DARI GALACTIC POLITY KE URBAN CONURBATION: MORFOLOGI KOTA DENPASAR DARI MASA KE MASA

 

morphing denpasar

Memahami Kota sebagai Entitas yang Terus Berubah

Kota adalah produk pergulatan penghuninya dan sebaliknya bentuk kota juga mempengaruhi pergulatan penduduk kota (Harvey, 1997). Dengan demikian, bentuk dan struktur sebuah kota selalu berkaitan dengan aktivitas penduduknya. Kota terus berubah dan bertumbuh sepanjang penduduknya masih meng-huni-nya (Larkham dan Conzen, 2014). Tidak mudah membayangkan perkembangan tata ruang wilayah Denpasar sejak masa sebelum kolonial. Hal ini terjadi karena sumber-sumber tulisan yang membahas wilayah ini cukup terbatas serta belum berkembangnya teknologi peta maupun fotografi di masa lalu terutama masa pra-kolonial. Tetapi penataan ruang sebuah wilayah bisa ditelusuri dari narasi, artefak yang tersisa, serta transformasi sistem pemerintahannya. Hal ini bisa dilakukan karena tata ruang dan tata kelola perkotaan selalu berkelindan tak terpisahkan. Aldo Rossi (1966) menyebutkan bahwa perkembangan sebuah kota bisa ditelusuri dari artefaknya dan perkembangan artefak kota bisa ditelusuri dari narasi-narasi kota bersangkutan.

Guna menelusuri perkembangan fisik serta memahami proses transformasi Kota Denpasar, saya menelusuri berbagai dokumen dan juga peta-peta lama. Semua peta tersebut digambar ulang dengan skala yang sama lalu setiap perubahan dicatat serta ditandai. Selanjutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik tersebut dianalisis melalui telaah dokumen serta observasi lapangan dan wawancara. Hasilnya, perubahan fisik Kota Denpasar dari tahun ke tahun bisa ditelusuri dan dipahami.

Penelitian-penelitian tentang kota-kota di Asia Tenggara sudah banyak dilakukan. Dari banyak penelitian, disimpulkan bahwa bentuk pemerintahan sebelum masa kolonial sangat berbeda dengan masa pasca-kolonial. Di masa sebelum masuknya kolonialisme, kerajaan-kerajaan dipimpin oleh raja dengan wilayah politis yang meliputi desa-desa tradisional. Dengan demikian batas politis setiap kerajaan sulit didemarkasi. Meskipun raja secara de jure adalah pemimpin tertinggi, tetapi pengaruhnya terhadap situasi politik dan ekonomi di tingkat desa tidak begitu kuat. Desa-esa tetap dikelola secara mandiri oleh pemerintahan desa yang merdeka. Sebagai simbol pemersatu, kehadiran kerajaan menjadi penting dalam menjaga stabilitas politik dan hubungan antar desa, mencegah konflik horizontal serta mendukung fungsi kerajaan sebagai simbol dunia dimana upacara-upacara besar harus dilaksanakan (Geertz, 1980). Guna mendukung upacara-upacara, kerajaan dan juga penguasa perlu membentuk komunitas pendukung. Hubungan antara pusat dan desa relative longgar. Pola pemerintahan seperti ini sering disebut sebagai ‘unstable circle of kings in a territory without fixed borders’’ (Wolters,’ 1982).

Wilayah dengan Banyak Pusat: Kota Denpasar Pra-kolonial

Di kota Denpasar pada masa pra-kolonial, raja dan kerajaan kuat muncul silih berganti. Kemunculan kerajaan baru dan pemimpin politik baru tidak lantas memutus pemimpin politik sebelumnya. Karena terdapat beberapa pemimpin dengan pendukungnya masing-masing, wilayah yang kita kenal sebagai pusat kota Denpasar kini terdiri atas beberapa pusat. Kekuatan politis pusat-pusat kerajaan ini berbeda-beda dan juga dinamis, bisa menguat dan bisa juga melemah. Secara fisik, kekuatan-kekuatan politis ini, bersama-sama dengan desa-desa traditional yang merdeka, membentuk wilayah dengan, tidak hanya satu, tetapi banyak pusat. Hal ini, wilayah dengan banyak pusat, masih bisa disaksikan hingga awal kedatangan pemerintah colonial Belanda dan juga hingga awal masa kemerdekaan sebagaimana ditunjukkan pada peta pertama. Desa-desa traditional, sekalipun berafiliasi, desa-desa traditional tidak terhubung secara langsung ataupun menyatu dengan pusat pemerintahan kerajaan.

Revised01.pdf

Memudarnya Pusat-pusat dan Pola Penataan Tradisional: Kota Denpasar Masa Kolonial dan Awal Kemerdekaan

Di masa kolonial, pemerintah menerapkan tata kelola baru untuk wilayah jajahannya termasuk Bali. Hirarki baru dikenalkan menggantikan kepemimpinan lama sehingga raja dan kerajaan kehilangan peran simbolisnya sebagai pemersatu wilayah. Hal ini menyebabkan tata pemerintahan tradisional turut terdampak yang berimbas pula pada tata ruang wilayah.

Puri dan perempatan utama di depannya yang menjadi pusat penataan ruang di masa pra-kolonial tergantikan oleh fasilitas baru yang dikembangkan sesuai dengan strategi pemerintah baru. Perkantoran, permukiman pegawai pemerintah dan fasilitas ekonomi baru menempati wilayah pusat kota. Dampaknya, pola orientasi penataan ruang yang awalnya terpusat di titik tengah perempatan utama turut berubah menjadi tersebar. Namun demikian, pola-pola desa yang dahulu berafiliasi dengan pusat kerajaan hanya mengalami sedikit perubahan, jika tidak tetap pada pola tradisionalnya. Hal ini terjadi karena aktivitas perekonomian modern hanya terpusat di pusat kota yang sebelumnya adalah pusat-pusat kerajaan. Selain itu, wilayah yang berkembang adalah di kawasan pelabuhan. Pelabuhan dan pusat kota menjadi titik pusat distribusi barang dan jasa dimana komoditas Bali diangkut keluar serta komoditas yang tidak dihasilkan di Bali dimasukkan. Dengan demikian, dua fasilitas ini menjadi pusat penyebaran produk luar yang dipandang modern serta secara sadar menjadi pusat kehidupan modern memudarkan peran pusat ‘catus patha’.

Kegiatan perekonomian tidak melulu didominasi oleh peredaran komoditas berupa barang dagangan. Sejak seperempat awal abad ke-20, pariwisata mulai dikenalkan sebagai mesin ekonomi baru di Bali oleh pemerintah kolonial. Perkembangan bisnis ini ternyata cukup pesat. Sanur, sebuah desa di bagian timur Denpasar berkembang berkat kegiatan ekonomi baru ini membawa pula konsekuensi urbanisasi. Selain wilayah pusat kota, yang merupakan sumber distribusi barang dan jasa, Sanur juga tumbuh cepat. Akibatnya, tidak hanya di pusat kota, kawasan tepi pantai yang secara tradisi dipandang kurang bernilai ekonomi, bertransformasi menjadi kawasan yang menjanjikan keuntungan tinggi. Alih fungsi lahan menjadi keniscayaan di kawasan yang memiliki daya tarik wisata.

Selain kegiatan ekonomi, perubahan tata pemerintahan juga berpengaruh terhadap perubahan tata ruang kota. Sistem pemerintahan baru yang dikenalkan sejak masa colonial membutuhkan fasilitas baru. Di pusat Kerajaan Denpasar lama dibangun perkantoran pemerintah. Selanjutnya seiring berkembangnya fungsi pemerintahan, di kawasan Renon Juga dibangun kompleks perkantoran baru. Kompleks perkantoran ini membutuhkan penyesuaian terhadap sekaligus memodifikasi tata ruang tradisional. Akibatnya muncul pusat-pusat kegiatan baru.

Kegiatan ekonomi yang menghubungkan pelabuhan dan pusat kota, perkembangan sumber ekonomi baru dalam bentuk tempat wisata serta tumbuhnya aktivitas perkantoran telah mempengaruhi bentuk kota. Semakin pesatnya perkembangan aktivitas ketiganya melemahkan penerapan pola tata ruang tradisional. Pelan namun pasti, wajah Kota Denpasar bertransformasi. Transformasi terasa semakin pesat dalam 15 tahun belakangan ini. Pemicunya, tentu saja pesatnya kegiatan yang didorong oleh factor ekonomi non-pertanian.

Tumbuhnya Pola Pita: Denpasar Masa Modern

Di masa modern, kegiatan ekonomi berkembang akibat meningkatnya performa jaringan jalan yang menghubungkan pasar dengan sumber barang dan jasa dari luar pulau Bali. Selain itu, konsentrasi kegiatan ekonomi dan perkantoran yang terletak di lokasi yang berbeda-beda juga menuntut dibuatnya jaringan jalan baru yang mengubungkan ketiganya. Akibatnya, kegiatan ekonomi yang berbasis tempat, place-based economic activities, sepeti pertanian semakin ditinggalkan. Penduduk kota kini beralih ke kegiatan ekonomi yang dipandang lebih menguntungkan.

Pembangunan jaringan jalan baru dan berkembangnya distribusi barang dan jasa non-tradisional membawa konsekuensi baru yaitu tumbuhnya aktivitas di spenajng jalur jalan utama. Semenjak akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, ruko-ruko bermunculan. Jejak awalnya bisa ditelusuri dari perkembangan di sekitar Jalan Gajah Mada di masa colonial, tetapi fasilitas ini berkembang pesat sejak dibukanya jalur-jalur jalan baru seperti by-pass I Gusti Ngurah Rai dan Jalan Gatot Subroto, dua jalur baru yang menghubungkan BAndara dan pusat kota serta pusat kota ke wilayah di luar Kota Denpasar. Tumbuhnya aktivits ekonomi di sepanjang jalur utama, tanpa pusat aktivitas yang jelas, sering disebut sebagai ribbon development pattern.

gajah mada4

Urban Conurbation: Denpasar Kini

Perkembangan pembangunan dengan pola pita, ribbon development pattern, tidak hanya merambah jalur-jalur utama yang menghubungkan fasilitas dan pusat ekonomi modern tetapi kini merambah pula pada jalur-jalur yang menguhungkan pusat kota dengan desa-desa tradisional dan jalur yang menghubungkan desa tradisional satu dengan yang lain. Hari ini kita akan mengalami kesulitan untuk mengathui batas antara desa Tonja dengan Peguyangan misalnya, atau antara Desa Sanur dengan Renon. Semua wilayah terhubung jalan yang kedua sisinya dipenuhi oleh deretan ruko.

Jika kita melihat peta pertama pada gambar di atas, di kiri atas, dengan peta terakhir, di kanan bawah, akan terlihat jelas perbedaan keduanya. Pada peta pertama, satuan unit-unit desa tradisional masih terlihat jelas sedangkan pada peta terakhir semuanya telah menyatu.

What Next? Denpasar Masa Depan

Mungkinkah kita meramalkan masa depan Denpasar? Tentu saja sangat mungkin. Menilik kalimat pembuka dari tulisan ini, bahwa kota dibentuk dan terbentuk oleh aktivitas penduduknya, maka bentuk masa depan Kota Denpasar bisa diramalkan dari trend aktivitas mana yang meningkat. Jika yang berkembang adalah aktivitas perekonomian baru, maka bisa dipastikan pola pembangunan pita akan terus berlangsung. Sebaliknya jika aktivitas pertanian yang berkembang, yang mana rasanya mustahil, maka penyatuan desa-desa traditional akibat berkembangnya pola pita bisa dicegah. Bisakah perkembangan kota diatur? Tentu saja bisa. Pengaturan bentuk kota bisa dilakukan untuk menjamin bahwa setiap penduduk memiliki kesempatan yang seimbang dan setiap aktivitas seseorang atau sekelompok orang tidak menganggu atau mengurangi hak orang atau kelompok lain yang juga mendiami kota tersebut.

 

MEMORI KOLEKTIF DAN IDENTITAS-TEMPAT

DSC_4943
Identitas tempat bisa direkonstruksi secara fisik
  1. Intro

Saya suka melihat postingan-postingan Bli Gede Kresna di Fb. Ada bangunan, lingkungan, termasuk juga makanan. Ada satu benang merah yang menghubungkan postingan dengan tema yang berbeda-beda tersebut di mata saya. Semuanya mengingatkan akan masa kecil, masa saat ‘pengalaman’ kita belum didikte oleh berbagai macam teori tentang arsitektur yang baik, tentang tata cara menjaga lingkungan, ataupun teori tentang rasa. Masa saat pengalaman-pengalaman terjadi dengan alami, mengalir saja.

Postingan tentang halaman berbatu misalnya, mengingatkan pada licinnya permukaan jalan desa saat hujan, postingan yang memuat foto-foto dedaunan basah mengingatkan akan suara gemerisik daun saat tertimpa hujan atau tertiup angina di setiap akhir tahun.

Kenangan masa lalu mengingatkan kita pada tempat, pada kampong halaman, pada ‘feeling at home’. Sesuatu yang, bagi sebagain kita, menjadi barang mahal belakangan ini.

Saya sekali waktu menunjukkan postingan beliau kepada kawan dan efek yang sama rupanya juga terjadi. Kami mulai ngobrol tentang masa kecil. Tentang pohon badung dan bleket (saya tidak tahu nama kerennya) yang tumbuh di belakang pura ratu ngurah. Tiba-tiba kami seolah mendengar kecipak air di sungai di belakang rumah serta tekstur permukaan batu di tepiannya tempat kami biasa duduk sebelum nyebur di sejuknya air yang mengalir dari pegunungan, mencium aroma kopi yang sedang di nyahnyah. Ibarat gambar-gambar dalam film, imaji-imaji berkelebatan menghubungkan kami dengan tempat kami dulu dibesarkan, melintasi ruang dan waktu.

Kita hidup dilingkupi oleh lansekap. Kita terhubung dengan lansekap sekeliling dalam berbagai cara. Banyak rumah dan fasilitas fisik di kampong pada jaman dahulu dibangun secara bergotong royong. Bangunan-bangunan pura, bale banjar, saluran air dan banyak lagi yang lainnya dibangun oleh leluhur kita. Manusia memodifikasi lansekap. Cara memodifikasi dan menggunakannya membentuk pengalaman, memori, rasa dan akhirnya membentuk persepsi kita tentang lingkungan terbangun. Semakin lama, semakin banyak memori yang tersimpan di dalam lansekap akibat semakin kaya nya pengalaman. Lansekap kita mengandung nilai budaya sehingga sering disebut ‘lansekap kultural’. Lansekap dengan demikian juga mengandung nilai sejarah, menjadi reservoir pengalaman dan memori kolektif.

Ruang-ruang desa, kampung halaman serta ruang-ruang kota dipakai secara kolektif. Pengalaman terbentuk dan dibentuk oleh sekelompok orang. Pura, bale banjar, lapangan, ruang di bawah pohon beringin di pusat desa, semuanya menjadi reservoir memory kolektif.

Saya tidak merasakannya sendirian.

  1. Identitas-tempat dan social-wellbeing

Dengan pengalaman, memori serta persepsi yang terbangun terhadap tempat dan lingkungan sekitar, kita bisa mengidentifikasinya dengan lingkungan lain yang memiliki kualitas yang berbeda.

Sekali waktu saya harus pergi meninggalkan kampung halaman. Saya merasakan aura yang berbeda, saya mulai membangun perbandingan, membandingkan rumah-rumah, membandingkan bangunan-bangunan yang berbeda. Dengan perbandingan saya membentuk identitas-tempat di kepala saya. Saat berada di luar daerah, saya merasakan kerinduan terhadap kampung halaman, ada rasa ‘feeling at home’ yang hilang. Ada rasa ingin segera kembali. Kembali ke lingkungan terbangun yang familiar. Rindu bentuk, rindu rupa, aroma, kualitas permukaan, suara bahkan rasa makanannya. Tanpa sadar, secara personal, identitas-tempat terbentuk dalam diri kita. Identitas tersebut membuat kita mampu membedakan kualitas tempat-tempat yang berbeda. Perbedaan tidak hanya pada bentuk fisik yang visual saja, tetapi juga perbedaan yang dirasakan oleh indera kita yang lain. Lalu kita mengidentifikasi diri kita sebagai bagian dari suatu tempat dan bukan bagian dari tempat yang lain. Kita lalu bisa berkata ‘saya orang Ubud, bukan Nak Badung’. Saat berkata demikian, tanpa sadar kita menyatakan bahwa kita familiar, dekat dengan atau menjadi bagian dari tempat yang kita sebutkan. Dengan menyadari perbedaan-perbedaan kualitas, kita lalu merasa terpengaruh oleh tempat-tempat. Perilaku kita juga, bisa jadi terpengaruh.

Tidak hanya oleh pengalaman serta memory personal, identitas-tempat juga dikonstruksi secara social. Saya masih ingat saat dimarahi oleh orang tua karena menangkap ikan di kolam yang dianggap suci. Kolam tersebut mendapat air dari mata air dari pancuran suci. Di tengahnya terdapat semacam pulau kecil dengan pura yang halamannya selalu becek. Tidak ada anak-anak yang berani kesana sendirian. Masyarakat mensakralkannya. Entah benar atau tidak, ada banyak takhayul beredar tentang kawasan tersebut. Air dari pancuran dipakai untuk membuat tirtha. Secara kolektif masyarakat membentuk identitas kawasan tersebut sebagai tempat yang angker, membuatnya terlindung sekaligus terjaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Pada kasus lain, sebuah pura yang dibangun secara gotong royong dari awal hingga berdiri juga memiliki identitas yang terkonstruksi secara social. Masyarakat pembuatnya menyimpan memori bagaimana lokasi pura dibersihkan, bagaimana proses pengumpulan dan pengangkutan batu, menyusunnya satu demi satu hingga mengukir dan mengupacarainya. Memori ini kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Pura di desa saya, saya dengar, dibangun antara lain oleh kakek saya. Konstruksi social membentuk ‘emotional-attachment.’ Di desa saya, untuk membentuk kembali memori kolektif, banyak diselenggarakan festival dan acara komunal, salah satunya festival rurung. Dalam even ini, para pematung membuat karya instalasi secara keroyokan, dikelilingi oleh para penjual makanan traditional. Sore harinya, anak-anak diajak berkumpul dan bermain bersama. Kegitan-kegiatan semacam ini diharapkan akan memperkuat memory kolektif, menambah rasa ‘feeling at home’ serta rasa memiliki. Pada gilirannya, kegiatan semacam akan meninggikan derajat kepedulian terhadap lingkungan, memperkuat rasa ‘satu’. Dengan demikian identitas-tempat yang kuat mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis manusia, baik secara personal maupun kolektif.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tempat-tempat yang memiliki identitas yang kuat menarik wisatawan
  1. Identitas-tempat dan ekonomi

Semenjak merebaknya industri pariwisata, identitas-tempat menjadi penting. Semua mungkin tahu hotel Bali Beach tetapi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pembangunannya sangat terkait dengan tarik-ulur penciptaan identitas-tempat. Pada awal kemerdekaan, konon Presiden Sukarno ingin membangun identitas baru bagi Indonesia. Identitas yang lepas dari kungkungan kolonialisme, tetapi mencerminkan kehidupan yang maju, modern. Tata ruang dan arsitektur menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan tersebut. Di Jakarta, tata kota dan desain urban dibangun untuk mencerminkan tingkat kemajuan bangsa Indonesia. Bahwa Indonesia tidak kalah oleh bangsa lain. Untuk mengenalkan budaya dan identitas bangsa, Bali, pada waktu itu, menjadi garda depan karena sudah terlanjur dikenal lewat promosi turisme kolonial. Dibangunlah Bali Beach. Tetapi rupanya ide modern Sukarno berlawanan dengan ide turisme. Turis mencari tempat-tempat yang authentic yang berbeda dengan tempat asal si turis. Dengan kata lain, tempat-tempat yang memiliki identitas yang berbeda dengan muasal si pengunjung. Ide Sukarno lalu diseimbangkan oleh sekelompok ekspatriat dengan mengembangkan gaya Bali Style. Kelompok ini pada dasawarsa 70-an dan 80-an menjadi garda depan yang berperan pada pembangunan pariwisata dengan mewujudkan bangunan-bangunan bertema traditional. Semnagat yang sama lalu menular kepada generasi arsitek local. Dimotori oleh Robi Sularto lalu menular hingga kini ke Popo Danes, Ketut Arthana, Ketut Siandana, dan lain-lain. Lalu study SCETO yang terbit tahun 1972 mengukuhkan bahwa identitas Bali harus dijaga. Direkomendasikan agar pembangunan wisata dilakukan dengan hati-hati hanya pada kawasan tertentu saja. Identitas tempat yang kuat juga mengandung nilai ekonomi, dalam hal ini pariwisata.

P3031012.JPG
Memori kolektif yang lahir dari aktivitas sosial
  1. Identitas-tempat dan politik

Identitas-tempat juga mengundang perdebatan politik. Kita terpapar berita soal dihancurkannya simbol-simbol politik oleh sekelompok orang agar identitas suatu tempat hilang dan dapat dibangun identitas baru yang melambangkan kelompoknya.

Beberapa tahun yang lalu, bahkan sampai sekarang, banyak berita beredar soal penghancuran situs-situs bersejarah oleh kelompok teroris. Salah satu tujuannya adalah untuk menghancurkan pesan social, rasa persatuan, serta memory kolektif masyarakat. Hal yang serupa juga terjadi pada awal abad ke 20 saat Belanda datang ke Denpasar. Perempatan agung yang ada di depan Puri Denpasar digantikan dengan jam lonceng. Puri Denpasar dan Puri Pemecutan, symbol kekuasaan dan kekuatan tradisional dihancurkan. Hasilnya? Masyarakt untuk beberapa saat kehilangan ‘rasa’ setempatnya. Dalam salah satu wawancara saya dengan tokoh adat, konon pada masa itu masyarakat kebingungan. Puri sebagai simbol pemersatu telah jatuh. Upacara-upacara yang menjadi reservoir memori kolektif terancam tidak bisa dilaksanakan. Secara fisik, lingkungan juga sudah berubah. Kawasan sekitar puri, yang dahulu disakralkan digantikan oleh permukiman masyarakat Belanda

Dalam kondisi rasa kehilangan, masyarakat mengkonsolidasi kekuatan tradisionalnya. Beberapa banjar lalu membentuk embrio Desa Adat Denpasar. Tugasnya antara lain untuk menjaga memori-kolektif dengan cara meneruskan upacara, menjaga situs-situs traditional pura dan juga mempertahankan aktivitas social. Dengan kata lain, untuk menjaga kesinambungan memori-kolektif masyarakat. Dengan demikian, identitas masyarakat Denpasar diharapkan akan tetap terjaga.

Pemerintah colonial sepertinya sempat merasa menyesal telah menghancurkan Puri Denpasar dan membangun bangunan dengan bentuk yang berbeda di lokasi tersebut. Sebagai gantinya, mereka lalu merekonstruksi beberapa bangunan puri dan mewujudkannya sebagai Museum Bali. Undagi-undagi kerajaan diundang untuk berpartisipasi dalam membangun candi bentar, bale kulkul dan gerbang kori yang ada di Museum Bali. Pembangunan ini nampaknya juga berkaitan dengan politik etis yang merebak sejak akhir abad ke 19. Politik yang menganjurkan agar pemerintah colonial tidak lagi memandang wilayah jajahan sebagai yang ‘inferior’.

  1. Tantangan Identitas-tempat di masa kini

Jarang disadari, memori kolektif dan identitas-tempat yang terbentuk olehnya mempengaruhi banyak sendi kehidupan kita. Karena jarang disadari, kita juga menjadi kurang perduli. Kekurangperdulian kita mengundang banyak aksi belakangan ini, terutama setelah banyak model bangunan, aktivitas, serta perkembangan teknologi terbaru muncul di masyarakat.

Sebagian dari kita mungkin merasa miris dengan model pembangunan pura dengan cara renovasi yang marak menjelang tahun politik.

Sebagian masyarakat resah dengan berkurangnya ruang publik tempat memori-kolektif dibangun yang membuat masyarakat semakin individualis.

Dalam hal teknologi terkini, anak-anak terpapar dengan gadget. Mereka kurang berinterksi dengan temannya dan juga dengan lingkungan fisik di sekitarnya. Memori-kolektif anak anak terbentuk tidak melalui interaksi langsung dengan ruang fisik tetapi virtual. Mereka lebih mengenal istilah-istilah ruang seperti cyberspace, situs online, yang kesemuanya terhubung secara virtual. Tidak banyak lagi yang kenal serta memiliki memori tentang legon, labak, beji, tangluk, uma, bet, serta istilah-istilah lain yang memiliki makna nyata.

  1. Apa yang bisa dilakukan?

Kemajuan tidak bisa dicegah dan perubahan adalah hal yang abadi. Akan tetapi, jika kita masih menganggap bahwa identitas-tempat sebagai hal yang berguna, alternative perlu dicari. Alternative dimana perubahan yang terjadi tidak mereduksi value yang dimiliki oleh tempat-tempat yang membentuk identitas kita. Alternative baru dimana perubahan tidak menggantikan tetapi memperkaya pengalaman yang sudah ada. Sebagai bahan diskusi, berikut beberapa stimulant yang bisa kita lakukan dalam menyusun alternative perubahan.

 

Menjaga artefact yang menjadi reservoir memory

Menjaga dan memutakhirkan cara membangun tradisional

Memperbanyak aktivitas kolektif

Menjaga lingkungan yang menyediakan bahan bangunan, makanan, ruang, dst.

Kembali melihat ke sekitar, apa yang disediakan oleh lingkungan dalam hal: naungan, makanan, memory, dst.

Social-media, Aktualisasi Diri dan Tata Ruang Kita

1530038wisata-kelimutu780x390
Wisata alam. Sumber travel.kompas

Di Indonesia liburan panjang telah usai dan hari-hari kerja sudah menanti di depan mata. Tentu ada banyak cerita dan pengalaman liburan yang bisa dikenang dan diceritakan bagi rekan sekantor atau teman sekolah. Cerita ini bisa menstimulasi orang yang diceritakan untuk tertarik berkunjung ke tempat yang dikisahkan. Wisata memang salah satunya bertujuan untuk memberi pengalaman baru yang berbeda dibandingkan dengan pengalaman yang kita lewati dalam keseharian. Tujuan berwisata sendiri adalah untuk lepas dari keseharian yang seringkali membuat jenuh. Artinya wisata adalah untuk kebutuhan diri sendiri. Namun ada satu lagi tujuan wisata yang nampaknya berkembang belakangan ini yaitu sebagai sarana aktualisasi diri. Bukan lagi untuk kepentingan diri sendiri secara personal tetapi untuk menunjukkan siapa diri kita di tengah masyarakat. Tentang membentuk dan menciptakan identitas, tentang kualitas yang membuat kita terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan anggota masyarakat lain atau teman-teman.

Karena ingin terlihat ‘berbeda’ atau ‘setara’, maka ada dua trend menarik. Sebagai sarana aktualisasi diri, agar menjadi ‘berbeda’ maka tempat-tempat yang unik yang belum pernah dikunjungi atau diliat oleh teman-teman atau masyarakat di sekitar kita menjadi tujuan. Tempat-tempat ini bisa jadi berupa pegunungan, danau atau laut dengan pasir putihnya atau bisa juga berupa kota kecil dengan suasana unik, bangunan megah, jembatan atau taman wisata air. Atau bisa juga restaurant yang menjual makanan khusus, villa atau kolam renang , dengan desain unik, terletak di kawasan yang dianggap keren. Pendek kata, bisa berupa wilayah alami atau obyek buatan manusia. Dengan dunia internet yang mewabah, tidaklah sulit untuk mencari tempat-tempat tadi. Berikutnya, saat ingin terlihat ‘setara’ menjadi bagian dari golongan tertentu, maka kita cenderung mencari tempat-tempat yang sudah pernah dikunjungi oleh teman-teman kita sebelumnya. Bisa jadi kita mengetahui seorang kawan berkunjung ke Paris atau melihatnya di tepian tebing di Nusa Penida lalu kita ingin berkunjung kesana. Atau ada kawan yang berkunjung dan berpose di depan patung singa di Singapore dan membuat kita ingin mengulangi pengalaman si teman tadi. Kecenderungan yang kedua ini biasanya dipicu oleh  keinginan agar dilihat ‘setara’ sehingga tempat yang pernah dikunjungi oleh orang ‘top’ menjadi primadona. Kita ingin mengunjungi tempat yang pernah dijajaki oleh entah itu artis, politisi atau teman kita yang memiliki status social lebih tinggi, misalnya.

Lalu bagaimana menjadi ‘berbeda’ atau menjadi ‘setara’ ini bisa dijadikan alat aktualisasi diri? Disinilah peranan social-media menjadi penting. Sesaat kita mengunjungi tempat unik, entah karena ‘perbedaan’ atau ‘persamaan’ maka segera pula dalam beberapa saat fotonya akan terpampang di laman social-media kita. Kadang berlomba-lomba untuk lebih dulu memposting agar tidak didahului oleh rekan lain. Karena jika didahului, maka berkurang pula makna ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ yang ingin dicapai. Facebook nampaknya paham betul dengan perilaku semacam ini. Fitur ‘live’ kini kian populer dipergunakan. Dengan fitur ini pengalaman yang diperoleh bisa di-post secara real time. Dengan postingan real time, tujuan agar terlihat ‘berbeda’ dari atau ‘setara’ dengan yang lain bisa segara ditunjukkan. Unsur kecepatan menjadi kunci disini. Semakin cepat pengalaman baru tersebut di-posting, maka semakin cepat pula aktualisasi diri diperoleh. Dalam upaya menjadi ‘berbeda’ dan ‘setara’ ini, kita dihujani oleh berbagai macam image tentang tempat-tempat unik dan tempat-tempat baru, ruang-ruang dimana aktualisasi diri dibentuk. Lalu apa implikasinya bagi perencanaan dan penataan ruang?

hipwee-IMG_20161227_114638_217
Pelataran foto di atas jurang. Sumber hipwee.com

Tempat-tempat alami tentu saja sudah tersedia untuk dikunjungi. Tebing-tebing, danau, jurang yang hijau dan sebagainya sudah ada dan tinggal di’temu’kan dan dikunjungi. Tempat-tempat buatan harus diciptakan. Lalu kita akan jamak menjumpai di social-media teman-teman atau kerabat berpose di pelataran kayu di tepi jurang, berpose di ayunan di tengah laut, atau di restaurant dengan nuansa tertentu. Perancang dan desainer dituntut untuk terus mencari atau menciptakan ide-ide baru. Ide-ide untuk membuat tempat yang bisa dijadikan sebagai ajang ‘aktualisasi diri’ yang akan membuat orang merasa ‘berbeda’ atau ‘setara’ dengan yang lain. Jika dahulu tempat wisata terpusat pada satu atau dua titik saja, kini tempat-tempat wisata bisa kita jumpai di berbagai titik dan wilayah. Bahkan wilayah yang jauh di pelosok-pelosok karena keinginan untuk terlihat ‘berbeda’. Karena wisata tidak terlepas dari faktor ekonomi, pergerakan ekonomi pun mejadi lebih tersebar dalam skala luas. Skala dan kecepatan perubahan menjadi sangat masif. Akan tetapi hal ini berimplikasi pada penataan ruang.

Rencana penataan ruang adalah sebuah rencana jangka panjang, sementara kecepatan pembangunan di lapangan saat ini sangat tinggi berorientasi keuntungan jangka pendek. Terjadi ketimpangan disini. Para investor dan perancang dipaksa untuk terus bekerja keras memikirkan dan melahirkan konsep-konsep unik untuk segera balik modal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ruang-ruang terpencil dieksplorasi sebagai wadah mencipta tempat wisata baru. Arus transportasi dan pergerakan kendaraan kini semakin sulit diprediksi. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pakar transportasi. Laju alih fungsi lahan akan semakin kencang karena tempat-tempat unik dengan segera akan melahirkan pusat ekonomi baru yang membutuhkan lahan. Pemikiran konsep unik ini ujung-ujungnya akan berakhir di titik yang sama seragam. Kita melihat dimana-mana ada pelataran kayu di tepi jurang, ayunan di atas danau, restaurant yang dahulu terasa unik kini di-copy dimana-mana. Restaurant ikan bakar khas Jimbaran bisa dijumpai di tengah sawah di Ubud. Orang  dengan cepat akan bosan dengan tempat yang sudah berkali-kali di post di social media. Tempat-tempat yang awalnya ‘unik’ menjadi biasa-biasa saja. Sebentar lagi pelataran-pelataran kayu di atas tebing akan kehabisan daya tariknya dan digantikan oleh trend baru. Ayunan di tengah laut juga tidak lama lagi akan kehilangan daya pikat. Lalu akan ada lagi trend-trend baru yang melahirkan mobilitas penduduk baru, alih fungsi baru dengan kecepatan dan skala yang semakin tinggi dan luas. Pencarian akan ‘kebaruan’ dan ‘keunikan’ akan kembali berakhir pada kesamaan karena duplikasi akan kembali terjadi. Pada akhirnya akan melahirkan persoalan tata ruang baru.

Tidak mudah mengantisipasi trend semacam ini. Trend dimana segala sesuatu diukur dari kemampuannya untuk menyajikan hal unik sebagai ajang aktualisasi diri. Jika aktualisasi diri dengan konsep menemukan ‘perbedaan’ dan ‘kesetaraan’ memang menjadi motivasi, maka ada baiknya kita berhenti sejenak, atau setidaknya melambatkan laju.

hipwee-Kebun-Teh-Nglinggo-640x426
Ayunan iconic berwarna mencolok. Sumber hipwee.com

Jauh sebelum segala sesuatunya terlihat sama, manusia sesungguhnya hidup di tempat-tempat yang berbeda-beda. Pengaruh geografis, pengetahuan serta material lokal, keunggulan spesifik suatu lokasi di masa lampau menghasilkan tempat-tempat yang unik. Tidak ada satu desa pun di Bali yang memiliki kesamaan attribut dengan desa lain, misalnya. Atau tidak ada dua pura yang dibangun sama persis. Bahkan rumah-rumah tradisional yang konon dibuat dengan tatanan yang sama, Hasta Kosala-kosali, pun selalu memiliki sisi keunikannya sendiri. Jika kita mengurangi sedikit kecepatan maka keunikan justru dapat digali dari pengetahuan setempat. Bukan dengan cara meng-copy dari tempat lain tetapi melahirkan konsep baru dari pengetahuan setempat. Memberi makna dan nilai baru pada ilmu yang tumbuh dan berkembang di suatu wilayah sebelum adanya pengaruh luar. Authenticity adalah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan hal ini. Tentu saja upaya semacam ini jangan diartikan bahwa kita menolak kemajuan, menolak pengetahuan luar atau hanya sebagai upaya nostalgia. Upaya ini adalah untuk mengembalikan pengetahuan unik dan menyandingkannya dengan pengetahuan baru, ide-ide dari luar, sekaligus mem-perbaharu-inya secara konstan. Dari penyandingan ini akan bisa digali ‘keunikan’ serta saya yakin akan kita temukan ‘kesetaraan’  jika proses ini dilakukan secara konstan. Lembaga pendidikan arsitektur dan desain semestinya berada di garda terdepan dalam hal ini. Di lain pihak, rencana tata ruang kita mestinya bisa mengantisipasi dan membaca fenomena soal kecepatan perubahan ini, memprediksi peran soal social-media dan penyebaran arus informasi yang kini berlangsung real time.

Juhani Pallasmaa: Obrolan bersama Peter Zumthor

Artikel asli ada di: Michael Asgaard (2012) Juhani Pallasmaa: In Conversation with Peter Zumthor in Paul Brislin (ed)(2012) Human experience and Place: Sustaining Identity, London : Wiley

Detail konstruksi atap, tiang dan dinding Saint Benedict Chapel by Peter Zumthor. Image courtesy of Felipe Camus

Saat seorang arsitek merancang bangunan di suatu lokasi yang tidak familiar dengannya, interpretasinya terhadap tradisi local dan regional kerap menjadi sangat tajam. Ketidakakrabannya dengan lingkungan sekitar, membuatnya mampu melihat lokalitas dengan ‘mata’ dan ‘pikiran’ yang lebih segar. Peter Zumthor seorang arsitek berkebangsaan Swiss, dalam karyanya di negara negara Nordic baik yang terbangun maupun tidak, mengeksplorasi tradisi tempat-tempat tersebut dengan tingkat sensitivitas tinggi terhadap topografi, cahaya alami dan material local. Hasilnya, karya-karya yang secara simultan meneruskan sekaligus memperbaharui tradisi setempat. Saya tertarik untuk menerjemahkan obrolannya dengan Juhani Pallasmaa yang rekamannya ditayangkan di pameran arsitektur bertema: ‘New Nordic –Architecture & Identity’ mengingat dalamnya isi diskusi serta kemungkinannya untuk dieksplor lebih lanjut di wilayah-wilayah Asia yang disebut sebagai the Global South. Sebetulnya ada kekhawatiran jika hasil terjemahan ini sedikit skewed, tetapi di atas semua itu, saya yakin ada banyak hal yang bisa kita petik dari obrolan dua orang senior ini.

Peter Zumthor (PZ): Saya semakin menua dan saya melihat sesungguhnya ada koneksi yang sangat kuat antara masa lalu dan masa depan. Apa yang saya lakukan hari ini bersumber dari masa lalu, bukan hanya dalam karya desain tetapi hal-hal nyata keseharian. Segala sesuatu ter-koneksi dengan masa lalu, tetapi mereka juga terhubung dengan masa depan, karena apa yang kita lihat di hari ini akan menjadi bagian dari masa depan, masa depan saya dan masa depan orang lain. Hal ini membuat saya merasa tenang, maksud saya ide konektivitas ini.

Juhani Pallasmaa (JP): Menurut saya, hal penting dari tradisi adalah semakin baik hasil karya tersebut, semakin dia membuat kita mengerti tentang karya-karya masa lalu.  Karya yang baik ‘menemukan kembali’ serta mengekspose cara kerja lama dengan memberinya ‘cahaya baru’. Menurut saya adalah tanggung jawab generasi masa sekarang untuk tidak berpaling terhadap apa yang sudah dikerjakan terdahulu, tetapi menemukan kembali esensinya.

PZ: Seni dan arsitektur adalah soal keindahan dan kebenaran, tentang momen-momen yang menyenangkan. Bukan sekedar soal tentang yang lama dan yang baru. Ini tentang keindahan dan kualitas. Saya ingat 15 tahun yang lalu, seorang mahasiswi di dalam kuliah di Belanda menanyakan pertanyaan yang sangat menggugah saya: ‘Peter, apakah anda adalah seorang arsitek modern?’ Saya jawab: ‘Saya tidak mengerti pertanyaan ini. Saya hidup di waktu sekarang. Apapun yang saya lakukan pastilah bersifat kontemporer. Semua yang saya lakukan adalah response saya terhadap kehidupan di hari ini.’

JP: Anda merujuk pada dimensi kehidupan dalam arsitektur dan lansekap. Bukankah sebagai salah satu aspek dalam kehidupan berarsitektur, jejak waktu dan pengalaman ruang itu penting? dan sepertinya hal ini dilupakan dalam arsitektur modern karena kita selalu ingin terlihat baru? apakah kita ingin bangunan semacam itu? sepertinya anda memiliki attitude yang berbeda, seperti juga saya. Buat saya jejak waktu dan patina (taksu) dan juga jejak cuaca dan musim memperkaya desain. Mereka memberikan narasi yang dalam pada kehidupan dan jaman.

PZ: Ya saya sependapat. Dunia ini sebetulnya dipenuhi oleh bangunan-bangunan dan kota-kota yang indah produk masa lampau; sangat banyak malahan. Bangunan-bangunan lama yang dibuat sangat baik meninggikan martabat manusia. Menurut saya, ini semua pada akhirnya adalah soal bagaimana membuat hidup bermartabat.   Kita harus melingkupi diri dengan hal-hal baik, menciptakan (mendesain) karya-karya yang berkualitas, yang indah. Inilah yang saya sebut sebagai martabat. Ini adalah keistimewaan (bagi arsitek: my own emphasis).

JP: Kita sering menganggap bahwa setting kehidupan adalah panggung untuk mementaskan hidup. Tetapi seiring menuanya usia, saya menyadari bahwa keterkaitan antara kita dan setting (actor dan panggungnya) jauh lebih dalam. Dunia dalam diri dan dunia di luar diri sesungguhnya satu dan saling berkait dalam sebuah continuum. Jika kita mulai berfikir semacam itu (kesatuan antara dunia dalam dan luar diri: my own emphasis), signifikansi arsitektur dan lansekap, ataupun hal lain di sekitar kita semakin terasa meningkat karena selain dengan hal-hal yang bersifat fisik kita juga menemukan hal-hal yang immaterial, mental things, dan tidak hanya tentang diri kita tetapi juga manusia secara lebih luas dan juga generasi yang akan datang.

PZ: Iya, mungkin pertanyaan tentang identitas adalah soal keistimewaan: nilai yang membuat perbedaan, menciptakan karakter yang membuatnya berbeda dengan yang lain. Dan tentu saja seperti yang anda sampaikan, identitas selalu memiliki nilai spiritual. Saya kira ada karakter kuat dalam karya arsitektur yang baik. Arsitektur yang baik menciptakan ‘place’. ‘Place’ yang mana kita bisa me-narasi-kan hubungan emosional, inilah yang menciptakan identitas.

Kekinian adalah soal keterkaitan dengan masa lalu dan masa yang akan datang, Kolumba Museum by Peter Zumthor. Image courtesy of Fernandi Vazquez

JP: Mungkin, bahkan juga dalam hal yang lebih luas daripada arsitektur. Misalnya, sangat jelas buat saya bahwa setiap negara Nordic memiliki karakter arsitekturnya tersendiri. Sangat mudah untuk menyebutkan ini arsitektur Norwegia, yang ini arsitektur Swedia, atau yang itu arsitektur Finlandia. Arsitektur bisa mendukung identitas kultural dalam level yang lebih luas, tidak hanya hal-hal yang bersifat personal. Dan dalam level yang lebih abstrak, dalam pandangan saya, arsitektur bisa dijadikan sebagai framework untuk memahami kehidupan. Kita memahami lansekap, misalnya, dalam kaitannya dengan arsitektur. Kita memahami perubahan jaman dalam kaitannya dengan arsitektur dan seterusnya. Kita mengerti institusi kemanusiaan dalam kaitan dengan arsitektur, jadi arsitektur mengorganisir pengalaman-pengalaman kita dalam level perseptual. Arsitektur membantu kita memahami cara kita berfikir soal diri kita.

PZ: Benar. Saya teringat soal ‘tanpa-identitas’ tentang arsitektur yang tidak memiliki identitas, apakah ini yang disebut arsitektur global?

JP: Mungkin saja.

PZ: Identitas harus dikaitkan dengan hal-hal nyata.

JP: Benar, dan identitas mesti dikaitkan dengan sejarah diri, pengalaman keluarga dan sejarah kita dalam level yang lebih luas. Kita tidak hanya ada di hari ini, kita adalah produk dari perubahan waktu dalam banyak hal. Tetapi hal semacam itu seringkali dilupakan, terutama di hari ini, dunia yang semakin dikaitkan dengan ‘kekinian’. Misalnya, identitas selalu dikaitkan dengan fashion, tampilan luar, yang mana selalu berganti dalam  siklus 3 bulanan. Hal semacam ini menurunkan level pemahaman soal identitas.

Memperkuat lansekap alam, Bruder Klaus Field Chapel by Peter Zumthor. Image courtesy of Samuel Ludwig

PZ: Kita juga harus menghargai orang lain, tidak hanya berfokus pada penciptaan identitas kita sendiri. Ada tanggung jawab disini. Adalah hal yang indah bahwa sebuah pohon adalah bagian dari suatu family tertentu, tetapi dia juga harus menjadi bagian dari species yang lebih luas. Dalam karya-karya saya, saya suka melihatnya sebagai bagian dari ‘keluarga’ bagunan-bangunan dalam skala yang lebih luas, sebagai bagian yang menyatu dengan lansekap perkotaan ataupun bagian dari organisme di sekitar, bagian dari hidup itu sendiri.

JP: Saya kira itu point yang sangat baik. karena hari ini semakin banyak orang yang lebih percaya pada keunikan dan individualitas, dan saya tidak paham bagaimana hal semacam itu memberi nilai yang positif  pada arsitektur ataupun seni. Saya kira kita perlu sedikit nilai-nilai universalitas and anonimitas dalam karya kita. Jika tidak, karya-karya tersebut tidak akan ‘berbicara’ pada kita.

PZ: Bangunan yang normal, sederhana, biasa-biasa saja yang tidak berusaha untuk menarik perhatian- hal semacam ini harus diajarkan lagi. Sangat menarik dan penting untuk bisa melihat kualitas dari hal-hal biasa, menggunakannya dan mengerjakannya.

JP: Sayangnya bangunan semacam itu justru dianggap kutukan dalam dunia arsitektur belakangan ini. tetapi saya pikir bangunan yang biasa itulah juice in life, bahwa mereka seharusnya dan bisa dibuat menjadi sesuatu yang bermakna keindahan bermartabat.

PZ: Saya pikir mesti ada arsitek muda dengan pemikiran yang sama dengan kita –pasti ada satu dua orang- yang memiliki kemampuan untuk melihat melampui hal-hal komersial, bahwa karya yang baik tidak sekedar karya yang mengkilat atau sekedar pattern yang menarik di wajah bangunan. Saya melihat, arsitek-arsitek muda di kantor saya memiliki hasrat yang baik. Ada harapan pada bakat-bakat mereka. Banyak orang berbakat.

Wawancara ini dimuat di Jurnal/majalah arsitektur AD terbitan Wiley, 2012.

Hari Raya

Menjelang hari raya yang diselenggarakan setiap 210 hari sekali, atau 10 hari setelah galungan, timeline di sosmed ramai dengan status dari kawan-kawan dan semeton Bali di Inggris menggambarkan keinginan untuk merayakan bersama.

DSC_0060

Saya sejujurnya tidak begitu paham makna filosofis maupun historis perayaan hari raya ini. Di sosmed ada yang membahas etimologynya dari kata ka-uning-an, yang memiliki makna untuk mengingatkan diri sehingga konon tidak ada hubungannya dengan ‘kuning’ sebagai warna. Yang terbayang dalam memory semasa kecil hingga sekarang adalah melimpahnya makanan berbahan babi buatan bapak almarhum, aroma dupa wangi semerbak memenuhi udara kampung, alunan Gamelan Semarpegulingan merdu mengiringi barisan ibu-ibu beriringan menuju Pura Desa. Dan yang paling seru dan ditunggu orang sekampung tentu saja rombongan penari barong dari banjar Teges Kanginan, yang terkenal galak mengejar anak-anak yang mengejeknya, menari keliling desa. Tetabuhannya sederhana, kenong, kempur, kendang dan cengceng yang kesemuanya dimainkan anak-anak. Tetabuhan dan barong sederhana ini menjadi hiburan utama kala hari raya bahkan ditunggu-tunggu hingga hari ini.

Pada hari raya, baik Galungan maupun Kuningan, rumah kami di kampung selalu ramai oleh kehadiran handai taulan yang datang bersembahyang di pura keluarga, di sanggah. Persembahyangan lalu akan diikuti dengan silaturahmi dan obrolan seputar keseharian masing masing. Dahulu, cerita tentang air di sawah, hama ataupun banyaknya belut yang ditangkap menjadi menu utama. Beralih masa, obrolan berubah menjadi ramai tidaknya turis, laku tidaknya ukiran kayu atau sepinya tip dari tamu hotel. Ya obrolan keseharian yang sepertinya remeh tetapi buat saya esensinya adalah bertemu dan mengetahui keadaan saudara dan demikian juga mereka bisa tahu keadaan kami di rumah sembari bersama-sama menikmati hidangan khas, surudan hari raya berupa jaja kukus dan buah-buahan. Makna hari raya sebagai ajang bersilaturahmi semacam itu terbawa hingga kini, saat tinggal jauh dari kampung halaman. Kerinduan pada perpaduan aroma dupa, warna-warni wastra, alunan gamelan serta canda tawa keluarga besar tersirat pada keinginan untuk merayakan Galungan dan Kuningan bersama.

DSC_0057

Hari Kuningan, 15 April 2017, ini kami rayakan di Birmingham, kota terbesar kedua setelah London yang terletak di tengah tengah Negara Inggris sehingga lebih mudah dijangkau dari berbagai arah. Persembahyangan dilakukan dengan sederhana di ruangan hall salah satu hotel, tanpa dentingan genta, tiada pajeng serta umbul-umbul warna warni, meja tempat banten hanya dilapisi secarik kain prada serta bendera merah putih menggambarkan kerinduan pada tanah air serta kampung halaman di Bali  Namun trisandya khusuk dilanjutkan panca sembah berlangsung khidmat, hingga percikan tirta membasahi wajah dan rambut. Beberapa biji beras, bija, dibubuhkan dikening dan di ujung bawah leher.

DSC_0111

Selepas sembahyang, Sathya Deva, mahasiswa asal Gianyar yang kuliah di London menari Baris tunggal, lalu ibu-ibu dan remaja putri mementaskan tarian rejang dewa. Tidak ada kenong, kempur, kupek, cengceng apalagi gangsa, semua tarian diiringi suara gamelan yg diunduh dari channel youtube. Sebelum pentas terjadi sedikit insiden karena suara gamelan tidak bisa di mainkan, untunglah Bli Gede Lolet dan Putu Suwarta sigap mengatasi masalah tata suara. Sementara selepas tarian, anak-anak berlarian bermain saling berkejaran. Para orang tua, yang karena kendala jarak membuat jarang bertemu, ngobrol tiada habisnya. Semua membawa cerita seru dari kota tempat tinggalnya masing-masing. Saling mengundang untuk mengunjungi sembari menawari tempat menginap menjadi cerita lumrah. ‘Kalau mampir ke Oxford jangan lupa berkhabar, ya, nanti saya ajak ke rooftop bar yang menyajikan view kota’, ujar saya kepada setiap semeton yang tertarik berkunjung. Pak Wayan juga sibuk menawari semeton untuk mampir ke pulau indah tempat beliau tinggal bersama keluarga di Isle of Wight.

Makanan hari itu luar biasa banyak. Bli Gede Lolet membuat kerupuk kulit babi, sementara betutu dibuat oleh mbok Eniek. Bu Putri, jagoan masak, membuat lawar nangka dan jukut buah kacang. Ibu Arum membawa berbagai macam jajanan yang tidak habis dimakan oleh seluruh hadirin meskipun masing-masing sudah mangambil lebih dari satu. Minuman tak terkira. Ada minuman bersoda rasa buah, air putih, hingga minuman beralkohol yang dibawa oleh Made Rexi, warga asal Sanur yang kebetulan juga menjadi tuan rumah acara. Kerinduan akan makanan hari raya, pada hari itu, terbayar lunas tanpa sisa. Bahkan ada juga hidangan babi guling buatan Mbok Rini, sementara saya sendiri membuat ayam panggang sambel matah, yang dulu semasa kecil sering dibuatkan oleh almarhum ibu dari ayam surudan banten.

Senyum mengembang, tawa dan canda tiada habis. Kegembiraan juga dilengkapi oleh hadirnya pak Gulfan, konsuler KBRI London, memberi sambutan. Kehadiran beliau menambah semangat secara moral terhadap keberadaan banjar yang baru kami bentuk ini.

DSC_0177

Saya menghempaskan pantat di kursi kereta yang lumayan empuk. Setelah merapikan koper dan tas kamera, leher yang pegal saya pijiti sendiri sementara tanpa disadari seorang anak kecil berambut pirang di seberang tempat duduk memperhatikan gerak gerik. Saat ibunya tahu, segera dialihkannya perhatian si anak sementara saya tersenyum geli melihat tingkahnya.

Hari sudah jelang malam, jam menunjukkan pukul 19.33 tetapi langit masih terlihat terang. Di cakrawala, semburat cahaya matahari melabur awan dengan warna merah jingga semakin ke atas semakin gelap. Burung-burung terbang kembali ke sarang. Saat kereta mulai bergerak dan tiada lagi yang bisa dilakukan saya ambil kamera dari dalam tas gendong yang menemani dari kemarin.

DSC_0196

Melihat wajah-wajah ceria teman-teman sesama warga Bali di rantau dari layar 3 inchi, membuat saya kembali tersenyum. Hari ini bertambah lagi memori tentang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Cerita lama tentang Kak Oman yang sawahnya terserang hama tikus dan juga Pak Tutnik yang tidak mampu membayar cicilan motor karena harga patung yang jatuh kini berpadu dengan cerita dari teman-teman disini. Kenangan kuningan kini juga soal enaknya tum buatan Mbok Luh Chapman, semangat menggebu-gebunya Mbok Rini, tarian Baris Tunggal Deva, tentang Pak Wayan Gunawan sekeluarga yang menempuh jalan ratusan kilometer mengendarai mobil dari Cowes menuju Birmingham, Bli Gede Lolet yang bercita-cita membuka bisnis travel di Bali, Bu Putri yang bergadang membuat gelungan rejang sehingga adik-adik Yuthri, Erly, Ayu, Novi, Devina dkk bisa menari bak bidadari. Keceriaan Kuningan mungkin bertahan dalam 2-3 hari, tetapi memori nya akan bertahan menumpuk berpilin dengan kenangan hari raya di masa kecil.

Konon identitas manusia sebagai makhluk sosial, salah satunya, dibangun dari pengalaman dan memori. Kita menyebut diri orang Bali karena dibentuk oleh memori yang diceritakan orang tua kepada kita, memori yang kita bangun sendiri berdasarkan pengalaman hidup merayakan hari raya Bebali, atau buku-buku dan pelajaran sekolah tentang Bali yang diajarkan kepada kita. Saat kita berhenti merayakan hari raya Bali, atau berhenti diberikan cerita soal Bali, mungkin kita tidak lagi merasa menjadi ‘Bali’. Suatu saat, kami akan bercerita soal kuningan di Birmingham kepada anak-anak kami, atau anak-anak yang ikut merayakan Kuningan di Birmingham akan memiliki kenangannya sendiri tentang perayaan hari ini. Cerita dan kenangan yang akan memperkuat identitas kami dan juga mereka.

DSC_0070

Sedikit malas, setiba di Oxford saya menyeret koper yang isinya sudah banyak berkurang. Makanan yang memenuhinya saat berangkat sudah habis, menyisakan kamen, saput dan udeng. Permukaan jalan berlapis batu alam membuat lajunya tidak bisa lancar dan mangeluarkan suara dregdeg…dregdeg…dregdeg. Perjalanan sampai rumah kost masih harus ditempuh 20 menit lagi dengan naik bis. Langit sudah gelap, semburat sinar matahari sudah berganti kelam malam bertabur bintang. Bergegas saya menuju halte untuk menunggu bis diterangi lampu jalan.

Selamat Hari Raya Kuningan, semoga kita selalu berjumpa dalam keadaan damai tidak kekurangan suatu apapun.

Saniscara, Kliwon wuku Kuningan, Sabtu 15 April, 2017,

Di dalam kereta dalam perjalanan dari Birmingham ke Oxford

St. Just

Udara malam menusuk tulang diperparah hembusan angin yang menyertai gerimis pertengahan Oktober. Sambil berteduh di emperan, saya mengibaskan jaket hitam yang membungkus badan guna melepaskan titik-titik air yang telah menimpanya seharian ini.

Pusat permukiman St. Just di kawasan Cornwall ini tidak bisa dibilang besar, malah relatif kecil menurut saya.  Di jantung permukiman, di mana tiga ruas jalan bertemu, saya hanya menjumpai satu toko serba ada kecil, pub yang ramai oleh pengunjung lokal di akhir pekan itu, serta sebuah kedai fish and chips tepat bersebelahan dengan pub tadi. Didorong rasa lapar, segera saja saya masuk dan naik ke lantai atas yang merupakan tempat makan kedai yang nampak hangat dari luar. Butir-butir gerimis masih berjatuhan dari gelapnya langit malam membasahi seluruh kota. Dari jendela yang dipenuhi bulir gerimis, terlihat jalan-jalan yang basah memantulkan pendar cahaya lampu jalan, warnanya kuning pucat. Satu dua kendaraan lewat. Lampunya meninggalkan jejak cahaya memanjang sepanjang jalan. Selebihnya sepi. Sesaat sepasang manula berjalan tertatih dibantu tongkat melintas bergandengan tangan. Badannya yang mulai membungkuk ditimpa cahaya lampu jalan menciptakan bayangan memanjang di balik punggung, lalu menghilang di persimpangan jalan.

DSC_7902.JPG

Seperti juga kotanya, kedai ini juga tidak begitu ramai malam itu. Selain pasangan yang bercakap-cakap lirih di sudut ruangan, dua meja diisi sekelompok orang dari berbagai umur, nampaknya keluarga yang menikmati akhir pekan. Sedikit menggigil mengusir sisa-sisa dingin, saya memegang poci keramik berisi teh hangat dan menuangkan isinya yang merah pekat ke dalam cangkir. Tidak sekedar memegang gagang, saya menangkupkan kedua tangan di permukaan sisi cangkir berharap hangatnya menjalar ke seluruh tubuh. Sambil mendekatkan cangkir ke wajah, saya menghembuskan udara dari mulut ke permukaan cairan pekat kemerahan dengan asap mengepul-ngepul. Uapnya yang melayang-layang menempel di kacamata membuat pandangan sejenak mengabur.  Suara garpu dan pisau yang beradu dengan piring memecah sejenak kesunyian dengan bebunyian khas kedai makan. Sesekali kembali terdengar percakapan lirih dari sepasang tamu di meja seberang. Waktu serasa berjalan lebih lambat.

***

Terbangun di pagi hari yang menunjukkan ciri-ciri hari bakalan cerah, awan berarak, pendar semburat jingga di horizon serta langit yang berwarna biru muda. Di kejauhan, cottage-cottage nampak kecil dibandingkan keluasan garis bumi tanpa batas yang melatarinya. Barisan pepohonan dan hutan nampak kehitaman sementara deretan dinding-dinding batu rendah membatasi petak-petak peternakan membuat lansekap nampak terkomposisi mengikuti liukan kontur tanah. Suara lenguh lembu, ringkik kuda serta cericit burung memenuhi udara. Tidak membuat bising, tapi seoalh undangan untuk seturut bergabung.

DSC_7914.JPG

Tanpa basa-basi saya menyambar kamera, memakai sepatu kets dan bergegas menuju pintu keluar. Sapaan ‘Good Morning’ dari Ruth, si pemilik cottage tempat menginap, saya balas ala kadarnya. Derit pintu kayu dengan engsel besi karatan mengiringi langkah kaki menuju peternakan tepat di belakang cottage.

Udara masih membeku membelai kulit. Tetapi paru-paru bersorak girang merayakan kesegarannya yang unik dengan aroma humus dan padang ilalang basah sisa hujan semalam. Saya harus hati-hati melangkah karena tebaran kotoran lembu sebesar baskom ada di mana mana. Di bawah telapak kaki, tanah serasa empuk oleh tebalnya humus dan rerumputan hijau.

Beruntunglah orang-orang yang terlahir dan dibesarkan disini, di desa kecil berudara sejuk jauh dari hiruk-pikuk perkotaan serba cepat.

DSC_7959.JPG

Made

 

DSC_3742
Made Wijaya

‘Bali will be a lot more boring without Made Wijaya’

Terdengar berlebihan namun bisa jadi juga benar, demikianlah kalimat penutup dari berita obituary Michael White, atau yang lebih dikenal dengan nama Bali, Made Wijaya, yang dimuat di versi online koran The Sydney Morning Herald cukup menohok buat saya.

Sosok expatriate yang datang ke Bali pada awal tahun 1970an ini begitu kontroversial. Cara pandang dan komentar-komentar pedasnya membuat banyak orang tersinggung dan bahkan berpotensi membuat orang membencinya setengah mati. Namun karya lansekap, buku-bukunya tentang arsitektur Bali serta kecintaannya pada penduduk dan kebudayaan pulau dewata membuatnya dicintai. Dengan ketua kutub yang bersebrangan itu, sosok Made menjadi pribadi yang unik dalam lingkaran pergaulan dunia desain dan budaya Bali.

Saya mengenalnya sebagai sosok yang ramah, mudah tertawa lepas namun dalam sekali sentakan bisa tiba-tiba berkata tajam tanpa memikirkan akibat dari perkataannya. Joke-joke yang terlontar dari mulutnya kadang sarkastik dan berbau porno. Konon tidak jarang sikap kritis dan kata-kata tajam membuatnya kehilangan proyek-proyek berharga akibat berselisih paham dengan klien. Bagi Made, memiliki banyak proyek bukanlah tujuannya, tetapi memiliki proyek yang dibangun dengan segenap hati dan cinta adalah yang utama. Sebagaimana diaungkapkan saat menjelasakan bagaimana cara kerjanya yang melibatkan banyak seniman mulai dari arsitek, juru gambar, tukang kebun hingga pemahat.

‘…it is not uncommon when working for a project we work with limited budget but we do it with a big heart’.

Made membangun reputasinya dari titik terendah saat datang ke Bali sebagai pelatih tenis dan kolomnis di surat khabar Sunday Bali Post. Sebagai seorang hippy, katanya.

Dalam obrolan santai pada suatu siang menjelang sore di teras salah satu bangunan Villa Bebek Made menceritakan kisah hidupnya. Kesempatan untuk berperan dalam proyek lansekap diperoleh dari pergaulannya dengan lingkaran arsitek dan investor perhotelan yang tinggal di Bali di akhir tahun 70an. Saat itu, strategi pemerintah untuk menjadikan Bali sebagai etalase budaya Indonesia sedang dilakukan dengan gencar. Proyek-proyek besar dibangun dengan dana dari luar negeri termasuk Bank Dunia dengan harapan akan memberi keuntungan ekonomi yang berlipat. Berlawanan dengan trend pembangunan hotel internasional yang mengadopsi gaya Miami atau Hawaii, anggota kelompok dari lingkaran expatriate ini jatuh cinta pada budaya Bali dan memiliki visi serupa untuk membangun hotel-hotel yang sesuai dengan citra budaya dan kehidupan lokal. Dalam perjalanannya, mereka berkeliling Bali, menyaksikan perunjukan traditional, upacara-upacara ritual di pura hingga bergaul dengan penduduk setempat dengan cara tinggal di rumah mereka.

Barangkali kegiatan ini akhirnya menebalkan kecintaannya kepada budaya Bali serta menumbuhkan militansinya pada upaya mempertahankan nilai-nilai lokalitas dalam setiap karyanya. Tanaman, patung-patung, bentuk-bentuk taman dengan halaman tengah adalah bentukan fisik yang menjadi ciri utama dari karya Made. Namun semua itu hanya pendukung, baginya yang paling utama dari karyanya adalah kelestarian budaya bercirikan kehidupan lokal yang tercermin pada atmosfer yang tercipta. Elemen-elemen tadi hanyalah penunjangnya saja namun bukan berarti tidak penting. Nyaris setiap karyanya memiliki referensi budaya lokal dan sejarah yang kuat. Satu hal lain yang menjadi karakter adalah pertimbangan iklim tropis yang menjiwai pemilihan tanaman serta penempatan kolam serta elemen pelapis permukaan tanah. Lansekap hotel Amandari dan Bali Hyatt di Sanur adalah dua karya besar awal yang mewujudkan idealisme desainnya.

Kekaguman yang berbuah kecintaan dan militansi untuk mempertahankan budaya lokal tidak hanya tercermin dari karya desain lansekap dan arsitektur tetapi menjelma pula menjadi buku. Tidak kurang dari buku arsitektur, buku pertamanan, buku essay hidupnya selama di Bali serta, yang rencananya akan segera diterbitkan, buku Busana Bali adalah wujud lain dari perjuangan dan buah kekaguman sosok unik ini pada pulau yang telah menjadi rumah keduanya ini. Memudarnya preferensi budaya lokal serta menjamurnya gaya-gaya impor yang mewarnai lansekap Bali hari ini adalah dua hal yang sangat disesalinya.

Made memiliki bakat yang luar biasa dan peninggalannya berupa pengetahuan dan karya arsitektur tak ternilai harganya. Sayang, reputasi internasionalnya tak mampu membuatnya merasa dihargai oleh institusi local.

‘I feel unloved by local instituions’, keluhnya pada kesempatan lain.

Minggu terakhir di Bulan Agustus tahun 2016 ini saya mendapat khabar mengejutkan: Made Wijaya meninggal akibat kanker lymphoma yang dideritanya. Tidak banyak yang tahu, selain kerabat dekat, tentang sakit yang konon sudah dirasakannya sejak lama. Tak pelak kepergiannya mengejutkan bagi orang-orang yang mengenalnya, baik yang menggemari maupun yang membencinya. Saya jadi teringat bahwa kami masih memiliki rencana untuk membuat seri wawancara dan dokumentasi arsitektur pariwisata di Bali yang tertunda.

DSC_3754

Beruntungah, seperti ditulis di dalam artikel the Sydney Morning Herald, Prof. Adrian Vickers mengungkapkan akan mengabadikan semua karya penelitian dan arsip-arsip budayanya.

Sedemikian banyak pengetahuan yang dimilikinya tentang budaya lokal dan kini akan diarsipkan di Australia, tidak di Bali. Sayang sekali jika tidak ada institusi lokal yang tergerak untuk mengarsipkannya di Bali sehingga, seandainya tidak ada yang melanjutkan, setidaknya bisa dipelajari oleh generasi Bali, generasi yang budayanya menjadi pusat daya tarik bagi Made Wijaya.

Ketidakacuhan kita pada arsitektur lokal barangkali tercermin pula dalam ketidakpedulian kita pada ketekunan dan kekritisan pola pikir serta buah kecintaan sosok Made Wijaya yang tertuang dalam arsip-arsip dan karyanya.

Selamat jalan Made, semoga menyatu dengan Yang Tak Terpikirkan.

 

Isle of Wight dan Gerakan Kota Lambat

P8200125.JPG

Menapaki jalan-jalan pusat permukiman West dan East Cowes di Isle of Wight mengingatkan saya pada tulisan Paul L. Knox tentang Slow City Movement. Ya kota-kota yang sengaja memperlambat laju pertumbuhannya untuk memberi kesempatan penduduk, kota itu sendiri serta alam lingkungan di sekitarnya  untuk bernafas di tengah hingar bingar serta perlombaan mengejar kemajuan yang menjadi ciri-ciri kota modern. Globalisasi, demikian istilah yang sering kita dengar, telah memacu kota-kota utama dunia untuk mengejar pertumbuhan di segala bidang. Dengan adanya kemajuan teknologi transportasi dan informasi, pergerakan barang, jasa, dan, terutama, capital menjadi tanpa batas alias bebas dari sekat sekat geografis. Pemilik modal di kawasan A bisa dengan mudah mempengaruhi wajah kota di kawasan B dengan kekuatan capital yang dimilikinya. Demikian pula barang-barang produksi di wilayah satu bisa dengan mudah ditemui di wilayah lain yang letaknya bersebarangan secara geografis. Pergerakan modal, barang dan juga manusia memacu kota-kota yang memiliki daya tarik serta menawarkan janji keuntungan ekonomis tinggi menjadi sasaran tujuan. Adanya modal, barang serta tenaga kerja dari berbagai belahan di satu lokasi membuat pertumbuhan kota tersebut menjadi lebih pesat. Dalam banyak kasus, kota-kota yang berkeinginan untuk memacu pertumbuhannya lalu berupaya me ‘marketing’ kan dirinya guna menarik lebih banyak lagi investasi serta barang dan jasa guna mengejar kemajuan tadi. Karena banyak kota-kota menempuh strategi serupa, maka pertumbuhan kota menjadi seragam, wajah kota menjadi serupa dan mirip: ditandai dengan bermunculannya shopping mall, gerai makanan cepat saji, toko berjaringan, pom bensin untuk menunjang laju kendaraan, serta toko-toko merk pakaian yang sama di seluruh belahan dunia. Perkembangan yang pada akhirnya dikhawatirkan memberi dampak pada keseragaman wajah kota yang sama serupa, menghapus jejak-jejak makna masa lalu, serta pada akhirnya menjadikan kota tanpa jiwa.

Dalam gerakan yang disebut Slow City Movement, kota dibangun dengan prinsip sebaliknya. Toko-toko dan restaurant menjual makanan dan minuman yang dihasilkan dari lahan pertanian lokal, diolah oleh koki setempat berdasarkan resep yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang. Pun halnya dengan  bangunan yang dikonstruksi dengan material yang diperoleh dari lingkungan sekitar: batu alam setempat, kayu yang ditebang dari hutan di pinggiran kota atau bukit di tengah pulau serta dibangun oleh pekerja setempat dengan teknik yang dikuasai secara tradisional. Kota semacam ini, tentu saja akan berjalan lebih lambat karena harus membangun dengan modal yang dimiliki sendiri, yang jumlahanya terbatas, tanpa intervensi modal atau aktor luar. Kota yang tumbuh berkembang atas kemampuannya mengelola sumberdaya secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat lokal.

P8200263.JPG

Kapal ferry yang saya tumpangi melambatkan lajunya sebelum dengan tenang menyentuh bibir dermaga di pelabuhan East Cowes di Isle of Wight yang berjarak tempuh lebih kurang satu jam dari Southampton.  Beberapa menit kemudian pintu kapal terbuka dan kami melangkahkan kaki menapaki pulau di ujung selatan Inggris Raya ini disambut senyum hangat Pak Wayan Gunawan. Sudah belasan tahun tinggal di pulau ini, pak Wayan adalah WNI insinyur mesin yang bekerja di industry pesawat terbang dan workshopnya terdapat di pulau kecil diselimuti hutan di bagian tengahnya ini. Seperti saya sampaikan di awal tulisan tadi, tidak nampak bangunan modern yang menjulang ataupun berkilau dibungkus kaca. Kondisi ini kontras dengan imaji sebagian besar orang tentang kota-kota di barat yang serba modern. Jalan setapak batu alam, bangunan dengan rangka kayu beratap genteng tradisional serta dermaga kayu. Sedikit jejak-jejak pengaruh arsitektur klasik  nampak pada balustrade yang membatasi kawasan jalan setapak dengan tepian air.

Terdapat beberapa pusat permukiman di pulau yang tidak seberapa luas ini dan sebagian besar terletak di tepian pantai berhadapan dengan laut. Pantai-pantai karang berbatu kemungkinan menjadi sumber bahan alam untuk pembuatan dinding serta pondasi bangunan. Sementara di bagian tengah pulau, hutan-hutan hijau gelap mendominasi lansekap. Saya menduga kayu-kayu yang dihasilkan dari wilayah perbukitan inilah yang menjadi pemasok bahan konstruksi. Perpaduan antara batu alam dan kayu menjadi bahan bangunan menciptakan karakter lokal yang kental pada arsitektur permukiman penduduk.  Di bagian tengah pulau di hulu sebuah sungai yang sekaligus menjadi salah satu jalur transportasi utama, pusat kotanya berukuran kompak tidak terlalu besar, barangkali seluruh bagiannya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Semua kota-kota di tepi pantai terhubung dengan pusat kota ini melalui jalur transportasi umum.

P8210403.JPG

‘Seluruh bagian dari pulau ini adalah kota wisata’, demikian Pak Wayan bercerita saat kami menikmati makan siang gratis hasil masakan Ibu Wayan yang lezat. Bagian tepiannya, jika tidak berpantai landai yang asyik untuk berjemur, memiliki pemandangan yang dramatis: tebing-tebing karang eksotis yang bagian bawahnya digempur ombak bertalu-talu. Bagi penggemar hiking atau jogging maka dipastikan akan menyukai jalur-jalur menantang melewati pantai, hutan, ladang pertanian yang luas atau melewati menara suar kuno yang berdiri gagah melawan angin. Arsitektur bangunan penduduk aslinya di abadikan dalam sebuah kawasan desa mini. Bangunan-bangunan tradisional dibuat dalam bentuk model berskala dalam kawasan seluas lebih kurang satu hektar. Jika tidak sempat berkeliling pulau, maka cukuplah bisa menikmati arsitekturnya di tempat ini.

P8210463.JPG

Pariwisata menjadi salah satu andalan pendapatan penduduknya. Kedai-kedai makanan yang menyajikan masakan local, kedai es krim yang juga buatan lokal serta jangan lupa mencicipi wine langsung dari tempat pembuatannya sembari melihat proses produksinya. Ke-setempat-an atau lokalitas menjadi hidangan utama bagi siapa saja yang berkunjung kesini. Ramainya kunjungan wisatawan tidak merusak lingkungan alamnya justru menjadi penopang utama usaha pertanian penduduk. Lihat saja madu-madu yang dihasilkan dari hutan yang terjaga lestari menjadi oleh-oleh yang bernilai. Kemajuan wisata, kelestarian alam, serta kemampuan untuk tetap bersahabat dengan lingkungan guna menopang perekonomian lokal menjadi salah satu tujuan yang disepakati oleh kota-kota yang tergabung dalam gerakan Slow City Movement yang lahir di Italia. Cara kerja gerakan yang hadir sebagai antithesis dari globalisasi kapital ini bisa disaksikan di Isle of Wight.

P8210438.JPG

 

Kemajuan dan Keaslian: Dualisme Semu Arsitektur Bali Hari Ini?

Dalam beberapa bulan terakhir ini ada banyak postingan tentang karya-karya desain rekan-rekan arsitek yang mampir di wall. Postingan yang paling popular tentu saja berasal dari rekan-rekan arsitek muda dan juga beberapa mantan mahasiswa yang sudah memulai eksis di dunia desain dan konstruksi. Ada dua jenis desain yang menjadi perhatian saya yaitu: perumahan dan berbagai jenis turunannya, serta fasilitas pariwisata, termasuk hotel, villa, restaurant dan sejenisnya. Baik rumah maupun akomodasi wisata, keduanya menjadi proyek yang digemari karena, dianggap, memberi peluang eksplorasi desain dibandingkan perkantoran misalnya.

8

Gambar arsitektur jaman baru

Dari segi desain perbedaan-perbedaan kedua fasilitas tersebut sangat kontras. Desain rumah dan turunannya berbentuk kotak-kotak polos yang dipersepsikan sebagai minimalis sementara berlawanan dengan yang pertama, desain fasilitas wisata nampak lebih rumit menggabungkan beberapa elemen mulai dari lansekap, interior yang mendukung bentuk utama mengacu pada apa yang dipersepsikan sebagai arsitektur tradisional. Jika pada desain fasilitas yang disebut duluan ada upaya keras untuk terlihat modern, bergaya impor dan diasosiasikan dengan kemajuan, sebaliknya pada desain fasilitas yang disebut belakangan, ada satu tema yang menjadi benang merah yaitu upaya untuk tampil lokal. Perbedaan pada penggunanya sangat jelas. Jika pada fasilitas yang modern tadi digemari oleh penduduk setempat, yang tradisional popular di kalangan wisatawan.

Berakar, mungkin, di tahun 1950an dan 1960 an saat Indonesia baru merdeka dan ada harapan yang membuncah tentang masa depan yang gemilang. Bung Karno pada masa itu konon berpidato soal kedaulatan serta kemajuan yang akan disongsong di masa depan. Secara fisik, nampaknya kemajuan dilakukan dengan menyaingi yang barat. Masa itu pula dunia pulih dari perang dunia yang menyisakan trauma dan turisme sebagai bisnis mulai berkembang. Keinginan dunia barat untuk mencari sesuatu yang eksotis, keinginan mengulangi petualangan Magelhaens, Marco polo dll sebagaimana ditulis di buku-buku kian menggebu-gebu setelah dunia berangsur pulih dari peperangan. Perbedaan antara keinginan mengejar kemajuan dan keinginan untuk mengunjungi yang asli, menciptakan dua kutub bertolak belakang.

Dalam rangka mengejar kamajuan, banyak proyek yang dibuat oleh presiden pertama. Gaya arsitekturnya? Tentu segala sesuatu yang mencirikan atau setidaknya mengesankan kemajuan sebagaimana yang terjadi di dunia barat. Berbagai proyek mercusuar di Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno, Gedung DPR/MPR, tugu Monas yang semua dibanguan dengan arsitektur modern, adalah tinggalan dari masa ini. Di Bali, bangunan putih menjulang sepuluh lantai, Bali Beach Hotel, di Sanur menjadi artefak yang paling monumental. Dalam upaya mengejar kemajuan, banyak ide-ide yang berasal dari negara luar masuk. Imaji bahwa kemajuan adalah segala sesuatu yang berasal dari barat mungkin merupakan warisan dari masa penjajahan. Anggapan di kalangan penjajah bahwa yang local, yang timur adalah perlambang ketertinggalan, inlander, kumuh, dan seterusnya. Imaji-imaji ini tergambar dari tulisan-tulisan awal pelancong yang datang ke Bali. Saat Indonesia merdeka, upaya mengejar kemajuan ini sepertinya diterjemahkan sebagai mengejar sesuatu yang barat meniru apa yang tumbuh dan berkembang di dunia asal penjajah.

 

Lain soal dari sudut pandang turisme yang mencari eksotisme. Tulisan dari pelancong awal lain justru menggambarkan yang timur adalah yang eksotis, bersahaja dan mengundang penasaran.  Saat bangunan Bali Hotel yang modern dan kontras dengan bangunan setempat, maka golongan yang kedua ini berteriak keras. Bangunan ini, jika ditiru oleh bangunan-bangunan lain, dikhawatirkan akan membawa dampak yang kurang baik bagi pengembangan wisata dimana eksotisme dan ke’asli’an tempat adalah komoditas utamanya. Gelombang ‘perlawanan’ dimulai dengan mulai bermunculannya bangunan fasilitas wisata yang berupaya selaras dengan arsitektur yang local. Bentuk-bentuk dasar arsitektur tradisional dijadikan acuan untuk membangun fasilitas guna menampung fungai baru.

Dua aliran, antara yang ingin mengejar kemajuan dengan meniru yang barat serta yang ingin mempertahankan keaslian dengan cara meniru yang lokal, terjadi hingga kini. Rumah-rumah untuk masyarakat local dibuat dengan gaya yang semakin menjauhi arsitektur tradisional. Beton, kaca, dinding bata diplester dengan lapisan warna-warna mencolok membuat bangunan baru kontras dengan lingkungan di sekitarnya yang masih didominasi oleh bangunan tradisional. Seolah berlomba, setiap bangunan bersaing untuk menjadi yang paling modern dan paling up to date. Tidak ada acuan pasti atau panutan yang dominan. Gaya-gaya baru ini sangat dipengaruhi trend yang dibawa oleh media. Saya ingat tahun 90-an trend mediterania dengan jendela lengkung menjadi kelatahan, lalu bergeser ke kubisme dengan plat beton mini tanpa fungsi di atas jendela. Trend terus bergerak dan, besar kemungkinan, mempengaruhi selera pasar masyarakat lokal.

Di pihak lawannya, fasilitas turisme, juga terjadi perlombaan sejenis. Desain-desain kini mengejar persepsi keaslian. Dalam upaya ini, di pasaran saat ini tersedia alang-alang buatan, batu alam buatan, dan material tiruan lainnya namun nampaknya kurang begitu laku. Justru bambu, kayu, batu alam dan material lokal lainnya banyak dipakai. Karena dipakai untuk bangunan hotel dalam skala besar. Material ini semakin sulit dicari sehingga lalu muncul kesan mahal. Bangunan-bangunan ini umumnya dibangun oleh investor besar dan berlokasi di tempat-tempat yang eksotis, pinggir pantai, tepian sawah, di sekitar pegunungan dan lokasi lainnya dihuni oleh para pelancong manca negara kaya raya. Wisatawanmenganggap lokasi itu adalah representasi dari keaslian, sementara bagi warga local hidup di kota adalah representasi dari modernitas. Di kota semakin lumrah bangunan minimalis yang bisa dijumpai sepanjang jalan jalan utama.

07

Proposal Matahari Hotel oleh Peter Muller berupaya meng-kloning sebuah desa di Bali sebagai antithesis desain modern Bali Beach Hotel

Kekhawatiran bahwa lokalitas arsitektur Bali akan memudar sudah lama didengungkan. Setelah berdirinya Bali Beach di tahun 1960-an, peraturan daerah yang ditujukan untuk mengembalikan filosofi arsitektur traditional dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali kala itu. Di dalamnya di atur soal ketinggian bangunan, gaya-gaya dan bentuk-bentuk tradisional Bali, dan hal hal fisik lainnya. Peraturan ini kemudian, dengan semangat yang sama seperti di tahun 1970-an, direvisi menjadi Perda no 5 tahun 2005.

Kini peraturan tersebut ada dalam dilema. Di satu sisi, dalam sebuah acara seminar, seorang arsitek senior berteriak tentang dimensi temporal, kese-jaman-an dari peraturan ini yang sulit diterapkan sehingga berpotensi akan gagal. Di sisi lain, seolah menjadi alat legitimasi baru bagi lahirnya arsitektur dengan ornament tempelan. Karena bangunan yang sudah ditempeli ukiran Bali, dengan murda atau ikut cledu ternyata jika di uji dengan perda ini bisa lolos dalam kategori arsitektur Bali, meskipun harus mengorbankan arah orientasi yang berpotensi menghambat gerakan udara, serba tertutup sehingga perlu penghawaan buatan, atau berbentuk kotak polos dengan warna mencolok.

Bagi yang kuliah di bangku arsitektur barangkali sering mendengar bahwa tidak ada salah benar dalam berekspresi. Desain adalah pilihan, dimana setiap alternative membawa konsekuensinya masing-masing. Lalu jika keinginan untuk mengejar kemajuan (dimensi temporal kekinian) dank e-setempat-an atau lokalitas (dimensi geografis) hendak dipadukan pilihan apa yang sebaiknya diambil? Tentu saja aka nada banyak kompromi. Yang pertama dalam persoalan temporal adalah yang menyangkut budaya berhuni. Masyarakat Bali umumnya masih memeluk ajaran leluhur dengan taat, namun tidak menolak nilai-nilai baru yang telah ber-akulturasi menjadi bagian dari kehidupan di masa kini. Perpaduan antara nilai yang diwarisi dan nilai baru ini layak dijadikan sebagai pertimbangan dimensi temporal tanpa harus meniru setengah mati gaya hidup lampau atau berusaha keras mengkloning gaya hidup barat. Dari dimensi geografis, Bali merupakan wilayah yang rentan gempa dengan keberadaan gunung api serta berada dalam lempeng Sunda Arc. Disamping itu, kondisi tropis dimana angina bergerak dari arah tertentu, bulan hujan dan bulan kering, serta arah jatuhnya matahari bisa dijadikan pertimbangan dalam menentukan orientasi bangunan, bentuk atap dan teritisan, penghawaan buatan dan seterusnya. Pilihan ini, menurut saya, bisa diambil jika ingin berdamai dengan dimensi temporal dan dimensi geografis.