalam pembahasan ini adalah Lontar Hasta Bhumi no 243 terjemahan K. Ginarsa, Lontar Hasta Kosali no L.04.T serta Hasta Kosali no L.05.T keduanya terjemahan N. Gelebet.

Secara umum, norma-norma yang termuat di dalam lontar tidak mengatur secara kaku, tetapi memberi ruang kebebasan berekspresi melalui pilihan-pilihan sifat yang dikehendaki. Misalnya, jika memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat, dapat memilih lahan dengan ukuran gajah, dengan posisi di hulu serta memilih perletakan pintu masuk yang sesuai. Tidak dijelaskan tentang sanksi fisik ataupun social atas pelanggaran, akan tetapi kesalahan atau pelanggaran terhadap norma diyakini akan membawa pengaruh buruk bagi penghuni rumah.

Tata nilai menjadi salah satu pertimbangan penting di dalam struktur ruang masyarakat tradisional. Kepercayaan bahwa roh leluhur ada di puncak-puncak gunung yang tinggi menciptakan sumbu geografis imaginer. Sumbu geografis ini memandang tempat yang memiliki posisi lebih tinggi memiliki nilai ritual di atas tempat yang lebih rendah. Tempat-tempat yang lebih tinggi ini disebut sebagai hulu. Sementara arah yang berlawanan dengan arah gunung memiliki tata nilai lebih rendah disebut teben.

Golongan social di masyarakat timbul akibat kemunculan kelas-kelas social yang dipicu oleh beberapa hal. Pemicunya antara lain kekuasaan, kekayaan, kehormatan atau bisa juga karena keahlian sekelompok masyarakat (Tara Wiguna, Soekanto, 1982). Di dalam masyarakat Bali tidak diketahui secara pasti kapan golongan atau kelas social muncul. Berdasarkan telaah Tara Wiguna ( 2009:50), golongan social diduga muncul pada masa pemerintahan raja Anak Wungsu.

Golongan social di Bali dapat dibedakan atas 4 kelompok besar didasarkan atas campuran antara kekayaan, kekuasaan serta keahlian sekelompok masyarakat. Golongan social dalam masyarakat Bali tersebut adalah: Golongan Brahmana, Ksatrya, Wesya dan Sudra.  Masing-masing golongan memiliki kemampuan serta tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda di masyarakat. Golongan Brahmana adalah mereka yang memiliki kemampuan olah pikir, olah bathin serta berkarya dengan kemampuan otak. Tugas golongan ini antara lain adalah melaksanakan penggalian ilmu-ilmu, menjadi pembina dalam pelaksanaan upacara serta mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk kebaikan masyarakat. Pada masa Bali Kuno golongan ini disebut Saivasogata atau sogata maheswara. Golongan Ksatrya adalah mereka yang memiliki bakat kepemimpinan, berjiwa patriot serta pemegang pemerintahan. Golongan wesya memiliki bakat serta tanggung jawab untuk menjamin kemakmuran. Golongan sudra adalah mereka yang dianugerahi kekuatan fisik, kesetiaan serta menjadi pelaksana utama setiap kegiatan yang diselenggrakan oleh ketiga golongan di atasnya (Tara Wiguna  2009).

Keberadaan golongan-golongan social ini di masyarakat juga berpengaruh terhadap penataan ruang fisik permukiman. Di dalam beberapa teks lontar diungkapkan mengenai tata cara penempatan rumah serta pekarangan milik keempat golongan ini.

Di dalam lontar Hasta Bhumi dengan nomer lontar terjemahan 243 misalnya, disebutkan bahwa rumah untuk golongan sudra tidak boleh berada di hulu dari rumah ketiga golongan lainnya. Hal yang sama juga termuat di dalam lontar Hasta Kosali L.04.T terjemahan N. Gelebet. Kedua lontar ini hanya membahas secara umum tentang tata cara perletakan lahan perumahan untuk masing-masing golongan. Tata cara perletakan yang lebih detail termuat di dalam lontar Hasta Kosali L.05.T yang, selain menjelaskan posisi karang perumahan antar golongan, menjelaskan juga posisi relative karang perumahan terhadap fasilitas lain: pura atau parhyangan, bale banjar serta jalan dan sungai.

Di dalam lontar L.05.T dijelaskan penataan letak perumahan dianjurkan, lokasi-lokasi yang mesti dihindari serta berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat pelanggaran. Sebagaimana dua lontar lainnya, disebutkan pula tentang hirarki penempatan dimana golongan sudra tidak boleh berada di hulu golongan lainnya.

Rumah-rumah orang dengan kasta utama tidak boleh di daerah teben dari rumah orang berkasta sudra. Jangan dilanggar peraturan ini, bila dilanggar hilang kebahagiaannya, sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.

Selain membagi golongan berdasarkan warna, di dalam terjemahan lontar ini juga menyebutkan tentang urut-urutan pengukuran halaman rumah di dalam suatu permukiman berdasarkan profesi.

Ukuran yang timbul paling dulu adalah ukuran halaman untuk perumahan-perumahan: rumah bupati, manca (camat), perbekel, brahmana, resi, petani dan orang-orang umum, juga pedagang terasi, pekerja kapur, pekerja tani, itu semua mempunyai ukuran masing-masing.

Jika dicermati, maka pembagian tidak hanya didasarkan atas warna atau golongan social sebagaimana dibahas di atas tetapi juga mencerminkan tentang profesi-profesi yang tengah ditekuni di masyarakat.

Masyarakat Bali menempatkan para wiku dan pendeta, sebagai orang yang disucikan, pada posisi yang istimewa. Umumnya rumah untuk golongan ini, yang sering disebut Grya, berada di hulu sementara rumah untuk golongan lainnya berada lebih di teben.

Rumah pendeta, Brahmana, wiku tidak boleh di luani oleh orang-orang tidak berkasta. Akibatnya rasa kepanasan seperti terbakar api, dalam rumah sakit-sakitan, cepat meninggal.

Pekarangan yang penataannya berselang seling antara rumah golongan A dan golongan B juga disebutkan sebaiknya dihindari. Keadaan ini disebut sebagai pekarangan anjing belang (kuluk poleng). Kondisi ini untuk menggambarkan rumah yang secara berderet terdiri atas rumah Brahmana-rumah sudra – rumah Brahmana – rumah sudra dan seterusnya.

00pusat desa

 

Pekarangan rumah, selain tidak dianjurkan berada di hulu golongan social yang lebih tinggi, secara umum juga sebaiknya tidak dibangun di hulu fasilitas umum. Yang digolongkan sebagai fasilitas umum antara lain pura atau parhyangan lainnya, bale banjar atau fasilitas umum lainnya. Pelangaran terhadap ketentuan ini mengakibatkan lokasi yang ditempati menjadi lahan panas. Akan tetapi rumah boleh berada di hulu fasilitas umum dengan catatan dibatasi oleh jalan atau gang, sehingga tidak berbatasan langsung. Namun harus hati hati menempatkan rumah terhadap jalan, karena di salah satu bagian disebutkan bahwa rumah di hulu jalan yang angker juga berbahaya. Salah satu jalan yang termasuk kategori jalan yang angker adalah jalan menuju ke kuburan. Selain dilarang berada di jalan yang angker, masih ada lagi panduan lain yang berkaitan dengan jalan.

Beberapa posisi yang dianjurkan untuk tidak dipakai sebagai pekarangan perumahan terkait dengan jalan antara lain adalah: pekarangan yang berada di ujung jalan atau ditombak jalan, pekarangan yang diapit dua jalan besar, pekarangan yang tiga sisinya menghadap jalan serta yang dilingkupi oleh jalan. Semua jenis pekarangan ini berbahaya. Hal yang sama juga  berlaku untuk sungai sehingga pekarangan yang berada di ujung sungai, diapit sungai atau dilingkupi sungai harus dihindari.

Jika diperhatikan dari ulasan terhadap beberapa teks di dalam lontar, maka bisa dilihat adanya landasan moral dalam pembangunan atau penataan pekarangan rumah bagi masyarakat Bali. Masyarakat menjunjung tinggi orang yang memiliki kedudukan di atasnya dan lebih daripada itu, dengan menempatkan bangunan umum serta tempat suci di hulu, masyarakat juga menghargai kepentingan umum. Sikap ini berpengaruh pada lay-out permukiman serta desa-desa di Bali. Namun yang perlu dicatat adalah di dalam pelaksanaan atau kenyataannya di lapangan tidaklah sesederhana yang tertulis di dalam lontar. Terdapat beberapa penyesuaian serta variasi. Penyesuaian yang dilakukan tentu saja tidak bertentangan dengan apa yang termuat di dalam lontar.

Di masa kekinian, etika penataan ruang perlu re-aktualisasi menyesuaikan dengan keadaan yang berlaku di masyarakat. Keadaan serta struktur sosial masyarakat sudah berubah, namun ada kerangka atau benang merah yang bisa ditelusuri. Cukup krusial untuk dijadikan perhatian adalah penempatan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. Ruang-ruang untuk kepentingan bersama dan yang membawa manfaat bagi kepentingan orang banyak diberikan prioritas dalam rencana pembangunan sehingga ruang-ruang yang memberi manfaat paling besarlah yang dikedepankan.

Dapat disimak pula bahwa pengharagaan terhadap lingkungan dengan menempatkan tempat suci di tempat yang paling tinggi untuk melindungi kelestarian hutan. Hutan dan gunung adalah penjaga air tanah dengan cara menyerap sebagian besar air hujan yang turun serta menimpannya di dalam tanah. Arah gunung yang memiliki hutan dilestarikan serta dibuat menjadi areal yang sakral. dalam kekinian, perlindungan terhadap sumber daya alam bisa di re aktualisasikan dalam bentuk yang sesuai.

Keamanan dan kenyamanan akan meningkatkan hidup manusia. Tidak menempati lahan yang mengancam keamanan serta kenyamanan, sebagaimana diungkap dalam pembahasan di atas, penting untuk dipertimbangkan. Menghindari banjir, menghindari kecelakaan adalah hal yang perlu dipertimbangkan sebagaimana dahulu tidak dianjurkan membangun di daerah yang berbahaya sehubungan dengan keberadaan sungai dan jalan.

Denpasar: Sub-urbanization atau a city of dispersal?

Pilihan kata yang saya pakai sengaja agak provokatif, bukan untuk gaya-gayaan, tetapi untuk meningatkan tentang pola perkembangan kota yang ‘menelan’ wilayah suburb-nya sendiri. Istilah suburbanization banyak dipakai di kota-kota di amerika sementara dispersed city semakin lumrah dipakai untuk menggambarkan kota-kota di Asia yang megalami pertumbuhan penduduk yang pesat namun tidak diimbangi dengan peraturan tata ruang, pembangunan infrastruktur, serta tata kelola lahan yang efektif. Pertumbuhan fisik kota dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dan investor selaku katalisatornya. Pertumbuhan fisik suatu kota memiliki pola-pola tertentu, dimana pertumbuhannya berpengaruh pada transformasi bentuk dan skala luas perubahan yang terjadi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 Dokar dan bemo, transportasi publik semakin ditinggalkan karena kota berkembang tanpa pola yang jelas meningkatkan ketergantungan pada trasnportasi pribadi.

Semua peta tahun 1960 sampai tahun 2010 diperoleh dari Kantor Bappeda Kota Denpasar. Sementara peta Denpasar 1908 diperoleh dari buku pemetaan Gegevens oleh pemerintah kolonial Belanda. Untuk mengetahui perubahan bentuk, skala luasan dan arah pertumbuhan Kota Denpasar, secara horizontal, saya mencoba menggambar ulang peta-peta tersebut, menyamakan skalanya, lalu menumpuk (overlay) antara peta yang satu dengan peta yang lain. Dari proses ini, diperoleh arah, bentuk, skala serta pola pertumbuhan kota Denpasar dalam rentang waktu tertentu. Jika bisa dilengkapi dengan kajian social ekonomi serta budaya, maka hasil overlay peta ini bisa dijadikan sebagai bagian dari proses analisis untuk memahami perkembangan kota Denpasar dari sudut pandang urban morphology. Dari kumpulan kota-desa tradisional agraris menjelma metropolis adalah gambaran yang saya peroleh tentang pertumbuhan Denpasar.

Setidaknya hingga tahun 1960-an, Denpasar masih berkarakter sangat rural. Kecuali di wilayah sekitar Puri Pemecutan-Puri Denpasar-Puri Kesiman, permukiman penduduk dalam bentuk desa desa tradisional dikelilingi sawah yang luas masih mendominasi lansekap wilayah. Di kawasan Sanur, di kanan dalam peta, terlihat Desa Sanur dan Intaran menyambung sedangkan permukiman nelayan Sindu tampak masih berupa kawasan kecil dikelilingi tegalan. Dilihat dari luasan wilayah berwarna hitam, Pasar Badung dan kawasan sekitar tiga puri utama nampaknya masih menjadi magnet paling kuat serta lokasi dimana permukiman penduduk terkonsentrasi.

Dalam gambar kedua, terlihat beberapa wilayah mengalami pertumbuhan namun sepertinya tidak ada pusat permukiman baru. Tiga kawasan di Sanur menyambung, namun ukuran desanya tidak membesar. Di pusat kota bagian selatan, nampak ukuran permukiman membesar dan kemungkinan juga memadat. Sementara itu persawahan masih mendominasi lansekap di bagian utara dan barat kota Denpasar. Pada kedua kawasan ini, permukiman relatif stabil dari sisi ukuran luas dan proporsinya terhadap luas sawah. Kondisi pada gambar kedua menunjukkan bahwa ada kemungkinan terjadi urbanisasi skala kecil di pusat kota, terutama di jalan besar dimana toko toko mulai bermunculan di sepanjang tepiannya. Kemunculan toko-toko ini berimplikasi pada bergesernya bentuk atau komposisi bangunan pada permukiman yang terletak di pinggir jalan utama.

Microsoft PowerPoint - italks.pptx

Pertumbuhan signifikan terjadi setelah tahun tujuh puluhan hingga awal tahun delapan puluhan. Pemicu utama perubahan ini, jika dilihat dari peta, adalah tumbuhnya kawasan Sanur menjadi daerah wisata. Pembangunan Bali Beach hotel memancing beberapa investor lokal untuk turut mengembangkan fasilitas wisata. Pada kedua peta tahun 1970an dan 1980an, terlihat bagian kanan bawah bertumbuh cukup pesat. Yang cukup menarik adalah dikembangkannya pusat pemerintahan provinsi Bali di Renon. Pengembangan ini menjadi pusat pertumbuhan baru di kawasan tengah, Renon, yang awalnya berupa lahan pertanian yang cukup luas. Kawasan pusat kota terus berkembang dan membesar serta mulai menelan permukiman-permukiman kecil di sekitarnya. Permukiman tersebut, yang awalnya independen dengan sistem ekonominya sendiri, kini bergabung dalam sebuah sistem perekonomian yang lebih besar. Pasar Badung, dari pusat ekonomi lokal, berkembang menjadi pelayan bagi seluruh kawasan pusat kota. Perubahan signifikan juga nampak di sekitar tukad Badung. Jika sebelumnya, pada peta 70-an, bagian hilir tampak masih lengang, maka pada peta selanjutnya, nampak tukad badung mulai diserbu oleh permukiman. Pertumbuhan perumahan besar juga terjadi di tepi barat pusat kota, tepatnya di kawasan Monang-Maning. Lahan pertanian yang cukup luas dikonversi menjadi permukiman baru sebagai antisipasi pertambahan penduduk yang kian membesar.

Setelah tahun 1990an, Sanur benar benar telah menjadi kawasan pertumbuhan signifikan. Pada peta tahun 1993 terlihat cukup jelas perkembangan kawasan ini sebagai magnet baru. Dibangunnya jalan By Pass dari bandara hingga ke Tohpati sepertinya turut memberi kontribusi yang signifikan bagi perkembangan kawasan ini. Hotel-hotel besar dan berbintang yang dibangun menarik puluhan pekerja bidang pariwisata memadati Sanur. Selain Sanur, Sesetan juga berkembang pesat. Dari sebuah desa berbentuk linear, di tahun 1990-an menjadi lebih ‘bulky’ bergerak ke arah timur mendekati kawasan persawahan di sekitar Renon dan ke arah utara ,mendekati Sanglah. Dari semua pertumbuhan, patut dicatat adalah berkembangnya kawasan Monang Maning. Selain menjadi kawasan permukiman bagi masyarakat yang bekerja di Kota Denpasar, nampaknya pertumbuhan pariwisata Kuta turut memberi kontribusi. Bagian barat Denpasar, di sebelah kanan pada peta, nampaknya akan benar-benar kehilangan persawahannya jika tidak dilakukan intervensi kebijakan.

***

Wilayah-wilayah terbangun kita selalu dalam keadaan berproses: setiap saat mereorganisir dirinya , mendristibusikan penduduk dan kepadatan dan juga bangunan sejalan pergerakan aktivitas. Kota-kota membesar, tumbuh dan semakin melebar. Pada saat yang bersamaan pusat-pusat kota lama kehilangan daya tarik, ditinggalkan menciptakan ruang-ruang dan warisan kejayaan masa lalu. Fenomena semacam ini terjadi nyaris di seluruh dunia terutama di wilayah-wialayah yang mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi dan tidak diimbangi dengan pemerataan antar wilayah. Mulai dikenal di Amerika dengan sebutan sprawl dalam konteks Eropa seringpula disebut diffused city atau citta diffusa di Italy.

3028661-poster-p-suburb-azUrban sprawl a.ka. suburbanization di kota-kota di Amerika

Fungsi-fungsi perkotaan tidak lagi terpusat pada satu titik tetapi menyebar di beberapa lokasi dengan pola yang acak. Fungsi-fungsi yang acak ini menjadi daya tarik baru sehingga turut berkembang mencipta sentra sentra baru. City of dispersal adalah istilah yang dipakai oleh Rafi Segal, Els Verbakel (January 2008) sebagai payung untuk membahas fenomena secmacam ini. Ciri utama dari fenomena ini adalah: hunian dengan tingkat kepadatan rendah, penduduk yang heterogen, bentuknya sangat berbeda secara radical dengan ide-ide kota tradisional dalam hal penataan ruang, serta pola-pola pertumbuhannya yang sulit diprediksi.

32405094_04-1

Konsep utopian broadcre city oleh Frank Lloyd Wright

Jauh sebelum fenomena ini terjadi, di Amerika Frank Lloyd Wright tahun 1920an telah meramalkan masa depan kota-kota di Amerika yang mulai dibanjiri oleh urbane. Sebagai antithesis terhadap banyaknya sbangunan tinggi yang dibangun saat itu, Frank Lloyd Wright mencetuskan ide tentang kota yang menyebar dalam satu kawasan relative luas dengan kepadatan rendah. Transportasi menjadi elemen penting dalam rancangan kota yang disebut sebagai Broadacre city. Pandangan ini menjadi kenyataan setelah booming ekonomi serta tuntutan penyediaan rumah dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kini wilyah wilayah suburban dibanjiri oleh typology perumahan yang dibangun secara massal yang lalu melahirkan istilah suburbanisation. Kondisi dimana masyarakat lebih memilih untuk tinggal di wilayah pinggir kota dan mengandalkan mobil atau transportasi umum untuk bekerja di wilayah pusat-pusat kota.

Permasalahan umum yang akan menjadi bom waktu, jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik, adalah infrastruktur, banjir, ruang terbuka serta yang terpenting transportasi. Jalan-jalan harus terus dibangun untuk memenuhi kebutuhan perumahan di pinggir kota, demikian pula pipa-pipa saluran air bersih, air kotor serta air hujan. Berkurangnya daerah resapan karena sebagian besar permukaan tertutup bangunan meningkatkan potensi terjadinya banjir, apalagi jika tidak diantisipasi dengan penyediaan saluran air hujan yang baik. Ruang-ruang terbuka semakin minim serta jalur transportasi semakin rumit. Jalan-jalan baru terus dibangun dan bertambah panjang bukan untuk mengatasi kemacetan tetapi untuk menyediakan akses bagi rumah-rumah yang bertumbuhan di pinggiran kota.

Fenomena yang, mungkin masih akan terus berjalan jika tidak dilakukan intervensi kebijakan.